Senin, 08 September 2025

Kreatif dan Kompak: PAI KUA Kalimanah Produksi Konten Kepenyuluhan Inspiratif


Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah saat proses pembuatan konten video Kepenyuluhan di sebuah halaman rumah di Kalimanah, Senin (8/9/2025). (Foto: MA Zaenal Abidin)

Purbalingga -Dalam upaya mengembangkan metode dakwah yang relevan dengan zaman, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah melakukan produksi konten video kepenyuluhan yang dikemas secara kreatif dan menarik, Senin (8/9/2025).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/09/pai-kua-kalimanah-imam-edi-siswanto.html?m=1

Pengambilan gambar dilakukan secara kolaboratif di sebuah lokasi yang dipilih karena memiliki nilai estetika visual yang kuat, sehingga mendukung kekuatan narasi dalam video. Proses produksi melibatkan sejumlah tim dengan peran yang sudah tertata rapi.

Setidaknya tiga kamera digunakan dalam proses pengambilan gambar. Kamera utama dikendalikan oleh Pujianto, sementara Imam Edi Siswanto bertugas di kamera kedua, dan Azizah Dwi Purba mengoperasikan kamera ketiga.

Selain itu, Moh. Agus Zaenal Abidin turut ambil bagian dalam mendokumentasikan proses pembuatan konten ini melalui behind-the-scenes (BTS) footage.

Konten ini menghadirkan Mughofar sebagai narasumber yang membagikan materi kepenyuluhan, dengan dipandu oleh Zamroni Irham sebagai host. 

Proses syuting berlangsung dinamis dan penuh semangat. Bahkan, sejumlah ide segar dan kreatif muncul spontan di tengah proses, menambah kualitas dan kekuatan pesan yang disampaikan dalam video.

Langkah ini merupakan bentuk inovasi dakwah yang dilakukan oleh PAI KUA Kalimanah untuk menjangkau masyarakat melalui media digital. 

Semangat kolaboratif dan kreativitas yang ditunjukkan dalam kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi penyuluh lainnya dalam mengembangkan metode kepenyuluhan yang kontekstual dan efektif.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Maulid Nabi: Lebih dari 700 Siswa SMPN 2 Kalimanah Antusias Dengar Ceramah Bertema Akhlak Mulia

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat mengisi ceramah kepada lebih dari 700 siswa-siswi SMPN 2 Kalimanah pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (6/9/2025).

Purbalingga – Beberapa waktu yang lalu Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Imam Edi Siswanto, mengisi ceramah kepada lebih dari 700 siswa-siswi SMPN 2 Kalimanah, Sabtu (6/9/2025).

Dalam ceramahnya, Ia mengajak kepada para siswa untuk menanamkan nilai-nilai religius dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

BACA: 

https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/09/maulid-nabi-penyuluh-agama-ajak-siswa.html

 https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=imam+edi+siswanto

Kata Dia, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi insan yang bertakwa, asal dibarengi dengan niat, tekad, dan kesungguhan.

"Semua manusia punya kesempatan yang sama untuk meraih predikat insan bertakwa. Niat, tekad dan kesungguhan adalah tanda-tanda awal menuju kesuksesan," ucapnya di hadapan para siswa.

Ia menekankan, bahwa generasi masa kini tak cukup hanya cerdas secara intelektual. Menurutnya, harapan semua orang tua adalah melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang smart, religius, dan berakhlakul karimah.

"Berilmu dan berwawasan luas itu bagus, tapi akan jauh lebih baik jika disertai dengan akhlak yang mulia. Kecerdasan sejati tidak hanya soal intelektual, tapi juga emosional dan spiritual," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak seluruh siswa untuk meneladani perjalanan hidup Rasulullah SAW, mulai dari masa kecil, remaja, hingga dewasa. Kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah contoh nyata bagi umat manusia dalam membentuk karakter dan moral yang luhur.

"Masa remaja Nabi Muhammad SAW sangat eksklusif. Sejak kecil beliau telah dikenal sebagai pribadi yang shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathonah (cerdas)," jelasnya.

Keempat sifat utama Rasulullah itu, lanjut Imam Edi, adalah kunci keteladanan yang harus ditanamkan sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah.

"Empat sifat itulah yang seharusnya menjadi pegangan hidup kita semua, terutama bagi para pelajar yang sedang berada dalam masa pencarian jati diri dan pembentukan karakter," ucapnya. 

Salah satu guru SMPN 2 Kalimanah Siti Pujiastuti mengatakan bahwa tema Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengambil tema "Smart, Religius dan Adabi", bertujuan agar anak-anak bisa mengambil hikmah dan contoh akhlakul karimah dari Rasululloh Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Pewarta/Editor: IES

Rabu, 03 September 2025

#5 Kajian Rutin KUA Kalimanah Kitab Nashoihul Ibad: Dua Perumpamaan Masuk Kubur, Dua Kemuliaan dan Dua Kesedihan

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 5 KUA Kalimanah Purbalingga, membahas tentang “Dua Perumpamaan Masuk Kubur, Dua Kemuliaan dan Dua Kesedihan", Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (3/9/2025). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Pada kajian edisi ke 5 KUA Kalimanah Purbalingga, membahas “Dua Perumpamaan Masuk Kubur, Dua Kemuliaan dan Dua Kesedihan", Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu kitab klasik yang sarat dengan nasihat dan pelajaran moral. Rabu (3/9/2025).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Beliau menyampaikan peringatan penting mengenai akhir kehidupan manusia dan kondisi yang akan dialami ketika memasuki alam kubur.

Dua perumpamaan ini menggambarkan perbedaan nasib antara orang yang beramal baik dan yang berbuat dosa, menegaskan bahwa kubur bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau sebaliknya, menjadi lubang dari lubang neraka.

Dua kemuliaan yang dimaksud dalam perumpamaan ini merujuk pada nikmat bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu diterimanya amal kebaikan dan kebahagiaan di alam barzakh sebagai bentuk penghormatan dari Allah.

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 5 KUA Kalimanah Purbalingga, membahas tentang “Dua Perumpamaan Masuk Kubur, Dua Kemuliaan dan Dua Kesedihan", Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (3/9/2025). (Foto: Rizal)

Sedangkan dua kesedihan mengacu pada penderitaan bagi orang-orang yang lalai, yakni penyesalan tiada akhir dan siksa kubur yang pedih. Perumpamaan ini tidak hanya menggugah rasa takut, tetapi juga menyentuh kesadaran spiritual agar manusia senantiasa memperbaiki amal sebelum ajal menjemput.

Pesan moral yang terkandung dalam perumpamaan tersebut sangat kuat: bahwa kehidupan dunia adalah ladang amal dan kematian adalah pintu menuju pembalasan yang pasti.

Syaikh Nawawi dengan hikmah menyampaikan bahwa manusia hendaknya selalu mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan setelah mati. Melalui perumpamaan ini, beliau tidak hanya menyampaikan ancaman, tetapi juga motivasi untuk hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal baik dan menjauhi maksiat.

Bab 2 Maqolah 3: Dua Perumpamaan Masuk Kubur

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ : (عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍ) أَيْ مِنَ الْعَمَلِ الصَّالِحِ (فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلَا سَفِينَةٍ) أَيْ فَيَغْرَقُ غَرَقًا لَا خَلَاصَ لَهُ إِلَّا بِمَنْ يُنْقِذُهُ كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَا الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُغَوِّثِ) أَيْ الطَّلَبِ لِأَنْ يُغَاثَ.

Maqolah yang ke tiga (Dari Abu Bakar As-siddiq Semoga Allah meridhoinya : Orang yang masuk ke liang lahat / qubur tanpa bekal) Maksudnya bekal dari amal sholeh (Seakan ia mengarungi lautan tanpa menaiki perahu) Maksudnya tentu ia akan hanyut tenggelam dengan sebenar benarnya hanyut yang tiada keselamatan baginya kecuali dengan syafaatnya orang yang akan menyelamatkan dia sebagaimana Nabi ﷺ bersabda : (Tiadalah mayit itu di alam quburnya melainkan seperti orang yang hanyut / tenggelam teriak teriak minta tolong) Maksudnya mencari pertolongan.

Maqolah ketiga dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengandung makna yang sangat dalam tentang pentingnya amal sholeh sebagai bekal sebelum mati. Perumpamaan orang yang masuk ke kubur tanpa bekal amal diibaratkan seperti orang yang mengarungi lautan tanpa perahu, suatu perjalanan yang mustahil selamat tanpa alat bantu. Ini menegaskan bahwa kehidupan setelah mati sangat bergantung pada apa yang telah dipersiapkan selama hidup di dunia.

Lautan yang dimaksud adalah alam kubur dan akhirat, penuh dengan ujian dan kesulitan. Seseorang yang tidak membawa amal sholeh seperti shalat, sedekah, puasa, dan amal kebaikan lainnya, akan menghadapi kebinasaan seperti orang yang tenggelam, tanpa daya, dan hanya bisa berharap pertolongan. Di sinilah letak pentingnya syafaat, khususnya dari Nabi Muhammad ﷺ, sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang masih memiliki harapan meski bekalnya minim.

Dengan demikian, maqolah ini mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar menjalani waktu, tetapi menabung bekal untuk kehidupan yang kekal. Ia juga menjadi peringatan agar manusia tidak tertipu oleh kesenangan dunia dan melalaikan akhirat. Bekal amal sholeh adalah satu-satunya "perahu keselamatan" yang dapat menyelamatkan seseorang dari tenggelam dalam penderitaan alam kubur.

Bab 2 Maqolah 4: Dua Kemuliaan

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ : (عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) نُقِلَ عَنِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْمُعْطِي السَّمْلَاوِيِّ (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِجِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : صِفْ لِي حَسَنَاتِ عُمَرَ فَقَالَ لَوْ كَانَتِ الْبِحَارُ مِدَادًا وَالشَّجَرُ أَقْلَامًا لَمَا حَصَرْتُهَا ، فَقَالَ صِفْ لِي حَسَنَاتِ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ : عُمَرُ حَسَنَةٌ مِنْ حَسَنَاتِ أَبِي بَكْرٍ).

Maqolah yang ke empat dari : (Dari Umar Radhiallahu Anhu) Dinukil dari syaikh Abdul mu'ti As-Samlawi (Sesungguhnya Nabi berkata kepada Malaikat Jibril Alaihissalam : Wahai jibril sebutkan kepadaku kebaikan-kebaikan Umar ! Lalu Malaikat Jibril berkata : Andai laut-laut menjadi tintanhya pohon pohon menjadi penanya niscaya aku tidak akan bisa menghitung kebaikan kebaikan Umar. Kemudian Nabi berkata kepada Malaikat Jibril : Wahai Jibril sebutkan kepadaku kebaikan-kebaikan Abu Bakar ! lalu Malaikat Jibril berkata : Kebaikan Umar adalah satu kebaikan dari kebaikan kebaikannya Abu Bakar).

(عِزُّ الدُّنْيَا بِالْمَالِ وَعِزُّ الْآخِرَةِ بِصَالِحِ الْأَعْمَالِ) أَيْ فَلَا تَتَقَوَّى أُمُورُ الدُّنْيَا وَلَا تَصْلُحُ إِلَّا بِالْأَمْوَالِ وَلَا تَتَقَوَّى أُمُورُ الْأُخَرَةِ وَلَا تَصْلُحُ إِلَّا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.

(Kemuliaan dunia itu dengan harta dan kemuliaan akhirat itu dengan amal sholeh) Maksudnya tidaklah menjadi kuat perkara-perkara dunia dan tidak bisa menjadi baik perkara perkara dunia kecuali dengan harta dan tidaklah menjadi kuat perkara-perkara akhirat dan tidak bisa menjadi baik perkara-perkara akhirat kecuali dengan amal sholeh.

Maqolah ini mengandung pesan bijak bahwa setiap dimensi kehidupan memiliki fondasi utama yang menunjang keberhasilannya: dunia dengan harta dan akhirat dengan amal sholeh. Harta dibutuhkan untuk menopang kehidupan dunia seperti memenuhi kebutuhan, membangun peradaban, dan membantu sesama, namun ia tidak memiliki nilai untuk keselamatan akhirat jika tidak digunakan dengan benar.

Sebaliknya, amal sholeh adalah "mata uang" akhirat yang menjadi penentu derajat dan keselamatan seseorang di sisi Allah. Maka, pernyataan ini menekankan keseimbangan: gunakan harta untuk kebaikan dunia sekaligus sebagai sarana memperbanyak amal sholeh, karena tanpa keduanya, baik urusan dunia maupun akhirat akan rapuh dan tidak akan sempurna.

Bab 2 Maqolah 5: Dua Kesedihan

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : هَمُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ فِي الْقَلْبِ وَهَمُّ الْآخِرَةِ نُورُ الْقَلْبِ) أَيْ الْحُزْنُ فِي الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالدُّنْيَا صَارَ مُظْلِمًا فِي الْقَلْبِ وَالْحُزْنُ فِي الْأُمُورِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْآخِرَةِ صَارَ مُنَوِّرًا لِلْقَلْبِ ، اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

Maqolah yang ke lima (Dari Utsman Radhiallahu Anhu : Bersedih karena urusan dunia menjadikan kegelapan dalam hati. Bersedih karena urusan akhirat menjadikan cahaya dalam hati). Maksudnya kesedihan di dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan dunia pasti akan menjadikan kegelapan dalam hati. Bersedih di dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan akhirat pasti akan menjadikan cahaya dalam hati. Ya Allah janganlah engkau jadikan dunia sebesar-besarnya kesedihan kami dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai tujuan dari ilmu kami.

Maqolah dari Utsman Radhiallahu ‘Anhu ini mengajarkan perbedaan mendasar antara kesedihan yang lahir dari kecintaan terhadap dunia dan kesedihan yang tumbuh karena rasa takut dan harap terhadap akhirat.

Kesedihan karena kehilangan dunia, seperti harta, jabatan, atau pujian manusia, menyebabkan kegelapan hati, karena mengikat jiwa pada sesuatu yang fana dan sering menumbuhkan keluh kesah, iri, serta lalai dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Sebaliknya, kesedihan karena urusan akhirat, seperti kekhawatiran atas kurangnya amal, takut akan siksa, atau keinginan untuk lebih dekat kepada Allah, justru menjadi sumber cahaya hati, karena memotivasi taubat, ibadah, dan kebaikan.

Doa penutup dalam maqolah ini mengajarkan agar orientasi hidup tidak terjebak pada dunia semata, tetapi terfokus pada bekal untuk kehidupan yang abadi.

Kajian rutin singkat namun cukup mendalam ini dihantarkan oleh PAI KUA Kalimanah Pujianto dan Sarah atau penjelasan oleh Amin Muakhor.(*)

Sumber: lilmuslimin.com
Editor : Imam Edi Siswanto

Rabu, 27 Agustus 2025

Kajian Rutin Rabu Pagi Kitab Nashoihul Ibad: Keutamaan Iman dan Manfaat Bergaul dengan Ulama

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (dua dari kanan) saat membacakan teks kitab Nashoihul Ibad pada kajian rutin setiap Rabu di KUA Kalimanah, Purbalingga, Rabu (27/8/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Purbalingga-Kajian rutin singkat namun cukup mendalam dihantarkan oleh PAI KUA Kalimanah Pujianto dan Sarah atau penjelasan oleh Prayitno, Rabu (27/8/2025).

Dalam penjelasannya, menurut Staf KUA Kalimanah yang akrab disapa Kyai Prayitno, menjelaskan bahwa, Dua Perkara yang Lebih Utama menekankan dua hal dalam agama yang sangat mulia, yaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama Muslim.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Manfaat ini bisa diberikan dalam bentuk ucapan, kedudukan, harta, maupun tenaga. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa orang yang tidak berniat menzalimi siapapun sejak pagi maka dosanya akan diampuni, dan yang berniat membantu orang lain akan mendapat pahala setara dengan haji mabrur.

Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dengan amalan terbaik berupa menghilangkan kesedihan, kelaparan, atau beban utang dari seorang mukmin.

Sebaliknya, ada dua perkara yang paling buruk, yaitu syirik kepada Allah dan membahayakan kaum Muslimin, baik dalam bentuk fisik maupun harta. Seluruh ajaran Allah pada dasarnya kembali kepada dua hal: mengagungkan-Nya dan berbelas kasih kepada makhluk. Seperti dalam perintah shalat dan zakat atau syukur kepada Allah dan kedua orang tua.

Diceritakan pula kisah Uwais al-Qarni yang bertemu seorang pendeta, yang menyampaikan bahwa langkah awal seorang murid dalam spiritualitas adalah mengembalikan hak orang lain dan melepaskan diri dari beban kedzaliman, karena amal kebaikan tidak akan diterima selama masih ada tanggungan dosa atau kedzaliman terhadap sesama.

Bab 2 Maqolah 1: Dua Perkara yang Lebih Utama

(فمِنْهُ) أَيْ فَالْمَقَالَةُ الْأُوْلَى مِنَ الْمُنَبِّهَاتِ الثُّنَائِيَّةِ (مَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: خَصْلَتَانِ لاَ شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُمَا: الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِينَ) بِالْمَقَالِ أَوْ بِالْجَاهِ أَوْ بِالْمَالِ أَوْ بِالْبَدَنِ.


(Di antara Bab yang isinya dua dua) Maksudnya maqalah yang pertama dari bab munabbihat (Nasehat yang mengingatkan supaya bersiap menuju akhirat) yang isinya dua dua (Adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi bahwa Nabi bersabda : "Ada dua perkara tidak ada suatu amalan lain yang lebih utama daripada dua amalan itu yaitu beriman kepada Allah dan memberi manfaat kepada umat Islam".) Dengan ucapan atau dengan kedudukan atau dengan hartan atau dengan badan.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ أَصْبَحَ لَا يَنْوِي الظُّلْمَ عَلَى أَحَدٍ غُفِرَ لَهُ مَا جَنَى، وَ مَنْ أَصْبَحَ يَنْوِي نُصْرَةَ الْمَظْلُومِ وَقَضَاءَ حَاجَةِ الْمُسْلِمِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ مَبْرُورَةٍ".


Telah bersabda Rasulullah ﷺ :"Barang siapa yang masuk di waktu pagi tidak berniat dzolim kepada siapapun maka pasti akan diampuni atas kesalahan yang telah dilakukan. Barang siapa yang masuk di waktu pagi dia berniat menolong orang yang didzolimi dan memenuhi kebutuhan orang lain Maka perbuatan ini baginya seperti pahala haji yang mabrur.

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: "أَحَبُّ الْعِبَادِ إلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُ النَّاسِ لِلنَّاسِ، وَأَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِ الْمُؤْمِنِ، يَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كَرْبًا أَوْ يَقْضِي لَهُ دَيْنًا".


Telah bersabda Rasulullah ﷺ :"Hamba yang paling disukai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia. Dan amalan yang paling utama adalah memasukkan kegembiraan ke dalam hati orang mukmin, dia usir rasa lapar dari orang mukmin atau dia hilangkan kesusahan dari orang mukmin atau dia bayarkan hutang bagi orang mukmin.

(وَخَصْلَتَانِ لَا شَيْءَ أَخْبَثُ) أَيْ أَنْجَسُ (مِنْهُمَا: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالضُّرُّ لِلْمُسْلِمِينَ) فِي أَبْدَانِهِمْ أَوْ أَمْوَالِهِمْ فَإِنَّ جَمِيعَ أَوَامِرِ اللَّهِ تَعَالَى تَرْجِعُ إلَى خَصْلَتَيْنِ: التَّعْظِيمِ للهِ تَعَالَى وَالشَّفَقَةِ لِخَلْقِهِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: "أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ" [الْبَقَرَةِ: ٤٣]، وَقََوْلِهِ تَعَالَى: "اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ" [لُقْمَانَ: ١٤]. رُوِيَ عَنْ أُوَيْس الْقَرْنِ أَنَّهُ قَالَ: "مَرَرْتُ فِي بَعْضِ سِيَاحَتِي بِرَاهِبٍ، فَقُلْتُ یا رَاهِب، مَا أَوَّلُ دَرَجَةٍ يَرْقَاهَا الْمُرِيدُ؟، قَالَ رَدُّ الْمَظَالِمِ وَخِفَّةُ الظَّهْرِ مِنَ التَّبِعَاتِ، فَإِنَّهُ لَا يَصْعَدُ لِلْعَبْدِ عَمَلٌ وَعَلَيْهِ تَبِعَةٌ أَوْ مَظْلَمَةٌ.

(Ada dua perkara tidak ada perkara lain yang lebih buruk) maksudnya lebih kotor (dari pada dua perkara ini yaitu yang pertama syirik kepada Allah dan yang ke dua membahayakan orang Islam) pada fisiknya atau harta orang Islam. Karena semua perintah Allah itu merujuk pada dua perkara yaitu yang pertama mengagungkan Allah dan yang ke dua adalah berbelas kasih kepada makhluk. Seperti Firman Allah "Dirikanlah sholat dan bayarlah zakat" [Q.S Al-Baqarah : 34] dan firman Allah "bersyukurlah kamu kepadaku dan kepada kedua orang tua mu" [Q.S Luqman : 14].

Diriwayatkan dari Uwais al-Qarni, beliau berkata: "Saya melewati sebagian perjalanan saya di dekat seorang pendeta, lalu saya berkata, 'Wahai pendeta, apa tingkatan pertama yang harus dilalui seorang murid ?' Pertapa itu menjawab, 'mengembalikan hal hal yang diambil secara zalim dan ringankan beban dari tangguan tanggungan pada manusia, sungguh tidak bisa naik amal perbuatan bagi seorang hamba sedangkan atas hamba itu ada tanggungan dosa pada orang lain atau masih ada kedzoliman.” 

PAI, Penghulu Muda dan Staf KUA Kalimanah saat membacakan teks kitab Nashoihul Ibad pada kajian rutin setiap Rabu di KUA Kalimanah, Purbalingga, Rabu (27/8/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)


Dua Perintah Agar Bergaul dengan Ulama

Materi maqalah kedua dalam Nashoihul ‘Ibad ini menekankan pentingnya duduk bersama para ulama yang mengamalkan ilmunya dan mendengarkan nasihat para ahli hikmah (hukama)

Karena ilmu dan hikmah mereka dapat menghidupkan hati yang mati, sebagaimana hujan menghidupkan tanah yang tandus. Rasulullah ﷺ juga menganjurkan agar umat Islam bergaul dengan orang-orang besar, bertanya kepada para ulama, dan bersahabat dengan para hukama.

Dijelaskan bahwa ulama terbagi tiga: ahli fatwa (ulama hukum), ahli ma'rifat (hukama), dan mereka yang menguasai keduanya (al-kubara’). Bergaul dengan orang-orang yang dekat dengan Allah ini akan memberi pengaruh besar dalam akhlak dan spiritualitas, bahkan manfaat dari pandangan mereka bisa lebih kuat daripada sekadar ucapan.

Dikisahkan pula Imam Suhrawardi yang mencari wajah orang-orang shalih dengan harapan mendapat kebahagiaan dari pandangan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keberkahan bisa datang hanya dari keberadaan dan perhatian para wali Allah.

Namun, Nabi ﷺ memperingatkan bahwa akan datang masa di mana umat Islam lari dari para ulama. Akibatnya, Allah akan menimpakan tiga musibah besar: dicabutnya keberkahan dari usaha mereka, ditimpakan pemimpin yang zalim, dan mereka meninggal dalam keadaan tidak beriman. Maka, kedekatan dengan ulama bukan hanya membawa manfaat duniawi, tapi juga penyelamat di akhirat. 

Bab 2 Maqolah 2: Dua Perintah Agar Bergaul dengan Ulama

(وَ)الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ : (قَالَ) النَّبِيُّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ : عَلَيْكُمْ بِمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ) أَيْ الْعَامِلِينَ (وَاسْتِمَاعِ كَلَامِ الْحُكَمَاءِ) أَيْ الْعَالِمِينَ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى الْمُصِيبِينَ فِى أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ (فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحْيِى الْقَلْبَ الْمَيِّتَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ) أَيْ الْعِلْمِ النَّافِعِ (كَمَا يُحْيِى الْأَرْضَ الْمَيِّتَةَ بِمَاءِ الْمَطَرِ).

Maqolah yang kedua : (Telah bersabda) Nabi Muhammad (ﷺ : Tetaplah kamu beristiqomah duduk bersama para ulama) Yang mengamalkan ilmunya (dan mendengarkan perkataan orang orang yang ahli hikmah) Maksudnya ahli hikmah adalah orang yang marifat billah yang senantiasa tepat dalam setiap ucapan mereka dan setiap perbuatan mereka. (Sungguh Allah Subhanahu wata'ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah) Maksudnya ilmu yang bermanfaat (sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang kering dengan air hujan).

وَفِى رِوَايَةِ الطَّبَرَانِيِّ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ : (جَالِسُوا الْكُبَرَاءَ وَسَائِلُوا الْعُلَمَاءَ وَخَالِطُوا الْحُكَمَاءَ) وَفَى رِوَايَةٍ : (جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَصَاحِبِ الْحُكَمَاءَ وَخَالِطِ الْكُبَرَاءَ) أَيْ فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ : الْعُلَمَاءُ بِأَحْكَامِ اللهِ تَعَالَى وَهُمْ أَصْحَابُ الْفَتْوَى؛ وَالْعُلَمَاءُ بِذَاتِ اللَّهِ فَقَطْ وَهُمْ الْحُكَمَاءُ فَفِي مُدَاخَلَتِهِمْ تَهْذِيبٌ لِلْأَخْلَاقِ لِأَنَّهُمْ أَشْرَقَتْ قُلُوبُهُمْ بِمَعْرِفَةِ اللهِ وَأَشْرَقَتْ أَسْرَارُهُمْ بِأَنْوَارِ جَلَالِ اللَّهِ. وَالْعُلَمَاءُ بِالْقِسْمَيْنِ وَهُمْ الْكُبَرَاءُ فَإِنَّ مُخَالَطَةَ أَهْلِ اللهِ تُكْسِبُ أَحْوَالًا سَنِيَّةً وَالنَّفْعُ بِاللَّحْظِ فَوْقَ النَّفْعِ بِاللَّفْظِ فَمَنْ نَفَعَكَ لَحْظُهُ نَفْعَكَ لَفْظُهُ وَمَنْ لَا فَلَا؛

Disebut dalam riwayat Imam Tobroni dari Imam Abu Hanifah Rasulullah ﷺ bersabda (Duduklah kalian semua bersama orang orang besar, dan bertanyalah kamu kepada para Ulama, dan berbaurlah kamu bersama orang orang yang ahli hikmah). Disebutkan dalam sebuah riwayat : (Duduklah di majelis ulama, dan bersahabatlah dengan para hukama dan bergaullah dengan orang orang besar.)

Maksudnya Ulama ada tiga macam : Yang pertama Ulama yang mempunyai ilmu tentang hukum hukum Allah, mereka adalah orang orang yang berhak memberi fatwa.

Yang kedua orang orang yang mengerti tentang dzat Allah saja, merekalah orang orang ahli hikmah. Bergaul dengan mereka akan menghaluskan akhlaq. Karena sesungguhnya mereka benar benar bersinar hatinya dengan marifatullah dan bersinar ruh ruh mereka dengan cahaya keagungan Allah.

Ulama dua bagian tadi mereka adalah Al-Kubarao / orang orang besar. Sungguh berbaur dengan orang orang yang marifat billah akan menghasilkan sikap sikap yang mulia. Mendapatkan manfaat karena diperhatikan ulama itu melebihi kemanfaatan lafadz / ucapan. Barang siapa ulama yang bermanfaat bagimu perhatiannya maka akan bermanfaat pula kepadamu ucapannya. Barang siapa ulama yang tidak memberi perhatian kepadamu maka tidak akan bermanfaat pula kepadamu ucapannya.

وَكَانَ السُّهْرَوَرْدِيُّ يَطُوفُ فِى بَعْضِ مَسْجِدِ الْخَيْفِ بِمِنًى يَتَصَفَّحُ الْوُجُوهَ فَقِيلَ لَهُ فِيهِ فَقَالَ : إِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا إِذَا نَظَرُوا إِلَى شَخْصٍ أَكْسَبُوهُ سَعَادَةً فَأَنَا أَطْلُبُ ذَلِكَ.

Adalah Imam Suhrowardi beliau towaf di masjid khoif yang ada di mina sambil memcari cari wajah orang kemudian beliau ditanya tentang perbuatannya maka ia menjawab "sesungguhnya Allah mempunyai hamba hamba, jika hamba itu menatap pada seseorang mereka memberikan kepada orang yang mereka tatap itu sebuah kebahagiaan. Saya sedang mencari yang demikian itu."

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِي يَفِرُّونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيهِمُ اللَّهُ بِثَلَاثِ بَلِيَّاتٍ : أُولَاهَا يَرْفَعُ اللَّهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ ، وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا ، وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُونَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيمَانٍ).

Nabi ﷺ bersabda (akan datang suatu zaman pada umatku di zaman itu umatku akan lari dari ulama dan fuqoha maka Allah akan memberikan cobaan kepada umat yang menjauhi ulama dengan tiga musibah : yang pertama dari musibah itu Allah akan menghapus keberkahan dari hasil kerja mereka yang kedua Allah akan menguasakan untuk memimpin mereka semua sultan yang dzolim yang ketiga mereka keluar meninggalkan dunia tanpa iman).

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 20 Agustus 2025

Edisi 3, Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab Husnul khatimah dan Doa

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (dua dari kiri) saat membacakan teks kitab Nashoihul Ibad pada kajian rutin setiap Rabu di KUA Kalimanah, Purbalingga, Rabu (20/8/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Purbalingga-Kajian kitab Nashoihul Ibad, lanjutan Hadist ke 2 Bab Khusnul khatimah dan Doa oleh KUA Kalimanah, Rabu (20/8/2025).

Pada edisi ke 3 pembaca kitab dihantarkan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Pujianto.

BACA: 

رُؤيَ الْغَزَالِيُّ فِى النَّوْمِ فَقِيلَ لَهُ: مَا فَعَلَ اللّٰهُ بِكَ؟، فَقَالَ أَوْقَفَنِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَقَالَ لِيْ: بِمَ قَدِمْتَ عَلَيَّ؟، فَصِرْتُ أَذَكُرُ أَعْمَالِيْ، فَقَالَ: لَمْ أَقْبَلْهَا، وَإِنَّمَا قَبِلْتُ مِنْك ذَاتَ يَوْمٍ نَزَلَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى مِدَادِ قَلَمِكَ لِتَشْرَبَ مِنْهُ وَأَنْتَ تَكْتُبُ فَتَرَكْتَ الْكِتَابَةَ حَتَّى أَخَذَتْ حَظَّهَا رَحْمَةً بِهَا، ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: اِمْضُوا بِعَبْدِي إلَى الْجَنَّةِ.

Artinya: "Imam Al-Ghazali pernah diimpikan oleh seseorang, dan dia ditanya, “Bagaimana perlakuan Allah terhadap Anda?” Imam Al-Ghazali menjawab, “Allah SWT. membawaku kehadapan-Nya, lalu Allah berfirman kepadaku, ‘Karena apa kamu datang ke pada-Ku?’ Saya pun menyebutkan berbagai amal perbuatanku. 

Kemudian Allah berfirman, ‘Aku tidak menerimanya, yang aku terima darimu hanyalah pada suatu hari ada seekor lalat hinggap pada wadah tinta mu untuk meminum isinya, sementara kamu sedang menulis, lalu kamu berhenti menulis hingga lalat itu mengambil jatah minumnya, karena kamu kasihan terhadap lalat tersebut.’ Kemudian Allah memerintahkan, ‘Bawalah hamba-Ku ini ke surga!’.”

Penghulu Muda KUA Kalimanah, Hasbiq Muzni (tiga dari kiri) saat membacakan teks kitab Nashoihul Ibad pada kajian rutin setiap Rabu di KUA Kalimanah, Purbalingga, Rabu (20/8/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)

وَفِى قَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “يَرْحَمُكُمْ” رِوَايَتَانِ، الْجَزْمُ عَلَى أَنَّهُ جَوَابُ الْأَمْرِ، وَالرَّفْعُ عَلَى أَنَّهُ جُمْلَةٌ دِعَائِيَّةٌ، وَهُوَ أَوْلَى لِأَنَّ دُعَائَهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مَرْدُودٍ.

Artinya: "Dalam membaca sabda Nabi ﷺ lafadz “يَرْحَمُكُمْ” ada dua riwayat, riwayat pertama dibaca jazm atas i’rab lafadz “يَرْحَمْكُمْ” itu jawab dari fiil amar. Riwayat ke dua dibaca rofa atas i’rab bahwa lafadz “يَرْحَمُكُمْ” itu doa. Dibaca rofa adalah yang paling utama karena doa Nabi ﷺ tidak ditolak".

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/08/pai-kua-kalimanah-ngaji-kitab-nashoihul.html

وَمِنْ أَسْبَابِ حُسْنِ الْخَاتِمَةِ: الْمُوَاظَبَةُ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ، وَهُوَ : “اَللّٰهُمَّ أكْرِمْ هَذِهِ الْأُمَّةَ الْمُحَمَّدِيَّةَ بِجَمِيلِ عَوَائِدِكَ فِى الدَّارَيْنِ إكْرَامًا لِمَنْ جَعَلْتَهَا مِنْ أُمَّتِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” وَمِنْهَا: اَلْمُوَاظَبَةُ عَلَى هٰذَا الدُّعَاءِ بَيْنَ سُنَّةِ الصُّبْحِ وَفَرْضِهِ، وَهُوَ : “اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِاُمَّةِ سَيِّدِنَا
 مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللّٰهُمَّ اسْتُرْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ اصْلِحْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ عَافِ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ احْفَظْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَا لِمِينَ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِاُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مَغْفِرَةً عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ عَنْ اُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فَرْجًا عَاجِلًا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ”. وَمِنْهَا: مُلَازَمَةُ هٰذَا الدُّعَاءِ، وَهُوَ : “يَا رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ بِقُدْرَتِكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ اِغْفِرْلِيْ كُلَّ شَيْءٍ وَلَا تَسْئَلْنِى عَنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَا تُحَاسِبْنِيْ فِى كُلِّ شَيْءٍ وَأَعْطِنِيْ كُلَّ شَيْءٍ”. اهـ

Artinya: "Diantara sebab sebab Husnul Khotimah, membiasakan doa berikut ini : “Ya Allah, semoga Engkau memuliakan umat Sayyidina Muhammad ini dengan kebaikan pemberian-Mu di dunia dan di akhirat, sebagai kemulyaan bagi orang-orang yang engkau jadikan dari sebagian umatnya ﷺ. 

 Di antara sebab sebab Husnul Khotimah membiasakan doa berikut ini antara sholat sunnah subuh dan fardhu subuh, Yaitu : “Ya Allah, semoga Engkau memberikan ampunan bagi umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Ya Allah, semoga engkau menyayangi umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Ya Allah, semoga Engkau menutupi aib umat Nabi Muhammad ﷺ. Ya Allah, Semoga Engkau menutupi kekurangan umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Ya Allah, 

Semoga Engkau memperbaiki keadaan umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Ya Allah, Semoga Engkau menyelamatkan umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Ya Allah, Semoga Engkau menjaga umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Ya Allah, Semoga Engkau mengkasihani umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ, dengan kasih sayang yang menyeluruh, wahai Tuhan yang mengurus seluruh alam. Wahai Tuhanku, 

Semoga Engkau mengampuni umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ, dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan yang mengurus seluruh alam. Ya Allah, Semoga Engkau melapangkan umat junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ, dengan kelapangan yang segera, wahai Tuhan yang mengurus seluru alam.

” Diantara sebab sebab Husnul Khotimah, membiasakan membaca doa berikut ini: “Wahai Tuhan yang memelihara segala sesuatu, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu, Semoga Engkau mengampuni untuk ku segala sesuatu , dan Semoga Engkau tidak menanyakan kepadaku segala sesuatu. Semoga Engkau tidak menghisabku dengan segala sesuatu, dan Semoga Engkau memberikan kepadaku segala sesuatu.”

Dalam penjelasanya, oleh Penghulu Muda KUA Kalimanah, Hasbiq Muzni bahwa amal amal itu tidak perlu dibicarakan atau dipublikasikan. Karena Allah tidak menerima amal amal yang dibicarakan.

Selain itu, dalam beramal jangan menunggu sesuatu yang besar atau banyak. Mulailah amal dari yang sedikit atau kecil, karena pada ahirnya dari yang kecil dan sedikit itu akan menjadi besar dan banyak. "Beramal itu, sebaiknya istiqomah", jelasnya.

Kemudian agar Khusnul khotimah, membiasakan doa-doa yang diatas.

Diskusi semakin menarik dan mencerahkan, dengan penjelasan lebih rinci oleh Prayitno, Pujianto dan Amin Muakhor.(*)

Sumber Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab lilmuslimin.com

Editor: Imam Edi Siswanto

Kamis, 14 Agustus 2025

VISI & MISI KEMENTERIAN AGAMA RI 2020-2024


A. VISI:

“Kementerian Agama yang profesional dan andal dalam membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas dan unggul untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong royong”

Makna dari kata-kata kunci dalam visi tersebut:
Profesional: memiliki keahlian dan keterampilan khusus.
Andal: dapat dipercaya menghasilkan produk yang berkualitas.
Saleh: taat dan sungguh‑sungguh dalam menjalankan ibadah.
Moderat: menghindari perilaku ekstrem, cenderung ke jalan tengah.
Cerdas: berkembang sempurna dalam berpikir, memahami, dan tajam pikiran.
Unggul: memiliki kualitas lebih tinggi, cakap, kuat, awet dibanding yang lai

Makna dari Visi Kementerian Agama yaitu :

i. Kementerian Agama yang profesional dan andal adalah adalah Kementerian Agama didukung oleh ASN yang memiliki keahlian dan keterampilan yang memerlukan kepandaian khusus serta dapat dapat dipercaya dalam menghasilkan produk yang berkualitas di bidang agama dan pendidikan.

ii. Yang dimaksud “dalam membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas dan unggul” adalah produk yang berupa masyarakat yang taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah, selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem dan berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah, sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya) dan tajam pikiran, serta lebih pandai dan cakap.

iii. Yang dimaksud “untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong royong” adalah bahwa masyarakat yang mempunyai ciri-ciri di atas akan memberikan kontribusi terhadap terwujudnya visi Presiden dan Wakil Presiden dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong royong.

B. MISI:

1. Meningkatkan kualitas kesalehan umat beragama;
2. Memperkuat moderasi beragama dan kerukunan umat beragama;
3. Meningkatkan layanan keagamaan yang adil, mudah dan merata;
4. Meningkatkan layanan pendidikan yang merata dan bermutu
5. Meningkatkan produktivitas dan daya saing pendidikan;
6. Memantapkan tatakelola kepemerintahan yang baik (Good Governance);

C. TUJUAN:
Untuk mencapai Misi Kementerian Agama telah menetapkan enam tujuan sebagai berikut:

1. Peningkatan kualitas umat beragama dalam menjalankan ibadah;
2. Penguatan kualitas moderasi beragama dan kerukunan umat beragama;
3. Peningkatan umat beragama yang menerima layanan keagamaan;
4. Peningkatan peserta didik yang memperoleh layanan pendidikan berkualitas;
5. Peningkatan lulusan pendidikan yang produktif dan memiliki daya saing komparatif;
6. Peningkatan budaya birokrasi pemerintahan yang bersih, melayani dan responsif.(*)

Sumber: bali.kemenag.go.id
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 13 Agustus 2025

Kajian Kitab Nashoihul Ibad KUA Kalimanah: Kasih Sayang dan Doa


Para Penyuluh Agama Islam (PAI), Penghulu, serta staf KUA Kalimanah dalam acara kajian keislaman melalui Ngaji Rutin Kitab Kuning, Rabu (13/8/2025). (Foto: Riizal)

Kajian Rutin Rabu Pagi Kitab Nashoihul Ibad KUA Kalimanah
"Topik Kasih Sayang Doa"

Bab I
Hadits Kedua:


وَالْحَدِيثُ الثَّانِى : أَجَازَنِي بِهِ الْعَلَّامَةُ السَّيِّدُ أَحْمَدُ الْمَرْصَفِيُّ الْمِصْرِيُّ بَعْدَ أَنْ أَجَازَنِي بِهِ السَّيِّدُ عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ لْأَحْمَدَ فَرَحَاتِ الشَّافِعِيُّ، عَنْ مَشَايِخِهِ مُسَلْسَلًا بِالْأَوَّلِيَّةِ إلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : "الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اِرْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ"

"Hadits yang ke dua telah mengijazahkan kepada ku Al Allamah Al Sayyid Ahmad Al Marsafi Al Mesir setelah dia mengijazahkan kepada ku Al Sayyid Abdul Wahhab bin Ahmad Farhat Al Syafi'i, dari para guru-gurunya secara berurutan hingga kepada Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda : "Orang orang yang penuh kasih sayang, Yang Maha Pemurah akan merahmati mereka. Maka berikanlah belas kasihan kepada mereka yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan merahmati kalian."

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/08/pai-kua-kalimanah-ngaji-kitab-nashoihul.html

وَالْمَعْنَى: اَلرَّاحِمُونَ لِمَنْ فِى الْأَرْضِ مِنْ آدَمِيٍّ وَحَيَوَانٍ لَمْ يُؤْمَرْ بِقَتْلِهِ بِالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ يُحْسِنُ الرَّحْمَنُ إِلَيْهِمْ، ارْحَمُوا مَنْ تَسْتَطِيعُونَ أَنْ تَرْحَمُوهُ مِنْ أَصْنَافِ مَخْلُوقَاتِهِ تَعَالَى وَلَوْ غَيْرَ عَاقِلٍ بِالشَّفَقَةِ عَلَيْهِمْ وَدُعَائِكُمْ لَهُمْ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ يَرْحَمْكُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَمَنْ رَحْمَتُهُ عَامَّةٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ الَّذِينَ هُمْ أَكْثَرُ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ. وَلَا يَجُوزُ لِشَخْصٍ أَنْ يَدْعُوَ لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ بِغَفْرِ جَمِيعِ ذُنُوبِهِمْ أَوْ يَدْعُوَ لِفَقِيرٍ بِنَحْوِ مِائَةِ دِينَارٍ وَلَيْسَ لَهُ جِهَةٌ يَتَسَهَّلُ مِنْهَا ذَلِكَ وَيَقُولُ : هَذَا مِنَ الرَّحْمَةِ بِالْخَلْقِ لِأَنَّهُ مُخَالِفٌ لِنُصُوصِ الشَّرْعِ اهـ.

"Makna hadits ini: Orang orang yang berbelas kasih kepada makhluk makhluk yang ada di muka bumi baik itu makhluk bangsa Adam maupun hewan yang mana tidak diperintah membunuhnya, dengan berbuat baik kepada makhluk itu Allah akan berbuat baik kepada mereka. 

Berbelas kasihlah kalian semua kepada makhluk makhluk yang kalian mampu untuk berbelas kasih kepada-Nya dari berbagai kelompok makhluk makhluknya meskipun makhluk itu tidak berakal dengan sayang pada makhluk makhluk itu dan dengan kalian mendoakan kepada makhluk makhluk itu dengan doa rahmat dan ampunan maka Allah dan para malaikat akan berbelas kasih kepada kalian. Yang mana belas kasihnya Allah itu menyeluruh kepada penduduk langit yang mana para penduduk langit itu lebih banyak dari pada penduduk bumi. 

Tidak boleh bagi seseorang mendoakan semua umat Islam dengan diampuninya semua dosa atau berdoa untuk seorang faqir dengan semisal mendapatkan uang seratus dinar sedangkan tidak ada baginya jalan yang menjadi mudah dari jalan itu untuk mendapatka uang seratus dinar. lalu dia berucap : "Yang demikian ini termasuk kasih sayang Allah kepada makhluk" karena doa yang seperti itu bertentangan dengan hukum syar'a."

Dalam penjelasannya, menurut Staf KUA Kalimanah yang akrab disapa Kyai Prayitno, menjelaskan bahwa, kita harus tebar kedamaian dan berkasih sayang kepada siapapun, kapanpun dan apapun, karena semua adalah ciptaan Allah SWT.

"Kepada sesama manusia, seperti Sapa Senyum, Sumeh (ramah), termasuk kepada hewan ataupun binatang, bahkan saat membunuh atau menyembelih hewan halal harus dengan ikhsan" jelasnya.

Dan untuk doa, disyariatkan agar redaksi permohonannya tidak menyelisihi dan terlalu terinci atau mendetail, namun dianjurkan bersifat umum.

Sebagai contoh doa "berilah kami uang seratus dinar. Sebaiknya doanya berbunyi ya Allah berilah kami Rezeqi yang cukup dan bermanfaat " ucapnya menjelaskan.

Demikian, hasil kajian singkat yang dihantarkan oleh PAI KUA Kalimanah Pujianto dan Sarah atau penjelasan oleh Prayitno, Rabu (13/8/2025).(*)

Sumber: terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 1 Hadits Kedua | lilmuslimin lilmuslimin.com

Editor: Imam Edi Siswanto

 

#38 Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 24 - 26, Mengendalikan Hawa Nafsu dan Menjaga Ibadah dalam Segala Keadaan

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/20...