Tampilkan postingan dengan label Supriyono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Supriyono. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2026

#35 Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-35 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, PAI KUA Kalimanah, Pujianto  dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (8/7/2026). 

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17 dan 18:

Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Dalam Maqolah ke-18, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki empat permata (jauhar) yang menjadi perhiasan dalam hidup, yaitu:

  1. Akal – cahaya dalam hati yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
  2. Agama – petunjuk Allah yang diterima oleh orang-orang berakal melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
  3. Rasa malu (ḥayā') – sifat mulia yang mendorong seseorang menjauhi kemaksiatan.
  4. Amal saleh – segala amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Namun, empat permata tersebut dapat rusak oleh empat penyakit hati, yaitu:

  • Marah (Ghadab) menghilangkan akal. Saat marah, seseorang sulit berpikir jernih sehingga mudah berbuat salah. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjauhi sifat marah karena dapat merusak keimanan.
  • Hasad (Dengki) menghilangkan agama. Hasad adalah berharap nikmat orang lain hilang. Penyakit ini mengikis pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pembagian rezeki Allah.
  • Tamak (Thama') menghilangkan rasa malu. Keinginan yang berlebihan terhadap harta, jabatan, atau dunia membuat seseorang kehilangan kehormatan dan mudah melakukan hal yang tidak pantas.
  • Ghibah (Menggunjing) menghilangkan amal saleh. Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain di belakangnya meskipun benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka menjadi fitnah (buhtan), sedangkan jika diucapkan di hadapannya dengan maksud menyakiti termasuk mencaci maki.

Hikmah Kajian

Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan lahiriah. Akal, agama, rasa malu, dan amal saleh adalah modal utama seorang Muslim. Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan amarah, menjauhi hasad, menahan ketamakan, dan menjaga lisan dari ghibah agar keimanan tetap terpelihara dan amal ibadah tidak sia-sia.

Pesan utama: Jagalah empat permata dalam diri—akal, agama, malu, dan amal saleh—dengan menjauhi empat penyakit hati: marah, hasad, tamak, dan ghibah. Siapa yang mampu menjaga hatinya, ia akan menjaga agamanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: اَلْأُمَّهَاتُ) أَيْ الْأُصُولُ (أَرْبَعٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (أُمُّ الْأَدْوِيَةِ) جَمْعُ دَوَاءٍ وَهُوَ مَا يُتَدَاوَى بِهِ (وَأُمُّ الْآدَابِ) وَهِيَ مَعْرِفَةُ مَا يُحْتَرَزُ بِهِ عَنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْخَطَأِ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ) وَهِيَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيمًا لِرَبِّهِ (وَأُمُّ الْأَمَانِي) جَمْعُ أُمْنِيَّةٍ وَهُوَ تَقْدِيرُ حُصُولِ شَيْءٍ مُمْتَنِعٍ أَوْ مُمْكِنٍ (فَأُمُّ الْأَدْوِيَةِ قِلَّةُ الْأَكْلِ) فَإِنَّ الْاِحْتِمَاءَ مِنْ أَكْلِ مَا يَضُرُّ خَيْرٌ مِنَ الْأَدْوِيَةِ لِكُلِّ دَاءٍ (وَأُمُّ الْآدَابِ قِلَّةُ الْكَلَامِ) فَكَثْرَةُ الْكَلَامِ تُنْفِي الْأَدَبَ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ قِلَّةُ الذُّنُوبِ) فَالذُّنُوبُ تُنْفِي الْعِبَادَةَ الَّتِي هِيَ تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمُّ الْأَمَانِي الصَّبْرُ) وَهُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، فَالصَّبْرُ أَمَرُّ مِنَ الصِّبْرِ. وَيُقَالُ: بِالصَّبْرِ تَنَالُ مَا تُرِيدُ وَبِالتَّقْوَى يَلِيْنُ لَكَ الْحَدِيدُ.

Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُ adalah jamak dari lafadz دَوَاءٌ yaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab)

Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadz الْأَمَانِي adalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌ yaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan) 

Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama 

(Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar) Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak kepadamu besi.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 18

 الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَرْبَعَةُ جَوَاهِرَ) وَهِيَ لِبَاسُ الطَّبِيعَةِ (فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُهَاأَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ (أَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ) وَهُوَ جَوْهَرٌ رُوحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى مُتَعَلِّقًا بِبَدَنِ الْإِنْسَانِ (وَالدِّينُ) وَهُوَ مَا يَدْعُو أَصْحَابُ الْعُقُولِ إِلَى قَبُولِ مَا هُوَ مِنَ الرّسُولِ ﷺ (وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ) أَيْ الْخَالِصُ (فَالْغَضَبُ يُزِيلُ الْعَقْلَ) وَهُوَ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ.

Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal) 

Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مُعَاوِيَةُ إِيَّاكَ وَالْغَضَبَ فَإِنَّ الْغَضَبَ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni pada madu] telah meriwayatkan hadits ini  Imam Al-Baihaqi

(وَالْحَسَدُ) وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْغَيْرِ (يُزِيلُ الدِّينَ) أَيْ الشَّرِيعَةَ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ] رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. قَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْمُتَقَارِبِ]

(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]

أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ * أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ * أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ
وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ * فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي
Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud * Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab
Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah * Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan
Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku * Dan Allah menutup atasmu segala bentuk permintaan

(وَالطَّمَعُ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِي الشَّيْءِ (يُزِيلُ الْحَيَاءَ، وَالْغِيبَةُ تُزِيلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ) وَالْغِيبَةُ بِكَسْرِ الْغَيْنِ أَنْ يَذْكُرَ الشَّخْصُ مَسَاوِيَ الْإِنْسَانِ فِي غَيْبَتِهِ وَهِيَ فِيهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ فَهِيَ بُهْتَانٌ وَإِنْ وَاجَهَهُ بِهَا فَھوَ شَتْمٌ.

(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُ dengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto

Kamis, 02 April 2026

KUA Kalimanah Jadi Kelas Nyata: Pelajar MAN Purbalingga Menggali Rahasia Ketahanan Keluarga

Pelajar kelas XI MAN Purbalingga, saat kunjungannya di KUA Kalimanah dalam acara kokurikuler, Kamis (2/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menerima kunjungan pelajar dari MAN Purbalingga dalam rangka kegiatan kokurikuler, Kamis (2/4/2026).

Kunjungan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual dengan tema “Analisis Statistika Ketahanan Keluarga dan Kesehatan Remaja di Kabupaten Purbalingga.”

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/The%20Most%20KUA%202026?m=1

Sebanyak delapan pelajar yang tergabung dalam satu kelompok studi disambut penuh keakraban dan kekeluargaan oleh Staf KUA Kalimanah, Supriyono dan Prayitno.

Kelompok yang dibimbing oleh guru MAN Purbalingga, Toin As'ad ini diketuai oleh Mohammad Zidan, dengan Naurah Darmawan sebagai sekretaris, serta anggota Alika Hanifah, Rose Dewi, Rifka Khoero, Syifa Anisaun, dan Kelandra Raissa. 

Kegiatan ini bertujuan untuk menggali pemahaman tentang pernikahan dini beserta dampaknya terhadap ketahanan keluarga, sekaligus sebagai bahan penyusunan laporan akademik.
Penghulu Muda KUA Kalimanah, Hasbiq Muzni (Kanan depan) dan Rizal Nur Ahmadi, saat menyampaikan penjelasan tentang perkawinan pada para pelajar Kelas XI MAN Purbalingga di KUA Kalimanah dalam acara kokurikuler, Kamis (2/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Dalam sesi dialog, Penghulu Muda KUA Kalimanah, Hasbiq Muzni bersama Rizal Nur Ahmadi, memberikan penjelasan komprehensif terkait syarat dan administrasi pernikahan.

Mereka menegaskan bahwa dalam pernikahan harus terpenuhi unsur-unsur penting seperti adanya calon pengantin, wali, dua orang saksi, ijab qobul atau akad nikah serta mahar sebagai bagian dari rukun dan syarat sah pernikahan.

Lebih lanjut, keduanya mengulas dampak pernikahan dini yang dinilai berpotensi melemahkan ketahanan keluarga, baik dari aspek fisik maupun mental. Secara fisik, usia yang terlalu muda dinilai rentan terhadap risiko kesehatan reproduksi. 

Sementara dari sisi psikologis, ketidaksiapan dalam menjalankan peran sebagai pasangan maupun orang tua dapat memicu berbagai persoalan dalam rumah tangga.

“Ketahanan keluarga yang kuat harus diawali dari kesiapan usia, kematangan fisik dan mental, serta kesiapan spiritual dan administratif,” jelas Hasbiq Muzni dalam pemaparannya.

Selain itu, para pelajar juga diingatkan pentingnya menjaga akhlak dan kepribadian. Nilai-nilai moral dan spiritual dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan yang harmonis dan terhindar dari berbagai dampak negatif, baik di dunia maupun di akhirat.

Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan pelajar, tetapi juga menjadi jembatan edukasi antara lembaga pendidikan dan KUA dalam membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga yang matang.
Penghulu Muda KUA Kalimanah, Rizal Nur Ahmadi (Kiri) dan Hasbiq Muzni, saat menyampaikan penjelasan tentang perkawinan kepada Ketua kelompok Kokurikuler Kelas XI MAN Purbalingga, Mohammad Zidan (tengah) bersama para pelajar Kelas XI MAN Purbalingga di KUA Kalimanah dalam acara kokurikuler, Kamis (2/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Ketua Kelompok, Mohammad Zidan, mengaku puas atas pelayanan dan informasi yang disampaikan pada acara tersebut.

"Kami merasa puas, karena jelas dalam penyampaian informasinya. Dan kami mengucapkan terima kasih atas pelayanan dan informasi yang disampaikan oleh KUA Kalimanah," akunya singkat.

Ulasan Singkat:
Kegiatan ini mencerminkan sinergi positif antara dunia pendidikan dan institusi keagamaan dalam membekali generasi muda dengan pengetahuan yang aplikatif. Edukasi tentang pernikahan dini dan ketahanan keluarga menjadi sangat relevan di tengah tantangan sosial saat ini. 

Dengan pendekatan ilmiah dan nilai-nilai keagamaan, pelajar diharapkan mampu mengambil keputusan bijak dalam merencanakan masa depan, sekaligus menjadi agen perubahan dalam menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 18 Maret 2025

Angan-Angan Penghuni Kubur tentang Ramadhan oleh PAI KUA Kalimanah Supriyono

PAI KUA Kalimanah, Purbalingga, Supriyono saat menyampaikan tausiyah Ramadhan di pengajian dan buka puasa bersama di mushala Al Furqan Desa Klapasawit, Kalimanah, Sabtu (15/3/2025) (Foto: Supriyono)

Purbalingga - Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Purbalingga, Jawa Tengah Supriyono menyampaikan tausiyah Ramadhan dengan tema angan-angan penghuni kubur tentang Ramadhan.

Tausiyah disampaikan pada acara Pengajian dan Buka Puasa Bersama di Mushala Al Furqan Desa Klapasawit, Kalimanah, Sabtu (15/3/2025) lalu.

BACA : https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/02/sambut-ramadhan-dengan-perbanyak.html

Berikut isi ceramah singkatnya di pengajian yang  dihadiri oleh sedikitnya 80 orang.

Ibnul Jauzi Roahimahullah menuturkan,

Demi Allah, jika di tanyakan kepada para penghuni kubur, berangan-anganlah kalian, 

Niscaya mereka akan berangan-angan berada 1 hari saja di bulan Ramadhan. (At Tabshiah 2/78).

Begitu istimewanya  bulan suci Ramadhan, ahli kubur pun jika diberi kesempatan berangan-angan, mereka ingin berjumpa dengan Ramadhan walau satu hari.

Ia melanjutkan dengan sebuah kutipan hadis yang menegaskan tentang keistimewaan puasa di bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah menceritakan, bahwa ada 2 orang yang secara bersamaan masuk Islam dihadapan Nabi SAW. Orang yang pertama mati syahid, sementara orang yg kedua mati tahun depannya. 

Suatu ketika Tholhah bin Ubaidillah bermimpi melihat Syurga, dia melihat, ternyata sahabat yang mati belakangan justru masuk surga lebih dahulu dari pada yang mati syahid. 

Dia pun terheran, maka pagi harinya Dia menceritakan kepada Rasulullah. Beliau pun bersabda: 

"Bukankah Sahabat yang kedua telah melakukan puasa Ramadhan, shalat 6 ribu rakaat atau sekian rakaat shalat sunah?" (HR.Ahmad, Silsilah Ash Shohihah 2591).

Suasan berbuka puasa usai menyampaikan tausiyah Ramadhan di pengajian dan buka puasa bersama di mushala Al Furqan Desa Klapasawit, Kalimanah, Sabtu (15/3/2025) (Foto: Supriyono)

Ia berharap agar umat muslim, untuk tidak menyia-nyiakan bulan suci Ramadhan dan berlalu begitu saja, karena di dalamnya ada rahmat, berkah dan ampunan serta keistimewaan lainya, yang hanya bisa diraih di bulan mula ini.

Demikian ceramah singkat tentang angan-angan penghuni kubur tentang Ramadhan oleh PAI KUA Kalimanah Supriyono dan semoga bermanfaat.

Editor: Imam Edi Siswanto 

Senin, 24 Februari 2025

Sambut Ramadhan dengan Perbanyak istighfar

PAI KUA Kalimanah, Supriyono saat mengisi pengajian di masjid Al Ikhlas Desa Klapasawit, Ahad (23/2/2025) sore kemarin. (FOTO: Dok. Supriyono)

Purbalingga - Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Purbalingga, Jawa Tengah Supriyono mengingatkan dan mengajak jemaah pengajian di Masjid Al Ikhlas Desa Klapasawit untuk memperbanyak istighfar sebelum dan sesudah Ramadhan.

Doa memohon di beri rezeki bisa bertaubat sebelum mati, "Allohummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut", menjadi tema utama dipengajian yang diisinya, Ahad (23/2/2025) sore kemarin.

Dalam ceramahnya di hadapan ibu-ibu, Ia menjelaskan bahwa istighfar atau memohon ampunan adalah bagian dari doa dan dicatat sebagai amal ibadah.

BACA : https://kuakalimanah.blogspot.com/2024/12/rindu-berat-jadi-tema-pengajian-ustadz.html?m=1

"Menjelang datangnya musim ketaatan atau bulan Ramadhon, mari perbanyak istighfar kepada Allah, agar hati kita disucikan dari segala dosa," ucapnya.

Lebih lanjut, Ia berkisah bahwa ada seorang murid yang bertanya kepada seorang guru, "Wahai guru, dengan amalan apa Anda menasihati saya dalam menyongsong datangnya bulan Romadhon?.

Guru menjawab, " Sebaik-baik amalan yang dapat dilakukan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah dengan memperbanyak Istighfar.

Sebab dosa akan menghalangi seseorang dari Taufiq Allah SWT untuk melaksanakan ketaatan. Dan tidaklah hati seseorang hamba selalu beristighfar melainkan Ia akan disucikan.

Bila lemah maka akan dikuatkan, dan bila Ia diuji maka ujian itu akan diangkat dariNya. Bila galau atau sedih maka akan diberi ketenangan. Dan bila kalut maka ia akan diberi petunjuk.

"Maka apa lagi yang kita tunggu, mari perbanyaklah Istighfar," ucapnya menutup ceramahnya dipengajian.(*)

Kontributor: Supriyono
Editor/Publisher: Imam Edi Siswanto

Selasa, 24 Desember 2024

Rindu Berat Jadi Tema Pengajian Ustadz Supriyono PAI KUA Kalimanah


Jemaah pengajian Majelis Taklim (MT) An Nisa Masjid Al Falah Desa Klapasawit, Kalimanah, Sabtu (21/12/2024) (Foto: Supriyono).

Purbalingga – “Rindu Berat” menjadi tema yang cukup menarik bagi kalangan ibu-ibu MT An Nisa, oleh Ustadz Supriyono (51), Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Purbalingga, Jawa Tengah.


Supriyono atau yang akrab di sapa Pak Supri hadir dan mengisi sebuah pengajian yang sudah lama dibinanya, yakni ibu-ibu jemaah Majelis Taklim (MT) An Nisa Masjid Al Falah Desa Klapasawit, Kalimanah pada Sabtu (21/12/2024) lalu.


BACA : https://kuakalimanah.blogspot.com/2024/08/keseimbangan-tugas-pokok-dan-tambahan.html

 

Mengisi pengajian adalah bagian dari aktifitas kesehariannya, selain aktif di organisasi keagamaan, Ia juga seorang wirausahawan dan seorang guru di salah satu lembaga pendidikan setingkat SMA atau Kejar Paket C.

 

Rindu yang dimaksud, lanjutnya adalah merindukan Dzat yang sangat menyayangi kita, yaitu Allah Subhanallah Wata’ala.



Ustadz Supriyono saat mengisi pengajian di Majelis Taklim (MT) An Nisa Masjid Al Falah Desa Klapasawit, Kalimanah, Sabtu (21/12/2024) (Foto: Supriyono).

 

 “Karena Rindu adalah perasaan sangat ingin bertemu, dan kalo sudah bertemu maka tidak ingin berpisah dan selalu menyebut nama yang di rindukan,” ujarnya.

 

“Uwais Al Qarni Rahimahullah berkata, hidup adalah penantian, yakni menanti waktu shalat dan menanti waktu di shalatkan,” ucapnya.


BACA : https://kuakalimanah.blogspot.com/2024/12/ini-hasil-rakor-pai-kua-kalimanah.html


Maka kita berusaha untuk rindu menunggu-nunggu waktu sholat, ketika sholat di awal waktu, lamanya ketika sholat, khusyuk, tumaninah, dan dilaksanakan secara berjamaah dan lain-lain.


“Sampai-sampai Rasulullah menggambarkan “waju’ilat qurrotu’aini fissholati” (Hiburanku adalah Sholat),” katanya.


Diahir pengajian Ia menutup dengan do’a “Allahumma inni as’aluka ladzatan nadhori ila wajhika, wassaiqo illa liqo ika” (Ya Allah, aku memohon kepadaMu berilah aku kenikmatan bisa memandang wajahMu (di Syurga), dan berilah aku kerinduan bisa bertemu dengan Engkau). (Ies)

Selasa, 06 Agustus 2024

Rangkaian Kegiatan Supriyono PAI KUA Kalimanah Pekan Ini

Supriyono, Penyuluh Agama Islam (PAI) Non PNS KUA Kalimanah, Purbalingga Bidang Keluarga Sakinah (Foto: Dok. Supriyono)


Kegiatan rutin setiap pagi, Senin - Kamis, Pukul 06.30 - 08.00 WIB, di TPQ Sekolah, MI Muhammadiyah Kalimanah Wetan, (Foto: Dok. Supriyono)

 Supriyono, saat mengisi pengajian (kepenyuluhan) di Masjid al Ikhlas Desa Klapasawit, Kalimanah dengan tema "Menjemput Husnul Khotimah", Ahad (21/7/2024) lalu. (Foto: Dok. Supriyono)

 Peserta pengajian di Masjid al Ikhlas Desa Klapasawit, Kalimanah dengan tema "Menjemput Husnul Khotimah", Ahad (21/7/2024) lalu. (Foto: Dok. Supriyono)


Supriyono, bersama rekan PAI KUA Kalimanah saat Rakor rutin setiap hari Senin beberapa waktu yang lalu (Foto: Dok. Supriyono)



Menghadiri kegiatan "Bupati Sambang Tani" di Desa Kedungwuluh, Kalimanah, Senin (5/8/2024) kemarin (Foto: Supriyono)


KUA Kalimanah: Sambut Hari Santri Nasional dan Perkuat Komitmen WBBM dengan Doa Bersama dan Khotmil Qur’an

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, bersama staf dan pegawai mengikuti kegiatan doa bersama dan kho...