Rabu, 14 Oktober 2026

#43 Menyalakan Cahaya Kehidupan dengan Syukur, Taubat, Takwa, dan Amal Saleh

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada Syukur, Taubat, Takwa, dan Amal Saleh.

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-43 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (14/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pujianto menjelaskan secara ringkas dan lugas, berikut hasil rangkuman Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3–4.

Maqolah 3 dan 4 saling melengkapi dalam membimbing kehidupan seorang Muslim. Maqolah 3 menekankan pentingnya membangun hubungan dengan Allah melalui syukur, doa, istigfar, taubat, dan sedekah.

Sementara itu, Maqolah 4 mengingatkan bahwa perjalanan hidup membutuhkan cahaya takwa, tauhid, amal saleh, dan keyakinan agar manusia tidak tersesat oleh godaan dunia.

Pesan yang relevan untuk masa kini adalah bahwa keberhasilan bukan sekadar memperoleh harta, jabatan, atau pengakuan, melainkan mampu meraih kehidupan yang berkah, menjaga akhlak, memperbaiki kesalahan, serta menyiapkan bekal untuk akhirat.

1. Maqolah 3 – Syukur, Doa, Istigfar, Taubat, dan Sedekah
Syukur menjadi jalan bertambahnya nikmat, doa menjadi sarana memohon pertolongan dan berharap dikabulkan, istigfar membuka jalan ampunan, taubat mengantarkan kepada penerimaan Allah, dan sedekah menjadi amal yang diharapkan memperoleh pahala serta keberkahan.


Pesan utamanya adalah agar seorang Muslim senantiasa menjaga hubungan dengan Allah melalui rasa syukur, doa, istigfar, taubat, dan kepedulian kepada sesama. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur; ketika menghadapi kesulitan, ia berdoa; ketika melakukan kesalahan, ia memohon ampun dan bertaubat; serta ketika memiliki kelebihan rezeki, ia berbagi melalui sedekah. 

Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, tekanan ekonomi, dan tuntutan sosial, manusia mudah merasa kurang, cemas, atau membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ajaran ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya kedudukan, tetapi juga oleh rasa syukur, ketenangan hati, dan kedekatan kepada Allah.

Dalam praktiknya, syukur dapat diwujudkan dengan menggunakan nikmat secara bertanggung jawab, doa disertai ikhtiar, istigfar dan taubat melalui kesungguhan memperbaiki kesalahan, serta sedekah melalui kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Harapan kepada Allah hendaknya mendorong seseorang untuk terus berbuat baik, bukan menjadi alasan untuk berhenti berusaha. 

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

2. Maqolah 4 – Lima Kegelapan dan Cahaya Penuntunnya
Maqolah 4, yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dalam materi, menggambarkan lima keadaan yang diibaratkan sebagai kegelapan beserta cahaya yang meneranginya:

1. Cinta dunia diterangi dengan takwa. Kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menyeret seseorang kepada perkara yang meragukan, tidak baik, bahkan haram. Takwa menjadi pedoman untuk memilih yang benar dan meninggalkan yang dilarang Allah.

2. Dosa diterangi dengan taubat. Kesalahan yang terus diulangi tanpa penyesalan dapat mengeraskan hati. Taubat, istigfar, dan berhenti dari perbuatan dosa menjadi jalan untuk memperbaiki diri.

3. Alam kubur diterangi dengan tauhid dan amal kebaikan. Keimanan yang tulus kepada Allah harus tercermin dalam perilaku, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, menjauhi maksiat, taat beribadah, dan memperbanyak zikir.

4. Kehidupan akhirat diterangi dengan amal saleh. Persiapan menuju akhirat dilakukan melalui ketaatan, perbuatan baik, serta pelaksanaan kewajiban sesuai kemampuan dan tuntunan agama.

5. Jalan menuju keselamatan diterangi dengan keyakinan. Keyakinan yang kuat kepada Allah membantu seseorang tetap teguh menjalani kehidupan dan tidak mudah goyah oleh keraguan.

Maqolah ini menegaskan bahwa setiap persoalan membutuhkan petunjuk yang tepat. Takwa membimbing pilihan hidup, taubat membersihkan kesalahan, tauhid menguatkan keimanan, amal saleh menjadi bekal akhirat, dan keyakinan membantu seseorang tetap istiqamah. 

Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Kehidupan modern menghadirkan banyak godaan, seperti mengejar kekayaan tanpa memperhatikan halal dan haram, menghalalkan segala cara demi jabatan, menyalahgunakan teknologi, serta mencari pengakuan melalui media sosial. Dalam situasi seperti ini, takwa berfungsi sebagai kompas moral agar seseorang tidak mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat.

Ketika melakukan kesalahan, seseorang tidak seharusnya larut dalam keputusasaan ataupun membenarkan kesalahannya. Ia perlu mengakui kekeliruan, bertaubat, memperbaiki dampak perbuatannya, dan berusaha tidak mengulanginya. Sementara itu, amal saleh tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran bekerja, tanggung jawab keluarga, kepedulian sosial, dan menjaga hak orang lain.

Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَا يُعْطِي اللَّهُ لِأَحَدٍ خَمْسًا) مِنَ الْهَيْئَاتِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ) أَيْ هَيَّأَ (لَهُ خَمْسًا أُخْرَى) مِنْ جَزَائِهَا (لَا يُعْطِيهِ) أَيْ اللَّهُ الشَّخْصَ (الشُّكْرَ) لِلنِّعْمَةِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الزِّيَادَةَ) عَلَى تِلْكَ النِّعْمَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ [إبْرَاهِيم: الْآيَة ٧] (وَلَا يُعْطِيهِ الدُّعَاءَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الِاسْتِجَابَةَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ [غَافِر: الْآيَة ٦٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ اهْ. (وَلَا يُعْطِيهِ الْإِسْتِغْفَارَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الْغُفْرَانَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴾ [نُوح: الْآيَةَ ١٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَكُمُ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهِ

Maqolah yang ketiga (Telah bersabda Nabi alaihis sallam: Tidaklah Alllah memberi kepada seseorang pada lima hal) Dari keadaan-keadaan (Kecuali sunnguh Allah telah menyiapkan) Maksudnya menyediakan (Bagi seseorang itu lima hal lainnya) Sebagai balasan lima perkara itu (Allah tidak memberi kepada seseorang) Maksudnya Allah kepada seseorang (Rasa syukur) Atas nikmat (Kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu tambahan) Atas nikmat tersebut. Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian﴿ [Q.S Ibrahim: Ayat 7] (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang doa kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu Ijabah) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian﴿ [Q.S Ghafir: Ayat 60]. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang beriman dengan pertemuan-Mu, dan ridha dengan ketentuan-Mu, dan merasa cukup dengan pemberian-Mu.] Telah meriwayatkan Hadist ini Imam Thabarani (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang istighfar kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu ampunan) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Mintalah kalian kepada Tuhan kalian ampunan, sesungguhnya tuhan kalian adalah dzat Maha Pengampun﴿ [Q.S Nuh: Ayat 10]. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Jika kalian berbuat kesalahan hingga mencapai kesalahan kalian pada langit, kemudian kalian bertaubat, pasti Allah akan menerima taubat untuk kalian semua.] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah.

(وَلَا يُعْطِيهِ التَّوْبَةَ إِلَّا وَقَدْ أُعَدَّ لَهُ الْقَبُولُ) أَيْ قَبُولَ التَّوْبَةِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَكْتُوبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ: وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ. (وَلَا يُعْطِيهِ الصَّدَقَةَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ التَّقَبُّلَ) أَيْ حُصُولَ الْقَبُولِ.

(Dan Allah tidak memberi kepada seseorang taubat kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya penerimaan taubat. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tertulis di sekitar Arsy sebelum diciptakan dunia empat ribu tahun: Dan sesungguhnya aku adalah dzat maha pengampun bagi orang yang bertaubat dan beriman dan beramal sholeh kemudian mengikuti petunjuk] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailami. (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang shodaqoh kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya hasilnya penerimaan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Setiap orang itu berada dalam bayang-bayang sedekahnya hingga diadili di antara manusia] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ عَبْدٍ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا قَالَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَبْدِيْ رَجَوْتَنِيْ فَلَنْ أَحْقِرَكَ، حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النَّارِ وَادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتَ] رَوَاهُ ابْنُ لَالٍ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Tidaklah seorang hamba yang bersedekah dengan sedekah yang dia berharap dengan sedekah itu pada ridho Allah, melainkan berfirman Allah pada hari kiamat: 'Hamba-Ku, engkau harapkan aku, maka Aku tidak akan merendahkanmu. Aku haramkan tubuhmu atas neraka dan masuklah kamu dari pintu-pintu manapun dari Surga yang kamu mau] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnul Al.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 4

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (عَنْ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ: الظُّلُمَاتُ خَمْسٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (وَالسُّرُجُ) بِضَمَّتَيْنِ جَمْعُ سِرَاجٍ (لَهَا خَمُسٌ) مِنَ الصِّفَاتِ (حُبُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ) لِأَنَّهُ يُوقِعُ فِى الشُّبُهَاتِ ثُمَّ فِى الْمَكْرُوهَاتِ ثُمَّ فِى الْمُحَرَّمَاتِ قَالَ ﷺ: [حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِىُّ عَنْ الْحَسَنُ الْبُصْرِىُّ قَالَ الْغَزَالِىُّ: وَكَمَا أَنَّ حُبَّهَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ فَبُغْضُهَا رَأْسُ كُلِّ حَسَنَةٍ (وَالسِّرَاجُ لَهَا التَّقْوَى) أَىْ الاِحْتِرَازُ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَنْ عُقُوبَتِهِ رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّكَ لَمْ تَدَعْ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ خَيْرًا مِنْهُ] رَوَاهُ الِامَّامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِىُّ.

Maqolah yang ke empat (Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu: Kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari perkara-perkara (Dan lampu-lampu) Lafadz السُّرُجُ dengan membaca dua dhommah jamak dari lafadz سِرَاجٌ (Untuk kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari sifat (Cinta dunia adalah kegelapan) Karena sesungguhnya cinta dunia itu dapat menjatuhkan ke dalam perkara-perkara syubhat kemudian ke dalam perkara-perkara yang dimakruhkan kemudian ke dalam perkara perkara yang diharamkan telah bersabda Nabi ﷺ: [Cinta dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi dari Hasan Al-Bishri. Telah berkata Imam Al-Ghozali: Dan sebagaimana sesungguhnya cinta terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan maka benci terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kebaikan. (Dan lampu untuk dunia itu adalah takwa) Maksudnya menjaga dengan cara ta'at kepada Allah menjauhi siksaan-siksaan dari Allah. Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan suatu perkara karena takwa kepada Allah Azza Wajalla melainkan pasti Allah akan memberikan kepadamu pada yang lebih baik dari perkara itu] Telah meriwayatkan pada hatis ini Imam Ahmad dan Imam An-Nasa'i.

(وَالذَّنْبُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ التَّوْبَةُ) رُوِىَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صَفُلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ عَلَى قَلْبِهِ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾] رَوَاهُ الِامَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِىُّ وَابْنُ مَاجَهِ وَالنَّسَائِىُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.

(Dan dosa adalah kegelapan dan lampu untuk dosa adalah taubat) Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Sesungguhnya seorang hamba ketika melakukan kesalahan maka diberi titik ke dalam hatinya satu titik yang hitam kemudian ketika ia mencabut dan beristigfar dan bertaubat maka jernih hatinya dan jika ia kembali maka bertambah titik hitam itu sehingga menguasai titik hitam itu atas hatinya, dan titik hitam itu adalah ron yang telah berfirman tentangnya Allah ta'ala ﴾Sekali-kali tidak bahkan telah memenuhi bintik hitam di atas hati mereka karena dosa dosa yang mereka lakukan﴿] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dan Imam An-Nasa'i dan Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim.

(وَالْقَبْرُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

(Dan kuburan itu gelap dan lampu untuk kuburan adalah membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengharamkan atas neraka kepada orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ mencari dengan mengucapkannya pada keridhoan Allah Ta'ala] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا إِخْلَاصُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَحْجُزَكُمْ عَنْ كُلِّ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ. قِيلَ: سَبْعَةُ أَشْيَاءَ تُنَوِّرُ الْقَبْرَ: أَوَّلُهَا الْإِخْلَاصُ فِي الْعِبَادَةِ. وَالثَّانِي: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. وَالثَّالِثُ: صِلَةُ الرَّحِمِ. وَالرَّابِعُ: أَنْ لَا يُضَيِّعَ عُمُرَهُ فِي الْمَعْصِيَةِ. وَالْخَامِسُ: أَنْ لَا يَتَبِعَ هَوَاهُ. وَالسَّادِسُ: أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الطَّاعَةِ. وَالسَّابِعُ أَنْ يُكْثِرَ ذِكْرَ اللَّهِ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan ikhlas maka ia pasti akan masuk ke dalam surga, para sahabat berkata: Wahai Rasulallah apa tanda-tanda ikhlasnya membaca لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ? Rasul bersabda: Bisa mencega لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ kepada kalian dari setiap perkara yang telah Allah haramkan kepada kalian] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Khotib. Dikatakan: Tujuh perkara yang menerangi alam qubur: Yang pertama dari tujuh perkara itu adalah ikhlas dalam beribadah dan yang ke dua adalah berbakti kepada kedua orang tua dan yang ke tiga adalah bersilatur rahmi dan yang ke empat adalah tidak menyia-nyiakan umurnya dalam kemaksiatan dan yang ke lima adalah tidak mengikuti kesenangan hawa nafsunya dan yang ke enam adalah bersungguh-sungguh dalam keta'atan dan yang ke tujuh adalah memperbanyak dzikir kepada Allah.

(وَالْآخِرَةُ ظُلْمَةٌ) أَيْ لِكَثْرَةِ الْأَهْوَالِ (وَالسِّرَاجُ لَهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِرُخَصِهِ كَمَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِعَزَائِمِهِ، إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ دِينِ إبْرَاهِيمَ] رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَدُّوا الْعَزَائِمَ وَاقْبَلُوا الرُّخْصَةَ وَدَعُوا النَّاسَ فَقَدْ كُفِيْتُمُوهُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ لَمْ يَقْبَلْ رُخْصَةَ اللَّهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِنْمِ مِثْلُ جِبَالِ عَرَفَةَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ (وَالصِّرَاطُ ظُلْمَةٌ، وَالسِّرَاجُ لَهُ الْيَقِينُ) وَهُوَ تَحْقِيقُ التَّصْدِيقِ بِإِزَالَةِ كُلِّ رَيْبٍ.

(Dan akhirat itu gelap) Maksudnya karena banyaknya kengerian-kengerian (Dan lampu untuk akhirat adalah amal sholeh) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah senang jika diambil keringana-keringanannya sebagaimana Allah senang jika diambil kewajiban-kewajibannya. Sesungguhnya Allah mengutus kepadaku dengan agama yang cenderung yang toleran dari agama Nabi Ibrahim] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Asakir. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tunaikanlah oleh kalian kewajiban-kewajiban dan terimalah oleh kalian kemurahan-kemurahan dan biarkan olehmu manusia maka sungguh akan mencukupkan kalian bahaya manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Khotib. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang tidak menerima keringanan-keringanan dari Allah maka ada atasnya dari dosa seperti gunung arafah] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad (Dan sirot itu gelap dan lampu untuk sirot adalah keyakinan) Keyakinan adalah menyatakan meyakini dengan menghilangkan setiap keraguan.

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Selasa, 13 Oktober 2026

PAI KUA Kalimanah Bekali Calon Pengantin Tips Mewujudkan Keluarga Sakinah

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin, Selasa (13/10/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Imam Edi Siswanto, memberikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin, Selasa (13/10/2026).

Kegiatan ini bertujuan membekali calon pasangan suami istri dengan pemahaman dan keterampilan dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Bimwin

Dalam penyampaian materinya, Imam Edi menegaskan bahwa keluarga sakinah tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan membutuhkan komitmen, keimanan, tanggung jawab, dan kerja sama antara suami dan istri.

Pernikahan juga perlu dilandasi niat beribadah kepada Allah SWT, dengan menjadikan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Ia menjelaskan sejumlah langkah penting untuk mewujudkan keluarga harmonis. Di antaranya menjaga komunikasi yang terbuka dan jujur, menyampaikan pendapat dengan bahasa yang santun, serta saling mendengarkan dan memahami ketika menghadapi perbedaan.

Calon pengantin juga diingatkan untuk menjalankan hak dan kewajiban masing-masing dengan penuh tanggung jawab, saling memaafkan, serta menerima kekurangan pasangan dengan kesabaran.

Selain itu, pasangan suami istri perlu membiasakan ibadah bersama, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, dan berdoa untuk kebaikan keluarga. 

Hal lain yang tidak kalah penting adalah mengelola keuangan secara bijak dan terbuka, membangun sikap sederhana, serta menjaga kerahasiaan persoalan rumah tangga agar tidak mudah menjadi konsumsi orang lain maupun media sosial.

Sebagai penguat materi, Imam Edi mengajak calon pengantin meneladani Rasulullah SAW dalam memperlakukan keluarga dengan kelembutan, kasih sayang, dan sikap saling membantu. Menurutnya, perbedaan dalam rumah tangga hendaknya diselesaikan melalui musyawarah, bukan dengan kata-kata kasar atau saling menyalahkan.

Melalui kegiatan Bimbingan Perkawinan ini, KUA Kecamatan Kalimanah berharap calon pengantin memiliki kesiapan yang lebih baik dalam memasuki kehidupan pernikahan. 

Dengan bekal iman, komunikasi yang sehat, tanggung jawab, dan kasih sayang, pasangan diharapkan mampu membangun keluarga yang tenteram, harmonis, serta menjadi lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang generasi yang saleh dan berakhlak mulia.(*)

Kamis, 08 Oktober 2026

Bimwin: Sabar dan Shalat Sebagai Penolong Keluarga Sakinah

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat melaksanakan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) pada calon pengantin di Balai KUA Kalimanah, Rabu (7/10/2026). (Foto: Moch. Agus ZA)

SABAR, SHALAT DAN MU‘ASYARAH BIL-MA‘RUF
(Penolong dan Penjaga dalam Membangun Keluarga Sakinah)
Oleh: Imam Edi Siswanto, SAg, MH

A. Pernikahan adalah Ibadah dan Perjalanan Bersama
Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga menyatukan dua karakter, dua kebiasaan, dua latar belakang keluarga dan dua cara berpikir. Karena itu, kehidupan rumah tangga pasti memiliki tantangan dan perbedaan. 
 
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Imam%20Edi%20Siswanto

Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, tetapi keluarga yang mampu menghadapi masalah dengan iman, kesabaran, komunikasi dan sikap saling menghargai. Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

B. Sabar sebagai Penjaga Rumah Tangga
Sabar bukan berarti pasrah atau membiarkan diri diperlakukan tidak baik. Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri agar tidak menyelesaikan persoalan dengan cara yang salah.

Dalam rumah tangga, sabar berarti:
· mampu menahan emosi ketika terjadi perbedaan pendapat;
· tidak mudah mengucapkan kata-kata yang menyakiti pasangan;
· bersedia mendengarkan sebelum menyimpulkan;
· sabar menghadapi kesulitan ekonomi dan persoalan keluarga;
· tidak menjadikan kekurangan pasangan sebagai bahan untuk merendahkan.

Ketika emosi sedang tinggi, jangan mengambil keputusan besar. Tenangkan hati, berwudhu, shalat, kemudian bicarakan masalah dengan kepala yang dingin.

C. Shalat sebagai Penolong dan Penjaga
Shalat adalah hubungan langsung seorang hamba dengan Allah SWT. Karena itu, pasangan suami istri harus saling menguatkan dalam menjaga shalat. Allah SWT berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).

Jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya ketaatan: saling mengingatkan shalat, berdoa bersama, membaca Al-Qur'an dan membiasakan menyelesaikan persoalan dengan kembali kepada Allah.

D. Mu‘asyarah bil-Ma‘ruf: Memperlakukan Pasangan dengan Cara yang Baik

Allah SWT berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19).

Inilah prinsip mu‘asyarah bil-ma‘ruf, yaitu menjalani kehidupan bersama pasangan dengan cara yang baik, patut, penuh penghormatan dan sesuai dengan tuntunan agama.

Mu‘asyarah bil-ma‘ruf bukan hanya kewajiban suami kepada istri, tetapi semangat yang harus dibangun oleh kedua belah pihak.

Bentuknya antara lain:
1. Saling menghormati
Jangan merendahkan pasangan, baik di rumah maupun di hadapan orang lain.

2. Saling menjaga ucapan
Perkataan dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang bertahan lama. Hindari hinaan, cacian, ancaman dan membuka aib pasangan.

3. Saling memenuhi hak dan kewajiban
Suami dan istri memahami tanggung jawab masing-masing serta tidak hanya menuntut hak, tetapi juga berusaha menunaikan kewajibannya.

4. Saling menjaga kehormatan dan kesetiaan
Jangan membuka ruang bagi pihak ketiga yang dapat merusak kepercayaan dalam rumah tangga.

5. Saling membantu dan bermusyawarah
Pekerjaan rumah, pengasuhan anak dan persoalan keluarga bukan sekadar urusan salah satu pihak. Bangun kerja sama dan komunikasi.

6. Saling menerima kekurangan
Pasangan bukan manusia sempurna. Jangan hanya melihat kekurangannya, tetapi ingatlah kebaikan dan perjuangan yang telah diberikan.

E. Tiga Kekuatan untuk Keluarga Sakinah
Calon pengantin perlu membangun tiga kekuatan dalam rumah tangga:
SABAR ketika menghadapi ujian.
SHALAT ketika membutuhkan pertolongan Allah.
MU‘ASYARAH BIL-MA‘RUF ketika memperlakukan pasangan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiganya saling melengkapi. Sabar menjaga emosi, shalat menjaga hubungan dengan Allah, dan mu‘asyarah bil-ma‘ruf menjaga hubungan dengan pasangan.

Pesan untuk Calon Pengantin
Jangan membangun rumah tangga hanya dengan modal cinta. Bangunlah dengan iman, ilmu, kesabaran, komunikasi dan akhlak yang baik.

Ketika bahagia, bersyukurlah bersama.
Ketika menghadapi masalah, bersabarlah bersama.
Ketika hati gelisah, kembalilah kepada Allah melalui shalat dan doa.
Dan dalam setiap keadaan, perlakukan pasangan dengan mu‘asyarah bil-ma‘ruf.

Keluarga sakinah bukan keluarga tanpa masalah, tetapi keluarga yang tahu bagaimana menyelesaikan masalah tanpa kehilangan cinta, kehormatan dan ketakwaan kepada Allah SWT.(*)

Rabu, 07 Oktober 2026

#42 Menjaga Kehormatan dan Menata Kembali Orientasi Kehidupan

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 42, Rabu (7/10/2026). (Foto: Pujianto)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada menghormati ulama, pemimpin, tetangga, kerabat, dan keluarga dan jangan sampai dunia mengalahkan orientasi akhirat

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-42 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (7/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 1 – Menghormati Ulama, Pemimpin, Tetangga, Kerabat, dan Keluarga
Hasil kajian Maqolah 1 menunjukkan bahwa kehidupan yang baik dibangun melalui sikap menghormati dan menjaga hubungan dengan berbagai pihak. Merendahkan ulama dapat menyebabkan kerugian dalam urusan agama karena ulama menjadi salah satu sumber pemahaman terhadap syariat. 

Meremehkan pemimpin dapat menimbulkan kerugian dalam urusan dunia, sedangkan merendahkan tetangga dapat menghilangkan berbagai manfaat dan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Maqolah ini juga menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan kerabat dan keluarga. Meremehkan kerabat dapat merusak kasih sayang dan hubungan kekeluargaan, sedangkan merendahkan pasangan dapat menghilangkan keharmonisan dan kenikmatan dalam kehidupan rumah tangga.

Pesan tersebut diperkuat dengan ajaran Nabi ﷺ agar seseorang mencintai kebaikan bagi tetangganya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri. Bahkan, kesabaran menghadapi gangguan tetangga menjadi bagian dari akhlak mulia yang mendapatkan kecintaan Allah.

Dengan demikian, menghormati orang lain bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman dan terjaganya kehidupan yang harmonis.

Suasan kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 42, Rabu (7/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Maqolah 2 – Jangan Sampai Dunia Mengalahkan Orientasi Akhirat
Maqolah 2 memberikan peringatan tentang perubahan orientasi kehidupan manusia. Nabi ﷺ menggambarkan suatu masa ketika manusia lebih mencintai dunia daripada akhirat, rumah daripada persiapan menghadapi kubur, harta daripada memikirkan hisab, keluarga dan kenikmatan dunia daripada kenikmatan akhirat, serta mengikuti keinginan diri daripada menaati Allah.

Kecintaan kepada dunia pada dasarnya bukan sesuatu yang dilarang. Yang menjadi masalah adalah ketika kecintaan tersebut membuat seseorang lalai dari kewajiban dan melupakan kehidupan akhirat. 

Demikian pula dengan harta. Harta yang halal tetap akan dipertanggungjawabkan melalui hisab, sedangkan harta yang diperoleh dengan cara haram dapat menjadi sebab datangnya azab.

Maqolah ini mengajarkan pentingnya menempatkan dunia secara proporsional. Rumah boleh diperindah, harta boleh dicari, keluarga harus dicintai, dan kebutuhan diri perlu diperhatikan. Namun semuanya harus tetap berada dalam batas ketaatan kepada Allah dan tidak mengalahkan persiapan menuju akhirat.

Kesimpulan Hasil Kajian
Maqolah 1 dan 2 memiliki keterkaitan yang kuat. Maqolah 1 mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan manusia, sedangkan Maqolah 2 mengajarkan bagaimana menata hubungan hati dengan dunia dan Allah. Seorang Muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus mampu menghormati ulama, pemimpin, tetangga, kerabat, dan keluarga. 

Pada saat yang sama, kecintaan kepada dunia harus dikendalikan agar tidak membuat manusia melupakan kematian, hisab, dan kehidupan akhirat. Dengan demikian, keseimbangan antara akhlak kepada sesama dan orientasi kepada Allah menjadi kunci kehidupan yang baik dan bernilai.

Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5

بَابُ الخُمَاسِيِّ
فِيهِ سَبْعٌ وَعِشْرُوْنَ مَوْعِظَةً سِتَّةٌ أَخْبَارٌ وَالْبَاقِى آثَارٌ

Dalam bab ini ada 27 Nasihat, 6 akhbar dan sisanya atsar.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 1

الْمَقَالَةُ الْأُولَى: (رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: مَنْ أَهَانَ) أَيْ أَذَلَّ (خَمْسَةً) مِنَ النَّاسِ (خَسِرَ خَمْسَةً) أَيْ أَهْلَكَ خَمْسَةَ أُمُورٍ (مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ) بِأَنْ تَرَكَ تَعْظِيمَهُمْ (خَسِرَ الدِّينَ) فَإِنَّهُمْ مَعْدِنُ الشَّرِيعَةِ (وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ) أَيْ الْمُلُوكِ (خَسِرَ الدُّنْيَا) لِأَنَّهُمْ الَّذِينَ يُرَتِّبُونَ أُمُورَ الدُّنْيَا وَزِمَامُهَا بِأَيْدِيهِمْ (وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْجِيرَانِ) أَيْ الْمُجَاوِرِينَ فِي الْمَسَاكِنِ مِنْ جَمِيعِ الْجِهَاتِ (خَسِرَ الْمَنَافِعَ) أَيْ الْخَيْرَاتِ الَّتِي يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى الْمَطْلُوبِ.

Maqolah yang pertama (Diriwayatkan dari Nabi ﷺ: Barang siapa yang menghinakan) Maksudnya ia menghinakan (Pada lima golongan) Dari Manusia (Maka ia rugi pada lima perkara) Maksudnya ia merusak pada lima perkara (Barangsiapa yang merendahkan ulama) Dengan cara ia meninggalkan sifat mengagungkan ulama (Maka ia rugi dalam urusan agama) Karena sesungguhnya ulama adalah sumbernya syariat (Dan barang siapa yang merendahkan kepada umara) Maksudnya kepada para raja (Maka ia rugi dalam urusan dunia) Karena sesungguhnya umara adalah orang-orang yang mengatur pada urusan-urusan dunia dan kendali dunia itu dengan tangan umara (Dan barang siapa merendahkan kepada tetangga) Maksudnya orang-orang yang bertetangga di tempat tinggal dari semua arah (Maka ia rugi dalam kemanfaatan) Maksudnya kebaikan-kebaikan yang bisa sampai sebab kebaikan-kebaikan itu pada hal yang dicari.

رُوِيَ أَنَّهُ ا قَالَ: [وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الرَّجُلَ لَهُ جَارُ سُوءٍ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ بِحَيَاةٍ أَوْ مَوْتٍ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda: [Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam kekuasaaannya, tidaklah beriman seorang hamba hingga dia mencintai untuk tetangganya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim. Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai seorang laki-laki yang baginya ada tetangga buruk yang menyakitinya, lalu dia bersabar atas gangguannya dan ia ikhlas atas gangguan itu hingga meberikan kecukupan kepadanya Allah dengan hidup atau mati] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Bukhari.

 (وَمَنْ اسْتَخَفَّ بِالْأَقْرِبَاءِ) مِنَ الْأَرْحَامِ (خَسِرَ الْمَوَدَّةَ) أَيْ أَهْلَكَ مَحَبَّتَهُمْ (وَمَنْ اسْتَخَفَّ بِأَهْلِهِ) أَيْ زَوْجَتِهِ (خَسِرَ طِيبَ الْمَعِيشَةِ) أَيْ لَذَّةَ الْمَكْسَبِ الَّذِي يَعِيشُ بِسَبَبِهِ .  

(Dan barang siapa yang merendahkan kepada kerabat-kerabat) Maksudnya dari mahrom (Maka ia rugi dalam kasih sayang) Maksudnya ia telah merusak cinta mereka (Dan barang siapa merendahkan kepada keluarganya) Maksudnya istrinya (Maka ia rugi dalam nikmatnya kehidupan) Maksudnya nikmatnya mencari nafkah yang ia bisa hidup dengan sebabnya.

 Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 2 

 (وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِيْ يُحِبُّونَ خَمْسًا) مِنَ الْخِصَالِ (وَيَنْسَوْنَ خَمْسًا) مِنْ مُقَابِلَتِهَا (يُحِبُّونَ الدُّنْيَا) فَيَشْتَغِلُونَ بِهَا (وَيَنْسَوْنَ الْعُقْبَى) أَيْ يَتْرُكُونَ الْعَمَلَ لِلْآخِرَةِ (وَيُحِبُّونَ الدُّوْرَ) فَيَشْتَغِلُونَ بِزِينَتِهَا (وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ) أَيْ يَتْرُكُونَ الْعَمَلَ لِتَنْوِيرِهَا (وَيُحِبُّونَ الْمَالَ) فَيَشْتَغِلُونَ بِجَمْعِهِ (وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ) أَيْ يَغْفُلُونَ عَنْ حِسَابِ اللَّهِ تَعَالَى إيَّاهُ بِهِ فَإِنَّ الْمَالَ حَلَالُهُ حِسَابٌ وَحَرَامُهُ عِقَابٌ (وَيُحِبُّونَ الْعِيَالَ) أَيْ أَهْلَ الْبَيْتِ (وَيَنْسَوْنَ الْحُورَ) فِي الْجِنَانِ (وَيُحِبُّونَ النَّفْسَ وَيَنْسَوْنَ اللَّهَ) بِأَنْ يَتَّبِعُوا مُرَادَ أَنْفُسِهِمْ وَيَتْرُكُونَ أَوَامِرَ اللَّهِ تَعَالَى (هُمْ مِنِّي بُرَآءُ) أَيْ بُعَدَاءُ (وَأَنَا مِنْهُمْ بَرِيءٌ) أَيْ بَعِيدٌ.

Maqolah yang kedua (Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: Akan datang suatu zaman kepada ummatku mereka akan mencintai pada lima) Dari perkara-perkara (Dan mereka akan melupakan lima perkara) Dari perkara yang bertentangan dengannya (Mereka mencintai dunia) Sehingga mereka sibuk dengannya (Dan mereka melupakan akhirat) Yaitu mereka meninggalkan amal untuk kehidupan akhirat (Dan mereka mencintai rumah-rumah) Sehingga mereka sibuk dengan menghiasi rumah-rumah (Dan mereka melupakan kubur) Yaitu mereka meninggalkan amal untuk memberikan cahaya padanya (Dan mereka mencintai harta) Sehingga mereka sibuk mengumpulkannya (Dan mereka melupakan hisab) Yaitu Mereka lalai terhadap perhitungan Allah Ta'ala padanya karena mengumpulkan harta karena sesungguhnya harta, halalnya harta itu merupakan hisab dan haramnya harta itu merupakan adzab (Dan mereka mencintai keluarga) Yaitu ahli rumah (Dan mereka melupakan bidadari) di surga (Dan mereka mencintai diri mereka sendiri dan mereka melupakan Allah) Dengan cara mereka mengikuti pada keinginan diri mereka sendiri dan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah Ta'ala (Mereka itu dari diriku berlepas diri) Yaitu mereka menjauh (dan aku dari mereka berlepas diri) Yaitu jauh.

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-5/
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 30 September 2026

Ikrar Wakaf Tanah 108 Meter Persegi Disiapkan untuk TPQ dan Kemaslahatan Umat

PPAIW Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, (Berbaju putih) di acara prosesi ikrar wakf di Masjid Baiturrahman, Kelurahan Karangmanyar, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Selasa (29/9/2026, (Foto: Zamroni Irham)

Purbalingga – Semangat berbagi dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat kembali diwujudkan melalui ikrar wakaf di Masjid Baiturrahman, Kelurahan Karangmanyar, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Selasa (29/9/2026) kemarin.

Dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Zamroni Irham bahwa sebidang tanah seluas 108 meter persegi di Jalan Kenanga Raya diwakafkan untuk mendukung kegiatan ibadah, pendidikan Al-Qur’an, serta kemaslahatan umat di wilayah Karangmanyar dan sekitarnya.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Wakaf

"Prosesi Ikrar Wakaf Masjid Baiturrahman Karangmanyar disaksikan langsung oleh PPAIW Kecamatan Kalimanah, Bapak Drs. H. Kholidin, MSI," katanya.

Lebih lanjut ia menjelasakan, wakaf tersebut berasal dari Wahyu Kontardi, S.H. selaku wakif dan diserahkan kepada nazhir perorangan yang diketuai Muhammad Allif Subiyanto. 

Pelaksanaan ikrar dihadiri oleh wakif, nazhir, para saksi, ustadz dan ustadzah TPQ Baiturrahman, serta jamaah Masjid Baiturrahman.

Menurut nazhir, tanah wakaf tersebut ke depan direncanakan akan dibangun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Selain menjadi tempat anak-anak belajar membaca dan memahami Al-Qur’an, bangunan tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan lainnya.

Pelaksanaan ikrar wakaf di Masjid Baiturrahman ini juga menjadi momentum untuk semakin menguatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya wakaf. Wakaf tidak hanya berbicara tentang menyerahkan harta, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Tanah yang hari ini diwakafkan diharapkan kelak menjadi tempat tumbuhnya generasi Qur’ani, ruang berlangsungnya kegiatan ibadah, sekaligus pusat berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi umat.

Semangat tersebut sejalan dengan hakikat wakaf sebagai salah satu bentuk amal jariyah. Harta yang diwakafkan dapat terus memberikan manfaat selama digunakan untuk kebaikan, sehingga menjadi investasi akhirat bagi wakif.(*)

Editor: Imam Edi Siswanto 

#41 Kajian Kitab Nashoihul Ibad: Bekal Hidup dengan Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-41 seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor ruang kantor setempat, Rabu (23/9/2026).

Berikut rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36 Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Bab ini termasuk Babur Rubā‘ī, yang berisi nasihat-nasihat dalam bentuk empat perkara.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab  

Berikut isi rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36
“Bekal Hidup: Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah”

1. Maqolah 32 — Besarnya Pahala Orang yang Menghadapi Musibah
Dalam maqolah ini dijelaskan bahwa pada hari kiamat, orang-orang yang memiliki amal seperti shalat dan puasa akan mendapatkan pahala dengan perhitungan amalnya.

Namun, bagi ahlul bala’, yaitu orang-orang yang mendapatkan ujian dan musibah kemudian menghadapinya dengan kesabaran dan keimanan, disebutkan bahwa mereka memperoleh pahala tanpa hisab. Begitu besarnya pahala tersebut hingga orang-orang yang hidup dalam keadaan sehat dan selamat berharap mendapatkan kedudukan seperti mereka.

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pesan penting:
Musibah tidak selalu berarti kemurkaan Allah. Bagi orang beriman, musibah dapat menjadi jalan memperoleh pahala, penghapus dosa, dan peningkatan derajat. Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Pelajaran: Jangan hanya melihat beratnya musibah, tetapi lihat pula besarnya pahala di balik kesabaran.

2. Maqolah 33 — Empat Hal yang Akan “Merampas” Manusia
Sebagian ulama hikmah mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi empat perampasan: Malaikat maut merampas ruhnya.

  • Ahli waris mengambil hartanya setelah ia meninggal.
  • Tanah dan cacing menghancurkan jasadnya di dalam kubur.
  • Orang-orang yang pernah dizaliminya mengambil amalnya, apabila ia memiliki amal kebaikan.

Apabila seseorang tidak mempunyai amal kebaikan yang cukup, dosa orang-orang yang pernah dizaliminya dapat dibebankan kepadanya.

Inti pesannya:
Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa mengumpulkan amal.

Jangan sampai kita menjaga harta agar tidak diambil orang, tetapi justru membiarkan pahala kita diambil oleh orang lain karena kezaliman kita.

Pertanyaan untuk muhasabah:
“Kalau hari ini saya meninggal, apakah orang lain akan membawa harta saya, ataukah saya membawa bekal amal saya?”

3. Maqolah 34 — Empat Kesibukan dan Bekalnya

Maqolah ini memberikan gambaran tentang konsekuensi dari empat macam kesibukan manusia:

Pertama, orang yang sibuk mengejar syahwat harus mampu menjaga pergaulan dan kehormatan diri.

Kedua, orang yang sibuk mengumpulkan harta harus sangat berhati-hati agar tidak terjerumus kepada yang haram.

Ketiga, orang yang sibuk memberikan manfaat kepada sesama Muslim membutuhkan mudārāh, yaitu sikap lembut, bijaksana, dan pandai menjaga hubungan dengan manusia.

Keempat, orang yang sibuk beribadah harus memiliki ilmu, karena ibadah tidak akan benar jika dilakukan tanpa mengetahui tata caranya.


Kalimat kuncinya:
“Beribadah membutuhkan ilmu, melayani manusia membutuhkan akhlak, dan mencari harta membutuhkan kehati-hatian.”

Jadi, jangan hanya bertanya: “Apa yang ingin saya lakukan?” Tetapi tanyakan juga:
“Apakah saya memiliki ilmu dan akhlak untuk melakukannya?”

4. Maqolah 35 — Empat Amal yang Sangat Sulit

Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu menyebut beberapa amal yang sangat berat dilakukan oleh manusia, yaitu: 

  • Memaafkan ketika sedang marah.
  • Bersikap dermawan ketika sedang mengalami kesulitan.
  • Menjaga diri dari perkara haram ketika sedang sendirian.
  • Mengatakan kebenaran kepada orang yang ditakuti atau kepada orang yang diharapkan pertolongannya.

Ini menunjukkan bahwa ukuran akhlak seseorang bukan ketika keadaan mudah, tetapi ketika dirinya sedang diuji.

· Mudah memaafkan ketika hati tenang.
Yang sulit adalah memaafkan ketika hati terluka.

· Mudah bersedekah ketika kaya.
Yang luar biasa adalah memberi ketika diri sendiri sedang membutuhkan.

· Mudah meninggalkan maksiat ketika dilihat orang.
Yang menunjukkan ketakwaan adalah meninggalkannya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Inilah hakikat kejujuran iman:
Tetap baik ketika tidak ada yang melihat dan tetap benar ketika ada risiko yang harus ditanggung.

5. Maqolah 36 — Empat Waktu Orang yang Bijaksana

Dalam kitab Zabur disebutkan nasihat Allah kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam bahwa orang yang berakal dan bijaksana hendaknya membagi waktunya dalam empat keadaan:

1. Waktu untuk bermunajat kepada Allah
Dengan dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, mengadu dan mendekatkan diri kepada Allah.

2. Waktu untuk bermuhasabah
Mengevaluasi diri: apa yang sudah dilakukan, apa kesalahan hari ini, kemudian bersyukur atas kebaikan dan memohon ampun atas kesalahan.

3. Waktu bersama orang-orang yang mengingatkan kekurangan kita
Bersahabat dengan orang-orang yang berani memberikan nasihat, bukan hanya orang yang selalu memuji.

4. Waktu menikmati perkara halal
Manusia juga membutuhkan waktu untuk menikmati sesuatu yang halal, beristirahat, dan menyegarkan diri, selama tidak berlebihan dan tidak melalaikan kewajiban.

Benang Merah Maqolah 32–36
Kalau kelima maqolah ini dirangkai menjadi satu pesan, sebenarnya Nashoihul Ibad sedang mengajarkan bagaimana seorang Muslim mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan:

Maqolah 32:
Ketika mendapat musibah, bersabarlah, karena pahala Allah sangat besar.

Maqolah 33:
Ingat kematian, karena ruh, harta, jasad, dan bahkan amal kita akan menghadapi konsekuensinya.

Maqolah 34:
Dalam menjalani kehidupan, kuasai diri, cari harta dengan halal, layani manusia dengan akhlak, dan beribadahlah dengan ilmu.

Maqolah 35:
Latih empat kekuatan: memaafkan, memberi, menjaga diri, dan berkata benar.

Maqolah 36:
Atur kehidupan dengan empat keseimbangan: hubungan dengan Allah, evaluasi diri, hubungan dengan orang saleh, dan menikmati yang halal.

Kesimpulan yang mudah disampaikan dalam pengajian
“Jangan takut menghadapi musibah, tetapi takutlah jika musibah membuat kita jauh dari Allah. Jangan hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi kumpulkan pula amal. Jangan hanya menjaga tubuh dari penyakit, tetapi jagalah hati dari dosa. Dan jangan hanya menghitung umur yang telah berlalu, tetapi hitunglah amal yang telah kita bawa.”

Dengan demikian, orang bijaksana bukanlah orang yang sekadar panjang umurnya, banyak hartanya, atau tinggi ilmunya. Orang bijaksana adalah orang yang tahu kepada siapa ia harus kembali, mempersiapkan bekal untuk kembali, dan setiap hari mau mengevaluasi dirinya.(*)

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto



#43 Menyalakan Cahaya Kehidupan dengan Syukur, Taubat, Takwa, dan Amal Saleh

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada  kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rab...