Rabu, 02 September 2026

#38 Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 24 - 26, Mengendalikan Hawa Nafsu dan Menjaga Ibadah dalam Segala Keadaan

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-38 seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (2/9/2026).
 
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Berikut rangkumannya:
Maqolah 24 menjelaskan tentang keutamaan Nabi Yahya AS yang disebut sebagai sayyid karena mampu menguasai empat perkara penting dalam kehidupan, yaitu hawa nafsu, godaan Iblis, lisan, dan amarah. Pesan utamanya adalah kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari kedudukan, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri dan menundukkan berbagai dorongan yang dapat menjauhkan manusia dari kebaikan.

Maqolah 25, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib RA, menerangkan bahwa agama dan kehidupan dunia akan tetap tegak selama empat kelompok menjalankan tanggung jawabnya. Orang kaya tidak kikir terhadap harta yang Allah amanahkan, para ulama mengamalkan ilmu yang dimilikinya, orang yang belum berilmu tidak sombong dan mau belajar, serta orang fakir tidak menjual akhirat demi kepentingan dunia. Keempatnya menjadi fondasi keseimbangan kehidupan masyarakat.

Maqolah 26 mengajarkan bahwa tidak ada alasan bagi manusia untuk meninggalkan ibadah, apa pun kondisi kehidupannya. Orang kaya diingatkan melalui keteladanan Nabi Sulaiman AS, hamba sahaya melalui Nabi Yusuf AS, orang sakit melalui Nabi Ayyub AS, dan orang fakir melalui Nabi Isa AS. Mereka memiliki ujian dan keadaan yang berbeda, tetapi tetap menjaga ibadah kepada Allah. Pesan pentingnya adalah kesibukan, kekayaan, status sosial, sakit, maupun kemiskinan bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Inti pelajaran: ketiga maqolah ini mengajarkan pentingnya mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan dan emosi, mengamalkan ilmu, gemar belajar, tidak diperbudak dunia, serta istiqamah beribadah dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, kehidupan dunia dapat berjalan seimbang dan akhirat tetap menjadi tujuan utama.
 
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Rizal)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 24

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَسَيِّدًا وَحَصُورًا﴾ [آلِ عِمْرَانَ: الْآيَةَ ٣٩]) أَيْ لَا يَرْغَبُ فِي النِّسَاءِ لَا لِعَجْزٍ بَلْ لِمَنْعِ الشَّهْوَةِ فَقَطْ (﴿وَنَبِيًا مِنَ الصَلِحِينَ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: الْآيَةَ ٣٩]) قَالَ - أَيْ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ -: (ذَكَرَ اللَّهُ) سَيِّدَنَا (يَحْيَى) عَلَيْهِ السَّلَامُ (سَيِّدًا وَهُوَ عَبْدُهُ) تَعَالَى (لِأَنَّهُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (كَانَ غَالِبًا عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: عَلَى الْهَوَى وَعَلَى إِبْلِيسَ وَعَلَى اللِّسَانِ وَعَلَى الْغَضَبِ).

Maqolah yang ke dua puluh empat (Dari Muhammad bin Ahmad Rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah Azza Wajalla: ﴾Sebagai sayid dan sebagai orang yang menahan diri﴿ [Ali Imran: Ayat 39]) Maksudnya Nabi Yahya tidak memiliki hasrat terhadap wanita, bukan karena ketidakmampuannya, tetapi untuk mencegah syahwat saja (﴾Dan sebagai Nabi dari golongan orang-orang sholeh﴿ [Ali Imran: Ayat 39]) Telah berkata-Maksudnya Syeikh Muhammad-: (Telah menyebutkan Allah) kepada tuan kita (Nabi Yahya) Alaihis Salam (Sebagai Sayid sedangkan Nabi Yahya adalah hamba Allah) Ta'ala (Karena sesungguhnya Nabi Yahya) Alaihis Salam (Terbukti menang atas empat perkara: Menang atas hawa nafsu dan menang atas Iblis dan menang atas lisan dan menang atas emosi).

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (kiri) saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Rizal)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 25

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (لَا يَزَالُ الدِّينُ وَالدُّنْيَا قَائِمَيْنِ) أَيْ ظَاهِرَيْنِ (مَا دَامَتْ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) فَمَا مَصْدَرِيَّةٌ ظَرْفِيَّةٌ، وَدَامَ تَامٌّ بِمَعْنَى بَقِيَ (مَا دَامَ الْأَغْنِيَاءُ لَا يَبْخَلُونَ بِمَا خُوِّلُوْا) بِالْبِنَاءِ لِلْمَجْهُولِ أَيْ لَا يَمْنَعُونَ مِنْ إِعْطَاءِ السَّائِلِ مِمَّا أَعْطَاهُمْ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا يَمْنَعُونَ الْوَاجِبَ عَلَيْهِمْ (وَمَا دَامَ الْعُلَمَاءُ يَعْمَلُونَ بِمَا عَلِمُوا) مِنَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ (وَمَا دَامَ الْجُهَلَاءُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمُوا) أَيْ لَا يُعْرِضُونَ وَلَا يَمْتَنِعُونَ مِنْ تَعَلُّمِ مَا لَمْ يَعْلَمُوا (وَمَا دَامَ الْفُقَرَاءُ لَا يَبِيعُونَ آخِرَتَهُمْ بِدُنْيَاهُمْ) أَيْ مَا دَامُوا لَا يَتْرُكُونَ الدِّينَ بِأَخْذِ الدُّنْيَا.

Maqolah yang ke dua puluh lima (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Tidak akan berhenti agama dan dunia yang tegak keduanya) Maksudnya yang nampak keduanya (Selagi masih langgeng empat perkara) Lafadz مَا pada lafadz مَا دَامَتْ adalah مَا masdariyah dhorfiyah dan lafadz دَامَ adalah tam dengan ma'na langgeng (Selagi masih langgeng orang-orang kaya itu mereka tidak pelit atas perkara yang di amanatkan kepada mereka) Lafadz خُوِّلُوْا dengan bina majhul maksudnya mereka tidak menahan dari memberi kepada orang yang meminta dari perkara yang telah memberikan kepada mereka oleh Allah Ta'ala dan mereka tidak menahan pada kewajiban atas mereka (Dan selagi masih langgeng para ulama itu mereka mengamalkan pada perkara yang mereka tahu) Dari perintah dan larangan (Dan selagi masih langgeng orang-orang bodoh itu mereka tidak sombong tentang perkara yang mereka tidak tahu) Maksudnya mereka tidak menolak dan mereka tidak menahan diri dari mempelajari perkara yang tidak mereka ketahui (Dan selagi masih langgeng orang-orang fakir itu mereka tidak menjual pada akhirat mereka dengan dunia mereka) Maksudnya selagi masih langgeng orang-orang fakir itu mereka tidak meninggalkan agama dengan mengambil dunia.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 26

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَحْتَجُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَرْبَعَةِ أَنْفُسٍ) أَيْ أَشْخَاصٍ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَجْنَاسٍ مِنَ النَّاسِ) فَيَحْتَجُّ اللَّهُ الْعَظِيمُ (عَلَى الْأَغْنِيَاءِ بِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ) عَلَيْهِمَا السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِالْأَمْوَالِ وَبِالْمَمْلَكَةِ قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: فَأَيُّ مَمْلَكَةٍ أَكْبَرُ مِنْ مَمْلَكَةِ سُلَيْمَانَ وَأَيُّ مَالٍ أَكْثَرُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

Maqolah yang ke dua puluh enam (Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala itu berhujjah pada hari kiamat dengan empat orang) Maksudnya individu (kepada empat kelompok dari manusia) Maka berhujjah Allah yang maha agung (Kepada orang-orang kaya dengan Nabi Sulaiman bin Daud) Alaihimas Salam seperti Allah berfirman kepada orang-orang kaya: kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: Kami disibukkan dengan harta-harta dan kerajaan maka Allah berfirman kepada mereka: kerajaan manakah yang lebih besar daripada kerajaan Sulaiman dan harta manakah yang lebih banyak daripada hartanya Sulaiman dan Sulaiman itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْعَبِيدِ بِيُوسُفَ) كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِخِدْمَةِ سَادَاتِنَا، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي يُوسُفُ تَحْتَ عَزِيزِ مِصْرَ وَامْرَأَتِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada para hamba sahaya dengan Nabi Yusuf) Seperti Allah berfirman kepada para hamba sahaya: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan berkhidmah kepada tuan-tuan kami, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Yusuf itu ada di bawah kekuasaan raja mesir dan istrinya raja mesir dan Yusuf itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْمَرْضَى بِأَيُّوبَ) عَلَيْهِ السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمَ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَرْضَى، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي أَيُّوبُ مَرِضَ مَرَضًاً شَدِيدًاً وَهُوَ لَمْ يَتْرُكْ الْعِبَادَةَ.
(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang sakit dengan Nabi Ayyub) Alaihis Salam Seperti Allah berfirman kepada orang-orang sakit: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami sakit, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Ayyub itu sakit dengan penyakit yang sangat berat dan Ayyub itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْفُقَرَاءِ بِعِيسَى]) كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَھُمْ: لِمَ تَرَکْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِمَشَقَّةِ الْفَقْرِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ: عَبْدِي عِيسَى أَفْقَرُ مَنْ فِي الْأَرْضِ وَهُوَ لَمْ يَمْلِكْ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا فَلَيْسَ لَهُ بَيْتٌ وَلَا مَالٌ وَلَا زَوْجَةٌ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang-orang fakir dengan Nabi Isa]) Seperti Allah berfirman kepada orang-orang fakir: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan beratnya menanggung kemiskinan , maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Isa adalah sefakir-fakirnya orang yang ada di atas bumi dan Isa itu tidak memiliki apapun dari dunia dan tidak ada baginya rumah dan tidak ada baginya harta dan tidak ada baginya istri dan Isa itu tidak meninggalkan ibadah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-4/?page=3 

Rabu, 26 Agustus 2026

KUA Kalimanah Peduli Korban Kebakaran, Kholidin: Jadikan Musibah sebagai Hikmah Meningkatkan Iman dan Takwa

Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama staf, Penyuluh Agama Islam dan Penghulu saat mengunjungi kediaman korban kebakaran rumah di Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Rabu (26/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kepedulian terhadap warga yang tertimpa musibah kembali ditunjukkan jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah. Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama staf, Penyuluh Agama Islam dan Penghulu mengunjungi kediaman korban kebakaran rumah di Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Rabu (26/8/2026).

Kunjungan tersebut sekaligus diisi dengan penyerahan bantuan kepada korban kebakaran sebagai bentuk kepedulian dan perhatian jajaran KUA Kalimanah. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan dukungan moril serta menguatkan keluarga korban agar tetap sabar dan tabah dalam menghadapi musibah. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/08/kua-kalimanah-perkuat-koordinasi-peduli.html

Kondisi rumah Yatim Adi Winoto (59), warga Desa Blater Kecamatan Kalimanah, yang rumahnya mengalami kebakaran . pasca kebakaran pada Senin (24/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Kholidin mengatakan, musibah yang terjadi hendaknya tidak hanya dipandang sebagai sebuah peristiwa yang menyedihkan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk mengambil hikmah dan melakukan introspeksi diri.

“Dari musibah ini kita dapat mengambil hikmah untuk semakin meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT,” psanya kepada Yatim Adi Winoto (59), warga Desa Blater Kecamatan Kalimanah, yang rumahnya mengalami kebakaran pada Senin (24/8/2026) lalu.

Lalu, sambungnya, kita belajar untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat kesabaran, serta menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian dari ketentuan-Nya.

Menurutnya, kepedulian kepada sesama, khususnya kepada warga yang sedang mengalami kesulitan, merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat. 

 Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama staf, Penyuluh Agama Islam dan Penghulu bersama Yatim Adi Winoto (59), dan  salah satu perangkat desa  Blater, Aziz Suseno (kanan) saat berbincang dihalaman rumah setempat, Rabu (26/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

“Karena itu, KUA tidak hanya hadir dalam pelayanan administrasi dan urusan keagamaan, tetapi juga berupaya membangun kedekatan serta kepedulian sosial dengan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong, saling membantu dan memberikan dukungan kepada mereka yang sedang menghadapi musibah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

KUA Kalimanah Perkuat Koordinasi, Peduli Musibah Kebakaran dan Semangat Kebangsaan

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. pada acara Rakor dan Quality Control di aula kantor PPAI Kecamatan Kalimanah, Rabu (26/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, memimpin rapat dan Quality Control (QC) jajaran KUA Kalimanah, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi internal sekaligus memastikan berbagai agenda pelayanan dan kegiatan KUA berjalan tertib, terarah, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam rapat tersebut, dilakukan pembagian tugas untuk sejumlah agenda yang akan dilaksanakan pada hari ini. Beberapa di antaranya adalah mengikuti Dialog Kebangsaan Kemenag Purbalingga, menghadiri undangan kegiatan lepas sambut di Kecamatan, serta agenda kunjungan dan pemberian bantuan kepada warga yang mengalami musibah kebakaran di Desa Blater.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Rakor

Kholidin menekankan bahwa tugas kedinasan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan administrasi di kantor, tetapi juga bagaimana KUA hadir di tengah masyarakat ketika menghadapi persoalan dan musibah. Menurutnya, kepedulian sosial merupakan bagian penting dari semangat pengabdian dan pelayanan kepada umat.

Salah satu perhatian dalam rapat adalah kunjungan kepada Yatim Adi Winoto (59), warga Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, yang rumahnya mengalami kebakaran pada Senin (24/8/2026) lalu.

Berdasarkan laporan kejadian, kebakaran terjadi sekitar pukul 14.15 WIB dan diduga bersumber dari tungku kayu bakar yang telah ditinggalkan dalam kondisi belum benar-benar padam. Dalam peristiwa tersebut tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka, namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

Kholidin berharap pembagian tugas yang telah dilakukan dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan koordinasi yang baik. “Quality Control bukan sekadar mengevaluasi pekerjaan, tetapi memastikan setiap tugas yang kita lakukan benar-benar memberikan pelayanan terbaik dan manfaat bagi masyarakat,” demikian semangat yang ditekankan dalam rapat tersebut.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Senin, 24 Agustus 2026

Catat! Ini Daftar Pelayanan Masyarakat di KUA Selain Urusan Nikah

Poster Maklumat Layanan di KUA Kalimanah. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) bukan hanya tempat masyarakat mengurus pencatatan pernikahan. Seiring terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 24 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama, KUA ditegaskan sebagai unit pelayanan yang memiliki tugas lebih luas dalam memberikan layanan bimbingan kepada masyarakat Islam.(kemenag.go.id)

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/2024/08/catat-ini-pelayanan-kua-kalimanah.html

1. Pelayanan, pengawasan, pencatatan pernikahan, dan pelaporan nikah dan rujuk. Layanan ini mencakup proses administrasi dan pencatatan peristiwa nikah serta rujuk sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

2. Pelayanan bimbingan perkawinan dan keluarga sakinah. Melalui layanan ini, KUA memberikan pembinaan kepada calon pengantin maupun keluarga agar memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dalam membangun rumah tangga yang harmonis, kokoh, dan berketahanan.

 

3. Pelayanan bimbingan kemasjidan. KUA berperan dalam memberikan pembinaan dan bimbingan kepada masyarakat terkait pengelolaan serta optimalisasi fungsi masjid dan musala sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

 

4. Pelayanan konsultasi syariah. Masyarakat dapat memperoleh bimbingan dan konsultasi mengenai berbagai persoalan keagamaan dan syariah sesuai dengan kewenangan serta ketentuan yang berlaku.

 

5. Pelayanan bimbingan dan penerangan agama Islam. Fungsi ini diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan agama, pembinaan majelis taklim, pengajian, dakwah, edukasi keagamaan, serta berbagai kegiatan pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat.

 

6. Pelayanan bimbingan zakat dan wakaf. KUA turut memberikan edukasi dan pembinaan kepada masyarakat mengenai zakat dan wakaf, termasuk peningkatan pemahaman tentang pengelolaan wakaf serta peran nazir sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

7. Pengelolaan data dan pemanfaatan informasi keagamaan. Data keagamaan menjadi bagian penting dalam mendukung perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan peningkatan kualitas pelayanan KUA kepada masyarakat.

 

8. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KUA. Fungsi ini mendukung seluruh penyelenggaraan pelayanan melalui pengelolaan administrasi, persuratan, arsip, kepegawaian, sarana prasarana, pelaporan, serta urusan rumah tangga kantor.

 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Pelayanan 

KUA juga melayani berbagai mandat Ditjen Bimas Islam, berikut daftar 48 Standar Pelayanan (SP) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Layanan KUA:

A. Pelayanan, Pengawasan, Pencatatan Pernikahan, serta Pelaporan Nikah dan Rujuk

1. Layanan pendaftaran kehendak nikah.
2. Layanan pemeriksaan nikah.
3. Layanan penerbitan surat keterangan ikrar berwakil wali.
4. Layanan pemberitahuan kekurangan syarat/penolakan.
5. Layanan pengumuman nikah.

6. Layanan pelaksanaan dan pencatatan nikah.
7. Layanan penyerahan buku nikah
8. Layanan pelaporan nikah.
9. Layanan penerbitan surat rekomendasi nikah.
10. Layanan perbaikan data nikah.

11. Layanan perubahan data nikah.
12. Layanan penggantian buku nikah.
13. Layanan legalisasi buku nikah.
14. Layanan penerbitan surat keterangan status belum menikah.
15. Layanan pendaftaran bukti nikah luar negeri.

16. Layanan pencatatan isbat nikah.
17. Layanan pencatatan perjanjian nikah.
18. Layanan pencatatan pembatalan/perubahan perjanjian nikah.
19. Layanan pencatatan rujuk.
20. Layanan pengajuan pembatalan nikah.
 

B. Pelayanan Bimbingan Perkawinan dan Keluarga Sakinah

21. Layanan bimbingan perkawinan pra nikah.
22. Layanan bimbingan keluarga sakinah.
23. Layanan bimbingan konseling dan mediasi keluarga (masa nikah).

C. Pelayanan Bimbingan Kemasjidan

24. Layanan penerbitan ID masjid/musala melalui SIMAS.
25. Layanan penerbitan surat keterangan terdaftar masjid/musala pada SIMAS.
26. Layanan penerbitan surat rekomendasi bantuan masjid/musala.
27. Layanan penerbitan surat rekomendasi perubahan status musala menjadi masjid.
28. Layanan perubahan data masjid/musala.
29. Layanan surat rekomendasi penetapan kepengurusan takmir masjid besar.
 

D. Pelayanan Konsultasi Syariah

30. Layanan konsultasi hukum Islam (fikih ibadah, hukum waris, hukum keluarga).
31. Layanan kalibrasi arah kiblat.
 

E. Pelayanan Bimbingan dan Penerangan Agama Islam

32. Layanan bimbingan dan penyuluhan keagamaan.
33. Layanan sosialisasi dan edukasi produk halal.
34. Layanan pencegahan konflik sosial berdimensi keagamaan.
 

F. Pelayanan Bimbingan Zakat dan Wakaf

35. Layanan bimbingan zakat dan wakaf.
36. Layanan pembuatan AIW atau APAIW.
37. Layanan pendaftaran tanah wakaf.
38. Layanan mutasi harta benda wakaf.
39. Layanan AIW atau APAIW yang hilang/rusak.
40. Layanan surat rekomendasi penggantian nazir.
41. Layanan penerbitan surat pengesahan nazir dan penggantian nazir (penyeragaman SOP).

 G. Pengelolaan Data dan Pemanfaatan Informasi Keagamaan

42. Layanan penyediaan data keagamaan dan data sarana keagamaan.
43. Layanan penerbitan surat rekomendasi bantuan keagamaan.
44. Layanan penerbitan surat rekomendasi pendirian majelis taklim.
 

H. Pelaksanaan Ketatausahaan dan Kerumahtanggaan KUA

45. Layanan persuratan.
46. Layanan kearsipan. 

I. Fungsi lain Berdasarkan Penugasan Menteri

47. Layanan deteksi dan cegah dini konflik sosial berdimensi keagamaan.
48. Layanan jaminan produk halal.

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 21 Agustus 2026

Keren, Penyuluh Agama Jadi Pilot Drone Pertanian, Dorong untuk Tingkatkan Produktivitas Petani

Zamroni Irham, saat belajar mengoperasikan drone pertanian bersama UPJA Tinggar Jaya, Desa Kalitinggar, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, di area persawahan setempat, Ahad (16/8/2026) lalu. (Foto: tangkapan layar)

Purbalingga – Hobi di bidang pertanian dan peternakan mendorong Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Zamroni Irham, untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Salah satunya dengan belajar mengoperasikan drone pertanian bersama UPJA Tinggar Jaya, Desa Kalitinggar, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, di area persawahan setempat, Ahad (16/8/2026).

Bagi Zamroni, belajar teknologi pertanian menjadi pengalaman berharga sekaligus bentuk kepeduliannya terhadap perkembangan dunia pertanian. Dalam praktiknya, ia belajar mengoperasikan drone untuk melakukan aplikasi bahan pertanian, khususnya pemupukan dan penyemprotan pada tanaman padi.

Bahan yang digunakan dalam kegiatan budidaya antara lain Pupuk Organik Cair (POC) Biometa, PGPR, AB Mix, booster tanaman, dan Nitrobacter, yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman serta teknik dan formulasi aplikasi. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Zamroni%20Irham

Zamroni menjelaskan, pengoperasian drone pertanian tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan keterampilan, keahlian, pemahaman teknis, serta perhatian terhadap aspek keselamatan dan ketentuan yang berlaku.

“Drone pertanian tidak bisa dioperasikan sembarang orang. Ada keterampilan dan keahlian yang harus dimiliki, sehingga operator perlu memahami teknis pengoperasian, keselamatan, dan ketentuan yang berlaku,” jelas Zamroni.

Menurutnya, pemanfaatan drone dalam kegiatan pemupukan dan penyemprotan memberikan sejumlah keuntungan bagi petani karena mampu bekerja secara cepat, efektif, dan efisien. Teknologi tersebut dapat membantu menghemat tenaga serta mempercepat proses aplikasi bahan pertanian, khususnya pada lahan persawahan yang luas.

Dalam praktik yang dilakukan bersama UPJA Tinggar Jaya, drone dengan kapasitas tangki 20 liter digunakan untuk aplikasi pada area persawahan sekitar satu hektare dengan waktu kurang lebih satu jam.

“Dengan volume 20 liter, berdasarkan praktik yang kami lakukan, drone ini mampu melakukan aplikasi pada sekitar satu hektare sawah dalam waktu kurang lebih satu jam. Ini menjadi salah satu teknologi yang efektif dan efisien untuk membantu petani,” ungkapnya.

Bagi Zamroni, pengalaman tersebut bukan sekadar menyalurkan hobi di bidang pertanian, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami secara langsung perkembangan teknologi yang digunakan masyarakat. 

Ia melihat bahwa kemajuan teknologi pertanian dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu petani meningkatkan efisiensi kerja dan mendukung produktivitas pertanian.

Kegiatan belajar bersama UPJA Tinggar Jaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penyuluh agama dapat hadir dan berinteraksi dengan masyarakat melalui berbagai bidang kehidupan. 

Dengan semangat belajar dan kolaborasi lintas bidang, penyuluh agama tidak hanya menjalankan peran kepenyuluhan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari masyarakat yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Satu Semangat dalam Meneladani Rasulullah, Merawat Generasi Qur’ani dan Mengisi Kemerdekaan

Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, Milad ke-36 TPQ Nurul Iman, dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia TPQ Nurul Iman Penaruban di Musala Al Haq, Kamis (20/8/2026) kemarin.(Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga- PAI KUA Kalimanah Imam Edi Siswanto mengajak jamaah menjadikan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, Milad ke-36 TPQ Nurul Iman, dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai tiga momentum yang memiliki satu semangat, yakni membangun manusia yang beriman, berakhlak, berilmu, dan bermanfaat.

Demikian disampaikanya pada kegiatan di TPQ Nurul Iman Penaruban di Musala Al Haq, Kamis (20/8/2026) kemarin. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Imam%20Edi%20Siswanto

Menurutnya, Rasulullah ﷺ menjadi teladan dalam membangun umat melalui iman dan akhlak, TPQ berperan menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada generasi, sementara kemerdekaan merupakan hasil perjuangan yang harus diisi dengan pembangunan dan kebaikan.

Mengutip firman Allah SWT, لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ — “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian” (QS. Al-Ahzab: 21), ia menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus diwujudkan dalam akhlak.

Peringatan Maulid tidak cukup hanya dengan kegiatan seremonial, tetapi hendaknya menjadi momentum untuk memperbaiki perilaku, menjaga lisan, memperkuat hubungan keluarga, menyayangi sesama, dan meneladani kesabaran serta kasih sayang Rasulullah ﷺ.

Sementara itu, Milad ke-36 TPQ Nurul Iman dipandang sebagai perjalanan panjang dalam menanamkan pendidikan Al-Qur’an kepada anak-anak. Selama 36 tahun, TPQ telah menjadi bagian dari perjuangan mencetak generasi yang mengenal Al-Qur’an, belajar shalat, memahami doa dan akhlak. 

PAI KUA Kalimanah Imam Edi Siswanto (kanan) foto bersama ppara santri dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, Milad ke-36 TPQ Nurul Iman, dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia TPQ Nurul Iman Penaruban di Musala Al Haq, Kamis (20/8/2026) kemarin.(Foto: Imam Edi Siswanto)

Imam Edi mengingatkan bahwa pendidikan agama tidak hanya menjadi tanggung jawab TPQ dan guru, tetapi juga orang tua. Rumah adalah madrasah pertama, sehingga nilai yang diajarkan di TPQ perlu dilanjutkan melalui keteladanan orang tua di rumah.

Anak-anak perlu dibekali kemampuan menggunakan gawai dan media sosial secara bijak. Mereka harus diajarkan untuk menyaring informasi, melakukan tabayun, menjaga perkataan di media sosial, tidak melakukan perundungan digital, serta menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.

Semangat ini sejalan dengan firman Allah SWT, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا — “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya” (QS. Al-Hujurat: 6).

Dalam kaitannya dengan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Imam Edi mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan bukan hanya dengan perayaan, tetapi dengan menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, rajin belajar, menjaga persatuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi orang tua, mendidik anak dengan baik merupakan bagian dari mengisi kemerdekaan. Bagi guru TPQ, mengajarkan Al-Qur’an adalah bentuk pengabdian. Sementara bagi anak-anak, belajar dengan sungguh-sungguh, berakhlak baik, dan menghormati orang tua merupakan bentuk nyata menghargai perjuangan para pahlawan.

Menutup penyampaiannya, Imam Edi mengajak jamaah menjaga tiga warisan penting: warisan Rasulullah ﷺ berupa akhlak mulia, warisan TPQ berupa kecintaan kepada Al-Qur’an, dan warisan para pahlawan berupa kemerdekaan serta persatuan.

“Ketiganya perlu diteruskan kepada generasi berikutnya agar anak-anak tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga menjadi generasi Qur’ani, berkarakter, cinta tanah air, dan peduli terhadap sesame,” ucapnya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Kamis, 13 Agustus 2026

BRUN KUA Kalimanah Hadirkan Lima Narasumber Bekali Remaja Menuju Pernikahan

Foto bersama peserta program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah usai acara di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Kamis (13/8/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah resmi dibuka oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta ini, menjadi langkah awal dalam memberikan bekal pengetahuan dan kesiapan kepada generasi muda sebelum memasuki kehidupan pernikahan. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/08/gerak-cepat-kua-kalimanah-siapkan.html 

Kepala KUA Kalimanah, Kholidin saat membuka dan mengisi materi di acara Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah usai acara di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Kamis (13/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

BRUN tidak hanya diarahkan untuk mempersiapkan remaja dari sisi pengetahuan tentang pernikahan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa keluarga merupakan tempat tumbuhnya ketenangan, kasih sayang, tanggung jawab, dan ibadah.

Dalam arahannya, Kholidin menegaskan bahwa pernikahan hendaknya dibangun di atas iman dan cinta yang tulus karena Allah. Menurutnya, rumah tangga bukan sekadar tempat menyatukan dua orang yang saling mencintai, tetapi juga menjadi lahan ibadah dan tempat membangun generasi.

Penghulu Muda, Hasbiq Muzni saat mengisi materi di acara Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah usai acara di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Kamis (13/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

“Keluarga harus dibangun dengan dasar iman dan cinta yang tulus karena Allah. Keluarga adalah lahan ibadah. Jangan sampai menikah hanya karena cinta yang didorong hawa nafsu atau love is blind, cinta buta,” ujarnya.

Menurut Kholidin, cinta dalam pernikahan harus berkembang menjadi tanggung jawab, kesetiaan, kasih sayang, dan kesediaan untuk saling menguatkan dalam menjalani kehidupan. Karena itu, remaja perlu memiliki kesiapan yang matang, baik secara spiritual, mental, emosional, fisik, maupun sosial.

Penyuluh Agama Islam, Pujianto saat mengisi materi di acara Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah usai acara di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Kamis (13/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

“Menikah itu bukan sekadar mengikuti perasaan. Menikah adalah memasuki perjalanan ibadah yang panjang. Maka yang harus dipersiapkan bukan hanya hati untuk mencintai, tetapi juga ilmu dan mental untuk bertanggung jawab,” tambahnya.

Untuk memperkaya wawasan peserta, kegiatan BRUN KUA Kalimanah menghadirkan lima narasumber dengan materi yang saling melengkapi.

Sesi pertama disampaikan oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, dengan materi “Dasar dan Tujuan Pernikahan.” Materi ini memberikan pemahaman mengenai hakikat pernikahan, tujuan membangun rumah tangga, serta pentingnya menjadikan pernikahan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

Penyuluh Agama Islam, Azizah Dwi Purba saat mengisi materi di acara Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah usai acara di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Kamis (13/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Materi kedua disampaikan oleh Penghulu Muda KUA Kalimanah, Hasbiq Muzni, dengan tema “Konsep Keluarga Sakinah.” Peserta diajak memahami bagaimana membangun keluarga yang menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan tanggung jawab antara pasangan.

Selanjutnya, Penyuluh Agama Islam (PAI) Pujianto menyampaikan materi “Memahami Diri.” Materi ini diarahkan agar remaja mampu mengenali karakter, potensi, kekurangan, serta kebutuhan dirinya sebagai bagian penting dari kesiapan memasuki kehidupan berkeluarga.

Materi keempat disampaikan oleh PAI Azizah Dwi Purba dengan tema “Mempersiapkan Diri.” Peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai aspek yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki jenjang pernikahan, sehingga keputusan menikah tidak hanya didasarkan pada dorongan perasaan, tetapi juga pertimbangan yang matang.

Kepala Puskesmas Kalimanah Aan Isnaeni Fitrianto, S.Kep, Ns, saat mengisi materi di acara Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah usai acara di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Kamis (13/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sementara materi terakhir disampaikan oleh Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Kalimanah, yang membahas “Kesehatan Reproduksi dan penegahan Stunting.” Materi ini memberikan bekal kepada peserta mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memahami aspek kesehatan yang berkaitan dengan kehidupan pernikahan.

Melalui lima materi tersebut, BRUN KUA Kalimanah diharapkan mampu memberikan perspektif yang utuh kepada remaja bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan dari berbagai sisi.

Kholidin berharap peserta tidak hanya memahami kapan seseorang siap menikah, tetapi juga memahami untuk apa pernikahan dibangun dan bagaimana menjalaninya.

Dengan bekal iman, ilmu, pemahaman diri, kesiapan mental, kesehatan, dan konsep keluarga sakinah, generasi muda diharapkan mampu membangun rumah tangga yang bukan hanya bahagia secara duniawi, tetapi juga menjadi lahan ibadah dan jalan menuju keluarga yang diridai Allah SWT(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

#38 Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 24 - 26, Mengendalikan Hawa Nafsu dan Menjaga Ibadah dalam Segala Keadaan

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/20...