Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
2
(وَ) الْمَقَالَةُ
الثَّانِيَةُ
(عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَحِمَهُ
اللَّهُ تَعَالَى (أَرْبَعَةٌ) مِنَ
الْخِصَالِ
(حَسَنَةٌ) وَهُوَ
مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْمَدْحُ فِي الْعَاجِلِ وَالثَّوَابُ فِي الْآجِلِ
(وَلَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا
أَحْسَنُ: الْحَيَاءُ)
وَهُوَ
اِنْقِبَاضُ النَّفْسِ مِنْ شَيْءٍ حَذَرًا عَنِ اللَّوْمِ فِيهِ
(مِنَ الرِّجَالِ حَسَنٌ
وَلَكِنَّهُ مِنَ الْمَرْأَةِ أَحْسَنُ، وَالْعَدْلُ) أَيْ
التَّوَسُّطُ بَيْنَ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ (مِنْ كُلِّ أَحَدٍ حَسَنٌ
وَلَكِنَّهُ مِنَ الْأُمَرَاءِ)
أَيْ
ذَوِي الْوِلَايَةِ (أَحْسَنُ، وَالتَّوْبَةُ) أَيْ
الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِحَلِّ عُقْدَةِ الْإِصْرَارِ عَنِ الْقَلْبِ
ثُمَّ الْقِيَامِ بِكُلِّ حَقٍّ لِلَّهِ تَعَالَى (مِنَ الشَّيْخِ حَسَنَةٌ
وَلَكِنَّهَا مِنْ الشَّابِّ أَحْسَنُ، وَالْجُودُ)
أَيْ
إفَادَةُ مَا يَنْبَغِي لَا لِعِوَضٍ (مِنَ الْأَغْنِيَاءِ حَسَنٌ
وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ أَحْسَنُ).
Maqolah
yang ke
dua
(Dari sebagian orang-orang yang bijaksana)
Rahimahullah
(Empat) dari
perkara
(Yang baik) Yaitu
perkara
yang berhubungan
dengan
perkara
itu
pujian
di dunia dan pahala
di akhirat
(Akan tetapi empat dari kebaikan itu lebih baik: Malu) Malu
adalah
mengkerutnya
diri
dari
suatu
perkara
karena
menghindari
dari
celaan
sebab
perkara
itu
(Dari kaum laki-laki itu baik akan tetapi malu dari kaum perempuan itu lebih baik, dan adil) Maksudnya
tengah-tengah
antara
berlebihan
dan lalai
(Dari setiap orang itu baik akan tetapi adil dari para pemimpin) Maksudnya
yang mempunyai
wilayah (Itu lebih baik, dan taubat) Maksudnya
kembali
kepada
Allah Ta'ala
dengan
cara
melepas
ikatan
desakan
keinginan
dari
hati
kemudian
mendirikan
atas
setiap
hak
kepada
Allah Ta'ala
(Dari orang tua itu bagus akan tetapi taubat dari
pemuda itu lebih baik,
dan dermawan)
Maksudnya
memberikan
faedah
pada perkara
yang penting
bukan
karena
ingin
balasan
(Dari orang kaya itu baik akan tetapi dermawan dari
orang faqir itu lebih baik).
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
3
(وَ) الْمَقَالَةُ
الثَّالِثَةُ
(عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ (أَرْبَعَةٌ قَبِيحَةٌ) وَهُوَ
مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الذَّمُّ فِي الْعَاجِلِ وَالْعِقَابُ فِي الْآجِلِ
(لَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا
أَقْبَحُ: الذَّنْبُ) أَيْ
الْإِثْمُ
(مِنَ الشَّابِّ قَبِيحٌ وَمِنَ
الشَّيْخِ أَقْبَحُ، وَالْاِشْتِغَالُ بِالدُّنْيَا)
أَيْ
بِأَمْتِعَتِهَا (مِنَ الْجَاهِلِ قَبِيحٌ وَمِنَ
الْعَالِمِ أَقْبَحُ)
كَمَا
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ
قَالَ:
[مَنِ
ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ فِى الدُّنْيَا زُهْدًا لَمْ يَزْدَدْ مِنَ
اللَّهِ تَعَالَى إِلَّا بُعْدًا]
رَوَاهُ
الدَّيْلَمِيُّ.
Maqolah
yang ke
tiga
(Dari sebagian orang-orang yang bijaksana)
Radhiallahu
Anhum
(Empat perkara yang jelek) Yaitu
perkara
yang berhubungan
dengannya
celaan
di dunia dan siksa
di akhirat
(Akan tetapi empat dari perkara itu lebih jelek: Dosa) Maksudnya
dosa
(Dari pemuda itu jelek
dan dosa dari
orang yang sudah tua itu lebih jelek,
dan sibuk dengan
dunia)
Maksudnya
dengan
berbagai
kesenangan
dunia (Dari orang bodoh itu jelek
dan sibuk dengan
dunia dari
orang yang alim itu lebih jelek) Sebagaimana
telah
diriwayatkan
sesungguhnya
Nabi ﷺ
telah
bersabda:
[Barang
siapa
yang bertambah
ilmunya
dan tidak
bertambah
di dunia zuhudnya
maka
tidak
akan
bertambah
dari
Allah kecuali
semakin
menjauh]
Telah meriwayatkan
Imam Ad-Dailami.
(وَالتَّكَاسُلُ
فِي الطَّاعَةِ)
أَيْ
مُوَافَقَةِ أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى (مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ قَبِيحٌ
وَمِنَ الْعُلَمَاءِ وَالطَّلَبَةِ)
أَيْ
الَّذِينَ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ (أَقْبَحُ، وَالتَّكَبُّرُ مِنَ
الْأَغْنِيَاءِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْفُقَرَاءِ أَقْبَحُ).
(Dan
malas dalam keta'atan)
Maksudnya
taat
adalah
bersesuaian
dengan
perintah
Allah (Dari semua manusia itu jelek dan malas dalam keta'atan dari ulama dan santri)
Maksudnya
orang-orang yang mencari
ilmu
(Itu lebih jelek, dan sombong dari orang kaya itu jelek
dan sombong dari
orang faqir itu lebih jelek).
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
4
(وَ) الْمَقَالَةُ
الرَّابِعَةُ
(قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
[الْكَوَاكِبُ
أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ فَإِذَا انْتَثَرَتْ)
أَيْ
تَفَرَّقَتْ الْكَوَاكِبُ (كَانَ الْقَضَاءُ) أَيْ
الْحُكْمُ الْإِلَهِيُّ (عَلَى أَهْلِ السَّمَاءِ) مِنَ
الِانْفِطَارِ وَالطَّيِّ وَمَوْتِ الْمَلَائِكَةِ فِيهَا
(وَأَهْلُ بَيْتِي) أَيْ
ذُرِّيَّتِي
(أَمَانٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا زَالَ
أَهْلُ بَيْتِي كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أُمَّتِي)
مِنْ
ظُهُورِ الْبِدَعِ وَغَلَبَةِ الْأَهْوَاءِ وَاخْتِلَافِ الْعَقَائِدِ وَظُهُورِ
الرُّومِ وَغَيْرِهَا (وَأَنَا أَمَانٌ لِأَصْحَابِي
فَإِذَا ذَهَبْتُ)
أَيْ
مِتُّ
(كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى
اَصْحَابِيْ) مِنَ
الْفِتَنِ وَالْحُرُوبِ وَارْتِدَادِ مَنِ ارْتَدَّ وَاخْتِلَافِ الْقُلُوبِ
(وَالْجِبَالُ أَمَانٌ لِأَهْلِ
الْأَرْضِ فَإِذَا ذَهَبَتْ)
أَيْ
الْجِبَالُ
(كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أَهْلِ
الْأَرْضِ]).
Maqolah
yang ke
empat
(Telah bersabda
Nabi ﷺ : [Bintang-bintang adalah pengaman untuk penduduk langit maka ketika menyebar)
Maksudnya
berpisah
bintang-bintang
(Maka pasti terjadi qodho) Maksudnya
hukum
ketuhanan
(Kepada penduduk langit) Nyatanya
terpecah
dan tergulung
dan matinya
para malaikat
di langit
(Dan ahlul baitku) Maksudnya
keturunanku
(Adalah pengaman untuk umatku maka ketika hilang ahli baitku maka pasti terjadi qodho kepada umatku) Nyatanya
munculnya
bid'ah
dan menangnya
hawa
nafsu
berbeda
bedanya
aliran
aqidah
munculnya
kaum
romawi
dan selainnya
(Dan aku adalah pengaman untuk sahabat-sahabatku maka ketika aku pergi) Maksudnya
aku
mati
(Maka pasti terjadi qodho kepada sahabat-sahabatku) Nyatanya
berbagai
fitnah dan peperangan
dan murtadnya
orang-orang murtad dan bercerai
berainya
hati
(Dan gunung adalah pengaman untuk penduduk bumi maka ketika hilang) Maksudnya
gunung-gunung
(Maka pasti terjadi qodho kepada penduduk bumi]).
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
5
(وَ) الْمَقَالَةُ
الْخَامِسَةُ
(عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ) رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ
الْخِصَالِ
(تَمَامُهَا بِأَرْبَعَةٍ) مِنَ
الْأُمُورِ
(تَمَامُ الصَّلَاةِ بِسَجْدَتَيْ
السَّهْوِ) حِينَ
وُجُودِ سَبَبِ السُّجُودِ كَنَقْلِ الْقَوْلِيِّ عَنْ مَحَلِّهِ، وَذَلِكَ إِمَّا
أَنْ يَكُونَ الْمَنْقُولُ رُكْنًا أَوْ بَعْضًا أَوْ هَيْئَةً، فَالرُّكْنُ
يَسْجُدُ لِنَقْلِهِ مُطْلَقًاً، وَالْبَعْضُ إِنْ كَانَ تَشَهُّدًا أَوَّلً
كَذَلِكَ، أَمَّا الْقُنُوتُ فَإِنْ نَقَلَهُ بِقَصْدِهِ سَجَدَ أَوْ بِقَصْدِ
الذِّكْرِ فَلَا، وَالْهَيْئَةُ لَا يَسْجُدُ لِنَقْلِهَا إِلَّا السُّورَةَ كَذَا
أَفَادَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ.
Maqolah
yang ke
lima (Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq)
Radhiallahu
Anhu
(Sesungguhnya ia berkata: Empat) Perkara
(Yang akan sempurna empat perkara itu dengan empat) Perkara
(Sempurnanya sholat dengan dua sujud sahwi)
Ketika ada
sebab
sujud sahwi
seperti
berpindahnya
rukun
qouli
dari
tempatnya,
dan itu
ada
kalanya
bacaan
yang dipindah
berupa
rukun
atau
berupa
sunnah ab'ad
atau
berupa
sunnah hai'ah.
Maka
memindah
rukun
itu
orang yang memindah
rukun
harus
sujud karena
memindah
rukun
qouli
secara
mutlak.
Dan sunnah Ab'ad
jika
terbukti
berupa
tasyahud
awal
maka
demikian
pula. Adapun qunut
jika
orang yang sholat
memindahkan
qunut
dengan
maksud
qunut
maka
ia
sujud sahwi
atau
dengan
maksud
dzikir
maka
ia
tidak
perlu
sujud sahwi.
Dan sunnah hai'at
orang yang sholat
tidak
perlu
sujud sahwi
karena
memindah
sunnah hai'at
kecuali
bacaan
surat
demikian
telah
memberi
faedah
syaikhuna
Ahmad An-Nahrawi.
(وَ) تَمَامُ
(الصَّوْمِ) أَيْ
صَوْمِ رَمَضَانَ (بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ) قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى
الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾
[الْبَقَرَةُ: الْآيَةَ
١٨٤] وَالضَّمِيرُ
فِي يُطِيقُونَهُ رَاجِعٌ لِلْفِدْيَةِ لِأَنَّهُ مُتَقَدِّمٌ رُتْبَةً.
وَالْمَعْنَى: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَ الْفِدْيَةَ هُوَ طَعَامُ مِسْكِينٍ
وَالْمُرَادُ مِنَ الطَّعَامِ صَدَقَةُ الْفِطْرِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى ذَكَرَ
هَذِهِ الْآيَةَ عَقِبَ الْأَمْرِ بِالصِّيَامِ كَمَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى
بِتَكْبِيرَاتِ الْعِيدِ عَقِبَ الْآيَةِ الثَّانِيَةِ كَمَا فِي فَتْحِ
الْخَبِيرِ.
(Dan)
sempurnanya
(puasa) Maksudnya
puasa
Ramadhan (Itu dengan zakat Fitrah)
Telah berfirman
Allah Ta'ala:
﴾Dan
wajib
kepada
orang orang
yang berat
menjalankan
puasa
Ramadhan membayar
fidyah
yaitu
memberi
makan
orang miskin﴿ [Al-Baqoroh:
Ayat 184]. Dhomir
pada lafadz
يُطِيقُونَهُ
itu
kembali
kepada
lafadz
فِدْيَةٌ
karena
sesungguhnya
dhomir
itu
didahulukan
pada urutannya.
Ma'nanya
: Dan wajib
atas
orang orang
yang mampu
membayar
fidyah
yaitu
memberi
makan
orang miskin. Yang dimaksud
dari
memberi
makan
adalah
zakat fitrah karena
sesungguhnya
Allah Taala
itu
berfirman
pada ayat
ini
sesudah
perintah
puasa
Ramadhan sebagaimana
Allah Ta'ala
telah
memerintah
untuk
membaca
takbir di malam
idul
fitri
sesudah
ayat
yang kedua
sebagaimana
dalam
kitab Fathul
Khobir.
(وَ) تَمَامُ
(الْحَجِّ بِالْفِدْيَةِ) وَهِيَ
إِمَّا ذَبْحُ النَّعَمِ أَوِ الْأَمْدَادِ إِذَا وُجِدَ سَبَبُهَا الَّذِي
يُوجِبُهَا أَوْ يَسُنُّهَا أَوْ لَمْ يُوجَدْ بَلْ فَعَلَ الْفِدْيَةَ
لِلِاحْتِيَاطِ (وَ)
تَمَامُ
(الْإِيمَانِ بِالْجِهَادِ) أَيْ
بِالدُّعَاءِ إِلَى الدِّينِ الْحَقِّ كَمَا قَالَهُ السَّيِّدُ عَلِيُّ
الْجُرْجَانِيُّ فِي التَّعْرِيفَاتِ.
(Dan)
Sempurnanya
(Haji itu dengan membayar fidyah) Fidyah
itu
adakalanya
menyembelih
binatang
ternak
atau
membayar
mud ketika
ditemukan
sebabnya
fidyah
yang mewajibkan
membayar
fidyah
atau
yang mensunnahkan
fidyah
atau
tidak
ditemukan
akan
tetapi
ia
melaksanakan
fidyah
karena
kehati-hatian
(Dan) Sempurnanya
(Iman itu dengan jihad) Maksudnya
dengan
mengajak
pada agama yang benar
sebagaimana
telah
berkata
atas
keterangan
itu
Sayyid Ali Al-Jurzani
dalam
kitab At-Ta'rifat.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 6
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) حَفِيدِ الْقَاضِي نُوحٍ الْمِرْوَزِيِّ (مَنْ صَلَّى كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً)
وَهِيَ رَكْعَتَانِ قَبْلَ صُبْحٍ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ ظُهْرٍ
وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَأَرْبَعُ رَکعَاتٍ قَبْلَ عَصْرٍ وَرَکعَتَانِ
بَعْدَ مَغْرِبٍ (فَقَدْ أَدَّی حَقَّ الصَّلَاةِ) لِقَوْلِهِ ﷺ: [رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا] وَكَانَ ﷺ يُصَلِّي قَبْلَهَا أَرْبَعًا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيْمِ، وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْعَصْرِ حَرَّمَ اللَّهُ بَدَنَهُ عَلَى النَّارِ].
Maqolah yang ke enam (Dari Abdullah bin Mubarok) Cucu seorang Qodhi Nuh Al-Mirwazi (Barang siapa melaksanakan sholat setiap hari dua belas rokaat)
Yaitu dua roka'at sebelum sholat Subuh dan dua rokaat sebelum sholat
Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan empat rokaat sebelum sholat Ashar
dan dua rokaat sesudah sholat Magrib (Maka sungguh ia telah menunaikan haknya sholat) Karena sabda Nabi ﷺ: [Semoga Allah merahmati kepada orang yang melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat]
Dan ada Nabi ﷺ melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat
yang ia pisah antara empat rokaat dengan salam. Dan riwayat milik Imam
Thabrani: [Barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sebelum sholat Ashar maka Allah mengharamkan pada badannya masuk neraka].
وَنَقَلَ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيدِيُّ مِنَ الدِّمْيَاطِيِّ فِي الْمَتْجَرِ الرَّابِحِ مِنْ خَبَرِ مُسْلِمٍ: [مَا
مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي لِلَّهِ تَعَالَى فِي كُلِّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ
عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ
بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ] زَادَ التِّرْمِذِيُّ أَرْبَعًا قَبْلَ
الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ
وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ
الْغَدَاةِ.
Dan telah menukil Syaikh Kholil Ar-Rasyidi dari Syaikh Dimyati di dalam kitab Matjari Robih dari hadits riwayat Imam Muslim [Tidaklah
seorang hamba sholat karena Allah Ta'ala di setiap hari dua belas
rokaat dengan suka rela selain sholat fardhu kecuali pasti Allah akan
membangun untuknya rumah di surga] Telah menambah Imam Tirmidzi
empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan dua
rokaat sesudah sholat Magrib dan empat rokaat sesudah sholat Isya dan
dua rokaat sebelum sholat Subuh.
وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ
صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ بِهِنَّ
مِنْ لَيْلَتِهِ، وَمَنْ صَلَّاهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَمِثْلِهِنَّ
مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ].
Dan riwayat milik Imam Thobroni: [Barang siapa sholat sebelum sohlat Dzuhur empat rokaat maka seakan akan ia sholat Tahajjud dengan empat rokaat itu
di waktu malamnya, dan barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat
sesudah sholat Isya Maka seperti seumpama shola empat rokaat di malam
lailatul Qodar].
وَمِنْ ثَمَّ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ:
لَيْسَ شَيْءٌ يَعْدِلُ صَلَاةَ اللَّيْلِ مِنْ صَلَاةِ النَّهَارِ إِلَّا
أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَفَضْلُهُنَّ عَلَى صَلَاةِ النَّهَارِ
كَفَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْوَاحِدِ. وَكَانَ ﷺ
يُصَلِّيهِنَّ وَيُطِيلُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَيَقُولُ: [إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ].
Dan
dari sanalah berkata Ibnu Mas'ud: Tidak ada sesuatu yang bisa
menandingi sholat malam dari sholat siang kecuali empat rokaat sebelum
sholat Dzuhur. Keutamaan empat rokaat sebelum sholat Dzuhur di atas
sholat siang itu seperti keutamaan sholat berjamaah di atas sholat
sendirian. Dan ada Nabi ﷺ Sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan
ia memanjangkan di dalam sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur itu
rukuk dan sujud dan ia bersabda: [Sesungguhnya waktu sholat qobliah
Dzuhur adalah waktu dibuka di dalamnya pintu-pintu langit maka aku suka
supaya naik untuk ku pada waktu itu amal yang sholeh].
(وَمَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ)
وَهِيَ الْأَيَّامُ الْبِيضُ وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَتَالِيَاهُ
إِلَّا فِي الْحِجَّةِ يَصُومُ السَّادِسَ عَشَرَ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ
بَدَلَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَحِكْمَةُ كَوْنِهَا ثَلَاثَةً أَنَّ
الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصَوْمُهَا كَصَوْمِ الشَّهْرِ كُلِّهِ
وَلِذَلِكَ يَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ بِصَوْمِ ثَلَاثَةٍ مِنْ أَيِّ
أَيَّامِ الشَّهْرِ، كَذَا فِي التُّحْفَةِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصِّيَامِ، وَمَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ آيَةٍ فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الْقِرَاءَةِ)
وَقِرَاءَةُ الْمُنْجِّيَاتِ السَّبْعَةِ أَوْلَى وَهِيَ: آلم تَنْزِيل،
وَيس، وَفُصِّلَتْ، وَالدُّخَانُ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْحَشْرُ،
وَالْمُلْكُ، وَأَنْ يَقْرَأَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى أَوَائِلَ
الْحَدِيدِ وَخَوَاتِمَ الْحَشْرِ وَالْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ
ثَلَاثًاً ثَلَاثًاً (وَمَنْ تَصَدَّقَ فِي جُمْعَةٍ بِدِرْهَمٍ) أَوْ بِمَا يُسَاوِيهِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصَّدَقَةِ).
(Dan barang siapa yang berpuasa dari setiap bulan tiga hari)
Yaitu hari hari yang terang yaitu tanggal tiga belas dan dua hari yang
mengiringinya kecuali pada bulan Dzul Hijjah maka berpuasa di tanggal
enam belas atau satu hari sesudah tanggal enam belas sebagai ganti
tanggal tiga belas. Hikmah adanya puasa tiga hari adalah sesungguhnya
satu kebaikan itu diganti sepuluh kali lipat yang serupa dengannya maka
berpuasa tiga hari itu seperti puasa satu bulan seluruhnya dan karena
itu hasil asal sunnah dengan puasa tiga hari dari hari-hari manapun dari
satu bulan. Demikian dalam kitab Tuhfah (Maka
sungguh ia telah menunaikan pada haknya puasa, Dan barang siapa membaca
setiap hari seratus ayat maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya
bacaan quran) Membaca surat Al-Munjiat yang tujuh itu lebih
utama yaitu: Surat As-Sajdah, dan surat yasin dan surat fusilat dan
surat Ad-Dukhon dan surat Al-Waqi'ah dan surat Al-Hasyr dan Surat
Al-Mulk. Dan membaca ketika waktu subuh dan ketika waktu sore awal-awal
surat Al-Hadid dan akhir surat Al-Hasr dan surat Al-Ikhlas dan Surat
Al-Falaq dan surat An-Nas tiga kali tiga kali (Dan barang siapa bersedekah dengan satu dirham) Atau dengan perkara yang setara dengan satu dirham (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya sedekah).
Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-4/
Editor: Imam Edi Siswanto