Rabu, 21 Oktober 2026

Kholidin: Resapi Nasihat Ulama, Perkuat Komitmen Pelayanan dan Sukseskan Hari Santri Nasional

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin (kiri), saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Rabu (21/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Usai mengikuti kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad, jajaran pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melanjutkan kegiatan dengan rapat internal yang dipimpin Kepala KUA Kalimanah, Kholidin. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus meningkatkan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, Rabu (21/10/2026).

Dalam arahannya, Kholidin menekankan pentingnya tidak sekadar membaca dan memahami pesan-pesan yang disampaikan para ulama dalam Kitab Nashoihul Ibad, tetapi juga meresapi serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pelaksanaan tugas kedinasan.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/10/44-mengenali-penyakit-hati-dan.html

Menurutnya, nasihat para ulama hendaknya menjadi pedoman dalam membentuk karakter, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kualitas pengabdian. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan keikhlasan dalam menjalankan amanah sebagai aparatur negara atau lima budaya kerja ASN Kemenag, yakni Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab, Keteladanan.

“Ilmu yang kita pelajari hendaknya tidak berhenti pada pemahaman, tetapi harus tercermin dalam perilaku dan pelaksanaan tugas sehari-hari. Pelayanan kepada masyarakat juga merupakan bagian dari pengabdian yang harus dilandasi keikhlasan, tanggung jawab, dan niat untuk meraih rida Allah SWT,” tegas Kholidin.

Spanduk Hari Santri Nasional tahun 2026 terpasang di halaman KUA Kalimanah, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Rabu (21/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Ia juga mengingatkan bahwa kualitas pelayanan publik tidak hanya diukur dari terselesaikannya urusan administrasi, tetapi juga dari sikap, keramahan, kepedulian, dan kesungguhan pegawai dalam membantu masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai spiritual yang diperoleh melalui kajian keagamaan dapat berjalan selaras dengan peningkatan profesionalisme dan integritas dalam bekerja.

Selain membahas penguatan kinerja dan pelayanan, rapat tersebut juga menyoroti persiapan peringatan Hari Santri Nasional (HSN). Kholidin mengajak seluruh jajaran KUA Kalimanah untuk berpartisipasi aktif dan menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan.

Beberapa kegiatan yang menjadi perhatian antara lain khotmil Qur’an, upacara peringatan Hari Santri Nasional, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya. Seluruh pegawai diharapkan dapat berkoordinasi dan bekerja sama agar setiap agenda terlaksana dengan tertib, lancar, dan penuh makna.

Flyer ucapan HSN tahun 2026

Kholidin menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk meneladani perjuangan, keikhlasan, kedisiplinan, dan kecintaan para santri terhadap agama serta bangsa.

Melalui perpaduan kajian kitab dan rapat koordinasi tersebut, KUA Kalimanah berupaya membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian target kedinasan, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai religius. Harapannya, semangat menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas pelayanan dapat terus tumbuh seiring dengan komitmen menyukseskan peringatan Hari Santri Nasional.

Dengan demikian, kegiatan keagamaan dan koordinasi kedinasan menjadi dua hal yang saling menguatkan dalam mewujudkan aparatur yang berintegritas, pelayanan yang semakin berkualitas, serta pengabdian yang membawa manfaat bagi masyarakat dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

#44 Mengenali Penyakit Hati dan Meneladani Kemuliaan Rasulullah

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kiri depan), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 44, Rabu (21/10/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada mengenali penyakit hati dan meneladani kemuliaan rasulullah SAW .

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-44 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto dan dijelaskan oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor di ruang kantor setempat, Rabu (21/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 5: Tanda Takwa, Penyakit Hati, dan Kemuliaan Rasulullah ﷺ 

1. Lima Tanda Orang Bertakwa (Maqolah 6 – dari Utsman r.a.)
Orang yang bertakwa memiliki lima ciri utama:

  1. Memilih teman yang saleh, yaitu orang yang membantu meningkatkan keimanan serta menjaga lisan dan kehormatan diri.
  2. Tidak terlena oleh dunia, karena kenikmatan dunia yang berlebihan dapat membawa akibat buruk bagi kehidupan akhirat.
  3. Menghargai amal agama sekecil apa pun, karena kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas merupakan keuntungan besar di sisi Allah SWT.
  4. Berhati-hati terhadap makanan dan harta, memastikan kehalalannya serta menghindari perkara yang haram.
  5. Tidak merasa paling baik, senantiasa mengoreksi diri dan khawatir terhadap dosa, tanpa merendahkan orang lain.

Inti pelajaran: Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan tercermin dalam pergaulan, pengendalian diri, cara mencari rezeki, dan sikap rendah hati. 

Kepala KUA Kalimanah, Kholidin (dua dari Kanan), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 44, Rabu (21/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

2. Lima Sifat yang Menghalangi Kesalehan (Maqolah 7 – dari Ali r.a.)
Maqolah ini mengingatkan tentang sifat-sifat tercela yang dapat menghambat seseorang menjadi pribadi saleh, yaitu: 

  1. Merasa cukup dengan kebodohan agama, sehingga tidak mau belajar dan memperbaiki diri.
  2. Terlalu mencintai dunia, hingga melupakan kehidupan akhirat.
  3. Kikir terhadap kelebihan harta, padahal sebagian rezeki dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama.
  4. Riya dalam beramal, yaitu melakukan kebaikan demi pujian manusia, bukan semata-mata karena Allah SWT.
  5. Membanggakan pendapat sendiri, merasa paling benar dan enggan menerima nasihat.

Inti pelajaran: Kesalehan membutuhkan ilmu, sikap zuhud yang seimbang, kemurahan hati, keikhlasan, dan kerendahan hati.

3. Lima Kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ (Maqolah 8 – dari jumhur ulama)
Menurut uraian dalam kitab tersebut, Allah SWT memberikan lima bentuk kemuliaan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu:

  1. Kemuliaan dalam panggilan: Nabi Muhammad ﷺ disebut dengan gelar Rasul dalam ayat yang dibahas.
  2. Kemuliaan fisik: Disebutkan sejumlah peristiwa yang menunjukkan pertolongan Allah kepada beliau.
  3. Kemuliaan pemberian: Allah memberikan karunia kepada beliau, di antaranya Al-Kautsar, sebagaimana QS. Al-Kautsar ayat 1.
  4. Kemuliaan dalam ampunan: QS. At-Taubah ayat 43 menyebutkan bahwa Allah telah memaafkan beliau.
  5. Kemuliaan berupa keridaan dan perhatian kepada umat: Uraian maqolah ini menyoroti kepedulian Nabi ﷺ terhadap umatnyaInti pelajaran: Umat Islam hendaknya semakin mencintai Rasulullah ﷺ, meneladani akhlaknya, dan mengikuti ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan
Ketiga maqolah dalam Nashoihul Ibad ini mengajarkan bahwa jalan menuju ketakwaan dimulai dari memperbaiki diri, menjauhi penyakit hati, dan meneladani Rasulullah ﷺ. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lalai belajar agama, enggan berbagi, beramal demi pujian, atau merasa lebih baik daripada orang lain.

Mari memperbanyak amal saleh dengan ikhlas, menjaga lisan, mencari rezeki yang halal, serta membiasakan diri melakukan introspeksi. Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi hamba yang bertakwa dan memperoleh husnul khatimah. آمِينَ. 

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 44, Rabu (21/10/2026). (Foto: Pujianto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 6

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: خَمْسٌ هُنَّ عَلَامَةُ الْمُتَّقِينَ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَنْ يَبْلُغَ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ الْبَأْسُ] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. (أَوَّلُهَا: أَنْ لَا يُجَالِسَ إِلَّا مَنْ يُصْلِحُ الدِّينَ مَعَهُ وَيَغْلِبُ الْفَرْجَ وَاللِّسَانَ) بِأَنْ يَمْنَعَهُمَا عَنْ فُضُولِ الْجِمَاعِ وَالْكَلَامِ. (وَ) ثَانِيهَا (إِذَا أَصَابَهُ شَيْءٌ عَظِيمٌ مِنَ الدُّنْيَا يَرَاهُ وَبَالًا) أَيْ شِدَّةً لِسُوءِ الْعَاقِبَةِ. (وَ) ثَالِثُهَا (إِذَا أَصَابَهُ شَيْءٌ قَلِيلٌ مِنَ الدِّينِ اِغْتَنَمَ ذَلِكَ) أَيْ اعْتَقَدَ أَنَّ ذَلِكَ رِبْحٌ عَظِيمٌ. (وَ) رَابِعُهَا (لَا يَمْلَأُ بَطْنَهُ مِنَ الْحَلَالِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يُخَالِطَهُ حَرَامٌ) كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ. (وَ) خَامِسُھَا (یَرَی النَّاسَ کُلَّهُمْ قَدْ نَجَوْا) أَيْ خَلَصُوا مِنَ الْهَلَاكِ لِحَسَنِ مُعَامَلَتِهِمْ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى (وَيَرَى نَفْسَهُ قَدْ هَلَكَتْ) أَيْ بِالذَّنْبِ لِسُوءِ مُعَامَلَتِهِ مَعَ اللَّهِ تَعَالَی.

Maqolah yang ke enam (Dari Utsman Radhiallahu Anhu: Lima perkara ini adalah tanda-tanda dari orang-orang yang bertakwa) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidak akan sampai seorang ada dari golongan orang-orang yang bertakwa sehingga ia meninggalkan perkara yang tidak ada larangan atasnya karena khawatir dari perkara yang padanya ada larangan] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Tirmidzi dan Imam Hakim. (Yang pertama dari tanda-tanda orang yang bertakwa: Adalah ia tidak duduk kecuali dengan orang yang bisa memperbaiki agama bersamanya dan orang yang bisa mengendalikan kemaluan dan lisan) Dengan cara menahan kemaluan dan lisan dari berlebihan berjima dan berlebihan berbicara. Dan yang kedua dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah ketika menimpa kepadanya suatu perkara yang besar dari dunia maka ia memandang perkara besar itu sebagai musibah) Maksudnya sebagai ujian berat karena buruk akibatnya. Dan yang ketiga dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah ketika menimpa kepadanya suatu perkara yang sedikit dari agama, maka dia menganggap untung besar perkara itu) Maksudnya dia beritidak sesungguhnya perkara yang kecil dari agama itu adalah keuntungan yang besar. Dan yang keempat dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah dia tidak memenuhi perutnya dari perkara yang halal karena khawatir dari mencampurnya pada perkara itu perkara yang haram) sebagai mana dalam hadits yang sebelumnya. Dan yang kelima dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah dia melihat manusia semuanya pasti selamat) Maksudnya mereka selamat dari kehancuran karena baiknya mu'amalah mereka dengan Allah Ta'ala, (Sementara dia memandang dirinya pasti celaka) Maksudnya dengan dosa karena buruknya mu'amalah dirinya dengan Allah Ta'ala.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 7 

 (وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ) وَکرَّمَ وَجْهَهُ (لَوْلَا خَمْسُ خِصَالٍ) أَيْ صِفَاتٍ مَذْمُومَةٍ (لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِينَ) أَيْ خَالِصِينَ مِنْ كُلِّ فَسَادٍ (أَوَّلُهَا الْقَنَاعَةُ) أَيْ الرِّضَا (بِالْجَهْلِ) أَيْ بِعَدَمِ الْعِلْمِ بِالدِّينِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَللَّهُ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [ذَنْبُ الْعَالِمِ ذَنْبٌ وَاحِدٌ وَذَنْبٌ الْجَاهِلِ ذَنْبَانِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِىُّ (وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا) رُوِيَ أَنَّهُ لَا قَالَ: [الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ وَالرَّغْبَةُ فِيهَا تُتْعِبُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.

Maqolah yang ke tujuh (Dari Ali Radhiallahu Ta'ala Anhu) Wakarrama Wajhahu (Andai tidak ada lima perkara) Maksudnya sifat-sifat yang tercela (Maka pasti akan jadi manusia seluruhnya termasuk orang-orang sholeh) Maksudnya orang-orang yang selamat dari setiap kerusakan (Yang pertama dari sifat-sifat yang tercela adalah merasa cukup) Maksudnya ridho (Dengan kebodohan) Maksudnya dengan tidak adanya ilmu tentang agama. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Allah benci kepada setiap orang yang alim tentang dunia bodoh tentang akhirat] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Dosanya orang alim itu satu dosa dan dosa orang bodoh itu dua dosa] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami (Dan serakah atas dunia) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Zuhud di dalam dunia itu bisa menenangkan hati dan badan dan senang pada dunia itu melelahkan hati dan badan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [نِعْمَتِ الدَّارُ الدُّنْيَا لِمَنْ تَزَوَّدَ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ حَتَّى يُرْضِيَ رَبَّهُ، وَبِئْسَتِ الدَّارُ الدُّنْيَا لِمَنْ صَدَّتْهُ عَنْ آخِرَتِهِ وَقَصَّرَتْ بِهِ عَنْ رِضَا رَبِّهِ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Sebagus-bagusnya daerah dunia bagi orang yang menyediakan bekal dari dunia untuk akhiratnya, sehingga ia meraih keridhaan Rabbnya. Dan sejelek-jeleknya daerah dunia bagi orang yang menghalangi dunia itu kepadanya dari akhiratnya dan melalaikan dunia itu kepadanya dari keridhoan Rabbnya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim.

(وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ) أَيْ الْبُخْلُ بِمَا زَادَ عَنْ حَاجَتِهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ (وَالرِّيَاءُ فِي الْعَمَلِ) أَيْ تَرْكُ الْإِخْلَاصِ فِي الْعَمَلِ بِمُلَاحَظَةِ غَيْرِ اللَّهِ فِيهِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ يُرِي النَّاسَ أَنَّ فِيهِ خَيْرًا وَلَا خَيْرَ فِيهِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِي.

(Dan pelit dengan kelebihan harta) Maksudnya pelit dengan perkara yang melebihi dari kebutuhannya pada saat itu (Dan riya dalam beramal) Maksudnya meninggalkan ikhlas dalam beramal dengan memperhatikan selain Allah dalam beramal. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang menunjukkan kepada manusia bahwa di dalam dirinya terdapat kebaikan, padahal tidak ada kebaikan di dalam dirinya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَرَى النَّاسَ فَوْقَ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْخَشْيَةِ فَهُوَ مُنَافِقٌ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ الْجَنَّةَ عَلَى كُلِّ مُرَاءٍ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ، (وَالْإِعْجَابُ بِالرَّأْيِ) أَيْ الْاِسْتِحْسَانُ بِعَقْلِهِ وَتَدْبِيرِهِ وَالتَّرَفُّعِ بِذَلِكَ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa memperlihatkan kepada manusia di atas amalan yang ada padanya karena takut maka dia adalah munafiq] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhori. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga kepada setiap orang yang riya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim (Dan sombong dengan akal) Maksudnya menganggap bagus pada akalnya dan urusan akal itu dan menganggap tinggi pada akalnya itu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 8

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ) أَيْ أَكْثَرِهِمْ (رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَكْرَمَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ بِخَمْسِ كَرَامَاتٍ: أَكْرَمَهُ بِالِاسْمِ وَالْجِسْمِ وَالْعَطَاءِ وَالْخَطَأِ وَالرِّضَا. أَمَّا الِاسْمُ فَنَادَاهُ بِالرِّسَالَةِ وَلَمْ يُنَادِهِ بِالِاسْمِ كَمَانَادَى جَمِيعَ الْأَنْبِيَاءِ) عَلَيْهِمُ السَّلَامُ (مِثْلَ آدَمَ وَنُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَغَيْرِهِمْ) قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: ﴿يَأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ﴾ [الْمَائِدَة: الْآيَة ٦٧] وَهَذَا فِي وَقْتِ إِنْزَالِ الْوَحْيِ. أَمَّا وَقْتُ الْمُكَافَحَةِ فَقَالَ تَعَالَى لِنَبِيِّنَا لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ: [يَا مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَهُ]. (وَأَمَّا الْجِسْمُ فَإِذَا دَعَا النَّبِيُّ ﷺ شَيْئًا فَأَجَابَ هُوَ بِنَفْسِهِ عَنْهُ وَلَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ لِسَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ) وَذَلِكَ أَنَّهُ ﷺ رَدَّ عَيْنَ قَتَادَةَ بَعْدَ أَنْ سَقَطَتْ إلَى خَدِّهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ (وَأَمَّا الْعَطَاءُ فَأَعْطَاهُ بِلَا سُؤَالٍ) قَالَ تَعَالَى: ﴿إنَّا أَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ﴾ [الْكَوْثَرُ: الْآيَةَ ١]، وَقَالَ: ﴿وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى﴾ [الضُّحَى: الْآيَةَ ٥]. (وَأَمَّا الْخَطَأُ فَذَكَرَ الْعَفْوَ قَبْلَ ذَنْبِهِ حَيْثُ قَالَ: ﴿عَفَا اللَّهُ عَنْكَ﴾ [الْقَوْبَةُ: الْآيَةَ ٤٣]) أَيْ مَا وَقَعَ مِنْكَ مِنْ تَرْكِ الْأَفْضَلِ وَالْأَوْلَى. (وَأَمَّا الرِّضَا فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ فِدْيَتَهُ وَلَا صَدَقَتَهُ وَلَا نَفَقَتَهُ كَمَا رَدَّهَا عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ) فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ ضَحَّى عَنْ أُمَّتِهِ وَكَفَّرَ عَنْ أُمَّتِهِ بِسَبَبِ الْجِمَاعِ فِي رَمَضَانَ.

Maqolah yang ke delapan (Dari jumhur ulama) Maksudnya dari kebanyakan para ulama (Semoga Allah merahmati mereka semuanya: Sesungguhnya Allah Ta'ala memuliakan kepada nabinya yaitu Muhammad ﷺ dengan lima kemuliaan: Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan nama dan dengan fisik dan dengan pemberian dan dengan salah dan dengan ridho. Adapun nama maka Allah memanggil Nabi Muhammad ﷺ dengan sebutan Rasul dan Allah tidak memanggil Nabi Muhammad ﷺ dengan nama sebagaimana Allah memanggil kepada semua nabi) Alaihimus Salam (Semisal Nabi Adam dan Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim dan selain mereka) Telah berfirman Allah Ta'ala di dalam kitab yang mulia: ﴾Wahai Rasul sampaikanlah perkara yang telah diturunkan kepadamu﴿ [Q.S Al-Maidah: Ayat 67] Dan ini pada waktu turunnya wahyu. Adapun waktu berhadapan maka berfirman Allah Ta'ala kepada Nabi kita pada malam ia mi'raj: [Wahai Muhammad mintalah maka pasti kamu akan diberi pada perkara yang engkau minta]. (Adapun fisik maka ketika berdoa Nabi ﷺ atas suatu perkara maka mengijabah yaitu Allah dengan dzatnya dari doa Nabi dan Allah tidak melakukan hal yang demikian kepada Nabi Nabi yang lain) Dan yang demikian sesungguhnya Nabi ﷺ itu membalikkan mata nya qotadah sesudah jatuhnya mata itu pada pipinya qotadah dan semisal perkara itu. (Adapun pemberian maka Allah memberi kepada Nabi Muhammad tanpa dipinta) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Sesungguhnya kami memberikan kepadamu telaga Kautsar﴿ [Q.S Al-Kautsar: Ayat 1] dan Allah berfirman: ﴾Dan benar benar akan memberikan kepadamu tuhanmu hingga kamu puas﴿ [Q.S Ad-Dhuha: Ayat 5] (Adapun kesalahan maka Allah menyebut maafnya sebelum Allah menyebut kesalahannya Nabi sekiranya Allah berfirman ﴾Allah telah memaafkanmu﴿ [Q.S At-Taubah: Ayat 43]) Maksudnya atas perkara yang terjadi padamu dari meninggalkan perbuatan yang lebih afdhol dan perbuatan yang lebih utama. (Adapun ridho maka Allah tidak pernah menolak atas Nabi fidyahnya dan tidak perna menolak shodaqohnya dan tidak pernah menolak nafakahnya sebagaimana Allah telah menolak itu semua atas Nabi-Nabi Yang lain) Karena sesungguhnya Nabi ﷺ menyembelih kurban kambing mewakili umatnya dan Nabi membayar kafarat mewakili umatnya karena sebab melakukan jimak di bulan Ramadhan. 

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 20 Oktober 2026

PAI KUA Kalimanah: Tips Membangun Keluarga Sakinah di Tengah Tantangan Zaman

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Zamroni Irham, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin dalam upaya membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman di kantor setempat, Senin (19/10/2026) . (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Zamroni Irham, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin dalam upaya membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman, Senin (19/10/2026) kemarin. 

Bimwin tersebut membahas pentingnya meluruskan niat perkawinan, menyelesaikan konflik secara bijak, mengelola keuangan keluarga, serta menyiapkan generasi anak yang saleh.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Bimwin

Dalam penyampaiannya, Zamroni menegaskan bahwa perkawinan bukan sekadar menyatukan dua orang dalam ikatan yang sah, melainkan juga menyatukan dua pribadi dengan latar belakang, kebiasaan, karakter, dan harapan yang mungkin berbeda.

Karena itu, calon pengantin perlu memahami bahwa rumah tangga membutuhkan proses belajar, kesabaran, dan komitmen bersama untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Meluruskan Niat, Menguatkan Komitmen
Materi pertama menekankan pentingnya meluruskan niat perkawinan. Pernikahan hendaknya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar membangun kehidupan bersama yang penuh tanggung jawab. 

Cinta dan ketertarikan menjadi bagian penting dalam hubungan, tetapi keduanya perlu diperkuat dengan iman, akhlak, dan kesediaan untuk saling menjaga.

Di tengah kehidupan modern yang sering menampilkan gambaran rumah tangga serba ideal di media sosial, pasangan perlu memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan, penampilan, atau pengakuan orang lain.

Setiap keluarga memiliki perjalanan dan tantangannya sendiri. Oleh sebab itu, calon pengantin diajak untuk membangun harapan yang realistis, tidak mudah membandingkan rumah tangganya dengan kehidupan orang lain, serta berfokus pada upaya memperbaiki hubungan bersama.

Menyelesaikan Konflik dengan Komunikasi dan Musyawarah
Zamroni juga menjelaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. 

Persoalan dapat muncul karena perbedaan karakter, pembagian tugas, hubungan dengan keluarga besar, kebutuhan ekonomi, maupun penggunaan teknologi dan media sosial. Persoalan tersebut tidak harus berujung pada pertengkaran berkepanjangan apabila pasangan mampu mengelolanya dengan baik.

Calon pengantin dibimbing untuk membiasakan komunikasi terbuka, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, serta menyampaikan keberatan dengan bahasa yang santun. Ketika emosi meningkat, pasangan sebaiknya memberi waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan. 

Hindari kata-kata yang merendahkan, mengungkit kesalahan masa lalu, mengancam perpisahan saat marah, atau mengumbar masalah rumah tangga di media sosial.

Penyelesaian konflik perlu diarahkan pada pencarian solusi, bukan menentukan siapa yang paling benar. Apabila masalah sulit diselesaikan sendiri, pasangan dapat meminta bantuan pihak tepercaya atau tenaga profesional yang kompeten. Jika terjadi kekerasan atau ancaman keselamatan, perlindungan diri dan pencarian bantuan harus menjadi prioritas.

Mengelola Keuangan demi Ketahanan Keluarga
Dalam aspek ekonomi, Zamroni mengingatkan bahwa persoalan keuangan dapat menjadi sumber ketegangan apabila tidak dibicarakan secara terbuka. 

Karena itu, suami dan istri perlu menyusun perencanaan keuangan bersama, memahami pemasukan dan pengeluaran, menentukan kebutuhan prioritas, menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan, serta berhati-hati terhadap utang konsumtif dan gaya hidup di luar kemampuan.

Pengelolaan keuangan keluarga bukan semata-mata tentang besarnya penghasilan, melainkan juga tentang keterbukaan, kedisiplinan, dan kesepakatan dalam menggunakan rezeki. 

Pasangan perlu membicarakan pembagian tanggung jawab finansial secara adil dan sesuai kondisi masing-masing. Kebutuhan pokok, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan anak, dan tabungan perlu dipertimbangkan secara proporsional.

Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan kemudahan belanja digital, sikap sederhana, rasa syukur, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi bekal penting. Keluarga yang sehat secara finansial bukan berarti keluarga tanpa kekurangan, tetapi keluarga yang mampu merencanakan kebutuhan dan menghadapi kesulitan secara bersama-sama.

Mendidik Anak Saleh Dimulai dari Keteladanan Orang Tua
Pembahasan berikutnya adalah ikhtiar membangun generasi anak yang saleh. Zamroni mengajak calon pengantin memahami bahwa pendidikan anak tidak dimulai ketika anak masuk sekolah, tetapi sejak orang tua mempersiapkan kehidupan untuk berkeluarga dan membangun kebiasaan baik di rumah.

Anak membutuhkan keteladanan, kasih sayang, perhatian, dan pendampingan yang konsisten. Orang tua perlu membiasakan ibadah, menanamkan kejujuran dan tanggung jawab, membangun komunikasi yang hangat, serta mengajarkan penghormatan kepada sesama. 

Di era digital, pendampingan juga diperlukan agar anak mampu menggunakan gawai dan media sosial secara bijak, memilah informasi, menjaga privasi, serta tidak mudah terpengaruh perilaku negatif di lingkungan digital.

Upaya membentuk anak saleh tidak cukup hanya dengan nasihat. Anak belajar dari apa yang dilihatnya setiap hari. Ketika orang tua membiasakan salat, berkata jujur, saling menghormati, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, nilai-nilai tersebut menjadi pelajaran nyata bagi anak. Karena itu, keharmonisan hubungan suami istri dan suasana rumah yang aman menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Melalui Bimbingan Perkawinan ini, KUA Kecamatan Kalimanah berharap calon pengantin semakin siap memasuki kehidupan rumah tangga dengan bekal pemahaman agama, keterampilan berkomunikasi, kecakapan mengelola keuangan, serta kesadaran akan tanggung jawab mendidik generasi penerus.

Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang berusaha menghadapi setiap persoalan dengan iman, kasih sayang, musyawarah, dan tanggung jawab. 

Dengan komitmen yang terus dirawat, rumah tangga diharapkan menjadi tempat tumbuhnya ketenteraman, saling menguatkan, dan lahirnya generasi yang saleh serta berakhlak mulia.(*) 

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Jumat, 16 Oktober 2026

KUA Kalimanah: Sambut Hari Santri Nasional dan Perkuat Komitmen WBBM dengan Doa Bersama dan Khotmil Qur’an

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, bersama staf dan pegawai mengikuti kegiatan doa bersama dan khotmil Qur’an secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (16/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional, memperkuat nilai-nilai spiritualitas, serta menyukseskan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, bersama staf dan pegawai mengikuti kegiatan doa bersama dan khotmil Qur’an secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (16/10/2026) pukul 07.00 WIB.

Kegiatan yang dilaksanakan secara nasional ini juga dimanfaatkan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga sebagai momentum untuk memperkuat semangat Hari Santri Nasional sekaligus melakukan peninjauan kembali atau review pembangunan Zona Integritas periode 2026–2027. 

Rangkaian kegiatan diisi dengan sambutan dan pengarahan dari jajaran pimpinan Kemenag Kabupaten Purbalingga.

Suasana mengikuti kegiatan doa bersama dan khotmil Qur’an secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (16/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Kasubbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Sudiono, menyampaikan sambutan yang memuat uraian singkat mengenai Hari Santri Nasional. Momentum ini menjadi pengingat atas kontribusi besar para santri dan ulama dalam perjalanan sejarah bangsa, terutama dalam memperjuangkan kemerdekaan, menjaga persatuan, serta mengembangkan kehidupan keagamaan di Indonesia.

Selanjutnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani, memberikan pengarahan terkait Hari Santri Nasional sekaligus menjadikan momentum tersebut untuk melakukan review pembangunan Zona Integritas tahun 2026–2027.

Dalam arahannya, nilai-nilai Hari Santri Nasional dalam pembangunan Zona Integritas menjadi perhatian bersama yang memerlukan komitmen, konsistensi, dan keterlibatan seluruh satuan kerja. 

Nilai-nilai tersebut relevan dalam membangun budaya kerja yang berintegritas dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Upaya menuju WBBM tidak hanya berfokus pada pemenuhan dokumen dan administrasi, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan pola pikir, budaya kerja, peningkatan kualitas pelayanan, serta penguatan integritas setiap aparatur.

Review pembangunan ZI tahun 2026–2027 menjadi kesempatan untuk mengevaluasi langkah-langkah yang telah dilaksanakan, mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki, serta memperkuat strategi pencapaian target WBBM. 

Dengan demikian, pembangunan Zona Integritas diharapkan benar-benar memberikan dampak nyata terhadap terwujudnya birokrasi yang bersih, transparan, profesional, dan melayani masyarakat dengan lebih baik.

Staf dan pegawai mengikuti kegiatan doa bersama dan khotmil Qur’an secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (16/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sementara itu sebelumnya, pelaksanaan doa bersama dan khotmil Qur’an menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon pertolongan dan keberkahan Allah SWT dalam menjalankan tugas pengabdian. 

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa yang dipanjatkan diharapkan menumbuhkan ketenangan batin, memperkuat kebersamaan, serta meneguhkan niat seluruh pegawai dalam melaksanakan amanah sebagai aparatur negara.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, bersama staf dan pegawai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan khidmat. Keikutsertaan ini menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan spiritualitas sekaligus komitmen KUA Kalimanah untuk terus berperan aktif dalam menyukseskan program dan kebijakan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga.

Melalui kegiatan ini, keluarga besar KUA Kalimanah berkomitmen untuk terus meningkatkan kedisiplinan, menjaga integritas, memperkuat kekompakan, serta menghadirkan pelayanan yang berkualitas. Semangat tersebut sejalan dengan upaya mewujudkan birokrasi yang bersih dan melayani setulus hati.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 14 Oktober 2026

#43 Menyalakan Cahaya Kehidupan dengan Syukur, Taubat, Takwa, dan Amal Saleh

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada Syukur, Taubat, Takwa, dan Amal Saleh.

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-43 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (14/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pujianto menjelaskan secara ringkas dan lugas, berikut hasil rangkuman Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3–4.

Maqolah 3 dan 4 saling melengkapi dalam membimbing kehidupan seorang Muslim. Maqolah 3 menekankan pentingnya membangun hubungan dengan Allah melalui syukur, doa, istigfar, taubat, dan sedekah.

Sementara itu, Maqolah 4 mengingatkan bahwa perjalanan hidup membutuhkan cahaya takwa, tauhid, amal saleh, dan keyakinan agar manusia tidak tersesat oleh godaan dunia.

Pesan yang relevan untuk masa kini adalah bahwa keberhasilan bukan sekadar memperoleh harta, jabatan, atau pengakuan, melainkan mampu meraih kehidupan yang berkah, menjaga akhlak, memperbaiki kesalahan, serta menyiapkan bekal untuk akhirat.

1. Maqolah 3 – Syukur, Doa, Istigfar, Taubat, dan Sedekah
Syukur menjadi jalan bertambahnya nikmat, doa menjadi sarana memohon pertolongan dan berharap dikabulkan, istigfar membuka jalan ampunan, taubat mengantarkan kepada penerimaan Allah, dan sedekah menjadi amal yang diharapkan memperoleh pahala serta keberkahan.


Pesan utamanya adalah agar seorang Muslim senantiasa menjaga hubungan dengan Allah melalui rasa syukur, doa, istigfar, taubat, dan kepedulian kepada sesama. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur; ketika menghadapi kesulitan, ia berdoa; ketika melakukan kesalahan, ia memohon ampun dan bertaubat; serta ketika memiliki kelebihan rezeki, ia berbagi melalui sedekah. 

Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, tekanan ekonomi, dan tuntutan sosial, manusia mudah merasa kurang, cemas, atau membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ajaran ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya kedudukan, tetapi juga oleh rasa syukur, ketenangan hati, dan kedekatan kepada Allah.

Dalam praktiknya, syukur dapat diwujudkan dengan menggunakan nikmat secara bertanggung jawab, doa disertai ikhtiar, istigfar dan taubat melalui kesungguhan memperbaiki kesalahan, serta sedekah melalui kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Harapan kepada Allah hendaknya mendorong seseorang untuk terus berbuat baik, bukan menjadi alasan untuk berhenti berusaha. 

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

2. Maqolah 4 – Lima Kegelapan dan Cahaya Penuntunnya
Maqolah 4, yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dalam materi, menggambarkan lima keadaan yang diibaratkan sebagai kegelapan beserta cahaya yang meneranginya:

1. Cinta dunia diterangi dengan takwa. Kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menyeret seseorang kepada perkara yang meragukan, tidak baik, bahkan haram. Takwa menjadi pedoman untuk memilih yang benar dan meninggalkan yang dilarang Allah.

2. Dosa diterangi dengan taubat. Kesalahan yang terus diulangi tanpa penyesalan dapat mengeraskan hati. Taubat, istigfar, dan berhenti dari perbuatan dosa menjadi jalan untuk memperbaiki diri.

3. Alam kubur diterangi dengan tauhid dan amal kebaikan. Keimanan yang tulus kepada Allah harus tercermin dalam perilaku, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, menjauhi maksiat, taat beribadah, dan memperbanyak zikir.

4. Kehidupan akhirat diterangi dengan amal saleh. Persiapan menuju akhirat dilakukan melalui ketaatan, perbuatan baik, serta pelaksanaan kewajiban sesuai kemampuan dan tuntunan agama.

5. Jalan menuju keselamatan diterangi dengan keyakinan. Keyakinan yang kuat kepada Allah membantu seseorang tetap teguh menjalani kehidupan dan tidak mudah goyah oleh keraguan.

Maqolah ini menegaskan bahwa setiap persoalan membutuhkan petunjuk yang tepat. Takwa membimbing pilihan hidup, taubat membersihkan kesalahan, tauhid menguatkan keimanan, amal saleh menjadi bekal akhirat, dan keyakinan membantu seseorang tetap istiqamah. 

Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Kehidupan modern menghadirkan banyak godaan, seperti mengejar kekayaan tanpa memperhatikan halal dan haram, menghalalkan segala cara demi jabatan, menyalahgunakan teknologi, serta mencari pengakuan melalui media sosial. Dalam situasi seperti ini, takwa berfungsi sebagai kompas moral agar seseorang tidak mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat.

Ketika melakukan kesalahan, seseorang tidak seharusnya larut dalam keputusasaan ataupun membenarkan kesalahannya. Ia perlu mengakui kekeliruan, bertaubat, memperbaiki dampak perbuatannya, dan berusaha tidak mengulanginya. Sementara itu, amal saleh tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran bekerja, tanggung jawab keluarga, kepedulian sosial, dan menjaga hak orang lain.

Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَا يُعْطِي اللَّهُ لِأَحَدٍ خَمْسًا) مِنَ الْهَيْئَاتِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ) أَيْ هَيَّأَ (لَهُ خَمْسًا أُخْرَى) مِنْ جَزَائِهَا (لَا يُعْطِيهِ) أَيْ اللَّهُ الشَّخْصَ (الشُّكْرَ) لِلنِّعْمَةِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الزِّيَادَةَ) عَلَى تِلْكَ النِّعْمَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ [إبْرَاهِيم: الْآيَة ٧] (وَلَا يُعْطِيهِ الدُّعَاءَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الِاسْتِجَابَةَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ [غَافِر: الْآيَة ٦٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ اهْ. (وَلَا يُعْطِيهِ الْإِسْتِغْفَارَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الْغُفْرَانَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴾ [نُوح: الْآيَةَ ١٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَكُمُ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهِ

Maqolah yang ketiga (Telah bersabda Nabi alaihis sallam: Tidaklah Alllah memberi kepada seseorang pada lima hal) Dari keadaan-keadaan (Kecuali sunnguh Allah telah menyiapkan) Maksudnya menyediakan (Bagi seseorang itu lima hal lainnya) Sebagai balasan lima perkara itu (Allah tidak memberi kepada seseorang) Maksudnya Allah kepada seseorang (Rasa syukur) Atas nikmat (Kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu tambahan) Atas nikmat tersebut. Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian﴿ [Q.S Ibrahim: Ayat 7] (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang doa kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu Ijabah) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian﴿ [Q.S Ghafir: Ayat 60]. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang beriman dengan pertemuan-Mu, dan ridha dengan ketentuan-Mu, dan merasa cukup dengan pemberian-Mu.] Telah meriwayatkan Hadist ini Imam Thabarani (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang istighfar kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu ampunan) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Mintalah kalian kepada Tuhan kalian ampunan, sesungguhnya tuhan kalian adalah dzat Maha Pengampun﴿ [Q.S Nuh: Ayat 10]. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Jika kalian berbuat kesalahan hingga mencapai kesalahan kalian pada langit, kemudian kalian bertaubat, pasti Allah akan menerima taubat untuk kalian semua.] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah.

(وَلَا يُعْطِيهِ التَّوْبَةَ إِلَّا وَقَدْ أُعَدَّ لَهُ الْقَبُولُ) أَيْ قَبُولَ التَّوْبَةِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَكْتُوبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ: وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ. (وَلَا يُعْطِيهِ الصَّدَقَةَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ التَّقَبُّلَ) أَيْ حُصُولَ الْقَبُولِ.

(Dan Allah tidak memberi kepada seseorang taubat kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya penerimaan taubat. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tertulis di sekitar Arsy sebelum diciptakan dunia empat ribu tahun: Dan sesungguhnya aku adalah dzat maha pengampun bagi orang yang bertaubat dan beriman dan beramal sholeh kemudian mengikuti petunjuk] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailami. (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang shodaqoh kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya hasilnya penerimaan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Setiap orang itu berada dalam bayang-bayang sedekahnya hingga diadili di antara manusia] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ عَبْدٍ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا قَالَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَبْدِيْ رَجَوْتَنِيْ فَلَنْ أَحْقِرَكَ، حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النَّارِ وَادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتَ] رَوَاهُ ابْنُ لَالٍ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Tidaklah seorang hamba yang bersedekah dengan sedekah yang dia berharap dengan sedekah itu pada ridho Allah, melainkan berfirman Allah pada hari kiamat: 'Hamba-Ku, engkau harapkan aku, maka Aku tidak akan merendahkanmu. Aku haramkan tubuhmu atas neraka dan masuklah kamu dari pintu-pintu manapun dari Surga yang kamu mau] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnul Al.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 4

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (عَنْ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ: الظُّلُمَاتُ خَمْسٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (وَالسُّرُجُ) بِضَمَّتَيْنِ جَمْعُ سِرَاجٍ (لَهَا خَمُسٌ) مِنَ الصِّفَاتِ (حُبُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ) لِأَنَّهُ يُوقِعُ فِى الشُّبُهَاتِ ثُمَّ فِى الْمَكْرُوهَاتِ ثُمَّ فِى الْمُحَرَّمَاتِ قَالَ ﷺ: [حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِىُّ عَنْ الْحَسَنُ الْبُصْرِىُّ قَالَ الْغَزَالِىُّ: وَكَمَا أَنَّ حُبَّهَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ فَبُغْضُهَا رَأْسُ كُلِّ حَسَنَةٍ (وَالسِّرَاجُ لَهَا التَّقْوَى) أَىْ الاِحْتِرَازُ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَنْ عُقُوبَتِهِ رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّكَ لَمْ تَدَعْ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ خَيْرًا مِنْهُ] رَوَاهُ الِامَّامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِىُّ.

Maqolah yang ke empat (Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu: Kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari perkara-perkara (Dan lampu-lampu) Lafadz السُّرُجُ dengan membaca dua dhommah jamak dari lafadz سِرَاجٌ (Untuk kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari sifat (Cinta dunia adalah kegelapan) Karena sesungguhnya cinta dunia itu dapat menjatuhkan ke dalam perkara-perkara syubhat kemudian ke dalam perkara-perkara yang dimakruhkan kemudian ke dalam perkara perkara yang diharamkan telah bersabda Nabi ﷺ: [Cinta dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi dari Hasan Al-Bishri. Telah berkata Imam Al-Ghozali: Dan sebagaimana sesungguhnya cinta terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan maka benci terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kebaikan. (Dan lampu untuk dunia itu adalah takwa) Maksudnya menjaga dengan cara ta'at kepada Allah menjauhi siksaan-siksaan dari Allah. Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan suatu perkara karena takwa kepada Allah Azza Wajalla melainkan pasti Allah akan memberikan kepadamu pada yang lebih baik dari perkara itu] Telah meriwayatkan pada hatis ini Imam Ahmad dan Imam An-Nasa'i.

(وَالذَّنْبُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ التَّوْبَةُ) رُوِىَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صَفُلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ عَلَى قَلْبِهِ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾] رَوَاهُ الِامَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِىُّ وَابْنُ مَاجَهِ وَالنَّسَائِىُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.

(Dan dosa adalah kegelapan dan lampu untuk dosa adalah taubat) Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Sesungguhnya seorang hamba ketika melakukan kesalahan maka diberi titik ke dalam hatinya satu titik yang hitam kemudian ketika ia mencabut dan beristigfar dan bertaubat maka jernih hatinya dan jika ia kembali maka bertambah titik hitam itu sehingga menguasai titik hitam itu atas hatinya, dan titik hitam itu adalah ron yang telah berfirman tentangnya Allah ta'ala ﴾Sekali-kali tidak bahkan telah memenuhi bintik hitam di atas hati mereka karena dosa dosa yang mereka lakukan﴿] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dan Imam An-Nasa'i dan Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim.

(وَالْقَبْرُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

(Dan kuburan itu gelap dan lampu untuk kuburan adalah membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengharamkan atas neraka kepada orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ mencari dengan mengucapkannya pada keridhoan Allah Ta'ala] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا إِخْلَاصُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَحْجُزَكُمْ عَنْ كُلِّ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ. قِيلَ: سَبْعَةُ أَشْيَاءَ تُنَوِّرُ الْقَبْرَ: أَوَّلُهَا الْإِخْلَاصُ فِي الْعِبَادَةِ. وَالثَّانِي: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. وَالثَّالِثُ: صِلَةُ الرَّحِمِ. وَالرَّابِعُ: أَنْ لَا يُضَيِّعَ عُمُرَهُ فِي الْمَعْصِيَةِ. وَالْخَامِسُ: أَنْ لَا يَتَبِعَ هَوَاهُ. وَالسَّادِسُ: أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الطَّاعَةِ. وَالسَّابِعُ أَنْ يُكْثِرَ ذِكْرَ اللَّهِ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan ikhlas maka ia pasti akan masuk ke dalam surga, para sahabat berkata: Wahai Rasulallah apa tanda-tanda ikhlasnya membaca لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ? Rasul bersabda: Bisa mencega لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ kepada kalian dari setiap perkara yang telah Allah haramkan kepada kalian] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Khotib. Dikatakan: Tujuh perkara yang menerangi alam qubur: Yang pertama dari tujuh perkara itu adalah ikhlas dalam beribadah dan yang ke dua adalah berbakti kepada kedua orang tua dan yang ke tiga adalah bersilatur rahmi dan yang ke empat adalah tidak menyia-nyiakan umurnya dalam kemaksiatan dan yang ke lima adalah tidak mengikuti kesenangan hawa nafsunya dan yang ke enam adalah bersungguh-sungguh dalam keta'atan dan yang ke tujuh adalah memperbanyak dzikir kepada Allah.

(وَالْآخِرَةُ ظُلْمَةٌ) أَيْ لِكَثْرَةِ الْأَهْوَالِ (وَالسِّرَاجُ لَهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِرُخَصِهِ كَمَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِعَزَائِمِهِ، إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ دِينِ إبْرَاهِيمَ] رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَدُّوا الْعَزَائِمَ وَاقْبَلُوا الرُّخْصَةَ وَدَعُوا النَّاسَ فَقَدْ كُفِيْتُمُوهُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ لَمْ يَقْبَلْ رُخْصَةَ اللَّهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِنْمِ مِثْلُ جِبَالِ عَرَفَةَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ (وَالصِّرَاطُ ظُلْمَةٌ، وَالسِّرَاجُ لَهُ الْيَقِينُ) وَهُوَ تَحْقِيقُ التَّصْدِيقِ بِإِزَالَةِ كُلِّ رَيْبٍ.

(Dan akhirat itu gelap) Maksudnya karena banyaknya kengerian-kengerian (Dan lampu untuk akhirat adalah amal sholeh) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah senang jika diambil keringana-keringanannya sebagaimana Allah senang jika diambil kewajiban-kewajibannya. Sesungguhnya Allah mengutus kepadaku dengan agama yang cenderung yang toleran dari agama Nabi Ibrahim] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Asakir. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tunaikanlah oleh kalian kewajiban-kewajiban dan terimalah oleh kalian kemurahan-kemurahan dan biarkan olehmu manusia maka sungguh akan mencukupkan kalian bahaya manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Khotib. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang tidak menerima keringanan-keringanan dari Allah maka ada atasnya dari dosa seperti gunung arafah] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad (Dan sirot itu gelap dan lampu untuk sirot adalah keyakinan) Keyakinan adalah menyatakan meyakini dengan menghilangkan setiap keraguan.

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Kholidin: Resapi Nasihat Ulama, Perkuat Komitmen Pelayanan dan Sukseskan Hari Santri Nasional

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin (kiri), saat memimpin  rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Rabu (21/10/2026). (Foto: Im...