Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-43 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (14/10/2026).
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab
![]() |
| PAI KUA Kalimanah, Pujianto, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto) |
Pujianto menjelaskan secara ringkas dan lugas, berikut hasil rangkuman Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3–4.
Maqolah 3 dan 4 saling melengkapi dalam membimbing kehidupan seorang Muslim. Maqolah 3 menekankan pentingnya membangun hubungan dengan Allah melalui syukur, doa, istigfar, taubat, dan sedekah.Sementara itu, Maqolah 4 mengingatkan bahwa perjalanan hidup membutuhkan cahaya takwa, tauhid, amal saleh, dan keyakinan agar manusia tidak tersesat oleh godaan dunia.
Pesan yang relevan untuk masa kini adalah bahwa keberhasilan bukan sekadar memperoleh harta, jabatan, atau pengakuan, melainkan mampu meraih kehidupan yang berkah, menjaga akhlak, memperbaiki kesalahan, serta menyiapkan bekal untuk akhirat.
1. Maqolah 3 – Syukur, Doa, Istigfar, Taubat, dan Sedekah
Syukur menjadi jalan bertambahnya nikmat, doa menjadi sarana memohon pertolongan dan berharap dikabulkan, istigfar membuka jalan ampunan, taubat mengantarkan kepada penerimaan Allah, dan sedekah menjadi amal yang diharapkan memperoleh pahala serta keberkahan.
Pesan utamanya adalah agar seorang Muslim senantiasa menjaga hubungan dengan Allah melalui rasa syukur, doa, istigfar, taubat, dan kepedulian kepada sesama. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur; ketika menghadapi kesulitan, ia berdoa; ketika melakukan kesalahan, ia memohon ampun dan bertaubat; serta ketika memiliki kelebihan rezeki, ia berbagi melalui sedekah.
Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, tekanan ekonomi, dan tuntutan sosial, manusia mudah merasa kurang, cemas, atau membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ajaran ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya kedudukan, tetapi juga oleh rasa syukur, ketenangan hati, dan kedekatan kepada Allah.
Dalam praktiknya, syukur dapat diwujudkan dengan menggunakan nikmat secara bertanggung jawab, doa disertai ikhtiar, istigfar dan taubat melalui kesungguhan memperbaiki kesalahan, serta sedekah melalui kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Harapan kepada Allah hendaknya mendorong seseorang untuk terus berbuat baik, bukan menjadi alasan untuk berhenti berusaha.
![]() |
| Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto) |
2. Maqolah 4 – Lima Kegelapan dan Cahaya Penuntunnya
Maqolah 4, yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dalam materi, menggambarkan lima keadaan yang diibaratkan sebagai kegelapan beserta cahaya yang meneranginya:
1. Cinta dunia diterangi dengan takwa. Kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menyeret seseorang kepada perkara yang meragukan, tidak baik, bahkan haram. Takwa menjadi pedoman untuk memilih yang benar dan meninggalkan yang dilarang Allah.
2. Dosa diterangi dengan taubat. Kesalahan yang terus diulangi tanpa penyesalan dapat mengeraskan hati. Taubat, istigfar, dan berhenti dari perbuatan dosa menjadi jalan untuk memperbaiki diri.
3. Alam kubur diterangi dengan tauhid dan amal kebaikan. Keimanan yang tulus kepada Allah harus tercermin dalam perilaku, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, menjauhi maksiat, taat beribadah, dan memperbanyak zikir.
4. Kehidupan akhirat diterangi dengan amal saleh. Persiapan menuju akhirat dilakukan melalui ketaatan, perbuatan baik, serta pelaksanaan kewajiban sesuai kemampuan dan tuntunan agama.
5. Jalan menuju keselamatan diterangi dengan keyakinan. Keyakinan yang kuat kepada Allah membantu seseorang tetap teguh menjalani kehidupan dan tidak mudah goyah oleh keraguan.
Maqolah ini menegaskan bahwa setiap persoalan membutuhkan petunjuk yang tepat. Takwa membimbing pilihan hidup, taubat membersihkan kesalahan, tauhid menguatkan keimanan, amal saleh menjadi bekal akhirat, dan keyakinan membantu seseorang tetap istiqamah.
Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Kehidupan modern menghadirkan banyak godaan, seperti mengejar kekayaan tanpa memperhatikan halal dan haram, menghalalkan segala cara demi jabatan, menyalahgunakan teknologi, serta mencari pengakuan melalui media sosial. Dalam situasi seperti ini, takwa berfungsi sebagai kompas moral agar seseorang tidak mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat.
Ketika melakukan kesalahan, seseorang tidak seharusnya larut dalam keputusasaan ataupun membenarkan kesalahannya. Ia perlu mengakui kekeliruan, bertaubat, memperbaiki dampak perbuatannya, dan berusaha tidak mengulanginya. Sementara itu, amal saleh tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran bekerja, tanggung jawab keluarga, kepedulian sosial, dan menjaga hak orang lain.
Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَا يُعْطِي اللَّهُ لِأَحَدٍ خَمْسًا) مِنَ الْهَيْئَاتِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ) أَيْ هَيَّأَ (لَهُ خَمْسًا أُخْرَى) مِنْ جَزَائِهَا (لَا يُعْطِيهِ) أَيْ اللَّهُ الشَّخْصَ (الشُّكْرَ) لِلنِّعْمَةِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الزِّيَادَةَ) عَلَى تِلْكَ النِّعْمَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ [إبْرَاهِيم: الْآيَة ٧] (وَلَا يُعْطِيهِ الدُّعَاءَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الِاسْتِجَابَةَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ [غَافِر: الْآيَة ٦٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ اهْ. (وَلَا يُعْطِيهِ الْإِسْتِغْفَارَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الْغُفْرَانَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴾ [نُوح: الْآيَةَ ١٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَكُمُ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهِ
Maqolah yang ketiga (Telah bersabda Nabi alaihis sallam: Tidaklah Alllah memberi kepada seseorang pada lima hal) Dari keadaan-keadaan (Kecuali sunnguh Allah telah menyiapkan) Maksudnya menyediakan (Bagi seseorang itu lima hal lainnya) Sebagai balasan lima perkara itu (Allah tidak memberi kepada seseorang) Maksudnya Allah kepada seseorang (Rasa syukur) Atas nikmat (Kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu tambahan) Atas nikmat tersebut. Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian﴿ [Q.S Ibrahim: Ayat 7] (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang doa kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu Ijabah) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian﴿ [Q.S Ghafir: Ayat 60]. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang beriman dengan pertemuan-Mu, dan ridha dengan ketentuan-Mu, dan merasa cukup dengan pemberian-Mu.] Telah meriwayatkan Hadist ini Imam Thabarani (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang istighfar kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu ampunan) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Mintalah kalian kepada Tuhan kalian ampunan, sesungguhnya tuhan kalian adalah dzat Maha Pengampun﴿ [Q.S Nuh: Ayat 10]. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Jika kalian berbuat kesalahan hingga mencapai kesalahan kalian pada langit, kemudian kalian bertaubat, pasti Allah akan menerima taubat untuk kalian semua.] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah.
(وَلَا يُعْطِيهِ التَّوْبَةَ إِلَّا وَقَدْ أُعَدَّ لَهُ الْقَبُولُ) أَيْ قَبُولَ التَّوْبَةِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَكْتُوبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ: وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ. (وَلَا يُعْطِيهِ الصَّدَقَةَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ التَّقَبُّلَ) أَيْ حُصُولَ الْقَبُولِ.
(Dan Allah tidak memberi kepada seseorang taubat kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya penerimaan taubat. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tertulis di sekitar Arsy sebelum diciptakan dunia empat ribu tahun: Dan sesungguhnya aku adalah dzat maha pengampun bagi orang yang bertaubat dan beriman dan beramal sholeh kemudian mengikuti petunjuk] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailami. (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang shodaqoh kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya hasilnya penerimaan.
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Setiap orang itu berada dalam bayang-bayang sedekahnya hingga diadili di antara manusia] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ عَبْدٍ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا قَالَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَبْدِيْ رَجَوْتَنِيْ فَلَنْ أَحْقِرَكَ، حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النَّارِ وَادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتَ] رَوَاهُ ابْنُ لَالٍ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Tidaklah seorang hamba yang bersedekah dengan sedekah yang dia berharap dengan sedekah itu pada ridho Allah, melainkan berfirman Allah pada hari kiamat: 'Hamba-Ku, engkau harapkan aku, maka Aku tidak akan merendahkanmu. Aku haramkan tubuhmu atas neraka dan masuklah kamu dari pintu-pintu manapun dari Surga yang kamu mau] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnul Al.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 4
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (عَنْ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ: الظُّلُمَاتُ خَمْسٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (وَالسُّرُجُ) بِضَمَّتَيْنِ جَمْعُ سِرَاجٍ (لَهَا خَمُسٌ) مِنَ الصِّفَاتِ (حُبُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ) لِأَنَّهُ يُوقِعُ فِى الشُّبُهَاتِ ثُمَّ فِى الْمَكْرُوهَاتِ ثُمَّ فِى الْمُحَرَّمَاتِ قَالَ ﷺ: [حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِىُّ عَنْ الْحَسَنُ الْبُصْرِىُّ قَالَ الْغَزَالِىُّ: وَكَمَا أَنَّ حُبَّهَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ فَبُغْضُهَا رَأْسُ كُلِّ حَسَنَةٍ (وَالسِّرَاجُ لَهَا التَّقْوَى) أَىْ الاِحْتِرَازُ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَنْ عُقُوبَتِهِ رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّكَ لَمْ تَدَعْ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ خَيْرًا مِنْهُ] رَوَاهُ الِامَّامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِىُّ.
Maqolah yang ke empat (Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu: Kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari perkara-perkara (Dan lampu-lampu) Lafadz السُّرُجُ dengan membaca dua dhommah jamak dari lafadz سِرَاجٌ (Untuk kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari sifat (Cinta dunia adalah kegelapan) Karena sesungguhnya cinta dunia itu dapat menjatuhkan ke dalam perkara-perkara syubhat kemudian ke dalam perkara-perkara yang dimakruhkan kemudian ke dalam perkara perkara yang diharamkan telah bersabda Nabi ﷺ: [Cinta dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi dari Hasan Al-Bishri. Telah berkata Imam Al-Ghozali: Dan sebagaimana sesungguhnya cinta terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan maka benci terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kebaikan. (Dan lampu untuk dunia itu adalah takwa) Maksudnya menjaga dengan cara ta'at kepada Allah menjauhi siksaan-siksaan dari Allah. Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan suatu perkara karena takwa kepada Allah Azza Wajalla melainkan pasti Allah akan memberikan kepadamu pada yang lebih baik dari perkara itu] Telah meriwayatkan pada hatis ini Imam Ahmad dan Imam An-Nasa'i.
(وَالذَّنْبُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ التَّوْبَةُ) رُوِىَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صَفُلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ عَلَى قَلْبِهِ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾] رَوَاهُ الِامَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِىُّ وَابْنُ مَاجَهِ وَالنَّسَائِىُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.
(Dan dosa adalah kegelapan dan lampu untuk dosa adalah taubat) Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Sesungguhnya seorang hamba ketika melakukan kesalahan maka diberi titik ke dalam hatinya satu titik yang hitam kemudian ketika ia mencabut dan beristigfar dan bertaubat maka jernih hatinya dan jika ia kembali maka bertambah titik hitam itu sehingga menguasai titik hitam itu atas hatinya, dan titik hitam itu adalah ron yang telah berfirman tentangnya Allah ta'ala ﴾Sekali-kali tidak bahkan telah memenuhi bintik hitam di atas hati mereka karena dosa dosa yang mereka lakukan﴿] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dan Imam An-Nasa'i dan Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim.
(وَالْقَبْرُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
(Dan kuburan itu gelap dan lampu untuk kuburan adalah membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengharamkan atas neraka kepada orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ mencari dengan mengucapkannya pada keridhoan Allah Ta'ala] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا إِخْلَاصُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَحْجُزَكُمْ عَنْ كُلِّ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ. قِيلَ: سَبْعَةُ أَشْيَاءَ تُنَوِّرُ الْقَبْرَ: أَوَّلُهَا الْإِخْلَاصُ فِي الْعِبَادَةِ. وَالثَّانِي: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. وَالثَّالِثُ: صِلَةُ الرَّحِمِ. وَالرَّابِعُ: أَنْ لَا يُضَيِّعَ عُمُرَهُ فِي الْمَعْصِيَةِ. وَالْخَامِسُ: أَنْ لَا يَتَبِعَ هَوَاهُ. وَالسَّادِسُ: أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الطَّاعَةِ. وَالسَّابِعُ أَنْ يُكْثِرَ ذِكْرَ اللَّهِ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan ikhlas maka ia pasti akan masuk ke dalam surga, para sahabat berkata: Wahai Rasulallah apa tanda-tanda ikhlasnya membaca لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ? Rasul bersabda: Bisa mencega لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ kepada kalian dari setiap perkara yang telah Allah haramkan kepada kalian] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Khotib. Dikatakan: Tujuh perkara yang menerangi alam qubur: Yang pertama dari tujuh perkara itu adalah ikhlas dalam beribadah dan yang ke dua adalah berbakti kepada kedua orang tua dan yang ke tiga adalah bersilatur rahmi dan yang ke empat adalah tidak menyia-nyiakan umurnya dalam kemaksiatan dan yang ke lima adalah tidak mengikuti kesenangan hawa nafsunya dan yang ke enam adalah bersungguh-sungguh dalam keta'atan dan yang ke tujuh adalah memperbanyak dzikir kepada Allah.
(وَالْآخِرَةُ ظُلْمَةٌ) أَيْ لِكَثْرَةِ الْأَهْوَالِ (وَالسِّرَاجُ لَهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِرُخَصِهِ كَمَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِعَزَائِمِهِ، إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ دِينِ إبْرَاهِيمَ] رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَدُّوا الْعَزَائِمَ وَاقْبَلُوا الرُّخْصَةَ وَدَعُوا النَّاسَ فَقَدْ كُفِيْتُمُوهُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ لَمْ يَقْبَلْ رُخْصَةَ اللَّهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِنْمِ مِثْلُ جِبَالِ عَرَفَةَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ (وَالصِّرَاطُ ظُلْمَةٌ، وَالسِّرَاجُ لَهُ الْيَقِينُ) وَهُوَ تَحْقِيقُ التَّصْدِيقِ بِإِزَالَةِ كُلِّ رَيْبٍ.
(Dan akhirat itu gelap) Maksudnya karena banyaknya kengerian-kengerian (Dan lampu untuk akhirat adalah amal sholeh) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah senang jika diambil keringana-keringanannya sebagaimana Allah senang jika diambil kewajiban-kewajibannya. Sesungguhnya Allah mengutus kepadaku dengan agama yang cenderung yang toleran dari agama Nabi Ibrahim] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Asakir. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tunaikanlah oleh kalian kewajiban-kewajiban dan terimalah oleh kalian kemurahan-kemurahan dan biarkan olehmu manusia maka sungguh akan mencukupkan kalian bahaya manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Khotib. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang tidak menerima keringanan-keringanan dari Allah maka ada atasnya dari dosa seperti gunung arafah] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad (Dan sirot itu gelap dan lampu untuk sirot adalah keyakinan) Keyakinan adalah menyatakan meyakini dengan menghilangkan setiap keraguan.
Sumber: lilmuslimin.comEditor: Imam Edi Siswanto









