Rabu, 05 Agustus 2026

Gerak Cepat, KUA Kalimanah Siapkan Pelaksanaan Program BRUN Mulai 13 Agustus

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) pada acara Rakor dan Quality Control di aula kantor PPAI Kecamatan Kalimanah, Rabu (5/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga–KUA Kalimanah bergerak cepat menindaklanjuti pelaksanaan Program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) setelah mengikuti rapat koordinasi secara daring bersama Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Rabu (5/8/2026) pagi.

Dalam arahannya pada kegiatan Rapat Koordinasi dan Quality Control, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menegaskan agar seluruh persiapan program segera dilakukan sehingga pelaksanaannya dapat berjalan optimal dan mencapai tujuan yang diharapkan.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin

Menurut Kholidin, Program BRUN secara efektif akan mulai dilaksanakan pada 13 Agustus 2026. Sasaran kegiatan ini adalah 25 peserta yang terdiri atas remaja berusia minimal 20 tahun, mahasiswa, serta anggota organisasi kepemudaan yang belum menikah.

Ia menjelaskan bahwa BRUN merupakan singkatan dari Bimbingan Remaja Usia Nikah, yaitu program edukasi Kementerian Agama yang bertujuan membekali generasi muda dengan kesiapan fisik, mental, emosional, dan spiritual sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Melalui program ini diharapkan lahir calon pasangan yang mampu membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

ASN KUA Kalimanah dalam acara Rakor dan Quality Control di aula kantor PPAI Kecamatan Kalimanah, Rabu (5/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

"Program ini juga menjadi salah satu upaya strategis untuk menekan angka perkawinan anak sekaligus mempersiapkan generasi muda yang matang lahir dan batin sebelum memasuki jenjang pernikahan," tegas Kholidin.

Adapun materi yang akan diberikan kepada peserta meliputi pemahaman makna pernikahan menurut ajaran agama, kesehatan reproduksi remaja, manajemen emosi dan penyelesaian konflik, perencanaan masa depan dan karier, serta pencegahan perkawinan usia anak.

Untuk memastikan program berjalan dengan baik, Kholidin menunjuk Penyuluh Agama Islam Imam Edi Siswanto dan Azizah Dwi Purba sebagai pelaksanaan kegiatan. Sementara itu, narasumber akan melibatkan tenaga dari Dinas Kesehatan serta tim internal KUA Kalimanah sesuai bidang keahlian masing-masing.

Melalui gerak cepat ini, KUA Kalimanah berharap Program BRUN tidak hanya menjadi kegiatan pembinaan, tetapi juga mampu membentuk generasi muda yang memiliki kesiapan ilmu, karakter, dan tanggung jawab dalam membangun keluarga yang harmonis, berkualitas, dan berketahanan.(*)

Pewarta: Imam Edi siswanto

Selasa, 04 Agustus 2026

Bimwin KUA Kalimanah, Menyiapkan Keluarga Sakinah dan Generasi Berkualitas

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto saat Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin di Balai Nikah KUA Kalimanah, Senin (3/8/2026), (Foto: Fadil)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin di Balai Nikah KUA Kalimanah, Senin (3/8/2026) kemarin.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi merupakan ikatan suci yang membutuhkan kesiapan ilmu, mental, spiritual, dan tanggung jawab agar mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Bimwin 

Materi pertama membahas persiapan keluarga sakinah, yaitu membangun rumah tangga yang berlandaskan nilai-nilai agama, memiliki visi dan tujuan hidup yang sama, serta memahami hak dan kewajiban masing-masing sebagai suami dan istri. Menurutnya, keluarga yang kokoh lahir dari komitmen untuk saling mencintai, menghormati, dan bekerja sama dalam menjalankan kehidupan rumah tangga.

Selanjutnya, calon pengantin dibekali materi tentang dinamika perkawinan dan pengelolaan konflik. Imam Edi menjelaskan bahwa perbedaan karakter dan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan berumah tangga.

“Oleh karena itu, setiap pasangan perlu membangun komunikasi yang sehat, mengedepankan musyawarah, saling memahami, serta menjadikan setiap persoalan sebagai sarana memperkuat hubungan, bukan sebaliknya.” ungkapnya.

Materi berikutnya mengulas pemenuhan kebutuhan keluarga dan pengelolaan ekonomi rumah tangga. Pasangan diingatkan pentingnya mencari nafkah yang halal, menyusun perencanaan keuangan secara bijaksana, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membangun budaya hidup sederhana agar keluarga tetap harmonis dan terhindar dari persoalan ekonomi yang dapat memicu konflik.

Pada sesi terakhir disampaikan materi tentang kesehatan keluarga dan membangun generasi berkualitas. Calon pengantin diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, memenuhi gizi keluarga, mencegah stunting sejak masa kehamilan, serta mempersiapkan pola asuh yang baik bagi anak.

Menurut Imam Edi, keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, dan berkarakter Islami sebagai investasi terbaik bagi masa depan keluarga, bangsa, dan agama.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 31 Juli 2026

Quality Control: Dari Hati yang Terhubung kepada Allah, Lahir Pelayanan Prima

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (Kanan) di acara Quality Control di ruang Balai Nikah KUA Kecamatan Kalimanah, Jumat (31/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan sekadar menjalankan rutinitas pekerjaan, melainkan bagian dari ibadah yang harus dilandasi niat tulus karena Allah Swt. Pesan tersebut disampaikan Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., saat memberikan pembinaan pada kegiatan Quality Control ASN di halaman KUA Kalimanah, Jumat (31/7/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin 

Menurut Kholidin, kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh niat yang benar. Melayani masyarakat tidak cukup hanya menjawab pertanyaan atau memenuhi kebutuhan administratif, tetapi harus disertai keikhlasan, kepedulian, dan semangat memberikan manfaat terbaik kepada setiap tamu yang datang. Ketika pekerjaan diniatkan sebagai ibadah, maka setiap bentuk pelayanan akan bernilai amal saleh di sisi Allah Swt.

Dalam kesempatan tersebut, Kholidin juga mengajak seluruh ASN merenungkan makna Surah An-Nas, khususnya tentang pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan (waswas) yang menimbulkan keraguan, kecemasan, maupun dorongan menuju perilaku yang tidak baik. Ia menjelaskan bahwa godaan senantiasa hadir di dalam hati manusia. 

ASN KUA Kalimanah saat saling mendoakan rekan kerja dan saling memijat anggota badan pada acara Quality Control di ruang Balai Nikah KUA Kecamatan Kalimanah, Jumat (31/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Karena itu, setiap insan harus senantiasa mengingat Allah dan mengembalikan seluruh urusan kepada-Nya sebagai Rabb, Raja, dan Tuhan seluruh manusia. Dengan hati yang terhubung kepada Allah, seseorang akan lebih tenang, jernih dalam berpikir, serta bijaksana dalam menjalankan amanah pelayanan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan menjalankan tugas di lingkungan kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kekuatan spiritual. Integritas, keikhlasan, serta ketulusan berserah diri kepada Allah merupakan fondasi penting agar setiap pekerjaan membawa keberkahan, baik bagi diri sendiri, lembaga, maupun masyarakat yang dilayani.

Kholidin menambahkan bahwa budaya berdoa, bertawakal, dan menghadirkan ketulusan dalam bekerja juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan program Eco Office yang dikembangkan Kementerian Agama.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (Kanan) saat memberikan arahan pada seluruh ASN di acara Quality Control di ruang Balai Nikah KUA Kecamatan Kalimanah, Jumat (31/7/2026). (Foto: Rizal Nur Ahmadi)

Menurutnya, Eco Office tidak hanya dimaknai sebagai upaya menciptakan lingkungan kantor yang bersih, hijau, hemat energi, dan ramah lingkungan, tetapi juga membangun ekosistem kerja yang sehat secara spiritual.

Lingkungan kerja yang dipenuhi doa, rasa syukur, kepedulian, serta kepasrahan kepada Allah akan melahirkan ketenangan batin, hubungan kerja yang harmonis, dan budaya organisasi yang penuh keberkahan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat Eco Teologi, yakni mengintegrasikan ajaran agama dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam membangun budaya kerja yang berkelanjutan.

Kholidin juga mengajak seluruh pegawai untuk membiasakan mendoakan rekan kerja dan masyarakat yang datang ke kantor. Menurutnya, doa yang tulus merupakan energi positif yang akan kembali menjadi keberkahan bagi semua pihak. Ketika setiap pelayanan diawali dengan niat yang ikhlas dan diiringi doa kepada Allah, maka pekerjaan tidak hanya menghasilkan kepuasan masyarakat, tetapi juga menghadirkan ketenteraman bagi para pelaksananya.

Dengan demikian, Eco Office tidak hanya tampak dari lingkungan fisik yang tertata, melainkan juga dari hati para ASN yang bersih, penuh syukur, dan senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah Swt.

Sebagai bagian dari budaya kerja yang terus dibangun, kegiatan Quality Control pekan ini kembali diakhiri dengan tradisi saling memberikan pijatan ringan antar ASN sebagai bentuk relaksasi setelah beraktivitas.

Menariknya, setiap pijatan disertai doa terbaik bagi rekan yang dipijat. Tradisi sederhana tersebut menjadi simbol kepedulian, kebersamaan, sekaligus pengingat bahwa kesehatan fisik, ketenangan batin, dan pelayanan yang humanis merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan dalam mewujudkan budaya kerja yang profesional, religius, serta mendukung implementasi Eco Office dan Eco Teologi di lingkungan Kementerian Agama.(*)

Pewarta: Imam Edi siswanto

Kamis, 30 Juli 2026

#37 Bijak Menghadapi Ujian dan Menuntut Ilmu yang Bermanfaat


Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 36, Rabu (29/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

 
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-37 seperti biasa dilaksanakan pada Rabu pagi di Kantor KUA Kalimanah. Sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (29/6/2026).
 
Ringkasan Hasil Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 22 - 23

Maqolah 22–23 dalam Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan dua bekal penting dalam perjalanan hidup seorang mukmin, yaitu kesabaran menghadapi ujian dan kebijaksanaan dalam menuntut ilmu serta menjalani kehidupan.

Maqolah 22
, Sayyidina Umar bin Khattab r.a. memberikan teladan tentang cara memandang musibah dengan penuh keimanan. Beliau meyakini bahwa setiap musibah selalu mengandung empat nikmat dari Allah: musibah itu tidak menimpa agama, tidak lebih berat daripada yang semestinya, masih memungkinkan untuk tetap ridha kepada Allah, dan menjadi jalan memperoleh pahala. Cara pandang ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak larut dalam kesedihan, tetapi mampu menemukan hikmah, bersabar, dan tetap bersyukur di balik setiap ujian.

Sementara itu, Maqolah 23 menampilkan rangkuman hikmah dari seorang ulama yang menyaring ribuan hadis hingga menjadi empat nasihat utama. Pertama, jangan menaruh kepercayaan secara berlebihan kepada selain Allah sehingga tetap menjaga kehormatan dan kewaspadaan. Kedua, jangan tertipu oleh harta karena kekayaan bukan jaminan keselamatan. Ketiga, jagalah kesehatan dengan tidak berlebihan dalam makan dan minum, sebab banyak penyakit berawal dari gaya hidup yang tidak terkendali. 
 
Keempat, carilah ilmu yang benar-benar bermanfaat dan amalkan dalam kehidupan. Ilmu tanpa amal tidak akan membawa keberkahan, bahkan termasuk salah satu tipu daya setan yang membuat seseorang menunda beramal demi mengejar kesempurnaan. Karena itu, para ulama menasihatkan agar terus melangkah menuju Allah meskipun dengan segala kekurangan, sebab istiqamah dalam beramal lebih utama daripada menunggu diri menjadi sempurna.

Secara keseluruhan, kedua maqolah ini mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada kesabaran saat diuji, sikap qanaah dan tawakal, pola hidup yang seimbang, serta ilmu yang diamalkan. Dengan demikian, seseorang akan memiliki keteguhan hati dalam menghadapi musibah, terhindar dari tipu daya dunia, dan semakin dekat kepada Allah Swt. melalui amal yang terus diperbaiki.
 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 22

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَاللَّهِ مَا ابْتُلِيْتُ بِبَلِيَّةٍ إِلَّا وَكَانَ لِلَّهِ عَلَيَّ فِيهَا) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ (أَرْبَعُ نِعَمٍ، أَوَّلُهَا: إِذْ لَمْ تَكُنْ) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةُ (فِي دِيْنِي) فَإِنَّ الِامْتِحَانَ فِي الدِّينِ أَعْظَمُ مِنَ الْاِمْتِحَانِ فِي الْبَدَنِ وَالْمَالِ (وَالثَّانِي: إِذْ لَمْ تَكُنْ) أَيْ الْبَلِيَّةُ (أَعْظَمَ مِنْهَا) أَيْ مِنْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ الَّتِي أَصَابَتْنِي (وَالثَّالِثُ: إِذْ لَمْ تَكُنْ مُحَرَّمَ الرِّضَا) أَيْ مَمْنُوعَ الرِّضَا (بِهَا) أَيْ بِتِلْكَ الْبَلِيَّةِ (وَالرَّابِعُ: أَنِّيْ أَرْجُو الثَّوَابَ عَلَيْهَا) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ.

Maqolah yang ke dua puluh dua (Dari Umar Radhiallahu Anhu: Demi Allah tidaklah aku diuji dengan musibah kecuali pasti ada milik Allah atas ku di dalam musibah itu) Maksudnya musibah itu (Empat kenikmatan, yang pertama dari empat kenikmatan: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah itu (Dalam masalah agama) Karena sesungguhnya ujian dalam masalah agama itu lebih besar daripada ujian dalam masalah badan dan masalah harta (Dan yang kedua: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah (Yang lebih besar darinya) Maksudnya dari musibah itu yang menimpa kepadaku (Dan yang ketiga: Adalah ketika tidak ada musibah itu yang menghalangi dari keridhoan) Maksudnya yang terhalang dari keridhoan (Dengannya) Maksudnya dengan balai itu (Dan yang ke empat: Adalah sesungguhnya aku mengharapkan pahala atasnya) Maksudnya musibah itu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 23

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ رَجُلًا حَكِيمًا) وَهُوَ مَنْ يَعْرِفُ الْأُمُورَ (جَمَعَ الْأَحَادِيثَ فَاخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَحَادِيثِ الْمَجْمُوعَةِ (أَرْبَعِينَ أَلْفًا) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُنْتَقَاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ أَلْفًا (أَرْبَعَةَ آلَافٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُصَفَّاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعَةِ آلَافٍ (أَرْبَعَمِائَةٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْرَجَةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِمِائَةِ (أَرْبَعِينَ) حَدِيثًا مُبَجَّلًا (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ (أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْلَصَةِ.

Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dari Abdullah bin Mubarok) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Sesungguhnya ada seorang lelaki yang ahli hikmah) Ahli hikamah adalah orang yang mengetahui berbagai perkara (Itu mengumpulkan hadits-hadits kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari hadits-hadits yang dikumpulkan (Empat puluh ribu) Dari hadits-hadits yang dipilih (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh ribu (Empat ribu) Dari hadits-hadits yang disaring (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ribu (Empat ratus) Dari hadits-hadits yang dikeluarkan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ratus (Empat puluh) Hadits yang dimuliakan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh (Empat kalimat) Maksudnya empat jumlah dari hadits-hadits yang dirangkum.

(إِحْدَاهُنَّ: لَا تَثِقَنَّ بِامْرَأَةٍ) أَيْ لَا تَطْمَئِنُّ إِلَيْهَا وَلَا تَأْتَمِنَّهَا (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ لِلرَّجُلِ مِنَ الْغَيْرَةِ أَيْ كَرَاهَةِ شَرِكَةِ الْغَيْرِ فِي حَقِّهِ.

(Salah satu dari empat kalimat itu: Adalah janganlah kamu percaya pada seorang wanita) Maksudnya janganlah kamu tenang kepada seorang wanita dan janganlah kamu mengamanatkan kepada seorang wanita (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak untuk seorang lelaki dari rasa cemburu maksudnya tidak ingin disertai oleh orang lain dalam haknya.

(وَالثَّانِيَةُ: لَا تَغْتَرَّنَّ بِالْمَالِ) أَيْ لَا تَظُنَّ الْأَمْنَ مِنَ الْهَلَاكِ بِسَبَبِ الْمَالِ فَلَمْ تَحْفَظْ الْأُمُورَ وَلَا تَكُنْ مَخْدُوعًا بِكَثْرَةِ الْمَالِ (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ مِنَ الِاحْتِيَاطِ وَمِنْ تَذَكُّرِ الْآخِرَةَ.

(Dan yang kedua: Adalah janganlah kamu teripu dengan harta) Maksudnya janganlah kamu merasa aman dari kebinasaan sebab harta kemudian kamu tidak menjaga pada urusan-urusan dan janganlah kamu menjadi orang yang tertipu sebab banyak harta (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak dari berhati-hati dan dari mengingat akhirat.

(وَالثَّالِثَةُ: لَا تُحَمِّلْ مَعِدَتَكَ مَا لَا تُطِيقُهُ) قَالَ ﷺ: [أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ الْبَرَدَةُ] رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ أَنَسٍ وَابْنِ السُّنِّيِّ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ عَلِيٍّ وَعَنِ ابْنِ سَعِيدٍ وَعَنِ الزُّهْرِيِّ، أَيْ أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ مُتَعَلِّقٌ بِالْمَعِدَةِ التُّخْمَةُ وَهِيَ إِدْخَالُ الطَّعَامِ عَلَى الطَّعَامِ وَكَذَا شُرْبُ الْمَاءِ عَقِبَ الطَّعَامِ أَوْ بَيْنَ الطَّعَامَيْنِ قَبْلَ هَضْمِ الْأَوَّلِ.

(Dan yang ke tiga: Adalah janganlah kamu membebani perutmu dengan makanan yang tidak mampu menanggungnya) Telah bersabda ﷺ: [Pangkal setiap penyakit adalah terlalu kenyang] Telah merwayatkan hadits ini Imam Ad-Daruqutni dari Anas dan Ibnu Sunni dan Abu Nuaim dari Ali dan dai Ibnu Sa'id dan dari Zuhri. Maksudnya pangkal setiap penyakit yang berhubungan dengan pencernaan adalah kenyang yaitu memasukkan makanan di atas makanan dan begitu juga meminum air setelah makan atau meminum air di antara dua kali makan sebelum dicerna makanan yang pertama.

(وَالرَّابِعَةُ: لَا تَجْمَعْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَا يَنْفَعُكَ) قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَأَخَافَ أَنْ أُضَيِّعَهُ، فَقَالَ: كَفَى بِتَرْكِكَ لِلْعِلْمِ إِضَاعَةً. وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مِنْ مَكَايِدِ الشَّيْطَانِ تَرْكُ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ إِنَّهُ لَمُرَاءٍ لِأَنَّ تَطْهِيرَ الْعَمَلِ مِنْ نَزَعَاتِ الشَّيْطَانِ بِالْكُلِّيَّةِ مُتَعَذِّرٌ، فَلَوْ وَقَّفْنَا الْعِبَادَةَ عَلَى الْكَمَالِ لَتَعَذَّرَ الِاشْتِغَالُ بِشَيْءٍ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَذَلِكَ يُوجِبُ الْبَطَالَةَ الَّتِي هِيَ أَقْصَى غَرَضِ الشَّيْطَانِ، وَلِذَا قَالَ بَعْضُهُمْ: سِيرُوا إِلَى اللَّهِ عُرْجًا وَمَكَاسِیْرَ.

(Dan yang ke empat: Adalah janganlah kamu mengumpulkan ilmu yang tida bermanfaat padamu) Telah berkata seorang lelaki kepada Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu: Sesungguhnya aku ingin mencari ilmu dan aku takut menyia-nyiakan ilmu kemudian Abu Huroiroh berkata: Cukuplah dengan meninggalkannya kamu pada ilmu menjadi sia-sia. Telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anu: Sebagian dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal karena taku berkata para manusia sungguh orang itu benar-benar ria karena sesungguhnya mensucikan amal-amal dari godaan setan secara keseluruhan itu sulit. Andai kita mengsyaratkan pada ibadah atas kesempurnaan maka pasti kesulitan menyibukkan satu perkara dari ibadah dan hal itu bisa mengakibatkan bermalas-malasan yang bermalas malasan itu adalah puncak dari tujuan setan. Karena itu berkata sebagian ulama: Berjalanlah kalaian menuju Allah sambil terpincang-pincang dan patah.

وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظَمَتْ قِيمَتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ اهُ.

Dan telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anhu: Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur'an maka pasti agung nilainya dan barang siapa yang mempelajari ilmu fekih maka pasti mulia kedudukannya dan barang siapa yang menulis hadits maka pasti kuat hujjahnya orang itu dan barang siapa mempelajari ilmu hisab maka pasti banyak idenya dan barang siapa yang mempelajari bahasa Arab maka pasti menjadi lemah lembut sifatnya dan barang siapa yang tidak menjaga dirinya sendiri maka pasti tidak bermanfaat padanya ilmunya. Sampai sini perkataan Imam Syafi'i berakhir.

Source: https://lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi siswanto

Rabu, 29 Juli 2026

Quality Control: KUA Kalimanah Tanamkan Budaya Sabar, Dzikir, dan Kasih Sayang

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) di acara Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Mengawali aktivitas dengan hati yang tenang merupakan fondasi penting dalam membangun kinerja yang berkualitas. Pesan itulah yang disampaikan Kepala KUA Kalimanah dalam apel pagi yang digelar di halaman Kantor KUA Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Rabu (29/7/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin

Dalam arahannya, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, menegaskan bahwa quality control pada apel pagi bukan sekadar rutinitas administratif sebelum bekerja. Lebih dari itu, quality control menjadi momentum untuk menata hati, meluruskan niat, serta menguatkan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) saat menyampaikan tiga pesan di acara Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Usai doa bersama, Kepala KUA Kalimanah menyampaikan tiga nilai utama yang hendaknya menjadi bekal setiap ASN dalam menjalankan tugas, yaitu kesabaran, dzikir, dan kasih sayang.

Nilai pertama adalah kesabaran. Seluruh ASN diajak mengawali hari dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Berbagai tugas, tantangan, maupun dinamika pelayanan diyakini akan lebih mudah dihadapi apabila disertai kemampuan mengendalikan emosi, berpikir positif, dan tetap bersikap bijaksana. Kesabaran menjadi kekuatan yang menjaga profesionalisme sekaligus kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Doa bersama yang dipimpin oleh PAI KUA Kalimanah, Mughofar (empat dari Kanan depan) diacara Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Nilai kedua adalah membasahi lisan dengan dzikir. Setiap aparatur diingatkan agar senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap langkah dan pekerjaan. Dzikir bukan hanya menjadi amalan lisan, tetapi juga sumber ketenangan batin yang menumbuhkan keikhlasan, rasa syukur, serta integritas dalam menjalankan amanah sebagai pelayan masyarakat.

Adapun nilai ketiga adalah menebarkan kasih sayang. Sikap saling menghormati, senyum yang tulus, komunikasi yang santun, serta kepedulian kepada sesama rekan kerja merupakan bagian dari budaya kerja yang terus dibangun di KUA Kalimanah. Nilai tersebut tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diwujudkan dalam tindakan sederhana yang sarat makna.

Suasana Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sebagai implementasi dari nilai kasih sayang dan kepedulian, sebelum rangkaian quality control dan apel pagi berakhir, seluruh ASN saling memijat bahu rekan di sebelahnya secara bergantian. Kegiatan sederhana ini menjadi simbol kebersamaan, saling menguatkan, sekaligus menghilangkan ketegangan sebelum memulai aktivitas pelayanan. Melalui sentuhan kepedulian tersebut diharapkan terbangun suasana kerja yang hangat, harmonis, dan penuh semangat kekeluargaan.

Kepala KUA Kalimanah berharap, budaya mengawali hari dengan kesabaran, dzikir, dan kasih sayang tidak hanya menjadi rutinitas saat apel pagi, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku seluruh ASN selama memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, KUA Kalimanah terus membangun budaya kerja yang humanis, berintegritas, profesional, serta berlandaskan nilai-nilai spiritual sebagai wujud pengabdian kepada bangsa, negara, dan umat.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Senin, 27 Juli 2026

Mewujudkan Layanan Prima dan Kantor Hijau, KUA Kalimanah Siap Berbenah Melalui Monitoring dan Evaluasi

Suasana Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga–Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan dan pengawasan untuk memastikan seluruh layanan di KUA berjalan sesuai ketentuan, tertib administrasi, serta mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.


BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=monev

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) saat menyampaikan kata sambutan pada acara Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Dalam pelaksanaan monev kali ini, tim yag terdiri dari, Moh Nur Hidayat, S.Ag. M.Pd.I., Riadhotus Sofiyah, S.A.P, Rokhani, S.A.P, Walid Ikhsanudin, S.Pd.I dan Timbul Prihastanto Yuwono, memberikan perhatian khusus terhadap tertib administrasi Nikah dan Rujuk (NR). Pemeriksaan meliputi kelengkapan dokumen, kesesuaian pencatatan administrasi, pengelolaan arsip, serta implementasi prosedur pelayanan sesuai regulasi yang berlaku.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap layanan NR dilaksanakan secara akurat, akuntabel, dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat. Selain administrasi NR, tim juga melakukan evaluasi terhadap implementasi program Eco Office yang telah diterapkan di KUA Kalimanah.

Rokhani, S.A.P, (tengah) dan Walid Ikhsanudin, S.Pd.I (Kanan) pada acara Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Penilaian mencakup kebersihan lingkungan kantor, penataan taman dan tanaman, pengelolaan sampah, efisiensi penggunaan energi dan air, serta upaya menciptakan lingkungan kerja yang bersih, sehat, hijau, dan nyaman. Program Eco Office diharapkan tidak hanya memperindah lingkungan kerja, tetapi juga menumbuhkan budaya peduli lingkungan di kalangan ASN.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan monitoring dan evaluasi tersebut. 

Suasana Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

"Monitoring dan evaluasi menjadi momentum bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas administrasi, khususnya layanan Nikah dan Rujuk, serta memperkuat budaya kerja melalui penerapan Eco Office,” ungkapnya. 

Walid Ikhsanudin saat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di halammmman KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)


Tim monev juga memberikan sejumlah masukan konstruktif guna menyempurnakan tata kelola administrasi dan penguatan budaya kerja, yang mengintegrasikan profesionalisme pelayanan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kerja.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 24 Juli 2026

Quality Control: Menyatu dengan Alam dan Kalam, ASN KUA Kalimanah Lepas Alas Kaki Tanamkan Spirit Syukur dan Pelayanan Prima ASN

Tampak ASN KUA Kalimanah dan Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., melepas alas kaki saat breafing pagi (Quality Control) di halaman kantor setempatJumat (24/7/2026).

Purbalingga-Suasana berbeda mewarnai kegiatan quality control ASN di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah. Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membangun kesadaran spiritual dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari penguatan karakter pelayanan, Jumat (24/7/2026).

Sebelum briefing pagi dimulai, seluruh ASN diminta melepaskan alas kaki dan bersama-sama membaca Surah Ar-Rahman. Menurut Kholidin, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan ikhtiar menghadirkan kedekatan manusia dengan alam sekaligus menyatukan hati dengan Kalam Ilahi melalui penghayatan terhadap ayat-ayat Allah dan sifat-sifat-Nya yang penuh kasih sayang. 

Suasana breafing pagi (Quality Control) di halaman kantor setempatJumat (24/7/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin

Kegiatan quality control ini, merupakan wujud nyata dari implementasi ekoteologi, di mana kesadaran spiritual ASN diintegrasikan langsung dengan kepedulian terhadap kelestarian alam. Praktik melepaskan alas kaki untuk menyentuh bumi secara langsung dan merenungi kandungan Surah Ar-Rahman membuktikan bahwa keimanan tidak hanya menuntut kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan ekologis untuk hidup selaras dengan ciptaan Allah SWT.

Melalui pandangan eko-teologi ini, rasa syukur atas nikmat alam dialirkan menjadi energi positif dalam etos kerja, sehingga pelayanan prima yang berlandaskan moto SEHATI tidak sekadar menjadi tanggung jawab birokrasi, melainkan sebuah bentuk ibadah yang utuh demi menjaga keharmonisan antara manusia, pencipta, dan lingkungan. 

Pegawai KUA Kalimanah, Prayitno dan Supriyanto di ruang Fron Office KUA Kalimanah, Jumat (24/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

“Dengan merasakan langsung sentuhan bumi dan merenungi kandungan Surah Ar-Rahman, kita diingatkan bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan Allah yang harus hidup selaras dengan alam serta senantiasa bersandar kepada petunjuk-Nya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kholidin juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, sikap syukur bukan hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui cara pandang yang positif terhadap kehidupan, pekerjaan, dan amanah yang diterima. Dengan bersyukur, seseorang akan lebih mudah merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam menjalankan tugas sehari-hari. 

Tampak PAI KUA Kalimanah langsung bekerja usai breafing pagi (Quality Control) di halaman kantor setempatJumat (24/7/2026).


Selain penguatan nilai spiritual, Kepala KUA Kalimanah mengingatkan seluruh ASN untuk terus menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa pelayanan prima merupakan wujud nyata pengabdian ASN kepada umat dan bangsa. Semangat tersebut harus tercermin dalam sikap ramah, responsif, profesional, berintegritas serta memberikan solusi terbaik bagi setiap masyarakat yang membutuhkan layanan.

“Rasa syukur yang benar akan melahirkan semangat bekerja yang lebih baik. Karena itu, mari kita terus menjaga mutu pelayanan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat sesuai moto Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, yaitu SEHATI (Santun, Efektif dan Efisien, Humanis, Amanah, Tertib, dan Ikhlas),” pesannya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Gerak Cepat, KUA Kalimanah Siapkan Pelaksanaan Program BRUN Mulai 13 Agustus

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) pada acara Rakor dan Quality Control  di aula kantor PPAI Kecamatan Kalimanah, Rabu ...