Rabu, 23 September 2026

Wajah Baru KUA Kalimanah, Kankemenag Purbalingga Tekankan Pelayanan "Full Senyum" dan Berintegritas

Kankemenag Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani (Kanan), di dampingi Kasubag TU, Sudiono dan Kasi Bimas Islam, Moh Nur Hidayat saat meninjau langsung gedung dan sarana baru Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Rabu (22/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

​PURBALINGGA — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani, meninjau langsung gedung dan sarana baru Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah pada Rabu (22/9/2026).

Kedatangan beliau yang di damping oleh Kasubag TU, Sudiono dan Kasi Bimas Islam, Moh Nur Hidayat disambut hangat dan penuh sukacita oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama seluruh jajaran pegawai. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=zahid

​Dalam kunjungan tersebut, Zahid mengapresiasi pembenahan fasilitas yang kini jauh lebih nyaman dan representatif untuk masyarakat. 

Kankemenag Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani (Kanan), di dampingi Kasubag TU, Sudiono dan Kasi Bimas Islam, Moh Nur Hidayat saat pembinaan kepada seluruh pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Rabu (22/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

​"Selamat, fasilitas baru dan suasana baru," ujar Zahid saat menyampaikan pembinaan kepada seluruh jajaran KUA Kalimanah.

​Zahid menegaskan bahwa tempat dan fasilitas yang sudah semakin baik harus diimbangi dengan semangat kerja yang tinggi. 

Ia meminta seluruh aparatur KUA Kalimanah untuk kian bersemangat dalam meningkatkan mutu pelayanan publik, serta senantiasa menjaga integritas.

​Ia berpesan agar pelayanan dilakukan dengan "sehati" sepenuh hati, full senyum, dan dilandasi rasa kepedulian terhadap masyarakat. 

​Sementara itu, Kholidin menyambut gembira arahan serta apresiasi yang diberikan oleh Kepala Kankemenag. 

Kunjungan tersebut ditutup dengan suasana akrab dan penuh kekeluargaan melalui acara ramah tamah dan menyantap sajian nasi pecel bersama.(*)

Editor: Imam Edi Siswanto

#40 Menata Kehidupan dengan Taubat, Qanaah, Pengendalian Diri, dan Amal Saleh (Bagian 2)

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 40, Rabu (23/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-40seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di Balai Nikah KUA Kalimanah, Rabu (23/9/2026).

Berikut rangkuman Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 26–31

Hasil kajian terhadap Maqolah 26–31 menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim membutuhkan keseimbangan antara taubat, pengendalian hawa nafsu, qanaah, kesungguhan beribadah, dan orientasi kepada akhirat. Keenam maqolah tersebut memberikan nasihat agar manusia tidak terlena oleh dunia, tetapi menjadikan kehidupan dunia sebagai sarana menuju keselamatan akhirat.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Suasana Kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 40, Rabu (23/9/2026). (Foto: Rizal Nur Ahmadi)

Maqolah 26 – Jangan Tertipu oleh Dunia

Maqolah ini mengingatkan bahwa dunia memiliki sifat sementara dan dapat menjadi sumber kelalaian apabila manusia terlalu mencintainya. Harta, kedudukan, kenikmatan, dan kesibukan duniawi hendaknya tidak mengalahkan perhatian terhadap akhirat. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa seorang Muslim perlu menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan utama kehidupan.

Maqolah 27 – Jangan Menunda Taubat

Ketika seorang hamba melakukan dosa, Allah masih memberikan berbagai bentuk kasih sayang: rezeki tetap diberikan, kesehatan tetap dijaga, aib masih ditutupi, dan hukuman tidak selalu diberikan secara langsung. Hal tersebut bukan berarti dosa boleh diremehkan, tetapi merupakan kesempatan agar manusia segera menyadari kesalahan dan kembali kepada Allah melalui taubat. Karena itu, rahmat Allah seharusnya mendorong manusia untuk bersyukur, memperbaiki diri, dan tidak menunda taubat.

Maqolah 28 – Jalan Menuju Surga Membutuhkan Pengendalian Diri

Maqolah ini menggambarkan bahwa seseorang yang menginginkan keselamatan akhirat harus mampu mengendalikan kenyamanan dan hawa nafsunya. Tidur perlu diimbangi dengan persiapan menghadapi kematian, kesombongan diganti dengan amal saleh, kenyamanan tidak membuat lalai dari kewajiban, dan keinginan harus dikendalikan demi memperoleh keridaan Allah. Pesan utamanya adalah bahwa surga membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan perjuangan melawan hawa nafsu.

Maqolah 29 – Kebahagiaan Tidak Selalu Berasal dari Kelimpahan

Maqolah ini mengajarkan bahwa manusia sering mencari kebahagiaan di tempat yang keliru. Kekayaan belum tentu menghadirkan ketenangan; ketenangan justru erat dengan qanaah. Kenikmatan tidak semata-mata berasal dari kemewahan, tetapi juga dari kesehatan. Demikian pula ilmu membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, kebahagiaan yang hakiki lebih banyak berkaitan dengan ketenangan hati dan pengelolaan diri daripada banyaknya kepemilikan.

Maqolah 30 – Menjaga Hati dan Perilaku

Maqolah ini mengarahkan manusia agar tidak hanya memperhatikan amal lahiriah, tetapi juga keadaan batinnya. Ibadah harus melahirkan akhlak, kerendahan hati, rasa takut kepada Allah, serta kepedulian kepada sesama. Kesalehan tidak cukup hanya terlihat dalam ritual, tetapi harus tercermin dalam cara berpikir, berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain.

Maqolah 31 – Ilmu Harus Melahirkan Amal

Maqolah ini menegaskan pentingnya ilmu yang memberikan manfaat bagi kehidupan. Ilmu tidak semestinya berhenti pada pengetahuan, hafalan, atau pembicaraan, tetapi harus diwujudkan dalam amal dan akhlak. Semakin seseorang mengetahui kebenaran, seharusnya semakin kuat pula dorongannya untuk mengamalkan dan memperbaiki diri. Dengan demikian, ukuran kebermanfaatan ilmu bukan hanya seberapa banyak yang diketahui, tetapi seberapa jauh ilmu tersebut membentuk perilaku yang baik.

Kesimpulan Hasil Kajian

Maqolah 26–31 memberikan satu rangkaian pesan penting: jangan tertipu oleh dunia, jangan menunda taubat, kendalikan hawa nafsu, tumbuhkan qanaah, jaga hati dan akhlak, serta wujudkan ilmu dalam amal. Kehidupan yang baik bukanlah kehidupan tanpa masalah atau tanpa kenikmatan dunia, melainkan kehidupan yang mampu menempatkan dunia secara proporsional dan menjadikan setiap kesempatan sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah. Dengan demikian, seorang Muslim diharapkan tidak hanya menjadi orang yang mengetahui kebaikan, tetapi juga mampu mengamalkannya secara istiqamah hingga menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 40, Rabu (23/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

selengkapnya:  

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 26

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَحْتَجُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَرْبَعَةِ أَنْفُسٍ) أَيْ أَشْخَاصٍ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَجْنَاسٍ مِنَ النَّاسِ) فَيَحْتَجُّ اللَّهُ الْعَظِيمُ (عَلَى الْأَغْنِيَاءِ بِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ) عَلَيْهِمَا السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِالْأَمْوَالِ وَبِالْمَمْلَكَةِ قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: فَأَيُّ مَمْلَكَةٍ أَكْبَرُ مِنْ مَمْلَكَةِ سُلَيْمَانَ وَأَيُّ مَالٍ أَكْثَرُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

Maqolah yang ke dua puluh enam (Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala itu berhujjah pada hari kiamat dengan empat orang) Maksudnya individu (kepada empat kelompok dari manusia) Maka berhujjah Allah yang maha agung (Kepada orang-orang kaya dengan Nabi Sulaiman bin Daud) Alaihimas Salam seperti Allah berfirman kepada orang-orang kaya: kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: Kami disibukkan dengan harta-harta dan kerajaan maka Allah berfirman kepada mereka: kerajaan manakah yang lebih besar daripada kerajaan Sulaiman dan harta manakah yang lebih banyak daripada hartanya Sulaiman dan Sulaiman itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْعَبِيدِ بِيُوسُفَ) كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِخِدْمَةِ سَادَاتِنَا، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي يُوسُفُ تَحْتَ عَزِيزِ مِصْرَ وَامْرَأَتِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada para hamba sahaya dengan Nabi Yusuf) Seperti Allah berfirman kepada para hamba sahaya: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan berkhidmah kepada tuan-tuan kami, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Yusuf itu ada di bawah kekuasaan raja mesir dan istrinya raja mesir dan Yusuf itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْمَرْضَى بِأَيُّوبَ) عَلَيْهِ السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمَ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَرْضَى، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي أَيُّوبُ مَرِضَ مَرَضًاً شَدِيدًاً وَهُوَ لَمْ يَتْرُكْ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang sakit dengan Nabi Ayyub) Alaihis Salam Seperti Allah berfirman kepada orang-orang sakit: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami sakit, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Ayyub itu sakit dengan penyakit yang sangat berat dan Ayyub itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْفُقَرَاءِ بِعِيسَى]) كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَھُمْ: لِمَ تَرَکْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِمَشَقَّةِ الْفَقْرِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ: عَبْدِي عِيسَى أَفْقَرُ مَنْ فِي الْأَرْضِ وَهُوَ لَمْ يَمْلِكْ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا فَلَيْسَ لَهُ بَيْتٌ وَلَا مَالٌ وَلَا زَوْجَةٌ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang-orang fakir dengan Nabi Isa]) Seperti Allah berfirman kepada orang-orang fakir: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan beratnya menanggung kemiskinan , maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Isa adalah sefakir-fakirnya orang yang ada di atas bumi dan Isa itu tidak memiliki apapun dari dunia dan tidak ada baginya rumah dan tidak ada baginya harta dan tidak ada baginya istri dan Isa itu tidak meninggalkan ibadah.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 27

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ سَعْدِ بْنِ هِلَالٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ) أَيْ صَارَ ذَا ذَنْبٍ (مَنَّ اللَّهُ تَعَالَى) أَيْ أَنْعَمَ (عَلَيْهِ بِأَرْبَعِ خِصَالٍ: لَا يَحْجُبُ عَنْهُ الرِّزْقَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنَ الرِّزْقِ (وَلَا يَحْجُبُ عَنْهُ الصِّحَّةَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ صِحَّةِ الْبَدَنِ (وَلَا يُظْهِرُ عَلَيْهِ الذَّنْبَ) بَلْ يَسْتُرُهُ (وَلَا يُعَاقِبُهُ عَاجِلًا) أَيْ فِي السَّاعَةِ الْحَاضِرَةِ بَلْ يُمْهِلُهُ وَلَا يُهْمِلُهُ.

Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Dari Sa'd bin Hilal Rahimahullah: Sesungguhnya seorang hamba ketika berbuat dosa) Maksudnya jadi memiliki dosa (Maka memberikan anugrah Allah Ta'ala) Maksudnya memberikan nikmat (Kepada orang yang berbuat dosa dengan empat perkara: Allah tidak akan menutup darinya rezeki) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari rizki (Dan Allah tidak akan menutup darinya kesehatan) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari kesehatan badan (Allah tidak akan menampakkan atasnya dosa) Bahkan Allah menutup dosa orang yang berbuat dosa (Dan Allah tidak akan menyiksanya di dunia) Maksudnya di waktu sekarang bahkan Allah memberikan kesempatan taubat kepada orang yang berdosa dan Allah tidak abai pada orang yang berdosa.

وَحُكِيَ أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَعْطَى أُمَّةَ مُحَمَّدٍ أَرْبَعَ كَرَامَاتٍ مَا أَعْطَانِيهَا: إِحْدَاهَا: قَبُولُ تَوْبَتِي كَانَ بِمَكَّةَ، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَتُوبُونَ فِي كُلِّ مَكَانٍ فَيُقْبَلُ تَوْبَتُهُمْ. وَالثَّانِيَةُ: أَنِّي كُنْتُ لَابِسًا، فَلَمَّا عَصَيْتُ جَعَلَنِي عُرْيَانًا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ عُرَاةً فَيُلْبِسُهُمْ. وَالثَّالِثَةُ: لَمَّا عَصَيْتُ فَرَّقَ بَيْنِي وَبَيْنَ امْرَأَتِي وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ وَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَزْوَاجِهِمْ. وَالرَّابِعَةُ: أَنِّي عَصَيْتُ فِي الْجَنَّةِ فَأَخْرَجَنِي مِنْهَا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ تَعَالَى خَارِجَ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلُهُمْ فِيهَا إِذَا تَابُوا.

Dihikayatkan sesungguhnya Nabi Adam Alaihis Salam bersabda: Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad empat kemuliaan yang Allah tidak memberikan kepadaku kemuliaan itu: Salah satu dari empat kemuliaan itu: Adalah penerimaan taubatku itu berada di mekkah, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bertaubat di setiap tempat kemudian diterima taubatnya umat Nabi Muhammad. Yang kedua: Adalah sesungguhnya Aku itu berpakaian, ketika aku bermaksiat maka Allah membuatku telanjang, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat dalam keadaan telanjang, maka Allah memberi pakaian kepada mereka. Dan yang ketiga: Adalah ketika aku bermaksiat, Allah memisahkan antara aku dan antara istriku, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah, dan Allah tidak memisahkan antara mereka dan antara istri-istri mereka. Dan yang keempat: Adalah sesungguhnya aku itu bermaksiat di surga, kemudian Allah mengeluarkanku dari surga, Sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah Ta'ala di luar Surga, kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga jika mereka bertaubat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 28

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَرَفَ أَرْبَعًا إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ) أَيْ مَنْ تَرَكَ أَرْبَعًا وَتَوَجَّهَ إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ (النَّوْمَ إِلَى الْقَبْرِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ النَّوْمِ وَتَوَجَّهَ إِلَى رَاحَتِهِ فِي الْقَبْرِ بِأَنْ عَمِلَ صَالِحًا لِأَجْلِهِ (وَالْفَخْرَ إِلَى الْمِيزَانِ) بِأَنْ تَرَكَ التَّطَاوُلَ عَلَى النَّاسِ بِتَعْدِيدِ الْمَنَاقِبِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلِ الْحَسَنَاتِ لِأَجْلِ زِيَادَتِهَا فِي الْمِيزَانِ (وَالرَّاحَةَ إلَى الصِّرَاطِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ الْبَدَنِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلٍ يُسْرِعُ الْمُرُورَ عَلَى الصِّرَاطِ وَذَلِكَ بِإِسْرَاعِ اجْتِنَابِ الْمَعَاصِي (وَالشَّهْوَةَ إلَى الْجَنَّةِ) بِأَنْ تَرَكَ الشَّهْوَةَ وَتَوَجَّهَ إلَى مَشَقَّاتِ الْعِبَادَاتِ فَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ.

Maqolah yang ke dua puluh delapan (Dari Hatim Al-Ashom Rahimahullah sesungguhnya Hatim Al-Ashom berkata: Barang siapa memalingkan empat menuju empat maka ia pasti akan menemukan surga) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan empat kemudian ia menghadap pada empat makak pasti ia akan menemukan surga (Memalingkan tidur menuju qubur) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan tidur kemudian ia menghadap pada kenikmatan tidur di dalam qubur dengan mengamalkan amalan sholeh karena arah-arah kenikmatan tidur di dalam qubur (Dan memalingkan kebanggaan menuju timbangan) Dengan cara ia meninggalkan bersombong-sombong kepada manusia dengan menghitung-hitung kebaikan kemudian ia menghadap menuju amal yang baik-baik karena arah-arah menambah amal kebaikan pada timbangan (Dan memalingkan kenikmatan menuju sirot) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan badan kemudian ia menghadap menuju amalan yang bisa mempercepat lewat di atas sirot dan amalan itu adalah dengan cepat menjauhi maksiat (Dan memalingkan syahwat menuju surga) Dengan cara ia meninggalkan syahwat kemudian ia menghadap menuju beratnya ibada karena sesungguhnya surga itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang di benci sebagaimana dalam hadits.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 29

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَامِدٍ اللَّفَّافِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأُمُورِ (طَلَبْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ) مِنَ الْمَسَالِكِ (فَأَخْطَأْنَا طُرُقَهَا) أَيْ تِلْكَ الْأُمُورِ الْأَرْبَعَةِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ أُخْرَى) مِنَ الْمَسَالِكِ (طَلَبْنَا الْغِنَى) أَيْ الْيَسَارَ (فِي الْمَالِ فَوَجَدْنَاهُ) أَيْ الْغِنَى (فِي الْقَنَاعَةِ) أَيْ فِي الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ وَفِي سُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ (وَطَلَبْنَا الرَّاحَةَ) أَيْ زَوَالَ الْمَشَقَّةِ (فِي الثَّرْوَةِ) أَيْ كَثْرَةِ الْمَالِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي قِلَّةِ الْمَالِ، وَطَلَبْنَا اللَّذَّاتِ) بِحَلَاوَةِ الذَّوْقِ وَنُورِ الْبَصَرِ وَحُضُورِ الْمَرْجُوِّ (فِي النِّعْمَةِ) وَهِيَ مَا قُصِدَ بِهِ النَّفْعُ (فَوَجَدْنَاهَا) أَيْ اللَّذَّاتِ (فِي الْبَدَنِ الصَّحِيحِ. وَطَلَبْنَا الْعِلْمَ فِي بَطْنٍ شِبْعٍ فَوَجَدْنَاهُ فِي بَطْنٍ جَائِعٍ) وَفِي نُسْخَةٍ: وَطَلَبْنَا الرِّزْقَ فِي الْأَرْضِ فَوَجَدْنَاهُ فِي السَّمَاءِ، أَيْ مَقْسُومًا فِي السَّمَاءِ.

Maqolah yang ke dua puluh sembilan (Dari Hamid Al-Lafaf Rahimahullah sesungguhnya Hamid Al-Lafaf berkata: Empat) Dari perkara (Yang telah kami cari padanya dalam empat) Dari jalur (Kemudian kami salah pada jalannya) Maksudnya perkara itu yang empat (Ternyata kami menemukan pada perkara itu dalam empat yang lain) Dari jalur-jalur (Kami mencari kekayaan) Maksudnya kemudahan (Dalam harta ternyata kami menemukan kekayaan itu) Maksudnya kekayaan (Dalam keadaan qona'ah) Maksudnya dalam keadaan ridho atas bagian dari Allah dan dalam keadaan tenangnya hati dari tidak adanya yang dibutuhkan (Dan kami mencari ketenangan) Maksudnya hilangnya kesusahan (Dalam harta yang banyak) Maksudnya banyaknya harta (Ternyata kami menemukan ketenangan itu dalam keadaan sedikitnya harta, dan kami mencari kelezatan-kelezatan) Atas manisnya rasa dan terangnya penglihatan dan hadirnya yang diinginkan (Dalam kenikmatan) Nikamat adalah perkara yang dituju dengannya manfaat (Ternyata kami menemukan kelezatan-kelezatan itu) Maksudnya kelezatan-kelezatan (Dalam keadaan badan yang sehat. Dan kami mencari ilmu dalam keadaan perut yang kenyang ternyata kami menemukan ilmu itu dalam keadaan perut yang lapar) Dan dalam salinan matan: Dan kami mencari rizki di bumi ternyata kami menemukan rizki itu di langit maksudnya yang dibagi di langit.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 30

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّلَاثُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ قَلِيلُهَا كَثِيرٌ) فَيَتَأَذَّى النَّاسُ بِذَلِكَ الْقَلِيلِ (الْوَجَعُ) أَيْ الْأَلَمُ (وَالْفَقْرُ) أَيْ فَقْدُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَالنَّارُ وَالْعَدَاوَةُ) أَيْ قَصْدُ الْإِضْرَارِ الْمُتَمَكِّنِ فِي الْقَلْبِ.

Maqolah yang ke tiga puluh (Dari Ali Radhiallahu Anhu sesungguhnya ia berkata: Empat perkara yang sedikitnya empat perkara itu adalah banyak) Sehingga merasa sakit manusia dengan yang sedikit itu (Sakit) Maksudnya sakit (Dan kemiskinan) Maksudnya tidak adanya perkara yang ia membutuhkan pada perkara itu (Dan api dan musuh-musuh) Maksudnya yang bertujuan mencelakai yang menetap di dalam hati.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الْإِيمَانِ بِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ]. وَقَالَ سَيِّدُنَا سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِابْنِهِ: لَا تَسْتَكْثِرْ أَنْ يَكُونَ لَكَ أَلْفُ صَدِّيقٍ فَالْأَلْفُ قَلِيلٌ وَلَا تَسْتَقِلَّ أَنْ يَكُونَ لَكَ عَدُوٌّ وَاحِدٌ فَالْوَاحِدُ كَثِيرٌ.

Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Pangkalnya akal sesudah iman kepada Allah adalah menunjukkan rasa kasih sayang kepada manusia] Dan telah bersabda Nabi Sulaiman Alaihis Salam kepada anaknya: Janganlah kamu menganggap banyak jika ada bagimu seribu teman karena seribu itu adalah sedikit dan janganlah kamu menganggap sedikit jika ada bagimu musuh yang hanya satu karena satu itu adalah banyak.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 31

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ) رَحِمَهُ اللَّهُ (أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأَجْنَاسِ، فَإِنَّ الشَّيْءَ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِضِدِّهِ (الشَّبَابُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهُ إِلَّا الشُّيُوخُ) أَيْ أَهْلُ الْهَرَمِ (وَالْعَافِيَةُ) أَيْ دِفَاعُ الْمَكْرُوهِ (لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا أَهْلُ الْبَلَاءِ) قَالَ الْغَزَالِيُّ بَدَلَ هَذِهِ الْجُمْلَةِ: وَلَا يَعْرِفُ قَدْرَ الْغِنَى إِلَّا أَهْلُ الْفَقْرِ (وَالصِّحَّةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا الْمَرْضَى) جَمْعُ مَرِيضٍ أَيْ إِلَّا أَهْلُ السَّقَمِ (وَالْحَيَاةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا الْمَوْتَى. قَالَ الشَّاعِرُ أَبُو نُوَاسٍ) بِضَمِّ النُّونِ وَبِالْوَاوِ اسْمُهُ الْحَسَنُ بْنُ هَانَىءَ. وَسَبَبُ تَلْقِيبِهِ بِأَبِي نُوَاسٍ أَنَّهُ كَانَ لَهُ ذُؤَابَتَانِ تَنُوْسَانِ أَيْ تَتَحَرَّكَانِ عَلَى عَاتِقِهِ اهْ. مِنْ بَحْرِ اَلطَّوِيلِ:

Maqolah yang ke tiga puluh satu (Dari Hatim Al-Ashom) Rahimahullah (Sesungguhnya Hatim Al-Ashom berkata: Empat perkara yang tidaklah mengetahui pada nilainya empat perkara itu kecuali empat) Dari kelompok, Karena sesungguhnya sesuatu itu hanya bisa diketahui dengan kebalikannya (Masa muda tidaklah mengetahui pada nilainya masa muda itu kecuali orang-orang yang sudah tua) Maksudnya orang-orang yang lanjut usia (Dan kesejahtraan) Maksudnya terhindar dari perkara yang dibenci (Tidaklah mengetahui pada nilai kesejahtraan kecuali orang-orang yang terkena musibah) Telah berkata Imam Al-Ghozali sebagai ganti dari kalimat ini: Tidaklah mengetahui nilai kekayaan kecuali orang fakir (Dan sehat tidaklah mengetahui pada nilainya sehat kecuali orang-orang yang sakit) Lafadz الْمَرْضَى adalah jamak dari lafadz مَرِيضٌ. Maksudnya kecuali orang-orang yang sakit (Dan kehidupan tidaklah mengetahui pada nilai kehidupan kecuali orang-orang yang mati. Telah berkata seorang penya'ir Abu Nuwas) Lafadz نُوَاسٍ dibaca dengan mendhommahkan huruf nun dan dengan wawu. Namanhya adalah Hasan bin Hani dan sebab dilaninya Hasan bin Hani dengan nama Abu Nuwas karena sesungguhnya ada padanya dua kuncir yang keduanya berubah-ubah Maksudnya kedua-duanya bergerak-gerak di atas pundaknya. Syair dari Bahar Thowil:

وَرَحْمَةُ رَبِّي مِنْ ذُنُوبِيَ أَوْسَعُ * (ذُنُوْبِيَ إِنْ فَكَّرْتُ فِيهَا كَثِيرَةٌ
وَلَكِنِّي فِي رَحْمَةِ اللَّهِ أَطْمَعُ * وَمَا طَمَعِي فِي صَالِحٍ إِنْ عَمِلْتُهُ
وَإِنِّي لَهُ عَبْدٌ أُقِرُّ وَأَخْضَعُ * هُوَ اللَّهُ مَوْلَايَ الَّذِي هُوَ خَالِقِي
وَإِنْ تَكُنِ الْأُخْرَى فَمَا أَنَا أَصْنَعُ) * فَإِنْ يَكُ غُفْرَانٌ فَذَلِكَ رَحْمَةٌ
(Dosa dosaku jika aku fikir tentangnya itu adalah banyak * Sedangkan rahmat Allah itu lebih luas daripada dosa-dosaku
Bukanlah harapanku dalam amal sholeh jika aku melaksanakan amal sholeh itu * Akan tetapi aku lebih berharap pada rahmatnya Allah
Dialah Allah pelindungku dzat yang menciptakan aku * Dan sungguh aku baginya adalah hamba dan aku mengakui hal itu dan aku tunduk kepadanya
Jika terjadi ampunan maka itulah kasih sayang Allah * Dan jika yang terjadi yang lain maka tidkalah aku melakukan hal itu)

عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ أَرَادَ أَنْ لَا يُوْقِفَهُ اللَّهُ عَلَى قَبِيْحِ أَعْمَالِهِ وَلَا يَنْشُرَ لَهُ دِيْوَانًا فَلْيَدْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ وَهُوَ: اللَّهُمَّ إِنَّ مَغْفِرَتَكَ أَرْجَى مِنْ عَمَلِيْ، وَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذَنْبِيْ، اللَّهُمَّ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَهْلًا أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ فَرَحْمَتُكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنِيْ لِأَنَّهَا وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ].

Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Barang siapa yang ingin agar tidak memperlihatkan kepadanya oleh Allah atas amal-amalnya yang jelek dan agar Allah tidak membuka kepadanya catatan amalnya maka hendaklah ia berdoa dengan doa ini di akhir setiap sholat. Doa itu adalah: Ya Allah sesungguhnya ampunanmu itu lebih aku harapkan daripada amalku, dan sesungguhnya kasih sayangmu itu lebih luas daripada dosaku, Ya Allah jika aku bukan orang yang layak untuk mencapai rahmatmu sungguh rahmatmu itu layak untuk sampai kepadaku karena rahmatmu itu luas mencakup segala sesuatu wahai dzat yang maha pengasih di antara para pengasih].(*)

Sumber: https://lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 16 September 2026

#39 Menemukan Jalan Keselamatan: Taubat, Pengendalian Diri, dan Qanaah

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 39, Rabu (16/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
 
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-39 seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (16/9/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Berikut rangkuman Maqolah 27–29 Kitab Nashoihul Ibad

Maqolah 27 mengajarkan tentang luasnya rahmat Allah kepada hamba yang berbuat dosa. Allah masih memberikan rezeki, kesehatan, menutupi aib, dan tidak segera menjatuhkan hukuman. Kesempatan tersebut bukan alasan untuk meremehkan dosa, tetapi merupakan ruang untuk menyadari kesalahan, bertaubat, dan kembali kepada Allah. Pesan utamanya adalah jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah dan jangan menunda taubat.

Maqolah 28 menjelaskan bahwa jalan menuju surga membutuhkan perubahan orientasi hidup. Kenikmatan sesaat perlu dikendalikan dan diarahkan kepada bekal akhirat: mengurangi tidur dengan memperbanyak amal saleh, meninggalkan kesombongan dengan memperbanyak amal yang bernilai, mengendalikan kenyamanan demi menjauhi maksiat, serta menahan hawa nafsu demi menjalankan ibadah. Dengan demikian, surga diraih melalui kesungguhan, pengendalian diri, dan kesediaan menjalani ketaatan meskipun terkadang membutuhkan perjuangan. 
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 39, Rabu (16/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Maqolah 29 mengajarkan bahwa manusia sering keliru mencari sumber kebahagiaan. Kekayaan tidak selalu ditemukan dalam banyaknya harta, tetapi dalam qanaah dan ketenangan hati. Ketenangan tidak selalu lahir dari kemewahan, bahkan dapat ditemukan dalam kesederhanaan. 
 
Kenikmatan hidup sangat berkaitan dengan kesehatan, sedangkan ilmu lebih mudah diperoleh melalui kesungguhan, disiplin, dan pengendalian diri. Maqolah ini mengarahkan manusia untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada banyaknya kepemilikan, tetapi menemukan keberkahan melalui rasa cukup, kesehatan, kesungguhan belajar, dan ketenangan hati.

Kesimpulan: Maqolah 27–29 memberikan satu rangkaian pelajaran penting: ketika berdosa, segera kembali kepada Allah; ketika mengejar surga, kendalikan hawa nafsu; dan ketika mencari kebahagiaan, jangan hanya mengejar banyaknya dunia. Taubat, kesungguhan beramal, pengendalian diri, dan qanaah menjadi jalan yang menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih tenang dan bernilai di dunia sekaligus berorientasi pada keselamatan akhirat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 27

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ سَعْدِ بْنِ هِلَالٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ) أَيْ صَارَ ذَا ذَنْبٍ (مَنَّ اللَّهُ تَعَالَى) أَيْ أَنْعَمَ (عَلَيْهِ بِأَرْبَعِ خِصَالٍ: لَا يَحْجُبُ عَنْهُ الرِّزْقَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنَ الرِّزْقِ (وَلَا يَحْجُبُ عَنْهُ الصِّحَّةَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ صِحَّةِ الْبَدَنِ (وَلَا يُظْهِرُ عَلَيْهِ الذَّنْبَ) بَلْ يَسْتُرُهُ (وَلَا يُعَاقِبُهُ عَاجِلًا) أَيْ فِي السَّاعَةِ الْحَاضِرَةِ بَلْ يُمْهِلُهُ وَلَا يُهْمِلُهُ.

Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Dari Sa'd bin Hilal Rahimahullah: Sesungguhnya seorang hamba ketika berbuat dosa) Maksudnya jadi memiliki dosa (Maka memberikan anugrah Allah Ta'ala) Maksudnya memberikan nikmat (Kepada orang yang berbuat dosa dengan empat perkara: Allah tidak akan menutup darinya rezeki) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari rizki (Dan Allah tidak akan menutup darinya kesehatan) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari kesehatan badan (Allah tidak akan menampakkan atasnya dosa) Bahkan Allah menutup dosa orang yang berbuat dosa (Dan Allah tidak akan menyiksanya di dunia) Maksudnya di waktu sekarang bahkan Allah memberikan kesempatan taubat kepada orang yang berdosa dan Allah tidak abai pada orang yang berdosa.

وَحُكِيَ أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَعْطَى أُمَّةَ مُحَمَّدٍ أَرْبَعَ كَرَامَاتٍ مَا أَعْطَانِيهَا: إِحْدَاهَا: قَبُولُ تَوْبَتِي كَانَ بِمَكَّةَ، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَتُوبُونَ فِي كُلِّ مَكَانٍ فَيُقْبَلُ تَوْبَتُهُمْ. وَالثَّانِيَةُ: أَنِّي كُنْتُ لَابِسًا، فَلَمَّا عَصَيْتُ جَعَلَنِي عُرْيَانًا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ عُرَاةً فَيُلْبِسُهُمْ. وَالثَّالِثَةُ: لَمَّا عَصَيْتُ فَرَّقَ بَيْنِي وَبَيْنَ امْرَأَتِي وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ وَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَزْوَاجِهِمْ. وَالرَّابِعَةُ: أَنِّي عَصَيْتُ فِي الْجَنَّةِ فَأَخْرَجَنِي مِنْهَا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ تَعَالَى خَارِجَ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلُهُمْ فِيهَا إِذَا تَابُوا.

Dihikayatkan sesungguhnya Nabi Adam Alaihis Salam bersabda: Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad empat kemuliaan yang Allah tidak memberikan kepadaku kemuliaan itu: Salah satu dari empat kemuliaan itu: Adalah penerimaan taubatku itu berada di mekkah, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bertaubat di setiap tempat kemudian diterima taubatnya umat Nabi Muhammad. Yang kedua: Adalah sesungguhnya Aku itu berpakaian, ketika aku bermaksiat maka Allah membuatku telanjang, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat dalam keadaan telanjang, maka Allah memberi pakaian kepada mereka. Dan yang ketiga: Adalah ketika aku bermaksiat, Allah memisahkan antara aku dan antara istriku, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah, dan Allah tidak memisahkan antara mereka dan antara istri-istri mereka. Dan yang keempat: Adalah sesungguhnya aku itu bermaksiat di surga, kemudian Allah mengeluarkanku dari surga, Sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah Ta'ala di luar Surga, kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga jika mereka bertaubat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 28

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَرَفَ أَرْبَعًا إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ) أَيْ مَنْ تَرَكَ أَرْبَعًا وَتَوَجَّهَ إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ (النَّوْمَ إِلَى الْقَبْرِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ النَّوْمِ وَتَوَجَّهَ إِلَى رَاحَتِهِ فِي الْقَبْرِ بِأَنْ عَمِلَ صَالِحًا لِأَجْلِهِ (وَالْفَخْرَ إِلَى الْمِيزَانِ) بِأَنْ تَرَكَ التَّطَاوُلَ عَلَى النَّاسِ بِتَعْدِيدِ الْمَنَاقِبِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلِ الْحَسَنَاتِ لِأَجْلِ زِيَادَتِهَا فِي الْمِيزَانِ (وَالرَّاحَةَ إلَى الصِّرَاطِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ الْبَدَنِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلٍ يُسْرِعُ الْمُرُورَ عَلَى الصِّرَاطِ وَذَلِكَ بِإِسْرَاعِ اجْتِنَابِ الْمَعَاصِي (وَالشَّهْوَةَ إلَى الْجَنَّةِ) بِأَنْ تَرَكَ الشَّهْوَةَ وَتَوَجَّهَ إلَى مَشَقَّاتِ الْعِبَادَاتِ فَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ.

Maqolah yang ke dua puluh delapan (Dari Hatim Al-Ashom Rahimahullah sesungguhnya Hatim Al-Ashom berkata: Barang siapa memalingkan empat menuju empat maka ia pasti akan menemukan surga) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan empat kemudian ia menghadap pada empat makak pasti ia akan menemukan surga (Memalingkan tidur menuju qubur) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan tidur kemudian ia menghadap pada kenikmatan tidur di dalam qubur dengan mengamalkan amalan sholeh karena arah-arah kenikmatan tidur di dalam qubur (Dan memalingkan kebanggaan menuju timbangan) Dengan cara ia meninggalkan bersombong-sombong kepada manusia dengan menghitung-hitung kebaikan kemudian ia menghadap menuju amal yang baik-baik karena arah-arah menambah amal kebaikan pada timbangan (Dan memalingkan kenikmatan menuju sirot) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan badan kemudian ia menghadap menuju amalan yang bisa mempercepat lewat di atas sirot dan amalan itu adalah dengan cepat menjauhi maksiat (Dan memalingkan syahwat menuju surga) Dengan cara ia meninggalkan syahwat kemudian ia menghadap menuju beratnya ibada karena sesungguhnya surga itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang di benci sebagaimana dalam hadits.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 29

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَامِدٍ اللَّفَّافِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأُمُورِ (طَلَبْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ) مِنَ الْمَسَالِكِ (فَأَخْطَأْنَا طُرُقَهَا) أَيْ تِلْكَ الْأُمُورِ الْأَرْبَعَةِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ أُخْرَى) مِنَ الْمَسَالِكِ (طَلَبْنَا الْغِنَى) أَيْ الْيَسَارَ (فِي الْمَالِ فَوَجَدْنَاهُ) أَيْ الْغِنَى (فِي الْقَنَاعَةِ) أَيْ فِي الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ وَفِي سُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ (وَطَلَبْنَا الرَّاحَةَ) أَيْ زَوَالَ الْمَشَقَّةِ (فِي الثَّرْوَةِ) أَيْ كَثْرَةِ الْمَالِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي قِلَّةِ الْمَالِ، وَطَلَبْنَا اللَّذَّاتِ) بِحَلَاوَةِ الذَّوْقِ وَنُورِ الْبَصَرِ وَحُضُورِ الْمَرْجُوِّ (فِي النِّعْمَةِ) وَهِيَ مَا قُصِدَ بِهِ النَّفْعُ (فَوَجَدْنَاهَا) أَيْ اللَّذَّاتِ (فِي الْبَدَنِ الصَّحِيحِ. وَطَلَبْنَا الْعِلْمَ فِي بَطْنٍ شِبْعٍ فَوَجَدْنَاهُ فِي بَطْنٍ جَائِعٍ) وَفِي نُسْخَةٍ: وَطَلَبْنَا الرِّزْقَ فِي الْأَرْضِ فَوَجَدْنَاهُ فِي السَّمَاءِ، أَيْ مَقْسُومًا فِي السَّمَاءِ.

Maqolah yang ke dua puluh sembilan (Dari Hamid Al-Lafaf Rahimahullah sesungguhnya Hamid Al-Lafaf berkata: Empat) Dari perkara (Yang telah kami cari padanya dalam empat) Dari jalur (Kemudian kami salah pada jalannya) Maksudnya perkara itu yang empat (Ternyata kami menemukan pada perkara itu dalam empat yang lain) Dari jalur-jalur (Kami mencari kekayaan) Maksudnya kemudahan (Dalam harta ternyata kami menemukan kekayaan itu) Maksudnya kekayaan (Dalam keadaan qona'ah) Maksudnya dalam keadaan ridho atas bagian dari Allah dan dalam keadaan tenangnya hati dari tidak adanya yang dibutuhkan (Dan kami mencari ketenangan) Maksudnya hilangnya kesusahan (Dalam harta yang banyak) Maksudnya banyaknya harta (Ternyata kami menemukan ketenangan itu dalam keadaan sedikitnya harta, dan kami mencari kelezatan-kelezatan) Atas manisnya rasa dan terangnya penglihatan dan hadirnya yang diinginkan (Dalam kenikmatan) Nikamat adalah perkara yang dituju dengannya manfaat (Ternyata kami menemukan kelezatan-kelezatan itu) Maksudnya kelezatan-kelezatan (Dalam keadaan badan yang sehat. Dan kami mencari ilmu dalam keadaan perut yang kenyang ternyata kami menemukan ilmu itu dalam keadaan perut yang lapar) Dan dalam salinan matan: Dan kami mencari rizki di bumi ternyata kami menemukan rizki itu di langit maksudnya yang dibagi di langit.

Senin, 07 September 2026

Alhamdulillah, dengan Wajah Baru KUA Kalimanah Perkuat Disiplin dan Profesionalitas Pelayanan

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. pada acara Rakor dan Quality Control di ruang Balai Nikah kantor setempat, Senin (7/9/2026). (Foto: Rizal)
 PURBALINGGA – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui penguatan kedisiplinan, profesionalitas, serta penataan sarana dan lingkungan kerja. 

Hal tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam rapat koordinasi (Rakor) dan Quality Control (QC) KUA Kalimanah yang dilaksanakan di ruang Balai Nikah kantor setempat, Senin (7/9/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Rakor 

Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, menyampaikan bahwa kondisi ruangan dan fasilitas kantor saat ini semakin baik. Peningkatan tersebut perlu diimbangi dengan komitmen seluruh jajaran untuk menjaga sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Menurutnya, fasilitas yang semakin memadai harus diikuti dengan kedisiplinan dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

Papan nama baru KUA Kalimanah, tampak dari halaman kantor, Senin (7/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
 

“Ruangan dan fasilitas kita sudah semakin baik. Karena itu, pelayanan harus terus dijaga dan ditingkatkan, serta disiplin dalam bekerja harus benar-benar diterapkan,” pesan Kholidin saat memimpin Rakor dan QC.

Dalam rapat tersebut juga dibahas perkembangan penyelesaian tempat parkir yang saat ini masih dalam proses. Selain sarana dan prasarana, Kholidin menekankan pentingnya profesionalitas operator Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), termasuk ketelitian dan ketepatan dalam pengelolaan data serta pelayanan administrasi berbasis digital.

Tampilan baru ruang fron office KUA Kalimanah, Senin (7/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Kepala KUA juga menyampaikan pentingnya pembuatan dan pengelolaan akun Si Rukun dan SIAPI sebagai bagian dari penguatan tata kelola administrasi dan layanan. Seluruh petugas diharapkan mampu mengikuti perkembangan sistem dan aplikasi yang digunakan dalam mendukung pelaksanaan tugas di KUA.

Selain itu, Kholidin mengingatkan seluruh pegawai untuk aktif melaksanakan piket harian. Piket tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang rapi, nyaman, tertib, dan representatif bagi masyarakat yang datang mendapatkan pelayanan.

Pelayanan pelaksanaan nikah gratis di KUA Kalimanah, Senin (7/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
 

“Besok hari Selasa kita kerja bakti bersama-sama membersihkan kantor, menjaga dan merawat adalah tanggungjawab bersama,” tegasnya.

Melalui Rakor dan QC tersebut, KUA Kalimanah berkomitmen untuk terus melakukan pembenahan secara berkelanjutan. Peningkatan fasilitas, kedisiplinan pegawai, profesionalitas pengelolaan sistem digital, serta kebersihan lingkungan diharapkan semakin memperkuat kualitas pelayanan KUA Kalimanah kepada masyarakat.

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Rabu, 02 September 2026

#38 Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 24 - 26, Mengendalikan Hawa Nafsu dan Menjaga Ibadah dalam Segala Keadaan

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-38 seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (2/9/2026).
 
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Berikut rangkumannya:
Maqolah 24 menjelaskan tentang keutamaan Nabi Yahya AS yang disebut sebagai sayyid karena mampu menguasai empat perkara penting dalam kehidupan, yaitu hawa nafsu, godaan Iblis, lisan, dan amarah. Pesan utamanya adalah kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari kedudukan, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri dan menundukkan berbagai dorongan yang dapat menjauhkan manusia dari kebaikan.

Maqolah 25, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib RA, menerangkan bahwa agama dan kehidupan dunia akan tetap tegak selama empat kelompok menjalankan tanggung jawabnya. Orang kaya tidak kikir terhadap harta yang Allah amanahkan, para ulama mengamalkan ilmu yang dimilikinya, orang yang belum berilmu tidak sombong dan mau belajar, serta orang fakir tidak menjual akhirat demi kepentingan dunia. Keempatnya menjadi fondasi keseimbangan kehidupan masyarakat.

Maqolah 26 mengajarkan bahwa tidak ada alasan bagi manusia untuk meninggalkan ibadah, apa pun kondisi kehidupannya. Orang kaya diingatkan melalui keteladanan Nabi Sulaiman AS, hamba sahaya melalui Nabi Yusuf AS, orang sakit melalui Nabi Ayyub AS, dan orang fakir melalui Nabi Isa AS. Mereka memiliki ujian dan keadaan yang berbeda, tetapi tetap menjaga ibadah kepada Allah. Pesan pentingnya adalah kesibukan, kekayaan, status sosial, sakit, maupun kemiskinan bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Inti pelajaran: ketiga maqolah ini mengajarkan pentingnya mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan dan emosi, mengamalkan ilmu, gemar belajar, tidak diperbudak dunia, serta istiqamah beribadah dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, kehidupan dunia dapat berjalan seimbang dan akhirat tetap menjadi tujuan utama.
 
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Rizal)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 24

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَسَيِّدًا وَحَصُورًا﴾ [آلِ عِمْرَانَ: الْآيَةَ ٣٩]) أَيْ لَا يَرْغَبُ فِي النِّسَاءِ لَا لِعَجْزٍ بَلْ لِمَنْعِ الشَّهْوَةِ فَقَطْ (﴿وَنَبِيًا مِنَ الصَلِحِينَ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: الْآيَةَ ٣٩]) قَالَ - أَيْ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ -: (ذَكَرَ اللَّهُ) سَيِّدَنَا (يَحْيَى) عَلَيْهِ السَّلَامُ (سَيِّدًا وَهُوَ عَبْدُهُ) تَعَالَى (لِأَنَّهُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (كَانَ غَالِبًا عَلَى أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: عَلَى الْهَوَى وَعَلَى إِبْلِيسَ وَعَلَى اللِّسَانِ وَعَلَى الْغَضَبِ).

Maqolah yang ke dua puluh empat (Dari Muhammad bin Ahmad Rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah Azza Wajalla: ﴾Sebagai sayid dan sebagai orang yang menahan diri﴿ [Ali Imran: Ayat 39]) Maksudnya Nabi Yahya tidak memiliki hasrat terhadap wanita, bukan karena ketidakmampuannya, tetapi untuk mencegah syahwat saja (﴾Dan sebagai Nabi dari golongan orang-orang sholeh﴿ [Ali Imran: Ayat 39]) Telah berkata-Maksudnya Syeikh Muhammad-: (Telah menyebutkan Allah) kepada tuan kita (Nabi Yahya) Alaihis Salam (Sebagai Sayid sedangkan Nabi Yahya adalah hamba Allah) Ta'ala (Karena sesungguhnya Nabi Yahya) Alaihis Salam (Terbukti menang atas empat perkara: Menang atas hawa nafsu dan menang atas Iblis dan menang atas lisan dan menang atas emosi).

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (kiri) saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Rizal)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 25

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (لَا يَزَالُ الدِّينُ وَالدُّنْيَا قَائِمَيْنِ) أَيْ ظَاهِرَيْنِ (مَا دَامَتْ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) فَمَا مَصْدَرِيَّةٌ ظَرْفِيَّةٌ، وَدَامَ تَامٌّ بِمَعْنَى بَقِيَ (مَا دَامَ الْأَغْنِيَاءُ لَا يَبْخَلُونَ بِمَا خُوِّلُوْا) بِالْبِنَاءِ لِلْمَجْهُولِ أَيْ لَا يَمْنَعُونَ مِنْ إِعْطَاءِ السَّائِلِ مِمَّا أَعْطَاهُمْ اللَّهُ تَعَالَى وَلَا يَمْنَعُونَ الْوَاجِبَ عَلَيْهِمْ (وَمَا دَامَ الْعُلَمَاءُ يَعْمَلُونَ بِمَا عَلِمُوا) مِنَ الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ (وَمَا دَامَ الْجُهَلَاءُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمُوا) أَيْ لَا يُعْرِضُونَ وَلَا يَمْتَنِعُونَ مِنْ تَعَلُّمِ مَا لَمْ يَعْلَمُوا (وَمَا دَامَ الْفُقَرَاءُ لَا يَبِيعُونَ آخِرَتَهُمْ بِدُنْيَاهُمْ) أَيْ مَا دَامُوا لَا يَتْرُكُونَ الدِّينَ بِأَخْذِ الدُّنْيَا.

Maqolah yang ke dua puluh lima (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Tidak akan berhenti agama dan dunia yang tegak keduanya) Maksudnya yang nampak keduanya (Selagi masih langgeng empat perkara) Lafadz مَا pada lafadz مَا دَامَتْ adalah مَا masdariyah dhorfiyah dan lafadz دَامَ adalah tam dengan ma'na langgeng (Selagi masih langgeng orang-orang kaya itu mereka tidak pelit atas perkara yang di amanatkan kepada mereka) Lafadz خُوِّلُوْا dengan bina majhul maksudnya mereka tidak menahan dari memberi kepada orang yang meminta dari perkara yang telah memberikan kepada mereka oleh Allah Ta'ala dan mereka tidak menahan pada kewajiban atas mereka (Dan selagi masih langgeng para ulama itu mereka mengamalkan pada perkara yang mereka tahu) Dari perintah dan larangan (Dan selagi masih langgeng orang-orang bodoh itu mereka tidak sombong tentang perkara yang mereka tidak tahu) Maksudnya mereka tidak menolak dan mereka tidak menahan diri dari mempelajari perkara yang tidak mereka ketahui (Dan selagi masih langgeng orang-orang fakir itu mereka tidak menjual pada akhirat mereka dengan dunia mereka) Maksudnya selagi masih langgeng orang-orang fakir itu mereka tidak meninggalkan agama dengan mengambil dunia.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 38, Rabu (2/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 26

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَحْتَجُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَرْبَعَةِ أَنْفُسٍ) أَيْ أَشْخَاصٍ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَجْنَاسٍ مِنَ النَّاسِ) فَيَحْتَجُّ اللَّهُ الْعَظِيمُ (عَلَى الْأَغْنِيَاءِ بِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ) عَلَيْهِمَا السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِالْأَمْوَالِ وَبِالْمَمْلَكَةِ قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: فَأَيُّ مَمْلَكَةٍ أَكْبَرُ مِنْ مَمْلَكَةِ سُلَيْمَانَ وَأَيُّ مَالٍ أَكْثَرُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

Maqolah yang ke dua puluh enam (Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala itu berhujjah pada hari kiamat dengan empat orang) Maksudnya individu (kepada empat kelompok dari manusia) Maka berhujjah Allah yang maha agung (Kepada orang-orang kaya dengan Nabi Sulaiman bin Daud) Alaihimas Salam seperti Allah berfirman kepada orang-orang kaya: kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: Kami disibukkan dengan harta-harta dan kerajaan maka Allah berfirman kepada mereka: kerajaan manakah yang lebih besar daripada kerajaan Sulaiman dan harta manakah yang lebih banyak daripada hartanya Sulaiman dan Sulaiman itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْعَبِيدِ بِيُوسُفَ) كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِخِدْمَةِ سَادَاتِنَا، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي يُوسُفُ تَحْتَ عَزِيزِ مِصْرَ وَامْرَأَتِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada para hamba sahaya dengan Nabi Yusuf) Seperti Allah berfirman kepada para hamba sahaya: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan berkhidmah kepada tuan-tuan kami, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Yusuf itu ada di bawah kekuasaan raja mesir dan istrinya raja mesir dan Yusuf itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْمَرْضَى بِأَيُّوبَ) عَلَيْهِ السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمَ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَرْضَى، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي أَيُّوبُ مَرِضَ مَرَضًاً شَدِيدًاً وَهُوَ لَمْ يَتْرُكْ الْعِبَادَةَ.
(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang sakit dengan Nabi Ayyub) Alaihis Salam Seperti Allah berfirman kepada orang-orang sakit: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami sakit, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Ayyub itu sakit dengan penyakit yang sangat berat dan Ayyub itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْفُقَرَاءِ بِعِيسَى]) كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَھُمْ: لِمَ تَرَکْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِمَشَقَّةِ الْفَقْرِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ: عَبْدِي عِيسَى أَفْقَرُ مَنْ فِي الْأَرْضِ وَهُوَ لَمْ يَمْلِكْ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا فَلَيْسَ لَهُ بَيْتٌ وَلَا مَالٌ وَلَا زَوْجَةٌ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang-orang fakir dengan Nabi Isa]) Seperti Allah berfirman kepada orang-orang fakir: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan beratnya menanggung kemiskinan , maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Isa adalah sefakir-fakirnya orang yang ada di atas bumi dan Isa itu tidak memiliki apapun dari dunia dan tidak ada baginya rumah dan tidak ada baginya harta dan tidak ada baginya istri dan Isa itu tidak meninggalkan ibadah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-4/?page=3 

Rabu, 26 Agustus 2026

KUA Kalimanah Peduli Korban Kebakaran, Kholidin: Jadikan Musibah sebagai Hikmah Meningkatkan Iman dan Takwa

Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama staf, Penyuluh Agama Islam dan Penghulu saat mengunjungi kediaman korban kebakaran rumah di Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Rabu (26/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kepedulian terhadap warga yang tertimpa musibah kembali ditunjukkan jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah. Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama staf, Penyuluh Agama Islam dan Penghulu mengunjungi kediaman korban kebakaran rumah di Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Rabu (26/8/2026).

Kunjungan tersebut sekaligus diisi dengan penyerahan bantuan kepada korban kebakaran sebagai bentuk kepedulian dan perhatian jajaran KUA Kalimanah. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan dukungan moril serta menguatkan keluarga korban agar tetap sabar dan tabah dalam menghadapi musibah. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/08/kua-kalimanah-perkuat-koordinasi-peduli.html

Kondisi rumah Yatim Adi Winoto (59), warga Desa Blater Kecamatan Kalimanah, yang rumahnya mengalami kebakaran . pasca kebakaran pada Senin (24/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Kholidin mengatakan, musibah yang terjadi hendaknya tidak hanya dipandang sebagai sebuah peristiwa yang menyedihkan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk mengambil hikmah dan melakukan introspeksi diri.

“Dari musibah ini kita dapat mengambil hikmah untuk semakin meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT,” psanya kepada Yatim Adi Winoto (59), warga Desa Blater Kecamatan Kalimanah, yang rumahnya mengalami kebakaran pada Senin (24/8/2026) lalu.

Lalu, sambungnya, kita belajar untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat kesabaran, serta menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian dari ketentuan-Nya.

Menurutnya, kepedulian kepada sesama, khususnya kepada warga yang sedang mengalami kesulitan, merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat. 

 Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama staf, Penyuluh Agama Islam dan Penghulu bersama Yatim Adi Winoto (59), dan  salah satu perangkat desa  Blater, Aziz Suseno (kanan) saat berbincang dihalaman rumah setempat, Rabu (26/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

“Karena itu, KUA tidak hanya hadir dalam pelayanan administrasi dan urusan keagamaan, tetapi juga berupaya membangun kedekatan serta kepedulian sosial dengan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong, saling membantu dan memberikan dukungan kepada mereka yang sedang menghadapi musibah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

KUA Kalimanah Perkuat Koordinasi, Peduli Musibah Kebakaran dan Semangat Kebangsaan

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. pada acara Rakor dan Quality Control di aula kantor PPAI Kecamatan Kalimanah, Rabu (26/8/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, memimpin rapat dan Quality Control (QC) jajaran KUA Kalimanah, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi internal sekaligus memastikan berbagai agenda pelayanan dan kegiatan KUA berjalan tertib, terarah, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam rapat tersebut, dilakukan pembagian tugas untuk sejumlah agenda yang akan dilaksanakan pada hari ini. Beberapa di antaranya adalah mengikuti Dialog Kebangsaan Kemenag Purbalingga, menghadiri undangan kegiatan lepas sambut di Kecamatan, serta agenda kunjungan dan pemberian bantuan kepada warga yang mengalami musibah kebakaran di Desa Blater.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Rakor

Kholidin menekankan bahwa tugas kedinasan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan administrasi di kantor, tetapi juga bagaimana KUA hadir di tengah masyarakat ketika menghadapi persoalan dan musibah. Menurutnya, kepedulian sosial merupakan bagian penting dari semangat pengabdian dan pelayanan kepada umat.

Salah satu perhatian dalam rapat adalah kunjungan kepada Yatim Adi Winoto (59), warga Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, yang rumahnya mengalami kebakaran pada Senin (24/8/2026) lalu.

Berdasarkan laporan kejadian, kebakaran terjadi sekitar pukul 14.15 WIB dan diduga bersumber dari tungku kayu bakar yang telah ditinggalkan dalam kondisi belum benar-benar padam. Dalam peristiwa tersebut tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka, namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

Kholidin berharap pembagian tugas yang telah dilakukan dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan koordinasi yang baik. “Quality Control bukan sekadar mengevaluasi pekerjaan, tetapi memastikan setiap tugas yang kita lakukan benar-benar memberikan pelayanan terbaik dan manfaat bagi masyarakat,” demikian semangat yang ditekankan dalam rapat tersebut.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Wajah Baru KUA Kalimanah, Kankemenag Purbalingga Tekankan Pelayanan "Full Senyum" dan Berintegritas

Kankemenag Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani (Kanan),  di dampingi Kasubag TU, Sudiono dan Kasi Bimas Islam, Moh Nur Hidayat saat  meninj...