![]() |
| Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat menyampaikan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto) |
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-36 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah Pujianto, Rabu (15/7/2026).
Berikut ringkasan Hasil Kajian
Kajian Maqolah 19–21 dalam Kitab Nashoihul 'Ibad mengajarkan bahwa tujuan tertinggi seorang mukmin bukan sekadar memperoleh kenikmatan surga, tetapi meraih ridha Allah SWT.
Pada Maqolah 19, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada empat kenikmatan di surga yang nilainya lebih agung daripada surga itu sendiri, yaitu kekal di dalamnya, pelayanan para malaikat, kedekatan dengan para nabi, dan puncaknya adalah ridha Allah.
Sebaliknya, di neraka terdapat empat penderitaan yang lebih berat daripada api neraka, yaitu kekal di dalamnya, celaan malaikat, bertetangga dengan setan, dan yang paling dahsyat adalah murka Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ridha dan murka Allah merupakan inti dari kebahagiaan maupun kesengsaraan manusia.
Pada Maqolah 20, seorang ahli hikmah menggambarkan prinsip hidup seorang mukmin yang ideal, yaitu selalu selaras dengan perintah Allah, menentang hawa nafsu, menebarkan nasihat kepada sesama, dan memanfaatkan dunia hanya sebatas kebutuhan. Pesan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara hubungan dengan Allah, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan sikap zuhud terhadap dunia.
Sementara itu, Maqolah 21 merangkum empat mutiara hikmah yang diambil dari kitab-kitab samawi: ridha terhadap rezeki Allah melahirkan ketenangan, mengendalikan syahwat membawa kemuliaan, tidak bergantung kepada manusia mendatangkan keselamatan, dan menjaga lisan menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa menjaga lisan termasuk amalan yang paling dicintai Allah, sementara banyak diam dan menjauhi percakapan yang tidak bermanfaat merupakan bagian penting dari keselamatan seorang mukmin.
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA
Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 19
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: [أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) نَفْسِهَا (الْخُلُودُ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) أَيْ إطَالَةُ الْإِقَامَةِ فِي الْجَنَّةِ أَنْعَمُ لِأَهْلِهَا مِنْ وُجُودِ نَفْسِ الْجَنَّةِ (وَخِذْمَةُ الْمَلَائِكَةِ فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) فَخِدْمَةُ الْمَلَائِكَةِ تَدُلُّ عَلَى زِيَادَةِ ارْتِفَاعِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (وَجِوَارُ الْأَنْبِيَاءِ) بِكَسْرِ الْجِيمِ وَضَمِّهَا مِنْ قُرْبِهِمْ (فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَحَسُنَ أُوْلّئِكَ رَفِيْقًا﴾ [النِّسَاءُ: الْآيَةَ ٦٩]، (وَرِضَا اللَّهِ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ) عَنْ أَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) لِأَنَّ رِضْوَانَ اللَّهِ تَعَالَى أَكْبَرُ مِنْ جَمِيعِ النِّعَمِ.
Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Nabi sesungguhnya Nabi bersabda: Empat) Dari perkara (Di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Dzatnya Surga (Kekal di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Maksudnya lama tinggal di dalam surga itu lebih nikmat bagi penduduk surga daripada keberadaan surga itu sendiri (Dan berkhidmatnya para malaikat di dalam surga) Kepada penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Maka berkhidmahnya para malaikat itu menujukkan atas lebih tingginya derajat penduduk surga (Dan bertetangga dengan para Nabi) Ladadz جِوَارُ dengan mengkasrohkan huruf jim atau mendhommahkannya karena dekat dengan mereka (Di dalam surga) Bagi penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Dan sebaik-baiknya para nabi itu sebagai teman﴿ [An-Nisa: Ayat 69] (Dan ridho Allah Ta'ala di dalam surga) Pada penduduka surga (Itu lebih baik daripada surga) Karena sesungguhnya ridho allah Ta'ala itu lebih besar daripada seluruh jenis kenikmatan.
(وَأَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) نَفْسِهَا (اَلْخُلُودُ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) أَيْ طُولُ الْإِقَامَةِ فِيهَا أَشَدُّ عَلَى أَهْلِهَا مِنْ دُخُولِهَا (وَتَوْبِيْخُ الْمَلَائِكَةِ الْكُفَّارَ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالتَّوْبِيخُ التَّعْيِيرُ وَالتَّعْنِيفُ وَالتَّهْدِيدُ (وَجِوَارُ الشَّيْطَانِ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالشَّيْطَانُ قَرِينُ أَهْلِهَا فِي سِلْسِلَةٍ وَاحِدَةٍ (وَغَضَبُ اللَّهِ تَعَالَى فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ]) وَأَهْلُ اللَّهِ تَعَالَى لَا يُبَالُونَ مِنْ دُخُولِ النَّارِ إذَا حَصَلَ لَهُمُ الرِّضْوَانُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَالْحَيَّاتُ وَالْعَقَارِبُ فِي النَّارِ لَا تَتَأَلَّمُ بِهَا لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَضِيَ عَنْهَا فِي دُخُولِهَا النَّارَ.
(Dan empat) Dari perkara (Di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Dzatnya neraka (Kekal di dalam neraka) Maksudnya lama tinggal di dalam neraka itu lebih buruk atas penduduk neraka daripada masuk ke dalam neraka (Dan menegurnya para malaikat kepada orang kafir di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Taubikh adalah mengibaratkan dan menegur dan menggertak (Dan bertetangga dengan setan di neraka itu lebih buruk daripada neraka) Maka setan itu mendampingi ahli neraka dalam rantai yang satu (Dan murka Allah Ta'ala di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka]) Dan para wali Allah Ta'ala itu mereka tidak perduli masuk neraka ketika hasil kepada mereka ridho dari Allah Ta'ala. Maka ular-ular dan kalajengking-kalajengking di dalam neraka itu tidak merasa sakit sebab neraka karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah ridho kepada mereka dalam masuknya mereka ke dalam neraka.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 20
(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ حِينَ سُئِلَ كَيْفَ أَنْتَ) أَيْ عَلَى أَيِّ حَالٍ أَنْتَ (فَقَالَ: أَنَا مَعَ الْمَوْلَى) أَيْ الْمُتَوَلِّي لِأُمُورِنَا (عَلَى الْمُوَافَقَةِ) لِأَوَامِرِهِ (وَمَعَ النَّفْسِ عَلَى الْمُخَالَفَةِ) لِمُرَادَاتِهَا (وَمَعَ الْخَلْقِ عَلَى النَّصِيحَةِ) وَهِيَ الدُّعَاءُ إِلَى مَا فِيهِ الصَّلَاحُ وَالنَّهْيُ عَمَّا فِيهِ الْفَسَادُ (وَمَعَ الدُّنْيَا) أَيْ مَتَاعِهَا (عَلَى الضَّرُورَةِ) أَيْ الْحَاجَةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي لَا مَدْفَعَ لَهَا.
Maqolah yang ke dua puluh (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana ketika ditanya bagaimana kamu) Maksudnya dalam kondisi apa kamu (Kemudian ia menjawab: Aku bersama tuhan) Maksudnya dzat yang mengatur urusan kita (Dalam keserasian) pada perintah-perintah tuhan (Dan bersama nafsu dalam keadaan menyelisihi) pada yang di inginkan nafsu (Dan bersama makhluk dalam nasihat) Nasihat adalah mengajak kepada perkara yang didalamnya ada kemaslahatan dan mencegah dari perkara yang di dalamnya ada kerusakan (Dan bersama dunia) Maksudnya kesenangan dunia (Dalam kedaruratan) Maksudnya kebutuhan yang pasti yang tidak bisa ditolak pada kebutuhan itu.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 21Maqolah yang ke dua puluh satu (Telah memilih sebagian orang-orang yang bijaksana pada empat kalimat) Maksudnya pada empat jumlah (Dari empat kitab-kitab) Samawi (Dari kitab Taurat: Barang siapa yang ridho atas perkara yang telah memberikan kepadanya Allah Ta'ala) Dari rizqi (Maka menjadi tenang) Maksudnya jadi rasa lelahnya orang itu menghilang (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab Injil: Barang siapa yang menghancurkan syahwat-syahwatnya) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan perkara yang diinginkan nafsu (Maka mulia) Maksudnya ia menjadi kuat (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab zabur: Barang siapa yang menyendiri) dengan dirinya dan dengan hartanya (Dari manusia maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan dan ia jauh dari kerusakan itu di dunia dan di akhirat (Dan dari Al-Furqon: Barang siapa yang menjaga pada lisan) Dari perkara yang tidak ada faedah di dalamnya dan dari perkara yang tidak di anggap dengannya (Maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan-kerusakan (Di dunia dan di akhirat).
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah menjaga lidah] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Keselamatan itu ada 10 bagian yang kesembilan itu dalam diam dan kesepuluh itu dalam menyendiri dari manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailimi.
Nashoihul Ibad Bab 4
Source: https://lilmuslimin.com

















