Kamis, 19 Februari 2026

Ramadhan Ceria: Bersama PAI KUA Kalimanah, Bina Santri Berakhlak Mulia

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan motivasi kepada para santri TPQ Nurul Iman Penaruban di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Purbalingga-Suasana penuh semangat dan kebahagiaan mewarnai hari menyambut Ramadhan 1447 H di Mushala Al Haq pada Selasa (16/2/2026) sore lalu. Di hadapan para santri TPQ Nurul Iman Penaruban, PAI KUA Kalimanah, yang sekaligus Kepala TPQ Nurul Iman Penaruban, Imam Edi Siswanto, hadir memberikan motivasi yang menyejukkan hati. 

Menurutnya, momentum awal Ramadhan ini dijadikan sebagai penguat tekad atau niat karena Allah untuk menyambut bulan suci dengan hati yang gembira dan penuh harapan.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Imam%20Edi%20Siswanto 

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan motivasi kepada para santri TPQ Nurul Iman Penaruban di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Dalam pesannya dengan bahasa sederhana dan diselingi kisah para Nabi yang inspiratif, Imam Edi Siswanto mengajak para santri untuk merasa senang dan bangga karena dipertemukan kembali dengan bulan mulia yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan. 

"Untuk anak-anakku semua, bahwa Ramadhan itu mengajarkan kita untuk menahan makan dan minum, tetapi juga kesempatan kita semua untuk belajar dan memperbaiki diri serta meningkatkan iman sejak usia anak-anak," katanya disambut jawaban semangat anak-anak.

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan motivasi kepada para santri TPQ Nurul Iman Penaruban di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Ia juga memberikan apresiasi kepada anak-anak yang mulai belajar menahan makan dan minum. Menurutnya, itu adalah langkah awal yang sangat baik. 

Namun, perjuangan tidak berhenti di situ. Para santri diajak melanjutkan latihan dengan belajar menahan diri dari perilaku nakal dan kebiasaan berbohong, serta membiasakan berkata jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Para santri TPQ Nurul Iman Penaruban pada acara silaturahmi menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Di akhir motivasinya, Ia memberikan satu kuis dan hadiah kepada santri sebagai pesan agar para santri semakin rajin belajar, taat beribadah, serta menghormati orang tua dan para ustadz. 

Dengan semangat Ramadhan, diharapkan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat iman dan indah akhlaknya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 18 Februari 2026

#24 Tanda Kebaikan Hamba dalam Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 41-45

Staf KUA Kalimanah, H. Mukhyono (tengah) saat membacakan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani pada Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 24, Rabu (18/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-24 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, H. Mukhyono dan penjelasan oleh Prayitno, Rabu (18/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 
41–45 dari Kitab Nashoihul Ibad.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 41–45 menjelaskan tanda-tanda kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya, yaitu diberi pemahaman agama, dijauhkan dari kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta disadarkan akan kekurangan diri agar mudah memperbaiki akhlak. 

Rasulullah ﷺ mencontohkan bahwa hal-hal yang dicintai di dunia harus mengarah pada kedekatan kepada Allah, seperti shalat, berbuat kebaikan, menolong sesama, serta menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Nasehat para ulama juga menegaskan bahwa manusia tidak boleh hanya bergantung pada akal, harta, atau makhluk, melainkan harus bersandar kepada Allah. 

Buah dari mengenal Allah adalah tumbuhnya rasa malu berbuat maksiat, cinta karena Allah, dan ketenangan hati dalam mengingat-Nya. Selain itu, cinta kepada Allah menjadi dasar ma’rifat yang ditandai dengan keyakinan kuat, menjaga kehormatan diri, bertakwa, serta ridha terhadap segala ketentuan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang terasa berat.

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 24 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (18/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Berikut terjemahan 
Maqolah 41–45 dari Kitab Nashoihul Ibad Bab 3.

Bab 3 Maqolah 41

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (قِيلَ: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا) كَامِلًا (فَقَّهَهُ فِي الدِّينِ) أَيْ فِي أُصُولِهِ وَفُرُوعِهِ (وَزَهَّدَهُ فِي الدُّنْيَا) أَيْ جَعَلَ قَلْبَهُ خَالِيًا مِمَّا خَلَتْ مِنْهُ يَدُهُ (وَبَصَّرَهُ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ).

Maqolah yang ke empat puluh satu (Dikatakan: Ketika Allah menginginkan pada seorang hamba kebaikan) Yang sempurna (Maka Allah akan memberikan ia pemahaman dalam beragama) Maksudnya dalam pokok agama dan cabangnya (Dan Allah menjadikan ia zuhud di dunia) Maksudnya Allah menjadikan hatinya kosong dari perkara yang kosong dari perkara itu tangannya (Dan Allah akan memperlihatkan kepada hamba itu tentang aib-aib dirinya sendiri).

Bab 3 Maqolah 42

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ) أَيْ مَحْبُوبَاتِكُمْ مِمَّا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (ثَلَاثٌ: الطِّيبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِى الصَّلَاةِ]) وَهَذِهِ الْخِصَالُ الَّتِي وَقَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَيْسَتْ مِنَ الدُّنْيَا فِي شَيْءٍ لِأَنَّ كُلَّ مَا كَانَ لِلَّهِ تَعَالَى لَيْسَ مِنَ الدُّنْيَا كَالَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ مِنَ الْقُوْتِ وَالْمَسْكَنِ وَالْمَلْبَسِ كَمَا قَالَهُ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيْدِيُّ فِي الْمَجَالِسِ الرَّائِقَةِ (وَكَانَ مَعَهُ) ﷺ (أَصْحَابُهُ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (جُلُوسًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا) أَيْ مِمَّا كَانَ بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (ثَلَاثٌ: النَّظْرُ إِلَى وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (وَإِنْفَاقُ مَالِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (وَأَنْ تَكُونَ اِبْنَتِيْ تَحْتَ رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالثَّوْبُ الْخَلَقُ) بِفَتْحَتَيْنِ أَيْ الْبَالِي. رُوِيَ أَنَّهُ كَانَ فِي جُبَّتِهِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ رُقْعَةً (فَقَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا عُمَرُ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: إِشْبَاعُ الْجِيْعَانِ وَكِسْوَةُ الْعُرْيَانِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ) رُوِيَ أَنَّهُ خَتَمَ الْقُرْآنَ فِي رَكْعَتَيْنِ فِي اللَّيْلِ (فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (صَدَقْتَ يَا عُثْمَانُ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: الْخِدْمَةُ لِلضَّيْفِ، وَالصَّوْمُ فِي الصَّيْفِ) أَيْ فِي وَقْتِ شِدَّةِ الْحَرِّ (وَالضَّرْبُ) أَيْ لِلْأَعْدَاءِ (بِالسَّيْفِ).

Maqolah yang ke empat puluh dua (Dari Rasulullah ﷺ sesungguhnya Rasulullah bersabda: [Telah dicintai oleh ku dari dunia kalian) Maksudnya yang dicintai oleh kalian dari perkara yang ada di antara langit dan bumi (Tiga perkara: Wewangian dan wanita dan telah dijadikan kebahagiaan hatiku didalam sholat]) Tiga perkara yang datang kepada Rasulullah ﷺ bukan termasuk dari dunia sedikitpun karena sesungguhnya setiap perkara yang terbukti karena Allah ta'ala itu tidak termasuk dari dunia seperti perkara yang tidak bisa tidak darinya dari makanan pokok dan tempat tinggal dan pakaian sebagaimana telah berkata tentang hal itu Syaikh Kholil Al-Rasyid dalam kitab Al-Majalis Ar-Roiqoh (Dan ada bersama Rasulullah) ﷺ (Sahabat-sahabatnya) Radhiallahu Anhum (Sambil duduk kemudian berkata Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu Ta'ala Anhu: Anda benar wahai Rasulullah, dan telah dicintai olehku dari dunia) Maksudnya dari perkara yang ada di antara langit dan bumi (Tiga: Melihat wajah Rasulullah) ﷺ (Dan menginfaqkan hartaku kepada Rasulullah) ﷺ (Dan ada putriku itu menjadi istri Rasulullah) ﷺ (Kemudian berkata Umar Radhiallahu Anhu: Kamu benar wahai Abu Bakar. Dan dicintai olehku dari dunia tiga: Amar ma'ruf dan nahi munkar dan memakai baju yang rusak) lafadz الخلق dengan memfathahkan keduanya maksudnya rusak. Diriwayatkan sesungguhnya Umar bin Khottob ada pada jubahnya empat belas tambalan (Kemudian berkata Utsman Radhiallahu Anhu: kamu benar wahai Umar. Dan dicintai olehku dari dunia tiga: Mengenyangkan orang yang lapar dan memberi pakaian pada orang yang telanjang dan membaca Al-Quran) Diriwayatkan sesungguhnya Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Quran dalam dua rakaat di waktu malam (Kemudian berkata Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhah (Kamu benar wahai Utsman. Dan dicintai olehku dari dunia tiga: Melayani orang lemah dan puasa di musim kemarau) Maksudnya di waktu yang sangat panas (Dan memenggal) Kepada musuh-musuh (Dengan pedang). 

Staf KUA Kalimanah, Prayitno (kanan depan) saat menjelaskan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani pada Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 24, Rabu (18/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
 

 (فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَ جِبْرِيلُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ لِلنَّبِيِّ ﷺ (وَقَالَ) أَيْ سَيِّدُنَا جِبْرِيلُ (أَرْسَلَنِي اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَمَّا سَمِعَ مَقَالَتَكُمْ وَأَمَرَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ تَسْأَلَنِي عَمَّا أُحِبُّ أَنْ كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، فَقَالَ) أَيْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ (مَا تُحِبُّ) يَا جِبْرِيلُ (أَنْ كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، فَقَالَ: إِرْشَادُ الضَّالِّينَ) إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ (وَمُؤَانَسَةُ الْغَرَبَاءُ الْقَانِتِينَ) أَيْ الْمُطِيعِينَ لِلَّهِ تَعَالَى الْخَاشِعِينَ لَهُ تَعَالَى (وَمُعَاوَنَةُ أَهْلِ الْعِيَالِ الْمُعْسِرِينَ) أَيْ الْفُقَرَاءِ. (قَالَ جِبْرِيلُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (يُحِبُّ رَبُّ الْعِزَّةِ جَلَّ جَلَالُهُ مِنْ عَبِيْدِهِ ثَلَاثَ خِصَالٍ: بَذْلَ الْاِسْتِطَاعَةِ) أَيْ إِعْطَاءَ الْقُدْرَةِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى (وَالْبُكَاءَ عِنْدَ النَّدَامَةِ) أَيْ عَلَى فِعْلِ الْمَعَاصِي (وَالصَّبْرَ عِنْدَ الْفَاقَةِ) أَيْ وُجُودِ الْحَاجَةِ.

(Maka tatkala mereka seperti itu ketika datang malaikat Jibril) Alaihis Salam kepada Nabi ﷺ (Dan ia berkata) Maksudnya tuan kita Jibril (Telah mengutus kepadaku Allah Tabaraka Wata'ala ketika Allah mendengar perkataan kalian dan Allah memerintahkanmu wahai Rasulullah supaya engkau bertanya kepadaku tentang apa yang aku cintai jika aku terbukti termasuk dari penduduk dunia, Kemudian bersabda) Maksudnya Rasulullah ﷺ (Apa yang engkau cintai) Wahai Jibril (Jika engkau terbukti termasuk dari penduduk dunia, maka malaikat Jibril berkara: Memberikan petunjuk pada orang yang tersesat) Menuju jalan yang lurus (Dan bersikap ramah kepada orang asing yang taat) Maksudnya Yang taat kepada Allah yang khusyu kepada Allah Ta'ala (Dan menolong keluarga yang kesusahan) Maksudnya orang-orang faqir. (Telah berkata Malaikat Jibril) Alaihis Salam (Rabbul Izzati Jalla Jalaaluh mencintai dari hambanya pada tiga perkara: Mengerahkan segala kemampuan untuk taat) Maksudnya mengerahkan segala kemampuan dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala (Menangis ketika menyesal) Maksudnya atas perbuatan maksiat (Sabar ketika melarat) Maksudnya ketika ada kebutuhan.

Bab 3 Maqolah 43

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ: مَنْ اِعْتَصَمَ بِعَقْلِهِ ضَلَّ) أَيْ مَنْ اِعْتَمَدَ عَلَى عَقْلِهِ فِي أُمُورِهِ وَلَمْ يَعْتَمِدْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي ذَلِكَ لَمْ يَهْتَدِ إِلَى الصَّوَابِ (وَمَنْ اسْتَغْنَى بِمَالِهِ قَلَّ) أَيْ مَنْ اكْتَفَى بِمَالِهِ لَمْ يَكْفِهِ ذَلِكَ، وَفِي الْحَدِيثِ: مَنْ اِسْتَغْنَى بِاللَّهِ أَغْنَاهُ (وَمَنْ عَزَّ بِمَخْلُوقٍ ذَلَّ) أَيْ وَمَنْ كَانَتْ قُوَّتُهُ بِمَخْلُوقٍ صَارَ ذَلِيلًا.

Maqolah yang ke empat puluh tiga (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana: Barang siapa yang berpegang teguh pada akalnya maka pasti tersesat) Maksudnya barang siapa yang bergantung pada akalnya di dalam urusannya dan ia tidak bergantung kepada Allah dalam hal itu maka ia tidak akan menerima petunjuk menuju kebenaran (Dan barang siapa yang merasa kaya dengan hartanya maka pasti sedikit) Maksudnya barang siapa yang merasa cukup dengan hartanya maka tidak akan mencukupinya harta itu, dan dalam satu hadits: Barang siapa yang merasa kaya sebab Allah maka Allah akan menjadikan ia kaya (Dan barang siapa yang merasa mulia sebab makhluq maka pasti hina) Maksudnya barang siapa yang terbukti kekuatanynya sebab makhluq maka pasti ia akan menjadi orang yang hina.

Bab 3 Maqolah 44

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) وَهُمُ الَّذِينَ يَكُونُ قَوْلُهُمْ وَفِعْلُهُمْ مُوَافِقًا لِلسُّنَّةِ (ثَمْرَةُ الْمَعْرِفَةِ) أَيْ إِدْرَاكِ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى (ثَلَاثُ خِصَالٍ: الْحَيَاءُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى) أَيْ اِنْقِبَاضُ الْقَلْبِ عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ تَعَالَى (وَالْحُبُّ فِي اللَّهِ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِيمَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الثَّوَابِ وَحُصُولِ رِضَاهُ تَعَالَى (وَالْأُنْسُ بِاللَّهِ) وَهُوَ الصَّحْوُ بِاللَّهِ تَعَالَى فَكُلُّ مُسْتَأْنِسٍ صَالِحٌ وَهُوَ أَثَرُ مُشَاهَدَةِ جَمَالِ حَضْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْقَلْبِ.

Maqolah yang ke empat puluh empat (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Mereka adalah orang yang terbukti ucapannya dan prilakunya sesuai dengan sunnah (Buah kema'rifatan) Maksudnya memahami sifat-sifat Allah Ta'ala (Itu tiga perkara: Malu kepada Allah) Maksudnya menyusutnya hati dari berbuat maksiat kepada Allah Ta'ala (Dan cinta karena Allah) Maksudnya suka pada perkara yang ada di sisi Allah dari pahala-pahala dan hasilnya ridho Allah Ta'ala (Dan gembira karena Allah) Yaitu merasa tenang dengan Allah Ta'ala maka setiap yang menjadikan hati tenang itu baik yaitu tanda menyaksikan keindahan Allah dalam hati.  

Bab 3 Maqolah 45

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [الْمَحَبَّةُ) فِي اللَّهِ تَعَالَى وَهِيَ أَنْ تَعْبُدَهُ (أَسَاسُ الْمَعْرِفَةِ) فَإِنَّ لِلصُّوْفِيَّةِ ثَلَاثَ مَرَاتِبَ: شَرِيْعَةً وَهِيَ عِنْدَهُمْ عِبَادَةُ اللَّهِ تَعَالَى لِأَنَّهَا الْمَقْصُودَةُ مِنَ الشَّرِيعَةِ الَّتِي هِيَ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ الْأَحْكَامُ الَّتِي بَيَّنَهَا اللَّهُ تَعَالَى لَنَا وَطَرِيقَةً لَنَا وَهِيَ قَصْدُ اللَّهِ تَعَالَى بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَمَعْرِفَةً وَهِيَ الْعِلْمُ بِبَوَاطِنِ الْأُمُورِ وَهِيَ ثَمْرَتُهَا (وَالْعِفَّةُ) أَيْ الْاِمْتِنَاعُ عَنِ السُّؤَالِ مِنَ الْخَلْقِ (عَلَامَةُ الْيَقِينِ) وَهُوَ اعْتِقَادُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَادِرٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَرَازِقٌ كُلَّ حَيَوَانٍ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّ الرِّزْقَ لَا يَصِلُ إلَيْهِ إلَّا بِسَوْقِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَيْهِ (وَرَأْسُ الْيَقِينِ التَّقْوَى) أَيْ أَصْلُ الْيَقِينِ اِمْتِثَالُ أَمْرِ اللَّهِ وَاجْتِنَابُ نَهْيِهِ (وَالرِّضَا بِتَقْدِيرِ اللَّهِ) وَهُوَ سُرُورُ الْقَلْبِ بِمَا قَدَّرَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ مِنَ الْمُرِّ وَالْحُلْوِ وَبِمَا قَضَاهُ.

Maqolah yang ke empat puluh lima (Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Cinta) Di jalan Allah yaitu kamu beribadah kepada Allah (Adalah pondasi kemarifatan) Karena sesungguhnya untuk para ahli tasawuf ada tiga martabat : Syariat yaitu menurut para ahli tasawuf adalah beribadah kepada Allah Ta'ala karena sesungguhnya beribadah kepada Allah adalah yang dituju dari syariat yang syariat itu menurut ahli fiqih adalah hukum-hukum yang telah menjelaskan pada hukum-hukum itu Allah Ta'ala kepada kita. Dan Toriqoh untuk kita yaitu bermaksud kepada Allah Ta'ala dengan ilmu dan amal. Dan marifat yaitu mengetahui esensi setiap perkara yaitu buahnya cinta (Menahan diri) Maksudnya menahan diri dari meminta-minta dari makhluq (Adalah tandanya keyakinan) Yaitu bertekad sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan Allah memberi rizki kepada setiap makhluk dengan bertekad sesungguhnya rizki itu tidak akan hasil kecuali dengan kiriman dari Allah Ta'ala kepadanya (Dan pokok dari keyakinan adalah takwa) Maksudnya asal dari keyakinan adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya (Dan Ridho atas taqdir dari Allah) Yaitu bahagianya hati pada perkara yang telah mentakdirkan atas perkara itu Allah Ta'ala kepadanya dari takdir yang pahit dan yang manis dan atas perkara yang Allah telah menentukan atas perkara itu.   

Source: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Minggu, 15 Februari 2026

Sukseskan Geber BBM, PAI KUA Kalimanah Bersama Santri dan Takmir Jemput Ramadhan dengan Gotong Royong

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat melaksanakan Program Gerakan Bersama (Geber) Bersih-Bersih Masjid dan Mushala (BBM) yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Imam Edi Siswanto, bersama para santri kelas Al-Qur’an dan kelas Ta’limul Qur’an Lil Aulad (TQA) Nurul Iman Penaruban serta Takmir Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, menggelar kegiatan bersih-bersih mushala, Ahad (15/2/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kegiatan

Kegiatan ini sekaligus menyukseskan Program Gerakan Bersama (Geber) Bersih-Bersih Masjid dan Mushala (BBM) Tahun 2026, yang diinisiasi oleh Direktur Jenderal Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia, dalam rangka meningkatkan kualitas pemberdayaan Rumah Ibadah (Masjid Berdaya Berdampak) jelang Ramadan 1447 H/2026 M. 

Santri dan remaja TQA Nurul Iman Penaruban bersam aTakmir Msuhala Al Haq Penaruban pada kegiatan bersih-bersih mushala di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam edi Siswanto)

Dijelaskan oleh Imam Edi, bahwa suasana kerja bakti berlangsung lancar, penuh semangat gotong royong dan kebersamaan. Anak-anak, remaja, dan orang tua berbaur tanpa sekat, bekerja sesuai kemampuan masing-masing. 

Pemandangan ini bukan sekadar aktivitas membersihkan bangunan, melainkan juga potret pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat.

Gotong Royong yang Bernilai Ibadah
Menurut Imam Edi Siswanto, yang juga Kepala TPQ Nurul Iman dan Penasehat Takmir Mushala Al Haq, kerja bakti telah menjadi tradisi masyarakat muslim.

“Gotong royong itu sudah menjadi ciri masyarakat desa, selain juga bernilai ibadah,” jelasnya.

Santri Kelas Al Quran TPQ Nurul Iman Penaruban pada kegiatan bersih-bersih mushala di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam edi Siswanto)

Pernyataan ini menegaskan bahwa kerja bakti bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga sarana memperkuat ukhuwah (persaudaraan) sekaligus ladang pahala.

Belajar dari Tindakan, Bukan Sekadar Teori
Anak-anak dan remaja dibagi dalam beberapa kelompok. Anak-anak bertugas menyapu lantai, membersihkan kaca jendela, serta menata kitab dan buku di lemari. 

Remaja menangani pekerjaan yang lebih menantang seperti membersihkan kipas angin, ventilasi, langit-langit, tempat wudhu, dan WC.

Sementara pekerjaan berat seperti memperbaiki kabel listrik, saluran air, sound system, dan peralatan lainnya dikerjakan oleh para orang tua.

Pembagian tugas ini bukan tanpa tujuan. Imam Edi menjelaskan alasan pentingnya melibatkan anak-anak TPQ dalam kegiatan tersebut:

1. Islam mengajarkan rajin bekerja sejak dini.
2. Melatih tanggung jawab.
3. Menumbuhkan rasa peduli dan memiliki terhadap rumah ibadah.
4. Membangun kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Mendatangkan pahala karena bagian dari ibadah dan sedekah tenaga.
6. Membentuk karakter sukses anak yang gemar membantu di rumah dan di masyarakat.
7. Menunjukkan semangat menyambut Ramadhan sebagai salah satu ciri orang beriman.

Ketua Takmir Mushala al Haq, H. Mudasir (berkopiah) saat kegiatan bersih-bersih mushala di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam edi Siswanto)

Menanam Kenangan, Menuai Kerinduan
Lebih dari sekadar bersih-bersih, kegiatan ini menjadi pengalaman yang membekas di hati anak-anak. 

Di masa depan, kenangan menyapu lantai mushala atau membersihkan jendela bersama teman dan orang tua akan menjadi panggilan rindu untuk kembali memakmurkan masjid dan mushala.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membersihkan hati, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kepedulian. 

Ketika generasi muda diajak terlibat sejak dini, mereka tidak hanya belajar tentang ibadah, tetapi juga tentang cinta kepada Allah, kepada sesama, dan kepada rumah-Nya.

Semoga semangat gotong royong ini terus terjaga, menjadikan mushala bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan karakter dan kebersamaan umat.(*)

Pewarta: Imam Edi siswanto 

Jumat, 13 Februari 2026

Langkah Penuh Berkah: Pendampingan Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah Antarkan Wakaf Masjid Nurul Iman Menuju Kepastian Hukum

Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI. (berbaju Korpri) saat diacara Ikrar Wakaf untuk Masjid Nurul Iman, Rabu (12/2/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Zamroni Irham, kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendampingi masyarakat, kali ini melalui keberhasilan proses pembuatan Akta Ikrar Wakaf untuk Masjid Nurul Iman Desa Babakan, Rabu (12/2/2026) siang kemarin.

Menurutnya, prosesi Ikrar Wakaf dipimpin langsung oleh Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=wakaf

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakif Sigit Tri Hantoro, Ketua Nadzir Masjid Nurul Iman H. Ali Ma’ruf beserta jajaran pengurus, serta dua orang saksi yakni Kadinah Maulana dan Miswanto. Sejumlah jamaah masjid juga tampak hadir untuk menyaksikan momentum penting tersebut sebagai bentuk dukungan dan kebahagiaan bersama.

Pelaksanaan ikrar wakaf ini menjadi momen yang sangat dinanti. Setelah melalui proses panjang selama kurang lebih sembilan tahun, akhirnya perjuangan masyarakat dan pengurus masjid membuahkan hasil.

Doa bersama pada diacara Ikrar Wakaf untuk Masjid Nurul Iman, Rabu (12/2/2026). (Foto: Zamroni Irham)

"Rasa lega dan haru menyelimuti seluruh pihak yang hadir, karena tahapan penting dalam penguatan status hukum tanah wakaf berhasil dilaksanakan," ungkap Zamroni.

Dengan terlaksananya Ikrar Wakaf, sambungnya, langkah selanjutnya adalah pengurusan sertifikat tanah wakaf. Sertifikat tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian hukum sekaligus melindungi aset wakaf dari potensi penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Selain itu, keberadaan sertifikat wakaf juga akan mendukung tertib administrasi pengelolaan aset kemasjidan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh umat," katanya menegaskan.

Keberhasilan pendampingan ini menjadi bukti nyata komitmen penyuluh agama dalam memberikan pelayanan keagamaan, edukasi hukum wakaf, serta penguatan tata kelola aset umat. .

Sinergi antara masyarakat, nadzir, dan penyuluh agama diharapkan terus terjalin demi menjaga keberlangsungan manfaat wakaf sebagai amal jariyah yang bernilai ibadah dan kemaslahatan bersama.(*)

Kontributor: Zamroni Irham
Editor: Imam Edi Siswanto

Melalui Tradisi Sadranan, Kepala KUA Kalimanah Ajak Tebar Manfaat untuk Sesama

Acara Sadranan KUA Kalimanah sebagai wujud pelestarian budaya Jawa sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kantor KUA Kalimanah pada Kamis (12/2/2026) kemarin. (Foto: Rizal)

Purbalingga-Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, KUA Kalimanah menggelar kegiatan sadranan sebagai wujud pelestarian budaya Jawa sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT di kantor KUA Kalimanah, Kamis (12/2/2026) kemarin.

Acara diikuti oleh seluruh staf dan Penyuluh Agam Islam (PAI) KUA Kalimanah bersama para Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (PPPN) dalam suasana penuh khidmat, kebersamaan, dan kekeluargaan. 

Tradisi sadranan menjadi momentum spiritual untuk mempererat silaturahmi sekaligus mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan penuh rasa syukur.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI, dalam sambutannya menyampaikan pesan penting tentang makna kebermanfaatan dalam kehidupan. Ia mengingatkan bahwa manusia terbaik adalah yang mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Beliau menyampaikan hadis Rasulullah SAW:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya".

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=kholidin 

Menurutnya, nilai kebermanfaatan tersebut harus tercermin dalam pelayanan kepada masyarakat, terlebih menjelang Ramadhan yang menjadi momentum meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh pegawai KUA Kalimanah, Amiin Muakhor. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya sikap syukur dalam setiap aspek kehidupan.

Ia mengajak seluruh peserta untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Menurutnya, rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap dan perilaku yang mencerminkan ketaatan serta kepedulian terhadap sesama.

Dalam pengajiannya, ia juga menyampaikan bahwa manusia harus mampu mensyukuri nikmat yang sudah dimiliki sekaligus berikhtiar meraih nikmat yang belum dicapai. 

Ia menjelaskan, para ulama mengajarkan bahwa nikmat yang telah ada dijaga dengan rasa syukur, sedangkan nikmat yang belum diraih ditempuh dengan kesungguhan usaha, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.

Menurutnya, syukur bukan hanya dengan lisan, tetapi diwujudkan dengan menggunakan nikmat untuk kebaikan dan ketaatan. Sementara untuk menggapai nikmat yang belum diperoleh, umat Islam diajarkan untuk memperbaiki niat, meningkatkan amal saleh, bersungguh-sungguh dalam berusaha, serta tidak berputus asa dari rahmat Allah. 

Ia menegaskan bahwa perpaduan antara syukur, ikhtiar, dan tawakal menjadi kunci keberkahan hidup serta jalan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setelah rangkaian kegiatan keagamaan, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Suasana kebersamaan tampak semakin hangat, penuh keakraban, dan mempererat hubungan kekeluargaan di antara seluruh pegawai dan PPPN.

Melalui kegiatan sadranan ini, KUA Kalimanah berharap tradisi budaya yang sarat nilai spiritual dapat terus dilestarikan sekaligus menjadi sarana memperkuat persiapan mental dan spiritual dalam menyambut Ramadhan. 

Momentum ini juga diharapkan mampu menumbuhkan semangat kebersamaan, pelayanan yang lebih baik, serta peningkatan kualitas ibadah seluruh aparatur KUA Kalimanah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 11 Februari 2026

#23 Menata Hidup dengan Hikmah: Pelajaran Berharga dari Maqolah 36–40 Nashoihul Ibad

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 23 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (11/2/2026). (Foto: Rizal)

Pubalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-23 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (11/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 36–40. 

Berikut
Rangkuman Maqolah 36–40 Kitab Nashoihul Ibad Bab 3

Maqolah 36 menjelaskan nasihat Luqman Al-Hakim bahwa hakikat manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu ruh yang kembali kepada Allah, amal yang akan kembali kepada diri manusia sebagai balasan kebaikan atau keburukan, serta jasad yang pada akhirnya akan hancur dan kembali menjadi tanah. Nasihat ini mengingatkan manusia agar lebih memperhatikan amal saleh karena itulah bekal yang akan dibawa setelah kematian.

Maqolah 37 menerangkan tiga amalan yang dapat memperkuat daya ingat dan kejernihan pikiran, yaitu bersiwak, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an. Ketiga amalan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan spiritual dan ketajaman hati.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 38 menyebutkan tiga benteng yang dapat melindungi seorang mukmin dari godaan setan, yaitu memakmurkan masjid, memperbanyak dzikir kepada Allah, serta membaca Al-Qur’an, khususnya Ayat Kursi. Amalan tersebut menjadi pelindung yang menguatkan iman dan menenangkan jiwa dari pengaruh keburukan.

Maqolah 39 mengajarkan bahwa terdapat tiga perkara yang termasuk karunia tersembunyi dari Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintai-Nya, yaitu kefakiran, sakit, dan kesabaran. Ketiganya merupakan ujian yang mengandung hikmah besar, karena dapat mendekatkan manusia kepada Allah, menumbuhkan ketulusan, serta melatih kerelaan menerima ketentuan-Nya.

Maqolah 40 menjelaskan keutamaan waktu dan amal dalam Islam. Hari terbaik adalah hari Jumat, bulan terbaik adalah bulan Ramadhan, dan amal terbaik adalah melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Selain itu, dijelaskan pula bahwa amal terbaik adalah amal yang diterima Allah meskipun sedikit, dan bulan terbaik adalah waktu seseorang bersungguh-sungguh bertaubat. Taubat yang sempurna ditandai dengan penyesalan dalam hati, memohon ampun dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa, serta bertekad tidak mengulanginya kembali.

Secara keseluruhan, maqolah 36–40 mengajarkan manusia agar menyadari hakikat kehidupan, memperbanyak amal saleh, menjaga diri dari godaan setan, bersabar menghadapi ujian, serta memanfaatkan waktu dan kesempatan hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 36

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ: أَنَّهُ قَالَ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ إِنَّ النَّاسَ ثَلَاثَةُ أَثْلَاثٍ: ثُلُثٌ لِلَّهِ، وَثُلُثٌ لِنَفْسِهِ، وَثُلُثٌ لِلدُّودِ، فَأَمَّا مَا هُوَ لِلَّهِ فَرُوحُهُ) فَهُوَ رَاجِعٌ لِلَّهِ تَعَالَى (وَأَمَّا مَا هُوَ لِنَفْسِهِ فَعَمَلُهُ) فَهُوَ رَاجِعٌ لِنَفْسِهِ بِالنَّفْعِ وَالْإِضْرَارِ (وَأَمَّا مَا هُوَ لِلدُّودِ فَجِسْمُهُ) فَهُوَ مَأْكُولُ الدُّودِ.

Maqolah yang ke tiga puluh enam (Dari Luqman Al-Hakim: Sesungguhnya ia berkata kepada anaknya: Wahai anakku sesungguhnya manusia itu terbagi tiga pertiga: Sepertiga untuk Allah dan sepertiga untuk dirinya dan sepertiga untuk cacing. Adapun sepertiga yaitu yang untuk Allah adalah ruh manusia) Maka ruh manusia itu kembali kepada Allah Ta'ala (Dan adapun sepertiga yaitu untuk manusia adalah amalnya) Maka amal manusia itu kembali kepada dirinya sendiri dengan manfaat dan madharat (Dan adapun sepertiga yaitu untuk cacing adalah jasad manusia) Maka jasad manusia itu menjadi makanan cacing.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 37

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ) وَرَضِيَ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثٌ يَزِدْنَ فِي الْحِفْظِ) فِي الذِّهْنِ (وَيُذْهِبْنَ الْبُلْغَمَ) وَهُوَ أَحَدُ الطَّبَائِعِ الْأَرْبَعَةِ وَهِيَ الْبُلْغَمُ وَالدَّمُ وَالسَّوْدَاءُ وَالصَّفْرَاءُ (السِّوَاكُ وَالصَّوْمُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ).

Maqolah yang ke tiga puluh tujuh (Dari Ali Karromallahu Wajhah) Waradhia Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Tiga perkara yang bisa menambah hafalan) Dalam hati (Dan menghilangkan dahak) Dahak adalah salah satu dari tabiat yang empat yaitu dahak, darah, empedu hitam dan empedu kuning (Yaitu siwak dan berpuasa dan membaca Al-Qur'an).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 38

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ كَعْبِ الْأَحْبَارِ) أَيْ مَلْجَأِ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْيَهُودِ أَسْلَمَ فِي زَمَنِ سَيِّدِنَا عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (الْحُصُونُ لِلْمُؤْمِنِينَ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثٌ) مِنَ الْخِصَالِ: أَيْ الَّتِي تَمْنَعُ الْمُؤْمِنِينَ وَتَحْفَظُهُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثٌ، وَالْحِصْنُ هُوَ الْمَكَانُ الْمُرْتَفِعُ الَّذِي يَمْنَعُ الْعَدُوَّ وَالْحِصْنُ أَيْضًا السِّلَاحُ كَمَا فِي الْأَسَاسِ (الْمَسْجِدُ حِصْنٌ) لِأَنَّهُ مَحَلُّ الذَّاكِرِينَ وَالْمَلَائِكَةِ (وَذِكْرُ اللَّهِ حِصْنٌ) لَا سِيَّمَا لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْقَبِضُ أَيْ يَخْتَفِي وَيَتَأَخَّرُ إِذَا سَمِعَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى (وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ حِصْنٌ) لَا سِيَّمَا آيَةُ الْكُرْسِيِّ كَمَا هُوَ مُجَرَّبٌ.

Maqolah yang ke tiga puluh delapan (Dari Ka'b Al-Ahbar) Maksudnya rujukan para ulama dari kalangan yahudi ia masuk Islam di zaman Sayyidina Umar bin Khottob Radhiallahu Anhu (Benteng-benteng untuk orang-orang yang beriman dari godaan syaiton itu ada tiga) perkara: Maksudnya yang mencegah kepada orang orang yang beriman dan melindungi dari syaitan itu ada tiga, الْحِصْنُ yaitu tempat yang tinggi yang mencegah kepada musuh الْحِصْنُ juga bermakna pedang sebagaimana dalam kamus Al-Asas (Masjid itu adalah benteng) Karena sesungguhnya masjid adalah tempat orang-orang yang berdzikir dan tempat para malaikat (Dan dzikir kepada Allah itu adalah benteng) Apalagi bacaan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ, Karena sesungguhnya setan itu menyusut dan sembunyi dan mundur ketika ia mendengar dzikrullahi Ta'ala (Dan membaca Al-Quran adalah benteng) apalagi ayat kursi sebagaimana ia telah dibuktikan.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 39

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثٌ مِنْ كَنْزِ اللَّهُ تَعَالَى) أَيْ مِمَّا يَدَّخِرُهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يُعْطِيهَا اللَّهُ إِلَّا مَنْ أَحَبَّهُ (الْفَقْرُ) وَهُوَ فَقْدُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَالْمَرَضُ) وَهُوَ يَعْرِضُ لِلْبَدَنِ فَيُخْرِجُهُ عَنِ الِاعْتِدَالِ الْخَاصِّ (وَالصَّبْرِ) وَهُوَ تَرْكُ الشَّكْوَى مِنْ أَلَمِ الْبَلْوَى لِغَيْرِ اللَّهِ لَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَالرِّضَا بِالْقَضَاءِ لَا يَقْدَحُ فِيهِ الشَّكْوَى إِلَى اللَّهِ وَلَا إِلَى غَيْرِهِ وَإِنَّمَا يَقْدَحُ بِالرِّضَا فِي الْمَقْضِيِّ وَإِنَّمَا لَزِمَ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ لِأَنَّ الْعَبْدَ لَا بُدَّ أَنْ يَرْضَى بِحُكْمِ سَيِّدِهِ، كَذَا فِي التَّعْرِيفَاتِ لِلسَّيِّدِ عَلِيٍّ الْجُرْجَانِي.

Maqolah yang ke tiga puluh sembilan (Dari sebagian orang yang bijaksana sesungguhnya mereka berkata: Tiga perkara dari sebagian gudangnya Allah) Maksudnya dari perkara yang Allah Ta'ala simpan pada perkara itu yang tidak akan Allah berikan perkara itu kecuali kepada orang yang Allah cintai (Kefaqiran) Kefaqiran adalah tidak adanya perkara yang ia membutuhkan pada perkara itu (Dan sakit) Sakit adalah yang menimpa pada badan kemudian mengeluarkan pada badan dari kenormalan yang khusus (Dan kesabaran) Sabar adalah meninggalkan prilaku mengeluh dari pedihnya cobaan kepada selain Allah tidak kepada Allah Ta'ala, dan ridho atas qodhonya tidak menjelek-jelekan dalam qodho mengeluh kepada Allah dan tidak kepada selain Allah dan sesungguhnya menjelek-jelekan atas ridho hanya dalam perkara yang dipastikan dan sesungguhnya wajib ridho pada qodho karena sesungguhnya seorang hamba tidak boleh tidak harus ridho pada hukum tuannya, seperti keterangan dalam kitab At-Ta'rifat milik sayyid Al-jurjani.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 40

(وَ) الْمَقَالَةُ الْأَرْبَعُونَ (عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا حِينَ سُئِلَ: مَا خَيْرُ الْأَيَّامِ وَمَا خَيْرُ الشُّهُورِ وَمَا خَيْرُ الْأَعْمَالِ؟ فَقَالَ) أَيْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ (خَيْرُ الْأَيَّامِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ) لِأَنَّهُ سَيِّدُ الْأَيَّامِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى لِهَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ (وَخَيْرُ الشُّهُورِ شَهْرُ رَمَضَانَ) لِأَنَّهُ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَفِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ وَفِيهِ الصِّيَامُ الْوَاجِبُ وَلِأَنَّ ثَوَابَ النَّفْلِ فِيهِ كَثَوَابِ الْفَرْضِ.

Maqolah yang ke empat puluh (Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma ketika ia ditanya: Apa sebaik-baiknya hari dan apa sebaik-baiknya bulan dan apa sebaik-baiknya amal? Maka ia berkata) Maksudnya Abdullah Bin Abbas (Sebaik-baiknya hari adalah hari Jum'at) Karena sesungguhnya hari Jum'at adalah tuannya hari Allah telah memberikan hari jumat untuk umat Nabi Muhammad ini (Dan sebaik-baiknya bulan adalah bulan Ramadhan) Karena sesungguhnya diturunkan di bulan Ramadhan Al-Qur'an dan di turunkan di bulan Ramadhan Lailatul Qodar dan di bulan Ramadhan diturunkan Puasa yang wajib dan karena sesungguhnya pahala amalan sunah di bulan Ramadhan itu seperti pahala amalan fardhu.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَرَّاقُ: شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ ذَلِكَ الزَّرْعِ.

Telah berkata Abu Bakar Al-Warroq: Bulan Rajab adalah bulan bercocok tanam dan bulan Sya'ban adalah bulan mengairi tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman itu.

(وَخَيْرُ الْأَعْمَالِ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ لِوَقْتِهَا) فَإِنَّهَا أَبْوَابُ الْأَعْمَالِ فَإِذَا فُتِحَتْ الصَّلَوَاتُ فُتِحَتْ سَائِرُ الْأَعْمَالِ وَإِذَا سُدَّتْ سُدَّتْ.

(Dan sebaik-baiknya amal adalah sholat yang lima waktu pada waktunya) Karena sesungguhnya sholat yang lima waktu adalah pintu-pintu berbagai amal. Ketika dibuka sholat lima waktu maka pasti terbuka sesisanya dari berbagai amal dan ketika dikunci maka pasti terkunci.

(فَمَاتَ ابْنُ عَبَّاسٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا (فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ) أَيْ وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ (فَمَضَى عَلَى ذَلِكَ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَبَلَغَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ) أَيْ الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ (فَأَجَابَ بِكَذَا) أَيْ بِذَلِكَ الْجَوَابِ الْمَذْكُورِ (فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ: (لَوْ سُئِلَ الْعُلَمَاءُ وَالْحُكَمَاءُ وَالْفُقَهَاءُ مِنَ الْمَشْرِقِ إلَى الْمَغْرِبِ) عَنْ تِلْكَ الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ (لَأَجَابُوا بِمِثْلِ مَا أَجَابَ بِهِ ابْنُ عَبَّاسٍ، إلَّا أَنِّي أَقُولُ) فِي جَوَابِ ذَلِكَ (إنَّ خَيْرَ الْأَعْمَالِ مَا يَقْبَلُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْكَ) سَوَاءٌ كَانَتْ قَلِيلَةً أَوْ كَثِيرَةً (وَخَيْرُ الشُّهُورِ مَا تَتُوبُ فِيهِ إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا).

(Kemudian Ibnu Abbas mati) Radhiallahu Anhuma (Di hari itu) Maksudnya yaitu hari Jumat (Kemudian berlalu atas kematian Ibnu Abbas tiga hari, kemudian sampailah kepada Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Sesungguhnya Ibnu Abbas telah ditanya tentang hal itu) Maksudnya pertanyaan yang tiga (Kemudian Ibnu Abbas menjawab begitu) Maksudnya dengan jawaban itu yang telah disebutkan (Kemudian berkata Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Jika ditanya para Ulama dan Hukama dan Fuqoha dari timur sampai ke barat) Tentang pertanyaan itu yang tiga (Pasti mereka akan menjawab dengan semisal jawaban yang telah menjawab atas hal itu Ibnu Abbas, Kecuali sesungguhnya aku akan berkata) Dalam menjawab pertanyaan itu (Sesungguhnya sebaik-baiknya amal adalah amalan yang telah menerima pada amalan itu Allah Ta'ala darimu) Sama saja adanya amalan itu sedikit atau banyak (Dan sebaik-baiknya bulan adalah bulan engkau bertaubat di bulan itu kepada Allah dengan taubat nasuha).

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: التَّوْبَةُ النَّصُوحُ النَّدَمُ بِالْقَلْبِ وَالِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ وَالْإِقْلَاعُ بِالْبَدَنِ وَالْإِضْمَارُ عَلَى أَنْ لَا يَعُودَ إلَى مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ. وَقِيلَ: التَّوْبَةُ النَّصُوحُ أَنْ لَا يَبْقَى عَلَى عَمَلِهِ أَثَرٌ مِنَ الْمَعْصِيَةِ سِرًّا وَجَهْرًا. وَقِيلَ: هِيَ الَّتِي تُورِثُ صَاحِبَهَا الْفَلَاحَ عَاجِلًا وَآجِلًا. (وَخَيْرُ الْأَيَّامِ مَا تَخْرُجُ فِيهِ مِنَ الدَّنِّیا إلْی اللَّهُ) تَعَالَی بِالْمَوْتِ (مُؤْمِنًا بِاللَّهِ، وَقَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْبَسِيطِ]

Telah berkata Ibnu Abbas: Taubat Nasuha adalah penyesalan dalam hati dan memohon ampun dengan lisan dan menahan dengan badan dan bertekad tidak akan mengulangi pada perkara yang telah melarangnya Allah dari hal itu. dan dikatakan: Taubatan Nasuha adalah tidak tersisa dari amalnya orang itu bekas dari kemaksiatan baik secara tersembunyi atau terang-terangan. Dan dikatakan: Taubatan Nasuha adalah taubat yang mewariskan pada orang yang memilikinya sebuah kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Dan sebaik-baiknya hari adalah hari engkau keluar di hari itu dari dunia menuju Allah) Ta'ala sebab mati (Dalam keadaan iman kepada Allah. Telah berkata seorang penyair dari [Bahar Basit]

وَنَحْنُ نَلْعَبُ فِي سِرٍّ وَإِعْلَانٍ * مَا تَرَى كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ
فَإِنَّ أَوْطَانَهَا لَيْسَتْ بِأَوْطَانٍ * لَا تَرْكَنَنَّ إِلَى الدُّنْيَا وَزُخْرُفِهَا
تَغْرُرْكَ كَثْرَةُ أَصْحَابٍ وَإِخْوَانٍ) * وَاعْمَلْ لِنَفْسِكَ مِنْ قَبْلِ الْمَمَاتِ فَلَا
Apakah kamu melihat bagaimana menghancurkan kita siang dan malam * Sedangkan kita masih bermain-main dalam rahasia maupun terang-terangan
Jangan sekali-kali kamu condong pada kesenangan dunia dan perhiasan dunia * Karena sesungguhnya tanah air dunia bukanlah tanah air yang sebenarnya
Dan beramallah kamu untuk kepentingan dirimu sebelum mati maka jangan * sampai menipu kepadamu banyaknya sahabat dan banyaknya saudara

قَوْلُهُ: كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ أَيْ يُفْنِيْنَا اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَهَذِهِ الْأَبْيَاتُ السَّبْعَةُ مِنْ بَحْرِ الْوَافِرِ تُنْسَبُ لِلْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى:

Ucapan lafadz: كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ Maksudnya bagaimana menghancurkan kita waktu siang dan malam, dan tujuh bait berikut ini dari bahar wafir yang dinisbatkan kepada Imam Al-Ghozali Rahimahullahu Ta'ala:

وَيُسْمَعُ مِنْكَ قَوْلُكَ فِى الْمَقَالِ * أَتَطْلُبُ أَنْ تَكُونَ كَثِيرَ مَالٍ
تُسَرُّ بِهِ وَمِنْ كُلِّ الرِّجَالِ * وَمِنْ كُلِّ النِّسَاءِ تُرَى وِدَادًا
مُهَابًا مُكْرَمًا وَكَثِيْرَ مَالٍ * وَيَأْتِيْكَ الْغِنَا وَتُرَى سَعِيدًا
مِنَ الْأَعْدَاءِ وَمِمَّنْ كَانَ وَالِيًّ * وَتُكْفَى كُلَّ حَادِثَةٍ وَمَکْرٍ
مُكَمَّلَةً عَلَى مَرِّ اللَّيَالِي * فَقُلْ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ أَلْفًا
أَشَرْتُ إِلَيْهِ مُرَخِّصَ كُلِّ غَالٍّ * بِلَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِنَّ فِي مَا
فَفِيهِ تَبْلُغُ الرُّتَبَ الْعَوَالِيَ * فَلَازِمْ مَا ذَكَرْتُ وَلَا تَدَعْهُ
Apakah kamu mencari supaya kamu menjadi orang yang banyak harta * Dan didengar darikamu ucapan ucapanmu dalam berkata
Dan dari setiap kaum wanita kamu terlihat disenangi * Kamu dibahagiakan oleh kaum wanita dan dari setiap kaum lelaki
Dan didatangkan kepadamu kekayaan dan kamu terlihat bahagia * berwibawa dan dimulyakan dan banyak hartanya
Dan dihindarkan dari setiap bencana dan tipuan * Dari musuh-musuh dan dari orang yang menjadi penguasa
Maka bacalah Yaa Hayyu Yaa Qoyyum seribu kali * Disempurnakan atas berlalunya setiap malam
Di waktu malam atau diwaktu siang. Sesungguhnya di dalam amalan-amalan * Yang telah aku tunjukkan pada amalan itu bisa membuat murah segala yang mahal
Maka kamu harus membiasakan pada amalan yang telah aku sebutkan dan janganlah kamu meninggalkannya * Maka sebab amalan itu kamu akan sampai pada derajat yang tinggi

Sumber: lilmuslimin.com
editor: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 10 Februari 2026

Empat PAI KUA Kalimanah Bekali Catin Ilmu Rumah Tangga, Berikut Uraian Singkat Materinya

PAI KUA Kalimanah, Mughofar, S.Ag., saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Dengan berbagai materi penguatan ketahanan keluarga dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di Balai Nikah KUA Kalimanah, empat Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah hadir sebagai narasumber, Selasa (10/2/2026)

Kegiatan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama sebagai upaya membekali calon pasangan suami istri dengan pemahaman keagamaan dan keterampilan membangun rumah tangga yang harmonis.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/bekali-calon-pengantin-menuju-keluarga.html

Berikut uraian singkat dari empat materi yang disampaikan oleh PAI KUA Kalimanah:

Materi pertama disampaikan oleh Moch. Agus Zaenal Abidin yang menekankan bahwa keluarga sakinah harus dibangun di atas pondasi agama yang kuat.

Ia menjelaskan bahwa suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang harus dijalankan dengan baik sesuai tuntunan Islam. Selain itu, ia juga mengingatkan agar mahar tidak memberatkan, tetapi tetap mengandung nilai manfaat serta bersifat halal dan baik.

“Suami dan istri harus saling menghormati, mengasihi, menyayangi, memahami, dan menjaga kekompakan dalam rumah tangga,” pesannya.

Materi kedua tentang hak dan kewajiban suami istri disampaikan oleh Mughofar. Ia mengingatkan agar calon pengantin tidak hanya fokus pada persiapan hari pernikahan, tetapi juga memikirkan kehidupan jangka panjang setelah menikah.

Menurutnya, pernikahan merupakan perjalanan seumur hidup yang membutuhkan kesiapan mental dan perubahan pola pikir.

“Setelah menikah, pasangan akan saling mengenal lebih dalam. Karena itu, suami dan istri harus memahami hak dan kewajibannya serta mampu memperlakukan pasangan dengan baik, termasuk ketika terjadi perubahan fisik seiring bertambahnya usia,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya terus belajar, khususnya ilmu agama, sebagai pedoman dalam mencapai tujuan pernikahan yang sakinah.

Materi ketiga disampaikan oleh Zamroni Irham yang membahas komunikasi dan penyelesaian konflik dalam keluarga. 

Ia menuturkan bahwa setiap rumah tangga pasti menghadapi dinamika kehidupan, sehingga komunikasi menjadi kunci utama menjaga keharmonisan keluarga.

Ia mengajak para calon pengantin untuk meluruskan niat pernikahan semata-mata karena Allah SWT agar mampu menghadapi setiap persoalan dengan bijak.

Selanjutnya, materi keempat disampaikan oleh Azizah Dwi Purba yang menekankan pentingnya komunikasi yang intens, efektif, dan penuh kelembutan dalam keluarga.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi dalam rumah tangga tidak hanya sebatas rutinitas atau penyampaian informasi, tetapi harus dibangun dengan empati dan kesabaran..

“Komunikasi yang baik menuntut kemampuan menahan amarah dan menumbuhkan sikap sabar dalam membangun keharmonisan keluarga,” ujarnya.

Kegiatan Bimwin juga diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab, yang dimanfaatkan para calon pengantin untuk berkonsultasi langsung dengan narasumber terkait berbagai persoalan kehidupan rumah tangga.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta mendapatkan sertifikat Bimwin sebagai tanda telah mengikuti pembekalan pranikah.

Melalui kegiatan ini, KUA Kalimanah berharap para calon pengantin memiliki bekal ilmu, kesiapan mental, serta pemahaman agama yang kuat, sehingga mampu membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah serta melahirkan generasi yang berakhlak mulia.(*)

Kontributor: Zamroni Irham
Editor: Imam Edi siswanto

Ramadhan Ceria: Bersama PAI KUA Kalimanah, Bina Santri Berakhlak Mulia

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan motivasi kepada para santri TPQ Nurul Iman Penaruban di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2...