 |
| Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kiri) saat menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 28, Rabu (15/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto) |
Pubalingga–Kajian
rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-28 kembali digelar pada Rabu pagi
di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks
oleh Staf
KUA Kalimanah, Pujianto dan penjelasan oleh staf, Amin Muakhor dan penjelasan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Rabu
(15/4/2026).
Dari
kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah
kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 1 dari Kitab Nashoihul
Ibad.Ringkasan Singkat Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 1:
Bab 4 menjelaskan pentingnya memperbaiki niat dan mengikhlaskan amal sebagai bekal utama menuju akhirat yang diibaratkan seperti perjalanan jauh, lautan dalam, dan jalan terjal.
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar setiap amal dilakukan dengan niat yang baik karena pertolongan Allah sangat bergantung pada keikhlasan niat. Manusia juga dianjurkan untuk memperbanyak bekal akhirat, meringankan beban dunia, serta menjauhi dosa dan memperbanyak taubat.
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab
Selain itu, diingatkan bahwa kehidupan dunia penuh perubahan, manusia sering lalai, dan kematian sangat dekat, sehingga perlu kesiapan diri dengan amal saleh. Intinya, keselamatan hidup terletak pada keikhlasan, kesederhanaan dalam dunia, dan kesungguhan mempersiapkan diri untuk akhirat.
Catatan Hikmah Maqolah 1
-
Niat adalah pondasi utama amal
Semua amal tergantung pada niat. Niat yang ikhlas akan mengubah hal biasa menjadi ibadah dan mendatangkan pahala serta keselamatan.
-
Ikhlas mendatangkan pertolongan Allah
Semakin bersih niat seseorang, semakin besar pertolongan Allah dalam hidupnya, baik urusan dunia maupun akhirat.
-
Hidup adalah perjalanan menuju akhirat
Dunia diibaratkan perjalanan jauh yang penuh ujian, sehingga membutuhkan bekal yang cukup berupa amal saleh.
-
Perbanyak bekal, kurangi beban dunia
Jangan terlalu terikat dengan dunia. Kesederhanaan hidup akan memudahkan perjalanan menuju akhirat.
-
Amal kecil yang ikhlas lebih bernilai
Amal yang sedikit namun ikhlas lebih berharga daripada amal besar tanpa keikhlasan.
-
Taubat dan meninggalkan dosa adalah kewajiban
Bukan hanya memperbanyak amal, tetapi juga meninggalkan dosa merupakan bagian penting dalam keselamatan.
-
Kematian itu dekat, jangan lalai
Dunia terus berubah dan manusia sering lalai, padahal kematian bisa datang kapan saja.
-
Hidup sederhana membawa keselamatan
Orang yang tidak berlebihan dalam urusan dunia akan lebih ringan dalam menghadapi hisab di akhirat.
Penutup HikmahMari kita perbaiki niat dalam setiap langkah kehidupan. Jadikan setiap aktivitas sebagai ibadah, kurangi kecintaan pada dunia, dan siapkan bekal terbaik untuk perjalanan menuju akhirat.
 |
| PAI KUA Kalimanah, Pujianto (nomor 3 dari Kanan) saat menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 28, Rabu (15/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto) |
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4
بَابُ الرُّبَاعِيِّ
فِيهِ سَبْعَةٌ وَ ثَلَاثُوْنَ مَوْعِظَةً
ثَمَانِيَةٌ أَخْبَارٌ وَالْبَاقِى آثَارٌ
Dalam
bab
ini
ada
37 Nasihat,
8 akhbar
dan sisanya
atsar.
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
1
الْمَقَالَةُ الْأُولَى (رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ
قَالَ لِأَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَاسْمُهُ
جُنْدُبُ بْنُ جُنَادَةَ ([يَا أَبَا ذَرٍّ جَدِّدِ
السَّفِينَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيقٌ)
أَيْ
أَحْسِنِ النِّيَّةَ فِي كُلِّ مَا تَأْتِيْ وَتَذَرُ لِيَحْصُلَ لَكَ الْأَجْرُ
وَالنَّجَاةُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ تَعَالَى.
Maqolah
yang pertama
(Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ Sesungguhnya Rasulullah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu Anhu)
Namanya adalah
Jundub
bin Junadah
(Wahai Abu Dzar perbaruilah olehmu perahu karena sesungguhnya lautan itu sangat dalam) Maksudnya
baguskanlah
olehmu
niat
dalam
setiap
perkara
yang akan
kamu
kerjakan
dan yang akan
kamu
tinggalkan
supaya
hasil
kepadamu
ganjaran
dan selamat
dari
adzab
Allah Ta'ala.
وَكَتَبَ الْإِمَامُ عُمَرُ الْفَارُوقُ
إِلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: مَنْ خَلَصَتْ
نِيَّتُهُ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ. وَكَتَبَ
سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ الْخَطَّابِ إلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ
الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ: اِعْلَمْ يَا عُمَرُ أَنَّ عَوْنَ اللَّهِ
لِلْعَبْدِ بِقَدْرِ نِيَّتِهِ، فَمَنْ خَلَصَتْ نِيَّتُهُ تَمَّ عَوْنُ اللَّهِ
لَهُ، وَمَنْ نَقَصَتْ نِيَّتُهُ نَقَصَ عَنْهُ عَوْنُ اللَّهِ بِقَدْرِ ذَلِكَ
اهَ.
Telah
menulis
surat
Imam Umar Al-Faruq kepada
Abu Musa Al-Asy'ariy
Radhiallahu
Anhuma:
Barang
siapa
yang bersih
niatnya
maka
pasti
akan
mencukupi
kepadanya
perkara
antara
dirinya
dan antara
manusia.
Dan telah
menulis
surat
Salim Bin Abdillah
bin Umar Al-Khottob
kepada
Umar bin Abdul Aziz Radhiallahu
Anhum:
Ketahuilah
olehmu
wahai
Umar sesungguhnya
pertolongan
Allah kepada
hambanya
itu
dengan
bergantung
dari
niatnya.
Barang
siapa
yang murni
niatnya
maka
sempurna
pertolongan
Allah padanya,
dan barang
siapa
yang kurang
niatnya
maka
pasti
berkurang
darinya
pertolongan
Allah sebab
ukuran
berkurangnya
niat
itu.
(وَخُذِ
الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ)
فِى
الْآخِرَةِ
(بَعِيدٌ) فِى
غَايَةِ التَّعَبِ (وخَفِّفِ الحِمْلَ) بِكَسْرِ
الْحَاءِ أَيْ مَحْمُوْلَكَ مِنَ الدُّنْيَا (فَإِنَّ الْعَقَبَةَ كَئُوْدٌ) بِفَتْحِ
الْكَافِ وَضَمِّ الْهَمْزَةِ: أَيْ إِنَّ طُلُوْعَ عَقَبَةِ الْجَبَلِ صَعْبٌ،
فَإِنَّ أُمُوْرَ الْآخِرَةِ شَبِيْهَةٌ بِالْبَحْرِ الْعَمِيْقِ وَبِالسَّفَرِ
الْبَعِيْدِ وَبِالْعَقَبَةِ الصَّعْبَةِ لِكَثْرَةِ الْأَهْوَالِ
(وَأَخْلِصِ الْعَمَلَ فَإِنَّ
النَّاقِدَ) أَيْ
الْمُعْتَبِرَ الْمُمَيِّزَ بَيْنَ الْحَسَنِ وَالْقَبِيْحِ وَهُوَ اللهُ تعالى
(بَصِيْرٌ]) أَيْ
مُطَّلِعٌ وَمُرَاقِبٌ لِجَمِيعِ الْأَحْوَالِ. قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ
الدَّارَانِيُّ: طُوبَى لِمَنْ طَابَتْ لَهُ خُطْوَةٌ وَاحِدَةٌ فِي عُمْرِهِ لَا
يُرِيدُ بِهَا إلَّا اللَّهُ تَعَالَى، وَمَأْخَذُهُ قَوْلُهُ ﷺ لِمُعَاذٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: [أَخْلِصِ
الْعَمَلَ يَجْزِكَ مِنْهُ الْقَلِيْلُ]
.
(Dan
ambillah oleh mu bekal yang sempurna karena sesungguhnya perjalanan) Di akhirat
(Itu jauh) Dalam
tujuan
yang sangat melelahkan
(Dan ringankanlah olehmu beban) Lafadz
الحِمْلَ
dengan
mengkasrohkan
ح.
Maksudnya
yang dibawa
olehmu
dari
dunia (Karena sesungguhnya tanjakan itu
sangat sulit)
Lafadz
كَئُوْدٌ
dengan
memfathahkan
ك
dan mendhommahkan
hamzah
: Maksudnya
sesungguhnya
panjangnya
tanjakan
gunung
itu
sulit,
karena
sesungguhnya
perkara
perkara
akhirat
itu
menyerupai
lautan
yang dalam
dan menyerupai
perjalanan
yang jauh
dan menyerupai
tanjakan
gunung
yang sulit
karena
banyaknya
hal
yang menakutkan
(Dan murnikanlah olehmu amal karena sesungguhnya dzat yang meneliti) Maksudnya
orang yang menilai
dan membedakan
antara
kebaikan
dan keburukan
yaitu
Allah Ta'ala
(Itu maha melihat]) Maksudnya
yang mengawasi
dan mengamati
pada semua
keadaan.
Telah berkata
Abu Sulaiman
Ad-Daroni:
Kebahagiaan
bagi
orang yang telah
menjadi
baik
bagi
dirinya
satu
langkah
dalam
umurnya
yang ia
tidak
bermaksud
dengan
langkah
itu
kecuali
kepada
Allah Ta'ala.
Dasar pengambilannya
qoul
itu
adalah
sabda
Nabi ﷺ
kepada
Mu'adz
Radhiallahu
Anhu:
[Murnikanlah
oleh mu Amal maka
akan
mencukupimu
dari
amal
yang sedikit].
(وَقَالَ
الشَّاعِرُ :
(Telah
berkata seorang penya'ir :
قَوْلُهُ: وَالدَّهْرُ
فِي صَرْفِهِ عَجِيبٌ: أَيْ إِنَّ الزَّمَانَ فِي تَغَيُّرِهِ بِالْأُمُورِ
الْحَادِثَةِ عَجِيبٌ.
Ucapan
penya'ir
: pada lafadz
وَالدَّهْرُ
فِي صَرْفِهِ عَجِيبٌ : Maksudnya
sesungguhnya
zaman dalam
berubah-ubahnya
zaman itu
pada perkara
yang baru
itu
aneh.
وَعَنْ أَنَسٍ: خَرَجَ
ﷺ يَوْمًا
وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ أَبِي ذَرٍّ فَقَالَ: [يَا
أَبَا ذَرٍّ أَعَلِمْتَ أَنَّ بَيْنَ أَيْدِيْنَا عَقَبَةً كَئُودًا لَا
يَصْعَدُهَا إِلَّا الْمُخِفُّوْنَ؟ قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنَ
الْمُخِفِّيْنَ أَنَا أَمْ مِنَ الْمُثْقِلِيْنَ؟ قَالَ: أَعِنْدَكَ
طَعَامُ يَوْمٍ، قَالَ:
نَعَمْ،
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَطَعَامُ غَدٍ؟ قَالَ: نَعَمْ،
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَطَعَامٌ بَعْدَ غَدٍ؟ قَالَ: لَا،
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَوْ كَانَ عِنْدَكَ طَعَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
كُنْتَ مِنَ الْمُثْقِلِيْنَ]
اهْ.
Diriwayatkan
dari
Anas: Telah keluar
ﷺ
pada suatu
hari
dan beliau
itu
memegang
pada tangan
Abu Dzar
kemudian
Rasulullah
berkata:
[Wahai
Abu Dzar
apakah
engkau
tahu
sesungguhnya
didepan
kita
ada
tanjakan
yang sulit
tidak
akan
bisa
mendaki
padanya
kecuali
orang-orang yang meringankan?
berkata
salah seorang
lelaki:
Wahai
Rasulallah
apakah
dari
sebagian
golongan
orang-orang yang diringankan
termasuk
saya
ataukah
saya
termasuk
dari
golongan
orang-orang yang diberatkan?
Rasulullah
berkata:
apakah
disisimu
masih
ada
makanan
untuk
hari
ini,
ia
berkata:
iya,
kemudian
berkata
Rasulullah
ﷺ:
Dan makanan
untuk
besok?
ia
berkata:
iya,
kemudian
berkata
Rasulullah
ﷺ:
Dan makanan
untuk
lusa?
ia
berkata:
tidak,
kemudian
berkata
Rasulullah
ﷺ:
Jika ada
di sisimu
makanan
untuk
tiga
hari
maka
pasti
jadilah
kamu
dari
golongan
orang-orang yang diberatkan].
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
2
(وَ) الْمَقَالَةُ
الثَّانِيَةُ
(عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَحِمَهُ
اللَّهُ تَعَالَى (أَرْبَعَةٌ) مِنَ
الْخِصَالِ
(حَسَنَةٌ) وَهُوَ
مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْمَدْحُ فِي الْعَاجِلِ وَالثَّوَابُ فِي الْآجِلِ
(وَلَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا
أَحْسَنُ: الْحَيَاءُ)
وَهُوَ
اِنْقِبَاضُ النَّفْسِ مِنْ شَيْءٍ حَذَرًا عَنِ اللَّوْمِ فِيهِ
(مِنَ الرِّجَالِ حَسَنٌ
وَلَكِنَّهُ مِنَ الْمَرْأَةِ أَحْسَنُ، وَالْعَدْلُ) أَيْ
التَّوَسُّطُ بَيْنَ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ (مِنْ كُلِّ أَحَدٍ حَسَنٌ
وَلَكِنَّهُ مِنَ الْأُمَرَاءِ)
أَيْ
ذَوِي الْوِلَايَةِ (أَحْسَنُ، وَالتَّوْبَةُ) أَيْ
الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِحَلِّ عُقْدَةِ الْإِصْرَارِ عَنِ الْقَلْبِ
ثُمَّ الْقِيَامِ بِكُلِّ حَقٍّ لِلَّهِ تَعَالَى (مِنَ الشَّيْخِ حَسَنَةٌ
وَلَكِنَّهَا مِنْ الشَّابِّ أَحْسَنُ، وَالْجُودُ)
أَيْ
إفَادَةُ مَا يَنْبَغِي لَا لِعِوَضٍ (مِنَ الْأَغْنِيَاءِ حَسَنٌ
وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ أَحْسَنُ).
Maqolah
yang ke
dua
(Dari sebagian orang-orang yang bijaksana)
Rahimahullah
(Empat) dari
perkara
(Yang baik) Yaitu
perkara
yang berhubungan
dengan
perkara
itu
pujian
di dunia dan pahala
di akhirat
(Akan tetapi empat dari kebaikan itu lebih baik: Malu) Malu
adalah
mengkerutnya
diri
dari
suatu
perkara
karena
menghindari
dari
celaan
sebab
perkara
itu
(Dari kaum laki-laki itu baik akan tetapi malu dari kaum perempuan itu lebih baik, dan adil) Maksudnya
tengah-tengah
antara
berlebihan
dan lalai
(Dari setiap orang itu baik akan tetapi adil dari para pemimpin) Maksudnya
yang mempunyai
wilayah (Itu lebih baik, dan taubat) Maksudnya
kembali
kepada
Allah Ta'ala
dengan
cara
melepas
ikatan
desakan
keinginan
dari
hati
kemudian
mendirikan
atas
setiap
hak
kepada
Allah Ta'ala
(Dari orang tua itu bagus akan tetapi taubat dari
pemuda itu lebih baik,
dan dermawan)
Maksudnya
memberikan
faedah
pada perkara
yang penting
bukan
karena
ingin
balasan
(Dari orang kaya itu baik akan tetapi dermawan dari
orang faqir itu lebih baik).
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
3
(وَ) الْمَقَالَةُ
الثَّالِثَةُ
(عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ (أَرْبَعَةٌ قَبِيحَةٌ) وَهُوَ
مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الذَّمُّ فِي الْعَاجِلِ وَالْعِقَابُ فِي الْآجِلِ
(لَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا
أَقْبَحُ: الذَّنْبُ) أَيْ
الْإِثْمُ
(مِنَ الشَّابِّ قَبِيحٌ وَمِنَ
الشَّيْخِ أَقْبَحُ، وَالْاِشْتِغَالُ بِالدُّنْيَا)
أَيْ
بِأَمْتِعَتِهَا (مِنَ الْجَاهِلِ قَبِيحٌ وَمِنَ
الْعَالِمِ أَقْبَحُ)
كَمَا
رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ
قَالَ:
[مَنِ
ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ فِى الدُّنْيَا زُهْدًا لَمْ يَزْدَدْ مِنَ
اللَّهِ تَعَالَى إِلَّا بُعْدًا]
رَوَاهُ
الدَّيْلَمِيُّ.
Maqolah
yang ke
tiga
(Dari sebagian orang-orang yang bijaksana)
Radhiallahu
Anhum
(Empat perkara yang jelek) Yaitu
perkara
yang berhubungan
dengannya
celaan
di dunia dan siksa
di akhirat
(Akan tetapi empat dari perkara itu lebih jelek: Dosa) Maksudnya
dosa
(Dari pemuda itu jelek
dan dosa dari
orang yang sudah tua itu lebih jelek,
dan sibuk dengan
dunia)
Maksudnya
dengan
berbagai
kesenangan
dunia (Dari orang bodoh itu jelek
dan sibuk dengan
dunia dari
orang yang alim itu lebih jelek) Sebagaimana
telah
diriwayatkan
sesungguhnya
Nabi ﷺ
telah
bersabda:
[Barang
siapa
yang bertambah
ilmunya
dan tidak
bertambah
di dunia zuhudnya
maka
tidak
akan
bertambah
dari
Allah kecuali
semakin
menjauh]
Telah meriwayatkan
Imam Ad-Dailami.
(وَالتَّكَاسُلُ
فِي الطَّاعَةِ)
أَيْ
مُوَافَقَةِ أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى (مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ قَبِيحٌ
وَمِنَ الْعُلَمَاءِ وَالطَّلَبَةِ)
أَيْ
الَّذِينَ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ (أَقْبَحُ، وَالتَّكَبُّرُ مِنَ
الْأَغْنِيَاءِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْفُقَرَاءِ أَقْبَحُ).
(Dan
malas dalam keta'atan)
Maksudnya
taat
adalah
bersesuaian
dengan
perintah
Allah (Dari semua manusia itu jelek dan malas dalam keta'atan dari ulama dan santri)
Maksudnya
orang-orang yang mencari
ilmu
(Itu lebih jelek, dan sombong dari orang kaya itu jelek
dan sombong dari
orang faqir itu lebih jelek).
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
4
(وَ) الْمَقَالَةُ
الرَّابِعَةُ
(قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
[الْكَوَاكِبُ
أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ فَإِذَا انْتَثَرَتْ)
أَيْ
تَفَرَّقَتْ الْكَوَاكِبُ (كَانَ الْقَضَاءُ) أَيْ
الْحُكْمُ الْإِلَهِيُّ (عَلَى أَهْلِ السَّمَاءِ) مِنَ
الِانْفِطَارِ وَالطَّيِّ وَمَوْتِ الْمَلَائِكَةِ فِيهَا
(وَأَهْلُ بَيْتِي) أَيْ
ذُرِّيَّتِي
(أَمَانٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا زَالَ
أَهْلُ بَيْتِي كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أُمَّتِي)
مِنْ
ظُهُورِ الْبِدَعِ وَغَلَبَةِ الْأَهْوَاءِ وَاخْتِلَافِ الْعَقَائِدِ وَظُهُورِ
الرُّومِ وَغَيْرِهَا (وَأَنَا أَمَانٌ لِأَصْحَابِي
فَإِذَا ذَهَبْتُ)
أَيْ
مِتُّ
(كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى
اَصْحَابِيْ) مِنَ
الْفِتَنِ وَالْحُرُوبِ وَارْتِدَادِ مَنِ ارْتَدَّ وَاخْتِلَافِ الْقُلُوبِ
(وَالْجِبَالُ أَمَانٌ لِأَهْلِ
الْأَرْضِ فَإِذَا ذَهَبَتْ)
أَيْ
الْجِبَالُ
(كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أَهْلِ
الْأَرْضِ]).
Maqolah
yang ke
empat
(Telah bersabda
Nabi ﷺ : [Bintang-bintang adalah pengaman untuk penduduk langit maka ketika menyebar)
Maksudnya
berpisah
bintang-bintang
(Maka pasti terjadi qodho) Maksudnya
hukum
ketuhanan
(Kepada penduduk langit) Nyatanya
terpecah
dan tergulung
dan matinya
para malaikat
di langit
(Dan ahlul baitku) Maksudnya
keturunanku
(Adalah pengaman untuk umatku maka ketika hilang ahli baitku maka pasti terjadi qodho kepada umatku) Nyatanya
munculnya
bid'ah
dan menangnya
hawa
nafsu
berbeda
bedanya
aliran
aqidah
munculnya
kaum
romawi
dan selainnya
(Dan aku adalah pengaman untuk sahabat-sahabatku maka ketika aku pergi) Maksudnya
aku
mati
(Maka pasti terjadi qodho kepada sahabat-sahabatku) Nyatanya
berbagai
fitnah dan peperangan
dan murtadnya
orang-orang murtad dan bercerai
berainya
hati
(Dan gunung adalah pengaman untuk penduduk bumi maka ketika hilang) Maksudnya
gunung-gunung
(Maka pasti terjadi qodho kepada penduduk bumi]).
Terjemah
Kitab Nashoihul
Ibad
Bab 4 Maqolah
5
(وَ) الْمَقَالَةُ
الْخَامِسَةُ
(عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ) رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ
الْخِصَالِ
(تَمَامُهَا بِأَرْبَعَةٍ) مِنَ
الْأُمُورِ
(تَمَامُ الصَّلَاةِ بِسَجْدَتَيْ
السَّهْوِ) حِينَ
وُجُودِ سَبَبِ السُّجُودِ كَنَقْلِ الْقَوْلِيِّ عَنْ مَحَلِّهِ، وَذَلِكَ إِمَّا
أَنْ يَكُونَ الْمَنْقُولُ رُكْنًا أَوْ بَعْضًا أَوْ هَيْئَةً، فَالرُّكْنُ
يَسْجُدُ لِنَقْلِهِ مُطْلَقًاً، وَالْبَعْضُ إِنْ كَانَ تَشَهُّدًا أَوَّلً
كَذَلِكَ، أَمَّا الْقُنُوتُ فَإِنْ نَقَلَهُ بِقَصْدِهِ سَجَدَ أَوْ بِقَصْدِ
الذِّكْرِ فَلَا، وَالْهَيْئَةُ لَا يَسْجُدُ لِنَقْلِهَا إِلَّا السُّورَةَ كَذَا
أَفَادَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ.
Maqolah
yang ke
lima (Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq)
Radhiallahu
Anhu
(Sesungguhnya ia berkata: Empat) Perkara
(Yang akan sempurna empat perkara itu dengan empat) Perkara
(Sempurnanya sholat dengan dua sujud sahwi)
Ketika ada
sebab
sujud sahwi
seperti
berpindahnya
rukun
qouli
dari
tempatnya,
dan itu
ada
kalanya
bacaan
yang dipindah
berupa
rukun
atau
berupa
sunnah ab'ad
atau
berupa
sunnah hai'ah.
Maka
memindah
rukun
itu
orang yang memindah
rukun
harus
sujud karena
memindah
rukun
qouli
secara
mutlak.
Dan sunnah Ab'ad
jika
terbukti
berupa
tasyahud
awal
maka
demikian
pula. Adapun qunut
jika
orang yang sholat
memindahkan
qunut
dengan
maksud
qunut
maka
ia
sujud sahwi
atau
dengan
maksud
dzikir
maka
ia
tidak
perlu
sujud sahwi.
Dan sunnah hai'at
orang yang sholat
tidak
perlu
sujud sahwi
karena
memindah
sunnah hai'at
kecuali
bacaan
surat
demikian
telah
memberi
faedah
syaikhuna
Ahmad An-Nahrawi.
(وَ) تَمَامُ
(الصَّوْمِ) أَيْ
صَوْمِ رَمَضَانَ (بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ) قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى
الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾
[الْبَقَرَةُ: الْآيَةَ
١٨٤] وَالضَّمِيرُ
فِي يُطِيقُونَهُ رَاجِعٌ لِلْفِدْيَةِ لِأَنَّهُ مُتَقَدِّمٌ رُتْبَةً.
وَالْمَعْنَى: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَ الْفِدْيَةَ هُوَ طَعَامُ مِسْكِينٍ
وَالْمُرَادُ مِنَ الطَّعَامِ صَدَقَةُ الْفِطْرِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى ذَكَرَ
هَذِهِ الْآيَةَ عَقِبَ الْأَمْرِ بِالصِّيَامِ كَمَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى
بِتَكْبِيرَاتِ الْعِيدِ عَقِبَ الْآيَةِ الثَّانِيَةِ كَمَا فِي فَتْحِ
الْخَبِيرِ.
(Dan)
sempurnanya
(puasa) Maksudnya
puasa
Ramadhan (Itu dengan zakat Fitrah)
Telah berfirman
Allah Ta'ala:
﴾Dan
wajib
kepada
orang orang
yang berat
menjalankan
puasa
Ramadhan membayar
fidyah
yaitu
memberi
makan
orang miskin﴿ [Al-Baqoroh:
Ayat 184]. Dhomir
pada lafadz
يُطِيقُونَهُ
itu
kembali
kepada
lafadz
فِدْيَةٌ
karena
sesungguhnya
dhomir
itu
didahulukan
pada urutannya.
Ma'nanya
: Dan wajib
atas
orang orang
yang mampu
membayar
fidyah
yaitu
memberi
makan
orang miskin. Yang dimaksud
dari
memberi
makan
adalah
zakat fitrah karena
sesungguhnya
Allah Taala
itu
berfirman
pada ayat
ini
sesudah
perintah
puasa
Ramadhan sebagaimana
Allah Ta'ala
telah
memerintah
untuk
membaca
takbir di malam
idul
fitri
sesudah
ayat
yang kedua
sebagaimana
dalam
kitab Fathul
Khobir.
(وَ) تَمَامُ
(الْحَجِّ بِالْفِدْيَةِ) وَهِيَ
إِمَّا ذَبْحُ النَّعَمِ أَوِ الْأَمْدَادِ إِذَا وُجِدَ سَبَبُهَا الَّذِي
يُوجِبُهَا أَوْ يَسُنُّهَا أَوْ لَمْ يُوجَدْ بَلْ فَعَلَ الْفِدْيَةَ
لِلِاحْتِيَاطِ (وَ)
تَمَامُ
(الْإِيمَانِ بِالْجِهَادِ) أَيْ
بِالدُّعَاءِ إِلَى الدِّينِ الْحَقِّ كَمَا قَالَهُ السَّيِّدُ عَلِيُّ
الْجُرْجَانِيُّ فِي التَّعْرِيفَاتِ.
(Dan)
Sempurnanya
(Haji itu dengan membayar fidyah) Fidyah
itu
adakalanya
menyembelih
binatang
ternak
atau
membayar
mud ketika
ditemukan
sebabnya
fidyah
yang mewajibkan
membayar
fidyah
atau
yang mensunnahkan
fidyah
atau
tidak
ditemukan
akan
tetapi
ia
melaksanakan
fidyah
karena
kehati-hatian
(Dan) Sempurnanya
(Iman itu dengan jihad) Maksudnya
dengan
mengajak
pada agama yang benar
sebagaimana
telah
berkata
atas
keterangan
itu
Sayyid Ali Al-Jurzani
dalam
kitab At-Ta'rifat.
Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-4/
Editor: Imam Edi Siswanto