 |
| Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi
ke 23 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu
(11/2/2026). (Foto: Rizal) |
Pubalingga –
Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-23 kembali digelar pada Rabu
pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan
teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf
KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (11/2/2026).
Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 36–40. Berikut
Rangkuman Maqolah 36–40 Kitab Nashoihul Ibad Bab 3
Maqolah 36 menjelaskan nasihat Luqman Al-Hakim bahwa hakikat manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu ruh yang kembali kepada Allah, amal yang akan kembali kepada diri manusia sebagai balasan kebaikan atau keburukan, serta jasad yang pada akhirnya akan hancur dan kembali menjadi tanah. Nasihat ini mengingatkan manusia agar lebih memperhatikan amal saleh karena itulah bekal yang akan dibawa setelah kematian.
Maqolah 37 menerangkan tiga amalan yang dapat memperkuat daya ingat dan kejernihan pikiran, yaitu bersiwak, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an. Ketiga amalan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan spiritual dan ketajaman hati.
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab
Maqolah 38 menyebutkan tiga benteng yang dapat melindungi seorang mukmin dari godaan setan, yaitu memakmurkan masjid, memperbanyak dzikir kepada Allah, serta membaca Al-Qur’an, khususnya Ayat Kursi. Amalan tersebut menjadi pelindung yang menguatkan iman dan menenangkan jiwa dari pengaruh keburukan.
Maqolah 39 mengajarkan bahwa terdapat tiga perkara yang termasuk karunia tersembunyi dari Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintai-Nya, yaitu kefakiran, sakit, dan kesabaran. Ketiganya merupakan ujian yang mengandung hikmah besar, karena dapat mendekatkan manusia kepada Allah, menumbuhkan ketulusan, serta melatih kerelaan menerima ketentuan-Nya.
Maqolah 40 menjelaskan keutamaan waktu dan amal dalam Islam. Hari terbaik adalah hari Jumat, bulan terbaik adalah bulan Ramadhan, dan amal terbaik adalah melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Selain itu, dijelaskan pula bahwa amal terbaik adalah amal yang diterima Allah meskipun sedikit, dan bulan terbaik adalah waktu seseorang bersungguh-sungguh bertaubat. Taubat yang sempurna ditandai dengan penyesalan dalam hati, memohon ampun dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa, serta bertekad tidak mengulanginya kembali.
Secara keseluruhan, maqolah 36–40 mengajarkan manusia agar menyadari hakikat kehidupan, memperbanyak amal saleh, menjaga diri dari godaan setan, bersabar menghadapi ujian, serta memanfaatkan waktu dan kesempatan hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 36
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ
لُقْمَانَ الْحَكِيمِ: أَنَّهُ قَالَ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ إِنَّ
النَّاسَ ثَلَاثَةُ أَثْلَاثٍ: ثُلُثٌ لِلَّهِ، وَثُلُثٌ لِنَفْسِهِ،
وَثُلُثٌ لِلدُّودِ، فَأَمَّا مَا هُوَ لِلَّهِ فَرُوحُهُ) فَهُوَ رَاجِعٌ لِلَّهِ تَعَالَى (وَأَمَّا مَا هُوَ لِنَفْسِهِ فَعَمَلُهُ) فَهُوَ رَاجِعٌ لِنَفْسِهِ بِالنَّفْعِ وَالْإِضْرَارِ (وَأَمَّا مَا هُوَ لِلدُّودِ فَجِسْمُهُ) فَهُوَ مَأْكُولُ الدُّودِ.
Maqolah yang ke tiga puluh enam (Dari
Luqman Al-Hakim: Sesungguhnya ia berkata kepada anaknya: Wahai anakku
sesungguhnya manusia itu terbagi tiga pertiga: Sepertiga untuk Allah dan
sepertiga untuk dirinya dan sepertiga untuk cacing. Adapun sepertiga yaitu yang untuk Allah adalah ruh manusia) Maka ruh manusia itu kembali kepada Allah Ta'ala (Dan adapun sepertiga yaitu untuk manusia adalah amalnya) Maka amal manusia itu kembali kepada dirinya sendiri dengan manfaat dan madharat (Dan adapun sepertiga yaitu untuk cacing adalah jasad manusia) Maka jasad manusia itu menjadi makanan cacing.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 37
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ) وَرَضِيَ عَنْهُ (أَنَّهُ
قَالَ: ثَلَاثٌ يَزِدْنَ فِي الْحِفْظِ) فِي الذِّهْنِ (وَيُذْهِبْنَ الْبُلْغَمَ) وَهُوَ أَحَدُ الطَّبَائِعِ الْأَرْبَعَةِ
وَهِيَ الْبُلْغَمُ وَالدَّمُ وَالسَّوْدَاءُ وَالصَّفْرَاءُ (السِّوَاكُ وَالصَّوْمُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ).
Maqolah yang ke tiga puluh tujuh (Dari Ali Karromallahu Wajhah) Waradhia Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Tiga perkara yang bisa menambah hafalan) Dalam hati (Dan menghilangkan dahak) Dahak adalah salah satu dari tabiat yang empat yaitu dahak, darah, empedu hitam dan empedu kuning (Yaitu siwak dan berpuasa dan membaca Al-Qur'an).
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 38
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ كَعْبِ الْأَحْبَارِ) أَيْ مَلْجَأِ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْيَهُودِ أَسْلَمَ فِي زَمَنِ سَيِّدِنَا عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (الْحُصُونُ لِلْمُؤْمِنِينَ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثٌ)
مِنَ الْخِصَالِ: أَيْ الَّتِي تَمْنَعُ الْمُؤْمِنِينَ وَتَحْفَظُهُمْ
مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثٌ، وَالْحِصْنُ هُوَ الْمَكَانُ الْمُرْتَفِعُ
الَّذِي يَمْنَعُ الْعَدُوَّ وَالْحِصْنُ أَيْضًا السِّلَاحُ كَمَا فِي
الْأَسَاسِ (الْمَسْجِدُ حِصْنٌ) لِأَنَّهُ مَحَلُّ الذَّاكِرِينَ وَالْمَلَائِكَةِ (وَذِكْرُ اللَّهِ حِصْنٌ)
لَا سِيَّمَا لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَإِنَّ
الشَّيْطَانَ يَنْقَبِضُ أَيْ يَخْتَفِي وَيَتَأَخَّرُ إِذَا سَمِعَ ذِكْرُ
اللَّهِ تَعَالَى (وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ حِصْنٌ) لَا سِيَّمَا آيَةُ الْكُرْسِيِّ كَمَا هُوَ مُجَرَّبٌ.
Maqolah yang ke tiga puluh delapan (Dari Ka'b Al-Ahbar) Maksudnya rujukan para ulama dari kalangan yahudi ia masuk Islam di zaman Sayyidina Umar bin Khottob Radhiallahu Anhu (Benteng-benteng untuk orang-orang yang beriman dari godaan syaiton itu ada tiga) perkara: Maksudnya yang mencegah kepada orang orang yang beriman dan melindungi dari syaitan itu ada tiga, الْحِصْنُ yaitu tempat yang tinggi yang mencegah kepada musuh الْحِصْنُ juga bermakna pedang sebagaimana dalam kamus Al-Asas (Masjid itu adalah benteng) Karena sesungguhnya masjid adalah tempat orang-orang yang berdzikir dan tempat para malaikat (Dan dzikir kepada Allah itu adalah benteng) Apalagi bacaan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ, Karena sesungguhnya setan itu menyusut dan sembunyi dan mundur ketika ia mendengar dzikrullahi Ta'ala (Dan membaca Al-Quran adalah benteng) apalagi ayat kursi sebagaimana ia telah dibuktikan.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 39
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثٌ مِنْ كَنْزِ اللَّهُ تَعَالَى) أَيْ مِمَّا يَدَّخِرُهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يُعْطِيهَا اللَّهُ إِلَّا مَنْ أَحَبَّهُ (الْفَقْرُ) وَهُوَ فَقْدُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَالْمَرَضُ) وَهُوَ يَعْرِضُ لِلْبَدَنِ فَيُخْرِجُهُ عَنِ الِاعْتِدَالِ الْخَاصِّ (وَالصَّبْرِ)
وَهُوَ تَرْكُ الشَّكْوَى مِنْ أَلَمِ الْبَلْوَى لِغَيْرِ اللَّهِ لَا
إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَالرِّضَا بِالْقَضَاءِ لَا يَقْدَحُ فِيهِ
الشَّكْوَى إِلَى اللَّهِ وَلَا إِلَى غَيْرِهِ وَإِنَّمَا يَقْدَحُ
بِالرِّضَا فِي الْمَقْضِيِّ وَإِنَّمَا لَزِمَ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ
لِأَنَّ الْعَبْدَ لَا بُدَّ أَنْ يَرْضَى بِحُكْمِ سَيِّدِهِ، كَذَا فِي
التَّعْرِيفَاتِ لِلسَّيِّدِ عَلِيٍّ الْجُرْجَانِي.
Maqolah yang ke tiga puluh sembilan (Dari sebagian orang yang bijaksana sesungguhnya mereka berkata: Tiga perkara dari sebagian gudangnya Allah)
Maksudnya dari perkara yang Allah Ta'ala simpan pada perkara itu yang
tidak akan Allah berikan perkara itu kecuali kepada orang yang Allah
cintai (Kefaqiran) Kefaqiran adalah tidak adanya perkara yang ia membutuhkan pada perkara itu (Dan sakit) Sakit adalah yang menimpa pada badan kemudian mengeluarkan pada badan dari kenormalan yang khusus (Dan kesabaran)
Sabar adalah meninggalkan prilaku mengeluh dari pedihnya cobaan kepada
selain Allah tidak kepada Allah Ta'ala, dan ridho atas qodhonya tidak
menjelek-jelekan dalam qodho mengeluh kepada Allah dan tidak kepada
selain Allah dan sesungguhnya menjelek-jelekan atas ridho hanya dalam
perkara yang dipastikan dan sesungguhnya wajib ridho pada qodho karena
sesungguhnya seorang hamba tidak boleh tidak harus ridho pada hukum
tuannya, seperti keterangan dalam kitab At-Ta'rifat milik sayyid
Al-jurjani.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 40
(وَ) الْمَقَالَةُ الْأَرْبَعُونَ (عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا حِينَ سُئِلَ: مَا خَيْرُ
الْأَيَّامِ وَمَا خَيْرُ الشُّهُورِ وَمَا خَيْرُ الْأَعْمَالِ؟ فَقَالَ) أَيْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ (خَيْرُ الْأَيَّامِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ) لِأَنَّهُ سَيِّدُ الْأَيَّامِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى لِهَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ (وَخَيْرُ الشُّهُورِ شَهْرُ رَمَضَانَ)
لِأَنَّهُ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَفِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ وَفِيهِ
الصِّيَامُ الْوَاجِبُ وَلِأَنَّ ثَوَابَ النَّفْلِ فِيهِ كَثَوَابِ
الْفَرْضِ.
Maqolah yang ke empat puluh (Dari
Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma ketika ia ditanya: Apa sebaik-baiknya
hari dan apa sebaik-baiknya bulan dan apa sebaik-baiknya amal? Maka ia
berkata) Maksudnya Abdullah Bin Abbas (Sebaik-baiknya hari adalah hari Jum'at) Karena sesungguhnya hari Jum'at adalah tuannya hari Allah telah memberikan hari jumat untuk umat Nabi Muhammad ini (Dan sebaik-baiknya bulan adalah bulan Ramadhan)
Karena sesungguhnya diturunkan di bulan Ramadhan Al-Qur'an dan di
turunkan di bulan Ramadhan Lailatul Qodar dan di bulan Ramadhan
diturunkan Puasa yang wajib dan karena sesungguhnya pahala amalan sunah
di bulan Ramadhan itu seperti pahala amalan fardhu.
قَالَ
أَبُو بَكْرٍ الْوَرَّاقُ: شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ
شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ
ذَلِكَ الزَّرْعِ.
Telah berkata Abu Bakar Al-Warroq: Bulan Rajab
adalah bulan bercocok tanam dan bulan Sya'ban adalah bulan mengairi
tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman itu.
(وَخَيْرُ الْأَعْمَالِ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ لِوَقْتِهَا) فَإِنَّهَا أَبْوَابُ الْأَعْمَالِ فَإِذَا فُتِحَتْ الصَّلَوَاتُ فُتِحَتْ سَائِرُ الْأَعْمَالِ وَإِذَا سُدَّتْ سُدَّتْ.
(Dan sebaik-baiknya amal adalah sholat yang lima waktu pada waktunya)
Karena sesungguhnya sholat yang lima waktu adalah pintu-pintu berbagai
amal. Ketika dibuka sholat lima waktu maka pasti terbuka sesisanya dari
berbagai amal dan ketika dikunci maka pasti terkunci.
(فَمَاتَ ابْنُ عَبَّاسٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا (فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ) أَيْ وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ (فَمَضَى عَلَى ذَلِكَ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَبَلَغَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ) أَيْ الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ (فَأَجَابَ بِكَذَا) أَيْ بِذَلِكَ الْجَوَابِ الْمَذْكُورِ (فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ: (لَوْ سُئِلَ الْعُلَمَاءُ وَالْحُكَمَاءُ وَالْفُقَهَاءُ مِنَ الْمَشْرِقِ إلَى الْمَغْرِبِ) عَنْ تِلْكَ الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ (لَأَجَابُوا بِمِثْلِ مَا أَجَابَ بِهِ ابْنُ عَبَّاسٍ، إلَّا أَنِّي أَقُولُ) فِي جَوَابِ ذَلِكَ (إنَّ خَيْرَ الْأَعْمَالِ مَا يَقْبَلُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْكَ) سَوَاءٌ كَانَتْ قَلِيلَةً أَوْ كَثِيرَةً (وَخَيْرُ الشُّهُورِ مَا تَتُوبُ فِيهِ إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا).
(Kemudian Ibnu Abbas mati) Radhiallahu Anhuma (Di hari itu) Maksudnya yaitu hari Jumat (Kemudian berlalu atas kematian Ibnu Abbas tiga hari, kemudian sampailah kepada Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Sesungguhnya Ibnu Abbas telah ditanya tentang hal itu) Maksudnya pertanyaan yang tiga (Kemudian Ibnu Abbas menjawab begitu) Maksudnya dengan jawaban itu yang telah disebutkan (Kemudian berkata Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Jika ditanya para Ulama dan Hukama dan Fuqoha dari timur sampai ke barat) Tentang pertanyaan itu yang tiga (Pasti
mereka akan menjawab dengan semisal jawaban yang telah menjawab atas
hal itu Ibnu Abbas, Kecuali sesungguhnya aku akan berkata)
Dalam menjawab pertanyaan itu (Sesungguhnya sebaik-baiknya amal adalah
amalan yang telah menerima pada amalan itu Allah Ta'ala darimu) Sama
saja adanya amalan itu sedikit atau banyak (Dan sebaik-baiknya bulan adalah bulan engkau bertaubat di bulan itu kepada Allah dengan taubat nasuha).
قَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ: التَّوْبَةُ النَّصُوحُ النَّدَمُ بِالْقَلْبِ
وَالِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ وَالْإِقْلَاعُ بِالْبَدَنِ وَالْإِضْمَارُ
عَلَى أَنْ لَا يَعُودَ إلَى مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ. وَقِيلَ:
التَّوْبَةُ النَّصُوحُ أَنْ لَا يَبْقَى عَلَى عَمَلِهِ أَثَرٌ مِنَ
الْمَعْصِيَةِ سِرًّا وَجَهْرًا. وَقِيلَ: هِيَ الَّتِي تُورِثُ صَاحِبَهَا
الْفَلَاحَ عَاجِلًا وَآجِلًا. (وَخَيْرُ الْأَيَّامِ مَا تَخْرُجُ فِيهِ مِنَ الدَّنِّیا إلْی اللَّهُ) تَعَالَی بِالْمَوْتِ (مُؤْمِنًا بِاللَّهِ، وَقَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْبَسِيطِ]
Telah
berkata Ibnu Abbas: Taubat Nasuha adalah penyesalan dalam hati dan
memohon ampun dengan lisan dan menahan dengan badan dan bertekad tidak
akan mengulangi pada perkara yang telah melarangnya Allah dari hal itu.
dan dikatakan: Taubatan Nasuha adalah tidak tersisa dari amalnya orang
itu bekas dari kemaksiatan baik secara tersembunyi atau terang-terangan.
Dan dikatakan: Taubatan Nasuha adalah taubat yang mewariskan pada orang
yang memilikinya sebuah kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Dan sebaik-baiknya hari adalah hari engkau keluar di hari itu dari dunia menuju Allah) Ta'ala sebab mati (Dalam keadaan iman kepada Allah. Telah berkata seorang penyair dari [Bahar Basit]
| وَنَحْنُ نَلْعَبُ فِي سِرٍّ وَإِعْلَانٍ |
* |
مَا تَرَى كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ |
| فَإِنَّ أَوْطَانَهَا لَيْسَتْ بِأَوْطَانٍ |
* |
لَا تَرْكَنَنَّ إِلَى الدُّنْيَا وَزُخْرُفِهَا |
| تَغْرُرْكَ كَثْرَةُ أَصْحَابٍ وَإِخْوَانٍ) |
* |
وَاعْمَلْ لِنَفْسِكَ مِنْ قَبْلِ الْمَمَاتِ فَلَا |
| Apakah kamu melihat bagaimana menghancurkan kita siang dan malam |
* |
Sedangkan kita masih bermain-main dalam rahasia maupun terang-terangan |
| Jangan sekali-kali kamu condong pada kesenangan dunia dan perhiasan dunia |
* |
Karena sesungguhnya tanah air dunia bukanlah tanah air yang sebenarnya |
| Dan beramallah kamu untuk kepentingan dirimu sebelum mati maka jangan |
* |
sampai menipu kepadamu banyaknya sahabat dan banyaknya saudara |
قَوْلُهُ: كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ أَيْ
يُفْنِيْنَا اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَهَذِهِ الْأَبْيَاتُ السَّبْعَةُ
مِنْ بَحْرِ الْوَافِرِ تُنْسَبُ لِلْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ رَحِمَهُ
اللَّهُ تَعَالَى:
Ucapan lafadz: كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ
Maksudnya bagaimana menghancurkan kita waktu siang dan malam, dan tujuh
bait berikut ini dari bahar wafir yang dinisbatkan kepada Imam
Al-Ghozali Rahimahullahu Ta'ala:
| وَيُسْمَعُ مِنْكَ قَوْلُكَ فِى الْمَقَالِ |
* |
أَتَطْلُبُ أَنْ تَكُونَ كَثِيرَ مَالٍ |
| تُسَرُّ بِهِ وَمِنْ كُلِّ الرِّجَالِ |
* |
وَمِنْ كُلِّ النِّسَاءِ تُرَى وِدَادًا |
| مُهَابًا مُكْرَمًا وَكَثِيْرَ مَالٍ |
* |
وَيَأْتِيْكَ الْغِنَا وَتُرَى سَعِيدًا |
| مِنَ الْأَعْدَاءِ وَمِمَّنْ كَانَ وَالِيًّ |
* |
وَتُكْفَى كُلَّ حَادِثَةٍ وَمَکْرٍ |
| مُكَمَّلَةً عَلَى مَرِّ اللَّيَالِي |
* |
فَقُلْ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ أَلْفًا |
| أَشَرْتُ إِلَيْهِ مُرَخِّصَ كُلِّ غَالٍّ |
* |
بِلَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِنَّ فِي مَا |
| فَفِيهِ تَبْلُغُ الرُّتَبَ الْعَوَالِيَ |
* |
فَلَازِمْ مَا ذَكَرْتُ وَلَا تَدَعْهُ |
| Apakah kamu mencari supaya kamu menjadi orang yang banyak harta |
* |
Dan didengar darikamu ucapan ucapanmu dalam berkata |
| Dan dari setiap kaum wanita kamu terlihat disenangi |
* |
Kamu dibahagiakan oleh kaum wanita dan dari setiap kaum lelaki |
| Dan didatangkan kepadamu kekayaan dan kamu terlihat bahagia |
* |
berwibawa dan dimulyakan dan banyak hartanya |
| Dan dihindarkan dari setiap bencana dan tipuan |
* |
Dari musuh-musuh dan dari orang yang menjadi penguasa |
| Maka bacalah Yaa Hayyu Yaa Qoyyum seribu kali |
* |
Disempurnakan atas berlalunya setiap malam |
| Di waktu malam atau diwaktu siang. Sesungguhnya di dalam amalan-amalan |
* |
Yang telah aku tunjukkan pada amalan itu bisa membuat murah segala yang mahal |
| Maka kamu harus membiasakan pada amalan yang telah aku sebutkan dan janganlah kamu meninggalkannya |
* |
Maka sebab amalan itu kamu akan sampai pada derajat yang tinggi |
Sumber: lilmuslimin.comeditor: Imam Edi Siswanto