Selasa, 03 Februari 2026

PAI KUA Kalimanah, Turut Hadir Menguatkan, Menjaga Posko, dan Menghibur Korban Banjir Bandang

PAI KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba (nomor delapan dari kiri) saat foto bersama dengan petugas jaga di Posko Keagamaan Kemenag Purbalingga di Desa Sangkanayu, Senin (/2/2026). (Foto: istimewa)

Purbalingga-Kepedulian dan ketulusan ditunjukkan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba, yang turut aktif dalam pelayanan kemanusiaan di Posko Layanan Keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Senin (2/2/2026) kemarin. 

Kehadirannya di tengah para korban banjir bandang tidak hanya membawa empati dan doa, tetapi juga penguatan mental, trauma healing, serta bantuan nyata melalui aktivitas jaga posko dan pendistribusian bantuan. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kegiatan

Bersama tim Penyuluh Agama Islam Kankemenag Purbalingga, Azizah Dwi Purba terlibat langsung dalam kegiatan pendampingan spiritual yang dilaksanakan di Posko Layanan Keagamaan Desa Sangkanayu Kecamatan Mrebet dan Desa Serang Kecamatan Karangreja. 

"Kegiatan ini bertujuan menenangkan hati para penyintas sekaligus membangkitkan kembali semangat dan harapan mereka pascabencana banjir bandang yang terjadi sepekan sebelumnya," ucapnya.

Rangkaian kegiatan dipandu oleh PAI KUA Purbalingga, Siti Suwarti dan Arin Hidayat, dengan mengajak para korban bershalawat bersama, berdoa, serta mengikuti sesi motivasi dan trauma healing. Melalui lantunan shalawat dan pendekatan yang humanis, suasana posko menjadi lebih hangat dan penuh ketenangan. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/solidaritas-kemanusiaan-kua-kalimanah.html 

Selain memberikan pendampingan rohani, Azizah Dwi Purba bersama para penyuluh lainnya juga secara bergiliran menjaga posko layanan keagamaan serta membantu proses pendataan dan pendistribusian bantuan kepada warga terdampak. 

PAI KUA Purbalingga, Siti Suwarti saat berkegiatan bersama PAI KUA Kalimanah dan Padamara di Posko Keagamaan Kemenag Purbalingga di Desa Sangkanayu, Senin (/2/2026). (Foto: istimewa)

"Peran ini menjadi bagian penting dari pelayanan Kementerian Agama yang menyentuh aspek spiritual sekaligus sosial kemanusiaan," katanyakepada D'Japri.

Turut hadir dan berkontribusi dalam kegiatan tersebut PAI lainnya, yakni Sri Agustianingsih (KUA Purbalingga), Siti Ubaidah (KUA Padamara), serta Azizah Dwi Purba (KUA Kalimanah). Kebersamaan para penyuluh ini memperkuat sinergi layanan keagamaan di masa tanggap darurat bencana.

Sedikitnya 50 peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Antusiasme terlihat saat sesi interaktif dan kuis yang dipandu oleh Arin Hidayat, yang mampu menghadirkan tawa dan keceriaan, memberikan ruang kebahagiaan di tengah situasi sulit yang sedang mereka hadapi.

Melalui kegiatan ini, para Penyuluh Agama Islam berharap pendampingan yang diberikan dapat menjadi penguat batin, menumbuhkan optimisme, serta membantu proses pemulihan psikologis masyarakat terdampak. 

"Kehadiran penyuluh diharapkan menjadi pengingat bahwa para korban tidak sendiri dalam menghadapi ujian ini," harapnya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan kepada seluruh korban banjir bandang, serta memudahkan langkah mereka untuk membangun kembali rumah, desa, dan kehidupan yang lebih baik ke depan.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Senin, 02 Februari 2026

Solidaritas Kemanusiaan KUA Kalimanah, Himpun Donasi untuk Korban Banjir Bandang Karangreja–Mrebet

Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Khloidin, MSI (Kiri) saat memimpin Rakor rutin dan pembahasan rencana pengumpulan dana untuk orban musibah banjir bandang Karangreja dan Mrebet, Kamis (29/1/206) lalu. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah dalam menggalang donasi untuk membantu para korban musibah banjir bandang yang melanda wilayah Karangreja dan Mrebet sepekan lalu.

Rencananya, donasi akan disalurkan melalui rekening Posko Pelayanan Keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Senin (2/2/2026).

Donasi tersebut berhasil dihimpun dari seluruh pegawai KUA Kalimanah dengan total dana sebesar Rp 800.000,-. Bantuan ini disalurkan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana alam akibat hujan berintensitas tinggi di lereng Gunung Slamet. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/rakor-kua-kalimanah-menguatkan.html

Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Khloidin, MSI menyampaikan harapannya agar donasi yang terkumpul dapat memberikan manfaat nyata dan sedikit meringankan beban para korban musibah.

Ia menegaskan bahwa kehadiran KUA tidak hanya sebatas pelayanan administrasi keagamaan, tetapi juga bagian dari kepedulian sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini dapat membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Ini adalah bentuk empati dan kebersamaan keluarga besar KUA Kalimanah,” ungkapnya. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/pai-kua-kalimanah-salurkan-bantuan-mt.html

Ia menambhakan untuk tetap tabah dan sabar menghadapi musibah dan tetap semangat menjalani hidup dan kehidupan

Sebelumnya, pada Ahad, 1 Februari 2026, Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah juga turut menginisiasi penggalangan donasi bersama Majelis Taklim (MT) dan TPQ Al Ittihad Karangmanyar. Dana yang terkumpul dari kegiatan tersebut telah disalurkan melalui NU Care Kabupaten Purbalingga untuk membantu para korban banjir bandang.

Selain itu, Penyuluh Agama Islam lainnya juga melakukan hal serupa dengan menyampaikan rasa empati, doa, serta dorongan moril kepada jamaah dan majelis taklim binaan di wilayah masing-masing. 

Melalui mimbar dakwah, pengajian, dan forum keagamaan, para penyuluh mengajak umat untuk memperkuat solidaritas, memperbanyak doa, serta menumbuhkan kepedulian sosial bagi para korban bencana.

Melalui peran KUA dan Penyuluh Agama Islam, nilai-nilai keagamaan terus dihadirkan dalam bentuk aksi nyata, menyatukan doa, empati, dan kepedulian sosial bagi mereka yang sedang diuji oleh musibah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Minggu, 01 Februari 2026

PAI KUA Kalimanah Salurkan Bantuan MT dan TPQ Al-Ittihad Karangmanyar untuk Korban Banjir Bandang

Donasi kemanusiaan dari MT dan TPQ Al-Ittihad Karangmanyar, bagi warga terdampak bencana di Karangreja, saat didistribusikan, Ahad (1/2/2026). (Foto: Pujianto)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Pujianto, menyalurkan donasi kemanusiaan bagi warga terdampak bencana di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Donasi tersebut disalurkan melalui NU Care PCNU Kabupaten Purbalingga sebagai lembaga resmi penyalur bantuan, Ahad (1/2/2026).

Pujianto menjelaskan bahwa, Ia mengajak jamaah serta wali santri lembaga binaannya, yakni MT dan TPQ Al-Ittihad Karangmanyar, untuk turut berpartisipasi dengan menyisihkan sebagian rezekinya.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/membangun-rumah-tangga-yang-kokoh.html

Ajakan tersebut sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap sesama, khususnya masyarakat Purbalingga yang sedang menghadapi musibah bencana di wilayah Karangreja.

“Bantuan ini merupakan wujud kepedulian bersama dan semoga dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” jelasnya.

Penyaluran donasi diterima langsung oleh Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga, H. Ulil Archam, di dampingi Sekretaris PCNU Salim Efendi serta Kanit BAGANA PCNU, Agus Winoto. 


Dalam sambutannya, H. Ulil Archam menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan oleh Pujianto beserta jamaah dan wali santri.

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, saat menyerahkan donasi kemanusiaan bagi warga terdampak bencana di Karangreja, kepada Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga, H. Ulil Archam di Kantor NU Care PCNU Purbalingga, Ahad (1/2/2026). (Foto: Pujianto)
Ia menegaskan bahwa PCNU Purbalingga akan mengoordinasikan dan menyalurkan bantuan tersebut hingga sampai kepada warga terdampak di lokasi bencana.

Adapun donasi yang disalurkan berupa uang tunai, sembako, pakaian anak dan dewasa, air mineral, makanan ringan kering, serta kebutuhan bayi.

“Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dan membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak bencana,” harapnya.(*)

Kontributor: Pujianto
Editor: Imam Edi Siswanto


Kamis, 29 Januari 2026

Membangun Rumah Tangga yang Kokoh: Penguatan Nilai-Nilai Pernikahan bagi Calon Pengantin

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto saat menyampaikan materi Bimwin Keluarga Sakinah di KUA Kalimanah, beberapa waktu lalu (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam rangka memperkuat ketahanan keluarga sejak dini, Penyuluh Agama Islam melakukan berbagai langkah strategis untuk membekali calon pengantin (catin) dengan pemahaman mendalam mengenai nilai-nilai pernikahan. 

Hal ini bertujuan mencegah keretakan rumah tangga yang disebabkan oleh lemahnya fondasi pemahaman keagamaan, komunikasi, serta kesiapan mental dan spiritual pasangan suami istri.

Pernikahan Berbasis Data dan Tata Kelola Administrasi yang Rapi
Langkah awal dalam proses menuju pernikahan dimulai dari penataan administrasi yang rapi dan terstruktur. Seluruh persyaratan calon pengantin ditata sesuai urutan yang telah ditetapkan, dengan mengacu pada ketentuan Kementerian Agama. Proses ini menekankan pentingnya validitas data untuk mewujudkan pernikahan yang berbasis data yang falid.

KUA sebagai institusi pencatat pernikahan berkomitmen menertibkan semua dokumen administrasi secara sistematis, termasuk pendataan wakaf yang selama ini kerap belum tertata optimal.

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto saat menyampaikan materi Keluarga Sakinah di Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Desa Penaruban Rutin Sabtu Manis, Sabtu (24/1/2026) lalu. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Bimbingan Calon Pengantin: Fondasi Agama dan Nilai Kehidupan Rumah Tangga
Bimbingan Pra-Nikah (Bimwin) menjadi salah satu kegiatan inti dalam pembinaan calon pengantin. Dalam sesi ini, para catin diberikan materi yang mencakup: Fiqih Thaharah dan dasar-dasar ibadah dalam Islam.

Kitab pernikahan seperti "Kitabul Akhyar" yang berisi adab, hak, dan kewajiban dalam rumah tangga menurut pandangan Islam. Perencanaan keluarga islami, termasuk pentingnya membentuk generasi yang sholeh dan sholehah.

Para catin juga diajak langsung untuk praktik ibadah, salah satunya dengan melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah. Hal ini bukan sekadar simbolik, tetapi sebagai bentuk latihan spiritual dan pembiasaan ibadah bersama pasangan kelak.

Pendekatan Kolaboratif dalam Penyuluhan
Dalam aspek penyuluhan, para penyuluh agama kini mulai mengembangkan pendekatan kolaboratif dengan berbagai pihak luar, baik instansi pemerintah maupun lembaga sosial. Materi penyuluhan ditingkatkan, tidak hanya seputar keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek ketahanan keluarga dan ketahanan pangan.

Ketahanan pangan, sebagai bagian dari ketahanan rumah tangga, dibangun secara bersama melalui edukasi yang efektif, efisien, dan cepat. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi keluarga yang mandiri dan tahan terhadap krisis.

Menuju Keluarga Sakinah yang Tangguh dan Berkualitas
Seluruh proses ini bertujuan untuk mencetak keluarga-keluarga baru yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Rumah tangga yang kokoh tidak hanya lahir dari cinta dan komitmen, tetapi juga dari bekal ilmu, kesadaran ibadah, dan kesiapan menjalani peran masing-masing dalam pernikahan.

Melalui program ini, Kementerian Agama dan para Penyuluh Agama berharap agar angka perceraian dapat ditekan, serta terwujud generasi masa depan yang tumbuh dari keluarga yang harmonis dan berkualitas.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rakor KUA Kalimanah: Menguatkan Kebersamaan untuk Pelayanan Publik yang Lebih Berdampak

Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah menggelar rapat koordinasi (rakor), Kamis (29/1/2026) (Foto: Rizal)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah menggelar rapat koordinasi (rakor) pada Kamis, 29 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memperkuat kinerja internal sekaligus membahas berbagai agenda strategis yang berkaitan dengan peningkatan pelayanan publik kepada masyarakat.

Rakor tersebut secara khusus membahas peningkatan pelayanan publik yang prima, pembaruan data tokoh masyarakat dan tokoh agama di wilayah Kalimanah, serta persiapan pelaksanaan kegiatan menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. 

Selain itu, program bimbingan perkawinan (Bimwin) juga menjadi salah satu fokus utama pembahasan dalam pertemuan tersebut.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI, dalam arahan dan pembinaannya menekankan pentingnya kebersamaan dan kerja sama seluruh pegawai dalam menjalankan tugas sehari-hari. Menurutnya, suasana kerja yang harmonis akan berdampak langsung pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah menggelar rapat koordinasi (rakor), Kamis (29/1/2026) (Foto: Rizal)

“Kebersamaan dan kerja sama yang baik ini harus dijaga, karena ini menjadi keunggulan tersendiri di KUA Kalimanah,” ujar Kholidin di hadapan seluruh peserta rakor.

Ia menilai bahwa sinergi antarpersonel menjadi modal utama dalam mewujudkan pelayanan publik yang profesional dan responsif.

Lebih lanjut, Kholidin juga mendorong seluruh jajaran untuk terus meningkatkan etos kerja, kedisiplinan, serta kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat. Ia berharap setiap program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui rapat koordinasi ini, KUA Kalimanah berharap terbangun komitmen bersama untuk melakukan perubahan positif, baik dalam budaya kerja maupun dalam peningkatan kualitas pelayanan publik. Dengan persiapan yang matang dan kerja sama yang solid, KUA Kalimanah optimistis dapat memberikan pelayanan yang semakin baik dan terpercaya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Rabu, 28 Januari 2026

#21 Ketika Dunia Ditinggalkan Demi Akhirat: Teladan Zuhud Ibrahim bin Adham

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 21 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (28/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-21 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (28/1/2026). 

Berikut hasil kajianya:

Ringkasan Isi Kandungan Maqolah 31 Bab 3 Kitab Nashoihul Ibad

Maqolah ke-31 mengisahkan teladan Ibrahim bin Adham rahimahullah tentang makna sejati zuhud, yaitu meninggalkan kesenangan dunia demi mengharap kebahagiaan akhirat. Ibrahim bin Adham diceritakan berasal dari kalangan bangsawan bahkan seorang sultan, namun ia rela meninggalkan kekuasaan dan kemewahan dunia untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, khususnya di Mekkah dan wilayah lainnya. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/20-hakikat-ibadah-kefanaan-dunia-dan.html

Perubahan hidup Ibrahim bin Adham bermula dari peristiwa spiritual saat berburu. Ia mendengar seruan yang menyadarkannya bahwa manusia tidak diciptakan untuk mengejar kesenangan dunia, melainkan untuk beribadah kepada Allah. Seruan ini menggugah hatinya hingga ia melepaskan harta, kendaraan, dan kedudukannya, lalu memilih hidup sederhana bersama orang-orang saleh, bekerja dengan tangannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 21 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (28/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Ibrahim bin Adham kemudian menjelaskan bahwa zuhud ia peroleh karena tiga kesadaran utama. Pertama, ia menyadari bahwa kubur adalah tempat yang sepi, yang memutuskan manusia dari segala yang dicintai di dunia, sementara tidak ada penolong yang menemani. Kedua, ia melihat bahwa perjalanan menuju akhirat sangat panjang, namun manusia sering tidak memiliki bekal amal yang cukup. Ketiga, ia menyadari bahwa kelak manusia akan menghadap Allah sebagai Hakim Yang Maha Perkasa, sementara dirinya merasa belum memiliki hujjah atau pembelaan yang kuat di hadapan-Nya.

Melalui maqolah ini, Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa zuhud bukan sekadar meninggalkan harta, tetapi lahir dari kesadaran mendalam akan kematian, akhirat, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah, sehingga mendorong seorang hamba untuk memperbaiki ibadah, memperbanyak amal saleh, dan tidak terikat pada gemerlap dunia.Berikut isi kitabnya:

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 31

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: بِمَ وَجَدْتَ الزُّهْدَ) أَيْ بِأَيِّ شَيْءٍ أَحْبَبْتَ تَرْكَ رَاحَةِ الدُّنْيَا طَلَبًا لِرَاحَةِ الْآخِرَةِ ؟. رُوِيَ أَنَّهُ كَانَ سُلْطَانًا فِي بَلَدِهِ فَتَرَكَ السَّلْطَنَةَ وَاجْتَهَدَ فِي الْعِبَادَةِ فِي مَكَّةَ وَغَيْرِهَا.

Maqolah yang ke tiga puluh satu (Dari Ibrahim Bin Adham Rahimahullah sesungguhnya dikatakan kepadanya: Sebab apa kamu menemukan sifat zuhud) Maksudnya sebab hal apa kamu suka meninggalkan kesenangan dunia karena mencari kesenangan akhirat ?. Diriwayatkan sesungguhnya Ibrahim bin Adham menjadi sultan di negaranya kemudian ia meninggalkan kekuasaan kemudian dia bersungguh-sungguh dalam peribadahan di kota Mekkah dan selain kota Mekkah.

وَفِي الرِّسَالَةِ الْقُشَيْرِيَّةِ هُوَ أَبُو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَنْصُورٍ مِنْ كَورَةِ بَلْخٍ كَانَ مِنْ أَبْنَاءِ الْمُلُوكِ فَخَرَجَ يَوْمًا مُتَصَيِّدًا فَأَثَارَ ثَعْلَبًا أَوْ أَرْنَبًا وَهُوَ فِي طَلَبِهِ فَهَتَفَ بِهِ هَاتِفٌ: يَا إبْرَاهِيمُ أَلِهَذَا خُلِقْتَ أَمْ بِهَذَا أُمِرْتَ؟ ثُمَّ هَتَفَ بِهِ أَيْضًا مِنْ قَرْبُوسِ سَرْجِهِ: وَاللَّهِ مَا لِهَذَا خُلِقْتَ وَلَا بِهَذَا أُمِرْتَ، فَنَزَلَ عَنْ دَابَّتِهِ وَصَادَفَ رَاعِيًا لِأَبِيهِ فَأَخَذَ جُبَّةً لِلرَّاعِي مِنْ صُوفٍ وَلَبِسَهَا وَأَعْطَاهُ فَرَسَهُ وَمَا مَعَهُ ثُمَّ إنَّهُ دَخَلَ الْبَادِيَةَ ثُمَّ دَخَلَ مَكَّةَ وَصَحِبَ بِهَا سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالْفُضَيْلَ بْنُ عِيَاضٍ وَدَخَلَ الشَّامَ وَمَاتَ بِهَا وَكَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ مِثْلَ الْحَصَادِ وَحِفْظِ الْبَسَاتِينِ وَغَيْرِ ذَلِكَ اهْ.

Dalam kitab Risalah Qusyairiyah Ibrahim bin Adham adalah Abu Ishaq Ibrahim Bin Mansur dari kauroh Balkh ia adalah anak dari raja. Ia keluar pada suatu hari sambil berburu kemudian ia menyerbu musang atau kelinci. Saat dia dalam penyerbuan kemudian berteriak kepadanya orang yang berteriak : Wahai Ibrahim apakah untuk ini engkau diciptakan ? atau apakah dengan ini engkau diperintah ? kemudian berteriak kepadanya juga dari arah bagian pelananya : Demi Allah bukan untuk ini engkau diciptakan dan bukan dengan ini engkau diperintah. Kemudian Ibrahim bin Adham turun dari kendaraanya kemudian secara tidak sengaja ia bertemu dengan seorang pengembala milik ayahnya kemudian ia mengambil sebuah jubah milik si pengembala yang terbuat dari woll kemudian ia mengenakan jubah itu kemudian Ibrahim bin Adham memberikan kepadanya kudanya dan apa yang ada padanya kemudian sesungguhnya ia masuk ke suatu lembah kemudian ia masuk ke Mekkah dan Ibrahim Bin Adham menemani Supyan Ats-tsauri dan Fudhoil bin Iyadh di Mekkah kemudian ia masuk ke negri Syam dan meninggal di negri Syam. Ia adalah orang yang makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri seperti panen dan menjaga kebun-kebun dan selain hal itu.

(قَالَ) أَيْ سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيمُ (بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: رَأَيْتُ الْقَبْرَ مُوحِشًا) أَيْ قَاطِعًا لِلْقُلُوبِ عَنْ مَحْبُوبَاتِهِ (وَلَيْسَ مَعِيْ مُؤْنِسٌ) أَيْ مَنْ يُسْكِنُ قَلْبِيْ (وَرَأَيْتُ طَرِيقًا طَوِيلًا) أَيْ مَسَافَةً بَعِيدَةً فِي اَلْآخِرَةِ (وَلَيْسَ مَعِيْ زَادٌ) يُعِينُنِي عَلَى تِلْكَ الْمَسَافَةِ (وَرَأَيْتُ الْجَبَّارَ) أَيْ الَّذِي يَقْهَرُ الْعِبَادَ عَلَى كُلِّ مَا أَرَادَ (قَاضِيًا وَلَيْسَ لِيْ حُجَّةٌ) أَيْ مَا يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ دَعْوَايَ.

(Telah berkata) Maksudnya Tuanku Ibrahim (Aku menemukan sifat zuhud dengan tiga perkara: Aku melihat quburan sepi) Yang memutuskan hati dari yang dicintainya (Dan tidak ada bersamaku orang yang menghibur) Maksudnhya orang yang menenangkan hatiku (Dan aku melihat jalan yang panjang) Maksudnya jarak yang jauh di akhirat (Dan tidak ada bersamaku perbekalan) Yang akan menolongku atas jarak itu (Dan aku melihat Allah yang maha perkasa) Maksudnya dzat yang bisa memaksa kepada para hamba atas setiap perkata yang ia kehendaki (Sebagai hakim dan tidak ada bagiku hujjah) Maksudnya hal yang menunjukkan atas kebenaran pengakuan ku.(*)

Source: lilmuslimin


Rabu, 21 Januari 2026

#20 Hakikat Ibadah, Kefanaan Dunia dan Keutamaan Akhirat

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 20 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (21/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-20 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor,  Rabu (21/1/2026).

Berikut ringkasan Maqolah 26–30 Nashoihul ‘Ibad Bab 3 secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami, tanpa mengurangi makna pokoknya:


Berikut rangkuman singkat Bab 3 Maqolah 26–30 Kitab Nashoihul ‘Ibad: 

  • Maqolah 26: Orang yang wafat dalam keadaan cinta, takut, dan malu kepada Allah akan mendapat rahmat besar: masuk surga, dijauhkan dari neraka, bahkan dosanya dihapus sebagai karunia Allah. 
  • Maqolah 27: Kesempurnaan ibadah dicapai dengan menunaikan kewajiban, menjauhi larangan, dan ridha terhadap pembagian rezeki Allah; itulah hakikat ibadah, zuhud, dan kekayaan sejati.
  • Maqolah 28: Kehidupan dunia fana; manusia akan sirna jasadnya, namun amal perbuatannya tetap melekat dan menjadi penentu nasib di akhirat.
  • Maqolah 29: Memberi menjadikan kita mulia, meminta menjadikan kita hina, dan merasa cukup (tidak bergantung pada manusia) menjadikan kita setara dan merdeka.
  • Maqolah 30: Dunia dan akhirat tidak bisa disatukan sepenuhnya; mencintai akhirat berarti meninggalkan dunia, dan mencintai dunia berarti berpaling dari akhirat

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 20 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (21/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 26

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى بَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ) عَلَيْهِمْ السَّلَامُ (مَنْ لَقِيَنِي) بِالْمَوْتِ (وَهُوَ يُحِبُّنِي) أَيْ يَشْتَاقُ إِلَيَّ وَيَرْغَبُ فِيمَا عِنْدِي مِنَ الثَّوَابِ (أَدْخَلْتُهُ جَنَّتِي) مَعَ السَّابِقِينَ (وَمَنْ لَقِيَنِي) بِالْمَوْتِ (وَ) الْحَالُ (هُوَ يَخَافُنِي) أَيْ يَخَافُ عَذَابِي (أَجْنَبْتُهُ نَارِي، وَمَنْ لَقِيَنِي بِالْمَوْتِ وَهُوَ يَسْتَحْيِي مِنِّي) بِأَنْ تَنْقَبِضَ نَفْسُهُ مِنْ شَيْءٍ خَوْفًا مِنْ عِقَابِ اللَّهِ تَعَالَى لَهُ فِيْهِ (أُنْسَيتُ الْحَفَظَةَ) أَيْ الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ كَتَبُوا أَعْمَالَهُ (ذُنُوبَهُ) فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ.

Maqolah yang ke dua pulu enam (Telah mewahyukan Allah Ta'ala kepada para Nabi) Alaihimus Salam (Barang siapa bertemu denganku) Sebab mati (Dan ia mencintai aku) Maksudnya ia rindu padaku dan senang atas apa yang ada padaku dari pahala (Maka pasti aku akan memasukkannya ke dalam surgaku) Bersama orang-orang terdahulu (Dan Barang siapa bertemu denganku) Sebab mati (Dan) huruf wau pada kalimat ini adalah wau haliah (Ia takut padaku) Maksudnya takut atas adzabku (Maka pasti aku akan menjauhkan ia dari nerakaku, dan barang siapa bertemu denganku sebab mati dan ia malu padaku) Dengan cara ia menahan dirinya dari suatu perkara karna takut dari siksaan Allah Ta'ala padanya sebab perkara itu (Maka pasti aku akan menjadikan lupa malaikat hafadhoh) Maksudnya malaikat yang menulis amal-amalnya (Pada dosanya) Sebagai anugrah dari Allah Ta'ala padanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 27

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكَ) بِالتَّمَامِ (تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ عِبَادَةً (وَاجْتَنِبْ مَحَارِمَ اللَّهِ تَكُنْ أَزْهَدَ النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ بُغْضًا لِلدُّنْيَا وَإِعْرَاضًا عَنْهَا (وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ) مِنَ الرِّزْقِ (تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ مَالًا.٠

Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Dari Abdullah Bin Mas'ud) Radhiallahu Anhu (Tunaikanlah perkara yang telah memfardhukan Allah Ta'ala kepadamu) Dengan sempurna (Maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak beribadah (Dan jauhilah laranngan-larangan Allah maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling zuhud) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak membenci dunia dan berpaling dari dunia (Dan kamu harus ridho atas perkara yang telah Allah bagikan ke padamu) Dari rizqi (Maka pasti kamu akan menjadi manusia paling kaya) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak hartanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 28

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ صَالِحٍ الْمَرْقَدِيِّ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ مَرَّ بِبَعْضِ الدِّيَارِ فَقَالَ: يَا دِيَارُ أَيْنَ أَهْلُكِ) أَيْ أَيْنَ مُؤَنِّسُكِ (الْأَوَّلُوْنَ وَأَيْنَ عُمَّارُكِ) أَيْ بَانُوكِ (الْمَاضُونَ، وَأَینَ سُكَانُْكِ الْأَقْدَمُونَ، فَهَتَفَ بِهِ هَاتِفٌ) أَيْ صَاحَ بِهِ صَائِحٌ فَسَمِعَ صَوْتَهُ وَلَمْ يَرَ شَخْصَهُ (انْقَطَعَتْ آثَارُهُمْ) أَيْ عَلَامَتُهُمْ (وَبَلِيَتْ) أَيْ فَنِيَتْ (تَحْتَ التُّرَابِ أَجْسَامُهُمْ وَبَقِيَتْ أَعْمَالُهُمْ قَلَائِدَ) أَيْ أَطْوَاقًا فِي أَعْنَاقِهِمْ.

Maqolah yang ke dua puluh delapan (Dari Solih Al-Marqodi) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia melewati sebagian kampung-kampung kemudian ia berkata: Wahai kampung-kampung di mana para pendudukmu) Maksudnya dimana orang yang menempatimu (Yang awal dan dimana orang yang telah memakmurkan kamu) Maksudnya orang yang membangunmu (Yang terdahulu, dan dimana pendudukmu yang terdahulu, kemudian menjerit kepadanya orang yang menjerit) Maksudnya menangis sambil berteriak kepadanya orang yang menangis sambil berteriak kemudian Solih mendengar suaranya sedangkan Solih tidak melihat orangnya (Telah terputus jejak-jejak mereka) Maksudnya tanda-tanda mereka (Dan telah membusuk) Maksudnya binasa (Di bawah tanah jasad mereka dan telah menetap amal mereka menjadi kalung) Maksudnya menjadi kalung di leher-leher mereka.
 
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 29

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (تَفَضَّلْ عَلَى مَنْ شِئْتَ) أَيْ أَحْسِنْ إِلَيْهِ وَأَنْعِمْ عَلَيْهِ (فَأَنْتَ أَمِيرُهُ) أَيْ إِنْ أَحْسَنْتَ إِلَى شَخْصٍ بِالْعَطَاءِ صِرْتَ أَمِيرًا لَهُ (وَاسْأَلْ مَنْ شِئْتَ فَأَنْتَ أَسِيرُهُ) أَيْ وَاسْأَلْ النَّاسَ مَا تَحْتَاجُهُ مِنَ الْمَالِ وَالْعِلْمِ فَإِنِ احْتَجْتَ إِلَى شَخْصٍ فِي ذَلِكَ صِرْتَ عَبْدًا لَهُ لِأَنَّ النُّفُوسَ جُبِلَتْ بِحُبِّ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْهَا كَمَا فِي الْحَدِيثِ: ((وَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا فَهُوَ أَسِيرٌ لَهُ))، وَلِقَوْلِ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ: أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا فَإِنْ شَاءَ بَاعَنِي وَإِنْ شَاءَ أَعْتَقَنِي (وَاسْتَغْنِ عَمَّنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ نَظِيرُهُ) أَيْ اِكْتَفِ بِمَا عِنْدَكَ مِنَ الرِّزْقِ وَلَا تَفْتَقِرْ فِي الْمَالِ لِشَخْصٍ غَنِيٍّ كَثِيرِ الْمَالِ فَإِنْ لَمْ تَفْتَقِرْ إِلَيْهِ صِرْتَ غَنِيًّا مِثْلَهُ .

Maqolah yang ke dua puluh sembilan (Dari Alii Radhialllahu Anhu) Wakarroma Wajhahu (Berikanlah anugrah kepada siapapun yang kamu kehendaki) Maksudnya berbuat baiklah kamu kepada siapapun yang kamu kehendaki dan berikanlah kenikmatan kepada siapapun yang kamu kehendaki (Maka kamu adalah pemimpinnya) Maksudnya jika kamu berbuat baik kepada seseorang dengan cara memberi maka kamu pasti akan menjadi pemimpin baginya (Dan mengemislah kamu kepada orang yang kamu kehendaki maka kamu adalah budaknya) Maksudnya mengemislah kamu kepada manusia atas apapun yang engkau membutuhkannya dari harta dan ilmu jika kamu butuh pada seseorang dalam hal itu maka pasti kamu akan menjadi budak baginya karena sesungguhnya jiwa jiwa manusia diciptakan dengan mencintai seseorang yang telah berbuat baik kepadanya sebagaimana keterangan dalam hadits: ((Barang siapa mencintai sesuatu maka ia menjadi tawanan baginya)), Dan karena perkataan Ali Karramallahu Wajhahu : Aku adalah budaknya seorang guru yang telah mengajarkan padaku walaupun hanya satu huruf. Jika ia mau maka ia menjual ku dan jika ia mau maka ia memerdekakanku. (Dan jadilah kamu mandiri dari orang yang kamu kehendaki maka sesungguhnya kamu menjadi orang yang sebanding dengannya) Maksudnya kamu harus merasa cukup atas apa yang ada padamu dari rizqi dan janganlah kamu merasa butuh dalam masalah harta pada orang kaya yang banyak hartanya. Jika kamu tidak butuh pada orang kaya maka pasti kamu akan menjadi kaya sepertinya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 30

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّلَاثُونَ (عَنْ) أَبِي زَكَرِيَّا (يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ: تَرْكُ الدُّنْيَا كُلِّهَا أَخْذُ الْآخِرَةِ كُلِّهَا) لِأَنَّهُمَا كَالضَّرَّتَيْنِ (فَمَنْ تَرَكَهَا) أَيْ الدُّنْيَا (كُلَّهَا أَخَذَهَا) أَيْ الْآخِرَةَ (كُلَّهَا) أَيْ فَمَنْ أَعْرَضَ عَنِ الدُّنْيَا بِالْكُلِّيَّةِ أَحَبَّ الْآخِرَةَ حُبًّا كَثِيرًا (وَمَنْ أَخَذَهَا) أَيْ الدُّنْيَا (كُلَّهَا تَرَكَهَا) أَيْ الْآخِرَةَ (كُلَّهَا) أَيْ فَمَنْ أَحَبَّ الدُّنْيَا بِالْكُلِّيَّةِ أَعْرَضَ عَنِ الْآخِرَةِ بِالْكُلِّيَّةِ (فَأَخْذُهَا فِي تَرْكِهَا) أَيْ فَحُبُّ الْآخِرَةِ سَبَبُ الْإِعْرَاضِ عَنِ الدُّنْيَا (وَتَرْكُهَا فِي أَخْذِهَا) أَيْ وَبُغْضُ الدُّنْيَا بِسَبَبِ حُبِّ الْآخِرَةِ.

Maqolah yang ke tiga puluh (Dari) Abu zakariya (Yahya Bin Mu'adz Rahmatullahi Alaihi: Meninggalkan dunia seluruhnya itu adalah mengambil akhirat seluruhnya) Karena sesungguhnya dunia dan akhirat itu seperti dua kebutuhan (Maka barang siapa meninggalkannya) Maksudnya dunia (Seluruhnya maka ia telah mengambil akhirat) Maksudnya akhirat (Seluruhnya) Maksudnya barang siapa berpaling dari dunia secara keseluruhan maka ia pasti mencintai akhirat dengan cinta yang banyak (Dan barang siapa mengambilnya) Maksudnya dunia (Seluruhnya maka ia telah meninggalkan akhirat) Maksudnya akhirat (Seluruhnya) Maksudnya barang siapa mencintai dunia secara keseluruhan maka ia pasti berpalinng dari akhirat secara keseluruhan. (Mengambil akhirat itu adalah sebab meninggalkan dunia) Maksudnya Mencintai akhirat itu adalah sebab berpaling dari dunia (Dan meninggalkan akhirat itu adalah sebab mengambil dunia) Maksudnya membenci dunia itu adalah sebab mencintai akhirat.(*)
 
Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto
 

PAI KUA Kalimanah, Turut Hadir Menguatkan, Menjaga Posko, dan Menghibur Korban Banjir Bandang

PAI KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba (nomor delapan dari kiri) saat foto bersama dengan petugas jaga di Posko Keagamaan Kemenag Purbalingga ...