Selasa, 10 Februari 2026

Empat PAI KUA Kalimanah Bekali Catin Ilmu Rumah Tangga, Berikut Uraian Singkat Materinya

PAI KUA Kalimanah, Mughofar, S.Ag., saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Dengan berbagai materi penguatan ketahanan keluarga dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di Balai Nikah KUA Kalimanah, empat Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah hadir sebagai narasumber, Selasa (10/2/2026)

Kegiatan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama sebagai upaya membekali calon pasangan suami istri dengan pemahaman keagamaan dan keterampilan membangun rumah tangga yang harmonis.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/bekali-calon-pengantin-menuju-keluarga.html

Berikut uraian singkat dari empat materi yang disampaikan oleh PAI KUA Kalimanah:

Materi pertama disampaikan oleh Moch. Agus Zaenal Abidin yang menekankan bahwa keluarga sakinah harus dibangun di atas pondasi agama yang kuat.

Ia menjelaskan bahwa suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang harus dijalankan dengan baik sesuai tuntunan Islam. Selain itu, ia juga mengingatkan agar mahar tidak memberatkan, tetapi tetap mengandung nilai manfaat serta bersifat halal dan baik.

“Suami dan istri harus saling menghormati, mengasihi, menyayangi, memahami, dan menjaga kekompakan dalam rumah tangga,” pesannya.

Materi kedua tentang hak dan kewajiban suami istri disampaikan oleh Mughofar. Ia mengingatkan agar calon pengantin tidak hanya fokus pada persiapan hari pernikahan, tetapi juga memikirkan kehidupan jangka panjang setelah menikah.

Menurutnya, pernikahan merupakan perjalanan seumur hidup yang membutuhkan kesiapan mental dan perubahan pola pikir.

“Setelah menikah, pasangan akan saling mengenal lebih dalam. Karena itu, suami dan istri harus memahami hak dan kewajibannya serta mampu memperlakukan pasangan dengan baik, termasuk ketika terjadi perubahan fisik seiring bertambahnya usia,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya terus belajar, khususnya ilmu agama, sebagai pedoman dalam mencapai tujuan pernikahan yang sakinah.

Materi ketiga disampaikan oleh Zamroni Irham yang membahas komunikasi dan penyelesaian konflik dalam keluarga. 

Ia menuturkan bahwa setiap rumah tangga pasti menghadapi dinamika kehidupan, sehingga komunikasi menjadi kunci utama menjaga keharmonisan keluarga.

Ia mengajak para calon pengantin untuk meluruskan niat pernikahan semata-mata karena Allah SWT agar mampu menghadapi setiap persoalan dengan bijak.

Selanjutnya, materi keempat disampaikan oleh Azizah Dwi Purba yang menekankan pentingnya komunikasi yang intens, efektif, dan penuh kelembutan dalam keluarga.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi dalam rumah tangga tidak hanya sebatas rutinitas atau penyampaian informasi, tetapi harus dibangun dengan empati dan kesabaran..

“Komunikasi yang baik menuntut kemampuan menahan amarah dan menumbuhkan sikap sabar dalam membangun keharmonisan keluarga,” ujarnya.

Kegiatan Bimwin juga diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab, yang dimanfaatkan para calon pengantin untuk berkonsultasi langsung dengan narasumber terkait berbagai persoalan kehidupan rumah tangga.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta mendapatkan sertifikat Bimwin sebagai tanda telah mengikuti pembekalan pranikah.

Melalui kegiatan ini, KUA Kalimanah berharap para calon pengantin memiliki bekal ilmu, kesiapan mental, serta pemahaman agama yang kuat, sehingga mampu membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah serta melahirkan generasi yang berakhlak mulia.(*)

Kontributor: Zamroni Irham
Editor: Imam Edi siswanto

Bekali Calon Pengantin Menuju Keluarga Sakinah, KUA Kalimanah Gelar Bimwin Mandiri Penuh Makna

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI (dua dari kiri) foto bersama para PAI dan Catin usai acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melaksanakan program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di Balai Nikah KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). 

Kegiatan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama, sekaligus bentuk komitmen dalam mempersiapkan pasangan yang siap membangun rumah tangga berkualitas. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=bimwin

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI saat sambutan pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di Balai Nikah KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Dalam sambutan pembukaan, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI, menegaskan bahwa Bimwin bertujuan memberikan bekal menyeluruh kepada calon pengantin agar mampu mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Ia menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan perjalanan ibadah yang harus dijalani dengan kesiapan ilmu, mental, dan spiritual.

“Bimwin ini menjadi bekal penting agar tidak ada keluarga yang rapuh, karena pernikahan adalah perjalanan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat,” tegasnya di hadapan tujuh pasangan calon pengantin atau 14 peserta.

Kholidin juga menyampaikan ucapan selamat kepada para calon pengantin yang akan memasuki jenjang kehidupan baru. 

PAI KUA Kalimanah. Azizah Dwi Purba, S.Sos. saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Menurutnya, salah satu tujuan utama Bimwin adalah mencegah terjadinya perceraian dengan membekali pasangan kemampuan menyelesaikan persoalan rumah tangga secara bijak. 

Ia berharap seluruh peserta dapat menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera, dan penuh ketenteraman dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pondasi utama.

Kegiatan yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Pujianto ini menghadirkan empat narasumber dari PAI KUA Kalimanah. Azizah Dwi Purba, S.Sos., menyampaikan materi tentang pentingnya membangun komunikasi efektif antara suami dan istri sebagai kunci keharmonisan keluarga. 

PAI KUA Kalimanah Mochamad Agus Zaenal Abidin, S.E. saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Materi tentang hak dan kewajiban suami istri dalam mewujudkan keluarga sakinah disampaikan oleh Mughofar, S.Ag. 

Sementara itu, Moch. Agus Zaenal Abidin memaparkan konsep keluarga sakinah dengan menekankan pentingnya menjadikan agama sebagai pondasi rumah tangga. 

Materi komunikasi dan penyelesaian konflik dalam keluarga disampaikan oleh Zamroni Irham, S.Sos., sebagai bekal bagi pasangan dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga. 

PAI KUA Kalimanah, Mughofar, S.Ag., saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Pelaksanaan kegiatan Bimwin oleh panitia yang diberi tugas ini terdiri dari Hasbiq Muzni, S.Sy., Rizal Nur Ahmadi, S.Hum., Imam Edi Siswanto, S.Ag., M.H., Azizah Dwi Purba, S.Sos., Pujianto, S.Sos., Zamroni Irham, S.Sos., Mughofar, S.Ag., serta Mochamad Agus Zaenal Abidin, S.E.

Melalui program ini, KUA Kalimanah berharap para calon pengantin memiliki kesiapan yang matang dalam membangun rumah tangga, sehingga mampu melahirkan keluarga yang harmonis, tangguh, dan menjadi fondasi lahirnya generasi yang berakhlak mulia.(*)

Kontributor: Zamroni Irham
Editor: Imam Edi siswanto

Jumat, 06 Februari 2026

#22 Menggapai Ketenteraman Hati dengan Zuhud dan Ketakwaan

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 22 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (4/2/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-22 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (4/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 32–35. 

Maqolah 32 menjelaskan tentang hakikat ketenangan bersama Allah (al-uns billah) menurut Sufyan Ats-Tsauri. Ketenangan dengan Allah bukanlah merasa senang atau terpikat pada hal-hal lahiriah seperti wajah yang menarik, suara yang merdu, maupun ucapan yang fasih. Intinya, hati seorang hamba hendaknya tidak bergantung pada kenikmatan duniawi, tetapi hanya merasa tenteram karena kedekatannya kepada Allah.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/21-ketika-dunia-ditinggalkan-demi.html

Maqolah 33 menerangkan makna zuhud menurut Ibnu Abbas yang diibaratkan terdiri dari tiga huruf. Huruf ز (zai) berarti bekal untuk akhirat, yaitu ketakwaan kepada Allah. Huruf ه (ha) berarti petunjuk dalam beragama, yakni menempuh jalan hidup yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ. Huruf د (dal) berarti istiqamah atau terus-menerus dalam menjalankan ketaatan.

Maqolah 34 masih membahas tentang zuhud, namun dengan penjelasan berbeda. Huruf ز (zai) dimaknai meninggalkan perhiasan atau kemewahan berlebihan. Huruf ه (ha) berarti meninggalkan hawa nafsu dan keinginan diri yang tidak baik. Huruf د (dal) berarti meninggalkan ketergantungan pada dunia, termasuk mencari pujian manusia dan berlebih-lebihan dalam kenikmatan hidup seperti makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. 

Maqolah 35 menjelaskan wasiat tentang cara menjaga agama agar tetap suci, yaitu dengan membatasi perkataan hanya pada hal yang bermanfaat, karena diam dari keburukan lebih utama daripada berbicara tanpa manfaat. Selain itu, dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam urusan dunia dan pergaulan, kecuali sebatas kebutuhan. Dijelaskan pula bahwa manusia terbagi menjadi beberapa golongan, mulai dari yang jauh dari kebaikan hingga orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, yang seharusnya diikuti nasihatnya. Maqolah ini juga menegaskan bahwa inti zuhud adalah menjauhi segala yang haram, melaksanakan seluruh kewajiban, bertaubat, memiliki sifat qanaah, serta menumbuhkan tawakal dan sikap pasrah kepada ketentuan Allah dengan penuh kepercayaan dan ketaatan.

Secara keseluruhan, keempat maqolah ini menegaskan pentingnya membersihkan hati dari ketergantungan pada dunia, memperkuat ketakwaan, mengikuti tuntunan Nabi, serta menjaga keistiqamahan dalam beribadah demi meraih kedekatan dengan Allah.

Berikut terjemahan lengkapnya: 
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 32

 الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْأُنْسِ بِاللَّهِ تَعَالَى مَا هُوَ؟ فَقَالَ:) أَيْ سُفْيَانُ (أَنْ لَا تَسْتَأْنِسَ بِكُلِّ وَجْهٍ صَبِيحٍ) أَيْ مُشْرِقٍ (وَلَا بِصَوْتٍ طَيِّبٍ) أَيْ لَذِيذٍ فِي السَّمَاعِ وَشَارِحٍ فِي الْقَلْبِ وَ(لَا بِلِسَانٍ فَصِيحٍ) أَيْ جَیِّدٍ.

Maqolah yang ke tiga puluh dua (Dari Supyan Ats-Tsauri Rahimahullah : Sesungguhnya ia ditanya tentang ketenangan bersama Allah apakah itu? Kemudian ia menjawab) Maksudnya Supyan (Janganlah kamu merasa senang dengan setiap wajah yang ceria) Wajah yang bersih (Dan janganlah kamu senang dengan suara yang merdu) Maksudnya suara yang enak di dengar dan yang melapangkan hati dan (Janganlah kamu senang dengan lisan yang pasih) Maksudnya yang bagus. 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 33

 الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: الزُّهْدُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ: زَايٌ وَهَاءٌ وَدَالٌ، فَالزَّايُ زَادٌ لِلْمَعَادِ) أَيْ لِلْآخِرَةِ وَهُوَ تَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى (وَالْهَاءُ هُدًى لِلدِّينِ) أَيْ سُلُوكُ طَرِيقٍ يُوصِلُ إِلَى الطَّرِيقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ (وَالدَّالُّ دَوَامٌ عَلَى الطَّاعَةِ).

Maqolah yang ke tiga puluh tiga (Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma sesungguhnya ia berkata: zuhud ada tiga huruf: ز dan ه dan د maka ز adalah زاد للمعاد bekal untuk akhirat) Maksudnya untuk akhirat yaitu takwa kepada Allah Ta'ala (Dan ه adalah هدى للدين petunjuk agama) maksudnya menelusuri jalan yang bisa menyampaikan menuju jalan Nabi Muhammad (Dan د adalah دوام على الطاعة istiqomah dalam ketaatan). 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 34

 الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (قَالَ) أَيْ ابْنُ عَبَّاسٍ (فِي مَوْضِعٍ آخَرَ:) الزُّهْدُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ (الزَّايُ تَرْكُ الزِّينَةِ، وَالْهَاءُ تَرْكُ الْهَوَى) أَيْ مَحْبُوبَاتِ النَّفْسِ (وَالدَّالُ تَرْكُ الدُّنْيَا) مِنْ ثَنَاءِ الْخَلْقِ وَمِنْ التَّنَعُّمِ وَالتَّوَسُّعِ فِي الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ.

Maqolah yang ke tiga puluh empat (Telah berkata) Maksudnya Ibnu Abbas (Di tempat yang lain:) Zuhud ada tiga huruf (ز adalah ترك الزينة meninggalkan zinah, dan ه adalah ترك الهوى meninggalkan hawa nafsu) Maksudnya hal-hal yang dicintai nafsu (Dan د adalah ترك الدنيا meninggalkan dunia) Dari pujian makhluq dan dari kenikmatan dan dari kemewahan pada makanan dan minuman dan pakaian dan tempat tinggal.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 35

 الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ حَامِدِ اللَّقَّافِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ: أَوْصِنِيْ) أَيْ بِمَا يَنْفَعُنِيْ فِي الدِّيْنِ (فَقَالَ: اِجْعَلْ لِدِينِكَ غِلَافًا كَغِلَافِ الْمُصْحَفِ) وَهُوَ مَا يَصُوْنُهُ عَنِ الدَّنَسِ (قِيلَ لَهُ: مَا غِلَافُ الدِّينِ) فَالشَّرِيعَةُ مِنْ حَيْثُ إنَّهَا تُطَاعُ تُسَمَّى دِينًا وَمِنْ حَيْثُ إنَّهَا تُجْمَعُ تُسَمَّى مِلَّةً وَمِنْ حَيْثُ إنَّهَا يُرْجَعُ إلَيْهَا تُسَمَّى مَذْهَبًا (قَالَ لَهُ:) غِلَافُ الدِّينِ (تَرْكُ الْكَلَامِ إلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ) وَهُوَ مَا لَا يُحْصُلُ الْمَقْصُودُ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا إلَّا بِهِ. قَالَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَوْ لُقْمَانُ: إذَا كَانَ الْكَلَامُ مِنْ فِضَّةٍ كَانَ السُّكُوتُ مِنْ ذَهَبٍ. وَالْمَعْنَى إذَا كَانَ الْكَلَامُ فِي الْخَيْرِ كَالْفِضَّةِ حَسَنًا كَانَ السُّكُوتُ عَنِ الشَّرِّ كَالذَّهَبِ فِي الْحُسْنِ اهْ.

Maqolah yang ke tiga puluh lima (Dari Hamid Al-Laqof Rahimahullah Sesungguhnya datang kepadanya seorang lelaki kemudian berkata kepada Hamid Al-Laqof: Berikanlah aku wasiat) Maksudnya atas perkara yang bermanfaat padaku dalam agama (Kemudian Hamdi Al-Laqof berkata: Jadikanlah unuk agamamu bungkus seperti bungkus mushaf) Maksudnya yang bisa menjaga dari kotoran (Dikatakan kepadanya: Apa bungkus agama ?) Syariat dari sekiranya sesungguhnya syariat itu diikuti maka dinamakan agama dan dari sekiranya sesungguhnya syariat itu dikumpulkan maka dinamakan millah dan dari sekiranya sesungguhnya syariat itu dikembalikan agama padanya maka dinamakan madzhab (Hamid Al-Laqof berkata kepadanya:) Bungkus agama (Adalah meninggalkan percakapan kecuali percakapan yang tidak boleh tidak darinya) yaitu percakapan yang tidak akan hasil pada yang dimaksud dari urusan dunia kecuali dengannya. Telah bersabda Nabi Sulaiman Alaihis Salam atau Luqman : Jika berbicara itu adalah perak maka pasti diam itu adalah emas. Maknanya Jika berbicara tentang kebaikan seperti perak itu bagus maka pasti diam dari perkataan buruk itu seperti emas dalam hal bagusnya.

وَالسَّاكِتُ فِي الْحَقِّ كَالنَّاطِقِ فِي الْبَاطِلِ (وَتَرْكُ الدُّنْيَا) مِنَ الْأَمْتِعَةِ (إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ) وَهُوَ مَا لَا تَحْصُلُ الْحَاجَةُ إِلَّا بِهِ (وَتَرْكُ مُخَالَطَةِ النَّاسِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ) وَهُوَ مَا لَا يَحْصُلُ الْمَطْلُوبُ إلَّا بِهِ.

Dan orang yang diam tentang kebenaran itu seperti orang yang berbicara dalam kebatilan. (Dan meninggalkan dunia) Dari benda-benda (Kecuali dunia yang tidak boleh tidak darinya) Yaitu perkara yang tidak akan hasil suatu kebutuhan kecualing dengannya (Dan meninggalkan bergaul dengan manusia kecuali bergaul yang tidak boleh tidak darinya) Yaitu pergaulan yang tidak akan hasil yang dicari kecuali dengan bergaul.

وَالنَّاسُ تَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ كَمَا قَالَهُ سَيِّدِيْ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيُّ قَدَّسَ سِرَّهُ: رَجُلٌ لَا لِسَانَ لَهُ وَلَا قَلْبَ وَهُوَ الْعَاصِي الْغَرُّ الْغَبِيُّ، فَاحْذَرْ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ وَلَا تَقُمْ فِيهِمْ فَإِنَّهُمْ أَهْلُ الْعَذَابِ، وَرَجُلٌ لَهُ لِسَانٌ بِلَا قَلْبٍ فَيَنْطِقُ بِالْحِكْمَةِ وَلَا يَعْمَلُ بِهَا، يَدْعُو النَّاسَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى وَهُوَ يَفِرُّ مِنْهُ فَابْعُدْ مِنْهُ لِئَلَّا يَخْطَفَكَ بِلَذِيذِ لِسَانِهِ فَتُحْرِقَكَ نَارُ مَعَاصِيْهِ وَيَقْتُلَكَ نَتْنُ قَلْبِهِ، وَرَجُلٌ لَهُ قَلْبٌ بِلَا لِسَانٍ وَهُوَ مُؤْمِنٌ سَتَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ خَلْقِهِ وَبَصَّرَهُ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ وَنَوَّرَ قَلْبَهُ وَعَرَّفَهُ غَوَائِلَ مُخَالَطَةِ النَّاسِ وَشُؤْمَ الْكَلَامِ فَهَذَا رَجُلٌ وَلِيُّ اللَّهِ تَعَالَى مَحْفُوظٌ فِي سَتْرِ اللَّهِ تَعَالَى، فَالْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ عِنْدَهُ فَدُوْنَكَ وَمُخَالَطَتَهُ وَخِدْمَتَهُ فَيُحِبَّكَ اللَّهُ تَعَالَى، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ وَعَلَّمَ وَعَمِلَ بِعِلْمِهِ وَهُوَ الْعَالِمُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَآيَاتِهِ اِسْتَوْدَعَ اللَّهُ قَلْبَهُ غَرَائِبَ عِلْمِهِ وَشَرَحَ صَدْرَهُ لِقَبُولِ الْعُلُومِ فَاحْذَرْ أَنْ تُخَالِفَهُ وَتُجَانِبَهُ وَتَتْرُكَ الرُّجُوعَ إِلَى نَصِيحَتِهِ.

Manusia itu terbagi pada empat kelompok sebagaimana telah berkata tentang hal itu tuanku Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani Qoddasa Sirrohu: Lelaki yang tidak mempunya lisan dan tidak mempunyai hati dan dia adalah orang yang bermaksiat yang menipu dan bodoh, Maka berhati hatilah kamu menjadi bagian dari mereka dan janganlah kamu berdiri diantara mereka karena mereka adalah orang yang pantas mendapat siksaan. Lelaki yang mempunyai lisan dan tidak mempunyai hati kemudian ia berbicara dengan kalimat kalimat hikmah dan ia tidak mengamalkan pada hikmah, dia mengajak kepada manusia menyembah Allah Ta'ala sedangkan ia kabur dari Allah maka menjauhlah kamu darinya supaya ia tidak menyambarmu dengan kenikmatan lisannya kemudian akan membakarmu api kemaksiatannya dan akan membunuhmu kebusukan hatinya. Lelaki yang mempunyai hati tanpa mempunyai lisan dia adalah orang mu'min yang menutup kepadanya Allah Ta'ala dari makhluk Allah dan Allah memperlihatkan padanya atas aib-aib dirinya Dan Allah menerangi hatinya dan Allah memberi tahu padanya tentang bahayanya bergaul dengan manusia dan bahayanya kesialan obrolan Maka lelaki ini adalah kekasih Allah yang dijaga dalam perlindungan Allah Ta'ala. Kebaikan seluruh kebaikan ada pada lelaki itu maka wajib atasmu bergaul dengannya dan berkhidmah padanya maka pasti akan cinta padamu Allah Ta'ala. Lelaki yang mengaji dan mengajar dan mengamalkan ilmunya dan ia tahu pada Allah dan pada ayat Allah. Allah menitipkan kedalam hatinya keindahan-keindahan ilmunya dan Allah melapangkan hatinya untuk menerima ilmu maka berhati hatilah kamu menyelisihinya dan menjauhinya dan meninggalkan merujuk pada nasihatnya.

(ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ أَصْلَ الزُّهْدِ الِاجْتِنَابُ عَنِ الْمَحَارِمِ، كَبِيرِهَا وَصَغِيرِهَا) لِأَنَّ مَنْ لَا وَرَعَ لَهُ لَا يَصِحُّ لَهُ الزُّهْدُ (وَأَدَاءُ جَمِيعِ الْفَرَائِضِ يَسِيرِهَا وَعَسِيرِهَا) لِأَنَّ مَنْ لَا تَوْبَةَ لَهُ لَا تَصِحُّ لَهُ الْإِنَابَةُ فَالتَّوْبَةُ هُوَ الْقِيَامُ بِكُلِّ حُقُوقِ الرَّبِّ وَالْإِنَابَةُ هُوَ إخْرَاجُ الْقَلْبِ مِنْ ظُلُمَاتِ الشُّبُهَاتِ (وَتَرْكُ الدُّنْيَا عَلَى أَهْلِهَا قَلِيلِهَا وَكَثِيرِهَا) لِأَنَّ مَنْ لَا قَنَاعَةَ لَهُ لَا يَصِحُّ لَهُ التَّوَكُّلُ وَمَنْ لَا تَوَكُّلَ لَهُ لَا يَصِحُّ لَهُ التَّسْلِيمُ اهٍ.

(Kemudian ketahuilah sesungguhnya asal zuhud itu adalah menjauhi dari yang diharamkan, besarnya yang diharamkan itu atau kecilnya yang diharamkan itu) Karena sesungguhnya orang yang tidak wara' itu tidak sah baginya zuhud (Dan menunaikan seluruh kefardhuan mudahnya kewajiban itu atau susahnya kewajiban itu) Karena sesunggunya orang yang tidak bertaubat untuk dirinya itu tidak sah baginya kembali kepada Allah. Taubat adalah mendirikan setiap hak-hak Allah. Inabah adalah mengeluarkan hati dari kegelapan-kegelapan syubhat (Dan meninggalkan dunia pada Ahlinya sedikitnya dunia itu dan banyaknya dunia itu) Karena sesungguhnya orang yang tidak qonaah untuk dirinya itu tidak sah baginya tawakkal dan barang siapa yang tidak bertawakal kepada Allah maka tidak sah baginya taslim.

فَالتَّوَكُّلُ هُوَ الثِّقَةُ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ وَالْيَأْسُ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ، فَالتَّسْلِيمُ هُوَ الِانْقِيَادُ لِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَرْكُ الْإِعْرَاضِ فِيمَا لَا يُلَائِمُ.

Tawakkal adalah percaya atas perkara yang ada pada Allah dan memutuskan harapan dari perkara yang ada pada tangan manusia, Taslim adalah patuh pada perintah Allah dan meninggalkan protes dalam perkara yang tidak sesuai keinginan.(*)
 
Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto

KUA Kalimanah Ikuti Reviu dan Doa Bersama Sukses PZI Menuju WBK 2025

KUA Kalimanah saat mengikuti kegiatan Reviu dan Doa Bersama yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga melalui daring pada Jumat, 6 Februari 2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam rangka mendukung suksesnya Penilaian Pembangunan Zona Integritas (PZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) Tahun 2025, Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah mengikuti kegiatan Reviu dan Doa Bersama yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga pada Jumat, 6 Februari 2026. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting dan diikuti oleh seluruh satuan kerja di lingkungan Kemenag Purbalingga. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/07/menjadi-wajah-kemenag-kua-kalimanah.html

tangkapan layar aat KUA Kalimanah mengikuti kegiatan Reviu dan Doa Bersama yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga melalui daring pada Jumat, 6 Februari 2026. 

Reviu dan doa bersama ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat komitmen pembangunan Zona Integritas, khususnya dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan bebas dari praktik korupsi. 

Melalui kegiatan ini, seluruh jajaran diharapkan semakin memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam mendukung penilaian WBK Tahun 2025.

KUA Kalimanah turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama, sekaligus komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik yang profesional, akuntabel, dan berintegritas. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/05/doa-bersama-menuju-zona-integritas-kua.html

Melalui kegiatan reviu, dilakukan evaluasi terhadap berbagai program, inovasi, serta capaian yang telah dilaksanakan dalam rangka pembangunan Zona Integritas. Selain itu, kegiatan doa bersama menjadi momentum spiritual untuk memohon keberkahan dan kelancaran proses penilaian WBK, sekaligus memperkuat semangat integritas seluruh aparatur Kementerian Agama.

Kepala KUA Kalimanah, H. Kholidin, menyambut baik kegiatan ini sebagai penguatan komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. 

"Dengan penerapan nilai-nilai integritas, diharapkan pelayanan yang diberikan semakin profesional, transparan, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat," harapnya.

Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, KUA Kalimanah menegaskan dukungannya terhadap program pembangunan Zona Integritas serta optimisme bersama dalam mewujudkan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga yang berpredikat Wilayah Bebas dari Korups.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 03 Februari 2026

PAI KUA Kalimanah, Turut Hadir Menguatkan, Menjaga Posko, dan Menghibur Korban Banjir Bandang

PAI KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba (nomor delapan dari kiri) saat foto bersama dengan petugas jaga di Posko Keagamaan Kemenag Purbalingga di Desa Sangkanayu, Senin (/2/2026). (Foto: istimewa)

Purbalingga-Kepedulian dan ketulusan ditunjukkan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba, yang turut aktif dalam pelayanan kemanusiaan di Posko Layanan Keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Senin (2/2/2026) kemarin. 

Kehadirannya di tengah para korban banjir bandang tidak hanya membawa empati dan doa, tetapi juga penguatan mental, trauma healing, serta bantuan nyata melalui aktivitas jaga posko dan pendistribusian bantuan. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kegiatan

Bersama tim Penyuluh Agama Islam Kankemenag Purbalingga, Azizah Dwi Purba terlibat langsung dalam kegiatan pendampingan spiritual yang dilaksanakan di Posko Layanan Keagamaan Desa Sangkanayu Kecamatan Mrebet dan Desa Serang Kecamatan Karangreja. 

"Kegiatan ini bertujuan menenangkan hati para penyintas sekaligus membangkitkan kembali semangat dan harapan mereka pascabencana banjir bandang yang terjadi sepekan sebelumnya," ucapnya.

Rangkaian kegiatan dipandu oleh PAI KUA Purbalingga, Siti Suwarti dan Arin Hidayat, dengan mengajak para korban bershalawat bersama, berdoa, serta mengikuti sesi motivasi dan trauma healing. Melalui lantunan shalawat dan pendekatan yang humanis, suasana posko menjadi lebih hangat dan penuh ketenangan. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/solidaritas-kemanusiaan-kua-kalimanah.html 

Selain memberikan pendampingan rohani, Azizah Dwi Purba bersama para penyuluh lainnya juga secara bergiliran menjaga posko layanan keagamaan serta membantu proses pendataan dan pendistribusian bantuan kepada warga terdampak. 

PAI KUA Purbalingga, Siti Suwarti saat berkegiatan bersama PAI KUA Kalimanah dan Padamara di Posko Keagamaan Kemenag Purbalingga di Desa Sangkanayu, Senin (/2/2026). (Foto: istimewa)

"Peran ini menjadi bagian penting dari pelayanan Kementerian Agama yang menyentuh aspek spiritual sekaligus sosial kemanusiaan," katanyakepada D'Japri.

Turut hadir dan berkontribusi dalam kegiatan tersebut PAI lainnya, yakni Sri Agustianingsih (KUA Purbalingga), Siti Ubaidah (KUA Padamara), serta Azizah Dwi Purba (KUA Kalimanah). Kebersamaan para penyuluh ini memperkuat sinergi layanan keagamaan di masa tanggap darurat bencana.

Sedikitnya 50 peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Antusiasme terlihat saat sesi interaktif dan kuis yang dipandu oleh Arin Hidayat, yang mampu menghadirkan tawa dan keceriaan, memberikan ruang kebahagiaan di tengah situasi sulit yang sedang mereka hadapi.

Melalui kegiatan ini, para Penyuluh Agama Islam berharap pendampingan yang diberikan dapat menjadi penguat batin, menumbuhkan optimisme, serta membantu proses pemulihan psikologis masyarakat terdampak. 

"Kehadiran penyuluh diharapkan menjadi pengingat bahwa para korban tidak sendiri dalam menghadapi ujian ini," harapnya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan kepada seluruh korban banjir bandang, serta memudahkan langkah mereka untuk membangun kembali rumah, desa, dan kehidupan yang lebih baik ke depan.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Senin, 02 Februari 2026

Solidaritas Kemanusiaan KUA Kalimanah, Himpun Donasi untuk Korban Banjir Bandang Karangreja–Mrebet

Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Khloidin, MSI (Kiri) saat memimpin Rakor rutin dan pembahasan rencana pengumpulan dana untuk orban musibah banjir bandang Karangreja dan Mrebet, Kamis (29/1/206) lalu. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah dalam menggalang donasi untuk membantu para korban musibah banjir bandang yang melanda wilayah Karangreja dan Mrebet sepekan lalu.

Rencananya, donasi akan disalurkan melalui rekening Posko Pelayanan Keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Senin (2/2/2026).

Donasi tersebut berhasil dihimpun dari seluruh pegawai KUA Kalimanah dengan total dana sebesar Rp 800.000,-. Bantuan ini disalurkan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana alam akibat hujan berintensitas tinggi di lereng Gunung Slamet. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/rakor-kua-kalimanah-menguatkan.html

Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Khloidin, MSI menyampaikan harapannya agar donasi yang terkumpul dapat memberikan manfaat nyata dan sedikit meringankan beban para korban musibah.

Ia menegaskan bahwa kehadiran KUA tidak hanya sebatas pelayanan administrasi keagamaan, tetapi juga bagian dari kepedulian sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini dapat membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Ini adalah bentuk empati dan kebersamaan keluarga besar KUA Kalimanah,” ungkapnya. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/pai-kua-kalimanah-salurkan-bantuan-mt.html

Ia menambhakan untuk tetap tabah dan sabar menghadapi musibah dan tetap semangat menjalani hidup dan kehidupan

Sebelumnya, pada Ahad, 1 Februari 2026, Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah juga turut menginisiasi penggalangan donasi bersama Majelis Taklim (MT) dan TPQ Al Ittihad Karangmanyar. Dana yang terkumpul dari kegiatan tersebut telah disalurkan melalui NU Care Kabupaten Purbalingga untuk membantu para korban banjir bandang.

Selain itu, Penyuluh Agama Islam lainnya juga melakukan hal serupa dengan menyampaikan rasa empati, doa, serta dorongan moril kepada jamaah dan majelis taklim binaan di wilayah masing-masing. 

Melalui mimbar dakwah, pengajian, dan forum keagamaan, para penyuluh mengajak umat untuk memperkuat solidaritas, memperbanyak doa, serta menumbuhkan kepedulian sosial bagi para korban bencana.

Melalui peran KUA dan Penyuluh Agama Islam, nilai-nilai keagamaan terus dihadirkan dalam bentuk aksi nyata, menyatukan doa, empati, dan kepedulian sosial bagi mereka yang sedang diuji oleh musibah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Minggu, 01 Februari 2026

PAI KUA Kalimanah Salurkan Bantuan MT dan TPQ Al-Ittihad Karangmanyar untuk Korban Banjir Bandang

Donasi kemanusiaan dari MT dan TPQ Al-Ittihad Karangmanyar, bagi warga terdampak bencana di Karangreja, saat didistribusikan, Ahad (1/2/2026). (Foto: Pujianto)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Pujianto, menyalurkan donasi kemanusiaan bagi warga terdampak bencana di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Donasi tersebut disalurkan melalui NU Care PCNU Kabupaten Purbalingga sebagai lembaga resmi penyalur bantuan, Ahad (1/2/2026).

Pujianto menjelaskan bahwa, Ia mengajak jamaah serta wali santri lembaga binaannya, yakni MT dan TPQ Al-Ittihad Karangmanyar, untuk turut berpartisipasi dengan menyisihkan sebagian rezekinya.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/membangun-rumah-tangga-yang-kokoh.html

Ajakan tersebut sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap sesama, khususnya masyarakat Purbalingga yang sedang menghadapi musibah bencana di wilayah Karangreja.

“Bantuan ini merupakan wujud kepedulian bersama dan semoga dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” jelasnya.

Penyaluran donasi diterima langsung oleh Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga, H. Ulil Archam, di dampingi Sekretaris PCNU Salim Efendi serta Kanit BAGANA PCNU, Agus Winoto. 


Dalam sambutannya, H. Ulil Archam menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan oleh Pujianto beserta jamaah dan wali santri.

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, saat menyerahkan donasi kemanusiaan bagi warga terdampak bencana di Karangreja, kepada Ketua PCNU Kabupaten Purbalingga, H. Ulil Archam di Kantor NU Care PCNU Purbalingga, Ahad (1/2/2026). (Foto: Pujianto)
Ia menegaskan bahwa PCNU Purbalingga akan mengoordinasikan dan menyalurkan bantuan tersebut hingga sampai kepada warga terdampak di lokasi bencana.

Adapun donasi yang disalurkan berupa uang tunai, sembako, pakaian anak dan dewasa, air mineral, makanan ringan kering, serta kebutuhan bayi.

“Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dan membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak bencana,” harapnya.(*)

Kontributor: Pujianto
Editor: Imam Edi Siswanto


Empat PAI KUA Kalimanah Bekali Catin Ilmu Rumah Tangga, Berikut Uraian Singkat Materinya

PAI KUA Kalimanah, Mughofar, S.Ag .,  saat menyampaikan materi pada  acara  Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Cat...