Rabu, 01 Juli 2026

KUA Kalimanah Jadikan Peaceful Muharam Momentum Menguatkan Nilai Kemanusiaan

Iluatrasi: Gedung KUA Kalimanah Purbalingga tampak dari depan, Rabu (1/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Dalam rangka menyemarakkan momentum Peaceful Muharam 1448 Hijriah, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah akan menggelar kegiatan santunan pada 12 anak yatim jenjang RA, BA, dan MI se-Kecamatan Kalimanah. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026, bertempat di Ruang Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kecamatan Kalimanah.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/07/peaceful-muharam-kua-kalimanah-hadir.html

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi semangat bulan Muharam sebagai bulan yang penuh keberkahan dan kepedulian sosial. Melalui santunan tersebut, KUA Kalimanah ingin menghadirkan kebahagiaan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi kepada anak-anak yatim, yang dalam ajaran Islam mendapat perhatian dan kedudukan yang sangat mulia.

Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh panitia Peaceful Muharam 1448 H yang telah dibentuk. Puji Haryono dipercaya sebagai Ketua Panitia, didampingi Zamroni Irham sebagai Sekretaris dan Eksi Fajriati sebagai Bendahara. Sementara itu, Firman Yuwono, Joko Waluyo, dan Rizal Nur Ahmadi bertugas sebagai anggota yang akan mengawal seluruh rangkaian kegiatan agar berjalan tertib dan lancar.

Kepala KUA Kecamatan Kalimanah, Kholidin, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Peaceful Muharam bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, serta mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.

"Anak-anak yatim merupakan amanah yang harus kita perhatikan bersama. Kami berharap kegiatan santunan ini tidak hanya memberikan bantuan secara materi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, semangat, dan rasa kasih sayang bagi mereka. Inilah nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang ingin terus ditumbuhkan melalui program Peaceful Muharam," ucap Kholidin.

Ia menambahkan, KUA Kalimanah terus berkomitmen menghadirkan program-program yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan santunan ini diharapkan menjadi media untuk mengajak berbagai elemen masyarakat memperkuat budaya berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Sebagai informasi, program Peaceful Muharram 1448 H merupakan gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI untuk menyambut Tahun Baru Islam dengan serangkaian kegiatan bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat". Rangkaian kegiatan ini berfokus pada kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan dalam program ini antaralain:

  • Lebaran Yatim & Santunan Difabel: Penyaluran ribuan paket santunan, bantuan, dan kebahagiaan bagi anak-anak yatim serta penyandang disabilitas.
  • Gerakan Sosial: Aksi kemanusiaan seperti donor darah, termasuk yang dipusatkan di Masjid Istiqlal.
  • Gerakan Bersih-Bersih Masjid: Kegiatan kerja bakti dan membersihkan lingkungan masjid agar lebih nyaman untuk beribadah.
  • Peningkatan Kualitas Ibadah: Berbagai kegiatan keagamaan, seperti Khataman Al-Qur'an serentak dan standardisasi keakuratan titik kiblat.
  • Inklusi Sosial & Dakwah: Program layanan bahasa isyarat untuk kalangan difabel.

Melalui kegiatan Peaceful Muharam 1448 H, KUA Kalimanah berharap semangat berbagi di bulan Muharam dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin peduli kepada anak yatim dan kelompok yang membutuhkan. Dengan demikian, nilai-nilai Islam yang mengedepankan kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas sosial dapat terus hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.(*)

Kontributor/Editor: Imam Edi Siswanto (PAI KUA Kalimanah) 

Kamis, 18 Juni 2026

#34 Ciri orang celaka dan bahagia di akhirat , serta panji dari keimanan

 

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 34, Rabu (17/6/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-34 seperti biasa dilaksanakan pada Rabu pagi di Kantor KUA Kalimanah. Sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (17/6/2026).

Dari kajian tersebut dapat disampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul 'Ibad Bab 4 (Maqolah 15-16). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 15 sampai 16, menekankan pada karakter manusia yang celaka dan bahagia serta panji-panji keimanan.

Pertama, Maqolah 15 Dari Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa 4 tanda dari orang yang celaka yaitu: melupakan dosa dan kesalahan yang telah dilakukan padahal semuanya tercatat oleh Allah SWT, selalu mengingat kebaikan yang telah dilakukan padahal belum tentu kebaikan tersebut diterima di sisiNYA, dalam urusan dunia memandang orang lain  yeng lebih tinggi , dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih rendah. Sedangkan 4 tanda orang yang bahagia yaitu: selalu mengingat dan menyesali terhadap dosa yang telah dilakukan walaupun telah berlalu, tidak mengungkit kebaikan yang telah dilakukan karena tidak akan terlepas dari penyakit atau hal yang merusak, dalam urusan dunia memandang orang lain  yeng lebih rendah, dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih tinggi.  

Bagi orang yang menginginkan kebahagiaan kelak di akhirat hendaknya selalu mengingat kesalahan yang telah dilakukan dan memohon ampun atas kesalahan itu, dan terus menjaga hati untuk mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan karena sadar bahwa kebaikan yang telah dilakukan belum tentu diterima oleh Allah SWT. Selain itu hendaknya dalam urusan dunia ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih rendah sehingga akan timbul rasa syukur. Sebaliknya,  dalam urusan agama ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih tinggi sehingga akan terhindar dari sifat riya dan akan timbul keinginan untuk mengikutinya. 

Kedua, Maqolah 16 Dari sebagian Hukama menyatakan bahwa panji-panji keimanan yaitu: taqwa, rasa malu, syukur,  dan sabar

Orang yang beriman akan selalu taqwa yang diartikan taat dan ikhlas dalam menjalankan perintahNYA, memiliki rasa malu kepada Allah jika akan berbuat maksiat, bersyukur, dan sabar serta tidak mengeluh kepada selain Allah saat ditimpa musibah.

Kesimpulan kajian, Kedua maqolah tersebut memiliki kaitan dalam bagi seorang muslim agar dapat menjaga keimanan dengan taqwa, rasa malu kepada Allah, syukur dan sabar, serta menjaga diri agar berbahagia kelak diakhirat dengan selalu mengingat kesalahan di masa lampau dan bertaubat, mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan, mengikuti orang yang lebih tinggi dalam urusan agama, bersyukur terhadap apa yang telah didapat dengan melihat orang lain yang lebih rendah dalam urusan dunia.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 15

وعن النبى عليه السلام أنه قال: عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ أَرْبعََةٌ نِسْيَانُ الذُّنوُْبِ الْمَاضِيَةِ وهى عِنْدَ اللهِ

تَعَالَى مَحْفُوْظَةٌ وَذِكْرُ الحَْسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يَدْرِى أَ قْبِلَتْ أَمْ رُدَّتْ، وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ فَوْقَهُ فِىْ

الدُّنْيَا وَنَظَرُهُ إِلَى مَ نْ دُوْنَهُ فِى الدِّيْنِ يقَُوْلُ اللهُ أَرَدْتُهُ وَلمَْ يُرِدْنِى فَتَرَكْتُهُ وَعَلَامَةُ السَّعَادَةِ أَرْبعََةٌ

ذِكْرُالذُّنوُْبِ الْمَاضِيَةِ وَنِسْيَانُ الحَْسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ دُ وْنَهُ فِى الدُّنْيَا.

“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw., tanda-tanda terjadinya kecelakaan itu ada empat, yaitu: Melupakan dosa-dosa yang telah berlalu, padahal semuanya itu tercatat di sisi Allah. Bernostalgia (bersenang-senang) dengan kebajikan-kebajikan yang telah berlalu, padahal ia tidak mengetahui, apakah kebajikannya itu diterima atau tidak (oleh Allah SWT.). Memandang orang lebih tinggi dalam urusan dunia dan memandang orang lebih rendah dalam masalah agama. Dalam hal ini Allah berfirman, “Aku hendak menolongnya, tapi ia tidak berkeinginan kepada-Ku lalu aku urungkan.” Sedang tanda-tanda terjadinya kebahagiaan itu juga ada empat, yaitu: Merenungi dosa-dosa yang telah berlalu, melupakan kebajikan-kebajikan yang telah dilakukan, memandang orang lebih tinggi kualitas agamanya, dan memandang orang yang lebih rendah dalam urusan dunianya.”

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 16

وعن بعض الحكماء أن شعائر الايمان أربعة التقوى والحياء والشكر والصبر

“Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian hukama, sesungguhnya panji-panji

keimanan itu ada empat, yaitu: taqwa (kepada Allah SWT.), rasa malu, syukur dan

sabar.”

ذِرْ وِةُ الْإِيْمَانِ أرْبَعُ خِلَالٍ: الصَّبْرُ لِلْحُكْمِ وَالرِّضَا بِالْقَدَرِ وَالْإِخْلَاصُ لِلتَّوَكُّلِ وَالْاِسْتِسْلَامُ لِلرَّبِّ

“Puncak iman itu ada empat perkara, yaitu: sabar dalam menerima keputusan

Allah, ridha menerima takdir, ikhlas bertawakkal dan menyerahkan diri sepenuhnya

kepada Allah SWT. (semata).”


© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Pewarta: Zamroni Irham

Rabu, 20 Mei 2026

#33 Hal yang dibutuhkan dalam mencetak karakter Muslim sejati

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 33, Rabu (20/5/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-33 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (206/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 12-14). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 12 sampai 14, tersurat penekanan pada menjaga diri dengan sikap diam, menjaga hati, serta pembuktian dari suatu pengakuan.

Pertama, Maqolah 12 Dari sebuah pernyataan menguraikan bahwa meninggalkan perkara yang batil semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahala orang yang berpuasa. Selain itu orang yang mampu untuk menahan diri agar setiap anggota tubuhnya tidak melakukan hal yang diharamkan semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahalanya orang yang Shalat. sedangkan ornag yang memutuskan ketamakan terhadap orang lain (makhluk) semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala sama dengan pahala shadaqah, dan orang yang tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh muslim lain semata-mata karena Alloh akan diberikan pahalanya orang yang jihad.

Semua hal tersebut diatas harus dilandasi semata-mata karena Allah sehingga nantinya akan mendapatkan kebaikan sebagaimana yang sudah tertulis diatas.

Kedua, Maqolah 13 Menyoroti bebarapa aspek batin penyebab hati seseorang menjadi gelap yang meliputi perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang yang dzalim, melupakan dosa-dosa yang telah berlalu dan lamunan yang berlebihan. sedangkan empat perkara lain yang dapat menyebabkan hati menjadi bercahaya, yaitu: perut yang lapar karena berhati-hati, berteman dengan orang shaleh, selalu mengingat dan menyesali dosa-dosa yang telah berlalu dan tidak terlalu memanjangkan lamunan.

Dari empat perkara yang saling berlawanan diatas tiga hal dilakukan secara personal: menahan nafsu perut agar selalu memakan yang halal dengan takaran yang tepat serta tidak berlebihan, selalu mengingat dan menyesali dosa yang telah berlalu sehingga bisa menjadi kendali diri untuk tidak terperosok pada dosa yang sama dimasa mendatang, dan tidak memanjangkan lamunan terlebih pada impian yang mustahil untuk digapai. Sedangkan satu hal berhubungan dengan orang lain yaitu berteman dengan orang shaleh, yang akan berdampak pada kebaikan orang tersebut.

Ketiga, Maqolah 14 Dari Hatim Al-A'sham ra. bahwa empat pengakuan tanpa diikuti dengan pembuktian merupakan pengakuan yang bohong: mengaku cinta kepada Allah, tapi tidak mau meninggalkan segala larangan-Nya, mengaku cinta kepada Nabi tetapi ia tidak suka kepada orang fakir miskin, mengaku menginginkan surga tetapi tidak mau bersedekah, serta mengaku takut kepada neraka tetapi tidak mau meninggalkan perbuatan dosa, maka semua pengakuan itu adalah dusta belaka.

sebuah pengakuan tanpa pembuktian hanyalah kebohongan semata, oleh sebab itu setiap muslim hendaknya dapat membuktikan pengakuan mereka agar tidak menjadi sebuah kebohongan. 

Kesimpulan kajian, Ketiga maqolah tersebut saling berkaitan dalam mencetak karakter  muslim dan mukmin sejati: menahan diri dari perkara yang batil dan diharamkan serta tidak menyakiti orang lain, menjaga hati dengan menjaga perut, selalu ingat dosa, tidak terlalu dalam berkhayal dan bergaul dengan orang yang shaleh. Selain itu selalu menjaga diri agar meninggalkan segala laranganNYA, berempati dan menolong fakir miskin, mengupayakan untuk selalu bersedekah, dan berupaya sekuat tenaga untuk meninggalkan perbuatan dosa.


Kamis, 14 Mei 2026

#32 Berdiam diri dari hal yang sia-sia untuk menjadi manusia yang lebih produktif dan positif dalam Hikmah Maqolah 11


KUA Kalimanah, Amin Muakhor  saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 32, Rabu (13/5/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-32 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (13/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat disampaikan rangkuman isi kandungan kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 11). 

Baca: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 11, tersirat hikmah, keutamaan, dan anjuran untuk berdiam diri. Tentunya berdiam diri yang dimaksud bukan diam tanpa berkata atau melakukan aktifitas apapun, melainkan berdiam diri pada kondisi-kondisi tertentu. Hal tersebut didasarkan pada Hadits .Nabi Muhammad SAW. yang menyatakan bahwa Shalat itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri itu adalah lebih utama, sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu merupakan bentengnya neraka, sedang berdiam diri itu justru lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama.

Kesimpulan kajian, dari maqolah ini dapat disarikan bahwa: berdiam diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia merupakan sebuah keutamaan yang seharusnya dapat diraih oleh seluruh Muslim, karena dengan berdiam diri dari hal yang sia-sia akan membawa seseorang menjadi lebih produktif dan positif. Selain itu dengan berdiam diri dari hal yang sia-sia juga akan menghindarkan dan menyelamatkan seseorang dari terpeleset pada keburukan, kemaksiatan, dan dosa.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 8

وعن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قال: الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالجْهَادُ سَنَامُ

الدِّيْنِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ

“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: Shalat itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri itu adalah lebih utama, sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu merupakan bentengnya neraka, sedang berdiam diri itu justru lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama.”

 

الصَّمْتُ أَرْفَعُ الْعِنَادَة .

“Diam adalah ibadah tingkat yang paling tinggi.”

 

الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ .

“Diam itu adalah hiasan bagi orang yang alim dan penutup bagi orang yang bodoh.”

الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ .

“Diam adalah pimpinan akhlak.”

الصَّمْ تُ حِكَمٌ وَقَلِيْلٌ فَاعِلُه .

“Diam adalah hikmah, tapi sedikit sekali orang yang melakukannya.”

أَفْضَلُ الجِْهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نفَْسَكَ وَهُوَاكَ فِى ذَاتِ اللهِ

“Jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsumu, dalam Dzat Allah (semata-mata karena Allah).”

© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4

Source: https://www.alkhoirot.org/2023/01/empat-nasihat-nabi-kepada-abu-dzar-al.html#12

Pewarta: Zamroni Irham

Rabu, 06 Mei 2026

#31 Keseimbangan Amal, Keikhlasan Batin, dan Orientasi Akhirat dalam Hikmah Maqolah 8–10

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 31, Rabu (6/5/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
 

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-31 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (6/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 8-10). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 8 sampai 10, terdapat penekanan kuat pada pengendalian diri, orientasi akhirat, serta kesempurnaan amal lahir dan batin.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Pertama, Maqolah 8 dari Utsman bin Affan menguraikan bahwa manisnya ibadah dapat diraih melalui empat hal pokok: menunaikan kewajiban, menjauhi larangan Allah, aktif dalam amar ma’ruf, dan nahi munkar. 

Semua ini dilandasi dengan harapan pahala serta rasa takut akan murka Allah. Ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara ketaatan personal dan kepedulian sosial menjadi kunci kenikmatan ibadah.

Kedua, Maqolah 9 menyoroti perbedaan antara aspek lahir yang bernilai sunnah (fadhilah) dan aspek batin yang justru menjadi kewajiban. Bergaul dengan orang saleh, membaca Al-Qur’an, ziarah kubur, dan menjenguk orang sakit adalah amalan utama. 

Namun yang lebih penting adalah konsekuensi batinnya: meneladani orang saleh, mengamalkan Al-Qur’an, mempersiapkan diri untuk kematian, serta membuat wasiat. Hal ini menegaskan bahwa nilai sejati amal terletak pada implementasi, bukan sekadar simbol.

Ketiga, Maqolah 10 dari Ali bin Abi Thalib mengajarkan orientasi hidup seorang mukmin. Kerinduan terhadap surga mendorong seseorang bersegera dalam kebaikan, sementara rasa takut terhadap neraka menahan dari syahwat. 

Keyakinan akan kematian melemahkan keterikatan pada kenikmatan dunia, dan pemahaman hakikat dunia sebagai tempat ujian menjadikan musibah terasa ringan. Ini menjadi fondasi sikap zuhud dan keteguhan hati.

Kesimpulan kajian, ketiga maqolah ini saling melengkapi dalam membentuk karakter mukmin: mampu mengendalikan hawa nafsu, menikmati ibadah dengan ikhlas, mengutamakan amal substansial, serta memiliki orientasi akhirat yang kuat. 

Semua ini bermuara pada kesiapan menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya dengan bekal amal yang matang.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 8

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَجَدْتُ حَلَاوَةَ الْعِبَادَةِ فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: أَوَّلُهَا: فِي أَدَاءِ فَرَائِضِ اللَّهِ) يَسِيْرِهَا وَعَسِيْرِهَا (وَالثَّانِي: فِي اجْتِنَابِ مَحَارِمِ اللَّهِ) صَغِيرِهَا وَكَبِيرِهَا (وَالثَّالِثُ: فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ) وَهُوَ كُلُّ مَا يَحْسُنُ فِي الشَّرْعِ (وَابْتِغَاءِ ثَوَابِ اللَّهِ) وَهُوَ مِنْ عَطْفِ الْعِلَّةِ عَلَى مَعْلُولِهَا (وَالرَّابِعُ: فِي النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ) وَهُوَ مَا لَيْسَ فِيهِ رِضَا اللَّهِ تَعَالَى مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ (وَالْاِتِّقَاءِ) أَيْ الِاحْتِرَاسِ (مِنْ غَضَبِ اللَّهِ) وَهُوَ مِنْ عَطْفِ السَّبَبِ عَلَى الْمُسَبَّبِ.
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (قَالَ) أَيْ سَيِّدُنَا عُثْمَانَ (أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (ظَاهِرُهُنَّ فَضِيلَةٌ) أَيْ خَيْرٌ كَثِيرٌ (وَبَاطِنُهُنَّ فَرِيضَةٌ) أَيْ وَاجِبَةٌ (مُخَالَطَةُ الصَّالِحِينَ) أَيْ الْقَائِمِينَ بِحُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقِ الْعِبَادِ (فَضِيلَةٌ، وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ) فِي أَفْعَالِهِمْ الصَّالِحَةِ (فَرِيضَةٌ، وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ فَضِيلَةٌ، وَالْعَمَلُ بِهِ) أَيْ بِمَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي (فَرِيضَةٌ، وَزِيَارَةُ الْقُبُورِ) أَيْ قُبُورِ الصَّالِحِينَ (فَضِيلَةٌ، وَالِاسْتِعْدَادُ لَهَا) أَيْ التَّهَيُّؤُ لِدُخُولِ الْقَبْرِ بِفِعْلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ (فَرِيضَةٌ) وَزِيَارَةُ الْقُبُورِ إمَّا لِمُجَرَّدِ تَذَكُّرِ الْمَوْتِ وَالْآخِرَةِ فَتَكُونُ بِرُؤْيَةِ الْقُبُورِ مِنْ غَيْرِ مَعْرِفَةِ أَصْحَابِهَا وَلَوْ قُبُورَ الْكَافِرِينَ أَوْ لِنَحْوِ دُعَاءٍ فَتُسَنُّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ لِلتَّبَرُّكِ فَتُسَنُّ لِأَهْلِ الْخَيْرِ أَوْ لِأَدَاءِ حَقٍّ كَصَدِيقٍ وَوَالِدٍ (وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ فَضِيلَةٌ، وَاِتِّخَاذُ الْوَصِيَّةِ فَرِيضَةٌ) قَالَ ﷺ: [الْمَحْرُومُ مَنْ حُرِمَ الْوَصِيَّةَ] أَيْ الْمَحْرُومُ مِنْ الثَّوَابِ وَالْخَيْرِ الْعَظِيمِ مَنْ مُنِعَ مِنَ الْوَصِيَّةِ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ عَنْ أَنَسٍ.
وَقَالَ ﷺ: [مَنْ مَاتَ عَلَى وَصِيَّةٍ مَاتَ عَلَى سَبِيلٍ وَسُنَّةٍ وَتُقًى وَشَهَادَةٍ وَمَاتَ مَغْفُورًا لَهُ].
(وَ) الْمَقَالَةُ الْعَاشِرَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (أَنَّهُ قَالَ: مَنْ اِشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَارَعَ إِلَى الْخَيْرَاتِ) أَيْ أَسْرَعَ الذَّهَابَ إِلَيْهَا (وَمَنْ أَشْفَقَ) أَيْ حَذَرَ (مِنَ النَّارِ انْتَهَى عَنِ الشَّهَوَاتِ) أَيْ اِمْتَنَعَ عَنِ اتِّبَاعِ حَرَكَاتِ النَّفْسِ (وَمَنْ تَيَقَّنَ بِالْمَوْتِ اِنْهَدَمَتْ عَلَيْهِ اللَّذَّاتُ) بِالدَّالِ الْمُهْمَلَةِ، أَيْ فَنِيَتْ، أَوْ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ أَيْ اِنْقَطَعَتْ (وَمَنْ عَرَفَ اَلدُّنْيَا) بِأَنَّهَا دَارُ اَلْمِحَنِ وَالْكُدُورَاتِ (هَانَتْ عَلَيْهِ اَلْمُصِيبَاتُ) أَيْ لَانَتْ عَلَيْهِ الشَّدَائِدُ النَّازِلَةُ.

Maqolah yang ke delapan (Dari Utsman Radhiallahu Anhu: Aku menemukan kenikmatan beribadah sebab empat perkara: Yang pertama dari empat perkara: Adalah sebab menunaikan kefardhuan kepada Allah) Mudahnya kefardhuan itu dan susahnya kefardhuan itu (Dan yang kedua: Adalah sebab menjauhi perkara yang diharamkan oleh Allah) Kecilnya yang diharamkan itu dan besarnya yang diharamkan itu (Dan yang ketiga: Adalah sebab memerintah kebaikan) Yaitu setiap perkara yang baik menurut syara (Karena mengharapkan pahala dari Allah) Lafadz وَابْتِغَاءِ mengathaf kepada lafadz الْأَمْرِ adalah dari mengathofkan illat kepada yang diilatinya (Dan yang ke empat: Adalah sebab melarang dari kemungkaran) Yaitu perkara yang tidak ada di dalamnya ridho Allah Ta'ala dari perkataan atau perbuatan (Karena menjaga) Maksudnya menjaga (Dari murkanya Allah) Lafadz وَالْاِتِّقَاءِ itu dari mengathofkan sebab kepada musabab.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 9

Maqolah yang ke sembilan (Telah berkata) Maksudnya Sayyiduna Utsman (Juga Radhiallahu Anhu: Empat) Dari perkara (Dzohirnya empat perkara itu adalah keutamaan) Maksudnya kebaikan yang banyak (Dan dalamnya empat perkara itu adalah kefardhuan) Maksudnya kewajiban (Bergaul bersama orang-orang sholeh) Maksudnya orang-orang yang mendirikan pada hak-haknya Allah Ta'ala dan hak-haknya para hamba (Adalah keutamaan, sedangkan mengikuti kepada mereka) Dalam perbuatan-perbuatan mereka yang sholeh (Adalah kefardhuan. Dan membaca Al-Quran adalah keutamaan sedangkan mengamalkan Al-Quran) Maksudnya pada perkara dalam Al-Quran dari perintah-perintah dan larangan-larangan (Adalah kefardhuan. Dan berziarah qubur) Maksudnya quburan orang-orang sholeh (Adalah keutamaan sedangkan bersiap untuknya) Maksudnya bersiap-siap untuk masuk alam qubur dengan mengerjakan amal-amal sholeh (Adalah kefardhuan) Dan ziarah qubur adakalanya untuk semata-mata mengigat kematian dan akhirat maka ada tujuan itu dengan melihat qubur tanpa harus mengetahui nama pemiliknya walaupun quburan orang-orang kafir atau untuk seumpama mendoakan maka disunnahkan kepada setiap orang muslim atau untuk tabarruk maka disunnahkan kepada ahli kebaikan atau untuk menunaikan hak seperti sahabat dan orang tua (Dan mengunjungi orang sakit adalah satu keutamaan sedangkan megambil wasiat adalah fardhu) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Orang yang dihalang-halangi adalah orang yang dihalangi pada wasiat] Maksudnya orang yang dihalang-halangi dari pahala dan kebaikan yang agung adalah orang yang dihalangi dari wasiat, Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah Dari Anas

Dan telah bersabda Nabi ﷺ: [Barang siapa yang mati di atas wasiat maka ia mati di atas agama islam dan di atas sunah dan di atas ketakwaan dan di atas syahid dan ia mati sebagai yang diampuni untuknya].

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 10

Maqolah yang ke sepuluh (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarroma Wajhah (Sesungguhnya ia berkata: Barang siapa rindu pada surga maka ia akan bergegas menuju kebaikan-kebaikan) Maksudnya ia bergegas berangkat menuju kebaikan (Dan barang siapa yang takut) Maksudnya takut (Dari neraka maka ia akan mencegah diri dari syahwat) Maksudnya ia mencegah diri dari mengikuti gerakan nafsu (Dan barang siapa meyakini pada kematian maka pasti menjadi lebur kepadanya kenikmatan) Lafadz اِنْهَدَمَتْ dengan د yagn diringankan maksudnya rusak atau dengan ذ yang diberi titik maksudnya menjadi putus (Dan barang siapa yang mengenal dunia) Karena sesungguhnya dunia adalah tempatnya berbagai ujian dan tempatnya berbagai kotoran (Maka menjadi mudah kepadanya berbagai musibah) Maksudnya menjadi ringan kepadanya berbagai musibah berat yang menimpa.

© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Editor: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 29 April 2026

#30 Istiqamah dalam Ibadah dan Mengendalikan Nafsu: Kunci Keselamatan Menuju Akhirat (Hikmah Maqolah 6–7

 Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kanan) dan PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 30, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-30 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (29/4/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 6-7). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 6 sampai 7, terdapat penekanan kuat pada pengendalian diri, orientasi akhirat, serta kesempurnaan amal lahir dan batin.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Pertama, Maqolah 6 memberikan fondasi penting bahwa ibadah dalam Islam tidak selalu dituntut berat, tetapi yang utama adalah konsistensi dan kesinambungan. Abdullah bin Mubarak menjelaskan amalan-amalan rutin seperti shalat sunnah rawatib 12 rakaat, puasa tiga hari setiap bulan, membaca Al-Qur’an secara istiqamah, dan bersedekah secara berkala. Dari sini dapat dipahami bahwa: Ibadah tidak harus banyak dan berat, tetapi dilakukan secara rutin. 

Amalan sunnah berfungsi sebagai penyempurna ibadah wajib.
Amalan yang tampak sedikit, jika istiqamah, justru bernilai besar di sisi Allah, bahkan menjadi sebab dibangunkannya rumah di surga.

Ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah terletak pada kesinambungan, bukan sekadar kuantitas

Kedua, pada Maqolah 7, dijelaskan oleh Umar bin Khattab bahwa kehidupan manusia diibaratkan dengan empat “lautan besar” yang harus diwaspadai. Hawa nafsu menjadi sumber utama dosa, sementara jiwa (nafsu amarah) adalah pusat syahwat dan akar akhlak tercela. 

Kematian disebut sebagai “lautan umur” karena menjadi penghimpun seluruh perjalanan hidup dan amal manusia. Adapun kubur digambarkan sebagai “lautan penyesalan”, tempat manusia menyadari akibat perbuatannya. Kajian ini menegaskan pentingnya muhasabah dan pengendalian diri sebelum datangnya kematian.

Kesimpulan Maqolah 6 dan 7 

Dari Maqolah 6 dan 7 dapat disimpulkan bahwa jalan menuju keselamatan akhirat dibangun dari dua pilar utama: istiqamah dalam ibadah dan pengendalian hawa nafsu.

Maqolah 6 menegaskan bahwa ibadah tidak harus berat atau banyak, tetapi yang terpenting adalah konsistensi. Amalan-amalan rutin seperti shalat sunnah, puasa berkala, membaca Al-Qur’an, dan sedekah menjadi penyempurna ibadah wajib. Nilai utama terletak pada kesinambungan (istiqamah), karena amalan yang sedikit namun terus-menerus justru bernilai besar di sisi Allah.

Maqolah 7 mengingatkan bahwa tantangan terbesar manusia adalah hawa nafsu dan kecenderungan jiwa kepada syahwat. Hawa nafsu menjadi sumber dosa, sementara kematian dan alam kubur akan menjadi tempat pertanggungjawaban yang penuh penyesalan bagi yang lalai. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran diri dan pengendalian nafsu sejak di dunia.

Intinya, istiqamah dalam amal (Maqolah 6) harus berjalan beriringan dengan pengendalian diri (Maqolah 7). Amal yang konsisten tanpa menjaga nafsu bisa rusak, sementara menahan nafsu tanpa amal tidak akan cukup sebagai bekal. Keduanya menjadi kunci utama dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

 Staf KUA Kalimanah dan PAI KUA Kalimanah, saat kajian rutin kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 30, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 6

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) حَفِيدِ الْقَاضِي نُوحٍ الْمِرْوَزِيِّ (مَنْ صَلَّى كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً) وَهِيَ رَكْعَتَانِ قَبْلَ صُبْحٍ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ ظُهْرٍ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَأَرْبَعُ رَکعَاتٍ قَبْلَ عَصْرٍ وَرَکعَتَانِ بَعْدَ مَغْرِبٍ (فَقَدْ أَدَّی حَقَّ الصَّلَاةِ) لِقَوْلِهِ ﷺ: [رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا] وَكَانَ ﷺ يُصَلِّي قَبْلَهَا أَرْبَعًا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيْمِ، وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْعَصْرِ حَرَّمَ اللَّهُ بَدَنَهُ عَلَى النَّارِ].

Maqolah yang ke enam (Dari Abdullah bin Mubarok) Cucu seorang Qodhi Nuh Al-Mirwazi (Barang siapa melaksanakan sholat setiap hari dua belas rokaat) Yaitu dua roka'at sebelum sholat Subuh dan dua rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan empat rokaat sebelum sholat Ashar dan dua rokaat sesudah sholat Magrib (Maka sungguh ia telah menunaikan haknya sholat) Karena sabda Nabi ﷺ: [Semoga Allah merahmati kepada orang yang melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat] Dan ada Nabi ﷺ melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat yang ia pisah antara empat rokaat dengan salam. Dan riwayat milik Imam Thabrani: [Barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sebelum sholat Ashar maka Allah mengharamkan pada badannya masuk neraka].

وَنَقَلَ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيدِيُّ مِنَ الدِّمْيَاطِيِّ فِي الْمَتْجَرِ الرَّابِحِ مِنْ خَبَرِ مُسْلِمٍ: [مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي لِلَّهِ تَعَالَى فِي كُلِّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ] زَادَ التِّرْمِذِيُّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ.

Dan telah menukil Syaikh Kholil Ar-Rasyidi dari Syaikh Dimyati di dalam kitab Matjari Robih dari hadits riwayat Imam Muslim [Tidaklah seorang hamba sholat karena Allah Ta'ala di setiap hari dua belas rokaat dengan suka rela selain sholat fardhu kecuali pasti Allah akan membangun untuknya rumah di surga] Telah menambah Imam Tirmidzi empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan dua rokaat sesudah sholat Magrib dan empat rokaat sesudah sholat Isya dan dua rokaat sebelum sholat Subuh.

وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ بِهِنَّ مِنْ لَيْلَتِهِ، وَمَنْ صَلَّاهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ].

Dan riwayat milik Imam Thobroni: [Barang siapa sholat sebelum sohlat Dzuhur empat rokaat maka seakan akan ia sholat Tahajjud dengan empat rokaat itu di waktu malamnya, dan barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sesudah sholat Isya Maka seperti seumpama shola empat rokaat di malam lailatul Qodar].

وَمِنْ ثَمَّ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: لَيْسَ شَيْءٌ يَعْدِلُ صَلَاةَ اللَّيْلِ مِنْ صَلَاةِ النَّهَارِ إِلَّا أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَفَضْلُهُنَّ عَلَى صَلَاةِ النَّهَارِ كَفَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْوَاحِدِ. وَكَانَ ﷺ يُصَلِّيهِنَّ وَيُطِيلُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَيَقُولُ: [إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ].

Dan dari sanalah berkata Ibnu Mas'ud: Tidak ada sesuatu yang bisa menandingi sholat malam dari sholat siang kecuali empat rokaat sebelum sholat Dzuhur. Keutamaan empat rokaat sebelum sholat Dzuhur di atas sholat siang itu seperti keutamaan sholat berjamaah di atas sholat sendirian. Dan ada Nabi ﷺ Sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan ia memanjangkan di dalam sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur itu rukuk dan sujud dan ia bersabda: [Sesungguhnya waktu sholat qobliah Dzuhur adalah waktu dibuka di dalamnya pintu-pintu langit maka aku suka supaya naik untuk ku pada waktu itu amal yang sholeh].

(وَمَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ) وَهِيَ الْأَيَّامُ الْبِيضُ وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَتَالِيَاهُ إِلَّا فِي الْحِجَّةِ يَصُومُ السَّادِسَ عَشَرَ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ بَدَلَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَحِكْمَةُ كَوْنِهَا ثَلَاثَةً أَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصَوْمُهَا كَصَوْمِ الشَّهْرِ كُلِّهِ وَلِذَلِكَ يَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ بِصَوْمِ ثَلَاثَةٍ مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ، كَذَا فِي التُّحْفَةِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصِّيَامِ، وَمَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ آيَةٍ فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الْقِرَاءَةِ) وَقِرَاءَةُ الْمُنْجِّيَاتِ السَّبْعَةِ أَوْلَى وَهِيَ: آلم تَنْزِيل، وَيس، وَفُصِّلَتْ، وَالدُّخَانُ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْحَشْرُ، وَالْمُلْكُ، وَأَنْ يَقْرَأَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى أَوَائِلَ الْحَدِيدِ وَخَوَاتِمَ الْحَشْرِ وَالْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ثَلَاثًاً ثَلَاثًاً (وَمَنْ تَصَدَّقَ فِي جُمْعَةٍ بِدِرْهَمٍ) أَوْ بِمَا يُسَاوِيهِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصَّدَقَةِ).

(Dan barang siapa yang berpuasa dari setiap bulan tiga hari) Yaitu hari hari yang terang yaitu tanggal tiga belas dan dua hari yang mengiringinya kecuali pada bulan Dzul Hijjah maka berpuasa di tanggal enam belas atau satu hari sesudah tanggal enam belas sebagai ganti tanggal tiga belas. Hikmah adanya puasa tiga hari adalah sesungguhnya satu kebaikan itu diganti sepuluh kali lipat yang serupa dengannya maka berpuasa tiga hari itu seperti puasa satu bulan seluruhnya dan karena itu hasil asal sunnah dengan puasa tiga hari dari hari-hari manapun dari satu bulan. Demikian dalam kitab Tuhfah (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya puasa, Dan barang siapa membaca setiap hari seratus ayat maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya bacaan quran) Membaca surat Al-Munjiat yang tujuh itu lebih utama yaitu: Surat As-Sajdah, dan surat yasin dan surat fusilat dan surat Ad-Dukhon dan surat Al-Waqi'ah dan surat Al-Hasyr dan Surat Al-Mulk. Dan membaca ketika waktu subuh dan ketika waktu sore awal-awal surat Al-Hadid dan akhir surat Al-Hasr dan surat Al-Ikhlas dan Surat Al-Falaq dan surat An-Nas tiga kali tiga kali (Dan barang siapa bersedekah dengan satu dirham) Atau dengan perkara yang setara dengan satu dirham (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya sedekah).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 7

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ (قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الْبُحُورُ) أَيْ الْمُتَّسِعَةُ الْجَامِعَةُ (أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأَنْوَاعِ (الْهَوَى بَحْرُ الذُّنُوبِ) أَيْ مَيْلَانُ النَّفْسِ إِلَى شَهَوَاتِهَا مِنْ غَيْرِ طَلَبِ الشَّرْعِ جَامِعٌ لِلذُّنُوبِ (وَالنَّفْسُ بَحْرُ الشَّهَوَاتِ) أَيْ النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ وَهِيَ الَّتِي تَمِيلُ إلَى الطَّبِيعَةِ الْبَدَنِيَّةِ وَتَأْمُرُ بِاللَّذَّاتِ جَامِعَةٌ لِحَرَكَاتِ النَّفْسِ فَهِيَ مَأْوَى الشُّرُورِ وَمَنْبَعُ الْأَخْلَاقِ الذَّمِيمَةِ (وَالْمَوْتُ بَحْرُ الْأَعْمَارِ) بِالرَّاءِ أَيْ الْمَوْتِ جَامِعٌ لِلْأَعْمَارِ وَفِي نُسْخَةٍ بَحْرُ الْأَعْمَالِ بِاللَّامِ فَهِيَ كَقَوْلِ بَعْضِهِمْ الْمَوْتُ صُنْدُوقُ الْعَمَلِ (وَالْقَبْرُ بَحْرُ النَّدَمَاتِ) أَيْ الْبَرْزَخُ الْفَاصِلُ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ جَامِعٌ لِأَنْوَاعِ الْغُمُومِ الَّتِي يَتَمَنَّى صَاحِبُهَا أَنَّهَا لَا تَقَعُ.

Maqolah yang ke tujuh (Telah berkata Umar Radhiallahu Anhu: Lautan-lautan) Maksudnya yang luas dan mengumpulkan (Itu ada empat) Macam (Hawa nafsu adalah lautan dosa-dosa) Maksudnya condongnya diri pada keinginan-keinginan nafsu pada selain perintah syara itu adalah mengumpulkan dosa-dosa (Dan nafsu adalah lautan syahwat) Maksdnya nafsu amarah yaitu adalah nafsu yang condong kepada tabiat badaniah dan memerintah pada kenikmatan itu yang mengumpulkan pada gerakan gerakan nafsu dan gerakan nafsu adalah tempat kembalinya berbagai keburukan dan sumber akhlak-akhlak yang tercela (Dan mati adalah lautan umur) Dengan ro maksudnya mati adalah yang mengumpulkan berbagai umur dan dalam sebuah naskh lautan berbagai amal perbuatan dengan mambaca lam yaitu seperti perkataan sebagian ulama mati adalah petinya amal (Dan kubur adalah lautan berbagai penyesalan) Maksudnya alam Barzahk yang memisahkan antara dunia dan akhirat itu yang mengumpulkan berbagai warna kesusahan yang mana berharap orang yang memilikinya sesungguhnya kesusahan itu tidak terjadi. 
 
© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Editor: Imam Edi Siswanto 

KUA Kalimanah Jadikan Peaceful Muharam Momentum Menguatkan Nilai Kemanusiaan

Iluatrasi: Gedung KUA Kalimanah Purbalingga tampak dari depan, Rabu (1/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto) Purbalingga – Dalam rangka menyem...