Rabu, 08 Juli 2026

#35 Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-35 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, PAI KUA Kalimanah, Pujianto  dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (8/7/2026). 

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17 dan 18:

Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Dalam Maqolah ke-18, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki empat permata (jauhar) yang menjadi perhiasan dalam hidup, yaitu:

  1. Akal – cahaya dalam hati yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
  2. Agama – petunjuk Allah yang diterima oleh orang-orang berakal melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
  3. Rasa malu (ḥayā') – sifat mulia yang mendorong seseorang menjauhi kemaksiatan.
  4. Amal saleh – segala amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Namun, empat permata tersebut dapat rusak oleh empat penyakit hati, yaitu:

  • Marah (Ghadab) menghilangkan akal. Saat marah, seseorang sulit berpikir jernih sehingga mudah berbuat salah. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjauhi sifat marah karena dapat merusak keimanan.
  • Hasad (Dengki) menghilangkan agama. Hasad adalah berharap nikmat orang lain hilang. Penyakit ini mengikis pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pembagian rezeki Allah.
  • Tamak (Thama') menghilangkan rasa malu. Keinginan yang berlebihan terhadap harta, jabatan, atau dunia membuat seseorang kehilangan kehormatan dan mudah melakukan hal yang tidak pantas.
  • Ghibah (Menggunjing) menghilangkan amal saleh. Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain di belakangnya meskipun benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka menjadi fitnah (buhtan), sedangkan jika diucapkan di hadapannya dengan maksud menyakiti termasuk mencaci maki.

Hikmah Kajian

Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan lahiriah. Akal, agama, rasa malu, dan amal saleh adalah modal utama seorang Muslim. Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan amarah, menjauhi hasad, menahan ketamakan, dan menjaga lisan dari ghibah agar keimanan tetap terpelihara dan amal ibadah tidak sia-sia.

Pesan utama: Jagalah empat permata dalam diri—akal, agama, malu, dan amal saleh—dengan menjauhi empat penyakit hati: marah, hasad, tamak, dan ghibah. Siapa yang mampu menjaga hatinya, ia akan menjaga agamanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: اَلْأُمَّهَاتُ) أَيْ الْأُصُولُ (أَرْبَعٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (أُمُّ الْأَدْوِيَةِ) جَمْعُ دَوَاءٍ وَهُوَ مَا يُتَدَاوَى بِهِ (وَأُمُّ الْآدَابِ) وَهِيَ مَعْرِفَةُ مَا يُحْتَرَزُ بِهِ عَنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْخَطَأِ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ) وَهِيَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيمًا لِرَبِّهِ (وَأُمُّ الْأَمَانِي) جَمْعُ أُمْنِيَّةٍ وَهُوَ تَقْدِيرُ حُصُولِ شَيْءٍ مُمْتَنِعٍ أَوْ مُمْكِنٍ (فَأُمُّ الْأَدْوِيَةِ قِلَّةُ الْأَكْلِ) فَإِنَّ الْاِحْتِمَاءَ مِنْ أَكْلِ مَا يَضُرُّ خَيْرٌ مِنَ الْأَدْوِيَةِ لِكُلِّ دَاءٍ (وَأُمُّ الْآدَابِ قِلَّةُ الْكَلَامِ) فَكَثْرَةُ الْكَلَامِ تُنْفِي الْأَدَبَ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ قِلَّةُ الذُّنُوبِ) فَالذُّنُوبُ تُنْفِي الْعِبَادَةَ الَّتِي هِيَ تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمُّ الْأَمَانِي الصَّبْرُ) وَهُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، فَالصَّبْرُ أَمَرُّ مِنَ الصِّبْرِ. وَيُقَالُ: بِالصَّبْرِ تَنَالُ مَا تُرِيدُ وَبِالتَّقْوَى يَلِيْنُ لَكَ الْحَدِيدُ.

Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُ adalah jamak dari lafadz دَوَاءٌ yaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab)

Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadz الْأَمَانِي adalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌ yaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan) 

Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama 

(Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar) Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak kepadamu besi.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 18

 الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَرْبَعَةُ جَوَاهِرَ) وَهِيَ لِبَاسُ الطَّبِيعَةِ (فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُهَاأَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ (أَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ) وَهُوَ جَوْهَرٌ رُوحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى مُتَعَلِّقًا بِبَدَنِ الْإِنْسَانِ (وَالدِّينُ) وَهُوَ مَا يَدْعُو أَصْحَابُ الْعُقُولِ إِلَى قَبُولِ مَا هُوَ مِنَ الرّسُولِ ﷺ (وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ) أَيْ الْخَالِصُ (فَالْغَضَبُ يُزِيلُ الْعَقْلَ) وَهُوَ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ.

Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal) 

Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مُعَاوِيَةُ إِيَّاكَ وَالْغَضَبَ فَإِنَّ الْغَضَبَ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni pada madu] telah meriwayatkan hadits ini  Imam Al-Baihaqi

(وَالْحَسَدُ) وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْغَيْرِ (يُزِيلُ الدِّينَ) أَيْ الشَّرِيعَةَ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ] رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. قَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْمُتَقَارِبِ]

(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]

أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ * أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ * أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ
وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ * فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي
Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud * Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab
Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah * Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan
Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku * Dan Allah menutup atasmu segala bentuk permintaan

(وَالطَّمَعُ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِي الشَّيْءِ (يُزِيلُ الْحَيَاءَ، وَالْغِيبَةُ تُزِيلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ) وَالْغِيبَةُ بِكَسْرِ الْغَيْنِ أَنْ يَذْكُرَ الشَّخْصُ مَسَاوِيَ الْإِنْسَانِ فِي غَيْبَتِهِ وَهِيَ فِيهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ فَهِيَ بُهْتَانٌ وَإِنْ وَاجَهَهُ بِهَا فَھوَ شَتْمٌ.

(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُ dengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 03 Juli 2026

Peaceful Muharam 1448 H: PAI KUA Kalimanah Merawat Rumah Allah, Menebar Kepedulian

Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)

PURBALINGGA – Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi.

Kegiatan dimulai pukul 07.20 hingga 08.45 WIB dengan fokus membersihkan lingkungan masjid, mulai dari mencabuti rumput liar di halaman, membersihkan selokan agar aliran air tetap lancar, hingga menyapu seluruh area pelataran masjid. Suasana penuh semangat dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan yang diikuti enam Penyuluh Agama Islam, yaitu Imam Edi Siswanto, Pujianto, Mughofar, Moh. Agus Zaenal Abidin, Azizah Dwi Puba, dan Zamroni Irham serta karyawan KUA Kalimanah, Jumari.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/sukseskan-geber-bbm-pai-kua-kalimanah.html 

Dengan mengenakan pakaian kerja lapangan (berkaos), para penyuluh bahu-membahu membersihkan setiap sudut lingkungan masjid. Aksi sederhana tersebut menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Program GEBER MASJID merupakan salah satu rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 H yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI sebagai upaya menumbuhkan semangat kepedulian terhadap rumah ibadah sekaligus mengajak masyarakat membangun budaya gotong royong. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan, serta penguatan nilai-nilai sosial dan kebersamaan.

Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah ingin menegaskan bahwa kebersihan masjid adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan masjid yang bersih, rapi, dan nyaman akan menghadirkan kekhusyukan dalam beribadah serta memberikan kesan positif bagi setiap jamaah yang datang.

Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, GEBER MASJID memiliki makna mendalam sebagai simbol membersihkan diri dalam menyambut Tahun Baru Islam. Sebagaimana halaman masjid dibersihkan dari rumput liar dan kotoran, demikian pula setiap Muslim diajak membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, memperbaiki akhlak, serta memperkuat keimanan sebagai bekal memasuki lembaran baru di bulan Muharam.


Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan rumah ibadah, mempererat ukhuwah Islamiyah melalui budaya gotong royong, menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid, serta mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang bersih, nyaman, dan memakmurkan umat.

Semangat yang ditunjukkan para Penyuluh Agama Islam diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan masjid secara berkelanjutan. Dengan semangat Peaceful Muharam 1448 H, gerakan kecil yang dilakukan bersama diyakini mampu menghadirkan perubahan besar, dimulai dari lingkungan masjid menuju masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan berakhlak mulia.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 01 Juli 2026

KUA Kalimanah Jadikan Peaceful Muharam Momentum Menguatkan Nilai Kemanusiaan

Iluatrasi: Gedung KUA Kalimanah Purbalingga tampak dari depan, Rabu (1/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Dalam rangka menyemarakkan momentum Peaceful Muharam 1448 Hijriah, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah akan menggelar kegiatan santunan pada 12 anak yatim jenjang RA, BA, dan MI se-Kecamatan Kalimanah. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026, bertempat di Ruang Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kecamatan Kalimanah.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/07/peaceful-muharam-kua-kalimanah-hadir.html

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi semangat bulan Muharam sebagai bulan yang penuh keberkahan dan kepedulian sosial. Melalui santunan tersebut, KUA Kalimanah ingin menghadirkan kebahagiaan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi kepada anak-anak yatim, yang dalam ajaran Islam mendapat perhatian dan kedudukan yang sangat mulia.

Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh panitia Peaceful Muharam 1448 H yang telah dibentuk. Puji Haryono dipercaya sebagai Ketua Panitia, didampingi Zamroni Irham sebagai Sekretaris dan Eksi Fajriati sebagai Bendahara. Sementara itu, Firman Yuwono, Joko Waluyo, dan Rizal Nur Ahmadi bertugas sebagai anggota yang akan mengawal seluruh rangkaian kegiatan agar berjalan tertib dan lancar.

Kepala KUA Kecamatan Kalimanah, Kholidin, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Peaceful Muharam bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, serta mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.

"Anak-anak yatim merupakan amanah yang harus kita perhatikan bersama. Kami berharap kegiatan santunan ini tidak hanya memberikan bantuan secara materi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, semangat, dan rasa kasih sayang bagi mereka. Inilah nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang ingin terus ditumbuhkan melalui program Peaceful Muharam," ucap Kholidin.

Ia menambahkan, KUA Kalimanah terus berkomitmen menghadirkan program-program yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan santunan ini diharapkan menjadi media untuk mengajak berbagai elemen masyarakat memperkuat budaya berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Sebagai informasi, program Peaceful Muharram 1448 H merupakan gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI untuk menyambut Tahun Baru Islam dengan serangkaian kegiatan bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat". Rangkaian kegiatan ini berfokus pada kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan dalam program ini antaralain:

  • Lebaran Yatim & Santunan Difabel: Penyaluran ribuan paket santunan, bantuan, dan kebahagiaan bagi anak-anak yatim serta penyandang disabilitas.
  • Gerakan Sosial: Aksi kemanusiaan seperti donor darah, termasuk yang dipusatkan di Masjid Istiqlal.
  • Gerakan Bersih-Bersih Masjid: Kegiatan kerja bakti dan membersihkan lingkungan masjid agar lebih nyaman untuk beribadah.
  • Peningkatan Kualitas Ibadah: Berbagai kegiatan keagamaan, seperti Khataman Al-Qur'an serentak dan standardisasi keakuratan titik kiblat.
  • Inklusi Sosial & Dakwah: Program layanan bahasa isyarat untuk kalangan difabel.

Melalui kegiatan Peaceful Muharam 1448 H, KUA Kalimanah berharap semangat berbagi di bulan Muharam dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin peduli kepada anak yatim dan kelompok yang membutuhkan. Dengan demikian, nilai-nilai Islam yang mengedepankan kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas sosial dapat terus hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.(*)

Kontributor/Editor: Imam Edi Siswanto (PAI KUA Kalimanah) 

Kamis, 18 Juni 2026

#34 Ciri orang celaka dan bahagia di akhirat , serta panji dari keimanan

 

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 34, Rabu (17/6/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-34 seperti biasa dilaksanakan pada Rabu pagi di Kantor KUA Kalimanah. Sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (17/6/2026).

Dari kajian tersebut dapat disampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul 'Ibad Bab 4 (Maqolah 15-16). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 15 sampai 16, menekankan pada karakter manusia yang celaka dan bahagia serta panji-panji keimanan.

Pertama, Maqolah 15 Dari Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa 4 tanda dari orang yang celaka yaitu: melupakan dosa dan kesalahan yang telah dilakukan padahal semuanya tercatat oleh Allah SWT, selalu mengingat kebaikan yang telah dilakukan padahal belum tentu kebaikan tersebut diterima di sisiNYA, dalam urusan dunia memandang orang lain  yeng lebih tinggi , dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih rendah. Sedangkan 4 tanda orang yang bahagia yaitu: selalu mengingat dan menyesali terhadap dosa yang telah dilakukan walaupun telah berlalu, tidak mengungkit kebaikan yang telah dilakukan karena tidak akan terlepas dari penyakit atau hal yang merusak, dalam urusan dunia memandang orang lain  yeng lebih rendah, dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih tinggi.  

Bagi orang yang menginginkan kebahagiaan kelak di akhirat hendaknya selalu mengingat kesalahan yang telah dilakukan dan memohon ampun atas kesalahan itu, dan terus menjaga hati untuk mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan karena sadar bahwa kebaikan yang telah dilakukan belum tentu diterima oleh Allah SWT. Selain itu hendaknya dalam urusan dunia ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih rendah sehingga akan timbul rasa syukur. Sebaliknya,  dalam urusan agama ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih tinggi sehingga akan terhindar dari sifat riya dan akan timbul keinginan untuk mengikutinya. 

Kedua, Maqolah 16 Dari sebagian Hukama menyatakan bahwa panji-panji keimanan yaitu: taqwa, rasa malu, syukur,  dan sabar

Orang yang beriman akan selalu taqwa yang diartikan taat dan ikhlas dalam menjalankan perintahNYA, memiliki rasa malu kepada Allah jika akan berbuat maksiat, bersyukur, dan sabar serta tidak mengeluh kepada selain Allah saat ditimpa musibah.

Kesimpulan kajian, Kedua maqolah tersebut memiliki kaitan dalam bagi seorang muslim agar dapat menjaga keimanan dengan taqwa, rasa malu kepada Allah, syukur dan sabar, serta menjaga diri agar berbahagia kelak diakhirat dengan selalu mengingat kesalahan di masa lampau dan bertaubat, mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan, mengikuti orang yang lebih tinggi dalam urusan agama, bersyukur terhadap apa yang telah didapat dengan melihat orang lain yang lebih rendah dalam urusan dunia.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 15

وعن النبى عليه السلام أنه قال: عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ أَرْبعََةٌ نِسْيَانُ الذُّنوُْبِ الْمَاضِيَةِ وهى عِنْدَ اللهِ

تَعَالَى مَحْفُوْظَةٌ وَذِكْرُ الحَْسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يَدْرِى أَ قْبِلَتْ أَمْ رُدَّتْ، وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ فَوْقَهُ فِىْ

الدُّنْيَا وَنَظَرُهُ إِلَى مَ نْ دُوْنَهُ فِى الدِّيْنِ يقَُوْلُ اللهُ أَرَدْتُهُ وَلمَْ يُرِدْنِى فَتَرَكْتُهُ وَعَلَامَةُ السَّعَادَةِ أَرْبعََةٌ

ذِكْرُالذُّنوُْبِ الْمَاضِيَةِ وَنِسْيَانُ الحَْسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ دُ وْنَهُ فِى الدُّنْيَا.

“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw., tanda-tanda terjadinya kecelakaan itu ada empat, yaitu: Melupakan dosa-dosa yang telah berlalu, padahal semuanya itu tercatat di sisi Allah. Bernostalgia (bersenang-senang) dengan kebajikan-kebajikan yang telah berlalu, padahal ia tidak mengetahui, apakah kebajikannya itu diterima atau tidak (oleh Allah SWT.). Memandang orang lebih tinggi dalam urusan dunia dan memandang orang lebih rendah dalam masalah agama. Dalam hal ini Allah berfirman, “Aku hendak menolongnya, tapi ia tidak berkeinginan kepada-Ku lalu aku urungkan.” Sedang tanda-tanda terjadinya kebahagiaan itu juga ada empat, yaitu: Merenungi dosa-dosa yang telah berlalu, melupakan kebajikan-kebajikan yang telah dilakukan, memandang orang lebih tinggi kualitas agamanya, dan memandang orang yang lebih rendah dalam urusan dunianya.”

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 16

وعن بعض الحكماء أن شعائر الايمان أربعة التقوى والحياء والشكر والصبر

“Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian hukama, sesungguhnya panji-panji

keimanan itu ada empat, yaitu: taqwa (kepada Allah SWT.), rasa malu, syukur dan

sabar.”

ذِرْ وِةُ الْإِيْمَانِ أرْبَعُ خِلَالٍ: الصَّبْرُ لِلْحُكْمِ وَالرِّضَا بِالْقَدَرِ وَالْإِخْلَاصُ لِلتَّوَكُّلِ وَالْاِسْتِسْلَامُ لِلرَّبِّ

“Puncak iman itu ada empat perkara, yaitu: sabar dalam menerima keputusan

Allah, ridha menerima takdir, ikhlas bertawakkal dan menyerahkan diri sepenuhnya

kepada Allah SWT. (semata).”


© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Pewarta: Zamroni Irham

Rabu, 20 Mei 2026

#33 Hal yang dibutuhkan dalam mencetak karakter Muslim sejati

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 33, Rabu (20/5/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-33 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (206/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 12-14). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 12 sampai 14, tersurat penekanan pada menjaga diri dengan sikap diam, menjaga hati, serta pembuktian dari suatu pengakuan.

Pertama, Maqolah 12 Dari sebuah pernyataan menguraikan bahwa meninggalkan perkara yang batil semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahala orang yang berpuasa. Selain itu orang yang mampu untuk menahan diri agar setiap anggota tubuhnya tidak melakukan hal yang diharamkan semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahalanya orang yang Shalat. sedangkan ornag yang memutuskan ketamakan terhadap orang lain (makhluk) semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala sama dengan pahala shadaqah, dan orang yang tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh muslim lain semata-mata karena Alloh akan diberikan pahalanya orang yang jihad.

Semua hal tersebut diatas harus dilandasi semata-mata karena Allah sehingga nantinya akan mendapatkan kebaikan sebagaimana yang sudah tertulis diatas.

Kedua, Maqolah 13 Menyoroti bebarapa aspek batin penyebab hati seseorang menjadi gelap yang meliputi perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang yang dzalim, melupakan dosa-dosa yang telah berlalu dan lamunan yang berlebihan. sedangkan empat perkara lain yang dapat menyebabkan hati menjadi bercahaya, yaitu: perut yang lapar karena berhati-hati, berteman dengan orang shaleh, selalu mengingat dan menyesali dosa-dosa yang telah berlalu dan tidak terlalu memanjangkan lamunan.

Dari empat perkara yang saling berlawanan diatas tiga hal dilakukan secara personal: menahan nafsu perut agar selalu memakan yang halal dengan takaran yang tepat serta tidak berlebihan, selalu mengingat dan menyesali dosa yang telah berlalu sehingga bisa menjadi kendali diri untuk tidak terperosok pada dosa yang sama dimasa mendatang, dan tidak memanjangkan lamunan terlebih pada impian yang mustahil untuk digapai. Sedangkan satu hal berhubungan dengan orang lain yaitu berteman dengan orang shaleh, yang akan berdampak pada kebaikan orang tersebut.

Ketiga, Maqolah 14 Dari Hatim Al-A'sham ra. bahwa empat pengakuan tanpa diikuti dengan pembuktian merupakan pengakuan yang bohong: mengaku cinta kepada Allah, tapi tidak mau meninggalkan segala larangan-Nya, mengaku cinta kepada Nabi tetapi ia tidak suka kepada orang fakir miskin, mengaku menginginkan surga tetapi tidak mau bersedekah, serta mengaku takut kepada neraka tetapi tidak mau meninggalkan perbuatan dosa, maka semua pengakuan itu adalah dusta belaka.

sebuah pengakuan tanpa pembuktian hanyalah kebohongan semata, oleh sebab itu setiap muslim hendaknya dapat membuktikan pengakuan mereka agar tidak menjadi sebuah kebohongan. 

Kesimpulan kajian, Ketiga maqolah tersebut saling berkaitan dalam mencetak karakter  muslim dan mukmin sejati: menahan diri dari perkara yang batil dan diharamkan serta tidak menyakiti orang lain, menjaga hati dengan menjaga perut, selalu ingat dosa, tidak terlalu dalam berkhayal dan bergaul dengan orang yang shaleh. Selain itu selalu menjaga diri agar meninggalkan segala laranganNYA, berempati dan menolong fakir miskin, mengupayakan untuk selalu bersedekah, dan berupaya sekuat tenaga untuk meninggalkan perbuatan dosa.


#35 Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Ima...