Rabu, 25 Februari 2026

#25 Menggapai Ridha Allah: Antara Cinta, Qanaah, dan Tawakal

Kegiatan rutin kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 25, Rabu (25/2/2026). (Foto: Rizal

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-25 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh Pujianto, Rabu (25/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 
46–50 dari Kitab Nashoihul Ibad.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Ringkasan Maqolah 46–50 Bab 3 Nashoihul Ibad: Bagian ini menegaskan hakikat cinta kepada Allah, zuhud terhadap dunia, dan sikap hati seorang hamba. 

Pada Maqolah 46–47 dijelaskan bahwa orang yang benar-benar mencintai Allah akan mencintai para ulama dan orang saleh, mencintai amal saleh, serta lebih memilih beramal secara tersembunyi; cinta kepada Allah terbukti dengan mendahulukan firman-Nya, majelis-Nya, dan ridha-Nya di atas segalanya. 

Maqolah 48 mengajarkan bahwa ambisi dunia menjadikan seseorang fakir meski berharta, sedangkan qanaah dan ketaatan menjadikannya kaya dan mulia walau sederhana. 

Maqolah 49 menegaskan bahwa mengenal Allah membuat hati tidak terpikat pada makhluk dan dunia yang fana, serta menjauhkan diri dari permusuhan. 

Maqolah 50 menjelaskan bahwa rasa takut kepada Allah mendorong menjauhi maksiat, harapan kepada surga mendorong amal saleh, dan orang yang telah merasa dekat dengan Allah akan merasa asing dari ketergantungan kepada makhluk. 

Secara keseluruhan, maqolah ini mengajarkan kemurnian cinta kepada Allah, sikap zuhud, qanaah, tawakal, serta orientasi hidup yang tertuju pada akhirat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 46

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ تَعَالَى) مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ (وَمَنْ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّهُ اللَّهُ تَعَالَى أَحَبَّ مَا أُحَبَّ فِي اللَّهِ تَعَالَى) مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ (وَمَنْ أَحَبَّ مَا أُحَبَّ فِي اللَّهِ تَعَالَى أَحَبَّ أَنْ لَا يَعْرِفَهُ النَّاسُ) بَلْ يَشْتَغِلُ الْأَعْمَالَ فِي الْخَلْوَةِ.

Maqolahh yang ke empat puluh enam (Dari Supyan bin Uyainah Radhiallahu Anhu ia berkata: Barang siapa mencintai Allah maka pasti ia akan mencintai orang yang mencintai Allah Ta'ala) Dari golongan ulama dan dari golongan orang orang yang sholeh (Dan barang siapa yang mencintai orang yang telah cinta kepadanya Allah Ta'ala maka pasti ia akan mencintai perkara yang ia senangi karena Allah Ta'ala) Dari Amal-amal sholeh (Dan barang siapa mencintai perkara yang ia senangi karena Allah Ta'ala maka pasti ia akan menyenangi supaya tidak mengenal kepadanya para manusia) Bahkan ia sibuk beramal di waktu sendirian. 

وَنَقَلَ الْعَسْقَلَانِيُّ: أَنَّ مَحَبَّةَ اللَّهِ قِسْمَانِ: فَرْضٌ وَهِيَ الْبَاعِثَةُ عَلَى اِمْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ، وَنَدْبٌ وَهِيَ أَنْ يُوَاظِبَ عَلَى النَّوَافِلِ وَيَجْتَنِبَ الشُّبُهَاتِ اهُ. وَقَالَ الصِّدِّيقُ: مَنْ ذَاقَ مِنْ خَالِصِ مَحَبَّةِ اللَّهِ شَغَلَهُ ذَلِكَ عَنْ طَلَبِ الدُّنْيَا وَأَوْحَشَهُ عَنْ جَمِيعِ الْبَشَرِ.

Dan telah menuqil Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqollani: Sesunggunya cinta kepada Allah terbagi dua: Fardhu yaitu yang memotifasi pada melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah dan ridho dengan takdirnya. Dan sunnah yaitu menekuni pada ibadah sunnah dan menjauhi perkara syubhat. Sampai sini nuqilan Syekh Ibnu Hajar berakhir. Berkata Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu Anhu : Barang siapa yang mencicipi dari kemurnian cinta kepada Allah maka pastii akan mengsibukkan kepadanya kemurnian cinta itu dari dunia dan Allh pasti akan menjauhkan ia dari seluruh manusia.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 47

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ: [صِدْقُ الْمَحَبَّةِ فِي ثَلَاثِ خِصَالٍ: أَنْ يَخْتَارَ كَلَامَ حَبِيبِهِ عَلَى كَلَامِ غَيْرِهِ، وَيَخْتَارَ مُجَالَسَةَ حَبِيْبِهِ عَلَى مُجَالَسَةِ غَيْرِهِ وَيَخْتَارَ رِضَا حَيِّيَيْهِ عَلَى رِضَا غَيْرِهِ]) فَإِنَّ مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا فَهُوَ عَبْدُهُ. وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: وَمِثْقَالُ خَرْدَلَةٍ مِنْ حُبِّ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ عِبَادَةِ سَبْعِينَ سَنَةً.

Maqolah yang ke empat puluh tujuh (Dari Nabi Alaihis Sholatu Wassalam sesungguhnya Nabi bersabda: [Benarnya cinta ada pada tiga perkara: Orang yang mencintai memilih perkataan kekasihnya di atas perkataan orang lain, dan ia memilih majelis kekasihnya diatas majelis orang lain, dan ia memilih ridho kekasihnya diatas ridho orang lain]) Karena sesungguhnya orang yang mencintai sesuatu maka ia adalah hamba sahayanya. Dan telah berkata Yahya bin Mu'adz: Seberat biji sawi dari cinta Allah lebih dicintai olehku daripada ibadah tujuh puluh tahun.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 48

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ الْيَمَانِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَكْتُوبٌ فِي التَّوْرَاةِ: الْحَرِيصُ فَقِيرٌ) أَيْ الطَّالِبُ لِشَيْءٍ بِاجْتِهَادٍ فِي إِصَابَتِهِ فَاقِدٌ لِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَإِنْ كَانَ مَالِكَ الدُّنْيَا) أَيْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ مِنَ الْأَمْتِعَةِ وَالْجَوَاهِرِ (وَالْمُطِيعُ لِلَّهِ تَعَالَى مُطَاعٌ لِلنَّاسِ وَإِنْ كَانَ) أَيْ الْمُطِيعُ (مَمْلُوكًا) أَيْ عَبْدًا لِلنَّاسِ (وَالْقَانِعُ) أَيْ السَّاكِنُ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ وَالرَّاضِي بِقِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى (غَنِيٌّ وَإِنْ كَانَ جَائِعًا) وَهَرَبَتْ اِمْرَأَةٌ أَسِيرَةٌ مِنْ بِلَادِ الْكُفْرِ وَمَشَتْ مِائَتَيْ فَرْسَخٍ لَمْ تَأْكُلْ شَيْئًا فَسُئِلَتْ: كَيْفَ قَوِيتِ عَلَى الْمَشْيِ بِلَا أَكْلٍ؟ فَقَالَتْ: كُلَّمَا جِعْتُ قَرَأْتُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَأَشْبَعُ.

Maqolah yang ke empat puluh delapan (Dari Wahab Bin Munabbih Al-Yamani Radhiallahu Anhu: Termaktub dalam kitab Taurat: Orang yang ambisius itu adalah orang fakir) Maksudnya Orang yang mencai sesuatu dengan bersungguh-sungguh dalam memperoleh sesuatu itu adalah yang tidak mempunyai perkara yang ia mebutuhkan pada perkara itu (Walaupun terbukti ia memiliki dunia) Maksudnya perkara di antara langit dan bumi dari berbagai kenikmatan dan perhiasan (Dan orang yang taat kepada Allah Ta'ala itu adalah orang yang akan ditaati oleh manusia walaupun terbukti) Maksudnya orang yang mentaati Allah (Adalah seorang budak) Maksudnya budak milik manusia (Dan orang yang qonaah) Maksudnya yang tenang hatinya ketika tidak ada perkara yang menjadi kebiasaanya dan ridho atas bagian dari Allah Ta'ala (Adalah orang kaya walaupun terbukti ia adalah orang yang lapar) Telah kabur seorang wanita yang ditawan dari negaranya orang kafir dan ia berjalan sejauh dua ratus parsah ia tidak makan apapun kemudian ia ditanya: Bagaimana kamu bisa kuat berjalan tanpa makan, kemudian ia berkata setiap kali aku lapar maka aku membaca قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ tiga kali kemudian aku kenyang.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 49

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (مَنْ عَرَفَ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَعَ الْخَلْقِ لَذَّةٌ) لِأَنَّهُ لَمْ يُحِبَّ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى (وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا) بِأَنَّهَا فَانِيَةٌ (لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهَا رَغْبَةٌ) بَلْ اخْتَارَ الدَّارَ الْبَاقِيَةَ وَعَمِلَ لَهَا (وَمَنْ عَرَفَ عَدْلَ اللَّهِ تَعَالَى لَمْ يَتَقَدَّمْ إلَيْهِ الْخُصَمَاءُ) أَيْ لَمْ يُقْبِلُوا عَلَيْهِ لِأَنَّهُ قَدْ تَرَكَ الْخُصُومَةَ كَمَا قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ عَرَفَ اللَّهَ أَحَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا كَرِهَهَا.

Maqolah yang ke empat puluh sembilan (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Radhiallahu Anhu (Barang siapa yang kenal kepada Allah maka tidak akan ada baginya bersama makhluk suatu kenikmatan) Karena sesungguhnya ia tidak mencintai kepada selain Allah Ta'ala (Dan barang siapa kenal kepada dunia) Karena sesungguhnya dunia akan sirna (Maka tidak akan ada baginya di dalam dunia suatu kesenangan) Bahkan ia akan memilih tempat tinggal yang kekal dan beramal untuknya (Dan barang siapa mengenal pada keadilan Allah Ta'ala maka tidak akan menantang kepadanya musuh-musuh) Maksudnya mereka tidak akan datang kepadanya karena sesungguhnya ia telah meninggalkan permusuhan sebagaimana telah berkata Imam Hasan Rahimahullah: Barang siapa kenal kepada Allah maka pasti ia akan cinta kepada Allah dan barang siapa kenal pada dunia pasti ia akan membenci dunia.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : 

 عَلَيْهَا كِلَابٌ هَمُّهُنَّ اجْتِذَابُهَا * فَمَا هِيَ إِلَّا جِيفَةٌ مُسْتَحِيلَةٌ
وَإِنْ تَجْتَذِبْهَا نَازَعَتْكَ كِلَابُهَا * فَإِنْ تَجْتَنِبْهَا كُنْتَ سِلْمًا لِأَهْلِهَا

Telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anhu:

Tiadalah keduniaan itu melainkan bangkai yang busuk * berkerumun diatas bangkai itu anjing mereka ingin menarik bangkai itu 

Jika engkau menjauhi dunia itu maka kamu pasti akan menjadi aman dari ahli dunia * Dan jika engkau menarik dunia itu maka pasti akan merebut kepadamu anjing-anjing dunia

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 50 

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَمْسُونَ (عَنْ) أَبِي الْفَيْضِ (ذِي النُّونِ الْمِصْرِيِّ) وَاسْمُهُ ثَوْبَانُ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَقِيلَ الْفَيْضُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَأَبُوهُ كَانَ نَوْبِيًّا وَهُوَ أَوْحَدَ وَقْتِهِ عِلْمًا وَوَرَعًا وَحَالًا وَأَدَبًا وَكَانَ رَجُلًا نَحِيفًا تَعْلُوهُ حُمْرَةٌ لَيْسَ بِأَبْيَضِ اللِّحْيَةِ تُوُفِّيَ سَنَةَ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ وَمِائَتَيْنِ (كُلُّ خَائِفٍ) مِنْ شَيْءٍ (هَارِبٌ) مِنْهُ أَيْ فَمَنْ خَافَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ عَمِلَ عَمَلًا يُبْعِدُهُ مِنْهَا (وَكُلُّ رَاغِبٍ) فِي شَيْءٍ (طَالِبٌ) لَهُ، أَيْ فَمَنْ رَغِبَ فِي الْجَنَّةِ عَمِلَ عَمَلًا يُقَرِّبُهُ إِلَيْهَا (وَكُلُّ آنِسٍ بِاللَّهِ مُسْتَوْحِشٌ بِالْخَلْقِ، وَفِي نُسْخَةٍ: مُسْتَوْحِشٌ عَنْ نَفْسِهِ).

Maqolah yang ke lima puluh (Dari) Abu Faidh (Dzun nun Al-Misri) Namanya adalah Tsauban bin Ibrohim, dan dikatakan Faidh bin Ibrohim dan ayahnya adalah seorang na'ib. Dzun nun Al-Misri adalah satu-satunya orang di zamannya yang paling alim dan wara dan tingkah lakunya dan tatakramanya dan terbukti Dzun nun Al-Misri adalah seorang lelaki yang ramping bagian atasnya merah dan tidak ada yang putih jenggotnya ia wafat pada tahun 245 H (Setiap orang yang takut) Dari sesuatu (Adalah yang melarikan diri) Darinya maksudnya barang siapa yang takut dari siksa neraka maka ia pasti mengerjakan amalan yang akan menjauhkan ia dari siksa neraka (Dan setiap orang yang senang) pada sesuatu (Adalah yang mencari) padanya. Maksudnya barang siapa yang senang pada surga maka ia pasti mengerjakan amalan yang akan mendekatkan ia kepada surga (Dan setiap orang yang merasa dekat bersama Allah adalah orang yang merasa asing dengan makhluq. Dalam salinan matan: Adalah orang yang merasa asing dari dirinya sendiri).(*)

Source: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Sabtu, 21 Februari 2026

PAI KUA Kalimanah Ajak Syukur dan Buat Target Ibadah: Pesan Ramadhan untuk Jamaah Al Haq dan An Nuur

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat menyampaikan tausiyah atau kultum Ramadhan 1447 H di Mushala Al Haq Penaruban, Kamis (19/2/2026) lalu. (Foto: Ahza Farikh)

Purbalingga- Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Imam Edi Siswanto, menyampaikan tausiyah atau kultum Ramadhan 1447 H di Mushala Al Haq dan Mushala An Nuur pada Kamis dan Jumat (19–20/2/2026) lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat karena kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan.

Menurutnya, wujud rasa syukur tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi harus dibuktikan dengan mengisi Ramadhan sebaik mungkin sesuai kemampuan masing-masing. Ia mengingatkan agar Ramadhan tahun ini meninggalkan atsar atau bekas kebaikan dalam diri.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Imam%20Edi%20Siswanto

“Jangan sampai setelah Ramadhan berakhir kita justru menyesal karena melewatinya seperti hari biasa. Sungguh itu kerugian besar,” pesannya.

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat menyampaikan tausiyah atau kultum Ramadhan 1447 H di Mushala An Nuur Penaruban, Jumat (20/2/2026) lalu. (Foto: Ahza Farikh)

Imam Edi juga menekankan pentingnya meluruskan niat dalam setiap ibadah semata-mata karena Allah, sebab itulah yang dinilai dan menjadi sebab turunnya pahala serta ridha-Nya.

Kepada para remaja dan pemuda, ia berpesan agar menjaga akhlak, menjauhi gaya hidup boros dan pergaulan bebas, dan kompetisi gaya hidup hedonism (kepuasan materi belaka) serta tetap semangat menuntut ilmu yang bermanfaat.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Ramadhan%202026

“Puasa mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kesabaran, rasa syukur, sederhana dan ikhlas,” pesannya kepada para remaja dan pemuda mushala tersebut.

Selain itu, ia mengajak jamaah untuk menjalani “puasa digital” dengan membatasi penggunaan gawai hanya untuk hal yang perlu dan bermanfaat agar tidak melalaikan maupun mengurangi pahala puasa.

Diahir kultumnya, Ia mendorong setiap jamaah menetapkan minimal satu target ibadah selama Ramadhan, seperti tadarus dan khatam Al-Qur’an, shalat berjamaah, bersedekah, saling memaafkan, serta bekerja dan mencari nafkah halal.

“Satu target saja yang penting bernilai ibadah dan sesuai kemampuan, agar kita benar-benar merasakan nikmatnya bulan penuh rahmat, berkah, dan ampunan,” harapnya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Kamis, 19 Februari 2026

Ramadhan Ceria: Bersama PAI KUA Kalimanah, Bina Santri Berakhlak Mulia

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan motivasi kepada para santri TPQ Nurul Iman Penaruban di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Purbalingga-Suasana penuh semangat dan kebahagiaan mewarnai hari menyambut Ramadhan 1447 H di Mushala Al Haq pada Selasa (16/2/2026) sore lalu. Di hadapan para santri TPQ Nurul Iman Penaruban, PAI KUA Kalimanah, yang sekaligus Kepala TPQ Nurul Iman Penaruban, Imam Edi Siswanto, hadir memberikan motivasi yang menyejukkan hati. 

Menurutnya, momentum awal Ramadhan ini dijadikan sebagai penguat tekad atau niat karena Allah untuk menyambut bulan suci dengan hati yang gembira dan penuh harapan.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Imam%20Edi%20Siswanto 

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan motivasi kepada para santri TPQ Nurul Iman Penaruban di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Dalam pesannya dengan bahasa sederhana dan diselingi kisah para Nabi yang inspiratif, Imam Edi Siswanto mengajak para santri untuk merasa senang dan bangga karena dipertemukan kembali dengan bulan mulia yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan. 

"Untuk anak-anakku semua, bahwa Ramadhan itu mengajarkan kita untuk menahan makan dan minum, tetapi juga kesempatan kita semua untuk belajar dan memperbaiki diri serta meningkatkan iman sejak usia anak-anak," katanya disambut jawaban semangat anak-anak.

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan motivasi kepada para santri TPQ Nurul Iman Penaruban di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Ia juga memberikan apresiasi kepada anak-anak yang mulai belajar menahan makan dan minum. Menurutnya, itu adalah langkah awal yang sangat baik. 

Namun, perjuangan tidak berhenti di situ. Para santri diajak melanjutkan latihan dengan belajar menahan diri dari perilaku nakal dan kebiasaan berbohong, serta membiasakan berkata jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Para santri TPQ Nurul Iman Penaruban pada acara silaturahmi menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H di Mushala Al Haq, Selasa (16/2/2026) sore lalu. (Foto: Tyas)

Di akhir motivasinya, Ia memberikan satu kuis dan hadiah kepada santri sebagai pesan agar para santri semakin rajin belajar, taat beribadah, serta menghormati orang tua dan para ustadz. 

Dengan semangat Ramadhan, diharapkan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat iman dan indah akhlaknya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 18 Februari 2026

#24 Tanda Kebaikan Hamba dalam Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 41-45

Staf KUA Kalimanah, H. Mukhyono (tengah) saat membacakan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani pada Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 24, Rabu (18/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-24 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, H. Mukhyono dan penjelasan oleh Prayitno, Rabu (18/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 
41–45 dari Kitab Nashoihul Ibad.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 41–45 menjelaskan tanda-tanda kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya, yaitu diberi pemahaman agama, dijauhkan dari kecintaan berlebihan terhadap dunia, serta disadarkan akan kekurangan diri agar mudah memperbaiki akhlak. 

Rasulullah ﷺ mencontohkan bahwa hal-hal yang dicintai di dunia harus mengarah pada kedekatan kepada Allah, seperti shalat, berbuat kebaikan, menolong sesama, serta menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Nasehat para ulama juga menegaskan bahwa manusia tidak boleh hanya bergantung pada akal, harta, atau makhluk, melainkan harus bersandar kepada Allah. 

Buah dari mengenal Allah adalah tumbuhnya rasa malu berbuat maksiat, cinta karena Allah, dan ketenangan hati dalam mengingat-Nya. Selain itu, cinta kepada Allah menjadi dasar ma’rifat yang ditandai dengan keyakinan kuat, menjaga kehormatan diri, bertakwa, serta ridha terhadap segala ketentuan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang terasa berat.

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 24 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (18/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Berikut terjemahan 
Maqolah 41–45 dari Kitab Nashoihul Ibad Bab 3.

Bab 3 Maqolah 41

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (قِيلَ: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا) كَامِلًا (فَقَّهَهُ فِي الدِّينِ) أَيْ فِي أُصُولِهِ وَفُرُوعِهِ (وَزَهَّدَهُ فِي الدُّنْيَا) أَيْ جَعَلَ قَلْبَهُ خَالِيًا مِمَّا خَلَتْ مِنْهُ يَدُهُ (وَبَصَّرَهُ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ).

Maqolah yang ke empat puluh satu (Dikatakan: Ketika Allah menginginkan pada seorang hamba kebaikan) Yang sempurna (Maka Allah akan memberikan ia pemahaman dalam beragama) Maksudnya dalam pokok agama dan cabangnya (Dan Allah menjadikan ia zuhud di dunia) Maksudnya Allah menjadikan hatinya kosong dari perkara yang kosong dari perkara itu tangannya (Dan Allah akan memperlihatkan kepada hamba itu tentang aib-aib dirinya sendiri).

Bab 3 Maqolah 42

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ) أَيْ مَحْبُوبَاتِكُمْ مِمَّا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (ثَلَاثٌ: الطِّيبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِى الصَّلَاةِ]) وَهَذِهِ الْخِصَالُ الَّتِي وَقَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَيْسَتْ مِنَ الدُّنْيَا فِي شَيْءٍ لِأَنَّ كُلَّ مَا كَانَ لِلَّهِ تَعَالَى لَيْسَ مِنَ الدُّنْيَا كَالَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ مِنَ الْقُوْتِ وَالْمَسْكَنِ وَالْمَلْبَسِ كَمَا قَالَهُ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيْدِيُّ فِي الْمَجَالِسِ الرَّائِقَةِ (وَكَانَ مَعَهُ) ﷺ (أَصْحَابُهُ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (جُلُوسًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا) أَيْ مِمَّا كَانَ بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (ثَلَاثٌ: النَّظْرُ إِلَى وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (وَإِنْفَاقُ مَالِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (وَأَنْ تَكُونَ اِبْنَتِيْ تَحْتَ رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالثَّوْبُ الْخَلَقُ) بِفَتْحَتَيْنِ أَيْ الْبَالِي. رُوِيَ أَنَّهُ كَانَ فِي جُبَّتِهِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ رُقْعَةً (فَقَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا عُمَرُ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: إِشْبَاعُ الْجِيْعَانِ وَكِسْوَةُ الْعُرْيَانِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ) رُوِيَ أَنَّهُ خَتَمَ الْقُرْآنَ فِي رَكْعَتَيْنِ فِي اللَّيْلِ (فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (صَدَقْتَ يَا عُثْمَانُ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: الْخِدْمَةُ لِلضَّيْفِ، وَالصَّوْمُ فِي الصَّيْفِ) أَيْ فِي وَقْتِ شِدَّةِ الْحَرِّ (وَالضَّرْبُ) أَيْ لِلْأَعْدَاءِ (بِالسَّيْفِ).

Maqolah yang ke empat puluh dua (Dari Rasulullah ﷺ sesungguhnya Rasulullah bersabda: [Telah dicintai oleh ku dari dunia kalian) Maksudnya yang dicintai oleh kalian dari perkara yang ada di antara langit dan bumi (Tiga perkara: Wewangian dan wanita dan telah dijadikan kebahagiaan hatiku didalam sholat]) Tiga perkara yang datang kepada Rasulullah ﷺ bukan termasuk dari dunia sedikitpun karena sesungguhnya setiap perkara yang terbukti karena Allah ta'ala itu tidak termasuk dari dunia seperti perkara yang tidak bisa tidak darinya dari makanan pokok dan tempat tinggal dan pakaian sebagaimana telah berkata tentang hal itu Syaikh Kholil Al-Rasyid dalam kitab Al-Majalis Ar-Roiqoh (Dan ada bersama Rasulullah) ﷺ (Sahabat-sahabatnya) Radhiallahu Anhum (Sambil duduk kemudian berkata Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu Ta'ala Anhu: Anda benar wahai Rasulullah, dan telah dicintai olehku dari dunia) Maksudnya dari perkara yang ada di antara langit dan bumi (Tiga: Melihat wajah Rasulullah) ﷺ (Dan menginfaqkan hartaku kepada Rasulullah) ﷺ (Dan ada putriku itu menjadi istri Rasulullah) ﷺ (Kemudian berkata Umar Radhiallahu Anhu: Kamu benar wahai Abu Bakar. Dan dicintai olehku dari dunia tiga: Amar ma'ruf dan nahi munkar dan memakai baju yang rusak) lafadz الخلق dengan memfathahkan keduanya maksudnya rusak. Diriwayatkan sesungguhnya Umar bin Khottob ada pada jubahnya empat belas tambalan (Kemudian berkata Utsman Radhiallahu Anhu: kamu benar wahai Umar. Dan dicintai olehku dari dunia tiga: Mengenyangkan orang yang lapar dan memberi pakaian pada orang yang telanjang dan membaca Al-Quran) Diriwayatkan sesungguhnya Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Quran dalam dua rakaat di waktu malam (Kemudian berkata Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhah (Kamu benar wahai Utsman. Dan dicintai olehku dari dunia tiga: Melayani orang lemah dan puasa di musim kemarau) Maksudnya di waktu yang sangat panas (Dan memenggal) Kepada musuh-musuh (Dengan pedang). 

Staf KUA Kalimanah, Prayitno (kanan depan) saat menjelaskan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani pada Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 24, Rabu (18/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
 

 (فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَ جِبْرِيلُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ لِلنَّبِيِّ ﷺ (وَقَالَ) أَيْ سَيِّدُنَا جِبْرِيلُ (أَرْسَلَنِي اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَمَّا سَمِعَ مَقَالَتَكُمْ وَأَمَرَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ تَسْأَلَنِي عَمَّا أُحِبُّ أَنْ كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، فَقَالَ) أَيْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ (مَا تُحِبُّ) يَا جِبْرِيلُ (أَنْ كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، فَقَالَ: إِرْشَادُ الضَّالِّينَ) إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ (وَمُؤَانَسَةُ الْغَرَبَاءُ الْقَانِتِينَ) أَيْ الْمُطِيعِينَ لِلَّهِ تَعَالَى الْخَاشِعِينَ لَهُ تَعَالَى (وَمُعَاوَنَةُ أَهْلِ الْعِيَالِ الْمُعْسِرِينَ) أَيْ الْفُقَرَاءِ. (قَالَ جِبْرِيلُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (يُحِبُّ رَبُّ الْعِزَّةِ جَلَّ جَلَالُهُ مِنْ عَبِيْدِهِ ثَلَاثَ خِصَالٍ: بَذْلَ الْاِسْتِطَاعَةِ) أَيْ إِعْطَاءَ الْقُدْرَةِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى (وَالْبُكَاءَ عِنْدَ النَّدَامَةِ) أَيْ عَلَى فِعْلِ الْمَعَاصِي (وَالصَّبْرَ عِنْدَ الْفَاقَةِ) أَيْ وُجُودِ الْحَاجَةِ.

(Maka tatkala mereka seperti itu ketika datang malaikat Jibril) Alaihis Salam kepada Nabi ﷺ (Dan ia berkata) Maksudnya tuan kita Jibril (Telah mengutus kepadaku Allah Tabaraka Wata'ala ketika Allah mendengar perkataan kalian dan Allah memerintahkanmu wahai Rasulullah supaya engkau bertanya kepadaku tentang apa yang aku cintai jika aku terbukti termasuk dari penduduk dunia, Kemudian bersabda) Maksudnya Rasulullah ﷺ (Apa yang engkau cintai) Wahai Jibril (Jika engkau terbukti termasuk dari penduduk dunia, maka malaikat Jibril berkara: Memberikan petunjuk pada orang yang tersesat) Menuju jalan yang lurus (Dan bersikap ramah kepada orang asing yang taat) Maksudnya Yang taat kepada Allah yang khusyu kepada Allah Ta'ala (Dan menolong keluarga yang kesusahan) Maksudnya orang-orang faqir. (Telah berkata Malaikat Jibril) Alaihis Salam (Rabbul Izzati Jalla Jalaaluh mencintai dari hambanya pada tiga perkara: Mengerahkan segala kemampuan untuk taat) Maksudnya mengerahkan segala kemampuan dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala (Menangis ketika menyesal) Maksudnya atas perbuatan maksiat (Sabar ketika melarat) Maksudnya ketika ada kebutuhan.

Bab 3 Maqolah 43

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ: مَنْ اِعْتَصَمَ بِعَقْلِهِ ضَلَّ) أَيْ مَنْ اِعْتَمَدَ عَلَى عَقْلِهِ فِي أُمُورِهِ وَلَمْ يَعْتَمِدْ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي ذَلِكَ لَمْ يَهْتَدِ إِلَى الصَّوَابِ (وَمَنْ اسْتَغْنَى بِمَالِهِ قَلَّ) أَيْ مَنْ اكْتَفَى بِمَالِهِ لَمْ يَكْفِهِ ذَلِكَ، وَفِي الْحَدِيثِ: مَنْ اِسْتَغْنَى بِاللَّهِ أَغْنَاهُ (وَمَنْ عَزَّ بِمَخْلُوقٍ ذَلَّ) أَيْ وَمَنْ كَانَتْ قُوَّتُهُ بِمَخْلُوقٍ صَارَ ذَلِيلًا.

Maqolah yang ke empat puluh tiga (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana: Barang siapa yang berpegang teguh pada akalnya maka pasti tersesat) Maksudnya barang siapa yang bergantung pada akalnya di dalam urusannya dan ia tidak bergantung kepada Allah dalam hal itu maka ia tidak akan menerima petunjuk menuju kebenaran (Dan barang siapa yang merasa kaya dengan hartanya maka pasti sedikit) Maksudnya barang siapa yang merasa cukup dengan hartanya maka tidak akan mencukupinya harta itu, dan dalam satu hadits: Barang siapa yang merasa kaya sebab Allah maka Allah akan menjadikan ia kaya (Dan barang siapa yang merasa mulia sebab makhluq maka pasti hina) Maksudnya barang siapa yang terbukti kekuatanynya sebab makhluq maka pasti ia akan menjadi orang yang hina.

Bab 3 Maqolah 44

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) وَهُمُ الَّذِينَ يَكُونُ قَوْلُهُمْ وَفِعْلُهُمْ مُوَافِقًا لِلسُّنَّةِ (ثَمْرَةُ الْمَعْرِفَةِ) أَيْ إِدْرَاكِ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى (ثَلَاثُ خِصَالٍ: الْحَيَاءُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى) أَيْ اِنْقِبَاضُ الْقَلْبِ عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ تَعَالَى (وَالْحُبُّ فِي اللَّهِ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِيمَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الثَّوَابِ وَحُصُولِ رِضَاهُ تَعَالَى (وَالْأُنْسُ بِاللَّهِ) وَهُوَ الصَّحْوُ بِاللَّهِ تَعَالَى فَكُلُّ مُسْتَأْنِسٍ صَالِحٌ وَهُوَ أَثَرُ مُشَاهَدَةِ جَمَالِ حَضْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْقَلْبِ.

Maqolah yang ke empat puluh empat (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Mereka adalah orang yang terbukti ucapannya dan prilakunya sesuai dengan sunnah (Buah kema'rifatan) Maksudnya memahami sifat-sifat Allah Ta'ala (Itu tiga perkara: Malu kepada Allah) Maksudnya menyusutnya hati dari berbuat maksiat kepada Allah Ta'ala (Dan cinta karena Allah) Maksudnya suka pada perkara yang ada di sisi Allah dari pahala-pahala dan hasilnya ridho Allah Ta'ala (Dan gembira karena Allah) Yaitu merasa tenang dengan Allah Ta'ala maka setiap yang menjadikan hati tenang itu baik yaitu tanda menyaksikan keindahan Allah dalam hati.  

Bab 3 Maqolah 45

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [الْمَحَبَّةُ) فِي اللَّهِ تَعَالَى وَهِيَ أَنْ تَعْبُدَهُ (أَسَاسُ الْمَعْرِفَةِ) فَإِنَّ لِلصُّوْفِيَّةِ ثَلَاثَ مَرَاتِبَ: شَرِيْعَةً وَهِيَ عِنْدَهُمْ عِبَادَةُ اللَّهِ تَعَالَى لِأَنَّهَا الْمَقْصُودَةُ مِنَ الشَّرِيعَةِ الَّتِي هِيَ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ الْأَحْكَامُ الَّتِي بَيَّنَهَا اللَّهُ تَعَالَى لَنَا وَطَرِيقَةً لَنَا وَهِيَ قَصْدُ اللَّهِ تَعَالَى بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَمَعْرِفَةً وَهِيَ الْعِلْمُ بِبَوَاطِنِ الْأُمُورِ وَهِيَ ثَمْرَتُهَا (وَالْعِفَّةُ) أَيْ الْاِمْتِنَاعُ عَنِ السُّؤَالِ مِنَ الْخَلْقِ (عَلَامَةُ الْيَقِينِ) وَهُوَ اعْتِقَادُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَادِرٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَرَازِقٌ كُلَّ حَيَوَانٍ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّ الرِّزْقَ لَا يَصِلُ إلَيْهِ إلَّا بِسَوْقِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَيْهِ (وَرَأْسُ الْيَقِينِ التَّقْوَى) أَيْ أَصْلُ الْيَقِينِ اِمْتِثَالُ أَمْرِ اللَّهِ وَاجْتِنَابُ نَهْيِهِ (وَالرِّضَا بِتَقْدِيرِ اللَّهِ) وَهُوَ سُرُورُ الْقَلْبِ بِمَا قَدَّرَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ مِنَ الْمُرِّ وَالْحُلْوِ وَبِمَا قَضَاهُ.

Maqolah yang ke empat puluh lima (Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Cinta) Di jalan Allah yaitu kamu beribadah kepada Allah (Adalah pondasi kemarifatan) Karena sesungguhnya untuk para ahli tasawuf ada tiga martabat : Syariat yaitu menurut para ahli tasawuf adalah beribadah kepada Allah Ta'ala karena sesungguhnya beribadah kepada Allah adalah yang dituju dari syariat yang syariat itu menurut ahli fiqih adalah hukum-hukum yang telah menjelaskan pada hukum-hukum itu Allah Ta'ala kepada kita. Dan Toriqoh untuk kita yaitu bermaksud kepada Allah Ta'ala dengan ilmu dan amal. Dan marifat yaitu mengetahui esensi setiap perkara yaitu buahnya cinta (Menahan diri) Maksudnya menahan diri dari meminta-minta dari makhluq (Adalah tandanya keyakinan) Yaitu bertekad sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan Allah memberi rizki kepada setiap makhluk dengan bertekad sesungguhnya rizki itu tidak akan hasil kecuali dengan kiriman dari Allah Ta'ala kepadanya (Dan pokok dari keyakinan adalah takwa) Maksudnya asal dari keyakinan adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya (Dan Ridho atas taqdir dari Allah) Yaitu bahagianya hati pada perkara yang telah mentakdirkan atas perkara itu Allah Ta'ala kepadanya dari takdir yang pahit dan yang manis dan atas perkara yang Allah telah menentukan atas perkara itu.   

Source: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Minggu, 15 Februari 2026

Sukseskan Geber BBM, PAI KUA Kalimanah Bersama Santri dan Takmir Jemput Ramadhan dengan Gotong Royong

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat melaksanakan Program Gerakan Bersama (Geber) Bersih-Bersih Masjid dan Mushala (BBM) yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Imam Edi Siswanto, bersama para santri kelas Al-Qur’an dan kelas Ta’limul Qur’an Lil Aulad (TQA) Nurul Iman Penaruban serta Takmir Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, menggelar kegiatan bersih-bersih mushala, Ahad (15/2/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kegiatan

Kegiatan ini sekaligus menyukseskan Program Gerakan Bersama (Geber) Bersih-Bersih Masjid dan Mushala (BBM) Tahun 2026, yang diinisiasi oleh Direktur Jenderal Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia, dalam rangka meningkatkan kualitas pemberdayaan Rumah Ibadah (Masjid Berdaya Berdampak) jelang Ramadan 1447 H/2026 M. 

Santri dan remaja TQA Nurul Iman Penaruban bersam aTakmir Msuhala Al Haq Penaruban pada kegiatan bersih-bersih mushala di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam edi Siswanto)

Dijelaskan oleh Imam Edi, bahwa suasana kerja bakti berlangsung lancar, penuh semangat gotong royong dan kebersamaan. Anak-anak, remaja, dan orang tua berbaur tanpa sekat, bekerja sesuai kemampuan masing-masing. 

Pemandangan ini bukan sekadar aktivitas membersihkan bangunan, melainkan juga potret pendidikan karakter yang hidup di tengah masyarakat.

Gotong Royong yang Bernilai Ibadah
Menurut Imam Edi Siswanto, yang juga Kepala TPQ Nurul Iman dan Penasehat Takmir Mushala Al Haq, kerja bakti telah menjadi tradisi masyarakat muslim.

“Gotong royong itu sudah menjadi ciri masyarakat desa, selain juga bernilai ibadah,” jelasnya.

Santri Kelas Al Quran TPQ Nurul Iman Penaruban pada kegiatan bersih-bersih mushala di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam edi Siswanto)

Pernyataan ini menegaskan bahwa kerja bakti bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga sarana memperkuat ukhuwah (persaudaraan) sekaligus ladang pahala.

Belajar dari Tindakan, Bukan Sekadar Teori
Anak-anak dan remaja dibagi dalam beberapa kelompok. Anak-anak bertugas menyapu lantai, membersihkan kaca jendela, serta menata kitab dan buku di lemari. 

Remaja menangani pekerjaan yang lebih menantang seperti membersihkan kipas angin, ventilasi, langit-langit, tempat wudhu, dan WC.

Sementara pekerjaan berat seperti memperbaiki kabel listrik, saluran air, sound system, dan peralatan lainnya dikerjakan oleh para orang tua.

Pembagian tugas ini bukan tanpa tujuan. Imam Edi menjelaskan alasan pentingnya melibatkan anak-anak TPQ dalam kegiatan tersebut:

1. Islam mengajarkan rajin bekerja sejak dini.
2. Melatih tanggung jawab.
3. Menumbuhkan rasa peduli dan memiliki terhadap rumah ibadah.
4. Membangun kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Mendatangkan pahala karena bagian dari ibadah dan sedekah tenaga.
6. Membentuk karakter sukses anak yang gemar membantu di rumah dan di masyarakat.
7. Menunjukkan semangat menyambut Ramadhan sebagai salah satu ciri orang beriman.

Ketua Takmir Mushala al Haq, H. Mudasir (berkopiah) saat kegiatan bersih-bersih mushala di Mushala Al Haq Desa Penaruban, Kaligondang, Purbalingga, Ahad (15/2/2026). (Foto: Imam edi Siswanto)

Menanam Kenangan, Menuai Kerinduan
Lebih dari sekadar bersih-bersih, kegiatan ini menjadi pengalaman yang membekas di hati anak-anak. 

Di masa depan, kenangan menyapu lantai mushala atau membersihkan jendela bersama teman dan orang tua akan menjadi panggilan rindu untuk kembali memakmurkan masjid dan mushala.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membersihkan hati, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kepedulian. 

Ketika generasi muda diajak terlibat sejak dini, mereka tidak hanya belajar tentang ibadah, tetapi juga tentang cinta kepada Allah, kepada sesama, dan kepada rumah-Nya.

Semoga semangat gotong royong ini terus terjaga, menjadikan mushala bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan karakter dan kebersamaan umat.(*)

Pewarta: Imam Edi siswanto 

Jumat, 13 Februari 2026

Langkah Penuh Berkah: Pendampingan Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah Antarkan Wakaf Masjid Nurul Iman Menuju Kepastian Hukum

Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI. (berbaju Korpri) saat diacara Ikrar Wakaf untuk Masjid Nurul Iman, Rabu (12/2/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Zamroni Irham, kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendampingi masyarakat, kali ini melalui keberhasilan proses pembuatan Akta Ikrar Wakaf untuk Masjid Nurul Iman Desa Babakan, Rabu (12/2/2026) siang kemarin.

Menurutnya, prosesi Ikrar Wakaf dipimpin langsung oleh Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=wakaf

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakif Sigit Tri Hantoro, Ketua Nadzir Masjid Nurul Iman H. Ali Ma’ruf beserta jajaran pengurus, serta dua orang saksi yakni Kadinah Maulana dan Miswanto. Sejumlah jamaah masjid juga tampak hadir untuk menyaksikan momentum penting tersebut sebagai bentuk dukungan dan kebahagiaan bersama.

Pelaksanaan ikrar wakaf ini menjadi momen yang sangat dinanti. Setelah melalui proses panjang selama kurang lebih sembilan tahun, akhirnya perjuangan masyarakat dan pengurus masjid membuahkan hasil.

Doa bersama pada diacara Ikrar Wakaf untuk Masjid Nurul Iman, Rabu (12/2/2026). (Foto: Zamroni Irham)

"Rasa lega dan haru menyelimuti seluruh pihak yang hadir, karena tahapan penting dalam penguatan status hukum tanah wakaf berhasil dilaksanakan," ungkap Zamroni.

Dengan terlaksananya Ikrar Wakaf, sambungnya, langkah selanjutnya adalah pengurusan sertifikat tanah wakaf. Sertifikat tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian hukum sekaligus melindungi aset wakaf dari potensi penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Selain itu, keberadaan sertifikat wakaf juga akan mendukung tertib administrasi pengelolaan aset kemasjidan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh umat," katanya menegaskan.

Keberhasilan pendampingan ini menjadi bukti nyata komitmen penyuluh agama dalam memberikan pelayanan keagamaan, edukasi hukum wakaf, serta penguatan tata kelola aset umat. .

Sinergi antara masyarakat, nadzir, dan penyuluh agama diharapkan terus terjalin demi menjaga keberlangsungan manfaat wakaf sebagai amal jariyah yang bernilai ibadah dan kemaslahatan bersama.(*)

Kontributor: Zamroni Irham
Editor: Imam Edi Siswanto

Melalui Tradisi Sadranan, Kepala KUA Kalimanah Ajak Tebar Manfaat untuk Sesama

Acara Sadranan KUA Kalimanah sebagai wujud pelestarian budaya Jawa sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kantor KUA Kalimanah pada Kamis (12/2/2026) kemarin. (Foto: Rizal)

Purbalingga-Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, KUA Kalimanah menggelar kegiatan sadranan sebagai wujud pelestarian budaya Jawa sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT di kantor KUA Kalimanah, Kamis (12/2/2026) kemarin.

Acara diikuti oleh seluruh staf dan Penyuluh Agam Islam (PAI) KUA Kalimanah bersama para Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (PPPN) dalam suasana penuh khidmat, kebersamaan, dan kekeluargaan. 

Tradisi sadranan menjadi momentum spiritual untuk mempererat silaturahmi sekaligus mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan penuh rasa syukur.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI, dalam sambutannya menyampaikan pesan penting tentang makna kebermanfaatan dalam kehidupan. Ia mengingatkan bahwa manusia terbaik adalah yang mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Beliau menyampaikan hadis Rasulullah SAW:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya".

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=kholidin 

Menurutnya, nilai kebermanfaatan tersebut harus tercermin dalam pelayanan kepada masyarakat, terlebih menjelang Ramadhan yang menjadi momentum meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh pegawai KUA Kalimanah, Amiin Muakhor. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya sikap syukur dalam setiap aspek kehidupan.

Ia mengajak seluruh peserta untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Menurutnya, rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui sikap dan perilaku yang mencerminkan ketaatan serta kepedulian terhadap sesama.

Dalam pengajiannya, ia juga menyampaikan bahwa manusia harus mampu mensyukuri nikmat yang sudah dimiliki sekaligus berikhtiar meraih nikmat yang belum dicapai. 

Ia menjelaskan, para ulama mengajarkan bahwa nikmat yang telah ada dijaga dengan rasa syukur, sedangkan nikmat yang belum diraih ditempuh dengan kesungguhan usaha, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.

Menurutnya, syukur bukan hanya dengan lisan, tetapi diwujudkan dengan menggunakan nikmat untuk kebaikan dan ketaatan. Sementara untuk menggapai nikmat yang belum diperoleh, umat Islam diajarkan untuk memperbaiki niat, meningkatkan amal saleh, bersungguh-sungguh dalam berusaha, serta tidak berputus asa dari rahmat Allah. 

Ia menegaskan bahwa perpaduan antara syukur, ikhtiar, dan tawakal menjadi kunci keberkahan hidup serta jalan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setelah rangkaian kegiatan keagamaan, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Suasana kebersamaan tampak semakin hangat, penuh keakraban, dan mempererat hubungan kekeluargaan di antara seluruh pegawai dan PPPN.

Melalui kegiatan sadranan ini, KUA Kalimanah berharap tradisi budaya yang sarat nilai spiritual dapat terus dilestarikan sekaligus menjadi sarana memperkuat persiapan mental dan spiritual dalam menyambut Ramadhan. 

Momentum ini juga diharapkan mampu menumbuhkan semangat kebersamaan, pelayanan yang lebih baik, serta peningkatan kualitas ibadah seluruh aparatur KUA Kalimanah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

#25 Menggapai Ridha Allah: Antara Cinta, Qanaah, dan Tawakal

Kegiatan rutin kajian Kitab  Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah  setiap Rabu Pagi edisi ke 25, Rabu (25/2/202...