Rabu, 07 Oktober 2026

#42 Menjaga Kehormatan dan Menata Kembali Orientasi Kehidupan

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 42, Rabu (7/10/2026). (Foto: Pujianto)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada menghormati ulama, pemimpin, tetangga, kerabat, dan keluarga dan jangan sampai dunia mengalahkan orientasi akhirat

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-41 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (7/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 1 – Menghormati Ulama, Pemimpin, Tetangga, Kerabat, dan Keluarga
Hasil kajian Maqolah 1 menunjukkan bahwa kehidupan yang baik dibangun melalui sikap menghormati dan menjaga hubungan dengan berbagai pihak. Merendahkan ulama dapat menyebabkan kerugian dalam urusan agama karena ulama menjadi salah satu sumber pemahaman terhadap syariat. 

Meremehkan pemimpin dapat menimbulkan kerugian dalam urusan dunia, sedangkan merendahkan tetangga dapat menghilangkan berbagai manfaat dan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Maqolah ini juga menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan kerabat dan keluarga. Meremehkan kerabat dapat merusak kasih sayang dan hubungan kekeluargaan, sedangkan merendahkan pasangan dapat menghilangkan keharmonisan dan kenikmatan dalam kehidupan rumah tangga.

Pesan tersebut diperkuat dengan ajaran Nabi ﷺ agar seseorang mencintai kebaikan bagi tetangganya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri. Bahkan, kesabaran menghadapi gangguan tetangga menjadi bagian dari akhlak mulia yang mendapatkan kecintaan Allah.

Dengan demikian, menghormati orang lain bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman dan terjaganya kehidupan yang harmonis.

Suasan kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 42, Rabu (7/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Maqolah 2 – Jangan Sampai Dunia Mengalahkan Orientasi Akhirat
Maqolah 2 memberikan peringatan tentang perubahan orientasi kehidupan manusia. Nabi ﷺ menggambarkan suatu masa ketika manusia lebih mencintai dunia daripada akhirat, rumah daripada persiapan menghadapi kubur, harta daripada memikirkan hisab, keluarga dan kenikmatan dunia daripada kenikmatan akhirat, serta mengikuti keinginan diri daripada menaati Allah.

Kecintaan kepada dunia pada dasarnya bukan sesuatu yang dilarang. Yang menjadi masalah adalah ketika kecintaan tersebut membuat seseorang lalai dari kewajiban dan melupakan kehidupan akhirat. 

Demikian pula dengan harta. Harta yang halal tetap akan dipertanggungjawabkan melalui hisab, sedangkan harta yang diperoleh dengan cara haram dapat menjadi sebab datangnya azab.

Maqolah ini mengajarkan pentingnya menempatkan dunia secara proporsional. Rumah boleh diperindah, harta boleh dicari, keluarga harus dicintai, dan kebutuhan diri perlu diperhatikan. Namun semuanya harus tetap berada dalam batas ketaatan kepada Allah dan tidak mengalahkan persiapan menuju akhirat.

Kesimpulan Hasil Kajian
Maqolah 1 dan 2 memiliki keterkaitan yang kuat. Maqolah 1 mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan manusia, sedangkan Maqolah 2 mengajarkan bagaimana menata hubungan hati dengan dunia dan Allah. Seorang Muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus mampu menghormati ulama, pemimpin, tetangga, kerabat, dan keluarga. 

Pada saat yang sama, kecintaan kepada dunia harus dikendalikan agar tidak membuat manusia melupakan kematian, hisab, dan kehidupan akhirat. Dengan demikian, keseimbangan antara akhlak kepada sesama dan orientasi kepada Allah menjadi kunci kehidupan yang baik dan bernilai.

Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5

بَابُ الخُمَاسِيِّ
فِيهِ سَبْعٌ وَعِشْرُوْنَ مَوْعِظَةً سِتَّةٌ أَخْبَارٌ وَالْبَاقِى آثَارٌ

Dalam bab ini ada 27 Nasihat, 6 akhbar dan sisanya atsar.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 1

الْمَقَالَةُ الْأُولَى: (رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: مَنْ أَهَانَ) أَيْ أَذَلَّ (خَمْسَةً) مِنَ النَّاسِ (خَسِرَ خَمْسَةً) أَيْ أَهْلَكَ خَمْسَةَ أُمُورٍ (مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ) بِأَنْ تَرَكَ تَعْظِيمَهُمْ (خَسِرَ الدِّينَ) فَإِنَّهُمْ مَعْدِنُ الشَّرِيعَةِ (وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ) أَيْ الْمُلُوكِ (خَسِرَ الدُّنْيَا) لِأَنَّهُمْ الَّذِينَ يُرَتِّبُونَ أُمُورَ الدُّنْيَا وَزِمَامُهَا بِأَيْدِيهِمْ (وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْجِيرَانِ) أَيْ الْمُجَاوِرِينَ فِي الْمَسَاكِنِ مِنْ جَمِيعِ الْجِهَاتِ (خَسِرَ الْمَنَافِعَ) أَيْ الْخَيْرَاتِ الَّتِي يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى الْمَطْلُوبِ.

Maqolah yang pertama (Diriwayatkan dari Nabi ﷺ: Barang siapa yang menghinakan) Maksudnya ia menghinakan (Pada lima golongan) Dari Manusia (Maka ia rugi pada lima perkara) Maksudnya ia merusak pada lima perkara (Barangsiapa yang merendahkan ulama) Dengan cara ia meninggalkan sifat mengagungkan ulama (Maka ia rugi dalam urusan agama) Karena sesungguhnya ulama adalah sumbernya syariat (Dan barang siapa yang merendahkan kepada umara) Maksudnya kepada para raja (Maka ia rugi dalam urusan dunia) Karena sesungguhnya umara adalah orang-orang yang mengatur pada urusan-urusan dunia dan kendali dunia itu dengan tangan umara (Dan barang siapa merendahkan kepada tetangga) Maksudnya orang-orang yang bertetangga di tempat tinggal dari semua arah (Maka ia rugi dalam kemanfaatan) Maksudnya kebaikan-kebaikan yang bisa sampai sebab kebaikan-kebaikan itu pada hal yang dicari.

رُوِيَ أَنَّهُ ا قَالَ: [وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الرَّجُلَ لَهُ جَارُ سُوءٍ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ بِحَيَاةٍ أَوْ مَوْتٍ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda: [Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam kekuasaaannya, tidaklah beriman seorang hamba hingga dia mencintai untuk tetangganya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim. Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai seorang laki-laki yang baginya ada tetangga buruk yang menyakitinya, lalu dia bersabar atas gangguannya dan ia ikhlas atas gangguan itu hingga meberikan kecukupan kepadanya Allah dengan hidup atau mati] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Bukhari.

 (وَمَنْ اسْتَخَفَّ بِالْأَقْرِبَاءِ) مِنَ الْأَرْحَامِ (خَسِرَ الْمَوَدَّةَ) أَيْ أَهْلَكَ مَحَبَّتَهُمْ (وَمَنْ اسْتَخَفَّ بِأَهْلِهِ) أَيْ زَوْجَتِهِ (خَسِرَ طِيبَ الْمَعِيشَةِ) أَيْ لَذَّةَ الْمَكْسَبِ الَّذِي يَعِيشُ بِسَبَبِهِ .  

(Dan barang siapa yang merendahkan kepada kerabat-kerabat) Maksudnya dari mahrom (Maka ia rugi dalam kasih sayang) Maksudnya ia telah merusak cinta mereka (Dan barang siapa merendahkan kepada keluarganya) Maksudnya istrinya (Maka ia rugi dalam nikmatnya kehidupan) Maksudnya nikmatnya mencari nafkah yang ia bisa hidup dengan sebabnya.

 Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 2 

 (وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِيْ يُحِبُّونَ خَمْسًا) مِنَ الْخِصَالِ (وَيَنْسَوْنَ خَمْسًا) مِنْ مُقَابِلَتِهَا (يُحِبُّونَ الدُّنْيَا) فَيَشْتَغِلُونَ بِهَا (وَيَنْسَوْنَ الْعُقْبَى) أَيْ يَتْرُكُونَ الْعَمَلَ لِلْآخِرَةِ (وَيُحِبُّونَ الدُّوْرَ) فَيَشْتَغِلُونَ بِزِينَتِهَا (وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ) أَيْ يَتْرُكُونَ الْعَمَلَ لِتَنْوِيرِهَا (وَيُحِبُّونَ الْمَالَ) فَيَشْتَغِلُونَ بِجَمْعِهِ (وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ) أَيْ يَغْفُلُونَ عَنْ حِسَابِ اللَّهِ تَعَالَى إيَّاهُ بِهِ فَإِنَّ الْمَالَ حَلَالُهُ حِسَابٌ وَحَرَامُهُ عِقَابٌ (وَيُحِبُّونَ الْعِيَالَ) أَيْ أَهْلَ الْبَيْتِ (وَيَنْسَوْنَ الْحُورَ) فِي الْجِنَانِ (وَيُحِبُّونَ النَّفْسَ وَيَنْسَوْنَ اللَّهَ) بِأَنْ يَتَّبِعُوا مُرَادَ أَنْفُسِهِمْ وَيَتْرُكُونَ أَوَامِرَ اللَّهِ تَعَالَى (هُمْ مِنِّي بُرَآءُ) أَيْ بُعَدَاءُ (وَأَنَا مِنْهُمْ بَرِيءٌ) أَيْ بَعِيدٌ.

Maqolah yang kedua (Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: Akan datang suatu zaman kepada ummatku mereka akan mencintai pada lima) Dari perkara-perkara (Dan mereka akan melupakan lima perkara) Dari perkara yang bertentangan dengannya (Mereka mencintai dunia) Sehingga mereka sibuk dengannya (Dan mereka melupakan akhirat) Yaitu mereka meninggalkan amal untuk kehidupan akhirat (Dan mereka mencintai rumah-rumah) Sehingga mereka sibuk dengan menghiasi rumah-rumah (Dan mereka melupakan kubur) Yaitu mereka meninggalkan amal untuk memberikan cahaya padanya (Dan mereka mencintai harta) Sehingga mereka sibuk mengumpulkannya (Dan mereka melupakan hisab) Yaitu Mereka lalai terhadap perhitungan Allah Ta'ala padanya karena mengumpulkan harta karena sesungguhnya harta, halalnya harta itu merupakan hisab dan haramnya harta itu merupakan adzab (Dan mereka mencintai keluarga) Yaitu ahli rumah (Dan mereka melupakan bidadari) di surga (Dan mereka mencintai diri mereka sendiri dan mereka melupakan Allah) Dengan cara mereka mengikuti pada keinginan diri mereka sendiri dan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah Ta'ala (Mereka itu dari diriku berlepas diri) Yaitu mereka menjauh (dan aku dari mereka berlepas diri) Yaitu jauh.

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-5/
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 30 September 2026

Ikrar Wakaf Tanah 108 Meter Persegi Disiapkan untuk TPQ dan Kemaslahatan Umat

PPAIW Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, (Berbaju putih) di acara prosesi ikrar wakf di Masjid Baiturrahman, Kelurahan Karangmanyar, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Selasa (29/9/2026, (Foto: Zamroni Irham)

Purbalingga – Semangat berbagi dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat kembali diwujudkan melalui ikrar wakaf di Masjid Baiturrahman, Kelurahan Karangmanyar, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Selasa (29/9/2026) kemarin.

Dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Zamroni Irham bahwa sebidang tanah seluas 108 meter persegi di Jalan Kenanga Raya diwakafkan untuk mendukung kegiatan ibadah, pendidikan Al-Qur’an, serta kemaslahatan umat di wilayah Karangmanyar dan sekitarnya.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Wakaf

"Prosesi Ikrar Wakaf Masjid Baiturrahman Karangmanyar disaksikan langsung oleh PPAIW Kecamatan Kalimanah, Bapak Drs. H. Kholidin, MSI," katanya.

Lebih lanjut ia menjelasakan, wakaf tersebut berasal dari Wahyu Kontardi, S.H. selaku wakif dan diserahkan kepada nazhir perorangan yang diketuai Muhammad Allif Subiyanto. 

Pelaksanaan ikrar dihadiri oleh wakif, nazhir, para saksi, ustadz dan ustadzah TPQ Baiturrahman, serta jamaah Masjid Baiturrahman.

Menurut nazhir, tanah wakaf tersebut ke depan direncanakan akan dibangun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Selain menjadi tempat anak-anak belajar membaca dan memahami Al-Qur’an, bangunan tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan lainnya.

Pelaksanaan ikrar wakaf di Masjid Baiturrahman ini juga menjadi momentum untuk semakin menguatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya wakaf. Wakaf tidak hanya berbicara tentang menyerahkan harta, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Tanah yang hari ini diwakafkan diharapkan kelak menjadi tempat tumbuhnya generasi Qur’ani, ruang berlangsungnya kegiatan ibadah, sekaligus pusat berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi umat.

Semangat tersebut sejalan dengan hakikat wakaf sebagai salah satu bentuk amal jariyah. Harta yang diwakafkan dapat terus memberikan manfaat selama digunakan untuk kebaikan, sehingga menjadi investasi akhirat bagi wakif.(*)

Editor: Imam Edi Siswanto 

#41 Kajian Kitab Nashoihul Ibad: Bekal Hidup dengan Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-41 seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor ruang kantor setempat, Rabu (23/9/2026).

Berikut rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36 Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Bab ini termasuk Babur Rubā‘ī, yang berisi nasihat-nasihat dalam bentuk empat perkara.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab  

Berikut isi rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36
“Bekal Hidup: Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah”

1. Maqolah 32 — Besarnya Pahala Orang yang Menghadapi Musibah
Dalam maqolah ini dijelaskan bahwa pada hari kiamat, orang-orang yang memiliki amal seperti shalat dan puasa akan mendapatkan pahala dengan perhitungan amalnya.

Namun, bagi ahlul bala’, yaitu orang-orang yang mendapatkan ujian dan musibah kemudian menghadapinya dengan kesabaran dan keimanan, disebutkan bahwa mereka memperoleh pahala tanpa hisab. Begitu besarnya pahala tersebut hingga orang-orang yang hidup dalam keadaan sehat dan selamat berharap mendapatkan kedudukan seperti mereka.

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pesan penting:
Musibah tidak selalu berarti kemurkaan Allah. Bagi orang beriman, musibah dapat menjadi jalan memperoleh pahala, penghapus dosa, dan peningkatan derajat. Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Pelajaran: Jangan hanya melihat beratnya musibah, tetapi lihat pula besarnya pahala di balik kesabaran.

2. Maqolah 33 — Empat Hal yang Akan “Merampas” Manusia
Sebagian ulama hikmah mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi empat perampasan: Malaikat maut merampas ruhnya.

  • Ahli waris mengambil hartanya setelah ia meninggal.
  • Tanah dan cacing menghancurkan jasadnya di dalam kubur.
  • Orang-orang yang pernah dizaliminya mengambil amalnya, apabila ia memiliki amal kebaikan.

Apabila seseorang tidak mempunyai amal kebaikan yang cukup, dosa orang-orang yang pernah dizaliminya dapat dibebankan kepadanya.

Inti pesannya:
Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa mengumpulkan amal.

Jangan sampai kita menjaga harta agar tidak diambil orang, tetapi justru membiarkan pahala kita diambil oleh orang lain karena kezaliman kita.

Pertanyaan untuk muhasabah:
“Kalau hari ini saya meninggal, apakah orang lain akan membawa harta saya, ataukah saya membawa bekal amal saya?”

3. Maqolah 34 — Empat Kesibukan dan Bekalnya

Maqolah ini memberikan gambaran tentang konsekuensi dari empat macam kesibukan manusia:

Pertama, orang yang sibuk mengejar syahwat harus mampu menjaga pergaulan dan kehormatan diri.

Kedua, orang yang sibuk mengumpulkan harta harus sangat berhati-hati agar tidak terjerumus kepada yang haram.

Ketiga, orang yang sibuk memberikan manfaat kepada sesama Muslim membutuhkan mudārāh, yaitu sikap lembut, bijaksana, dan pandai menjaga hubungan dengan manusia.

Keempat, orang yang sibuk beribadah harus memiliki ilmu, karena ibadah tidak akan benar jika dilakukan tanpa mengetahui tata caranya.


Kalimat kuncinya:
“Beribadah membutuhkan ilmu, melayani manusia membutuhkan akhlak, dan mencari harta membutuhkan kehati-hatian.”

Jadi, jangan hanya bertanya: “Apa yang ingin saya lakukan?” Tetapi tanyakan juga:
“Apakah saya memiliki ilmu dan akhlak untuk melakukannya?”

4. Maqolah 35 — Empat Amal yang Sangat Sulit

Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu menyebut beberapa amal yang sangat berat dilakukan oleh manusia, yaitu: 

  • Memaafkan ketika sedang marah.
  • Bersikap dermawan ketika sedang mengalami kesulitan.
  • Menjaga diri dari perkara haram ketika sedang sendirian.
  • Mengatakan kebenaran kepada orang yang ditakuti atau kepada orang yang diharapkan pertolongannya.

Ini menunjukkan bahwa ukuran akhlak seseorang bukan ketika keadaan mudah, tetapi ketika dirinya sedang diuji.

· Mudah memaafkan ketika hati tenang.
Yang sulit adalah memaafkan ketika hati terluka.

· Mudah bersedekah ketika kaya.
Yang luar biasa adalah memberi ketika diri sendiri sedang membutuhkan.

· Mudah meninggalkan maksiat ketika dilihat orang.
Yang menunjukkan ketakwaan adalah meninggalkannya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Inilah hakikat kejujuran iman:
Tetap baik ketika tidak ada yang melihat dan tetap benar ketika ada risiko yang harus ditanggung.

5. Maqolah 36 — Empat Waktu Orang yang Bijaksana

Dalam kitab Zabur disebutkan nasihat Allah kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam bahwa orang yang berakal dan bijaksana hendaknya membagi waktunya dalam empat keadaan:

1. Waktu untuk bermunajat kepada Allah
Dengan dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, mengadu dan mendekatkan diri kepada Allah.

2. Waktu untuk bermuhasabah
Mengevaluasi diri: apa yang sudah dilakukan, apa kesalahan hari ini, kemudian bersyukur atas kebaikan dan memohon ampun atas kesalahan.

3. Waktu bersama orang-orang yang mengingatkan kekurangan kita
Bersahabat dengan orang-orang yang berani memberikan nasihat, bukan hanya orang yang selalu memuji.

4. Waktu menikmati perkara halal
Manusia juga membutuhkan waktu untuk menikmati sesuatu yang halal, beristirahat, dan menyegarkan diri, selama tidak berlebihan dan tidak melalaikan kewajiban.

Benang Merah Maqolah 32–36
Kalau kelima maqolah ini dirangkai menjadi satu pesan, sebenarnya Nashoihul Ibad sedang mengajarkan bagaimana seorang Muslim mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan:

Maqolah 32:
Ketika mendapat musibah, bersabarlah, karena pahala Allah sangat besar.

Maqolah 33:
Ingat kematian, karena ruh, harta, jasad, dan bahkan amal kita akan menghadapi konsekuensinya.

Maqolah 34:
Dalam menjalani kehidupan, kuasai diri, cari harta dengan halal, layani manusia dengan akhlak, dan beribadahlah dengan ilmu.

Maqolah 35:
Latih empat kekuatan: memaafkan, memberi, menjaga diri, dan berkata benar.

Maqolah 36:
Atur kehidupan dengan empat keseimbangan: hubungan dengan Allah, evaluasi diri, hubungan dengan orang saleh, dan menikmati yang halal.

Kesimpulan yang mudah disampaikan dalam pengajian
“Jangan takut menghadapi musibah, tetapi takutlah jika musibah membuat kita jauh dari Allah. Jangan hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi kumpulkan pula amal. Jangan hanya menjaga tubuh dari penyakit, tetapi jagalah hati dari dosa. Dan jangan hanya menghitung umur yang telah berlalu, tetapi hitunglah amal yang telah kita bawa.”

Dengan demikian, orang bijaksana bukanlah orang yang sekadar panjang umurnya, banyak hartanya, atau tinggi ilmunya. Orang bijaksana adalah orang yang tahu kepada siapa ia harus kembali, mempersiapkan bekal untuk kembali, dan setiap hari mau mengevaluasi dirinya.(*)

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto



Selasa, 29 September 2026

Kemenag Berdampak: KUA Kalimanah Salurkan 29 Dus Air Mineral untuk Warga Purbalingga

KUA Kecamatan Kalimanah berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan, dengan menyumbangkan 29 dus air mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Purbalingga yang sedang menghadapi dampak kekeringan ,Jumat (25/9/2026) lalu. (Foto: Azizah DP)

Purbalingga-Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan terus diwujudkan oleh jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah. Sebagai bentuk partisipasi dalam aksi kemanusiaan, KUA Kalimanah turut menyumbangkan 29 dus air mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Purbalingga yang sedang menghadapi dampak kekeringan pada Jumat (25/9/2026) lalu.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/08/kua-kalimanah-peduli-korban-kebakaran.html 

Partisipasi tersebut menjadi bagian dari semangat Kemenag Purbalingga Berdampak, khususnya dalam merespons persoalan sosial dan kebutuhan dasar masyarakat. Bantuan air mineral diharapkan dapat memberikan manfaat langsung sekaligus menjadi bentuk kepedulian aparatur Kementerian Agama terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari https://purbalingga.kemenag.go.id, aksi kepedulian terhadap kekeringan ini berlangsung pada 22–25 dan 29 September 2026, dengan sasaran bantuan tersebar mencakup desa, lembaga pendidikan, dan rumah ibadah di 9 kecamatan di Kabupaten Purbalingga.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kemenag Purbalingga menyalurkan bantuan berupa ribuan liter air bersih serta puluhan hingga ratusan karton air mineral dalam kemasan. 

Bantuan air bersih antara lain disalurkan ke wilayah Desa Pangempon Kecamatan Kejobong, Desa Slinga, Desa Karangmalang, sejumlah wilayah Kecamatan Pengadegan serta wilayah lainya yang mengalami keterbatasan ketersediaan air.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Kreatif dan Peduli Lingkungan, KUA Kalimanah Sulap Galon Bekas Menjadi Pot Tanaman dan Ornamen Taman

Pemanfaatan galon bekas yang dimodifikasi menjadi ornamen berbentuk burung angsa sekaligus wadah tanaman di halaman KUA Kalimanah, Selasa (29/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga–Kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui kreativitas sederhana. Hal tersebut dilakukan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah dengan memanfaatkan galon bekas menjadi wadah tanaman bunga dan tanaman perdu sekaligus ornamen penghias taman di lingkungan kantor, Selasa (29/9/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/eco%20office 

Galon bekas yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah tidak langsung dibuang. Barang tersebut dimanfaatkan kembali dengan cara dimodifikasi menjadi media tanam. Sebagian galon dibentuk secara kreatif menyerupai burung angsa, kemudian dicat dan ditempatkan di sejumlah titik di halaman KUA Kalimanah. 

Di dalamnya ditanam berbagai tanaman hijau sehingga menghasilkan perpaduan antara unsur penghijauan dan kreativitas dekorasi lingkungan.

Penataan tersebut terlihat menyatu dengan lingkungan halaman kantor yang didominasi hamparan rumput dan tanaman hijau. Sejumlah wadah tanaman dari galon bekas ditempatkan di sekitar taman, teras, dan bagian halaman sehingga memberikan kesan lebih asri, rapi, dan menarik bagi pegawai maupun masyarakat yang datang mendapatkan pelayanan.

Pemanfaatan galon bekas yang dimodifikasi menjadi ornamen berbentuk burung angsa sekaligus wadah tanaman di halaman KUA Kalimanah, Selasa (29/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pemanfaatan galon bekas sebagai pot tanaman juga menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang rumit atau membutuhkan biaya besar. Barang bekas yang sering kali dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat dan nilai estetika.

Langkah sederhana ini menjadi bagian dari semangat Eco Office dan Eco Teologi Kementerian Agama RI, yang mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan melalui kebiasaan nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Di lingkungan perkantoran, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui penghijauan, pemanfaatan kembali barang bekas, pengurangan sampah, menjaga kebersihan, serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan nyaman.

Bagi KUA Kalimanah, pemanfaatan galon bekas tidak hanya berkaitan dengan persoalan kebersihan dan keindahan. Kegiatan tersebut juga memiliki nilai edukatif bagi ASN dan masyarakat. Setiap orang diajak untuk melihat kembali barang yang sudah tidak digunakan dan mencari kemungkinan pemanfaatan lain sebelum menjadi sampah.

Kreativitas mengubah galon bekas menjadi bentuk burung angsa memberikan pesan sederhana bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan bersama dengan kreativitas. 

Taman tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran untuk menumbuhkan kesadaran tentang penggunaan kembali barang yang masih layak dimanfaatkan.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

#42 Menjaga Kehormatan dan Menata Kembali Orientasi Kehidupan

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada  kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rab...