Selasa, 10 Maret 2026

KUA Kalimanah dan SMPN 2 Kalimanah Bekali Siswa Ilmu Ibadah dan Praktik Keagamaan, Berikut Ceritanya

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.Si, saat menyampaikan materi Haji dan Umroh di hadapan ratusan pelajar SMPN 2 Kalimanah, Selasa (10/3/2026). (Foto: Amin Muakhor)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah mengisi kegiatan diklat keagamaan bagi siswa-siswi SMP Negeri 2 Kalimanah selama tiga hari berturut-turut, Selasa hingga Kamis (10–12/3/2026).

Kegiatan tersebut dikemas dalam program “Ramadhan Aksi Islami bersama KUA Kalimanah: Upgrade Iman, Tingkatkan Toleransi dan I’tikaf Qolbu.” Kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah serta di Masjid Al Huda Kalimanah.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara KUA Kalimanah dan SMPN 2 Kalimanah dalam rangka memberikan penguatan literasi keagamaan bagi para pelajar selama bulan suci Ramadhan. Program ini diikuti oleh tiga kelompok jenjang kelas, yaitu kelas VII, VIII, dan IX, dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran keagamaan bagi para siswa.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/03/menata-masa-depan-dan-cegah-pernikahan.html 

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto saat menyampaikan materi Sholat Sunah Berjamaah di hadapan ratusan pelajar SMPN2 Kalimanah di masjid Al Huda Kalimanah, Selasa (10/3/2026). (Foto: MA Zaenal Abidin)

Pada hari perdana ini, untuk kelas VII, materi disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Pujianto, Mughofar, dan Zamroni Irham dengan tema Pemulasaran Jenazah. Para siswa diberikan pemahaman tentang tata cara pengurusan jenazah dalam Islam, mulai dari memandikan, mengkafani, hingga menyolatkan jenazah.

Tidak hanya teori, para siswa juga diajak melakukan praktik secara langsung agar memahami proses tersebut dengan benar. Para siswa terlihat antusias saat mengikuti praktik mengafani jenazah, bahkan secara bergantian mereka ikut mempraktikkan langkah-langkah yang dijelaskan oleh para penyuluh.

Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan memiliki bekal pengetahuan dasar tentang kewajiban fardhu kifayah yang menjadi tanggung jawab umat Islam.

Sementara itu untuk kelas VIII, materi disampaikan oleh Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Kholidin, M.Si bersama staf KUA Amin Muakhor dan H. Mukhyono dengan tema Ibadah Haji dan Umrah. Dalam sesi ini para siswa mendapatkan penjelasan tentang syarat, rukun, dan tujuan ibadah haji dan umrah, serta pemahaman mengenai makna spiritual dari ibadah tersebut.

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Pujianto dan Mughofar saat menyampaikan materi Pemulasaran Jenazah di hadapan ratusan pelajar SMPN2 Kalimanah di ruang kelas setempat, Selasa (10/3/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Selain materi teori, para siswa juga diajak melakukan praktik mengenakan pakaian ihram dan memahami tata cara thawaf serta urutan pelaksanaan ibadah haji dan umrah.

Kegiatan yang berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 08.00 hingga 11.50 WIB tersebut berlangsung menarik, meskipun para siswa sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Antusiasme siswa terlihat ketika mereka mencoba mengenakan pakaian ihram secara langsung.

Adapun untuk kelas IX, materi disampaikan oleh PAI Imam Edi Siswanto, Azizah Dwi Purba, dan MA Zaenal Abidin yang dilaksanakan di Masjid Al Huda Kalimanah dengan tema Sholat Sunah Berjamaah.

Para siswa diberikan pemahaman mengenai berbagai macam sholat sunah berjamaah, seperti Sholat Idul Fitri, Idul Adha, Sholat Gerhana Matahari dan Bulan, serta Sholat Istisqa (memohon turunnya hujan).

Setelah mendapatkan penjelasan materi, para siswa kemudian diajak untuk mempraktikkan langsung tata cara pelaksanaan sholat-sholat sunah tersebut secara berjamaah.

Beberapa siswa bahkan mendapat kesempatan untuk menjadi imam, di antaranya Iqbal, Riska, dan Aufa, sehingga kegiatan berlangsung lebih interaktif dan edukatif.

Melalui rangkaian kegiatan pembelajaran dan praktik ibadah ini, para siswa diharapkan dapat memahami ajaran Islam secara lebih mendalam serta mampu mempraktikkannya dengan benar dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat.

Program Ramadhan Aksi Islami ini menjadi salah satu bentuk komitmen KUA Kalimanah dalam menghadirkan dakwah yang edukatif dan aplikatif bagi generasi muda, sekaligus memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan dan institusi keagamaan dalam membentuk karakter pelajar yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Sebagai informasi, para pelajar siswa SMPN 2 Kalimanah akan mendapatkan semua materi tersebut di atas secara bergiliran sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh pihak sekolah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Menata Masa Depan dan Cegah Pernikahan Dini: KUA Kalimanah Awali Program The Most KUA di SMPN 2 Kalimanah

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.Si, saat menyampaikan materi The Most KUA di hadapan ratusan pelajar SMPN 2 Kalimanah, Selasa (10/3/2026). (Foto: Amin Muakhor)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah resmi mengawali Program The Most KUA (Move for Sakinah Maslahat) melalui kegiatan edukasi bagi para pelajar SMP Negeri 2 Kalimanah, Selasa (10/3/2026). 

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara KUA Kalimanah dan SMPN 2 Kalimanah dalam memberikan pembinaan keagamaan serta edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya mempersiapkan masa depan keluarga yang baik dan berkualitas.

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah sekaligus koordinator kegiatan, Azizah Dwi Purba, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sinergi antara lembaga pendidikan dan KUA dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan berkeluarga sejak dini kepada para pelajar yang di kemas dalam kegiatan Ramadhan Aksi Islami bersama KUA Kalimanah "Upgrade Iman, Tingkatkan Toleransi dan I'tikaf Qolbu". 

Melalui kolaborasi ini diharapkan para siswa memiliki pemahaman yang benar tentang makna pernikahan dan tanggung jawab dalam membangun rumah tangga.

Kegiatan dilaksanakan dengan pembagian materi sesuai jenjang kelas. Untuk kelas VII, materi disampaikan oleh PAI Pujianto, Mughofar, dan Zamroni Irham. Sementara itu kelas VIII mendapatkan pembinaan dari Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Kholidin, M.Si, bersama staf KUA Amin Muakhor dan H. Mukhyono

Adapun kelas IX dibimbing oleh PAI Imam Edi Siswanto, Azizah Dwi Purba, dan MA Zaenal Abidin, yang pelaksanaannya bertempat di Masjid Al Huda Kalimanah.

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah sekaligus koordinator kegiatan, Azizah Dwi Purba,saat menyampaikan materi The Most KUA di hadapan ratusan pelajar SMPN2 Kalimanah di masjid Al Huda Kalimanah, Selasa (10/3/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Materi yang disampaikan kepada para siswa menekankan pada pemahaman tentang fondasi keluarga sakinah serta pentingnya pencegahan pernikahan usia dini. Para pelajar diberikan pemahaman bahwa pernikahan merupakan ikatan suci yang dilandasi cinta, tanggung jawab, dan komitmen jangka panjang antara suami dan istri.

Dalam penyampaiannya, para penyuluh juga menegaskan bahwa berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, batas minimal usia pernikahan di Indonesia adalah 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan. Ketentuan ini bertujuan agar calon pasangan memiliki kesiapan yang cukup, baik secara fisik, mental, maupun sosial sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Para siswa juga diberikan pemahaman bahwa menikah bukan sekadar gambaran romantis seperti yang terlihat dalam foto prewedding atau media sosial. Pernikahan adalah perjalanan panjang yang menuntut kedewasaan, tanggung jawab, serta kesiapan menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

Selain itu dijelaskan pula bahwa pernikahan di usia terlalu muda dapat menimbulkan berbagai risiko. Dari sisi kesehatan, tubuh remaja umumnya belum siap untuk proses reproduksi secara optimal. Dari sisi psikologis, usia remaja masih berada pada tahap pertumbuhan emosional sehingga belum sepenuhnya matang dalam mengelola konflik dan tanggung jawab rumah tangga.

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Pujianto saat menyampaikan materi The Most KUA di hadapan ratusan pelajar SMPN2 Kalimanah di masjid Al Huda Kalimanah, Selasa (10/3/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.Si, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kolaborasi ini. Menurutnya, edukasi kepada para pelajar sangat penting agar generasi muda memiliki pemahaman yang benar tentang pernikahan dan mampu merencanakan masa depan dengan bijak.

“Kami sangat mendukung kegiatan kolaboratif seperti ini. Remaja perlu diberikan pemahaman bahwa pernikahan bukan sekadar romantisme sesaat, tetapi sebuah komitmen besar untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Oleh karena itu, mereka harus mempersiapkan diri dengan ilmu, kedewasaan, serta tanggung jawab yang matang,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa para pelajar saat ini sebaiknya memfokuskan diri pada pendidikan, pengembangan diri, serta membangun cita-cita. Dengan bekal tersebut, diharapkan kelak mereka dapat memasuki jenjang pernikahan pada waktu yang tepat dan dengan kesiapan yang lebih baik.

Dijelaskan pula bahwa pernikahan di usia terlalu muda dapat menimbulkan berbagai risiko. Dari sisi kesehatan, tubuh remaja umumnya belum siap untuk proses reproduksi secara optimal. 

Sementara dari sisi psikologis, usia remaja masih berada pada tahap pertumbuhan emosional sehingga belum sepenuhnya matang dalam mengelola konflik dan tanggung jawab dalam rumah tangga.

Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan memahami bahwa membangun keluarga sakinah membutuhkan kesiapan ilmu, kedewasaan, serta perencanaan masa depan yang matang.

Program The Most KUA menjadi salah satu langkah nyata KUA Kalimanah dalam menghadirkan dakwah yang edukatif sekaligus preventif, serta memperkuat kerja sama antara lembaga pendidikan dan institusi keagamaan dalam membimbing generasi muda menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Jumat, 06 Maret 2026

Semangat Berbagi di Bulan Suci: KUA Kalimanah Kumpulkan Paket Sembako untuk Program “Ramadhan Sehati”

Rakor KUA Kalimanah tentang pengumpulan paket sembako untuk program “Ramadhan Sehati” Bazar Tebus Murah yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di Kantor setempat, Kamis (5/3/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan 1447 H/2026 M sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Purbalingga menggelar rapat koordinasi (rakor) terkait pengumpulan paket sembako untuk program “Ramadhan Sehati” Bazar Tebus Murah yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga.

Dalam rakor yang dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, ia mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan KUA Kalimanah untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial Ramadan. 

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin

Ia menekankan bahwa momentum Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat nilai kepedulian, solidaritas, dan semangat berbagi kepada sesama, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Rakor KUA Kalimanah tentang pengumpulan paket sembako untuk program “Ramadhan Sehati” Bazar Tebus Murah yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di Kantor setempat, Kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Melalui gerakan sedekah dari para ASN, berhasil terkumpul 15 paket sembako. Setiap paket berisi 2 kilogram beras, 1 liter minyak goreng, dan 1 kilogram gula pasir

"Paket-paket tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial dari keluarga besar KUA Kalimanah untuk membantu meringankan beban masyarakat yang membutuhkan," katanya.

Rencananya, paket sembako tersebut akan ditasyarufkan dalam kegiatan Bazar Tebus Murah Program “Ramadhan Sehati” yang akan dilaksanakan pada Selasa, 10 Maret 2026 pukul 08.30 WIB hingga selesai di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga. 

"Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara lembaga keagamaan dan masyarakat," harapnya.

Selain membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, hasil dari kegiatan bazar tersebut juga akan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan lainnya

Melalui program ini, KUA Kalimanah berharap semangat berbagi di bulan Ramadan dapat terus tumbuh, sehingga nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial semakin kuat di tengah kehidupan masyarakat.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Kamis, 05 Maret 2026

Menyiapkan Keluarga Sakinah Sejak Awal: KUA Kalimanah Bimbing 5 Pasangan Calon Pengantin

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (berdiri) dan Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI (kanan depan) pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri kepada  para Calon Pengantin (Catin) di aruang Balai Nikah KUA Kalimanah, kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melaksanakan kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi Calon Pengantin (Catin) yang diikuti oleh lima pasangan calon pengantin di ruang Balai Nikah KUA Kalimanah, Kamis (5/3/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/bekali-calon-pengantin-menuju-keluarga.html

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri kepada  para Calon Pengantin (Catin) di aruang Balai Nikah KUA Kalimanah, kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Acara dibuka oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin. Dalam sambutan sekaligus menyampaikan Bimwinnya, ia menyampaikan bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua insan, melainkan komitmen besar untuk membangun keluarga sakinah yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Ia juga mengingatkan para calon pengantin agar mempersiapkan pernikahan dengan ilmu, kesabaran, dan tanggung jawab.

Kemudian, materi pertama hingga ketiga disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto. Ia menjelaskan tentang fikih munakahat, yang membahas dasar-dasar hukum pernikahan dalam Islam, mulai dari rukun, syarat, hingga hak dan kewajiban suami istri. 

PAI KUA Kalimanah, Zamroni Irham, saat menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri kepada  para Calon Pengantin (Catin) di aruang Balai Nikah KUA Kalimanah, kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Selain itu, ia juga menyampaikan materi tentang membangun landasan keluarga sakinah, yaitu keluarga yang diliputi ketenangan, cinta, dan kasih sayang (sakinah, mawaddah, wa rahmah), serta pentingnya komunikasi dan akhlak mulia dalam kehidupan rumah tangga.

Dalam sesi berikutnya, peserta juga mendapatkan materi tentang perencanaan perkawinan yang kokoh menuju keluarga sakinah. Pada bagian ini dijelaskan bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan mental, spiritual, sosial, dan ekonomi. 

Calon pasangan dianjurkan memiliki visi bersama dalam membangun keluarga yang harmonis, mampu menyelesaikan konflik dengan bijak, serta menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan keluarga. 

Para Catin Foto bersama dengan Kepala KUA, Penghulu Muda dan PAI usai acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Selanjutnya pada sesi kedia, materi mengenai keuangan keluarga disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah, Zamroni Irham. Ia menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak dalam rumah tangga, mulai dari perencanaan kebutuhan, pengaturan pengeluaran, hingga menabung untuk masa depan.

Menurutnya, keterbukaan dan kerja sama antara suami dan istri dalam mengatur keuangan menjadi salah satu kunci menjaga keharmonisan keluarga.

Kegiatan bimbingan tersebut dipandu oleh Pujianto yang memandu jalannya acara dengan suasana interaktif dan penuh keakraban. Melalui kegiatan ini, diharapkan para calon pengantin memiliki bekal pengetahuan dan kesiapan yang lebih matang dalam membangun rumah tangga yang kokoh, harmonis, dan penuh keberkahan.(*)

Pewarta: Imam Edi siswanto 

Rabu, 04 Maret 2026

#26 Ciri-Ciri Orang yang Mengenal Allah dan Kunci Kebaikan Dunia–Akhirat

Kegiatan rutin kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 26, Rabu (4/3/2026). (Foto: Supriyono)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-26 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Prayitno yang akrab disapa Ibrahim dan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (4/3/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 51 sampai 53 dari Kitab Nashoihul Ibad.

Rangkuman Maqolah 51–53 dari Nashoihul ‘Ibad:
1. Ciri Orang yang Mengenal Allah (Maqolah 51–52)
Menurut Dzun Nun Al-Misri, orang yang benar-benar mengenal Allah (arif billah) memiliki beberapa tanda utama:
  • Terikat oleh cinta kepada Allah, sehingga seluruh hidupnya tertawan dalam kecintaan dan ketaatan kepada-Nya.
  • Hatinya selalu merasa diawasi (muraqabah) dan lahiriahnya dihiasi dengan evaluasi diri (muhasabah).
  • Banyak beramal untuk Allah, amalnya terus bertambah dan dilakukan dengan ikhlas.
  • Menepati janji kepada Allah, yakni melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan setia.
  • Berhati cerdas dan cepat tanggap, peka terhadap kebenaran.
  • Amalnya suci dan berkembang, selalu diperbaiki dan ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Intinya, orang yang mengenal Allah bukan hanya kuat secara spiritual dalam hati, tetapi juga nyata dalam amal dan komitmennya.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab?m=0

2. Pangkal Segala Kebaikan (Maqolah 53)
Menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, pokok seluruh kebaikan di dunia dan akhirat adalah rasa takut kepada Allah.

  • Rasa takut kepada Allah mampu mengubah nasib amal seseorang dari keburukan menjadi kebaikan.Seorang hamba sebaiknya memiliki rasa takut dan harap sekaligus:
  • Takut mencegah dari maksiat.
  • Harap mendorong untuk beramal saleh.

Ibadah yang didasari harapan kepada rahmat dan cinta Allah lebih utama dibanding ibadah yang hanya didasari rasa takut, sebagaimana seorang raja dapat membedakan antara pelayan yang taat karena takut hukuman dan yang taat karena berharap kemurahan.

Beliau juga menjelaskan:
Kunci dunia adalah kenyang, karena kenyang memudahkan urusan dunia.

Kunci akhirat adalah lapar, karena lapar (hidup sederhana dan menahan diri) melembutkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan

Maqolah 51–53 menegaskan bahwa orang yang mengenal Allah akan dipenuhi cinta, kesetiaan, keikhlasan, serta kesungguhan dalam beramal. Sementara itu, rasa takut dan harap kepada Allah menjadi fondasi utama segala kebaikan, dengan sikap zuhud dan pengendalian diri sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat.

Kegiatan rutin kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 26, Rabu (4/3/2026). (Foto: Rizal)

Berikut terjemahan lengkapnya:

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 51

 الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْخَمْسُونَ (قَالَ) أَيْ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (اَلْعَارِفُ بِاللَّهِ تَعَالَى أَسِيرٌ) أَيْ مَرْبُوطٌ بِحُبِّهِ (وَقَلْبُهُ بَصِيرٌ) أَيْ مُزَيِّنٌ لِبَاطِنِهِ بِالْمُرَاقَبَةِ وَلِظَاهِرِهِ بِالْمُحَاسَبَةِ (وَعَمَلُهُ لِلَّهِ كَثِيرٌ).

Maqolah yang ke lima puluh satu (Telah berkata) Maksudnya Dzun nun Al-Misri Radhiallahu Anhu (Orang yang kenal kepada Allah Ta'ala itu tertawan) Maksudnya terikat dengan cintanya kepada Allah (Dan hatinya itu melihat) Maksudnya menghiasai untuk hatinya dengan sifat merasa terus diawasi Allah dan pada jasmaninya dengan berevaluasi diri (Dan amalnya kepada Allah itu banyak).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 52


 الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْخَمْسُونَ (قَالَ) أَيْ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ (اَلْعَارِفُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَفِيٌّ) أَيْ بِعَهْدِ اللَّهِ تَعَالَى بِأَنْ أَدَّى أَوَامِرَ اللَّهِ تَعَالَى (وَقَلْبُهُ ذَكِيٌّ) أَيْ سَرِيعٌ (وَعَمَلُهُ لِلَّهِ زَكِيٌّ) أَيْ صَالِحٌ زَائِدٌ فِي كُلِّ وَقْتٍ.

Maqolah yang ke lima puluh dua (Telah berkata) Maksudnya Dzun nun Al-Misri (Orang yang kenal kepada Allah itu menepati janji) Maksudnya atas janji kepada Allah Ta'ala dengan menunaikan perintah-perintah Allah Ta'ala (Dan hatinya itu cerdas) Maksudnya cepat tanggap (Dan amalnya kepada Allah itu murni) Maksudnya yang lurus dan bertambah di setiap waktu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 53

 الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْخَمْسُونَ (عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّرَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ: أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ) فَإِنَّ الْخَوْفَ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى مُحَوِّلُ الصَّحِيفَةِ فَيَجْعَلُهَا فِي الْيَمِينِ بَعْدَ أَنْ هَوَتْ إلَى الشِّمَالِ فَلِلْعَبْدِ فِي حَالِ سَلَامَتِهِ مِنَ الْمَرَضِ أَنْ يَكُونَ خَائِفًا رَاجِيًا لِيَزْجُرَهُ الْخَوْفُ مِنْ الْمَعَاصِي وَيَبْعَثَهُ الرَّجَاءُ عَلَى اكْتِسَابِ الْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَعِبَادَةُ الرَّاجِي أَفْضَلُ لِغَلَبَةِ مَحَبَّةِ اللَّهِ فِيهِ فَوْقَ الْخَائِفِ وَالْمَلِكُ يُفَرِّقُ بَيْنَ مَنْ يَخْدُمُهُ اتِّقَاءَ عِقَابِهِ وَمَنْ يَخْدُمُهُ رَجَاءَ كَرَمِهِ وَمَنْ يَخْدُمُهُ لَا لِشَيْءٍ (وَمِفْتَاحُ الدُّنْيَا الشَّبَعُ) فَتُفْتَحُ أُمُورُ الدُّنْيَا بِالشَّبَعِ (وَمِفْتَاحُ الْآخِرَةِ الْجُوعُ) فَتُفْتَحُ أُمُورُ الْآخِرَةِ بِالْجُوعِ.

Maqolah yang ke lima puluh tiga (Dari Abu Sulaiman Ad-Daroni ia berkata : Pangkal dari setiap kebaikan di dunia dan di akhirat adalah takut karena Allah) Karena sesungguhnya takut karena Allah Ta'ala itu bisa merubah lembaran amal maka rasa takut akan menjadikan lembaran amal di tangan kanan sesudah jatuhnya lembaran amal itu di tangan kiri maka untuk seorang hamba dalam keadaan selamatannya hamba itu dari penyakit supaya ada rasa takut lagi berharap supaya mencegah kepadanya oleh rasa takut dari melaksanakan maksiat dan supaya membangkitkan padanya oleh rasa berharap melakukan amalah sholeh. Ibadah orang yang berharap itu lebih utama karena lebih kuatnya cinta kepada Allah karena berharap diatas orang yang takut. Seorang raja itu bisa membedakan antara orang yang berkhidmah kepada raja karena takut dari siksaan raja dan orang yang berkhidmah kepada raja karena berharap dari kemurahannya dan orang yang berkhidmah kepada raja bukan karena apa-apa (Kunci dunia adalah kenyang) Maka terbuka urusan dunia dengan kenyang (Sedangkan kunci akhirat adalah lapar) Maka terbuka urusan-urusan akhirat dengan lapar.

Source: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Selasa, 03 Maret 2026

KUA Kalimanah Perkuat Integritas dan Pelayanan, Wujudkan Layanan Unggul Menuju WBBM 2027

Rapat koordinasi (rakor) rutin dan pembinaan di ruang Balai Nikah KUA setempat, Selasa (3/3/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga – KUA Kalimanah menggelar rapat koordinasi (rakor) rutin dan pembinaan di ruang Balai Nikah KUA setempat, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan integritas, peningkatan kualitas pelayanan, serta komitmen bersama menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) tahun 2027.

Wujudkan KUA Unggul dan Berdampak
Dalam sesi pembinaan, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menegaskan komitmen mewujudkan KUA yang unggul dan berdampak bagi masyarakat.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Pelayanan?m=0

Ia menekankan bahwa praktik gratifikasi tidak dibenarkan di lingkungan KUA, kecuali yang telah diatur secara resmi dalam peraturan pemerintah.

“Dalam pelayanan, jangan sampai mencederai kepercayaan publik dengan meminta imbalan dalam bentuk apa pun,” tegasnya.

Kholidin juga menyampaikan bahwa kualitas pelayanan KUA Kalimanah menunjukkan hasil membanggakan. Berdasarkan survei kepuasan masyarakat sejak 2025 hingga Januari 2026, nilai yang diperoleh masuk kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan pelayanan publik telah memenuhi standar yang ditetapkan.
Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menegaskan komitmen mewujudkan KUA yang unggul dan berdampak bagi masyarakat, pada Rakor rutin KUA Kalimanah diruang Balai Nikah, Selasa (3/3/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Menurutnya, peran KUA tidak hanya terbatas pada urusan pernikahan, tetapi juga harus menyentuh sektor-sektor lain yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. ASN Kemenag, lanjutnya, harus menjadi teladan di lingkungan masing-masing dan mewujudkan rasa syukur melalui kinerja dan pengabdian sehari-hari.

Perkuat Budaya Kerja dan Dokumentasi Tugas
Dalam upaya mempertahankan predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), pimpinan KUA diminta terus melakukan pembinaan guna menjaga lima nilai budaya kerja, yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan.

“Semua pegawai harus paham dan melaksanakannya dengan sepenuh hati,” tegasnya.

Ia juga menguraikan secara rinci makna lima nilai tersebut, sekaligus menanamkan filosofi kepemimpinan Jawa, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, sebagai spirit dalam membangun tim kerja yang solid.

Selain itu, sistem penugasan kini harus mengikuti format terbaru, yakni setiap tugas wajib didokumentasikan dan dilaporkan secara resmi dengan surat tugas sebagai bukti administrasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menuju WBBM 2027.

Dorong Inovasi dan Optimalisasi Media Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Kholidin juga menyampaikan pesan dari Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga. Pesan tersebut menekankan pentingnya mempertahankan WBK sekaligus terus bergerak menuju WBBM, mendorong inovasi pelayanan, serta meningkatkan kualitas dan eksistensi media sosial Kemenag Purbalingga dan KUA.

ASN Kemenag Purbalingga juga diimbau untuk lebih peduli dan aktif dalam pengelolaan media sosial sebagai sarana transparansi dan edukasi publik.

Program “The Most KUA” turut dibahas dalam rakor tersebut. Dalam konteks ini, penanaman nilai-nilai keluarga sakinah ditekankan sejak masa usia pra nikah, saat pernikahan, hingga pasca nikah sebagai bentuk pembinaan berkelanjutan kepada masyarakat.

Sementara itu disampaikan juga pesan dari Analis Kepegawaian Kemenag Purbalingga mengingatkan pentingnya menjaga dan meningkatkan disiplin kerja. PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

"Dan hasil survei pelayanan yang telah diraih harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan melalui evaluasi dan analisis berkala," pesannya tegas.

Melalui rakor dan pembinaan ini, KUA Kalimanah meneguhkan komitmen untuk terus berbenah, memperkuat integritas, dan menghadirkan pelayanan publik yang profesional, bersih, serta berdampak nyata bagi masyarakat.
PAI KUA Kalimanah, Zamroni Irham (dua dari kanan) saat menyampaikan kultum Ramadhan pada Rakor rutin KUA Kalimanah diruang Balai Nikah, Selasa (3/3/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sebelumnya, Rakor dimulai kegiatan diawali dengan kuliah tujuh menit (kultum) Ramadan yang disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Zamroni Irham. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya memandang kehidupan secara lebih mendalam, tidak hanya sebatas lahiriah.

“Sebagai ilustrasi, saat berpuasa dan melihat makanan terasa sangat menggoda untuk dimakan. Namun ketika waktu berbuka tiba, hanya dengan seteguk air putih, semua gambaran dan keinginan saat berpuasa seakan hilang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dunia tidak cukup dipandang dengan kasat mata semata. Kehidupan sejati, katanya, adalah kehidupan yang abadi di akhirat. Karena itu, setiap insan perlu membekali diri dengan amal kebajikan dan amal jariyah yang diridai Allah SWT.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto


Rabu, 25 Februari 2026

#25 Menggapai Ridha Allah: Antara Cinta, Qanaah, dan Tawakal

Kegiatan rutin kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 25, Rabu (25/2/2026). (Foto: Rizal

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-25 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh Pujianto, Rabu (25/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 
46–50 dari Kitab Nashoihul Ibad.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Ringkasan Maqolah 46–50 Bab 3 Nashoihul Ibad: Bagian ini menegaskan hakikat cinta kepada Allah, zuhud terhadap dunia, dan sikap hati seorang hamba. 

Pada Maqolah 46–47 dijelaskan bahwa orang yang benar-benar mencintai Allah akan mencintai para ulama dan orang saleh, mencintai amal saleh, serta lebih memilih beramal secara tersembunyi; cinta kepada Allah terbukti dengan mendahulukan firman-Nya, majelis-Nya, dan ridha-Nya di atas segalanya. 

Maqolah 48 mengajarkan bahwa ambisi dunia menjadikan seseorang fakir meski berharta, sedangkan qanaah dan ketaatan menjadikannya kaya dan mulia walau sederhana. 

Maqolah 49 menegaskan bahwa mengenal Allah membuat hati tidak terpikat pada makhluk dan dunia yang fana, serta menjauhkan diri dari permusuhan. 

Maqolah 50 menjelaskan bahwa rasa takut kepada Allah mendorong menjauhi maksiat, harapan kepada surga mendorong amal saleh, dan orang yang telah merasa dekat dengan Allah akan merasa asing dari ketergantungan kepada makhluk. 

Secara keseluruhan, maqolah ini mengajarkan kemurnian cinta kepada Allah, sikap zuhud, qanaah, tawakal, serta orientasi hidup yang tertuju pada akhirat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 46

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّ اللَّهَ تَعَالَى) مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ (وَمَنْ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّهُ اللَّهُ تَعَالَى أَحَبَّ مَا أُحَبَّ فِي اللَّهِ تَعَالَى) مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ (وَمَنْ أَحَبَّ مَا أُحَبَّ فِي اللَّهِ تَعَالَى أَحَبَّ أَنْ لَا يَعْرِفَهُ النَّاسُ) بَلْ يَشْتَغِلُ الْأَعْمَالَ فِي الْخَلْوَةِ.

Maqolahh yang ke empat puluh enam (Dari Supyan bin Uyainah Radhiallahu Anhu ia berkata: Barang siapa mencintai Allah maka pasti ia akan mencintai orang yang mencintai Allah Ta'ala) Dari golongan ulama dan dari golongan orang orang yang sholeh (Dan barang siapa yang mencintai orang yang telah cinta kepadanya Allah Ta'ala maka pasti ia akan mencintai perkara yang ia senangi karena Allah Ta'ala) Dari Amal-amal sholeh (Dan barang siapa mencintai perkara yang ia senangi karena Allah Ta'ala maka pasti ia akan menyenangi supaya tidak mengenal kepadanya para manusia) Bahkan ia sibuk beramal di waktu sendirian. 

وَنَقَلَ الْعَسْقَلَانِيُّ: أَنَّ مَحَبَّةَ اللَّهِ قِسْمَانِ: فَرْضٌ وَهِيَ الْبَاعِثَةُ عَلَى اِمْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ، وَنَدْبٌ وَهِيَ أَنْ يُوَاظِبَ عَلَى النَّوَافِلِ وَيَجْتَنِبَ الشُّبُهَاتِ اهُ. وَقَالَ الصِّدِّيقُ: مَنْ ذَاقَ مِنْ خَالِصِ مَحَبَّةِ اللَّهِ شَغَلَهُ ذَلِكَ عَنْ طَلَبِ الدُّنْيَا وَأَوْحَشَهُ عَنْ جَمِيعِ الْبَشَرِ.

Dan telah menuqil Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqollani: Sesunggunya cinta kepada Allah terbagi dua: Fardhu yaitu yang memotifasi pada melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah dan ridho dengan takdirnya. Dan sunnah yaitu menekuni pada ibadah sunnah dan menjauhi perkara syubhat. Sampai sini nuqilan Syekh Ibnu Hajar berakhir. Berkata Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu Anhu : Barang siapa yang mencicipi dari kemurnian cinta kepada Allah maka pastii akan mengsibukkan kepadanya kemurnian cinta itu dari dunia dan Allh pasti akan menjauhkan ia dari seluruh manusia.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 47

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ: [صِدْقُ الْمَحَبَّةِ فِي ثَلَاثِ خِصَالٍ: أَنْ يَخْتَارَ كَلَامَ حَبِيبِهِ عَلَى كَلَامِ غَيْرِهِ، وَيَخْتَارَ مُجَالَسَةَ حَبِيْبِهِ عَلَى مُجَالَسَةِ غَيْرِهِ وَيَخْتَارَ رِضَا حَيِّيَيْهِ عَلَى رِضَا غَيْرِهِ]) فَإِنَّ مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا فَهُوَ عَبْدُهُ. وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: وَمِثْقَالُ خَرْدَلَةٍ مِنْ حُبِّ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ عِبَادَةِ سَبْعِينَ سَنَةً.

Maqolah yang ke empat puluh tujuh (Dari Nabi Alaihis Sholatu Wassalam sesungguhnya Nabi bersabda: [Benarnya cinta ada pada tiga perkara: Orang yang mencintai memilih perkataan kekasihnya di atas perkataan orang lain, dan ia memilih majelis kekasihnya diatas majelis orang lain, dan ia memilih ridho kekasihnya diatas ridho orang lain]) Karena sesungguhnya orang yang mencintai sesuatu maka ia adalah hamba sahayanya. Dan telah berkata Yahya bin Mu'adz: Seberat biji sawi dari cinta Allah lebih dicintai olehku daripada ibadah tujuh puluh tahun.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 48

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ الْيَمَانِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَكْتُوبٌ فِي التَّوْرَاةِ: الْحَرِيصُ فَقِيرٌ) أَيْ الطَّالِبُ لِشَيْءٍ بِاجْتِهَادٍ فِي إِصَابَتِهِ فَاقِدٌ لِمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَإِنْ كَانَ مَالِكَ الدُّنْيَا) أَيْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ مِنَ الْأَمْتِعَةِ وَالْجَوَاهِرِ (وَالْمُطِيعُ لِلَّهِ تَعَالَى مُطَاعٌ لِلنَّاسِ وَإِنْ كَانَ) أَيْ الْمُطِيعُ (مَمْلُوكًا) أَيْ عَبْدًا لِلنَّاسِ (وَالْقَانِعُ) أَيْ السَّاكِنُ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ وَالرَّاضِي بِقِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى (غَنِيٌّ وَإِنْ كَانَ جَائِعًا) وَهَرَبَتْ اِمْرَأَةٌ أَسِيرَةٌ مِنْ بِلَادِ الْكُفْرِ وَمَشَتْ مِائَتَيْ فَرْسَخٍ لَمْ تَأْكُلْ شَيْئًا فَسُئِلَتْ: كَيْفَ قَوِيتِ عَلَى الْمَشْيِ بِلَا أَكْلٍ؟ فَقَالَتْ: كُلَّمَا جِعْتُ قَرَأْتُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَأَشْبَعُ.

Maqolah yang ke empat puluh delapan (Dari Wahab Bin Munabbih Al-Yamani Radhiallahu Anhu: Termaktub dalam kitab Taurat: Orang yang ambisius itu adalah orang fakir) Maksudnya Orang yang mencai sesuatu dengan bersungguh-sungguh dalam memperoleh sesuatu itu adalah yang tidak mempunyai perkara yang ia mebutuhkan pada perkara itu (Walaupun terbukti ia memiliki dunia) Maksudnya perkara di antara langit dan bumi dari berbagai kenikmatan dan perhiasan (Dan orang yang taat kepada Allah Ta'ala itu adalah orang yang akan ditaati oleh manusia walaupun terbukti) Maksudnya orang yang mentaati Allah (Adalah seorang budak) Maksudnya budak milik manusia (Dan orang yang qonaah) Maksudnya yang tenang hatinya ketika tidak ada perkara yang menjadi kebiasaanya dan ridho atas bagian dari Allah Ta'ala (Adalah orang kaya walaupun terbukti ia adalah orang yang lapar) Telah kabur seorang wanita yang ditawan dari negaranya orang kafir dan ia berjalan sejauh dua ratus parsah ia tidak makan apapun kemudian ia ditanya: Bagaimana kamu bisa kuat berjalan tanpa makan, kemudian ia berkata setiap kali aku lapar maka aku membaca قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ tiga kali kemudian aku kenyang.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 49

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (مَنْ عَرَفَ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَعَ الْخَلْقِ لَذَّةٌ) لِأَنَّهُ لَمْ يُحِبَّ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى (وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا) بِأَنَّهَا فَانِيَةٌ (لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهَا رَغْبَةٌ) بَلْ اخْتَارَ الدَّارَ الْبَاقِيَةَ وَعَمِلَ لَهَا (وَمَنْ عَرَفَ عَدْلَ اللَّهِ تَعَالَى لَمْ يَتَقَدَّمْ إلَيْهِ الْخُصَمَاءُ) أَيْ لَمْ يُقْبِلُوا عَلَيْهِ لِأَنَّهُ قَدْ تَرَكَ الْخُصُومَةَ كَمَا قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ عَرَفَ اللَّهَ أَحَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ الدُّنْيَا كَرِهَهَا.

Maqolah yang ke empat puluh sembilan (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Radhiallahu Anhu (Barang siapa yang kenal kepada Allah maka tidak akan ada baginya bersama makhluk suatu kenikmatan) Karena sesungguhnya ia tidak mencintai kepada selain Allah Ta'ala (Dan barang siapa kenal kepada dunia) Karena sesungguhnya dunia akan sirna (Maka tidak akan ada baginya di dalam dunia suatu kesenangan) Bahkan ia akan memilih tempat tinggal yang kekal dan beramal untuknya (Dan barang siapa mengenal pada keadilan Allah Ta'ala maka tidak akan menantang kepadanya musuh-musuh) Maksudnya mereka tidak akan datang kepadanya karena sesungguhnya ia telah meninggalkan permusuhan sebagaimana telah berkata Imam Hasan Rahimahullah: Barang siapa kenal kepada Allah maka pasti ia akan cinta kepada Allah dan barang siapa kenal pada dunia pasti ia akan membenci dunia.

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : 

 عَلَيْهَا كِلَابٌ هَمُّهُنَّ اجْتِذَابُهَا * فَمَا هِيَ إِلَّا جِيفَةٌ مُسْتَحِيلَةٌ
وَإِنْ تَجْتَذِبْهَا نَازَعَتْكَ كِلَابُهَا * فَإِنْ تَجْتَنِبْهَا كُنْتَ سِلْمًا لِأَهْلِهَا

Telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anhu:

Tiadalah keduniaan itu melainkan bangkai yang busuk * berkerumun diatas bangkai itu anjing mereka ingin menarik bangkai itu 

Jika engkau menjauhi dunia itu maka kamu pasti akan menjadi aman dari ahli dunia * Dan jika engkau menarik dunia itu maka pasti akan merebut kepadamu anjing-anjing dunia

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 50 

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَمْسُونَ (عَنْ) أَبِي الْفَيْضِ (ذِي النُّونِ الْمِصْرِيِّ) وَاسْمُهُ ثَوْبَانُ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَقِيلَ الْفَيْضُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَأَبُوهُ كَانَ نَوْبِيًّا وَهُوَ أَوْحَدَ وَقْتِهِ عِلْمًا وَوَرَعًا وَحَالًا وَأَدَبًا وَكَانَ رَجُلًا نَحِيفًا تَعْلُوهُ حُمْرَةٌ لَيْسَ بِأَبْيَضِ اللِّحْيَةِ تُوُفِّيَ سَنَةَ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ وَمِائَتَيْنِ (كُلُّ خَائِفٍ) مِنْ شَيْءٍ (هَارِبٌ) مِنْهُ أَيْ فَمَنْ خَافَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ عَمِلَ عَمَلًا يُبْعِدُهُ مِنْهَا (وَكُلُّ رَاغِبٍ) فِي شَيْءٍ (طَالِبٌ) لَهُ، أَيْ فَمَنْ رَغِبَ فِي الْجَنَّةِ عَمِلَ عَمَلًا يُقَرِّبُهُ إِلَيْهَا (وَكُلُّ آنِسٍ بِاللَّهِ مُسْتَوْحِشٌ بِالْخَلْقِ، وَفِي نُسْخَةٍ: مُسْتَوْحِشٌ عَنْ نَفْسِهِ).

Maqolah yang ke lima puluh (Dari) Abu Faidh (Dzun nun Al-Misri) Namanya adalah Tsauban bin Ibrohim, dan dikatakan Faidh bin Ibrohim dan ayahnya adalah seorang na'ib. Dzun nun Al-Misri adalah satu-satunya orang di zamannya yang paling alim dan wara dan tingkah lakunya dan tatakramanya dan terbukti Dzun nun Al-Misri adalah seorang lelaki yang ramping bagian atasnya merah dan tidak ada yang putih jenggotnya ia wafat pada tahun 245 H (Setiap orang yang takut) Dari sesuatu (Adalah yang melarikan diri) Darinya maksudnya barang siapa yang takut dari siksa neraka maka ia pasti mengerjakan amalan yang akan menjauhkan ia dari siksa neraka (Dan setiap orang yang senang) pada sesuatu (Adalah yang mencari) padanya. Maksudnya barang siapa yang senang pada surga maka ia pasti mengerjakan amalan yang akan mendekatkan ia kepada surga (Dan setiap orang yang merasa dekat bersama Allah adalah orang yang merasa asing dengan makhluq. Dalam salinan matan: Adalah orang yang merasa asing dari dirinya sendiri).(*)

Source: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

KUA Kalimanah dan SMPN 2 Kalimanah Bekali Siswa Ilmu Ibadah dan Praktik Keagamaan, Berikut Ceritanya

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.Si , saat menyampaikan materi Haji dan Umroh di hadapan ratusan pelajar SMPN 2 Kalimanah, Selasa (...