| Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 36, Rabu (29/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto) |
Maqolah 22–23 dalam Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan dua bekal penting dalam perjalanan hidup seorang mukmin, yaitu kesabaran menghadapi ujian dan kebijaksanaan dalam menuntut ilmu serta menjalani kehidupan.
Maqolah 22, Sayyidina Umar bin Khattab r.a. memberikan teladan tentang cara memandang musibah dengan penuh keimanan. Beliau meyakini bahwa setiap musibah selalu mengandung empat nikmat dari Allah: musibah itu tidak menimpa agama, tidak lebih berat daripada yang semestinya, masih memungkinkan untuk tetap ridha kepada Allah, dan menjadi jalan memperoleh pahala. Cara pandang ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak larut dalam kesedihan, tetapi mampu menemukan hikmah, bersabar, dan tetap bersyukur di balik setiap ujian.
Sementara itu, Maqolah 23 menampilkan rangkuman hikmah dari seorang ulama yang menyaring ribuan hadis hingga menjadi empat nasihat utama. Pertama, jangan menaruh kepercayaan secara berlebihan kepada selain Allah sehingga tetap menjaga kehormatan dan kewaspadaan. Kedua, jangan tertipu oleh harta karena kekayaan bukan jaminan keselamatan. Ketiga, jagalah kesehatan dengan tidak berlebihan dalam makan dan minum, sebab banyak penyakit berawal dari gaya hidup yang tidak terkendali.
Secara keseluruhan, kedua maqolah ini mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada kesabaran saat diuji, sikap qanaah dan tawakal, pola hidup yang seimbang, serta ilmu yang diamalkan. Dengan demikian, seseorang akan memiliki keteguhan hati dalam menghadapi musibah, terhindar dari tipu daya dunia, dan semakin dekat kepada Allah Swt. melalui amal yang terus diperbaiki.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 22
Maqolah yang ke dua puluh dua (Dari Umar Radhiallahu Anhu: Demi Allah tidaklah aku diuji dengan musibah kecuali pasti ada milik Allah atas ku di dalam musibah itu) Maksudnya musibah itu (Empat kenikmatan, yang pertama dari empat kenikmatan: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah itu (Dalam masalah agama) Karena sesungguhnya ujian dalam masalah agama itu lebih besar daripada ujian dalam masalah badan dan masalah harta (Dan yang kedua: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah (Yang lebih besar darinya) Maksudnya dari musibah itu yang menimpa kepadaku (Dan yang ketiga: Adalah ketika tidak ada musibah itu yang menghalangi dari keridhoan) Maksudnya yang terhalang dari keridhoan (Dengannya) Maksudnya dengan balai itu (Dan yang ke empat: Adalah sesungguhnya aku mengharapkan pahala atasnya) Maksudnya musibah itu.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 23
Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dari Abdullah bin Mubarok) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Sesungguhnya ada seorang lelaki yang ahli hikmah) Ahli hikamah adalah orang yang mengetahui berbagai perkara (Itu mengumpulkan hadits-hadits kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari hadits-hadits yang dikumpulkan (Empat puluh ribu) Dari hadits-hadits yang dipilih (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh ribu (Empat ribu) Dari hadits-hadits yang disaring (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ribu (Empat ratus) Dari hadits-hadits yang dikeluarkan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ratus (Empat puluh) Hadits yang dimuliakan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh (Empat kalimat) Maksudnya empat jumlah dari hadits-hadits yang dirangkum.
(Salah satu dari empat kalimat itu: Adalah janganlah kamu percaya pada seorang wanita) Maksudnya janganlah kamu tenang kepada seorang wanita dan janganlah kamu mengamanatkan kepada seorang wanita (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak untuk seorang lelaki dari rasa cemburu maksudnya tidak ingin disertai oleh orang lain dalam haknya.
(Dan yang kedua: Adalah janganlah kamu teripu dengan harta) Maksudnya janganlah kamu merasa aman dari kebinasaan sebab harta kemudian kamu tidak menjaga pada urusan-urusan dan janganlah kamu menjadi orang yang tertipu sebab banyak harta (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak dari berhati-hati dan dari mengingat akhirat.
(Dan yang ke tiga: Adalah janganlah kamu membebani perutmu dengan makanan yang tidak mampu menanggungnya) Telah bersabda ﷺ: [Pangkal setiap penyakit adalah terlalu kenyang] Telah merwayatkan hadits ini Imam Ad-Daruqutni dari Anas dan Ibnu Sunni dan Abu Nuaim dari Ali dan dai Ibnu Sa'id dan dari Zuhri. Maksudnya pangkal setiap penyakit yang berhubungan dengan pencernaan adalah kenyang yaitu memasukkan makanan di atas makanan dan begitu juga meminum air setelah makan atau meminum air di antara dua kali makan sebelum dicerna makanan yang pertama.
(Dan yang ke empat: Adalah janganlah kamu mengumpulkan ilmu yang tida bermanfaat padamu) Telah berkata seorang lelaki kepada Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu: Sesungguhnya aku ingin mencari ilmu dan aku takut menyia-nyiakan ilmu kemudian Abu Huroiroh berkata: Cukuplah dengan meninggalkannya kamu pada ilmu menjadi sia-sia. Telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anu: Sebagian dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal karena taku berkata para manusia sungguh orang itu benar-benar ria karena sesungguhnya mensucikan amal-amal dari godaan setan secara keseluruhan itu sulit. Andai kita mengsyaratkan pada ibadah atas kesempurnaan maka pasti kesulitan menyibukkan satu perkara dari ibadah dan hal itu bisa mengakibatkan bermalas-malasan yang bermalas malasan itu adalah puncak dari tujuan setan. Karena itu berkata sebagian ulama: Berjalanlah kalaian menuju Allah sambil terpincang-pincang dan patah.
Dan telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anhu: Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur'an maka pasti agung nilainya dan barang siapa yang mempelajari ilmu fekih maka pasti mulia kedudukannya dan barang siapa yang menulis hadits maka pasti kuat hujjahnya orang itu dan barang siapa mempelajari ilmu hisab maka pasti banyak idenya dan barang siapa yang mempelajari bahasa Arab maka pasti menjadi lemah lembut sifatnya dan barang siapa yang tidak menjaga dirinya sendiri maka pasti tidak bermanfaat padanya ilmunya. Sampai sini perkataan Imam Syafi'i berakhir.
Editor: Imam Edi siswanto












