Kepala KUA Kalimanah, Kholodin, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga – Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, menegaskan pentingnya peningkatan
kualitas pelayanan dan penguatan budaya kerja dalam rapat koordinasi
rutin yang digelar pada Jumat (10/7/2026).
Rapat tersebut diikuti
seluruh pegawai sebagai momentum evaluasi sekaligus penyamaan langkah
dalam meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam arahannya, Kholidin menekankan bahwa quality control
harus diterapkan secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek lahiriah
seperti kerapian penampilan dan administrasi, tetapi juga pada kualitas
batin berupa keikhlasan, integritas, serta sikap dalam melayani
masyarakat.
"Keselarasan antara penampilan lahir dan akhlak
akan melahirkan pelayanan yang profesional sekaligus humanis," ucapnya.
Suasa rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/7/2026). (Foto: Rizal Nur Ahmadi)
Selain
itu, ia mengingatkan seluruh pegawai agar senantiasa responsif terhadap
kondisi dan dinamika di lingkungan kantor, baik yang berkaitan dengan
tugas, tanggung jawab, maupun perilaku dan akhlak dalam kehidupan
sehari-hari.
Sikap peduli terhadap lingkungan kerja dinilai menjadi
bagian penting dalam membangun budaya organisasi yang sehat dan
produktif.
Pada kesempatan tersebut, Kholidin juga menyampaikan
apresiasi atas suksesnya pelaksanaan kegiatan santunan anak yatim dalam
rangka Peaceful Muharam 1448 Hijriah.
Ia berharap semangat kebersamaan
dan kepedulian sosial tersebut terus dipertahankan dalam berbagai
program pelayanan kepada masyarakat.
Rapat juga membahas dukungan terhadap program nasional Rashdul Kiblat, di mana seluruh ASN KUA Kalimanah didorong untuk berpartisipasi aktif dengan terlebih dahulu membuat akun pada aplikasi Indonesia Berkiblat.
Program ini diharapkan semakin meningkatkan pemahaman dan akurasi arah kiblat di tengah masyarakat.
Di bidang penataan lingkungan, seluruh pegawai diajak mewujudkan konsep Eco Office
melalui kepedulian menjaga dan merawat tanaman serta pepohonan di
lingkungan kantor agar tercipta suasana kerja yang hijau, bersih, dan
nyaman.
Menutup rapat, disampaikan pula laporan bahwa pekerjaan teknis
pengecatan kantor telah selesai dilaksanakan sehingga diharapkan semakin
mendukung kenyamanan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.(*)
Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah bersama Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI)
Kecamatan Kalimanah menggelar kegiatan Lebaran Yatim 1448 H
bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat" di Aula PPAI Kalimanah,
Kamis (9/7/2026) kemarin. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga – Dalam semangat Peaceful Muharam 1448 Hijriah, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah bersama Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI)
Kecamatan Kalimanah menggelar kegiatan Lebaran Yatim 1448 H bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat" di Aula PPAI Kalimanah, Kamis (9/7/2026) kemarin.
Sebanyak 25 anak yatim menerima santunan yang berasal dari donasi para guru, ASN, dan para dermawan dengan total dana terkumpul sebesar Rp7.800.000.
Kepala KUA Kalimanah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pengawas Pendidikan,
Kelompok Kerja Madrasah (KKM), kepala madrasah, guru, serta seluruh
pihak yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.
"Kami
mengucapkan terima kasih kepada Pengawas, KKM, dan seluruh guru
madrasah atas kepedulian dan kebersamaan dalam menyelenggarakan kegiatan
ini. Semoga menjadi amal kebaikan yang membawa keberkahan bagi semua," katanya.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Kholidin (nomor dua dari kanan) bersama Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI)
Kecamatan Kalimanah, Aris Sumanto (kiri) saat di acara Lebaran Yatim 1448 H
bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat" di Aula PPAI Kalimanah,
Kamis (9/7/2026) kemarin. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Kepada para penerima santunan, Kholidin berpesan
agar terus bersemangat dalam menuntut ilmu, senantiasa berbakti kepada
orang tua, serta menghormati para guru sebagai bekal meraih masa depan
yang lebih baik.
"Semangat belajar, doakan orang tua sebagai
bukti kalian anak-anak yang saleh dan salehah, serta taati bapak dan ibu
guru kalian," pesannya.
Melalui kegiatan Lebaran Yatim ini,
KUA Kalimanah bersama KKM Madrasah berharap semangat berbagi dan
kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat, sehingga
nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan keberkahan Muharam dapat
dirasakan oleh seluruh lapisan umat.
Turut hadir Pengawas Pendidikan Madrasah, Aris Sumanto, Ketua Panitia, Puji Haryono dipercaya sebagai Ketua Panitia, didampingi Zamroni
Irham sebagai Sekretaris dan Eksi Fajriati sebagai Bendahara.
Sementara itu, Firman Yuwono, Joko Waluyo, dan Rizal Nur Ahmadi
bertugas sebagai anggota.(*)
Kontributor: Azizah Dwi Purba Editor: Imam Edi Siswanto
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA
Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad
edisi ke-35 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali
dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, PAI KUA Kalimanah, Pujianto dan
dilanjutkan dengan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu
(8/7/2026).
Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17 dan 18:
Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya
Dalam Maqolah ke-18, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki empat permata (jauhar) yang menjadi perhiasan dalam hidup, yaitu:
Akal – cahaya dalam hati yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
Agama – petunjuk Allah yang diterima oleh orang-orang berakal melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
Rasa malu (ḥayā') – sifat mulia yang mendorong seseorang menjauhi kemaksiatan.
Amal saleh – segala amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
Namun, empat permata tersebut dapat rusak oleh empat penyakit hati, yaitu:
Marah (Ghadab) menghilangkan akal. Saat marah, seseorang sulit berpikir jernih sehingga mudah berbuat salah. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjauhi sifat marah karena dapat merusak keimanan.
Hasad (Dengki) menghilangkan agama. Hasad adalah berharap nikmat orang lain hilang. Penyakit ini mengikis pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pembagian rezeki Allah.
Tamak (Thama') menghilangkan rasa malu. Keinginan yang berlebihan terhadap harta, jabatan, atau dunia membuat seseorang kehilangan kehormatan dan mudah melakukan hal yang tidak pantas.
Ghibah (Menggunjing) menghilangkan amal saleh. Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain di belakangnya meskipun benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka menjadi fitnah (buhtan), sedangkan jika diucapkan di hadapannya dengan maksud menyakiti termasuk mencaci maki.
Hikmah Kajian
Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan lahiriah. Akal, agama, rasa malu, dan amal saleh adalah modal utama seorang Muslim. Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan amarah, menjauhi hasad, menahan ketamakan, dan menjaga lisan dari ghibah agar keimanan tetap terpelihara dan amal ibadah tidak sia-sia.
Pesan utama:Jagalah empat permata dalam diri—akal, agama, malu, dan amal saleh—dengan menjauhi empat penyakit hati: marah, hasad, tamak, dan ghibah. Siapa yang mampu menjaga hatinya, ia akan menjaga agamanya.
Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُadalah jamak dari lafadz دَوَاءٌyaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab)
Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadz الْأَمَانِيadalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌyaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan)
Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang
memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap
penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama
(Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar)
Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih
pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa
memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak
kepadamu besi.
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA
Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal)
Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai
mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya
marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni
pada madu] telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi
(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah
kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan
kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]
أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ
*
أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ
*
أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ
وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ
*
فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي
Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud
*
Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab
Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah
*
Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan
Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku
(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُdengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada
keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan
itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan
itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu
adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut
dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.
Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)
PURBALINGGA – Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi.
Kegiatan dimulai pukul 07.20 hingga 08.45 WIB dengan fokus membersihkan lingkungan masjid, mulai dari mencabuti rumput liar di halaman, membersihkan selokan agar aliran air tetap lancar, hingga menyapu seluruh area pelataran masjid. Suasana penuh semangat dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan yang diikuti enam Penyuluh Agama Islam, yaitu Imam Edi Siswanto, Pujianto, Mughofar, Moh. Agus Zaenal Abidin, Azizah Dwi Puba, dan Zamroni Irham serta karyawan KUA Kalimanah, Jumari.
Dengan mengenakan pakaian kerja lapangan (berkaos), para penyuluh bahu-membahu membersihkan setiap sudut lingkungan masjid. Aksi sederhana tersebut menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid)
di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten
Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Program GEBER MASJID merupakan salah satu rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 H yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI sebagai upaya menumbuhkan semangat kepedulian terhadap rumah ibadah sekaligus mengajak masyarakat membangun budaya gotong royong. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan, serta penguatan nilai-nilai sosial dan kebersamaan.
Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah ingin menegaskan bahwa kebersihan masjid adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan masjid yang bersih, rapi, dan nyaman akan menghadirkan kekhusyukan dalam beribadah serta memberikan kesan positif bagi setiap jamaah yang datang.
Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, GEBER MASJID memiliki makna mendalam sebagai simbol membersihkan diri dalam menyambut Tahun Baru Islam. Sebagaimana halaman masjid dibersihkan dari rumput liar dan kotoran, demikian pula setiap Muslim diajak membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, memperbaiki akhlak, serta memperkuat keimanan sebagai bekal memasuki lembaran baru di bulan Muharam.
Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan rumah ibadah, mempererat ukhuwah Islamiyah melalui budaya gotong royong, menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid, serta mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang bersih, nyaman, dan memakmurkan umat.
Semangat yang ditunjukkan para Penyuluh Agama Islam diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan masjid secara berkelanjutan. Dengan semangat Peaceful Muharam 1448 H, gerakan kecil yang dilakukan bersama diyakini mampu menghadirkan perubahan besar, dimulai dari lingkungan masjid menuju masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan berakhlak mulia.(*)
Iluatrasi: Gedung KUA Kalimanah Purbalingga tampak dari depan, Rabu (1/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga – Dalam rangka menyemarakkan momentum
Peaceful Muharam 1448 Hijriah, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan
Kalimanah akan menggelar kegiatan santunan pada 12 anak yatim jenjang RA, BA,
dan MI se-Kecamatan Kalimanah. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat,
10 Juli 2026, bertempat di Ruang Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI)
Kecamatan Kalimanah.
Kegiatan ini
menjadi bagian dari implementasi semangat bulan Muharam sebagai bulan yang
penuh keberkahan dan kepedulian sosial. Melalui santunan tersebut, KUA
Kalimanah ingin menghadirkan kebahagiaan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi
kepada anak-anak yatim, yang dalam ajaran Islam mendapat perhatian dan
kedudukan yang sangat mulia.
Pelaksanaan
kegiatan dikoordinasikan oleh panitia Peaceful Muharam 1448 H yang telah
dibentuk. Puji Haryono dipercaya sebagai Ketua Panitia, didampingi Zamroni
Irham sebagai Sekretaris dan Eksi Fajriati sebagai Bendahara.
Sementara itu, Firman Yuwono, Joko Waluyo, dan Rizal Nur Ahmadi
bertugas sebagai anggota yang akan mengawal seluruh rangkaian kegiatan agar
berjalan tertib dan lancar.
Kepala KUA
Kecamatan Kalimanah, Kholidin, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan
tersebut. Menurutnya, Peaceful Muharam bukan sekadar kegiatan
seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial,
menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, serta mempererat ukhuwah di tengah
masyarakat.
"Anak-anak
yatim merupakan amanah yang harus kita perhatikan bersama. Kami berharap
kegiatan santunan ini tidak hanya memberikan bantuan secara materi, tetapi juga
menghadirkan kebahagiaan, semangat, dan rasa kasih sayang bagi mereka. Inilah
nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang ingin terus ditumbuhkan melalui program
Peaceful Muharam," ucap Kholidin.
Ia menambahkan,
KUA Kalimanah terus berkomitmen menghadirkan program-program yang tidak hanya
berorientasi pada pelayanan keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata
bagi masyarakat. Kegiatan santunan ini diharapkan menjadi media untuk mengajak
berbagai elemen masyarakat memperkuat budaya berbagi dan kepedulian terhadap
sesama.
Sebagai informasi, program Peaceful Muharram
1448 H merupakan gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI
untuk menyambut Tahun Baru Islam dengan serangkaian kegiatan bertema "Menebar
Maslahat, Menguatkan Umat". Rangkaian kegiatan ini berfokus pada
kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Berbagai kegiatan yang diselenggarakan dalam
program ini antaralain:
Lebaran
Yatim & Santunan Difabel: Penyaluran ribuan paket santunan, bantuan,
dan kebahagiaan bagi anak-anak yatim serta penyandang disabilitas.
Gerakan
Sosial: Aksi kemanusiaan seperti donor darah, termasuk yang dipusatkan di
Masjid Istiqlal.
Gerakan
Bersih-Bersih Masjid: Kegiatan kerja bakti dan membersihkan lingkungan
masjid agar lebih nyaman untuk beribadah.
Peningkatan
Kualitas Ibadah: Berbagai kegiatan keagamaan, seperti Khataman Al-Qur'an
serentak dan standardisasi keakuratan titik kiblat.
Inklusi
Sosial & Dakwah: Program layanan bahasa isyarat untuk kalangan
difabel.
Melalui kegiatan Peaceful
Muharam 1448 H, KUA Kalimanah berharap semangat berbagi di bulan Muharam
dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin peduli kepada anak yatim
dan kelompok yang membutuhkan. Dengan demikian, nilai-nilai Islam yang
mengedepankan kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas sosial dapat terus
hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.(*)
Kontributor/Editor: Imam Edi Siswanto (PAI KUA Kalimanah)
PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 34, Rabu (17/6/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-34 seperti biasa dilaksanakan pada Rabu pagi di Kantor KUA Kalimanah. Sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (17/6/2026).
Dari kajian tersebut dapat disampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul 'Ibad Bab 4 (Maqolah 15-16).
Dalam kajian Bab 4 Maqolah 15 sampai 16, menekankan pada karakter manusia yang celaka dan bahagia serta panji-panji keimanan.
Pertama, Maqolah 15 Dari Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa 4 tanda dari orang yang celaka yaitu: melupakan dosa dan kesalahan yang telah dilakukan padahal semuanya tercatat oleh Allah SWT, selalu mengingat kebaikan yang telah dilakukan padahal belum tentu kebaikan tersebut diterima di sisiNYA, dalam urusan dunia memandang orang lain yeng lebih tinggi , dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih rendah. Sedangkan 4 tanda orang yang bahagia yaitu: selalu mengingat dan menyesali terhadap dosa yang telah dilakukan walaupun telah berlalu, tidak mengungkit kebaikan yang telah dilakukan karena tidak akan terlepas dari penyakit atau hal yang merusak, dalam urusan dunia memandang orang lain yeng lebih rendah, dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih tinggi.
Bagi orang yang menginginkan kebahagiaan kelak di akhirat hendaknya selalu mengingat kesalahan yang telah dilakukan dan memohon ampun atas kesalahan itu, dan terus menjaga hati untuk mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan karena sadar bahwa kebaikan yang telah dilakukan belum tentu diterima oleh Allah SWT. Selain itu hendaknya dalam urusan dunia ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih rendah sehingga akan timbul rasa syukur. Sebaliknya, dalam urusan agama ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih tinggi sehingga akan terhindar dari sifat riya dan akan timbul keinginan untuk mengikutinya.
Kedua, Maqolah 16 Dari sebagian Hukama menyatakan bahwa panji-panji keimanan yaitu: taqwa, rasa malu, syukur, dan sabar.
Orang yang beriman akan selalu taqwa yang diartikan taat dan ikhlas dalam menjalankan perintahNYA, memiliki rasa malu kepada Allah jika akan berbuat maksiat, bersyukur, dan sabar serta tidak mengeluh kepada selain Allah saat ditimpa musibah.
Kesimpulan kajian, Kedua maqolah tersebut memiliki kaitan dalam bagi seorang muslim agar dapat menjaga keimanan dengan taqwa, rasa malu kepada Allah, syukur dan sabar, serta menjaga diri agar berbahagia kelak diakhirat dengan selalu mengingat kesalahan di masa lampau dan bertaubat, mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan, mengikuti orang yang lebih tinggi dalam urusan agama, bersyukur terhadap apa yang telah didapat dengan melihat orang lain yang lebih rendah dalam urusan dunia.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 15
وعن النبى عليه السلام أنه قال: عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ أَرْبعََةٌ نِسْيَانُ الذُّنوُْبِ الْمَاضِيَةِ وهى عِنْدَ اللهِ
“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw., tanda-tanda terjadinya kecelakaan itu ada empat, yaitu: Melupakan dosa-dosa yang telah berlalu, padahal semuanya itu tercatat di sisi Allah. Bernostalgia (bersenang-senang) dengan kebajikan-kebajikan yang telah berlalu, padahal ia tidak mengetahui, apakah kebajikannya itu diterima atau tidak (oleh Allah SWT.). Memandang orang lebih tinggi dalam urusan dunia dan memandang orang lebih rendah dalam masalah agama. Dalam hal ini Allah berfirman, “Aku hendak menolongnya, tapi ia tidak berkeinginan kepada-Ku lalu aku urungkan.” Sedang tanda-tanda terjadinya kebahagiaan itu juga ada empat, yaitu: Merenungi dosa-dosa yang telah berlalu, melupakan kebajikan-kebajikan yang telah dilakukan, memandang orang lebih tinggi kualitas agamanya, dan memandang orang yang lebih rendah dalam urusan dunianya.”
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 16
وعن بعض الحكماء أن شعائر الايمان أربعة التقوى والحياء والشكر والصبر
“Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian hukama, sesungguhnya panji-panji
keimanan itu ada empat, yaitu: taqwa (kepada Allah SWT.), rasa malu, syukur dan