Rabu, 11 Februari 2026

#23 Menata Hidup dengan Hikmah: Pelajaran Berharga dari Maqolah 36–40 Nashoihul Ibad

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 23 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (11/2/2026). (Foto: Rizal)


Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-23 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (11/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 36–40. 

Berikut
Rangkuman Maqolah 36–40 Kitab Nashoihul Ibad Bab 3

Maqolah 36 menjelaskan nasihat Luqman Al-Hakim bahwa hakikat manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu ruh yang kembali kepada Allah, amal yang akan kembali kepada diri manusia sebagai balasan kebaikan atau keburukan, serta jasad yang pada akhirnya akan hancur dan kembali menjadi tanah. Nasihat ini mengingatkan manusia agar lebih memperhatikan amal saleh karena itulah bekal yang akan dibawa setelah kematian.

Maqolah 37 menerangkan tiga amalan yang dapat memperkuat daya ingat dan kejernihan pikiran, yaitu bersiwak, berpuasa, dan membaca Al-Qur’an. Ketiga amalan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan spiritual dan ketajaman hati.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 38 menyebutkan tiga benteng yang dapat melindungi seorang mukmin dari godaan setan, yaitu memakmurkan masjid, memperbanyak dzikir kepada Allah, serta membaca Al-Qur’an, khususnya Ayat Kursi. Amalan tersebut menjadi pelindung yang menguatkan iman dan menenangkan jiwa dari pengaruh keburukan.

Maqolah 39 mengajarkan bahwa terdapat tiga perkara yang termasuk karunia tersembunyi dari Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintai-Nya, yaitu kefakiran, sakit, dan kesabaran. Ketiganya merupakan ujian yang mengandung hikmah besar, karena dapat mendekatkan manusia kepada Allah, menumbuhkan ketulusan, serta melatih kerelaan menerima ketentuan-Nya.

Maqolah 40 menjelaskan keutamaan waktu dan amal dalam Islam. Hari terbaik adalah hari Jumat, bulan terbaik adalah bulan Ramadhan, dan amal terbaik adalah melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Selain itu, dijelaskan pula bahwa amal terbaik adalah amal yang diterima Allah meskipun sedikit, dan bulan terbaik adalah waktu seseorang bersungguh-sungguh bertaubat. Taubat yang sempurna ditandai dengan penyesalan dalam hati, memohon ampun dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa, serta bertekad tidak mengulanginya kembali.

Secara keseluruhan, maqolah 36–40 mengajarkan manusia agar menyadari hakikat kehidupan, memperbanyak amal saleh, menjaga diri dari godaan setan, bersabar menghadapi ujian, serta memanfaatkan waktu dan kesempatan hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 36

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ: أَنَّهُ قَالَ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ إِنَّ النَّاسَ ثَلَاثَةُ أَثْلَاثٍ: ثُلُثٌ لِلَّهِ، وَثُلُثٌ لِنَفْسِهِ، وَثُلُثٌ لِلدُّودِ، فَأَمَّا مَا هُوَ لِلَّهِ فَرُوحُهُ) فَهُوَ رَاجِعٌ لِلَّهِ تَعَالَى (وَأَمَّا مَا هُوَ لِنَفْسِهِ فَعَمَلُهُ) فَهُوَ رَاجِعٌ لِنَفْسِهِ بِالنَّفْعِ وَالْإِضْرَارِ (وَأَمَّا مَا هُوَ لِلدُّودِ فَجِسْمُهُ) فَهُوَ مَأْكُولُ الدُّودِ.

Maqolah yang ke tiga puluh enam (Dari Luqman Al-Hakim: Sesungguhnya ia berkata kepada anaknya: Wahai anakku sesungguhnya manusia itu terbagi tiga pertiga: Sepertiga untuk Allah dan sepertiga untuk dirinya dan sepertiga untuk cacing. Adapun sepertiga yaitu yang untuk Allah adalah ruh manusia) Maka ruh manusia itu kembali kepada Allah Ta'ala (Dan adapun sepertiga yaitu untuk manusia adalah amalnya) Maka amal manusia itu kembali kepada dirinya sendiri dengan manfaat dan madharat (Dan adapun sepertiga yaitu untuk cacing adalah jasad manusia) Maka jasad manusia itu menjadi makanan cacing.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 37

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ) وَرَضِيَ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثٌ يَزِدْنَ فِي الْحِفْظِ) فِي الذِّهْنِ (وَيُذْهِبْنَ الْبُلْغَمَ) وَهُوَ أَحَدُ الطَّبَائِعِ الْأَرْبَعَةِ وَهِيَ الْبُلْغَمُ وَالدَّمُ وَالسَّوْدَاءُ وَالصَّفْرَاءُ (السِّوَاكُ وَالصَّوْمُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ).

Maqolah yang ke tiga puluh tujuh (Dari Ali Karromallahu Wajhah) Waradhia Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Tiga perkara yang bisa menambah hafalan) Dalam hati (Dan menghilangkan dahak) Dahak adalah salah satu dari tabiat yang empat yaitu dahak, darah, empedu hitam dan empedu kuning (Yaitu siwak dan berpuasa dan membaca Al-Qur'an).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 38

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ كَعْبِ الْأَحْبَارِ) أَيْ مَلْجَأِ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْيَهُودِ أَسْلَمَ فِي زَمَنِ سَيِّدِنَا عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (الْحُصُونُ لِلْمُؤْمِنِينَ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثٌ) مِنَ الْخِصَالِ: أَيْ الَّتِي تَمْنَعُ الْمُؤْمِنِينَ وَتَحْفَظُهُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلَاثٌ، وَالْحِصْنُ هُوَ الْمَكَانُ الْمُرْتَفِعُ الَّذِي يَمْنَعُ الْعَدُوَّ وَالْحِصْنُ أَيْضًا السِّلَاحُ كَمَا فِي الْأَسَاسِ (الْمَسْجِدُ حِصْنٌ) لِأَنَّهُ مَحَلُّ الذَّاكِرِينَ وَالْمَلَائِكَةِ (وَذِكْرُ اللَّهِ حِصْنٌ) لَا سِيَّمَا لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْقَبِضُ أَيْ يَخْتَفِي وَيَتَأَخَّرُ إِذَا سَمِعَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى (وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ حِصْنٌ) لَا سِيَّمَا آيَةُ الْكُرْسِيِّ كَمَا هُوَ مُجَرَّبٌ.

Maqolah yang ke tiga puluh delapan (Dari Ka'b Al-Ahbar) Maksudnya rujukan para ulama dari kalangan yahudi ia masuk Islam di zaman Sayyidina Umar bin Khottob Radhiallahu Anhu (Benteng-benteng untuk orang-orang yang beriman dari godaan syaiton itu ada tiga) perkara: Maksudnya yang mencegah kepada orang orang yang beriman dan melindungi dari syaitan itu ada tiga, الْحِصْنُ yaitu tempat yang tinggi yang mencegah kepada musuh الْحِصْنُ juga bermakna pedang sebagaimana dalam kamus Al-Asas (Masjid itu adalah benteng) Karena sesungguhnya masjid adalah tempat orang-orang yang berdzikir dan tempat para malaikat (Dan dzikir kepada Allah itu adalah benteng) Apalagi bacaan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ, Karena sesungguhnya setan itu menyusut dan sembunyi dan mundur ketika ia mendengar dzikrullahi Ta'ala (Dan membaca Al-Quran adalah benteng) apalagi ayat kursi sebagaimana ia telah dibuktikan.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 39

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثٌ مِنْ كَنْزِ اللَّهُ تَعَالَى) أَيْ مِمَّا يَدَّخِرُهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يُعْطِيهَا اللَّهُ إِلَّا مَنْ أَحَبَّهُ (الْفَقْرُ) وَهُوَ فَقْدُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَالْمَرَضُ) وَهُوَ يَعْرِضُ لِلْبَدَنِ فَيُخْرِجُهُ عَنِ الِاعْتِدَالِ الْخَاصِّ (وَالصَّبْرِ) وَهُوَ تَرْكُ الشَّكْوَى مِنْ أَلَمِ الْبَلْوَى لِغَيْرِ اللَّهِ لَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَالرِّضَا بِالْقَضَاءِ لَا يَقْدَحُ فِيهِ الشَّكْوَى إِلَى اللَّهِ وَلَا إِلَى غَيْرِهِ وَإِنَّمَا يَقْدَحُ بِالرِّضَا فِي الْمَقْضِيِّ وَإِنَّمَا لَزِمَ الرِّضَا بِالْقَضَاءِ لِأَنَّ الْعَبْدَ لَا بُدَّ أَنْ يَرْضَى بِحُكْمِ سَيِّدِهِ، كَذَا فِي التَّعْرِيفَاتِ لِلسَّيِّدِ عَلِيٍّ الْجُرْجَانِي.

Maqolah yang ke tiga puluh sembilan (Dari sebagian orang yang bijaksana sesungguhnya mereka berkata: Tiga perkara dari sebagian gudangnya Allah) Maksudnya dari perkara yang Allah Ta'ala simpan pada perkara itu yang tidak akan Allah berikan perkara itu kecuali kepada orang yang Allah cintai (Kefaqiran) Kefaqiran adalah tidak adanya perkara yang ia membutuhkan pada perkara itu (Dan sakit) Sakit adalah yang menimpa pada badan kemudian mengeluarkan pada badan dari kenormalan yang khusus (Dan kesabaran) Sabar adalah meninggalkan prilaku mengeluh dari pedihnya cobaan kepada selain Allah tidak kepada Allah Ta'ala, dan ridho atas qodhonya tidak menjelek-jelekan dalam qodho mengeluh kepada Allah dan tidak kepada selain Allah dan sesungguhnya menjelek-jelekan atas ridho hanya dalam perkara yang dipastikan dan sesungguhnya wajib ridho pada qodho karena sesungguhnya seorang hamba tidak boleh tidak harus ridho pada hukum tuannya, seperti keterangan dalam kitab At-Ta'rifat milik sayyid Al-jurjani.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 40

(وَ) الْمَقَالَةُ الْأَرْبَعُونَ (عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا حِينَ سُئِلَ: مَا خَيْرُ الْأَيَّامِ وَمَا خَيْرُ الشُّهُورِ وَمَا خَيْرُ الْأَعْمَالِ؟ فَقَالَ) أَيْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ (خَيْرُ الْأَيَّامِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ) لِأَنَّهُ سَيِّدُ الْأَيَّامِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى لِهَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ (وَخَيْرُ الشُّهُورِ شَهْرُ رَمَضَانَ) لِأَنَّهُ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَفِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ وَفِيهِ الصِّيَامُ الْوَاجِبُ وَلِأَنَّ ثَوَابَ النَّفْلِ فِيهِ كَثَوَابِ الْفَرْضِ.

Maqolah yang ke empat puluh (Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma ketika ia ditanya: Apa sebaik-baiknya hari dan apa sebaik-baiknya bulan dan apa sebaik-baiknya amal? Maka ia berkata) Maksudnya Abdullah Bin Abbas (Sebaik-baiknya hari adalah hari Jum'at) Karena sesungguhnya hari Jum'at adalah tuannya hari Allah telah memberikan hari jumat untuk umat Nabi Muhammad ini (Dan sebaik-baiknya bulan adalah bulan Ramadhan) Karena sesungguhnya diturunkan di bulan Ramadhan Al-Qur'an dan di turunkan di bulan Ramadhan Lailatul Qodar dan di bulan Ramadhan diturunkan Puasa yang wajib dan karena sesungguhnya pahala amalan sunah di bulan Ramadhan itu seperti pahala amalan fardhu.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَرَّاقُ: شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ ذَلِكَ الزَّرْعِ.

Telah berkata Abu Bakar Al-Warroq: Bulan Rajab adalah bulan bercocok tanam dan bulan Sya'ban adalah bulan mengairi tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman itu.

(وَخَيْرُ الْأَعْمَالِ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ لِوَقْتِهَا) فَإِنَّهَا أَبْوَابُ الْأَعْمَالِ فَإِذَا فُتِحَتْ الصَّلَوَاتُ فُتِحَتْ سَائِرُ الْأَعْمَالِ وَإِذَا سُدَّتْ سُدَّتْ.

(Dan sebaik-baiknya amal adalah sholat yang lima waktu pada waktunya) Karena sesungguhnya sholat yang lima waktu adalah pintu-pintu berbagai amal. Ketika dibuka sholat lima waktu maka pasti terbuka sesisanya dari berbagai amal dan ketika dikunci maka pasti terkunci.

(فَمَاتَ ابْنُ عَبَّاسٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا (فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ) أَيْ وَهُوَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ (فَمَضَى عَلَى ذَلِكَ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَبَلَغَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ) أَيْ الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ (فَأَجَابَ بِكَذَا) أَيْ بِذَلِكَ الْجَوَابِ الْمَذْكُورِ (فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ: (لَوْ سُئِلَ الْعُلَمَاءُ وَالْحُكَمَاءُ وَالْفُقَهَاءُ مِنَ الْمَشْرِقِ إلَى الْمَغْرِبِ) عَنْ تِلْكَ الْمَسَائِلِ الثَّلَاثِ (لَأَجَابُوا بِمِثْلِ مَا أَجَابَ بِهِ ابْنُ عَبَّاسٍ، إلَّا أَنِّي أَقُولُ) فِي جَوَابِ ذَلِكَ (إنَّ خَيْرَ الْأَعْمَالِ مَا يَقْبَلُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْكَ) سَوَاءٌ كَانَتْ قَلِيلَةً أَوْ كَثِيرَةً (وَخَيْرُ الشُّهُورِ مَا تَتُوبُ فِيهِ إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا).

(Kemudian Ibnu Abbas mati) Radhiallahu Anhuma (Di hari itu) Maksudnya yaitu hari Jumat (Kemudian berlalu atas kematian Ibnu Abbas tiga hari, kemudian sampailah kepada Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Sesungguhnya Ibnu Abbas telah ditanya tentang hal itu) Maksudnya pertanyaan yang tiga (Kemudian Ibnu Abbas menjawab begitu) Maksudnya dengan jawaban itu yang telah disebutkan (Kemudian berkata Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Jika ditanya para Ulama dan Hukama dan Fuqoha dari timur sampai ke barat) Tentang pertanyaan itu yang tiga (Pasti mereka akan menjawab dengan semisal jawaban yang telah menjawab atas hal itu Ibnu Abbas, Kecuali sesungguhnya aku akan berkata) Dalam menjawab pertanyaan itu (Sesungguhnya sebaik-baiknya amal adalah amalan yang telah menerima pada amalan itu Allah Ta'ala darimu) Sama saja adanya amalan itu sedikit atau banyak (Dan sebaik-baiknya bulan adalah bulan engkau bertaubat di bulan itu kepada Allah dengan taubat nasuha).

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: التَّوْبَةُ النَّصُوحُ النَّدَمُ بِالْقَلْبِ وَالِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ وَالْإِقْلَاعُ بِالْبَدَنِ وَالْإِضْمَارُ عَلَى أَنْ لَا يَعُودَ إلَى مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ. وَقِيلَ: التَّوْبَةُ النَّصُوحُ أَنْ لَا يَبْقَى عَلَى عَمَلِهِ أَثَرٌ مِنَ الْمَعْصِيَةِ سِرًّا وَجَهْرًا. وَقِيلَ: هِيَ الَّتِي تُورِثُ صَاحِبَهَا الْفَلَاحَ عَاجِلًا وَآجِلًا. (وَخَيْرُ الْأَيَّامِ مَا تَخْرُجُ فِيهِ مِنَ الدَّنِّیا إلْی اللَّهُ) تَعَالَی بِالْمَوْتِ (مُؤْمِنًا بِاللَّهِ، وَقَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْبَسِيطِ]

Telah berkata Ibnu Abbas: Taubat Nasuha adalah penyesalan dalam hati dan memohon ampun dengan lisan dan menahan dengan badan dan bertekad tidak akan mengulangi pada perkara yang telah melarangnya Allah dari hal itu. dan dikatakan: Taubatan Nasuha adalah tidak tersisa dari amalnya orang itu bekas dari kemaksiatan baik secara tersembunyi atau terang-terangan. Dan dikatakan: Taubatan Nasuha adalah taubat yang mewariskan pada orang yang memilikinya sebuah kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Dan sebaik-baiknya hari adalah hari engkau keluar di hari itu dari dunia menuju Allah) Ta'ala sebab mati (Dalam keadaan iman kepada Allah. Telah berkata seorang penyair dari [Bahar Basit]

وَنَحْنُ نَلْعَبُ فِي سِرٍّ وَإِعْلَانٍ * مَا تَرَى كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ
فَإِنَّ أَوْطَانَهَا لَيْسَتْ بِأَوْطَانٍ * لَا تَرْكَنَنَّ إِلَى الدُّنْيَا وَزُخْرُفِهَا
تَغْرُرْكَ كَثْرَةُ أَصْحَابٍ وَإِخْوَانٍ) * وَاعْمَلْ لِنَفْسِكَ مِنْ قَبْلِ الْمَمَاتِ فَلَا
Apakah kamu melihat bagaimana menghancurkan kita siang dan malam * Sedangkan kita masih bermain-main dalam rahasia maupun terang-terangan
Jangan sekali-kali kamu condong pada kesenangan dunia dan perhiasan dunia * Karena sesungguhnya tanah air dunia bukanlah tanah air yang sebenarnya
Dan beramallah kamu untuk kepentingan dirimu sebelum mati maka jangan * sampai menipu kepadamu banyaknya sahabat dan banyaknya saudara

قَوْلُهُ: كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ أَيْ يُفْنِيْنَا اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَهَذِهِ الْأَبْيَاتُ السَّبْعَةُ مِنْ بَحْرِ الْوَافِرِ تُنْسَبُ لِلْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى:

Ucapan lafadz: كَيْفَ يُبَلِّيْنَا الْجَدِيدَانِ Maksudnya bagaimana menghancurkan kita waktu siang dan malam, dan tujuh bait berikut ini dari bahar wafir yang dinisbatkan kepada Imam Al-Ghozali Rahimahullahu Ta'ala:

وَيُسْمَعُ مِنْكَ قَوْلُكَ فِى الْمَقَالِ * أَتَطْلُبُ أَنْ تَكُونَ كَثِيرَ مَالٍ
تُسَرُّ بِهِ وَمِنْ كُلِّ الرِّجَالِ * وَمِنْ كُلِّ النِّسَاءِ تُرَى وِدَادًا
مُهَابًا مُكْرَمًا وَكَثِيْرَ مَالٍ * وَيَأْتِيْكَ الْغِنَا وَتُرَى سَعِيدًا
مِنَ الْأَعْدَاءِ وَمِمَّنْ كَانَ وَالِيًّ * وَتُكْفَى كُلَّ حَادِثَةٍ وَمَکْرٍ
مُكَمَّلَةً عَلَى مَرِّ اللَّيَالِي * فَقُلْ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ أَلْفًا
أَشَرْتُ إِلَيْهِ مُرَخِّصَ كُلِّ غَالٍّ * بِلَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِنَّ فِي مَا
فَفِيهِ تَبْلُغُ الرُّتَبَ الْعَوَالِيَ * فَلَازِمْ مَا ذَكَرْتُ وَلَا تَدَعْهُ
Apakah kamu mencari supaya kamu menjadi orang yang banyak harta * Dan didengar darikamu ucapan ucapanmu dalam berkata
Dan dari setiap kaum wanita kamu terlihat disenangi * Kamu dibahagiakan oleh kaum wanita dan dari setiap kaum lelaki
Dan didatangkan kepadamu kekayaan dan kamu terlihat bahagia * berwibawa dan dimulyakan dan banyak hartanya
Dan dihindarkan dari setiap bencana dan tipuan * Dari musuh-musuh dan dari orang yang menjadi penguasa
Maka bacalah Yaa Hayyu Yaa Qoyyum seribu kali * Disempurnakan atas berlalunya setiap malam
Di waktu malam atau diwaktu siang. Sesungguhnya di dalam amalan-amalan * Yang telah aku tunjukkan pada amalan itu bisa membuat murah segala yang mahal
Maka kamu harus membiasakan pada amalan yang telah aku sebutkan dan janganlah kamu meninggalkannya * Maka sebab amalan itu kamu akan sampai pada derajat yang tinggi

Sumber: lilmuslimin.com
editor: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 10 Februari 2026

Empat PAI KUA Kalimanah Bekali Catin Ilmu Rumah Tangga, Berikut Uraian Singkat Materinya

PAI KUA Kalimanah, Mughofar, S.Ag., saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Dengan berbagai materi penguatan ketahanan keluarga dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di Balai Nikah KUA Kalimanah, empat Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah hadir sebagai narasumber, Selasa (10/2/2026)

Kegiatan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama sebagai upaya membekali calon pasangan suami istri dengan pemahaman keagamaan dan keterampilan membangun rumah tangga yang harmonis.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/bekali-calon-pengantin-menuju-keluarga.html

Berikut uraian singkat dari empat materi yang disampaikan oleh PAI KUA Kalimanah:

Materi pertama disampaikan oleh Moch. Agus Zaenal Abidin yang menekankan bahwa keluarga sakinah harus dibangun di atas pondasi agama yang kuat.

Ia menjelaskan bahwa suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang harus dijalankan dengan baik sesuai tuntunan Islam. Selain itu, ia juga mengingatkan agar mahar tidak memberatkan, tetapi tetap mengandung nilai manfaat serta bersifat halal dan baik.

“Suami dan istri harus saling menghormati, mengasihi, menyayangi, memahami, dan menjaga kekompakan dalam rumah tangga,” pesannya.

Materi kedua tentang hak dan kewajiban suami istri disampaikan oleh Mughofar. Ia mengingatkan agar calon pengantin tidak hanya fokus pada persiapan hari pernikahan, tetapi juga memikirkan kehidupan jangka panjang setelah menikah.

Menurutnya, pernikahan merupakan perjalanan seumur hidup yang membutuhkan kesiapan mental dan perubahan pola pikir.

“Setelah menikah, pasangan akan saling mengenal lebih dalam. Karena itu, suami dan istri harus memahami hak dan kewajibannya serta mampu memperlakukan pasangan dengan baik, termasuk ketika terjadi perubahan fisik seiring bertambahnya usia,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya terus belajar, khususnya ilmu agama, sebagai pedoman dalam mencapai tujuan pernikahan yang sakinah.

Materi ketiga disampaikan oleh Zamroni Irham yang membahas komunikasi dan penyelesaian konflik dalam keluarga. 

Ia menuturkan bahwa setiap rumah tangga pasti menghadapi dinamika kehidupan, sehingga komunikasi menjadi kunci utama menjaga keharmonisan keluarga.

Ia mengajak para calon pengantin untuk meluruskan niat pernikahan semata-mata karena Allah SWT agar mampu menghadapi setiap persoalan dengan bijak.

Selanjutnya, materi keempat disampaikan oleh Azizah Dwi Purba yang menekankan pentingnya komunikasi yang intens, efektif, dan penuh kelembutan dalam keluarga.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi dalam rumah tangga tidak hanya sebatas rutinitas atau penyampaian informasi, tetapi harus dibangun dengan empati dan kesabaran..

“Komunikasi yang baik menuntut kemampuan menahan amarah dan menumbuhkan sikap sabar dalam membangun keharmonisan keluarga,” ujarnya.

Kegiatan Bimwin juga diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab, yang dimanfaatkan para calon pengantin untuk berkonsultasi langsung dengan narasumber terkait berbagai persoalan kehidupan rumah tangga.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta mendapatkan sertifikat Bimwin sebagai tanda telah mengikuti pembekalan pranikah.

Melalui kegiatan ini, KUA Kalimanah berharap para calon pengantin memiliki bekal ilmu, kesiapan mental, serta pemahaman agama yang kuat, sehingga mampu membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah serta melahirkan generasi yang berakhlak mulia.(*)

Kontributor: Zamroni Irham
Editor: Imam Edi siswanto

Bekali Calon Pengantin Menuju Keluarga Sakinah, KUA Kalimanah Gelar Bimwin Mandiri Penuh Makna

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI (dua dari kiri) foto bersama para PAI dan Catin usai acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melaksanakan program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di Balai Nikah KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). 

Kegiatan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama, sekaligus bentuk komitmen dalam mempersiapkan pasangan yang siap membangun rumah tangga berkualitas. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=bimwin

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI saat sambutan pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di Balai Nikah KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Dalam sambutan pembukaan, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI, menegaskan bahwa Bimwin bertujuan memberikan bekal menyeluruh kepada calon pengantin agar mampu mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Ia menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan perjalanan ibadah yang harus dijalani dengan kesiapan ilmu, mental, dan spiritual.

“Bimwin ini menjadi bekal penting agar tidak ada keluarga yang rapuh, karena pernikahan adalah perjalanan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat,” tegasnya di hadapan tujuh pasangan calon pengantin atau 14 peserta.

Kholidin juga menyampaikan ucapan selamat kepada para calon pengantin yang akan memasuki jenjang kehidupan baru. 

PAI KUA Kalimanah. Azizah Dwi Purba, S.Sos. saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Menurutnya, salah satu tujuan utama Bimwin adalah mencegah terjadinya perceraian dengan membekali pasangan kemampuan menyelesaikan persoalan rumah tangga secara bijak. 

Ia berharap seluruh peserta dapat menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera, dan penuh ketenteraman dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pondasi utama.

Kegiatan yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Pujianto ini menghadirkan empat narasumber dari PAI KUA Kalimanah. Azizah Dwi Purba, S.Sos., menyampaikan materi tentang pentingnya membangun komunikasi efektif antara suami dan istri sebagai kunci keharmonisan keluarga. 

PAI KUA Kalimanah Mochamad Agus Zaenal Abidin, S.E. saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Materi tentang hak dan kewajiban suami istri dalam mewujudkan keluarga sakinah disampaikan oleh Mughofar, S.Ag. 

Sementara itu, Moch. Agus Zaenal Abidin memaparkan konsep keluarga sakinah dengan menekankan pentingnya menjadikan agama sebagai pondasi rumah tangga. 

Materi komunikasi dan penyelesaian konflik dalam keluarga disampaikan oleh Zamroni Irham, S.Sos., sebagai bekal bagi pasangan dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga. 

PAI KUA Kalimanah, Mughofar, S.Ag., saat menyampaikan materi pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Selasa (10/2/2026). (Foto: Rizal)

Pelaksanaan kegiatan Bimwin oleh panitia yang diberi tugas ini terdiri dari Hasbiq Muzni, S.Sy., Rizal Nur Ahmadi, S.Hum., Imam Edi Siswanto, S.Ag., M.H., Azizah Dwi Purba, S.Sos., Pujianto, S.Sos., Zamroni Irham, S.Sos., Mughofar, S.Ag., serta Mochamad Agus Zaenal Abidin, S.E.

Melalui program ini, KUA Kalimanah berharap para calon pengantin memiliki kesiapan yang matang dalam membangun rumah tangga, sehingga mampu melahirkan keluarga yang harmonis, tangguh, dan menjadi fondasi lahirnya generasi yang berakhlak mulia.(*)

Kontributor: Zamroni Irham
Editor: Imam Edi siswanto

Jumat, 06 Februari 2026

#22 Menggapai Ketenteraman Hati dengan Zuhud dan Ketakwaan

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 22 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (4/2/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-22 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (4/2/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 32–35. 

Maqolah 32 menjelaskan tentang hakikat ketenangan bersama Allah (al-uns billah) menurut Sufyan Ats-Tsauri. Ketenangan dengan Allah bukanlah merasa senang atau terpikat pada hal-hal lahiriah seperti wajah yang menarik, suara yang merdu, maupun ucapan yang fasih. Intinya, hati seorang hamba hendaknya tidak bergantung pada kenikmatan duniawi, tetapi hanya merasa tenteram karena kedekatannya kepada Allah.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/21-ketika-dunia-ditinggalkan-demi.html

Maqolah 33 menerangkan makna zuhud menurut Ibnu Abbas yang diibaratkan terdiri dari tiga huruf. Huruf ز (zai) berarti bekal untuk akhirat, yaitu ketakwaan kepada Allah. Huruf ه (ha) berarti petunjuk dalam beragama, yakni menempuh jalan hidup yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ. Huruf د (dal) berarti istiqamah atau terus-menerus dalam menjalankan ketaatan.

Maqolah 34 masih membahas tentang zuhud, namun dengan penjelasan berbeda. Huruf ز (zai) dimaknai meninggalkan perhiasan atau kemewahan berlebihan. Huruf ه (ha) berarti meninggalkan hawa nafsu dan keinginan diri yang tidak baik. Huruf د (dal) berarti meninggalkan ketergantungan pada dunia, termasuk mencari pujian manusia dan berlebih-lebihan dalam kenikmatan hidup seperti makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. 

Maqolah 35 menjelaskan wasiat tentang cara menjaga agama agar tetap suci, yaitu dengan membatasi perkataan hanya pada hal yang bermanfaat, karena diam dari keburukan lebih utama daripada berbicara tanpa manfaat. Selain itu, dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam urusan dunia dan pergaulan, kecuali sebatas kebutuhan. Dijelaskan pula bahwa manusia terbagi menjadi beberapa golongan, mulai dari yang jauh dari kebaikan hingga orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, yang seharusnya diikuti nasihatnya. Maqolah ini juga menegaskan bahwa inti zuhud adalah menjauhi segala yang haram, melaksanakan seluruh kewajiban, bertaubat, memiliki sifat qanaah, serta menumbuhkan tawakal dan sikap pasrah kepada ketentuan Allah dengan penuh kepercayaan dan ketaatan.

Secara keseluruhan, keempat maqolah ini menegaskan pentingnya membersihkan hati dari ketergantungan pada dunia, memperkuat ketakwaan, mengikuti tuntunan Nabi, serta menjaga keistiqamahan dalam beribadah demi meraih kedekatan dengan Allah.

Berikut terjemahan lengkapnya: 
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 32

 الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْأُنْسِ بِاللَّهِ تَعَالَى مَا هُوَ؟ فَقَالَ:) أَيْ سُفْيَانُ (أَنْ لَا تَسْتَأْنِسَ بِكُلِّ وَجْهٍ صَبِيحٍ) أَيْ مُشْرِقٍ (وَلَا بِصَوْتٍ طَيِّبٍ) أَيْ لَذِيذٍ فِي السَّمَاعِ وَشَارِحٍ فِي الْقَلْبِ وَ(لَا بِلِسَانٍ فَصِيحٍ) أَيْ جَیِّدٍ.

Maqolah yang ke tiga puluh dua (Dari Supyan Ats-Tsauri Rahimahullah : Sesungguhnya ia ditanya tentang ketenangan bersama Allah apakah itu? Kemudian ia menjawab) Maksudnya Supyan (Janganlah kamu merasa senang dengan setiap wajah yang ceria) Wajah yang bersih (Dan janganlah kamu senang dengan suara yang merdu) Maksudnya suara yang enak di dengar dan yang melapangkan hati dan (Janganlah kamu senang dengan lisan yang pasih) Maksudnya yang bagus. 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 33

 الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: الزُّهْدُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ: زَايٌ وَهَاءٌ وَدَالٌ، فَالزَّايُ زَادٌ لِلْمَعَادِ) أَيْ لِلْآخِرَةِ وَهُوَ تَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى (وَالْهَاءُ هُدًى لِلدِّينِ) أَيْ سُلُوكُ طَرِيقٍ يُوصِلُ إِلَى الطَّرِيقَةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ (وَالدَّالُّ دَوَامٌ عَلَى الطَّاعَةِ).

Maqolah yang ke tiga puluh tiga (Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma sesungguhnya ia berkata: zuhud ada tiga huruf: ز dan ه dan د maka ز adalah زاد للمعاد bekal untuk akhirat) Maksudnya untuk akhirat yaitu takwa kepada Allah Ta'ala (Dan ه adalah هدى للدين petunjuk agama) maksudnya menelusuri jalan yang bisa menyampaikan menuju jalan Nabi Muhammad (Dan د adalah دوام على الطاعة istiqomah dalam ketaatan). 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 34

 الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالثَّلَاثُونَ (قَالَ) أَيْ ابْنُ عَبَّاسٍ (فِي مَوْضِعٍ آخَرَ:) الزُّهْدُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ (الزَّايُ تَرْكُ الزِّينَةِ، وَالْهَاءُ تَرْكُ الْهَوَى) أَيْ مَحْبُوبَاتِ النَّفْسِ (وَالدَّالُ تَرْكُ الدُّنْيَا) مِنْ ثَنَاءِ الْخَلْقِ وَمِنْ التَّنَعُّمِ وَالتَّوَسُّعِ فِي الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ.

Maqolah yang ke tiga puluh empat (Telah berkata) Maksudnya Ibnu Abbas (Di tempat yang lain:) Zuhud ada tiga huruf (ز adalah ترك الزينة meninggalkan zinah, dan ه adalah ترك الهوى meninggalkan hawa nafsu) Maksudnya hal-hal yang dicintai nafsu (Dan د adalah ترك الدنيا meninggalkan dunia) Dari pujian makhluq dan dari kenikmatan dan dari kemewahan pada makanan dan minuman dan pakaian dan tempat tinggal.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 35

 الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ حَامِدِ اللَّقَّافِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ: أَوْصِنِيْ) أَيْ بِمَا يَنْفَعُنِيْ فِي الدِّيْنِ (فَقَالَ: اِجْعَلْ لِدِينِكَ غِلَافًا كَغِلَافِ الْمُصْحَفِ) وَهُوَ مَا يَصُوْنُهُ عَنِ الدَّنَسِ (قِيلَ لَهُ: مَا غِلَافُ الدِّينِ) فَالشَّرِيعَةُ مِنْ حَيْثُ إنَّهَا تُطَاعُ تُسَمَّى دِينًا وَمِنْ حَيْثُ إنَّهَا تُجْمَعُ تُسَمَّى مِلَّةً وَمِنْ حَيْثُ إنَّهَا يُرْجَعُ إلَيْهَا تُسَمَّى مَذْهَبًا (قَالَ لَهُ:) غِلَافُ الدِّينِ (تَرْكُ الْكَلَامِ إلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ) وَهُوَ مَا لَا يُحْصُلُ الْمَقْصُودُ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا إلَّا بِهِ. قَالَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَوْ لُقْمَانُ: إذَا كَانَ الْكَلَامُ مِنْ فِضَّةٍ كَانَ السُّكُوتُ مِنْ ذَهَبٍ. وَالْمَعْنَى إذَا كَانَ الْكَلَامُ فِي الْخَيْرِ كَالْفِضَّةِ حَسَنًا كَانَ السُّكُوتُ عَنِ الشَّرِّ كَالذَّهَبِ فِي الْحُسْنِ اهْ.

Maqolah yang ke tiga puluh lima (Dari Hamid Al-Laqof Rahimahullah Sesungguhnya datang kepadanya seorang lelaki kemudian berkata kepada Hamid Al-Laqof: Berikanlah aku wasiat) Maksudnya atas perkara yang bermanfaat padaku dalam agama (Kemudian Hamdi Al-Laqof berkata: Jadikanlah unuk agamamu bungkus seperti bungkus mushaf) Maksudnya yang bisa menjaga dari kotoran (Dikatakan kepadanya: Apa bungkus agama ?) Syariat dari sekiranya sesungguhnya syariat itu diikuti maka dinamakan agama dan dari sekiranya sesungguhnya syariat itu dikumpulkan maka dinamakan millah dan dari sekiranya sesungguhnya syariat itu dikembalikan agama padanya maka dinamakan madzhab (Hamid Al-Laqof berkata kepadanya:) Bungkus agama (Adalah meninggalkan percakapan kecuali percakapan yang tidak boleh tidak darinya) yaitu percakapan yang tidak akan hasil pada yang dimaksud dari urusan dunia kecuali dengannya. Telah bersabda Nabi Sulaiman Alaihis Salam atau Luqman : Jika berbicara itu adalah perak maka pasti diam itu adalah emas. Maknanya Jika berbicara tentang kebaikan seperti perak itu bagus maka pasti diam dari perkataan buruk itu seperti emas dalam hal bagusnya.

وَالسَّاكِتُ فِي الْحَقِّ كَالنَّاطِقِ فِي الْبَاطِلِ (وَتَرْكُ الدُّنْيَا) مِنَ الْأَمْتِعَةِ (إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ) وَهُوَ مَا لَا تَحْصُلُ الْحَاجَةُ إِلَّا بِهِ (وَتَرْكُ مُخَالَطَةِ النَّاسِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ) وَهُوَ مَا لَا يَحْصُلُ الْمَطْلُوبُ إلَّا بِهِ.

Dan orang yang diam tentang kebenaran itu seperti orang yang berbicara dalam kebatilan. (Dan meninggalkan dunia) Dari benda-benda (Kecuali dunia yang tidak boleh tidak darinya) Yaitu perkara yang tidak akan hasil suatu kebutuhan kecualing dengannya (Dan meninggalkan bergaul dengan manusia kecuali bergaul yang tidak boleh tidak darinya) Yaitu pergaulan yang tidak akan hasil yang dicari kecuali dengan bergaul.

وَالنَّاسُ تَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ كَمَا قَالَهُ سَيِّدِيْ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيُّ قَدَّسَ سِرَّهُ: رَجُلٌ لَا لِسَانَ لَهُ وَلَا قَلْبَ وَهُوَ الْعَاصِي الْغَرُّ الْغَبِيُّ، فَاحْذَرْ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ وَلَا تَقُمْ فِيهِمْ فَإِنَّهُمْ أَهْلُ الْعَذَابِ، وَرَجُلٌ لَهُ لِسَانٌ بِلَا قَلْبٍ فَيَنْطِقُ بِالْحِكْمَةِ وَلَا يَعْمَلُ بِهَا، يَدْعُو النَّاسَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى وَهُوَ يَفِرُّ مِنْهُ فَابْعُدْ مِنْهُ لِئَلَّا يَخْطَفَكَ بِلَذِيذِ لِسَانِهِ فَتُحْرِقَكَ نَارُ مَعَاصِيْهِ وَيَقْتُلَكَ نَتْنُ قَلْبِهِ، وَرَجُلٌ لَهُ قَلْبٌ بِلَا لِسَانٍ وَهُوَ مُؤْمِنٌ سَتَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ خَلْقِهِ وَبَصَّرَهُ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ وَنَوَّرَ قَلْبَهُ وَعَرَّفَهُ غَوَائِلَ مُخَالَطَةِ النَّاسِ وَشُؤْمَ الْكَلَامِ فَهَذَا رَجُلٌ وَلِيُّ اللَّهِ تَعَالَى مَحْفُوظٌ فِي سَتْرِ اللَّهِ تَعَالَى، فَالْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ عِنْدَهُ فَدُوْنَكَ وَمُخَالَطَتَهُ وَخِدْمَتَهُ فَيُحِبَّكَ اللَّهُ تَعَالَى، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ وَعَلَّمَ وَعَمِلَ بِعِلْمِهِ وَهُوَ الْعَالِمُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَآيَاتِهِ اِسْتَوْدَعَ اللَّهُ قَلْبَهُ غَرَائِبَ عِلْمِهِ وَشَرَحَ صَدْرَهُ لِقَبُولِ الْعُلُومِ فَاحْذَرْ أَنْ تُخَالِفَهُ وَتُجَانِبَهُ وَتَتْرُكَ الرُّجُوعَ إِلَى نَصِيحَتِهِ.

Manusia itu terbagi pada empat kelompok sebagaimana telah berkata tentang hal itu tuanku Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani Qoddasa Sirrohu: Lelaki yang tidak mempunya lisan dan tidak mempunyai hati dan dia adalah orang yang bermaksiat yang menipu dan bodoh, Maka berhati hatilah kamu menjadi bagian dari mereka dan janganlah kamu berdiri diantara mereka karena mereka adalah orang yang pantas mendapat siksaan. Lelaki yang mempunyai lisan dan tidak mempunyai hati kemudian ia berbicara dengan kalimat kalimat hikmah dan ia tidak mengamalkan pada hikmah, dia mengajak kepada manusia menyembah Allah Ta'ala sedangkan ia kabur dari Allah maka menjauhlah kamu darinya supaya ia tidak menyambarmu dengan kenikmatan lisannya kemudian akan membakarmu api kemaksiatannya dan akan membunuhmu kebusukan hatinya. Lelaki yang mempunyai hati tanpa mempunyai lisan dia adalah orang mu'min yang menutup kepadanya Allah Ta'ala dari makhluk Allah dan Allah memperlihatkan padanya atas aib-aib dirinya Dan Allah menerangi hatinya dan Allah memberi tahu padanya tentang bahayanya bergaul dengan manusia dan bahayanya kesialan obrolan Maka lelaki ini adalah kekasih Allah yang dijaga dalam perlindungan Allah Ta'ala. Kebaikan seluruh kebaikan ada pada lelaki itu maka wajib atasmu bergaul dengannya dan berkhidmah padanya maka pasti akan cinta padamu Allah Ta'ala. Lelaki yang mengaji dan mengajar dan mengamalkan ilmunya dan ia tahu pada Allah dan pada ayat Allah. Allah menitipkan kedalam hatinya keindahan-keindahan ilmunya dan Allah melapangkan hatinya untuk menerima ilmu maka berhati hatilah kamu menyelisihinya dan menjauhinya dan meninggalkan merujuk pada nasihatnya.

(ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ أَصْلَ الزُّهْدِ الِاجْتِنَابُ عَنِ الْمَحَارِمِ، كَبِيرِهَا وَصَغِيرِهَا) لِأَنَّ مَنْ لَا وَرَعَ لَهُ لَا يَصِحُّ لَهُ الزُّهْدُ (وَأَدَاءُ جَمِيعِ الْفَرَائِضِ يَسِيرِهَا وَعَسِيرِهَا) لِأَنَّ مَنْ لَا تَوْبَةَ لَهُ لَا تَصِحُّ لَهُ الْإِنَابَةُ فَالتَّوْبَةُ هُوَ الْقِيَامُ بِكُلِّ حُقُوقِ الرَّبِّ وَالْإِنَابَةُ هُوَ إخْرَاجُ الْقَلْبِ مِنْ ظُلُمَاتِ الشُّبُهَاتِ (وَتَرْكُ الدُّنْيَا عَلَى أَهْلِهَا قَلِيلِهَا وَكَثِيرِهَا) لِأَنَّ مَنْ لَا قَنَاعَةَ لَهُ لَا يَصِحُّ لَهُ التَّوَكُّلُ وَمَنْ لَا تَوَكُّلَ لَهُ لَا يَصِحُّ لَهُ التَّسْلِيمُ اهٍ.

(Kemudian ketahuilah sesungguhnya asal zuhud itu adalah menjauhi dari yang diharamkan, besarnya yang diharamkan itu atau kecilnya yang diharamkan itu) Karena sesungguhnya orang yang tidak wara' itu tidak sah baginya zuhud (Dan menunaikan seluruh kefardhuan mudahnya kewajiban itu atau susahnya kewajiban itu) Karena sesunggunya orang yang tidak bertaubat untuk dirinya itu tidak sah baginya kembali kepada Allah. Taubat adalah mendirikan setiap hak-hak Allah. Inabah adalah mengeluarkan hati dari kegelapan-kegelapan syubhat (Dan meninggalkan dunia pada Ahlinya sedikitnya dunia itu dan banyaknya dunia itu) Karena sesungguhnya orang yang tidak qonaah untuk dirinya itu tidak sah baginya tawakkal dan barang siapa yang tidak bertawakal kepada Allah maka tidak sah baginya taslim.

فَالتَّوَكُّلُ هُوَ الثِّقَةُ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ وَالْيَأْسُ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ، فَالتَّسْلِيمُ هُوَ الِانْقِيَادُ لِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَرْكُ الْإِعْرَاضِ فِيمَا لَا يُلَائِمُ.

Tawakkal adalah percaya atas perkara yang ada pada Allah dan memutuskan harapan dari perkara yang ada pada tangan manusia, Taslim adalah patuh pada perintah Allah dan meninggalkan protes dalam perkara yang tidak sesuai keinginan.(*)
 
Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto

KUA Kalimanah Ikuti Reviu dan Doa Bersama Sukses PZI Menuju WBK 2025

KUA Kalimanah saat mengikuti kegiatan Reviu dan Doa Bersama yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga melalui daring pada Jumat, 6 Februari 2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam rangka mendukung suksesnya Penilaian Pembangunan Zona Integritas (PZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) Tahun 2025, Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah mengikuti kegiatan Reviu dan Doa Bersama yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga pada Jumat, 6 Februari 2026. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui zoom meeting dan diikuti oleh seluruh satuan kerja di lingkungan Kemenag Purbalingga. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/07/menjadi-wajah-kemenag-kua-kalimanah.html

tangkapan layar aat KUA Kalimanah mengikuti kegiatan Reviu dan Doa Bersama yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga melalui daring pada Jumat, 6 Februari 2026. 

Reviu dan doa bersama ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat komitmen pembangunan Zona Integritas, khususnya dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan bebas dari praktik korupsi. 

Melalui kegiatan ini, seluruh jajaran diharapkan semakin memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam mendukung penilaian WBK Tahun 2025.

KUA Kalimanah turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama, sekaligus komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik yang profesional, akuntabel, dan berintegritas. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/05/doa-bersama-menuju-zona-integritas-kua.html

Melalui kegiatan reviu, dilakukan evaluasi terhadap berbagai program, inovasi, serta capaian yang telah dilaksanakan dalam rangka pembangunan Zona Integritas. Selain itu, kegiatan doa bersama menjadi momentum spiritual untuk memohon keberkahan dan kelancaran proses penilaian WBK, sekaligus memperkuat semangat integritas seluruh aparatur Kementerian Agama.

Kepala KUA Kalimanah, H. Kholidin, menyambut baik kegiatan ini sebagai penguatan komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. 

"Dengan penerapan nilai-nilai integritas, diharapkan pelayanan yang diberikan semakin profesional, transparan, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat," harapnya.

Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, KUA Kalimanah menegaskan dukungannya terhadap program pembangunan Zona Integritas serta optimisme bersama dalam mewujudkan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga yang berpredikat Wilayah Bebas dari Korups.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 03 Februari 2026

PAI KUA Kalimanah, Turut Hadir Menguatkan, Menjaga Posko, dan Menghibur Korban Banjir Bandang

PAI KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba (nomor delapan dari kiri) saat foto bersama dengan petugas jaga di Posko Keagamaan Kemenag Purbalingga di Desa Sangkanayu, Senin (/2/2026). (Foto: istimewa)

Purbalingga-Kepedulian dan ketulusan ditunjukkan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba, yang turut aktif dalam pelayanan kemanusiaan di Posko Layanan Keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Senin (2/2/2026) kemarin. 

Kehadirannya di tengah para korban banjir bandang tidak hanya membawa empati dan doa, tetapi juga penguatan mental, trauma healing, serta bantuan nyata melalui aktivitas jaga posko dan pendistribusian bantuan. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kegiatan

Bersama tim Penyuluh Agama Islam Kankemenag Purbalingga, Azizah Dwi Purba terlibat langsung dalam kegiatan pendampingan spiritual yang dilaksanakan di Posko Layanan Keagamaan Desa Sangkanayu Kecamatan Mrebet dan Desa Serang Kecamatan Karangreja. 

"Kegiatan ini bertujuan menenangkan hati para penyintas sekaligus membangkitkan kembali semangat dan harapan mereka pascabencana banjir bandang yang terjadi sepekan sebelumnya," ucapnya.

Rangkaian kegiatan dipandu oleh PAI KUA Purbalingga, Siti Suwarti dan Arin Hidayat, dengan mengajak para korban bershalawat bersama, berdoa, serta mengikuti sesi motivasi dan trauma healing. Melalui lantunan shalawat dan pendekatan yang humanis, suasana posko menjadi lebih hangat dan penuh ketenangan. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/solidaritas-kemanusiaan-kua-kalimanah.html 

Selain memberikan pendampingan rohani, Azizah Dwi Purba bersama para penyuluh lainnya juga secara bergiliran menjaga posko layanan keagamaan serta membantu proses pendataan dan pendistribusian bantuan kepada warga terdampak. 

PAI KUA Purbalingga, Siti Suwarti saat berkegiatan bersama PAI KUA Kalimanah dan Padamara di Posko Keagamaan Kemenag Purbalingga di Desa Sangkanayu, Senin (/2/2026). (Foto: istimewa)

"Peran ini menjadi bagian penting dari pelayanan Kementerian Agama yang menyentuh aspek spiritual sekaligus sosial kemanusiaan," katanyakepada D'Japri.

Turut hadir dan berkontribusi dalam kegiatan tersebut PAI lainnya, yakni Sri Agustianingsih (KUA Purbalingga), Siti Ubaidah (KUA Padamara), serta Azizah Dwi Purba (KUA Kalimanah). Kebersamaan para penyuluh ini memperkuat sinergi layanan keagamaan di masa tanggap darurat bencana.

Sedikitnya 50 peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Antusiasme terlihat saat sesi interaktif dan kuis yang dipandu oleh Arin Hidayat, yang mampu menghadirkan tawa dan keceriaan, memberikan ruang kebahagiaan di tengah situasi sulit yang sedang mereka hadapi.

Melalui kegiatan ini, para Penyuluh Agama Islam berharap pendampingan yang diberikan dapat menjadi penguat batin, menumbuhkan optimisme, serta membantu proses pemulihan psikologis masyarakat terdampak. 

"Kehadiran penyuluh diharapkan menjadi pengingat bahwa para korban tidak sendiri dalam menghadapi ujian ini," harapnya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan kepada seluruh korban banjir bandang, serta memudahkan langkah mereka untuk membangun kembali rumah, desa, dan kehidupan yang lebih baik ke depan.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Senin, 02 Februari 2026

Solidaritas Kemanusiaan KUA Kalimanah, Himpun Donasi untuk Korban Banjir Bandang Karangreja–Mrebet

Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Khloidin, MSI (Kiri) saat memimpin Rakor rutin dan pembahasan rencana pengumpulan dana untuk orban musibah banjir bandang Karangreja dan Mrebet, Kamis (29/1/206) lalu. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah dalam menggalang donasi untuk membantu para korban musibah banjir bandang yang melanda wilayah Karangreja dan Mrebet sepekan lalu.

Rencananya, donasi akan disalurkan melalui rekening Posko Pelayanan Keagamaan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Senin (2/2/2026).

Donasi tersebut berhasil dihimpun dari seluruh pegawai KUA Kalimanah dengan total dana sebesar Rp 800.000,-. Bantuan ini disalurkan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan kepedulian terhadap warga yang terdampak bencana alam akibat hujan berintensitas tinggi di lereng Gunung Slamet. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/rakor-kua-kalimanah-menguatkan.html

Kepala KUA Kalimanah Drs. H. Khloidin, MSI menyampaikan harapannya agar donasi yang terkumpul dapat memberikan manfaat nyata dan sedikit meringankan beban para korban musibah.

Ia menegaskan bahwa kehadiran KUA tidak hanya sebatas pelayanan administrasi keagamaan, tetapi juga bagian dari kepedulian sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini dapat membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Ini adalah bentuk empati dan kebersamaan keluarga besar KUA Kalimanah,” ungkapnya. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/pai-kua-kalimanah-salurkan-bantuan-mt.html

Ia menambhakan untuk tetap tabah dan sabar menghadapi musibah dan tetap semangat menjalani hidup dan kehidupan

Sebelumnya, pada Ahad, 1 Februari 2026, Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah juga turut menginisiasi penggalangan donasi bersama Majelis Taklim (MT) dan TPQ Al Ittihad Karangmanyar. Dana yang terkumpul dari kegiatan tersebut telah disalurkan melalui NU Care Kabupaten Purbalingga untuk membantu para korban banjir bandang.

Selain itu, Penyuluh Agama Islam lainnya juga melakukan hal serupa dengan menyampaikan rasa empati, doa, serta dorongan moril kepada jamaah dan majelis taklim binaan di wilayah masing-masing. 

Melalui mimbar dakwah, pengajian, dan forum keagamaan, para penyuluh mengajak umat untuk memperkuat solidaritas, memperbanyak doa, serta menumbuhkan kepedulian sosial bagi para korban bencana.

Melalui peran KUA dan Penyuluh Agama Islam, nilai-nilai keagamaan terus dihadirkan dalam bentuk aksi nyata, menyatukan doa, empati, dan kepedulian sosial bagi mereka yang sedang diuji oleh musibah.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

#23 Menata Hidup dengan Hikmah: Pelajaran Berharga dari Maqolah 36–40 Nashoihul Ibad

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 23 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (11/2/2026). (Foto: Rizal) Pur...