Rabu, 15 Juli 2026

#36 Meraih Ridha Allah: Hikmah Surga, Pengendalian Diri, dan Menjaga Lisan dalam Nashoihul 'Ibad

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat menyampaikan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-36 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah Pujianto, Rabu (15/7/2026). 

Berikut ringkasan Hasil Kajian

Kajian Maqolah 19–21 dalam Kitab Nashoihul 'Ibad mengajarkan bahwa tujuan tertinggi seorang mukmin bukan sekadar memperoleh kenikmatan surga, tetapi meraih ridha Allah SWT.

Pada Maqolah 19, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada empat kenikmatan di surga yang nilainya lebih agung daripada surga itu sendiri, yaitu kekal di dalamnya, pelayanan para malaikat, kedekatan dengan para nabi, dan puncaknya adalah ridha Allah.

Sebaliknya, di neraka terdapat empat penderitaan yang lebih berat daripada api neraka, yaitu kekal di dalamnya, celaan malaikat, bertetangga dengan setan, dan yang paling dahsyat adalah murka Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ridha dan murka Allah merupakan inti dari kebahagiaan maupun kesengsaraan manusia.

Pada Maqolah 20, seorang ahli hikmah menggambarkan prinsip hidup seorang mukmin yang ideal, yaitu selalu selaras dengan perintah Allah, menentang hawa nafsu, menebarkan nasihat kepada sesama, dan memanfaatkan dunia hanya sebatas kebutuhan. Pesan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara hubungan dengan Allah, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan sikap zuhud terhadap dunia.

Sementara itu, Maqolah 21 merangkum empat mutiara hikmah yang diambil dari kitab-kitab samawi: ridha terhadap rezeki Allah melahirkan ketenangan, mengendalikan syahwat membawa kemuliaan, tidak bergantung kepada manusia mendatangkan keselamatan, dan menjaga lisan menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa menjaga lisan termasuk amalan yang paling dicintai Allah, sementara banyak diam dan menjauhi percakapan yang tidak bermanfaat merupakan bagian penting dari keselamatan seorang mukmin.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

 BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 19

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: [أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) نَفْسِهَا (الْخُلُودُ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) أَيْ إطَالَةُ الْإِقَامَةِ فِي الْجَنَّةِ أَنْعَمُ لِأَهْلِهَا مِنْ وُجُودِ نَفْسِ الْجَنَّةِ (وَخِذْمَةُ الْمَلَائِكَةِ فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) فَخِدْمَةُ الْمَلَائِكَةِ تَدُلُّ عَلَى زِيَادَةِ ارْتِفَاعِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (وَجِوَارُ الْأَنْبِيَاءِ) بِكَسْرِ الْجِيمِ وَضَمِّهَا مِنْ قُرْبِهِمْ (فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَحَسُنَ أُوْلّئِكَ رَفِيْقًا﴾ [النِّسَاءُ: الْآيَةَ ٦٩]، (وَرِضَا اللَّهِ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ) عَنْ أَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) لِأَنَّ رِضْوَانَ اللَّهِ تَعَالَى أَكْبَرُ مِنْ جَمِيعِ النِّعَمِ.

Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Nabi sesungguhnya Nabi bersabda: Empat) Dari perkara (Di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Dzatnya Surga (Kekal di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Maksudnya lama tinggal di dalam surga itu lebih nikmat bagi penduduk surga daripada keberadaan surga itu sendiri (Dan berkhidmatnya para malaikat di dalam surga) Kepada penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Maka berkhidmahnya para malaikat itu menujukkan atas lebih tingginya derajat penduduk surga (Dan bertetangga dengan para Nabi) Ladadz جِوَارُ dengan mengkasrohkan huruf jim atau mendhommahkannya karena dekat dengan mereka (Di dalam surga) Bagi penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Dan sebaik-baiknya para nabi itu sebagai teman﴿ [An-Nisa: Ayat 69] (Dan ridho Allah Ta'ala di dalam surga) Pada penduduka surga (Itu lebih baik daripada surga) Karena sesungguhnya ridho allah Ta'ala itu lebih besar daripada seluruh jenis kenikmatan.

(وَأَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) نَفْسِهَا (اَلْخُلُودُ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) أَيْ طُولُ الْإِقَامَةِ فِيهَا أَشَدُّ عَلَى أَهْلِهَا مِنْ دُخُولِهَا (وَتَوْبِيْخُ الْمَلَائِكَةِ الْكُفَّارَ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالتَّوْبِيخُ التَّعْيِيرُ وَالتَّعْنِيفُ وَالتَّهْدِيدُ (وَجِوَارُ الشَّيْطَانِ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالشَّيْطَانُ قَرِينُ أَهْلِهَا فِي سِلْسِلَةٍ وَاحِدَةٍ (وَغَضَبُ اللَّهِ تَعَالَى فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ]) وَأَهْلُ اللَّهِ تَعَالَى لَا يُبَالُونَ مِنْ دُخُولِ النَّارِ إذَا حَصَلَ لَهُمُ الرِّضْوَانُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَالْحَيَّاتُ وَالْعَقَارِبُ فِي النَّارِ لَا تَتَأَلَّمُ بِهَا لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَضِيَ عَنْهَا فِي دُخُولِهَا النَّارَ.

(Dan empat) Dari perkara (Di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Dzatnya neraka (Kekal di dalam neraka) Maksudnya lama tinggal di dalam neraka itu lebih buruk atas penduduk neraka daripada masuk ke dalam neraka (Dan menegurnya para malaikat kepada orang kafir di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Taubikh adalah mengibaratkan dan menegur dan menggertak (Dan bertetangga dengan setan di neraka itu lebih buruk daripada neraka) Maka setan itu mendampingi ahli neraka dalam rantai yang satu (Dan murka Allah Ta'ala di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka]) Dan para wali Allah Ta'ala itu mereka tidak perduli masuk neraka ketika hasil kepada mereka ridho dari Allah Ta'ala. Maka ular-ular dan kalajengking-kalajengking di dalam neraka itu tidak merasa sakit sebab neraka karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah ridho kepada mereka dalam masuknya mereka ke dalam neraka.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 20

(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ حِينَ سُئِلَ كَيْفَ أَنْتَ) أَيْ عَلَى أَيِّ حَالٍ أَنْتَ (فَقَالَ: أَنَا مَعَ الْمَوْلَى) أَيْ الْمُتَوَلِّي لِأُمُورِنَا (عَلَى الْمُوَافَقَةِ) لِأَوَامِرِهِ (وَمَعَ النَّفْسِ عَلَى الْمُخَالَفَةِ) لِمُرَادَاتِهَا (وَمَعَ الْخَلْقِ عَلَى النَّصِيحَةِ) وَهِيَ الدُّعَاءُ إِلَى مَا فِيهِ الصَّلَاحُ وَالنَّهْيُ عَمَّا فِيهِ الْفَسَادُ (وَمَعَ الدُّنْيَا) أَيْ مَتَاعِهَا (عَلَى الضَّرُورَةِ) أَيْ الْحَاجَةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي لَا مَدْفَعَ لَهَا.

Maqolah yang ke dua puluh (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana ketika ditanya bagaimana kamu) Maksudnya dalam kondisi apa kamu (Kemudian ia menjawab: Aku bersama tuhan) Maksudnya dzat yang mengatur urusan kita (Dalam keserasian) pada perintah-perintah tuhan (Dan bersama nafsu dalam keadaan menyelisihi) pada yang di inginkan nafsu (Dan bersama makhluk dalam nasihat) Nasihat adalah mengajak kepada perkara yang didalamnya ada kemaslahatan dan mencegah dari perkara yang di dalamnya ada kerusakan (Dan bersama dunia) Maksudnya kesenangan dunia (Dalam kedaruratan) Maksudnya kebutuhan yang pasti yang tidak bisa ditolak pada kebutuhan itu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 21

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (اِخْتَارَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ (مِنْ أَرْبَعَةِ كُتُبٍ) سَمَاوِيَّةٍ (مِنَ التَّوْرَاةِ: مَنْ رَضِيَ بِمَا أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى) مِنَ الرِّزْقِ (اسْتَرَاحَ) أَيْ صَارَ تَعَبُهُ ذَاهِبًا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الْإِنْجِيلِ: مَنْ هَدَمَ الشَّهَوَاتِ) أَيْ مَنْ تَرَكَ مُشْتَاقَاتِ النَّفْسِ (عَزَّ) أَيْ صَارَ قَوِيًّا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الزَّبُورِ: مَنْ تَفَرَّدَ) بِنَفْسِهِ وَبِمَالِهِ (عَنِ النَّاسِ نَجَا) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْهَلَاكِ وَبَعُدَ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (وَمِنَ الْفُرْقَانِ: مَنْ حَفِظَ اللِّسَانِ) مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَمِمَّا لَا يُعْتَدُّ بِهِ (سَلِمَ) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْآفَاتِ (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ).

Maqolah yang ke dua puluh satu (Telah memilih sebagian orang-orang yang bijaksana pada empat kalimat) Maksudnya pada empat jumlah (Dari empat kitab-kitab) Samawi (Dari kitab Taurat: Barang siapa yang ridho atas perkara yang telah memberikan kepadanya Allah Ta'ala) Dari rizqi (Maka menjadi tenang) Maksudnya jadi rasa lelahnya orang itu menghilang (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab Injil: Barang siapa yang menghancurkan syahwat-syahwatnya) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan perkara yang diinginkan nafsu (Maka mulia) Maksudnya ia menjadi kuat (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab zabur: Barang siapa yang menyendiri) dengan dirinya dan dengan hartanya (Dari manusia maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan dan ia jauh dari kerusakan itu di dunia dan di akhirat (Dan dari Al-Furqon: Barang siapa yang menjaga pada lisan) Dari perkara yang tidak ada faedah di dalamnya dan dari perkara yang tidak di anggap dengannya (Maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan-kerusakan (Di dunia dan di akhirat).

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى حِفْظُ اللِّسَانِ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [الْعَافِيَةُ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ: تِسْعَةٌ فِي الصَّمْتِ وَالْعَاشِرَةُ فِي الْعُزْلَةِ عَنِ النَّاسِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah menjaga lidah] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Keselamatan itu ada 10 bagian yang kesembilan itu dalam diam dan kesepuluh itu dalam menyendiri dari manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailimi.


Nashoihul Ibad Bab 4
Source: https://lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto 

Eco Office: KUA Kalimanah Wujudkan Gerakan Menanam dan Merawat Tanaman

Mukhyono dan Imam Edi siswanto, saat melaksanakan piket dengan merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)

Purbalingga-Suasana hijau dan asri terus dihadirkan di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melalui kegiatan menyiram, merawat, dan menanam tanaman hias yang dilaksanakan pada Rabu (15/7/2026) pagi. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen KUA Kalimanah dalam mendukung program Eco Office dan Eco Teologi Kementerian Agama Republik Indonesia.

Tampak Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, saat membawa bibit tanaman bunga di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)

Sesuai jadwal piket, kegiatan perawatan lingkungan pada hari tersebut dilaksanakan oleh Mukhyono, Imam Edi Siswanto, dan Siti Sholihatun. Namun, semangat menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan oleh petugas piket. 

Seluruh pegawai dan mahasiswa dari UIN Saizu Purwokerto yang sedang PKL turut berpartisipasi, mulai dari membersihkan meja kerja, kursi, lemari, pintu, jendela, hingga berbagai fasilitas pelayanan agar tetap bersih, rapi, dan bebas dari debu.

Prayitno dan Supriyono yang selalu senyum ceria menyambut tamu di ruang fron office KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=tanaman 

Di saat yang sama, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., turut menanam tanaman perdu di pot-pot yang menghiasi halaman kantor.

Kholidin menyampaikan bahwa menjaga lingkungan kerja yang bersih, hijau, dan nyaman merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, lingkungan yang asri tidak hanya menciptakan suasana kerja yang sehat dan menyenangkan, tetapi juga menjadi wujud nyata implementasi nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kepedulian terhadap alam sebagai amanah dari Allah Swt.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/12/kua-kalimanah-publikasikan-video.html 

Prayitno dan Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto, bergtong royong merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Melalui kegiatan sederhana seperti menyiram, merawat, dan menanam tanaman, diharapkan dapat membangun budaya cinta lingkungan di lingkungan kerja. 

"Ini merupakan implementasi program Eco Office dan Eco Teologi yang dicanangkan Kementerian Agama, sekaligus menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah," ucapnya.

Program Eco Office mendorong terciptanya tata kelola perkantoran yang ramah lingkungan melalui berbagai langkah nyata, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, serta efisiensi penggunaan sumber daya. 

Mughofar saat membersihakan fasilitas kantor dari debu di KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sementara itu, Eco Teologi mengajak seluruh insan Kementerian Agama untuk menginternalisasikan nilai-nilai ajaran agama dalam menjaga kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.

Melalui kegiatan ini, KUA Kalimanah berharap semangat mencintai lingkungan dapat terus tumbuh di kalangan ASN dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam demi mewujudkan lingkungan yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Quality Control: KUA Kalimanah Perkuat Budaya Kerja Melalui Kebersihan Lingkungan dan Penguatan Pelayanan

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Setelah melaksanakan kegiatan perawatan tanaman, penyiraman, penataan pot bunga, serta membersihkan lingkungan kantor, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya kerja yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026) pagi.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin 

Dalam kegiatan quality control tersebut, Kholidin menegaskan tiga hal penting yang harus menjadi komitmen bersama seluruh ASN. 

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti doa bersama pada acara evaluasi dan penguatan budaya kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Pertama, menjaga kerapian dan kebersihan kantor beserta lingkungan kerja sebagai bagian dari budaya kerja yang harus melekat dalam setiap aktivitas pelayanan. 

Kedua, menerapkan prinsip eco office melalui kepedulian terhadap lingkungan, di antaranya dengan merawat tanaman serta menanam berbagai jenis bunga dan tanaman perdu agar tercipta suasana kantor yang asri dan nyaman. 


Ketiga, membangun suasana kerja yang harmonis serta komunikasi yang baik antarsesama pegawai guna mendukung terciptanya pelayanan prima dan meningkatkan kepuasan masyarakat yang datang ke KUA Kalimanah.

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad, Rabu (15/7/2026. (Foto: Azizah Dwi Purba)

Usai kegiatan evaluasi, seluruh ASN melanjutkan agenda dengan mengikuti kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad sebagai sarana memperkuat nilai-nilai spiritual dan etika dalam menjalankan tugas serta pengabdian kepada masyarakat.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Jumat, 10 Juli 2026

Quality Control: Kepala KUA Kalimanah Tekankan Mutu Layanan dan Budaya Kerja

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan dan penguatan budaya kerja dalam rapat koordinasi rutin yang digelar pada Jumat (10/7/2026). 

Rapat tersebut diikuti seluruh pegawai sebagai momentum evaluasi sekaligus penyamaan langkah dalam meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam arahannya, Kholidin menekankan bahwa quality control harus diterapkan secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek lahiriah seperti kerapian penampilan dan administrasi, tetapi juga pada kualitas batin berupa keikhlasan, integritas, serta sikap dalam melayani masyarakat. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Rakor 

"Keselarasan antara penampilan lahir dan akhlak akan melahirkan pelayanan yang profesional sekaligus humanis," ucapnya.

Suasa rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/7/2026). (Foto: Rizal Nur Ahmadi)

Selain itu, ia mengingatkan seluruh pegawai agar senantiasa responsif terhadap kondisi dan dinamika di lingkungan kantor, baik yang berkaitan dengan tugas, tanggung jawab, maupun perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. 

Sikap peduli terhadap lingkungan kerja dinilai menjadi bagian penting dalam membangun budaya organisasi yang sehat dan produktif.

Pada kesempatan tersebut, Kholidin juga menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan kegiatan santunan anak yatim dalam rangka Peaceful Muharam 1448 Hijriah. 

Ia berharap semangat kebersamaan dan kepedulian sosial tersebut terus dipertahankan dalam berbagai program pelayanan kepada masyarakat.

Rapat juga membahas dukungan terhadap program nasional Rashdul Kiblat, di mana seluruh ASN KUA Kalimanah didorong untuk berpartisipasi aktif dengan terlebih dahulu membuat akun pada aplikasi Indonesia Berkiblat

Program ini diharapkan semakin meningkatkan pemahaman dan akurasi arah kiblat di tengah masyarakat.

Di bidang penataan lingkungan, seluruh pegawai diajak mewujudkan konsep Eco Office melalui kepedulian menjaga dan merawat tanaman serta pepohonan di lingkungan kantor agar tercipta suasana kerja yang hijau, bersih, dan nyaman. 

Menutup rapat, disampaikan pula laporan bahwa pekerjaan teknis pengecatan kantor telah selesai dilaksanakan sehingga diharapkan semakin mendukung kenyamanan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.(*)

Pewarta: Imam Edii Siswanto 

Peaceful Muharam: KUA dan PPAI Kalimanah Gelar Lebaran Yatim 1448 H, 25 Anak Yatim Dapat Santunan

Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah bersama Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kecamatan Kalimanah menggelar kegiatan Lebaran Yatim 1448 H bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat" di Aula PPAI Kalimanah, Kamis (9/7/2026) kemarin. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Dalam semangat Peaceful Muharam 1448 Hijriah, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah bersama Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kecamatan Kalimanah menggelar kegiatan Lebaran Yatim 1448 H bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat" di Aula PPAI Kalimanah, Kamis (9/7/2026) kemarin.

Sebanyak 25 anak yatim menerima santunan yang berasal dari donasi para guru, ASN, dan para dermawan dengan total dana terkumpul sebesar Rp7.800.000.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/2026/07/peaceful-muharam-1448-h-kua-kalimanah.html 

Kepala KUA Kalimanah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pengawas Pendidikan, Kelompok Kerja Madrasah (KKM), kepala madrasah, guru, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pengawas, KKM, dan seluruh guru madrasah atas kepedulian dan kebersamaan dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Semoga menjadi amal kebaikan yang membawa keberkahan bagi semua," katanya.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Kholidin (nomor dua dari kanan)  bersama Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kecamatan Kalimanah, Aris Sumanto (kiri) saat di acara Lebaran Yatim 1448 H bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat" di Aula PPAI Kalimanah, Kamis (9/7/2026) kemarin. (Foto: Imam Edi Siswanto)
 

Kepada para penerima santunan, Kholidin berpesan agar terus bersemangat dalam menuntut ilmu, senantiasa berbakti kepada orang tua, serta menghormati para guru sebagai bekal meraih masa depan yang lebih baik.

"Semangat belajar, doakan orang tua sebagai bukti kalian anak-anak yang saleh dan salehah, serta taati bapak dan ibu guru kalian," pesannya.

Melalui kegiatan Lebaran Yatim ini, KUA Kalimanah bersama KKM Madrasah berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat, sehingga nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan keberkahan Muharam dapat dirasakan oleh seluruh lapisan umat.

Turut hadir Pengawas Pendidikan Madrasah, Aris Sumanto, Ketua Panitia, Puji Haryono dipercaya sebagai Ketua Panitia, didampingi Zamroni Irham sebagai Sekretaris dan Eksi Fajriati sebagai Bendahara. Sementara itu, Firman Yuwono, Joko Waluyo, dan Rizal Nur Ahmadi bertugas sebagai anggota.(*)

Kontributor: Azizah Dwi Purba
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 08 Juli 2026

#35 Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-35 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, PAI KUA Kalimanah, Pujianto  dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (8/7/2026). 

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17 dan 18:

Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Dalam Maqolah ke-18, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki empat permata (jauhar) yang menjadi perhiasan dalam hidup, yaitu:

  1. Akal – cahaya dalam hati yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
  2. Agama – petunjuk Allah yang diterima oleh orang-orang berakal melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
  3. Rasa malu (ḥayā') – sifat mulia yang mendorong seseorang menjauhi kemaksiatan.
  4. Amal saleh – segala amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Namun, empat permata tersebut dapat rusak oleh empat penyakit hati, yaitu:

  • Marah (Ghadab) menghilangkan akal. Saat marah, seseorang sulit berpikir jernih sehingga mudah berbuat salah. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjauhi sifat marah karena dapat merusak keimanan.
  • Hasad (Dengki) menghilangkan agama. Hasad adalah berharap nikmat orang lain hilang. Penyakit ini mengikis pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pembagian rezeki Allah.
  • Tamak (Thama') menghilangkan rasa malu. Keinginan yang berlebihan terhadap harta, jabatan, atau dunia membuat seseorang kehilangan kehormatan dan mudah melakukan hal yang tidak pantas.
  • Ghibah (Menggunjing) menghilangkan amal saleh. Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain di belakangnya meskipun benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka menjadi fitnah (buhtan), sedangkan jika diucapkan di hadapannya dengan maksud menyakiti termasuk mencaci maki.

Hikmah Kajian

Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan lahiriah. Akal, agama, rasa malu, dan amal saleh adalah modal utama seorang Muslim. Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan amarah, menjauhi hasad, menahan ketamakan, dan menjaga lisan dari ghibah agar keimanan tetap terpelihara dan amal ibadah tidak sia-sia.

Pesan utama: Jagalah empat permata dalam diri—akal, agama, malu, dan amal saleh—dengan menjauhi empat penyakit hati: marah, hasad, tamak, dan ghibah. Siapa yang mampu menjaga hatinya, ia akan menjaga agamanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: اَلْأُمَّهَاتُ) أَيْ الْأُصُولُ (أَرْبَعٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (أُمُّ الْأَدْوِيَةِ) جَمْعُ دَوَاءٍ وَهُوَ مَا يُتَدَاوَى بِهِ (وَأُمُّ الْآدَابِ) وَهِيَ مَعْرِفَةُ مَا يُحْتَرَزُ بِهِ عَنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْخَطَأِ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ) وَهِيَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيمًا لِرَبِّهِ (وَأُمُّ الْأَمَانِي) جَمْعُ أُمْنِيَّةٍ وَهُوَ تَقْدِيرُ حُصُولِ شَيْءٍ مُمْتَنِعٍ أَوْ مُمْكِنٍ (فَأُمُّ الْأَدْوِيَةِ قِلَّةُ الْأَكْلِ) فَإِنَّ الْاِحْتِمَاءَ مِنْ أَكْلِ مَا يَضُرُّ خَيْرٌ مِنَ الْأَدْوِيَةِ لِكُلِّ دَاءٍ (وَأُمُّ الْآدَابِ قِلَّةُ الْكَلَامِ) فَكَثْرَةُ الْكَلَامِ تُنْفِي الْأَدَبَ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ قِلَّةُ الذُّنُوبِ) فَالذُّنُوبُ تُنْفِي الْعِبَادَةَ الَّتِي هِيَ تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمُّ الْأَمَانِي الصَّبْرُ) وَهُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، فَالصَّبْرُ أَمَرُّ مِنَ الصِّبْرِ. وَيُقَالُ: بِالصَّبْرِ تَنَالُ مَا تُرِيدُ وَبِالتَّقْوَى يَلِيْنُ لَكَ الْحَدِيدُ.

Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُ adalah jamak dari lafadz دَوَاءٌ yaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab)

Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadz الْأَمَانِي adalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌ yaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan) 

Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama 

(Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar) Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak kepadamu besi.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 18

 الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَرْبَعَةُ جَوَاهِرَ) وَهِيَ لِبَاسُ الطَّبِيعَةِ (فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُهَاأَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ (أَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ) وَهُوَ جَوْهَرٌ رُوحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى مُتَعَلِّقًا بِبَدَنِ الْإِنْسَانِ (وَالدِّينُ) وَهُوَ مَا يَدْعُو أَصْحَابُ الْعُقُولِ إِلَى قَبُولِ مَا هُوَ مِنَ الرّسُولِ ﷺ (وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ) أَيْ الْخَالِصُ (فَالْغَضَبُ يُزِيلُ الْعَقْلَ) وَهُوَ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ.

Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal) 

Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مُعَاوِيَةُ إِيَّاكَ وَالْغَضَبَ فَإِنَّ الْغَضَبَ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni pada madu] telah meriwayatkan hadits ini  Imam Al-Baihaqi

(وَالْحَسَدُ) وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْغَيْرِ (يُزِيلُ الدِّينَ) أَيْ الشَّرِيعَةَ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ] رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. قَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْمُتَقَارِبِ]

(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]

أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ * أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ * أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ
وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ * فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي
Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud * Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab
Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah * Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan
Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku * Dan Allah menutup atasmu segala bentuk permintaan

(وَالطَّمَعُ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِي الشَّيْءِ (يُزِيلُ الْحَيَاءَ، وَالْغِيبَةُ تُزِيلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ) وَالْغِيبَةُ بِكَسْرِ الْغَيْنِ أَنْ يَذْكُرَ الشَّخْصُ مَسَاوِيَ الْإِنْسَانِ فِي غَيْبَتِهِ وَهِيَ فِيهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ فَهِيَ بُهْتَانٌ وَإِنْ وَاجَهَهُ بِهَا فَھوَ شَتْمٌ.

(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُ dengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 03 Juli 2026

Peaceful Muharam 1448 H: PAI KUA Kalimanah Merawat Rumah Allah, Menebar Kepedulian

Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)

PURBALINGGA – Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi.

Kegiatan dimulai pukul 07.20 hingga 08.45 WIB dengan fokus membersihkan lingkungan masjid, mulai dari mencabuti rumput liar di halaman, membersihkan selokan agar aliran air tetap lancar, hingga menyapu seluruh area pelataran masjid. Suasana penuh semangat dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan yang diikuti enam Penyuluh Agama Islam, yaitu Imam Edi Siswanto, Pujianto, Mughofar, Moh. Agus Zaenal Abidin, Azizah Dwi Puba, dan Zamroni Irham serta karyawan KUA Kalimanah, Jumari.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/sukseskan-geber-bbm-pai-kua-kalimanah.html 

Dengan mengenakan pakaian kerja lapangan (berkaos), para penyuluh bahu-membahu membersihkan setiap sudut lingkungan masjid. Aksi sederhana tersebut menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Program GEBER MASJID merupakan salah satu rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 H yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI sebagai upaya menumbuhkan semangat kepedulian terhadap rumah ibadah sekaligus mengajak masyarakat membangun budaya gotong royong. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan, serta penguatan nilai-nilai sosial dan kebersamaan.

Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah ingin menegaskan bahwa kebersihan masjid adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan masjid yang bersih, rapi, dan nyaman akan menghadirkan kekhusyukan dalam beribadah serta memberikan kesan positif bagi setiap jamaah yang datang.

Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, GEBER MASJID memiliki makna mendalam sebagai simbol membersihkan diri dalam menyambut Tahun Baru Islam. Sebagaimana halaman masjid dibersihkan dari rumput liar dan kotoran, demikian pula setiap Muslim diajak membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, memperbaiki akhlak, serta memperkuat keimanan sebagai bekal memasuki lembaran baru di bulan Muharam.


Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan rumah ibadah, mempererat ukhuwah Islamiyah melalui budaya gotong royong, menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid, serta mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang bersih, nyaman, dan memakmurkan umat.

Semangat yang ditunjukkan para Penyuluh Agama Islam diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan masjid secara berkelanjutan. Dengan semangat Peaceful Muharam 1448 H, gerakan kecil yang dilakukan bersama diyakini mampu menghadirkan perubahan besar, dimulai dari lingkungan masjid menuju masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan berakhlak mulia.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

#36 Meraih Ridha Allah: Hikmah Surga, Pengendalian Diri, dan Menjaga Lisan dalam Nashoihul 'Ibad

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat menyampaikan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/20...