Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-45 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (28/10/2026).
Dalam Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 9, Abdullah bin Amr bin Ash r.a. menjelaskan lima amalan yang menjadi jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Inti ajarannya adalah membiasakan diri mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik ketika mendapatkan nikmat, menghadapi musibah, memulai pekerjaan, maupun saat menyadari kesalahan.
Lima Amalan Menuju Kebahagiaan
2. Bersabar ketika menghadapi musibah. Mengucapkan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn dan Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīm sebagai pengakuan bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah.
3. Bersyukur ketika memperoleh nikmat. Mengucapkan Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn sebagai wujud kesadaran bahwa setiap kebaikan dan kenikmatan berasal dari Allah SWT.
4. Mengawali pekerjaan dengan basmalah. Membaca Bismillāhirrahmānirrahīm agar setiap aktivitas diniatkan sebagai kebaikan dan dilakukan dengan mengingat Allah.
5. Memperbanyak istigfar dan bertobat. Mengucapkan Astaghfirullāhal ‘azhīm wa atūbu ilaih ketika menyadari dosa dan kesalahan, disertai tekad untuk memperbaiki diri.
Ketika mendapatkan nikmat, ia tidak sombong, tetapi bersyukur. Ketika tertimpa musibah, ia tidak berputus asa, tetapi bersabar dan berserah diri. Ketika memulai pekerjaan, ia mengingat Allah. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak membenarkan diri, tetapi segera memohon ampun dan bertobat.
Kitab ini juga mengutip nasihat Al-Faqih Abu Laits tentang tujuh kalimat yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari:
- Bismillah ketika memulai pekerjaan.
- Alhamdulillah ketika menyelesaikan pekerjaan.
- Astaghfirullah ketika mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat.
- Insyaallah ketika merencanakan suatu perbuatan.
- Lā haula wa lā quwwata illā billāh ketika menghadapi perkara yang berat.
- Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn ketika tertimpa musibah.
- Lā ilāha illallāh, Muhammadur rasūlullāh sebagai kalimat tauhid yang terus dibiasakan siang dan malam.
Kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau terbebasnya seseorang dari masalah. Kebahagiaan juga tumbuh dari hati yang senantiasa mengingat Allah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan tidak lelah memperbaiki diri.
Mari jadikan zikir sebagai kebiasaan, syukur sebagai sikap, sabar sebagai kekuatan, dan istigfar sebagai jalan kembali kepada Allah SWT. Dengan demikian, semoga kehidupan kita semakin berkah dan menjadi jalan meraih kebahagiaan dunia serta akhirat. آمِينَ.
![]() |
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 45, Rabu (28/10/2026). (Foto: Azizah DP) |
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا) أَيْ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَعَنْ عَمْرٍو (خَمْسٌ مَنْ كُنَّ) أَيِ اجْتَمَعْنَ (فِيهِ سَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: أَوَّلُهَا أَنْ يَذْكُرَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَقْتًا بَعْدَ وَقْتٍ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ وَلَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ] رَوَاهُ ابْنُ صَرْصَرِيٍّ.
Maqolah yang ke sembilan (Dari Abdullah bin Amr bin Ashi Radhiallahu Anhuma) Maksudnya semoga Allah meridhoi kepada Abdullah dan kepada Amr (Lima perkara barang siapa yang ada lima perkara itu) Maksudnya mengumpul lima perkara itu (Di dalam dirinya maka pasti ia akan bahagia di dunia dan di akhirat: Yang pertama adalah ia membaca لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ setiap waktu) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Perbanyaklah oleh kalian berdzikir kepada Allah Azza Wajalla pada setiap keadaan karena sesungguhnya tidak ada amalan yang lebih disukai oleh Allah dan tidak ada amalan yang lebih bisa menyelamatkan kepada seorang hamba dari setiap keburukan di dunia dan di akhirat dibandingkan dzikir kepada Allah] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Shorshori
(وَإِذَا ابْتُلِيَ بِبَلِيَّةٍ قَالَ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ.
(Dan ketika ia diuji dengan satu musibah maka ia berkata: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Janganlah kalian banyak bicara dengan tanpa berdzikir kepada Allah karena sesungguhnya banyak bicara dengan tanpa berdzikir kepada Allah itu dapat mengeraskan hati, karena sesungguhnya paling jauhnya manusia dari Allah adalah hati yang keras] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Tirmidzi.
(وَإِذَا أُعْطِيَ نِعْمَةً قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، شُكْرًاً لِلنِّعْمَةِ) عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [أَحَبُّ الْكَلَامِ إلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ] أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [قُولُوا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ وَقُولُوا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَقُولُوا تَبَارَكَ اللَّهُ فَإِنَّهُنَّ خَمْسٌ لَا يَعْدِلُهُنَّ شَيْءٌ] رَوَاهُ ابْنُ صَرْصَرِيٍّ.
(Dan ketika ia diberi suatu kenikmatan maka ia berkata: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, sebagai rasa syukur atas kenikmatan) Dari Samurah bin Jundub Radhiallahu Anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Paling disukainya bacaan oleh Allah itu ada empat: سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ tidak apa-apa bagimu dengan mana saja dari empat kalimat itu kamu memulai] Telah mengeluarkan pada hadits ini Imam Muslim dan Imam Nasa'i. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Ucapkanlah oleh kalian لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ dan ucapkanlah oleh kalian سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ dan ucapkanlah oleh kalian تَبَارَكَ اللَّهُ karena sesungguhnya kalimat-kalimat itu adalah lima kalimat yang tidak bisa menandinginya kalimat apapun] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Shorshori.
(وَإِذَا ابْتَدَأَ فِي شَيْءٍ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِحَمْدِ اللَّهِ فَهُوَ أَقْطَعُ] أَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانَ.
(Dan ketika ia memulai tentang sesuatu maka ia berkata: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Setiap perkara yang mempunya kedudukan penting yang tidak di awali di dalamnya dengan memuji kepada Allah maka perkara itu terputus] Telah mengeluarkan pada hadits ini Imam Ibnu Hibban.
(وَإِذَا أَفْرَطَ مِنْهُ ذَنْبٌ) أَيْ أَكْثَرَ ذَنْبًا صَادِرًا مِنْهُ (قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إلَيْهِ) عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ: إنَّ دَاءَكُمُ الذُّنُوبُ وَدَوَاءَكُمُ الْاِسْتِغْفَارُ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
(Dan ketika telah melampaui batas dalam dirinya dosa) Maksudnya ketika ia melakukan banyak dosa yang keluar dalam dirinya (Maka ia berkata: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إلَيْهِ) Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian pada penyakit kalian dan obat kalian: Sesungguhnya penyakit kalian adalah dosa dan sesungguhnya obat kalian adalah beristigfar] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [مَنْ لَزِمَ الْإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهِ.
Dan dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Barang siapa yang melazimkan istighfar Maka Allah akan menjadikan baginya dari setiap kesempitan jalan keluar dan dari setiap kesulitan kelonggaran dan Allah akan memberikan rizki padanya dari arah yang tidak ia sangka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah.
وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: [عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ وَالْإِسْتِغْفَارِ فَأَكْثِرُوا مِنْهُمَا فَإِنَّ إِبْلِيْسَ قَالَ: أَهْلَكْتُ النَّاسَ بِالذُّنُوبِ وَأَهْلِكُونِي بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالْإِسْتِمْفَارِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو يَعْلَى.
Dan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu dari Nabi ﷺ bersabda: [Wajib atas kalian لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ dan istighfar maka perbanyaklah oleh kalian dari membaca keduanya karena sesungguhnya Iblis berkata: Aku mencelakakan manusia dengan dosa dosa dan manusia mencelakakan aku dengan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ dan istighfar sehingga tatkala aku melihat itu maka aku mencelakakan manusia dengan hawa nafsu sementara mereka itu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang menerima petunjuk] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Abu Ya'la.
قَالَ الْفَقِيهُ أَبُو اللَّيْثِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: مَنْ حَفِظَ سَبْعَ كَلِمَاتٍ فَهُوَ شَرِيفٌ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى وَالْمَلَائِكَةِ وَيَغْفِرُ اللَّهُ ذُنُوبَهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ وَيَجِدُ حَلَاوَةَ الطَّاعَةِ وَيَكُونُ حَيَاتُهُ وَمَمَاتُهُ خَيْرًا:
Telah berkata Al-Fakih Abu Laits Rahimahullahu Ta'ala: Barang siapa yang menjaga tujuh kalimat maka ia merupakan orang mulia di sisi Allah Ta'ala dan di sisi malaikat dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun ada dosa itu seperti buih lautan dan ia akan menemukan manisnya ta'at dan ada hidupnya dan matinya sebagai kebaikan:
اَلْأُولَى: أَنْ يَقُولَ عِنْدَ ابْتِدَاءِ كُلِّ شَيْءٍ بِسْمِ اللَّهِ.
Yang pertama: Adalah hendaknya membaca ketika memulai segala sesuatu dengan بِسْمِ اللَّهِ.
وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولَ عِنْدَ فَرَاغِ كُلِّ شَيْءٍ الْحَمْدُ لِلَّهِ.
Dan yang ke dua: Adalah hendaknya membaca ketika selesai segala sesuatu dengan اَلْحَمْدُ لِلَّهِ.
وَالثَّالِثَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا جَرَى عَلَى لِسَانِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
Dan yang ketiga: Adalah hendaknya membaca ketika terjadi atas lisannya kalimat-kalimat yang tidak bermanfaat padanya dengan أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
وَالرَّابِعَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا أَرَادَ فِعْلًا إنْ شَاءَ اللَّهُ.
Dan yang keempat: Adalah hendaknya membaca ketika bermaksud pada suatu perbuatan dengan إنْ شَاءَ اللَّهُ.
وَالْخَامِسَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا اسْتَقْبَلَ إلَيْهِ فِعْلٌ مَكْرُوهٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
Dan yang kelima: Adalah hendaknya membaca ketika menghadapi kepadanya pekerjaan yang berat dengan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
وَالسَّادِسَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ: إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ.
Dan yang keenam: Adalah hendaknya membaca ketika menimpa kepadanya suatu musibah إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ.
وَالسَّابِعَةُ: لَا يَزَالُ يَجْرِي عَلَى لِسَانِهِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ كَلِمَةُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.
Dan yang ketujuh: Adalah terus menerus berjalan atas lisannya di waktu malam dan siang kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.
Sumber: lilmuslimin.comEditor: Imam Edi Siswanto

















