Rabu, 04 November 2026

#46 Menghargai Waktu Sebelum Terlambat, Ini Pesan Pentingnya

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri depan), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 46, Rabu (4/11/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada "Menghargai Waktu Sebelum Terlambat".

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-46 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto dan dijelaskan oleh Staff KUA Kalimanah, Amin Muakhor di ruang kantor setempat, Rabu (4/11/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 10, 11, dan 12
Ketiga maqolah dalam Kitab Nashoihul Ibad ini mengandung pesan penting tentang pembentukan akhlak, pengendalian diri, kesadaran terhadap keterbatasan hidup, serta pentingnya memanfaatkan kesempatan sebelum semuanya berlalu.

1. Lima Nasihat Kehidupan untuk Membentuk Pribadi yang Mulia
(Maqolah 10 – Hasan Al-Bashri رحمه الله)
Hasan Al-Bashri menyampaikan lima nasihat yang disebutkan dalam Taurat, yaitu:

  1. Kekayaan terletak pada sifat qanaah. Orang yang merasa cukup dan menerima ketentuan Allah akan memiliki ketenangan hati, meskipun hartanya tidak berlimpah.
  2. Keselamatan lisan terletak pada kemampuan menjaga pergaulan. Mengurangi pergaulan yang tidak bermanfaat dapat membantu seseorang terhindar dari perkataan buruk, ghibah, fitnah, dan permusuhan.
  3. Kemuliaan terletak pada kemampuan meninggalkan hawa nafsu. Seseorang akan memiliki kehormatan apabila mampu mengendalikan keinginan yang bertentangan dengan ajaran agama.
  4. Kenikmatan sejati berada di akhirat. Kesenangan dunia bersifat sementara, sedangkan kenikmatan surga merupakan kebahagiaan yang abadi.
  5. Kesabaran di dunia menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat. Bersabar dalam menjalankan perintah Allah, menghadapi ujian, dan menjauhi larangan-Nya merupakan perjuangan yang harus dilakukan selama hidup.

Pesan akhlak: Jangan mengukur kekayaan dari banyaknya harta, tetapi dari lapangnya hati. Jangan mengejar kehormatan dengan kesenangan sesaat, tetapi bangunlah kemuliaan melalui pengendalian diri.

2. Lima Kesempatan yang Harus Dimanfaatkan Sebelum Terlambat
(Maqolah 11 – Hadis Rasulullah ﷺ)

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar manusia memanfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima keadaan:

  1. Masa muda sebelum masa tua: Gunakan tenaga dan semangat muda untuk belajar, beribadah, serta melakukan kebaikan.
  2. Sehat sebelum sakit: Manfaatkan kesehatan untuk beramal saleh sebelum penyakit membatasi aktivitas.
  3. Kaya sebelum miskin: Gunakan kelebihan harta untuk bersedekah dan membantu orang lain sebelum kehilangan kemampuan finansial.
  4. Hidup sebelum mati: Perbanyak amal kebaikan selama masih diberikan kesempatan hidup, karena kematian akan memutus kesempatan beramal.
  5. Waktu luang sebelum sibuk: Jangan menghabiskan waktu untuk perkara yang sia-sia. Gunakan kesempatan untuk beribadah, belajar, bekerja, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Pesan akhlak: Salah satu kesalahan manusia adalah menunda kebaikan karena merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal, masa muda, kesehatan, kekayaan, kehidupan, dan waktu luang tidak selamanya menjadi milik kita.

3. Mengendalikan Nafsu agar Hati Tidak Mengeras
(Maqolah 12 – Yahya bin Mu'adz Ar-Razi رحمه الله)

Maqolah ini menjelaskan hubungan antara kebiasaan berlebihan dalam makan, meningkatnya syahwat, dosa, dan kerasnya hati.

Rangkaian nasihatnya adalah:

  1. Terlalu sering kenyang dapat meningkatkan kecenderungan mengikuti hawa nafsu.
  2. Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang melakukan banyak dosa.
  3. Dosa yang terus dilakukan dapat menyebabkan hati menjadi keras.
  4. Hati yang keras sulit menerima nasihat dan peringatan.
  5. Hati yang keras akhirnya dapat menenggelamkan seseorang dalam kesengsaraan dan godaan perhiasan dunia.

Pesan akhlak: Islam mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam urusan makan dan memenuhi keinginan. Jangan sampai seseorang begitu mudah menuruti keinginan jasmani, tetapi mengabaikan kebutuhan rohaninya.

Ulasan: Tiga Hal Penting untuk Perbaikan Akhlak
Dari ketiga maqolah tersebut, terdapat tiga pelajaran besar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Mendidik Hati agar Tidak Diperbudak Dunia
Sifat qanaah mengajarkan kita untuk tidak selalu merasa kurang. Banyak orang memiliki harta berlimpah, tetapi hidupnya tidak tenang karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Sebaliknya, orang yang qanaah mampu menikmati rezeki dengan rasa syukur, tidak iri terhadap keberhasilan orang lain, dan tidak menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan.

Qanaah bukan berarti malas bekerja atau tidak boleh kaya, melainkan bekerja keras tanpa menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan.

2. Mendidik Diri agar Tidak Menunda Kebaikan
Pesan Ightanim Khamsan Qabla Khamsin mengajarkan bahwa kesempatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Sering kali manusia baru menyadari pentingnya kesehatan ketika sakit, pentingnya waktu ketika sudah sibuk, dan pentingnya masa muda ketika telah tua.

Karena itu, jangan menunggu menjadi orang baik setelah kaya, jangan menunggu rajin beribadah setelah tua, dan jangan menunggu memiliki waktu luang untuk berbuat kebaikan.

Kebaikan yang dapat dilakukan hari ini jangan ditunda sampai esok hari.

3. Mendidik Diri Mengendalikan Hawa Nafsu
Maqolah Yahya bin Mu'adz Ar-Razi memberikan peringatan bahwa kebiasaan menuruti keinginan secara berlebihan dapat berdampak pada kondisi hati dan perilaku.

Pengendalian diri bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, mengendalikan syahwat, menjaga pandangan, mengurangi kesenangan yang berlebihan, dan membiasakan diri menerima nasihat.

Orang yang berakhlak baik bukanlah orang yang selalu menuruti keinginannya, melainkan orang yang mampu mengendalikan keinginannya agar tidak melanggar batas agama.

Ketiga maqolah ini memberikan satu benang merah bahwa perbaikan akhlak harus dimulai dari kemampuan mengendalikan hati, hawa nafsu, dan waktu.

  • Qanaah mengajarkan kita agar tidak serakah.
  • Menjaga lisan mengajarkan kita agar tidak menyakiti orang lain.
  • Mengendalikan syahwat mengajarkan kita agar tidak diperbudak keinginan.
  • Menghargai waktu mengajarkan kita agar tidak menunda kebaikan.
  • Menjaga hati mengajarkan kita agar selalu terbuka terhadap nasihat.

Pada akhirnya, orang yang mulia bukanlah orang yang mampu mendapatkan semua yang diinginkan, melainkan orang yang mampu mengendalikan keinginannya demi mendapatkan rida Allah SWT.

Mari memperbaiki akhlak sebelum usia berakhir, mengendalikan hawa nafsu sebelum menjadi kebiasaan buruk, dan memperbanyak amal sebelum datang penyesalan. Semoga kita termasuk hamba yang bijaksana dalam menjalani kehidupan dan memperoleh husnul khatimah. آمِينَ.

Suasana khusuk kajian rutin kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani KUA Kalimanah edisi ke 46, Rabu (4/11/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 10

(وَ) الْمَقَالَةُ الْعَاشِرَةُ (عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: مَكْتُوبٌ فِي التَّوْرَاةِ خَمْسَةُ أَحْرُفٍ) أَيْ جُمَلٍ (إِنَّ الْغُنْيَةَ) أَيْ الْاِكْتِفَاءَ بِالنَّفَقَةِ (فِي الْقَنَاعَةِ) أَيْ الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ وَسُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ (وَإِنَّ السَّلَامَةَ) مِنْ آفَاتِ اللِّسَانِ (فِي الْعُزْلَةِ) أَيْ الْخُرُوجِ عَنْ مُخَالَطَةِ الْخَلْقِ بِالِانْقِطَاعِ (وَإِنَّ الْحُرْمَةَ) أَيْ الْعَظَمَةَ (فِي رَفْضِ الشَّهَوَاتِ) أَيْ فِي تَرْكِهَا (وَإِنَّ التَّمَتُّعَ) أَيْ كَمَالَ الِانْتِفَاعِ (فِي أَيَّامٍ طَوِيلَةٍ) أَيْ فِي الْآخِرَةِ فِي الْجَنَّةِ (وَإِنَّ الصَّبْرَ) عَلَى مَشَاقِّ أَدَاءِ الْأَوَامِرِ وَتَحَمُّلِ الْمَرَازِي وَعَنْ اجْتِنَابِ الْمَنَاهِي (فِي أَيَّامٍ قَلِيلَةٍ) أَيْ فِي الدُّنْيَا.

Maqolah yang ke sepuluh (Dari Hasan Al-Bashri Rahimahullah sesungguhnya ia berkata: ditulis di dalam kitab Taurat lima huruf) Maksudnya lima jumlah (Sesungguhnya kaya) Maksudnya cukup dengan nafakah (Itu dalam sifat qona'ah) Maksudnya ridho pada bagian dan tenangnya hati ketika tidak adanya perkara yang menjadi kebiasaannya (Dan sesungguhnya keselamatan) Dari kerusakan lisan (Itu dalam ujlah) Maksudnya keluar jauh dari berbaur dengan makhluk dengan menyendiri (Dan sesungguhnya kehormatan) Maksudnya keagungan (Itu dalam menolak syahwat) Maksudnya dalam meninggalkan syahwat (Dan sesungguhnya kenikmatan) Maksudnya sempurnanya menerima manfaat (Itu di hari-hari yang panjang) Maksudnya di akhirat di surga (Dan sesungguhnya sabar) di atas beratnya menunaikan perintah-perintah dan menanggung terhadap ujian-ujian dan dari menjauhi larangan-larangan (Itu di hari-hari yang sedikit) Maksudnya di dunia.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 11

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ:) أَيْ اِفْعَلْ خَمْسَةَ أَشْيَاءَ قَبْلَ حُصُولِ خَمْسِ حَالَاتٍ (شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ) بِفَتْحَتَيْنِ: أَيْ اِفْعَلِ الطَّاعَةَ حَالَ قُدْرَتِكَ قَبْلَ هُجُومِ الْكِبَرِ عَلَيْكَ.

Maqolah yang ke sebelas (Dari Nabi ﷺ: Manfaatkanlah olehmu lima perkara sebelum lima perkara:) Maksudnya kerjakanlah olehmu lima perkara sebelum sampai lima keadaan (Masa mudamu sebelum masa tuamu) Lafadz هَرَمِكَ dengan membaca fathah keduanya: Maksudnya kerjakanlah olehmu keta'atan dalam keadaan kamu mampu sebelum masa tua menyergap kepadamu

(وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ) أَيْ اِفْعَلِ الْعَمَلَ الصَّالِحَ حَالَ صِحَّتِكَ قَبْلَ حُصُولِ مَانِعٍ كَمَرَضٍ، وَيَجُوزُ قِرَاءَةُ سَقَمِكَ بِالْوَجْهَيْنِ بِفَتْحَتَيْنِ أَوْ بِضَمٍّ فَسُكُونٍ لِأَنَّ الرِّوَايَةَ لَمْ تُعْلَمْ وَالِاحْتِيَاطُ أَنْ يَقْرَأَ بِهِمَا عَلَى الْبَدَلِ لِيُصَادِفَ الرِّوَايَةَ.

(Dan sehatmu sebelum sakitmu) Maksudnya kerjakanlah amal sholih dalam keadaan sehatmu sebelum sampainya perkara yang menghalangi keta'atan seperti sakit. Dan boleh membaca lafadz سَقَمِكَ dengan dua cara dengan difathahkan keduanya سَقَمِكَ atau dengan cara mendhommahkan kemudian mensukunkan سُقْمِكَ karena sesungguhnya riwayat itu tidak diketahui dan lebih berhati-hati adalah dengan membaca pada keduanya dengan bergantian supaya bisa bertemu dengan riwayat.

(وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ) أَيْ اِفْعَلِ التَّصَدُّقَ بِمَا فَضَلَ عَنْ حَاجَةِ مَنْ تَلْزَمُكَ نَفَقَتُهُ قَبْلَ عُرُوضٍ جَائِحَةٍ تُتْلِفُ مَالَكَ فَتَصِيرُ فَقِيرًا فِي الدَّارَيْنِ.

(Dan kayamu sebelum fakirmu) Maksudnya kerjakanlah olehmu sedekah dengan perkara yang dapat memenuhi kebutuhan orang yang wajib atasmu menafkahinya sebelum baru terjadi musibah yang bisa menghancurkan hartamu sehingga engkau menjadi fakir di dunia dan di akhirat.

(وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ) أَيْ اِغْتَنِمْ مَا تَلْقَى نَفْعَهُ بَعْدَ مَوْتِكَ فَإِنَّ مَنْ مَاتَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ.

(Dan hidupmu sebelum matimu) Maksudnya manfaatkanlah olehmu perkara yang engkau akan menerima manfaatnya sesudah matimu karena sesungguhnya orang yang telah mati terputus amalnya.

(وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ) بِفَتْحِ الشِّينِ: أَيْ اغْتَنِمْ فَرَاغَك فِي هَذِهِ الدَّارِ قَبْلَ شُغْلِكَ بِأَهْوَالِ الْقِيَامَةِ الَّتِي أَوَّلُ مَنَازِلِهَا الْقَبْرُ، كَذَا نَقَلَهُ الْعَزِيزِيُّ عَنْ الْمُنَاوِيِّ.

(Dan waktu luangmu sebelum waktu sibukmu) Lafadz شَغْلِكَ dengan menfathahkan ش: Maksudnya manfaatkanlah olehmu waktu luangmu di dunia ini sebelum waktu sibukmu dengan menghadapi kengerian-kengerian kiamat yang awal tempatnya adalah alam qubur. Demikian telah menukil padanya Imam Azizi dari Imam Manawi.

فَهَذِهِ الْخَمْسَةُ لَا يُعْرَفُ قَدْرُهَا إلَّا بَعْدَ زَوَالِهَا. رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ، رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو نُعَيْمٍ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ.

Lima perkara ini tidak diketahui nilainya kecuali sesudah hilangnya. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim dan Imam Baihaqi dari Ibnu Abbas dengan sanad yang Hasan, Telah meriwwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Abu Nu'aim dan Imam Baihaqi dari Amr bin Maimun.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 12 

(وَ) المَقالَةُ الثانِيَةَ عَشْرَةَ (عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعاذٍ الرازِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ: مَنْ كَثُرَ شِبَعُهُ كَثُرَ لَحْمُهُ)

Maqolah yang ke dua belas (Dari Yahya bin Mu'adz Ar-Razi Rahimahullah: Barang siapa yang sering kenyang maka pasti menjadi banyak dagingnya) 

بِخِلافِ مَنْ كَثُرَ أَكْلُهُ بِسَبَبِ حِدَّةِ الذِكْرِ فَلا يَضُرُّ لِأَنَّ بَعْضَ الأَوْلِياءِ طَرِيقَتُهُم كَثْرَةُ الأَكْلِ لِسُرْعَةِ اِنْهِضامِ الطَعامِ بِحَرارَةِ أَثَرِ الذِكْرِ فَإِنَّهُ كَالنارِ بِخِلافِ الصَلاةُ عَلَى النَبِيِّ ﷺ فَإِنَّ أَثَرَها بارِدٌ

Berbeda dengan orang yang makan banyak karena sebab tajamnya dzikir maka tidak mengapa karena sesungguhnya sebagian dari para wali toriqoh mereka adalah makan banyak karena cepatnya pencernaan makanan sebab panasnya efek dzikir karena sesungguhnya dzikir itu seperti api berbeda dengan membaca sholawat kepada nabi ﷺ karena sesungguhnya efek membaca sholawat itu dingin. 

 (وَمَنْ كَثُرَ لَحْمُهُ كَثُرَتْ شَهْوَتُهُ) فَالَّذِي يُطْفِئُ الشَهْوَةَ هُوَ الجُوعُ 

  (Dan orang yang banyak dagingnya maka pasti menjadi banyak syahwatnya) Karena yang dapat memadamkan syahwat yaitu lapar

(وَمَنْ كَثُرَتْ شَهْوَتُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ) وَهِيَ الَّتِي تَحْجُبُهُ عَنِ اللّٰهِ تَعالَى

(Dan orang yang banyak syahwatnya maka pasti akan banyak dosa-dosanya) banyaknya dosa adalah perkara yang dapat menghalanginya dari Allah

(وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ قَسَا قَلْبُهُ) فَلَمْ يَقْبَلِ المَواعِظَ

(Dan barang siapa yang banyak dosa-dosanya maka pasti menjadi keras hatinya) Sehingga tidak mau menerima nasihat-nasihat

(وَمَنْ قَسَا قَلْبُهُ غَرِقَ) بِكَسْرِ الرَّاءِ (فِي آفَاتِ الدُنْيَا وَزِيْنَتِهَا).

(Dan barangsiapa yang keras hatinya maka pasti akan tenggelam) Lafadz غَرِقَ dengan mengkasrohkan ر (Dalam kesengsaraan dunia dan perhiasannya).

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto
 

Kamis, 29 Oktober 2026

Dari Alam Semesta Hingga Handphone, Siswa MI Ma’arif NU Blater Mengenal Kebesaran Allah Bersama PAI KUA Kalimanah

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan materi Aqidah Akhlak pada program Madrasah Ibtidaiyah Terpadu kepada siswa kelas V MI Ma’arif NU Blater, Rabu (28/10/2026). (Foto: Dok. MI Ma’arif NU Blater)

Purbalingga–Mengenal kebesaran Allah SWT dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Langit yang membentang luas, matahari yang menyinari bumi, tanaman yang tumbuh, hewan yang beraneka ragam, hingga mobil dan handphone yang digunakan manusia, semuanya dapat menjadi sarana untuk belajar tentang kebesaran Sang Pencipta dan memahami kedudukan manusia sebagai makhluk-Nya.

Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan materi Aqidah Akhlak pada program Madrasah Ibtidaiyah Terpadu kepada siswa kelas V MI Ma’arif NU Blater, Rabu (28/10/2026) kemarin. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/PSM%20Peduli%20%20Pendidikan

Mengawali materinya, Imam secara interaktif dan komunikatif mengajak anak-anak mengamati berbagai hal yang ada di sekitar mereka. Ia mengenalkan alam semesta, gunung, lautan, air, matahari, bulan, bintang, tanaman, dan hewan sebagai contoh ciptaan Allah SWT yang menunjukkan kekuasaan-Nya.

Tanaman, misalnya, berawal dari biji kecil yang kemudian tumbuh, berkembang, dan menghasilkan buah. Berbagai jenis hewan juga memiliki bentuk, kemampuan, dan manfaat yang berbeda-beda. Demikian pula alam semesta dengan segala keteraturan dan keunikannya menjadi bahan renungan agar manusia semakin menyadari betapa besar kekuasaan Allah SWT. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Madrasah%20Berasrama

“Coba perhatikan lingkungan di sekitar kalian. Siapa yang menciptakan matahari, bulan, bintang, tumbuhan, dan hewan?” Pertanyaan sederhana semacam ini menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka. 

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan materi Aqidah Akhlak pada program Madrasah Ibtidaiyah Terpadu kepada siswa kelas V MI Ma’arif NU Blater, Rabu (28/10/2026). (Foto: Dok. MI Ma’arif NU Blater)
Mengenali Perbedaan Ciptaan Allah dan Karya Manusia
Untuk mempermudah pemahaman, anak-anak juga diajak membedakan ciptaan Allah SWT dengan hasil karya manusia. Mobil, sepeda motor, handphone, pakaian, rumah, meja, dan berbagai peralatan lainnya merupakan contoh benda yang dibuat manusia melalui ilmu pengetahuan, keterampilan, dan proses kerja.

Mobil dan sepeda motor dibuat dengan mengolah berbagai bahan, handphone dirancang melalui perkembangan teknologi, pakaian diproduksi melalui tahapan pengolahan bahan, sedangkan rumah dibangun menggunakan material yang tersedia di alam.

Dari contoh tersebut, para siswa diajak memahami bahwa manusia memang memiliki kemampuan untuk menciptakan atau membuat berbagai benda yang bermanfaat. Namun, kemampuan berpikir, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan bahan-bahan yang digunakan merupakan karunia Allah SWT.

Anak-anak diberi kesempatan menyebutkan sendiri benda-benda atau sesuatu yang mereka ketahui, kemudian mengelompokkannya sebagai ciptaan Allah atau hasil karya manusia. Melalui tanya jawab tersebut, siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar, berpikir, dan menyampaikan pendapat. 

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan materi Aqidah Akhlak pada program Madrasah Ibtidaiyah Terpadu kepada siswa kelas V MI Ma’arif NU Blater, Rabu (28/10/2026). (Foto: Dok. MI Ma’arif NU Blater)

Surah Al-Ikhlas, Landasan Mengenal Keagungan Allah
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Imam mengaitkan materi dengan Surah Al-Ikhlas ayat 1–4. Surah ini mengandung ajaran mendasar tentang tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa, tempat seluruh makhluk bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Melalui Surah Al-Ikhlas, anak-anak diharapkan tidak sekadar menghafal ayat, tetapi juga memahami maknanya dan menjadikannya landasan dalam bersikap. Mengenal Allah berarti meyakini keesaan-Nya, menyadari ketergantungan manusia kepada-Nya, serta berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. 

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan materi Aqidah Akhlak pada program Madrasah Ibtidaiyah Terpadu kepada siswa kelas V MI Ma’arif NU Blater, Rabu (28/10/2026). (Foto: Dok. MI Ma’arif NU Blater)

Iman yang Tumbuh dalam Akhlak Sehari-hari
Imam Edi Siswanto menekankan bahwa pemahaman tentang kebesaran Allah hendaknya tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Keimanan yang baik semestinya mendorong seseorang menjadi pribadi yang rendah hati, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Pertama, akhlak kepada Allah SWT diwujudkan dengan rajin beribadah, berdoa, bersyukur atas nikmat-Nya, menaati perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, akhlak kepada orang tua dan guru ditunjukkan dengan berbicara sopan, mendengarkan nasihat, menghormati orang tua yang telah merawat dan membesarkan kita, serta menghargai guru yang telah mendidik dan membimbing kita memperoleh ilmu.

Ketiga, akhlak kepada sesama manusia diwujudkan dengan tidak sombong, tidak mengejek teman, tidak merendahkan orang lain karena keadaan ekonomi atau penampilan, serta membiasakan diri untuk jujur, berbagi, dan membantu orang yang membutuhkan.

Keempat, akhlak kepada alam semesta diwujudkan dengan menjaga kebersihan, tidak merusak tanaman, menyayangi hewan, menghemat air, dan membuang sampah pada tempatnya. Alam merupakan karunia Allah yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Menjadi Generasi Beriman, Rendah Hati, dan Peduli
Pada akhirnya, mengenal kebesaran Allah bukan hanya tentang mengetahui luasnya alam semesta atau canggihnya teknologi manusia. Lebih dari itu, pengenalan tersebut mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, membutuhkan pertolongan Allah, dan mengemban tanggung jawab untuk beribadah serta berbuat baik.

Sebagai tindak lanjut, Imam memberikan tugas kepada para siswa untuk menyebutkan 10 macam ciptaan Allah SWT dan 10 macam hasil karya manusia. Hasil tugas tersebut akan dibahas bersama pada pertemuan berikutnya.

Tugas sederhana ini diharapkan mendorong anak-anak kelas V MI Ma’arif NU Blater untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar, mengembangkan rasa ingin tahu, serta semakin memahami perbedaan antara Allah sebagai Sang Pencipta dan manusia sebagai makhluk yang diberi kemampuan untuk berkarya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 28 Oktober 2026

#45 Kitab Nashoihul Ibad: Lima Kunci Bahagia Dunia dan Akhirat

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kiri depan), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 45, Rabu (28/10/2026). (Foto: Azizah DP)
 
Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada "Lima Kunci Bahagia Dunia dan Akhirat".

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-45 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (28/10/2026).
  
Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 9
Dalam Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 9, Abdullah bin Amr bin Ash r.a. menjelaskan lima amalan yang menjadi jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Inti ajarannya adalah membiasakan diri mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik ketika mendapatkan nikmat, menghadapi musibah, memulai pekerjaan, maupun saat menyadari kesalahan.


Lima Amalan Menuju Kebahagiaan
1. Memperbanyak zikir kepada Allah. Membiasakan membaca kalimat tauhid, Lā ilāha illallāh, Muhammadur rasūlullāh, agar hati senantiasa terhubung dengan Allah SWT.

2. Bersabar ketika menghadapi musibah. Mengucapkan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn dan Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīm sebagai pengakuan bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah.

3. Bersyukur ketika memperoleh nikmat. Mengucapkan Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn sebagai wujud kesadaran bahwa setiap kebaikan dan kenikmatan berasal dari Allah SWT.

4. Mengawali pekerjaan dengan basmalah. Membaca Bismillāhirrahmānirrahīm agar setiap aktivitas diniatkan sebagai kebaikan dan dilakukan dengan mengingat Allah.

5. Memperbanyak istigfar dan bertobat. Mengucapkan Astaghfirullāhal ‘azhīm wa atūbu ilaih ketika menyadari dosa dan kesalahan, disertai tekad untuk memperbaiki diri.
 
 
Ulasan Singkat: Zikir sebagai Kebiasaan Hidup
Pesan penting dari maqolah ini adalah bahwa zikir bukan sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan oleh lisan, melainkan kebiasaan yang membentuk sikap hidup seorang muslim.

Ketika mendapatkan nikmat, ia tidak sombong, tetapi bersyukur. Ketika tertimpa musibah, ia tidak berputus asa, tetapi bersabar dan berserah diri. Ketika memulai pekerjaan, ia mengingat Allah. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak membenarkan diri, tetapi segera memohon ampun dan bertobat.

Kitab ini juga mengutip nasihat Al-Faqih Abu Laits tentang tujuh kalimat yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari:
  1. Bismillah ketika memulai pekerjaan.
  2. Alhamdulillah ketika menyelesaikan pekerjaan.
  3. Astaghfirullah ketika mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat.
  4. Insyaallah ketika merencanakan suatu perbuatan.
  5. Lā haula wa lā quwwata illā billāh ketika menghadapi perkara yang berat.
  6. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn ketika tertimpa musibah.
  7. Lā ilāha illallāh, Muhammadur rasūlullāh sebagai kalimat tauhid yang terus dibiasakan siang dan malam.
Tujuh kalimat tersebut mengajarkan kita untuk menghadirkan Allah dalam setiap fase kehidupan. Namun, membiasakan zikir hendaknya juga disertai pemahaman maknanya, ketulusan hati, dan tindakan nyata yang sesuai dengan ajaran agama.

Kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau terbebasnya seseorang dari masalah. Kebahagiaan juga tumbuh dari hati yang senantiasa mengingat Allah, pandai bersyukur, sabar menghadapi ujian, dan tidak lelah memperbaiki diri.

Mari jadikan zikir sebagai kebiasaan, syukur sebagai sikap, sabar sebagai kekuatan, dan istigfar sebagai jalan kembali kepada Allah SWT. Dengan demikian, semoga kehidupan kita semakin berkah dan menjadi jalan meraih kebahagiaan dunia serta akhirat. آمِينَ.
 

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 45, Rabu (28/10/2026). (Foto: Azizah DP)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 9

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا) أَيْ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَعَنْ عَمْرٍو (خَمْسٌ مَنْ كُنَّ) أَيِ اجْتَمَعْنَ (فِيهِ سَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: أَوَّلُهَا أَنْ يَذْكُرَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَقْتًا بَعْدَ وَقْتٍ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ وَلَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ] رَوَاهُ ابْنُ صَرْصَرِيٍّ.

Maqolah yang ke sembilan (Dari Abdullah bin Amr bin Ashi Radhiallahu Anhuma) Maksudnya semoga Allah meridhoi kepada Abdullah dan kepada Amr (Lima perkara barang siapa yang ada lima perkara itu) Maksudnya mengumpul lima perkara itu (Di dalam dirinya maka pasti ia akan bahagia di dunia dan di akhirat: Yang pertama adalah ia membaca لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ setiap waktu) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Perbanyaklah oleh kalian berdzikir kepada Allah Azza Wajalla pada setiap keadaan karena sesungguhnya tidak ada amalan yang lebih disukai oleh Allah dan tidak ada amalan yang lebih bisa menyelamatkan kepada seorang hamba dari setiap keburukan di dunia dan di akhirat dibandingkan dzikir kepada Allah] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Shorshori

(وَإِذَا ابْتُلِيَ بِبَلِيَّةٍ قَالَ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ.

(Dan ketika ia diuji dengan satu musibah maka ia berkata: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Janganlah kalian banyak bicara dengan tanpa berdzikir kepada Allah karena sesungguhnya banyak bicara dengan tanpa berdzikir kepada Allah itu dapat mengeraskan hati, karena sesungguhnya paling jauhnya manusia dari Allah adalah hati yang keras] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Tirmidzi.

(وَإِذَا أُعْطِيَ نِعْمَةً قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، شُكْرًاً لِلنِّعْمَةِ) عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [أَحَبُّ الْكَلَامِ إلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ] أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [قُولُوا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ وَقُولُوا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَقُولُوا تَبَارَكَ اللَّهُ فَإِنَّهُنَّ خَمْسٌ لَا يَعْدِلُهُنَّ شَيْءٌ] رَوَاهُ ابْنُ صَرْصَرِيٍّ.

(Dan ketika ia diberi suatu kenikmatan maka ia berkata: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, sebagai rasa syukur atas kenikmatan) Dari Samurah bin Jundub Radhiallahu Anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Paling disukainya bacaan oleh Allah itu ada empat: سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ tidak apa-apa bagimu dengan mana saja dari empat kalimat itu kamu memulai] Telah mengeluarkan pada hadits ini Imam Muslim dan Imam Nasa'i. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Ucapkanlah oleh kalian لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ dan ucapkanlah oleh kalian سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ dan ucapkanlah oleh kalian تَبَارَكَ اللَّهُ karena sesungguhnya kalimat-kalimat itu adalah lima kalimat yang tidak bisa menandinginya kalimat apapun] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Shorshori.

(وَإِذَا ابْتَدَأَ فِي شَيْءٍ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِحَمْدِ اللَّهِ فَهُوَ أَقْطَعُ] أَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

(Dan ketika ia memulai tentang sesuatu maka ia berkata: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Setiap perkara yang mempunya kedudukan penting yang tidak di awali di dalamnya dengan memuji kepada Allah maka perkara itu terputus] Telah mengeluarkan pada hadits ini Imam Ibnu Hibban.

(وَإِذَا أَفْرَطَ مِنْهُ ذَنْبٌ) أَيْ أَكْثَرَ ذَنْبًا صَادِرًا مِنْهُ (قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إلَيْهِ) عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ: إنَّ دَاءَكُمُ الذُّنُوبُ وَدَوَاءَكُمُ الْاِسْتِغْفَارُ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

(Dan ketika telah melampaui batas dalam dirinya dosa) Maksudnya ketika ia melakukan banyak dosa yang keluar dalam dirinya (Maka ia berkata: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إلَيْهِ) Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian pada penyakit kalian dan obat kalian: Sesungguhnya penyakit kalian adalah dosa dan sesungguhnya obat kalian adalah beristigfar] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [مَنْ لَزِمَ الْإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهِ.

Dan dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma ia berkata: Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Barang siapa yang melazimkan istighfar Maka Allah akan menjadikan baginya dari setiap kesempitan jalan keluar dan dari setiap kesulitan kelonggaran dan Allah akan memberikan rizki padanya dari arah yang tidak ia sangka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah.

وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: [عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ وَالْإِسْتِغْفَارِ فَأَكْثِرُوا مِنْهُمَا فَإِنَّ إِبْلِيْسَ قَالَ: أَهْلَكْتُ النَّاسَ بِالذُّنُوبِ وَأَهْلِكُونِي بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالْإِسْتِمْفَارِ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ أَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاءِ وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو يَعْلَى.

Dan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu dari Nabi ﷺ bersabda: [Wajib atas kalian لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ dan istighfar maka perbanyaklah oleh kalian dari membaca keduanya karena sesungguhnya Iblis berkata: Aku mencelakakan manusia dengan dosa dosa dan manusia mencelakakan aku dengan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ dan istighfar sehingga tatkala aku melihat itu maka aku mencelakakan manusia dengan hawa nafsu sementara mereka itu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang menerima petunjuk] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Abu Ya'la.

قَالَ الْفَقِيهُ أَبُو اللَّيْثِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: مَنْ حَفِظَ سَبْعَ كَلِمَاتٍ فَهُوَ شَرِيفٌ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى وَالْمَلَائِكَةِ وَيَغْفِرُ اللَّهُ ذُنُوبَهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ وَيَجِدُ حَلَاوَةَ الطَّاعَةِ وَيَكُونُ حَيَاتُهُ وَمَمَاتُهُ خَيْرًا:

Telah berkata Al-Fakih Abu Laits Rahimahullahu Ta'ala: Barang siapa yang menjaga tujuh kalimat maka ia merupakan orang mulia di sisi Allah Ta'ala dan di sisi malaikat dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun ada dosa itu seperti buih lautan dan ia akan menemukan manisnya ta'at dan ada hidupnya dan matinya sebagai kebaikan:

اَلْأُولَى: أَنْ يَقُولَ عِنْدَ ابْتِدَاءِ كُلِّ شَيْءٍ بِسْمِ اللَّهِ.

Yang pertama: Adalah hendaknya membaca ketika memulai segala sesuatu dengan بِسْمِ اللَّهِ.

وَالثَّانِيَةُ: أَنْ يَقُولَ عِنْدَ فَرَاغِ كُلِّ شَيْءٍ الْحَمْدُ لِلَّهِ.

Dan yang ke dua: Adalah hendaknya membaca ketika selesai segala sesuatu dengan اَلْحَمْدُ لِلَّهِ.

وَالثَّالِثَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا جَرَى عَلَى لِسَانِهِ مَا لَا يَعْنِيهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

Dan yang ketiga: Adalah hendaknya membaca ketika terjadi atas lisannya kalimat-kalimat yang tidak bermanfaat padanya dengan أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

وَالرَّابِعَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا أَرَادَ فِعْلًا إنْ شَاءَ اللَّهُ.

Dan yang keempat: Adalah hendaknya membaca ketika bermaksud pada suatu perbuatan dengan إنْ شَاءَ اللَّهُ.

وَالْخَامِسَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا اسْتَقْبَلَ إلَيْهِ فِعْلٌ مَكْرُوهٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.

Dan yang kelima: Adalah hendaknya membaca ketika menghadapi kepadanya pekerjaan yang berat dengan لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.

وَالسَّادِسَةُ: أَنْ يَقُولَ إذَا أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ: إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ.

Dan yang keenam: Adalah hendaknya membaca ketika menimpa kepadanya suatu musibah إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ.

وَالسَّابِعَةُ: لَا يَزَالُ يَجْرِي عَلَى لِسَانِهِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ كَلِمَةُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.

Dan yang ketujuh: Adalah terus menerus berjalan atas lisannya di waktu malam dan siang kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Kamis, 22 Oktober 2026

Kholidin: Tirakat, Syukur dan Integritas, Bekal Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas


Apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di halaman KUA Kalimanah, Kamis (22/10/2026).(Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Perjuangan santri tidak hanya tercatat dalam sejarah perlawanan terhadap penjajah, tetapi juga menjadi teladan dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini. Nilai tirakat, kesederhanaan, pengendalian diri, dan rasa syukur menjadi pesan utama yang disampaikan Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, dalam amanat apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di halaman KUA Kalimanah, Kamis (22/10/2026).

Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa santri memiliki peran strategis dalam memperkuat bangsa melalui pengamalan nilai-nilai keislaman, pembentukan karakter, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/10/kholidin-resapi-nasihat-ulama-perkuat.html


Foto bersama usai apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di halaman KUA Kalimanah, Kamis (22/10/2026).(Foto: Rizal)

Mengawali amanatnya, Kholidin menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional sekaligus mengajak seluruh peserta apel untuk meneladani perjuangan para santri yang telah berkontribusi besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, semangat perjuangan santri tidak hanya diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajah, tetapi juga melalui keteguhan hati, kesabaran, kesederhanaan, dan kemampuan mengendalikan diri.

“Santri memiliki semangat keprihatinan yang tinggi. Dalam istilah Jawa, kita mengenalnya dengan tirakat. Nilai-nilai tirakat inilah yang perlu kita teladani dalam menjalani kehidupan,” ungkapnya.

Kholidin menjelaskan bahwa tirakat tidak semata-mata dimaknai sebagai laku prihatin atau menahan diri dari kenikmatan duniawi. Lebih dari itu, tirakat merupakan upaya membangun ketangguhan mental dan spiritual agar seseorang mampu menghadapi berbagai keadaan dengan sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur.


Apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di halaman KUA Kalimanah, Kamis (22/10/2026).(Foto: Imam Edi Siswanto)

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai tirakat dapat diwujudkan melalui kebiasaan hidup sederhana, kemampuan mengendalikan hawa nafsu lahir dan batin, serta kesediaan menerima keadaan tanpa kehilangan semangat untuk terus berusaha.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kalanya seseorang menghadapi kesulitan, kekecewaan, keterbatasan, dan berbagai ujian. Dalam situasi tersebut, seseorang perlu memiliki kesabaran dan keyakinan bahwa setiap ujian merupakan bagian dari perjalanan hidup yang harus dihadapi dengan bijaksana.

Untuk menggambarkan pesan tersebut, Kholidin mengibaratkan kehidupan seperti secangkir kopi pahit hitam (ireng:jawa) . Meski memiliki rasa pahit, kopi tetap dapat dinikmati dan memberikan pengalaman tersendiri bagi penikmatnya.

“Filosofi kopi pahit mengajarkan kita bahwa meskipun kehidupan terkadang terasa pahit, kita harus tetap menjalaninya. Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Belajarlah menerima keadaan, mengendalikan diri, dan tetap bersyukur atas apa yang telah Allah berikan,” pesannya.


Apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di halaman KUA Kalimanah, Kamis (22/10/2026).(Foto: Imam Edi Siswanto)

Filosofi tersebut mengandung pelajaran bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam keadaan yang mudah dan menyenangkan. Terkadang, justru melalui kesulitan seseorang belajar menjadi lebih kuat, dewasa, dan bijaksana. Rasa syukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan kemampuan menerima kenyataan sembari terus memperbaiki diri dan berikhtiar mencari jalan keluar.

Lebih lanjut, Kholidin mengajak seluruh ASN dan pegawai KUA Kalimanah untuk menerjemahkan tema HSN 2026 ke dalam tindakan nyata. Menurutnya, menguatkan negeri tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar, tetapi dapat diwujudkan melalui pembentukan karakter yang kuat, kedisiplinan, integritas, semangat belajar, dan kepedulian terhadap sesama.

Nilai-nilai perjuangan santri juga sangat relevan dengan tugas aparatur Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Semangat tirakat dapat diwujudkan melalui kesederhanaan, tanggung jawab, keikhlasan, serta kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas diri.

Memberikan pelayanan secara profesional, menjaga integritas, menepati tanggung jawab, dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati merupakan bentuk perjuangan masa kini. Dengan demikian, semangat santri tidak hanya dikenang dalam peringatan tahunan, tetapi dihidupkan melalui perilaku dan pengabdian sehari-hari.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan semangat perjuangan, kecintaan terhadap tanah air, serta komitmen untuk mengamalkan nilai-nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional ini, seluruh pegawai KUA Kalimanah diharapkan mampu menjadikan nilai perjuangan santri sebagai landasan dalam menjalankan tugas, menjaga amanah, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Sebagaimana filosofi kopi pahit yang disampaikan Kholidin, kehidupan bukan hanya tentang menikmati rasa manis, melainkan juga tentang keteguhan hati untuk melewati kepahitan dengan sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur.

Sebab, negeri yang kuat lahir dari pribadi-pribadi yang tangguh; pribadi yang mampu menjalani kesulitan tanpa menyerah, menikmati keberhasilan tanpa kesombongan, dan mengabdi dengan ketulusan. Semangat itulah yang perlu terus dirawat agar nilai-nilai perjuangan santri tetap hidup dan menjadi kekuatan dalam mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang gemilang.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Rabu, 21 Oktober 2026

Kholidin: Resapi Nasihat Ulama, Perkuat Komitmen Pelayanan dan Sukseskan Hari Santri Nasional

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin (kiri), saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Rabu (21/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Usai mengikuti kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad, jajaran pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melanjutkan kegiatan dengan rapat internal yang dipimpin Kepala KUA Kalimanah, Kholidin. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus meningkatkan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, Rabu (21/10/2026).

Dalam arahannya, Kholidin menekankan pentingnya tidak sekadar membaca dan memahami pesan-pesan yang disampaikan para ulama dalam Kitab Nashoihul Ibad, tetapi juga meresapi serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pelaksanaan tugas kedinasan.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/10/44-mengenali-penyakit-hati-dan.html

Menurutnya, nasihat para ulama hendaknya menjadi pedoman dalam membentuk karakter, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kualitas pengabdian. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan keikhlasan dalam menjalankan amanah sebagai aparatur negara atau lima budaya kerja ASN Kemenag, yakni Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab, Keteladanan.

“Ilmu yang kita pelajari hendaknya tidak berhenti pada pemahaman, tetapi harus tercermin dalam perilaku dan pelaksanaan tugas sehari-hari. Pelayanan kepada masyarakat juga merupakan bagian dari pengabdian yang harus dilandasi keikhlasan, tanggung jawab, dan niat untuk meraih rida Allah SWT,” tegas Kholidin.

Spanduk Hari Santri Nasional tahun 2026 terpasang di halaman KUA Kalimanah, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Rabu (21/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Ia juga mengingatkan bahwa kualitas pelayanan publik tidak hanya diukur dari terselesaikannya urusan administrasi, tetapi juga dari sikap, keramahan, kepedulian, dan kesungguhan pegawai dalam membantu masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai spiritual yang diperoleh melalui kajian keagamaan dapat berjalan selaras dengan peningkatan profesionalisme dan integritas dalam bekerja.

Selain membahas penguatan kinerja dan pelayanan, rapat tersebut juga menyoroti persiapan peringatan Hari Santri Nasional (HSN). Kholidin mengajak seluruh jajaran KUA Kalimanah untuk berpartisipasi aktif dan menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan.

Beberapa kegiatan yang menjadi perhatian antara lain khotmil Qur’an, upacara peringatan Hari Santri Nasional, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya. Seluruh pegawai diharapkan dapat berkoordinasi dan bekerja sama agar setiap agenda terlaksana dengan tertib, lancar, dan penuh makna.

Flyer ucapan HSN tahun 2026

Kholidin menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk meneladani perjuangan, keikhlasan, kedisiplinan, dan kecintaan para santri terhadap agama serta bangsa.

Melalui perpaduan kajian kitab dan rapat koordinasi tersebut, KUA Kalimanah berupaya membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian target kedinasan, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai religius. Harapannya, semangat menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas pelayanan dapat terus tumbuh seiring dengan komitmen menyukseskan peringatan Hari Santri Nasional.

Dengan demikian, kegiatan keagamaan dan koordinasi kedinasan menjadi dua hal yang saling menguatkan dalam mewujudkan aparatur yang berintegritas, pelayanan yang semakin berkualitas, serta pengabdian yang membawa manfaat bagi masyarakat dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

#44 Mengenali Penyakit Hati dan Meneladani Kemuliaan Rasulullah

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kiri depan), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 44, Rabu (21/10/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada mengenali penyakit hati dan meneladani kemuliaan rasulullah SAW .

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-44 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto dan dijelaskan oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor di ruang kantor setempat, Rabu (21/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 5: Tanda Takwa, Penyakit Hati, dan Kemuliaan Rasulullah ﷺ 

1. Lima Tanda Orang Bertakwa (Maqolah 6 – dari Utsman r.a.)
Orang yang bertakwa memiliki lima ciri utama:

  1. Memilih teman yang saleh, yaitu orang yang membantu meningkatkan keimanan serta menjaga lisan dan kehormatan diri.
  2. Tidak terlena oleh dunia, karena kenikmatan dunia yang berlebihan dapat membawa akibat buruk bagi kehidupan akhirat.
  3. Menghargai amal agama sekecil apa pun, karena kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas merupakan keuntungan besar di sisi Allah SWT.
  4. Berhati-hati terhadap makanan dan harta, memastikan kehalalannya serta menghindari perkara yang haram.
  5. Tidak merasa paling baik, senantiasa mengoreksi diri dan khawatir terhadap dosa, tanpa merendahkan orang lain.

Inti pelajaran: Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan tercermin dalam pergaulan, pengendalian diri, cara mencari rezeki, dan sikap rendah hati. 

Kepala KUA Kalimanah, Kholidin (dua dari Kanan), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 44, Rabu (21/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

2. Lima Sifat yang Menghalangi Kesalehan (Maqolah 7 – dari Ali r.a.)
Maqolah ini mengingatkan tentang sifat-sifat tercela yang dapat menghambat seseorang menjadi pribadi saleh, yaitu: 

  1. Merasa cukup dengan kebodohan agama, sehingga tidak mau belajar dan memperbaiki diri.
  2. Terlalu mencintai dunia, hingga melupakan kehidupan akhirat.
  3. Kikir terhadap kelebihan harta, padahal sebagian rezeki dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama.
  4. Riya dalam beramal, yaitu melakukan kebaikan demi pujian manusia, bukan semata-mata karena Allah SWT.
  5. Membanggakan pendapat sendiri, merasa paling benar dan enggan menerima nasihat.

Inti pelajaran: Kesalehan membutuhkan ilmu, sikap zuhud yang seimbang, kemurahan hati, keikhlasan, dan kerendahan hati.

3. Lima Kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ (Maqolah 8 – dari jumhur ulama)
Menurut uraian dalam kitab tersebut, Allah SWT memberikan lima bentuk kemuliaan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu:

  1. Kemuliaan dalam panggilan: Nabi Muhammad ﷺ disebut dengan gelar Rasul dalam ayat yang dibahas.
  2. Kemuliaan fisik: Disebutkan sejumlah peristiwa yang menunjukkan pertolongan Allah kepada beliau.
  3. Kemuliaan pemberian: Allah memberikan karunia kepada beliau, di antaranya Al-Kautsar, sebagaimana QS. Al-Kautsar ayat 1.
  4. Kemuliaan dalam ampunan: QS. At-Taubah ayat 43 menyebutkan bahwa Allah telah memaafkan beliau.
  5. Kemuliaan berupa keridaan dan perhatian kepada umat: Uraian maqolah ini menyoroti kepedulian Nabi ﷺ terhadap umatnyaInti pelajaran: Umat Islam hendaknya semakin mencintai Rasulullah ﷺ, meneladani akhlaknya, dan mengikuti ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan
Ketiga maqolah dalam Nashoihul Ibad ini mengajarkan bahwa jalan menuju ketakwaan dimulai dari memperbaiki diri, menjauhi penyakit hati, dan meneladani Rasulullah ﷺ. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lalai belajar agama, enggan berbagi, beramal demi pujian, atau merasa lebih baik daripada orang lain.

Mari memperbanyak amal saleh dengan ikhlas, menjaga lisan, mencari rezeki yang halal, serta membiasakan diri melakukan introspeksi. Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi hamba yang bertakwa dan memperoleh husnul khatimah. آمِينَ. 

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 44, Rabu (21/10/2026). (Foto: Pujianto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 6

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: خَمْسٌ هُنَّ عَلَامَةُ الْمُتَّقِينَ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَنْ يَبْلُغَ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ الْبَأْسُ] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. (أَوَّلُهَا: أَنْ لَا يُجَالِسَ إِلَّا مَنْ يُصْلِحُ الدِّينَ مَعَهُ وَيَغْلِبُ الْفَرْجَ وَاللِّسَانَ) بِأَنْ يَمْنَعَهُمَا عَنْ فُضُولِ الْجِمَاعِ وَالْكَلَامِ. (وَ) ثَانِيهَا (إِذَا أَصَابَهُ شَيْءٌ عَظِيمٌ مِنَ الدُّنْيَا يَرَاهُ وَبَالًا) أَيْ شِدَّةً لِسُوءِ الْعَاقِبَةِ. (وَ) ثَالِثُهَا (إِذَا أَصَابَهُ شَيْءٌ قَلِيلٌ مِنَ الدِّينِ اِغْتَنَمَ ذَلِكَ) أَيْ اعْتَقَدَ أَنَّ ذَلِكَ رِبْحٌ عَظِيمٌ. (وَ) رَابِعُهَا (لَا يَمْلَأُ بَطْنَهُ مِنَ الْحَلَالِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يُخَالِطَهُ حَرَامٌ) كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ. (وَ) خَامِسُھَا (یَرَی النَّاسَ کُلَّهُمْ قَدْ نَجَوْا) أَيْ خَلَصُوا مِنَ الْهَلَاكِ لِحَسَنِ مُعَامَلَتِهِمْ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى (وَيَرَى نَفْسَهُ قَدْ هَلَكَتْ) أَيْ بِالذَّنْبِ لِسُوءِ مُعَامَلَتِهِ مَعَ اللَّهِ تَعَالَی.

Maqolah yang ke enam (Dari Utsman Radhiallahu Anhu: Lima perkara ini adalah tanda-tanda dari orang-orang yang bertakwa) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidak akan sampai seorang ada dari golongan orang-orang yang bertakwa sehingga ia meninggalkan perkara yang tidak ada larangan atasnya karena khawatir dari perkara yang padanya ada larangan] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Tirmidzi dan Imam Hakim. (Yang pertama dari tanda-tanda orang yang bertakwa: Adalah ia tidak duduk kecuali dengan orang yang bisa memperbaiki agama bersamanya dan orang yang bisa mengendalikan kemaluan dan lisan) Dengan cara menahan kemaluan dan lisan dari berlebihan berjima dan berlebihan berbicara. Dan yang kedua dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah ketika menimpa kepadanya suatu perkara yang besar dari dunia maka ia memandang perkara besar itu sebagai musibah) Maksudnya sebagai ujian berat karena buruk akibatnya. Dan yang ketiga dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah ketika menimpa kepadanya suatu perkara yang sedikit dari agama, maka dia menganggap untung besar perkara itu) Maksudnya dia beritidak sesungguhnya perkara yang kecil dari agama itu adalah keuntungan yang besar. Dan yang keempat dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah dia tidak memenuhi perutnya dari perkara yang halal karena khawatir dari mencampurnya pada perkara itu perkara yang haram) sebagai mana dalam hadits yang sebelumnya. Dan yang kelima dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah dia melihat manusia semuanya pasti selamat) Maksudnya mereka selamat dari kehancuran karena baiknya mu'amalah mereka dengan Allah Ta'ala, (Sementara dia memandang dirinya pasti celaka) Maksudnya dengan dosa karena buruknya mu'amalah dirinya dengan Allah Ta'ala.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 7 

 (وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ) وَکرَّمَ وَجْهَهُ (لَوْلَا خَمْسُ خِصَالٍ) أَيْ صِفَاتٍ مَذْمُومَةٍ (لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِينَ) أَيْ خَالِصِينَ مِنْ كُلِّ فَسَادٍ (أَوَّلُهَا الْقَنَاعَةُ) أَيْ الرِّضَا (بِالْجَهْلِ) أَيْ بِعَدَمِ الْعِلْمِ بِالدِّينِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَللَّهُ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [ذَنْبُ الْعَالِمِ ذَنْبٌ وَاحِدٌ وَذَنْبٌ الْجَاهِلِ ذَنْبَانِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِىُّ (وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا) رُوِيَ أَنَّهُ لَا قَالَ: [الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ وَالرَّغْبَةُ فِيهَا تُتْعِبُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.

Maqolah yang ke tujuh (Dari Ali Radhiallahu Ta'ala Anhu) Wakarrama Wajhahu (Andai tidak ada lima perkara) Maksudnya sifat-sifat yang tercela (Maka pasti akan jadi manusia seluruhnya termasuk orang-orang sholeh) Maksudnya orang-orang yang selamat dari setiap kerusakan (Yang pertama dari sifat-sifat yang tercela adalah merasa cukup) Maksudnya ridho (Dengan kebodohan) Maksudnya dengan tidak adanya ilmu tentang agama. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Allah benci kepada setiap orang yang alim tentang dunia bodoh tentang akhirat] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Dosanya orang alim itu satu dosa dan dosa orang bodoh itu dua dosa] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami (Dan serakah atas dunia) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Zuhud di dalam dunia itu bisa menenangkan hati dan badan dan senang pada dunia itu melelahkan hati dan badan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [نِعْمَتِ الدَّارُ الدُّنْيَا لِمَنْ تَزَوَّدَ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ حَتَّى يُرْضِيَ رَبَّهُ، وَبِئْسَتِ الدَّارُ الدُّنْيَا لِمَنْ صَدَّتْهُ عَنْ آخِرَتِهِ وَقَصَّرَتْ بِهِ عَنْ رِضَا رَبِّهِ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Sebagus-bagusnya daerah dunia bagi orang yang menyediakan bekal dari dunia untuk akhiratnya, sehingga ia meraih keridhaan Rabbnya. Dan sejelek-jeleknya daerah dunia bagi orang yang menghalangi dunia itu kepadanya dari akhiratnya dan melalaikan dunia itu kepadanya dari keridhoan Rabbnya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim.

(وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ) أَيْ الْبُخْلُ بِمَا زَادَ عَنْ حَاجَتِهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ (وَالرِّيَاءُ فِي الْعَمَلِ) أَيْ تَرْكُ الْإِخْلَاصِ فِي الْعَمَلِ بِمُلَاحَظَةِ غَيْرِ اللَّهِ فِيهِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ يُرِي النَّاسَ أَنَّ فِيهِ خَيْرًا وَلَا خَيْرَ فِيهِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِي.

(Dan pelit dengan kelebihan harta) Maksudnya pelit dengan perkara yang melebihi dari kebutuhannya pada saat itu (Dan riya dalam beramal) Maksudnya meninggalkan ikhlas dalam beramal dengan memperhatikan selain Allah dalam beramal. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang menunjukkan kepada manusia bahwa di dalam dirinya terdapat kebaikan, padahal tidak ada kebaikan di dalam dirinya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَرَى النَّاسَ فَوْقَ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْخَشْيَةِ فَهُوَ مُنَافِقٌ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ الْجَنَّةَ عَلَى كُلِّ مُرَاءٍ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ، (وَالْإِعْجَابُ بِالرَّأْيِ) أَيْ الْاِسْتِحْسَانُ بِعَقْلِهِ وَتَدْبِيرِهِ وَالتَّرَفُّعِ بِذَلِكَ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa memperlihatkan kepada manusia di atas amalan yang ada padanya karena takut maka dia adalah munafiq] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhori. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga kepada setiap orang yang riya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim (Dan sombong dengan akal) Maksudnya menganggap bagus pada akalnya dan urusan akal itu dan menganggap tinggi pada akalnya itu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 8

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ) أَيْ أَكْثَرِهِمْ (رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَكْرَمَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ بِخَمْسِ كَرَامَاتٍ: أَكْرَمَهُ بِالِاسْمِ وَالْجِسْمِ وَالْعَطَاءِ وَالْخَطَأِ وَالرِّضَا. أَمَّا الِاسْمُ فَنَادَاهُ بِالرِّسَالَةِ وَلَمْ يُنَادِهِ بِالِاسْمِ كَمَانَادَى جَمِيعَ الْأَنْبِيَاءِ) عَلَيْهِمُ السَّلَامُ (مِثْلَ آدَمَ وَنُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَغَيْرِهِمْ) قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: ﴿يَأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ﴾ [الْمَائِدَة: الْآيَة ٦٧] وَهَذَا فِي وَقْتِ إِنْزَالِ الْوَحْيِ. أَمَّا وَقْتُ الْمُكَافَحَةِ فَقَالَ تَعَالَى لِنَبِيِّنَا لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ: [يَا مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَهُ]. (وَأَمَّا الْجِسْمُ فَإِذَا دَعَا النَّبِيُّ ﷺ شَيْئًا فَأَجَابَ هُوَ بِنَفْسِهِ عَنْهُ وَلَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ لِسَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ) وَذَلِكَ أَنَّهُ ﷺ رَدَّ عَيْنَ قَتَادَةَ بَعْدَ أَنْ سَقَطَتْ إلَى خَدِّهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ (وَأَمَّا الْعَطَاءُ فَأَعْطَاهُ بِلَا سُؤَالٍ) قَالَ تَعَالَى: ﴿إنَّا أَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ﴾ [الْكَوْثَرُ: الْآيَةَ ١]، وَقَالَ: ﴿وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى﴾ [الضُّحَى: الْآيَةَ ٥]. (وَأَمَّا الْخَطَأُ فَذَكَرَ الْعَفْوَ قَبْلَ ذَنْبِهِ حَيْثُ قَالَ: ﴿عَفَا اللَّهُ عَنْكَ﴾ [الْقَوْبَةُ: الْآيَةَ ٤٣]) أَيْ مَا وَقَعَ مِنْكَ مِنْ تَرْكِ الْأَفْضَلِ وَالْأَوْلَى. (وَأَمَّا الرِّضَا فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ فِدْيَتَهُ وَلَا صَدَقَتَهُ وَلَا نَفَقَتَهُ كَمَا رَدَّهَا عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ) فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ ضَحَّى عَنْ أُمَّتِهِ وَكَفَّرَ عَنْ أُمَّتِهِ بِسَبَبِ الْجِمَاعِ فِي رَمَضَانَ.

Maqolah yang ke delapan (Dari jumhur ulama) Maksudnya dari kebanyakan para ulama (Semoga Allah merahmati mereka semuanya: Sesungguhnya Allah Ta'ala memuliakan kepada nabinya yaitu Muhammad ﷺ dengan lima kemuliaan: Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan nama dan dengan fisik dan dengan pemberian dan dengan salah dan dengan ridho. Adapun nama maka Allah memanggil Nabi Muhammad ﷺ dengan sebutan Rasul dan Allah tidak memanggil Nabi Muhammad ﷺ dengan nama sebagaimana Allah memanggil kepada semua nabi) Alaihimus Salam (Semisal Nabi Adam dan Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim dan selain mereka) Telah berfirman Allah Ta'ala di dalam kitab yang mulia: ﴾Wahai Rasul sampaikanlah perkara yang telah diturunkan kepadamu﴿ [Q.S Al-Maidah: Ayat 67] Dan ini pada waktu turunnya wahyu. Adapun waktu berhadapan maka berfirman Allah Ta'ala kepada Nabi kita pada malam ia mi'raj: [Wahai Muhammad mintalah maka pasti kamu akan diberi pada perkara yang engkau minta]. (Adapun fisik maka ketika berdoa Nabi ﷺ atas suatu perkara maka mengijabah yaitu Allah dengan dzatnya dari doa Nabi dan Allah tidak melakukan hal yang demikian kepada Nabi Nabi yang lain) Dan yang demikian sesungguhnya Nabi ﷺ itu membalikkan mata nya qotadah sesudah jatuhnya mata itu pada pipinya qotadah dan semisal perkara itu. (Adapun pemberian maka Allah memberi kepada Nabi Muhammad tanpa dipinta) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Sesungguhnya kami memberikan kepadamu telaga Kautsar﴿ [Q.S Al-Kautsar: Ayat 1] dan Allah berfirman: ﴾Dan benar benar akan memberikan kepadamu tuhanmu hingga kamu puas﴿ [Q.S Ad-Dhuha: Ayat 5] (Adapun kesalahan maka Allah menyebut maafnya sebelum Allah menyebut kesalahannya Nabi sekiranya Allah berfirman ﴾Allah telah memaafkanmu﴿ [Q.S At-Taubah: Ayat 43]) Maksudnya atas perkara yang terjadi padamu dari meninggalkan perbuatan yang lebih afdhol dan perbuatan yang lebih utama. (Adapun ridho maka Allah tidak pernah menolak atas Nabi fidyahnya dan tidak perna menolak shodaqohnya dan tidak pernah menolak nafakahnya sebagaimana Allah telah menolak itu semua atas Nabi-Nabi Yang lain) Karena sesungguhnya Nabi ﷺ menyembelih kurban kambing mewakili umatnya dan Nabi membayar kafarat mewakili umatnya karena sebab melakukan jimak di bulan Ramadhan. 

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 20 Oktober 2026

PAI KUA Kalimanah: Tips Membangun Keluarga Sakinah di Tengah Tantangan Zaman

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Zamroni Irham, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin dalam upaya membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman di kantor setempat, Senin (19/10/2026) . (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Zamroni Irham, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin dalam upaya membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman, Senin (19/10/2026) kemarin. 

Bimwin tersebut membahas pentingnya meluruskan niat perkawinan, menyelesaikan konflik secara bijak, mengelola keuangan keluarga, serta menyiapkan generasi anak yang saleh.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Bimwin

Dalam penyampaiannya, Zamroni menegaskan bahwa perkawinan bukan sekadar menyatukan dua orang dalam ikatan yang sah, melainkan juga menyatukan dua pribadi dengan latar belakang, kebiasaan, karakter, dan harapan yang mungkin berbeda.

Karena itu, calon pengantin perlu memahami bahwa rumah tangga membutuhkan proses belajar, kesabaran, dan komitmen bersama untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Meluruskan Niat, Menguatkan Komitmen
Materi pertama menekankan pentingnya meluruskan niat perkawinan. Pernikahan hendaknya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar membangun kehidupan bersama yang penuh tanggung jawab. 

Cinta dan ketertarikan menjadi bagian penting dalam hubungan, tetapi keduanya perlu diperkuat dengan iman, akhlak, dan kesediaan untuk saling menjaga.

Di tengah kehidupan modern yang sering menampilkan gambaran rumah tangga serba ideal di media sosial, pasangan perlu memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan, penampilan, atau pengakuan orang lain.

Setiap keluarga memiliki perjalanan dan tantangannya sendiri. Oleh sebab itu, calon pengantin diajak untuk membangun harapan yang realistis, tidak mudah membandingkan rumah tangganya dengan kehidupan orang lain, serta berfokus pada upaya memperbaiki hubungan bersama.

Menyelesaikan Konflik dengan Komunikasi dan Musyawarah
Zamroni juga menjelaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. 

Persoalan dapat muncul karena perbedaan karakter, pembagian tugas, hubungan dengan keluarga besar, kebutuhan ekonomi, maupun penggunaan teknologi dan media sosial. Persoalan tersebut tidak harus berujung pada pertengkaran berkepanjangan apabila pasangan mampu mengelolanya dengan baik.

Calon pengantin dibimbing untuk membiasakan komunikasi terbuka, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, serta menyampaikan keberatan dengan bahasa yang santun. Ketika emosi meningkat, pasangan sebaiknya memberi waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan. 

Hindari kata-kata yang merendahkan, mengungkit kesalahan masa lalu, mengancam perpisahan saat marah, atau mengumbar masalah rumah tangga di media sosial.

Penyelesaian konflik perlu diarahkan pada pencarian solusi, bukan menentukan siapa yang paling benar. Apabila masalah sulit diselesaikan sendiri, pasangan dapat meminta bantuan pihak tepercaya atau tenaga profesional yang kompeten. Jika terjadi kekerasan atau ancaman keselamatan, perlindungan diri dan pencarian bantuan harus menjadi prioritas.

Mengelola Keuangan demi Ketahanan Keluarga
Dalam aspek ekonomi, Zamroni mengingatkan bahwa persoalan keuangan dapat menjadi sumber ketegangan apabila tidak dibicarakan secara terbuka. 

Karena itu, suami dan istri perlu menyusun perencanaan keuangan bersama, memahami pemasukan dan pengeluaran, menentukan kebutuhan prioritas, menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan, serta berhati-hati terhadap utang konsumtif dan gaya hidup di luar kemampuan.

Pengelolaan keuangan keluarga bukan semata-mata tentang besarnya penghasilan, melainkan juga tentang keterbukaan, kedisiplinan, dan kesepakatan dalam menggunakan rezeki. 

Pasangan perlu membicarakan pembagian tanggung jawab finansial secara adil dan sesuai kondisi masing-masing. Kebutuhan pokok, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan anak, dan tabungan perlu dipertimbangkan secara proporsional.

Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan kemudahan belanja digital, sikap sederhana, rasa syukur, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi bekal penting. Keluarga yang sehat secara finansial bukan berarti keluarga tanpa kekurangan, tetapi keluarga yang mampu merencanakan kebutuhan dan menghadapi kesulitan secara bersama-sama.

Mendidik Anak Saleh Dimulai dari Keteladanan Orang Tua
Pembahasan berikutnya adalah ikhtiar membangun generasi anak yang saleh. Zamroni mengajak calon pengantin memahami bahwa pendidikan anak tidak dimulai ketika anak masuk sekolah, tetapi sejak orang tua mempersiapkan kehidupan untuk berkeluarga dan membangun kebiasaan baik di rumah.

Anak membutuhkan keteladanan, kasih sayang, perhatian, dan pendampingan yang konsisten. Orang tua perlu membiasakan ibadah, menanamkan kejujuran dan tanggung jawab, membangun komunikasi yang hangat, serta mengajarkan penghormatan kepada sesama. 

Di era digital, pendampingan juga diperlukan agar anak mampu menggunakan gawai dan media sosial secara bijak, memilah informasi, menjaga privasi, serta tidak mudah terpengaruh perilaku negatif di lingkungan digital.

Upaya membentuk anak saleh tidak cukup hanya dengan nasihat. Anak belajar dari apa yang dilihatnya setiap hari. Ketika orang tua membiasakan salat, berkata jujur, saling menghormati, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, nilai-nilai tersebut menjadi pelajaran nyata bagi anak. Karena itu, keharmonisan hubungan suami istri dan suasana rumah yang aman menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Melalui Bimbingan Perkawinan ini, KUA Kecamatan Kalimanah berharap calon pengantin semakin siap memasuki kehidupan rumah tangga dengan bekal pemahaman agama, keterampilan berkomunikasi, kecakapan mengelola keuangan, serta kesadaran akan tanggung jawab mendidik generasi penerus.

Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang berusaha menghadapi setiap persoalan dengan iman, kasih sayang, musyawarah, dan tanggung jawab. 

Dengan komitmen yang terus dirawat, rumah tangga diharapkan menjadi tempat tumbuhnya ketenteraman, saling menguatkan, dan lahirnya generasi yang saleh serta berakhlak mulia.(*) 

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

#46 Menghargai Waktu Sebelum Terlambat, Ini Pesan Pentingnya

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri depan), pada  kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian r...