![]() |
| Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat membacakan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 29, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto) |
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-29 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (22/4/2026).
Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 2–5).
Rangkuman Inti .Bab ini berisi nasihat tentang nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia, serta cara menyempurnakan amal ibadah.
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab
-
Maqolah 2 (Empat Kebaikan Utama)
Ada empat sifat baik yang berpahala dunia dan akhirat, namun ada yang lebih utama:- Malu → baik bagi semua, lebih utama bagi perempuan
- Adil → baik bagi semua, lebih utama bagi pemimpin
- Taubat → baik bagi orang tua, lebih utama bagi pemuda
- Dermawan → baik bagi orang kaya, lebih utama bagi orang miskin
-
Maqolah 3 (Empat Keburukan)
Ada empat sifat buruk, dan yang lebih buruk lagi:- Dosa → buruk bagi pemuda, lebih buruk bagi orang tua
- Cinta dunia berlebihan → buruk bagi orang awam, lebih buruk bagi orang berilmu
- Malas beribadah → buruk bagi semua, lebih buruk bagi ulama/penuntut ilmu
- Sombong → buruk bagi orang kaya, lebih buruk bagi orang miskin
-
Maqolah 4 (Peran Penjaga Kehidupan)
Dijelaskan bahwa:- Bintang menjaga langit
- Ahlul bait menjaga umat
- Nabi menjaga para sahabat
-
Gunung menjaga bumi
Jika penjaga itu hilang, maka akan muncul kerusakan, fitnah, dan kekacauan.
-
Maqolah 5 (Penyempurna Amal)
Empat hal yang menyempurnakan ibadah:- Shalat → dengan sujud sahwi
- Puasa → dengan zakat fitrah
- Haji → dengan fidyah (jika ada sebabnya)
- Iman → dengan jihad (dakwah dan mengajak pada kebaikan)
5. Maqolah 6 mengajarkan bahwa:
- Ibadah tidak harus berat, tetapi konsisten dan rutin
- Amalan sunnah menjadi penyempurna ibadah wajib
- Sedikit amalan, jika istiqamah, dapat menghasilkan pahala yang sangat besar
- Kebaikan memiliki tingkatan, dan yang paling berat justru paling utama.
- Keburukan juga bertingkat, dan semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar dampak buruknya.
- Kehidupan akan terjaga jika nilai-nilai agama dijaga.
- Ibadah tidak cukup dilakukan, tetapi harus disempurnakan dengan amalan pelengkapnya.
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى (أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (حَسَنَةٌ) وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْمَدْحُ فِي الْعَاجِلِ وَالثَّوَابُ فِي الْآجِلِ (وَلَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا أَحْسَنُ: الْحَيَاءُ) وَهُوَ اِنْقِبَاضُ النَّفْسِ مِنْ شَيْءٍ حَذَرًا عَنِ اللَّوْمِ فِيهِ (مِنَ الرِّجَالِ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْمَرْأَةِ أَحْسَنُ، وَالْعَدْلُ) أَيْ التَّوَسُّطُ بَيْنَ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ (مِنْ كُلِّ أَحَدٍ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْأُمَرَاءِ) أَيْ ذَوِي الْوِلَايَةِ (أَحْسَنُ، وَالتَّوْبَةُ) أَيْ الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِحَلِّ عُقْدَةِ الْإِصْرَارِ عَنِ الْقَلْبِ ثُمَّ الْقِيَامِ بِكُلِّ حَقٍّ لِلَّهِ تَعَالَى (مِنَ الشَّيْخِ حَسَنَةٌ وَلَكِنَّهَا مِنْ الشَّابِّ أَحْسَنُ، وَالْجُودُ) أَيْ إفَادَةُ مَا يَنْبَغِي لَا لِعِوَضٍ (مِنَ الْأَغْنِيَاءِ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ أَحْسَنُ).
Maqolah yang ke dua (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Rahimahullah (Empat) dari perkara (Yang baik) Yaitu perkara yang berhubungan dengan perkara itu pujian di dunia dan pahala di akhirat (Akan tetapi empat dari kebaikan itu lebih baik: Malu) Malu adalah mengkerutnya diri dari suatu perkara karena menghindari dari celaan sebab perkara itu (Dari kaum laki-laki itu baik akan tetapi malu dari kaum perempuan itu lebih baik, dan adil) Maksudnya tengah-tengah antara berlebihan dan lalai (Dari setiap orang itu baik akan tetapi adil dari para pemimpin) Maksudnya yang mempunyai wilayah (Itu lebih baik, dan taubat) Maksudnya kembali kepada Allah Ta'ala dengan cara melepas ikatan desakan keinginan dari hati kemudian mendirikan atas setiap hak kepada Allah Ta'ala (Dari orang tua itu bagus akan tetapi taubat dari pemuda itu lebih baik, dan dermawan) Maksudnya memberikan faedah pada perkara yang penting bukan karena ingin balasan (Dari orang kaya itu baik akan tetapi dermawan dari orang faqir itu lebih baik).
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 3
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (أَرْبَعَةٌ قَبِيحَةٌ) وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الذَّمُّ فِي الْعَاجِلِ وَالْعِقَابُ فِي الْآجِلِ (لَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا أَقْبَحُ: الذَّنْبُ) أَيْ الْإِثْمُ (مِنَ الشَّابِّ قَبِيحٌ وَمِنَ الشَّيْخِ أَقْبَحُ، وَالْاِشْتِغَالُ بِالدُّنْيَا) أَيْ بِأَمْتِعَتِهَا (مِنَ الْجَاهِلِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْعَالِمِ أَقْبَحُ) كَمَا رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ فِى الدُّنْيَا زُهْدًا لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى إِلَّا بُعْدًا] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
Maqolah yang ke tiga (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Radhiallahu Anhum (Empat perkara yang jelek) Yaitu perkara yang berhubungan dengannya celaan di dunia dan siksa di akhirat (Akan tetapi empat dari perkara itu lebih jelek: Dosa) Maksudnya dosa (Dari pemuda itu jelek dan dosa dari orang yang sudah tua itu lebih jelek, dan sibuk dengan dunia) Maksudnya dengan berbagai kesenangan dunia (Dari orang bodoh itu jelek dan sibuk dengan dunia dari orang yang alim itu lebih jelek) Sebagaimana telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda: [Barang siapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah di dunia zuhudnya maka tidak akan bertambah dari Allah kecuali semakin menjauh] Telah meriwayatkan Imam Ad-Dailami.
(وَالتَّكَاسُلُ فِي الطَّاعَةِ) أَيْ مُوَافَقَةِ أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى (مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ وَالطَّلَبَةِ) أَيْ الَّذِينَ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ (أَقْبَحُ، وَالتَّكَبُّرُ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْفُقَرَاءِ أَقْبَحُ).
(Dan malas dalam keta'atan) Maksudnya taat adalah bersesuaian dengan perintah Allah (Dari semua manusia itu jelek dan malas dalam keta'atan dari ulama dan santri) Maksudnya orang-orang yang mencari ilmu (Itu lebih jelek, dan sombong dari orang kaya itu jelek dan sombong dari orang faqir itu lebih jelek).
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 4
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [الْكَوَاكِبُ أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ فَإِذَا انْتَثَرَتْ) أَيْ تَفَرَّقَتْ الْكَوَاكِبُ (كَانَ الْقَضَاءُ) أَيْ الْحُكْمُ الْإِلَهِيُّ (عَلَى أَهْلِ السَّمَاءِ) مِنَ الِانْفِطَارِ وَالطَّيِّ وَمَوْتِ الْمَلَائِكَةِ فِيهَا (وَأَهْلُ بَيْتِي) أَيْ ذُرِّيَّتِي (أَمَانٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا زَالَ أَهْلُ بَيْتِي كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أُمَّتِي) مِنْ ظُهُورِ الْبِدَعِ وَغَلَبَةِ الْأَهْوَاءِ وَاخْتِلَافِ الْعَقَائِدِ وَظُهُورِ الرُّومِ وَغَيْرِهَا (وَأَنَا أَمَانٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ) أَيْ مِتُّ (كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى اَصْحَابِيْ) مِنَ الْفِتَنِ وَالْحُرُوبِ وَارْتِدَادِ مَنِ ارْتَدَّ وَاخْتِلَافِ الْقُلُوبِ (وَالْجِبَالُ أَمَانٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ فَإِذَا ذَهَبَتْ) أَيْ الْجِبَالُ (كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ]).
Maqolah yang ke empat (Telah bersabda Nabi ﷺ : [Bintang-bintang adalah pengaman untuk penduduk langit maka ketika menyebar) Maksudnya berpisah bintang-bintang (Maka pasti terjadi qodho) Maksudnya hukum ketuhanan (Kepada penduduk langit) Nyatanya terpecah dan tergulung dan matinya para malaikat di langit (Dan ahlul baitku) Maksudnya keturunanku (Adalah pengaman untuk umatku maka ketika hilang ahli baitku maka pasti terjadi qodho kepada umatku) Nyatanya munculnya bid'ah dan menangnya hawa nafsu berbeda bedanya aliran aqidah munculnya kaum romawi dan selainnya (Dan aku adalah pengaman untuk sahabat-sahabatku maka ketika aku pergi) Maksudnya aku mati (Maka pasti terjadi qodho kepada sahabat-sahabatku) Nyatanya berbagai fitnah dan peperangan dan murtadnya orang-orang murtad dan bercerai berainya hati (Dan gunung adalah pengaman untuk penduduk bumi maka ketika hilang) Maksudnya gunung-gunung (Maka pasti terjadi qodho kepada penduduk bumi]).
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 5
(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (تَمَامُهَا بِأَرْبَعَةٍ) مِنَ الْأُمُورِ (تَمَامُ الصَّلَاةِ بِسَجْدَتَيْ السَّهْوِ) حِينَ وُجُودِ سَبَبِ السُّجُودِ كَنَقْلِ الْقَوْلِيِّ عَنْ مَحَلِّهِ، وَذَلِكَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ الْمَنْقُولُ رُكْنًا أَوْ بَعْضًا أَوْ هَيْئَةً، فَالرُّكْنُ يَسْجُدُ لِنَقْلِهِ مُطْلَقًاً، وَالْبَعْضُ إِنْ كَانَ تَشَهُّدًا أَوَّلً كَذَلِكَ، أَمَّا الْقُنُوتُ فَإِنْ نَقَلَهُ بِقَصْدِهِ سَجَدَ أَوْ بِقَصْدِ الذِّكْرِ فَلَا، وَالْهَيْئَةُ لَا يَسْجُدُ لِنَقْلِهَا إِلَّا السُّورَةَ كَذَا أَفَادَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ.
Maqolah yang ke lima (Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Empat) Perkara (Yang akan sempurna empat perkara itu dengan empat) Perkara (Sempurnanya sholat dengan dua sujud sahwi) Ketika ada sebab sujud sahwi seperti berpindahnya rukun qouli dari tempatnya, dan itu ada kalanya bacaan yang dipindah berupa rukun atau berupa sunnah ab'ad atau berupa sunnah hai'ah. Maka memindah rukun itu orang yang memindah rukun harus sujud karena memindah rukun qouli secara mutlak. Dan sunnah Ab'ad jika terbukti berupa tasyahud awal maka demikian pula. Adapun qunut jika orang yang sholat memindahkan qunut dengan maksud qunut maka ia sujud sahwi atau dengan maksud dzikir maka ia tidak perlu sujud sahwi. Dan sunnah hai'at orang yang sholat tidak perlu sujud sahwi karena memindah sunnah hai'at kecuali bacaan surat demikian telah memberi faedah syaikhuna Ahmad An-Nahrawi.
(وَ) تَمَامُ (الصَّوْمِ) أَيْ صَوْمِ رَمَضَانَ (بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾ [الْبَقَرَةُ: الْآيَةَ ١٨٤] وَالضَّمِيرُ فِي يُطِيقُونَهُ رَاجِعٌ لِلْفِدْيَةِ لِأَنَّهُ مُتَقَدِّمٌ رُتْبَةً. وَالْمَعْنَى: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَ الْفِدْيَةَ هُوَ طَعَامُ مِسْكِينٍ وَالْمُرَادُ مِنَ الطَّعَامِ صَدَقَةُ الْفِطْرِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ عَقِبَ الْأَمْرِ بِالصِّيَامِ كَمَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِتَكْبِيرَاتِ الْعِيدِ عَقِبَ الْآيَةِ الثَّانِيَةِ كَمَا فِي فَتْحِ الْخَبِيرِ.
(Dan) sempurnanya (puasa) Maksudnya puasa Ramadhan (Itu dengan zakat Fitrah) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Dan wajib kepada orang orang yang berat menjalankan puasa Ramadhan membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin﴿ [Al-Baqoroh: Ayat 184]. Dhomir pada lafadz يُطِيقُونَهُ itu kembali kepada lafadz فِدْيَةٌ karena sesungguhnya dhomir itu didahulukan pada urutannya. Ma'nanya : Dan wajib atas orang orang yang mampu membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin. Yang dimaksud dari memberi makan adalah zakat fitrah karena sesungguhnya Allah Taala itu berfirman pada ayat ini sesudah perintah puasa Ramadhan sebagaimana Allah Ta'ala telah memerintah untuk membaca takbir di malam idul fitri sesudah ayat yang kedua sebagaimana dalam kitab Fathul Khobir.
(وَ) تَمَامُ (الْحَجِّ بِالْفِدْيَةِ) وَهِيَ إِمَّا ذَبْحُ النَّعَمِ أَوِ الْأَمْدَادِ إِذَا وُجِدَ سَبَبُهَا الَّذِي يُوجِبُهَا أَوْ يَسُنُّهَا أَوْ لَمْ يُوجَدْ بَلْ فَعَلَ الْفِدْيَةَ لِلِاحْتِيَاطِ (وَ) تَمَامُ (الْإِيمَانِ بِالْجِهَادِ) أَيْ بِالدُّعَاءِ إِلَى الدِّينِ الْحَقِّ كَمَا قَالَهُ السَّيِّدُ عَلِيُّ الْجُرْجَانِيُّ فِي التَّعْرِيفَاتِ.
(Dan) Sempurnanya (Haji itu dengan membayar fidyah) Fidyah itu adakalanya menyembelih binatang ternak atau membayar mud ketika ditemukan sebabnya fidyah yang mewajibkan membayar fidyah atau yang mensunnahkan fidyah atau tidak ditemukan akan tetapi ia melaksanakan fidyah karena kehati-hatian (Dan) Sempurnanya (Iman itu dengan jihad) Maksudnya dengan mengajak pada agama yang benar sebagaimana telah berkata atas keterangan itu Sayyid Ali Al-Jurzani dalam kitab At-Ta'rifat.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 6
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) حَفِيدِ الْقَاضِي نُوحٍ الْمِرْوَزِيِّ (مَنْ صَلَّى كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً) وَهِيَ رَكْعَتَانِ قَبْلَ صُبْحٍ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ ظُهْرٍ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَأَرْبَعُ رَکعَاتٍ قَبْلَ عَصْرٍ وَرَکعَتَانِ بَعْدَ مَغْرِبٍ (فَقَدْ أَدَّی حَقَّ الصَّلَاةِ) لِقَوْلِهِ ﷺ: [رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا] وَكَانَ ﷺ يُصَلِّي قَبْلَهَا أَرْبَعًا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيْمِ، وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْعَصْرِ حَرَّمَ اللَّهُ بَدَنَهُ عَلَى النَّارِ].
Maqolah yang ke enam (Dari Abdullah bin Mubarok) Cucu seorang Qodhi Nuh Al-Mirwazi (Barang siapa melaksanakan sholat setiap hari dua belas rokaat) Yaitu dua roka'at sebelum sholat Subuh dan dua rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan empat rokaat sebelum sholat Ashar dan dua rokaat sesudah sholat Magrib (Maka sungguh ia telah menunaikan haknya sholat) Karena sabda Nabi ﷺ: [Semoga Allah merahmati kepada orang yang melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat] Dan ada Nabi ﷺ melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat yang ia pisah antara empat rokaat dengan salam. Dan riwayat milik Imam Thabrani: [Barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sebelum sholat Ashar maka Allah mengharamkan pada badannya masuk neraka].
وَنَقَلَ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيدِيُّ مِنَ الدِّمْيَاطِيِّ فِي الْمَتْجَرِ الرَّابِحِ مِنْ خَبَرِ مُسْلِمٍ: [مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي لِلَّهِ تَعَالَى فِي كُلِّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ] زَادَ التِّرْمِذِيُّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ.
Dan telah menukil Syaikh Kholil Ar-Rasyidi dari Syaikh Dimyati di dalam kitab Matjari Robih dari hadits riwayat Imam Muslim [Tidaklah seorang hamba sholat karena Allah Ta'ala di setiap hari dua belas rokaat dengan suka rela selain sholat fardhu kecuali pasti Allah akan membangun untuknya rumah di surga] Telah menambah Imam Tirmidzi empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan dua rokaat sesudah sholat Magrib dan empat rokaat sesudah sholat Isya dan dua rokaat sebelum sholat Subuh.
وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ بِهِنَّ مِنْ لَيْلَتِهِ، وَمَنْ صَلَّاهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ].
Dan riwayat milik Imam Thobroni: [Barang siapa sholat sebelum sohlat Dzuhur empat rokaat maka seakan akan ia sholat Tahajjud dengan empat rokaat itu di waktu malamnya, dan barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sesudah sholat Isya Maka seperti seumpama shola empat rokaat di malam lailatul Qodar].
وَمِنْ ثَمَّ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: لَيْسَ شَيْءٌ يَعْدِلُ صَلَاةَ اللَّيْلِ مِنْ صَلَاةِ النَّهَارِ إِلَّا أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَفَضْلُهُنَّ عَلَى صَلَاةِ النَّهَارِ كَفَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْوَاحِدِ. وَكَانَ ﷺ يُصَلِّيهِنَّ وَيُطِيلُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَيَقُولُ: [إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ].
Dan dari sanalah berkata Ibnu Mas'ud: Tidak ada sesuatu yang bisa menandingi sholat malam dari sholat siang kecuali empat rokaat sebelum sholat Dzuhur. Keutamaan empat rokaat sebelum sholat Dzuhur di atas sholat siang itu seperti keutamaan sholat berjamaah di atas sholat sendirian. Dan ada Nabi ﷺ Sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan ia memanjangkan di dalam sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur itu rukuk dan sujud dan ia bersabda: [Sesungguhnya waktu sholat qobliah Dzuhur adalah waktu dibuka di dalamnya pintu-pintu langit maka aku suka supaya naik untuk ku pada waktu itu amal yang sholeh].
(وَمَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ) وَهِيَ الْأَيَّامُ الْبِيضُ وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَتَالِيَاهُ إِلَّا فِي الْحِجَّةِ يَصُومُ السَّادِسَ عَشَرَ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ بَدَلَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَحِكْمَةُ كَوْنِهَا ثَلَاثَةً أَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصَوْمُهَا كَصَوْمِ الشَّهْرِ كُلِّهِ وَلِذَلِكَ يَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ بِصَوْمِ ثَلَاثَةٍ مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ، كَذَا فِي التُّحْفَةِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصِّيَامِ، وَمَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ آيَةٍ فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الْقِرَاءَةِ) وَقِرَاءَةُ الْمُنْجِّيَاتِ السَّبْعَةِ أَوْلَى وَهِيَ: آلم تَنْزِيل، وَيس، وَفُصِّلَتْ، وَالدُّخَانُ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْحَشْرُ، وَالْمُلْكُ، وَأَنْ يَقْرَأَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى أَوَائِلَ الْحَدِيدِ وَخَوَاتِمَ الْحَشْرِ وَالْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ثَلَاثًاً ثَلَاثًاً (وَمَنْ تَصَدَّقَ فِي جُمْعَةٍ بِدِرْهَمٍ) أَوْ بِمَا يُسَاوِيهِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصَّدَقَةِ).
(Dan barang siapa yang berpuasa dari setiap bulan tiga hari) Yaitu hari hari yang terang yaitu tanggal tiga belas dan dua hari yang mengiringinya kecuali pada bulan Dzul Hijjah maka berpuasa di tanggal enam belas atau satu hari sesudah tanggal enam belas sebagai ganti tanggal tiga belas. Hikmah adanya puasa tiga hari adalah sesungguhnya satu kebaikan itu diganti sepuluh kali lipat yang serupa dengannya maka berpuasa tiga hari itu seperti puasa satu bulan seluruhnya dan karena itu hasil asal sunnah dengan puasa tiga hari dari hari-hari manapun dari satu bulan. Demikian dalam kitab Tuhfah (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya puasa, Dan barang siapa membaca setiap hari seratus ayat maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya bacaan quran) Membaca surat Al-Munjiat yang tujuh itu lebih utama yaitu: Surat As-Sajdah, dan surat yasin dan surat fusilat dan surat Ad-Dukhon dan surat Al-Waqi'ah dan surat Al-Hasyr dan Surat Al-Mulk. Dan membaca ketika waktu subuh dan ketika waktu sore awal-awal surat Al-Hadid dan akhir surat Al-Hasr dan surat Al-Ikhlas dan Surat Al-Falaq dan surat An-Nas tiga kali tiga kali (Dan barang siapa bersedekah dengan satu dirham) Atau dengan perkara yang setara dengan satu dirham (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya sedekah).
Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-4/
Editor: Imam Edi Siswanto

