Jumat, 31 Juli 2026

Quality Control: Dari Hati yang Terhubung kepada Allah, Lahir Pelayanan Prima

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (Kanan) di acara Quality Control di ruang Balai Nikah KUA Kecamatan Kalimanah, Jumat (31/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan sekadar menjalankan rutinitas pekerjaan, melainkan bagian dari ibadah yang harus dilandasi niat tulus karena Allah Swt. Pesan tersebut disampaikan Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., saat memberikan pembinaan pada kegiatan Quality Control ASN di halaman KUA Kalimanah, Jumat (31/7/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin 

Menurut Kholidin, kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh niat yang benar. Melayani masyarakat tidak cukup hanya menjawab pertanyaan atau memenuhi kebutuhan administratif, tetapi harus disertai keikhlasan, kepedulian, dan semangat memberikan manfaat terbaik kepada setiap tamu yang datang. Ketika pekerjaan diniatkan sebagai ibadah, maka setiap bentuk pelayanan akan bernilai amal saleh di sisi Allah Swt.

Dalam kesempatan tersebut, Kholidin juga mengajak seluruh ASN merenungkan makna Surah An-Nas, khususnya tentang pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan (waswas) yang menimbulkan keraguan, kecemasan, maupun dorongan menuju perilaku yang tidak baik. Ia menjelaskan bahwa godaan senantiasa hadir di dalam hati manusia. 

ASN KUA Kalimanah saat saling mendoakan rekan kerja dan saling memijat anggota badan pada acara Quality Control di ruang Balai Nikah KUA Kecamatan Kalimanah, Jumat (31/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Karena itu, setiap insan harus senantiasa mengingat Allah dan mengembalikan seluruh urusan kepada-Nya sebagai Rabb, Raja, dan Tuhan seluruh manusia. Dengan hati yang terhubung kepada Allah, seseorang akan lebih tenang, jernih dalam berpikir, serta bijaksana dalam menjalankan amanah pelayanan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan menjalankan tugas di lingkungan kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kekuatan spiritual. Integritas, keikhlasan, serta ketulusan berserah diri kepada Allah merupakan fondasi penting agar setiap pekerjaan membawa keberkahan, baik bagi diri sendiri, lembaga, maupun masyarakat yang dilayani.

Kholidin menambahkan bahwa budaya berdoa, bertawakal, dan menghadirkan ketulusan dalam bekerja juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan program Eco Office yang dikembangkan Kementerian Agama.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (Kanan) saat memberikan arahan pada seluruh ASN di acara Quality Control di ruang Balai Nikah KUA Kecamatan Kalimanah, Jumat (31/7/2026). (Foto: Rizal Nur Ahmadi)

Menurutnya, Eco Office tidak hanya dimaknai sebagai upaya menciptakan lingkungan kantor yang bersih, hijau, hemat energi, dan ramah lingkungan, tetapi juga membangun ekosistem kerja yang sehat secara spiritual.

Lingkungan kerja yang dipenuhi doa, rasa syukur, kepedulian, serta kepasrahan kepada Allah akan melahirkan ketenangan batin, hubungan kerja yang harmonis, dan budaya organisasi yang penuh keberkahan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat Eco Teologi, yakni mengintegrasikan ajaran agama dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam membangun budaya kerja yang berkelanjutan.

Kholidin juga mengajak seluruh pegawai untuk membiasakan mendoakan rekan kerja dan masyarakat yang datang ke kantor. Menurutnya, doa yang tulus merupakan energi positif yang akan kembali menjadi keberkahan bagi semua pihak. Ketika setiap pelayanan diawali dengan niat yang ikhlas dan diiringi doa kepada Allah, maka pekerjaan tidak hanya menghasilkan kepuasan masyarakat, tetapi juga menghadirkan ketenteraman bagi para pelaksananya.

Dengan demikian, Eco Office tidak hanya tampak dari lingkungan fisik yang tertata, melainkan juga dari hati para ASN yang bersih, penuh syukur, dan senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah Swt.

Sebagai bagian dari budaya kerja yang terus dibangun, kegiatan Quality Control pekan ini kembali diakhiri dengan tradisi saling memberikan pijatan ringan antar ASN sebagai bentuk relaksasi setelah beraktivitas.

Menariknya, setiap pijatan disertai doa terbaik bagi rekan yang dipijat. Tradisi sederhana tersebut menjadi simbol kepedulian, kebersamaan, sekaligus pengingat bahwa kesehatan fisik, ketenangan batin, dan pelayanan yang humanis merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan dalam mewujudkan budaya kerja yang profesional, religius, serta mendukung implementasi Eco Office dan Eco Teologi di lingkungan Kementerian Agama.(*)

Pewarta: Imam Edi siswanto

Kamis, 30 Juli 2026

#37 Bijak Menghadapi Ujian dan Menuntut Ilmu yang Bermanfaat


Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 36, Rabu (29/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

 
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-37 seperti biasa dilaksanakan pada Rabu pagi di Kantor KUA Kalimanah. Sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (29/6/2026).
 
Ringkasan Hasil Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 22 - 23

Maqolah 22–23 dalam Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan dua bekal penting dalam perjalanan hidup seorang mukmin, yaitu kesabaran menghadapi ujian dan kebijaksanaan dalam menuntut ilmu serta menjalani kehidupan.

Maqolah 22
, Sayyidina Umar bin Khattab r.a. memberikan teladan tentang cara memandang musibah dengan penuh keimanan. Beliau meyakini bahwa setiap musibah selalu mengandung empat nikmat dari Allah: musibah itu tidak menimpa agama, tidak lebih berat daripada yang semestinya, masih memungkinkan untuk tetap ridha kepada Allah, dan menjadi jalan memperoleh pahala. Cara pandang ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak larut dalam kesedihan, tetapi mampu menemukan hikmah, bersabar, dan tetap bersyukur di balik setiap ujian.

Sementara itu, Maqolah 23 menampilkan rangkuman hikmah dari seorang ulama yang menyaring ribuan hadis hingga menjadi empat nasihat utama. Pertama, jangan menaruh kepercayaan secara berlebihan kepada selain Allah sehingga tetap menjaga kehormatan dan kewaspadaan. Kedua, jangan tertipu oleh harta karena kekayaan bukan jaminan keselamatan. Ketiga, jagalah kesehatan dengan tidak berlebihan dalam makan dan minum, sebab banyak penyakit berawal dari gaya hidup yang tidak terkendali. 
 
Keempat, carilah ilmu yang benar-benar bermanfaat dan amalkan dalam kehidupan. Ilmu tanpa amal tidak akan membawa keberkahan, bahkan termasuk salah satu tipu daya setan yang membuat seseorang menunda beramal demi mengejar kesempurnaan. Karena itu, para ulama menasihatkan agar terus melangkah menuju Allah meskipun dengan segala kekurangan, sebab istiqamah dalam beramal lebih utama daripada menunggu diri menjadi sempurna.

Secara keseluruhan, kedua maqolah ini mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada kesabaran saat diuji, sikap qanaah dan tawakal, pola hidup yang seimbang, serta ilmu yang diamalkan. Dengan demikian, seseorang akan memiliki keteguhan hati dalam menghadapi musibah, terhindar dari tipu daya dunia, dan semakin dekat kepada Allah Swt. melalui amal yang terus diperbaiki.
 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 22

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَاللَّهِ مَا ابْتُلِيْتُ بِبَلِيَّةٍ إِلَّا وَكَانَ لِلَّهِ عَلَيَّ فِيهَا) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ (أَرْبَعُ نِعَمٍ، أَوَّلُهَا: إِذْ لَمْ تَكُنْ) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةُ (فِي دِيْنِي) فَإِنَّ الِامْتِحَانَ فِي الدِّينِ أَعْظَمُ مِنَ الْاِمْتِحَانِ فِي الْبَدَنِ وَالْمَالِ (وَالثَّانِي: إِذْ لَمْ تَكُنْ) أَيْ الْبَلِيَّةُ (أَعْظَمَ مِنْهَا) أَيْ مِنْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ الَّتِي أَصَابَتْنِي (وَالثَّالِثُ: إِذْ لَمْ تَكُنْ مُحَرَّمَ الرِّضَا) أَيْ مَمْنُوعَ الرِّضَا (بِهَا) أَيْ بِتِلْكَ الْبَلِيَّةِ (وَالرَّابِعُ: أَنِّيْ أَرْجُو الثَّوَابَ عَلَيْهَا) أَيْ تِلْكَ الْبَلِيَّةِ.

Maqolah yang ke dua puluh dua (Dari Umar Radhiallahu Anhu: Demi Allah tidaklah aku diuji dengan musibah kecuali pasti ada milik Allah atas ku di dalam musibah itu) Maksudnya musibah itu (Empat kenikmatan, yang pertama dari empat kenikmatan: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah itu (Dalam masalah agama) Karena sesungguhnya ujian dalam masalah agama itu lebih besar daripada ujian dalam masalah badan dan masalah harta (Dan yang kedua: Adalah ketika tidak ada) Maksudnya musibah (Yang lebih besar darinya) Maksudnya dari musibah itu yang menimpa kepadaku (Dan yang ketiga: Adalah ketika tidak ada musibah itu yang menghalangi dari keridhoan) Maksudnya yang terhalang dari keridhoan (Dengannya) Maksudnya dengan balai itu (Dan yang ke empat: Adalah sesungguhnya aku mengharapkan pahala atasnya) Maksudnya musibah itu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 23

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ رَجُلًا حَكِيمًا) وَهُوَ مَنْ يَعْرِفُ الْأُمُورَ (جَمَعَ الْأَحَادِيثَ فَاخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَحَادِيثِ الْمَجْمُوعَةِ (أَرْبَعِينَ أَلْفًا) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُنْتَقَاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ أَلْفًا (أَرْبَعَةَ آلَافٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُصَفَّاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعَةِ آلَافٍ (أَرْبَعَمِائَةٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْرَجَةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِمِائَةِ (أَرْبَعِينَ) حَدِيثًا مُبَجَّلًا (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ (أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْلَصَةِ.

Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dari Abdullah bin Mubarok) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Sesungguhnya ada seorang lelaki yang ahli hikmah) Ahli hikamah adalah orang yang mengetahui berbagai perkara (Itu mengumpulkan hadits-hadits kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari hadits-hadits yang dikumpulkan (Empat puluh ribu) Dari hadits-hadits yang dipilih (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh ribu (Empat ribu) Dari hadits-hadits yang disaring (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ribu (Empat ratus) Dari hadits-hadits yang dikeluarkan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ratus (Empat puluh) Hadits yang dimuliakan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh (Empat kalimat) Maksudnya empat jumlah dari hadits-hadits yang dirangkum.

(إِحْدَاهُنَّ: لَا تَثِقَنَّ بِامْرَأَةٍ) أَيْ لَا تَطْمَئِنُّ إِلَيْهَا وَلَا تَأْتَمِنَّهَا (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ لِلرَّجُلِ مِنَ الْغَيْرَةِ أَيْ كَرَاهَةِ شَرِكَةِ الْغَيْرِ فِي حَقِّهِ.

(Salah satu dari empat kalimat itu: Adalah janganlah kamu percaya pada seorang wanita) Maksudnya janganlah kamu tenang kepada seorang wanita dan janganlah kamu mengamanatkan kepada seorang wanita (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak untuk seorang lelaki dari rasa cemburu maksudnya tidak ingin disertai oleh orang lain dalam haknya.

(وَالثَّانِيَةُ: لَا تَغْتَرَّنَّ بِالْمَالِ) أَيْ لَا تَظُنَّ الْأَمْنَ مِنَ الْهَلَاكِ بِسَبَبِ الْمَالِ فَلَمْ تَحْفَظْ الْأُمُورَ وَلَا تَكُنْ مَخْدُوعًا بِكَثْرَةِ الْمَالِ (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ مِنَ الِاحْتِيَاطِ وَمِنْ تَذَكُّرِ الْآخِرَةَ.

(Dan yang kedua: Adalah janganlah kamu teripu dengan harta) Maksudnya janganlah kamu merasa aman dari kebinasaan sebab harta kemudian kamu tidak menjaga pada urusan-urusan dan janganlah kamu menjadi orang yang tertipu sebab banyak harta (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak dari berhati-hati dan dari mengingat akhirat.

(وَالثَّالِثَةُ: لَا تُحَمِّلْ مَعِدَتَكَ مَا لَا تُطِيقُهُ) قَالَ ﷺ: [أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ الْبَرَدَةُ] رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ أَنَسٍ وَابْنِ السُّنِّيِّ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ عَلِيٍّ وَعَنِ ابْنِ سَعِيدٍ وَعَنِ الزُّهْرِيِّ، أَيْ أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ مُتَعَلِّقٌ بِالْمَعِدَةِ التُّخْمَةُ وَهِيَ إِدْخَالُ الطَّعَامِ عَلَى الطَّعَامِ وَكَذَا شُرْبُ الْمَاءِ عَقِبَ الطَّعَامِ أَوْ بَيْنَ الطَّعَامَيْنِ قَبْلَ هَضْمِ الْأَوَّلِ.

(Dan yang ke tiga: Adalah janganlah kamu membebani perutmu dengan makanan yang tidak mampu menanggungnya) Telah bersabda ﷺ: [Pangkal setiap penyakit adalah terlalu kenyang] Telah merwayatkan hadits ini Imam Ad-Daruqutni dari Anas dan Ibnu Sunni dan Abu Nuaim dari Ali dan dai Ibnu Sa'id dan dari Zuhri. Maksudnya pangkal setiap penyakit yang berhubungan dengan pencernaan adalah kenyang yaitu memasukkan makanan di atas makanan dan begitu juga meminum air setelah makan atau meminum air di antara dua kali makan sebelum dicerna makanan yang pertama.

(وَالرَّابِعَةُ: لَا تَجْمَعْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَا يَنْفَعُكَ) قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَأَخَافَ أَنْ أُضَيِّعَهُ، فَقَالَ: كَفَى بِتَرْكِكَ لِلْعِلْمِ إِضَاعَةً. وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مِنْ مَكَايِدِ الشَّيْطَانِ تَرْكُ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ إِنَّهُ لَمُرَاءٍ لِأَنَّ تَطْهِيرَ الْعَمَلِ مِنْ نَزَعَاتِ الشَّيْطَانِ بِالْكُلِّيَّةِ مُتَعَذِّرٌ، فَلَوْ وَقَّفْنَا الْعِبَادَةَ عَلَى الْكَمَالِ لَتَعَذَّرَ الِاشْتِغَالُ بِشَيْءٍ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَذَلِكَ يُوجِبُ الْبَطَالَةَ الَّتِي هِيَ أَقْصَى غَرَضِ الشَّيْطَانِ، وَلِذَا قَالَ بَعْضُهُمْ: سِيرُوا إِلَى اللَّهِ عُرْجًا وَمَكَاسِیْرَ.

(Dan yang ke empat: Adalah janganlah kamu mengumpulkan ilmu yang tida bermanfaat padamu) Telah berkata seorang lelaki kepada Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu: Sesungguhnya aku ingin mencari ilmu dan aku takut menyia-nyiakan ilmu kemudian Abu Huroiroh berkata: Cukuplah dengan meninggalkannya kamu pada ilmu menjadi sia-sia. Telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anu: Sebagian dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal karena taku berkata para manusia sungguh orang itu benar-benar ria karena sesungguhnya mensucikan amal-amal dari godaan setan secara keseluruhan itu sulit. Andai kita mengsyaratkan pada ibadah atas kesempurnaan maka pasti kesulitan menyibukkan satu perkara dari ibadah dan hal itu bisa mengakibatkan bermalas-malasan yang bermalas malasan itu adalah puncak dari tujuan setan. Karena itu berkata sebagian ulama: Berjalanlah kalaian menuju Allah sambil terpincang-pincang dan patah.

وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظَمَتْ قِيمَتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ اهُ.

Dan telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anhu: Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur'an maka pasti agung nilainya dan barang siapa yang mempelajari ilmu fekih maka pasti mulia kedudukannya dan barang siapa yang menulis hadits maka pasti kuat hujjahnya orang itu dan barang siapa mempelajari ilmu hisab maka pasti banyak idenya dan barang siapa yang mempelajari bahasa Arab maka pasti menjadi lemah lembut sifatnya dan barang siapa yang tidak menjaga dirinya sendiri maka pasti tidak bermanfaat padanya ilmunya. Sampai sini perkataan Imam Syafi'i berakhir.

Source: https://lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi siswanto

Rabu, 29 Juli 2026

Quality Control: KUA Kalimanah Tanamkan Budaya Sabar, Dzikir, dan Kasih Sayang

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) di acara Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Mengawali aktivitas dengan hati yang tenang merupakan fondasi penting dalam membangun kinerja yang berkualitas. Pesan itulah yang disampaikan Kepala KUA Kalimanah dalam apel pagi yang digelar di halaman Kantor KUA Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Rabu (29/7/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin

Dalam arahannya, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, menegaskan bahwa quality control pada apel pagi bukan sekadar rutinitas administratif sebelum bekerja. Lebih dari itu, quality control menjadi momentum untuk menata hati, meluruskan niat, serta menguatkan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) saat menyampaikan tiga pesan di acara Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Usai doa bersama, Kepala KUA Kalimanah menyampaikan tiga nilai utama yang hendaknya menjadi bekal setiap ASN dalam menjalankan tugas, yaitu kesabaran, dzikir, dan kasih sayang.

Nilai pertama adalah kesabaran. Seluruh ASN diajak mengawali hari dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Berbagai tugas, tantangan, maupun dinamika pelayanan diyakini akan lebih mudah dihadapi apabila disertai kemampuan mengendalikan emosi, berpikir positif, dan tetap bersikap bijaksana. Kesabaran menjadi kekuatan yang menjaga profesionalisme sekaligus kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Doa bersama yang dipimpin oleh PAI KUA Kalimanah, Mughofar (empat dari Kanan depan) diacara Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Nilai kedua adalah membasahi lisan dengan dzikir. Setiap aparatur diingatkan agar senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap langkah dan pekerjaan. Dzikir bukan hanya menjadi amalan lisan, tetapi juga sumber ketenangan batin yang menumbuhkan keikhlasan, rasa syukur, serta integritas dalam menjalankan amanah sebagai pelayan masyarakat.

Adapun nilai ketiga adalah menebarkan kasih sayang. Sikap saling menghormati, senyum yang tulus, komunikasi yang santun, serta kepedulian kepada sesama rekan kerja merupakan bagian dari budaya kerja yang terus dibangun di KUA Kalimanah. Nilai tersebut tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diwujudkan dalam tindakan sederhana yang sarat makna.

Suasana Quality Control pada apel rutin di halaman KUA Kecamatan Kalimanah, Rabunin (29/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sebagai implementasi dari nilai kasih sayang dan kepedulian, sebelum rangkaian quality control dan apel pagi berakhir, seluruh ASN saling memijat bahu rekan di sebelahnya secara bergantian. Kegiatan sederhana ini menjadi simbol kebersamaan, saling menguatkan, sekaligus menghilangkan ketegangan sebelum memulai aktivitas pelayanan. Melalui sentuhan kepedulian tersebut diharapkan terbangun suasana kerja yang hangat, harmonis, dan penuh semangat kekeluargaan.

Kepala KUA Kalimanah berharap, budaya mengawali hari dengan kesabaran, dzikir, dan kasih sayang tidak hanya menjadi rutinitas saat apel pagi, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku seluruh ASN selama memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, KUA Kalimanah terus membangun budaya kerja yang humanis, berintegritas, profesional, serta berlandaskan nilai-nilai spiritual sebagai wujud pengabdian kepada bangsa, negara, dan umat.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Senin, 27 Juli 2026

Mewujudkan Layanan Prima dan Kantor Hijau, KUA Kalimanah Siap Berbenah Melalui Monitoring dan Evaluasi

Suasana Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga–Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan dan pengawasan untuk memastikan seluruh layanan di KUA berjalan sesuai ketentuan, tertib administrasi, serta mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.


BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=monev

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I. (kiri) saat menyampaikan kata sambutan pada acara Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Dalam pelaksanaan monev kali ini, tim yag terdiri dari, Moh Nur Hidayat, S.Ag. M.Pd.I., Riadhotus Sofiyah, S.A.P, Rokhani, S.A.P, Walid Ikhsanudin, S.Pd.I dan Timbul Prihastanto Yuwono, memberikan perhatian khusus terhadap tertib administrasi Nikah dan Rujuk (NR). Pemeriksaan meliputi kelengkapan dokumen, kesesuaian pencatatan administrasi, pengelolaan arsip, serta implementasi prosedur pelayanan sesuai regulasi yang berlaku.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap layanan NR dilaksanakan secara akurat, akuntabel, dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat. Selain administrasi NR, tim juga melakukan evaluasi terhadap implementasi program Eco Office yang telah diterapkan di KUA Kalimanah.

Rokhani, S.A.P, (tengah) dan Walid Ikhsanudin, S.Pd.I (Kanan) pada acara Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Penilaian mencakup kebersihan lingkungan kantor, penataan taman dan tanaman, pengelolaan sampah, efisiensi penggunaan energi dan air, serta upaya menciptakan lingkungan kerja yang bersih, sehat, hijau, dan nyaman. Program Eco Office diharapkan tidak hanya memperindah lingkungan kerja, tetapi juga menumbuhkan budaya peduli lingkungan di kalangan ASN.

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan monitoring dan evaluasi tersebut. 

Suasana Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

"Monitoring dan evaluasi menjadi momentum bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas administrasi, khususnya layanan Nikah dan Rujuk, serta memperkuat budaya kerja melalui penerapan Eco Office,” ungkapnya. 

Walid Ikhsanudin saat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga di halammmman KUA Kecamatan Kalimanah, Senin (27/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)


Tim monev juga memberikan sejumlah masukan konstruktif guna menyempurnakan tata kelola administrasi dan penguatan budaya kerja, yang mengintegrasikan profesionalisme pelayanan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kerja.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 24 Juli 2026

Quality Control: Menyatu dengan Alam dan Kalam, ASN KUA Kalimanah Lepas Alas Kaki Tanamkan Spirit Syukur dan Pelayanan Prima ASN

Tampak ASN KUA Kalimanah dan Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., melepas alas kaki saat breafing pagi (Quality Control) di halaman kantor setempatJumat (24/7/2026).

Purbalingga-Suasana berbeda mewarnai kegiatan quality control ASN di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah. Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membangun kesadaran spiritual dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari penguatan karakter pelayanan, Jumat (24/7/2026).

Sebelum briefing pagi dimulai, seluruh ASN diminta melepaskan alas kaki dan bersama-sama membaca Surah Ar-Rahman. Menurut Kholidin, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan ikhtiar menghadirkan kedekatan manusia dengan alam sekaligus menyatukan hati dengan Kalam Ilahi melalui penghayatan terhadap ayat-ayat Allah dan sifat-sifat-Nya yang penuh kasih sayang. 

Suasana breafing pagi (Quality Control) di halaman kantor setempatJumat (24/7/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin

Kegiatan quality control ini, merupakan wujud nyata dari implementasi ekoteologi, di mana kesadaran spiritual ASN diintegrasikan langsung dengan kepedulian terhadap kelestarian alam. Praktik melepaskan alas kaki untuk menyentuh bumi secara langsung dan merenungi kandungan Surah Ar-Rahman membuktikan bahwa keimanan tidak hanya menuntut kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan ekologis untuk hidup selaras dengan ciptaan Allah SWT.

Melalui pandangan eko-teologi ini, rasa syukur atas nikmat alam dialirkan menjadi energi positif dalam etos kerja, sehingga pelayanan prima yang berlandaskan moto SEHATI tidak sekadar menjadi tanggung jawab birokrasi, melainkan sebuah bentuk ibadah yang utuh demi menjaga keharmonisan antara manusia, pencipta, dan lingkungan. 

Pegawai KUA Kalimanah, Prayitno dan Supriyanto di ruang Fron Office KUA Kalimanah, Jumat (24/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

“Dengan merasakan langsung sentuhan bumi dan merenungi kandungan Surah Ar-Rahman, kita diingatkan bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan Allah yang harus hidup selaras dengan alam serta senantiasa bersandar kepada petunjuk-Nya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kholidin juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, sikap syukur bukan hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui cara pandang yang positif terhadap kehidupan, pekerjaan, dan amanah yang diterima. Dengan bersyukur, seseorang akan lebih mudah merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam menjalankan tugas sehari-hari. 

Tampak PAI KUA Kalimanah langsung bekerja usai breafing pagi (Quality Control) di halaman kantor setempatJumat (24/7/2026).


Selain penguatan nilai spiritual, Kepala KUA Kalimanah mengingatkan seluruh ASN untuk terus menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa pelayanan prima merupakan wujud nyata pengabdian ASN kepada umat dan bangsa. Semangat tersebut harus tercermin dalam sikap ramah, responsif, profesional, berintegritas serta memberikan solusi terbaik bagi setiap masyarakat yang membutuhkan layanan.

“Rasa syukur yang benar akan melahirkan semangat bekerja yang lebih baik. Karena itu, mari kita terus menjaga mutu pelayanan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat sesuai moto Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, yaitu SEHATI (Santun, Efektif dan Efisien, Humanis, Amanah, Tertib, dan Ikhlas),” pesannya.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Senin, 20 Juli 2026

Kepala KUA Kalimanah: Quality Control, ASN Harus Menjaga Kepekaan Hati dan Pikiran Positif

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Senin (20/7/2026). (Foto: Rizal Nur Ahmadi)

Purbalingga-Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk senantiasa menjaga kejernihan hati dan menggunakan setiap nikmat yang diberikan Allah SWT untuk hal-hal yang membawa kebaikan. Pesan tersebut disampaikan saat kegiatan quality control rutin di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Senin (20/7/2026).

Dalam arahannya, Kholidin mengingatkan bahwa setiap manusia telah dianugerahi pendengaran, penglihatan, dan hati yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Rakor 

Suasana rapat koordinasi (rakor) dan Quality Control yang digelar oleh KUA Kalimanah, Senin (20/7/2026). (Foto: Pujianto)

Oleh karena itu, indera pendengaran dan penglihatan hendaknya digunakan untuk menyimak, melihat, dan mempelajari berbagai hal yang bermanfaat, bukan justru terjerumus pada perbuatan yang menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan.

"Pendengaran dan penglihatan harus kita kembalikan kepada tujuan penciptaannya, yakni menjadi sarana untuk meraih ilmu, hikmah, dan kemaslahatan. Demikian pula hati harus terus dijaga agar tetap hidup dan peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Jangan sampai hati menjadi mati rasa," pesannya.

PAI KUA Kalimanah, Mughofar, saat merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Senin (20/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Menurutnya, kepekaan hati menjadi modal penting bagi seorang ASN, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. ASN yang memiliki empati akan lebih mudah memahami kebutuhan masyarakat, mampu bekerja sama dengan rekan kerja, serta sigap membaca situasi dan kondisi yang berkembang di lingkungan kerja.

"Kemudahan kita sebagai ASN adalah ketika memiliki kepekaan terhadap situasi dan kondisi dalam bekerja. Dengan hati yang hidup, pelayanan akan terasa lebih tulus, responsif, dan menghadirkan kenyamanan bagi masyarakat," tambahnya.

Penghulu Muda KUA Kalimanah, Rizal Nur Ahmadi, saat melayani calon pengantin di KUA Kalimanah, Senin (20/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Selain pembinaan spiritual dan karakter, kegiatan quality control juga diisi dengan evaluasi terhadap beberapa agenda strategis. Di antaranya adalah penguatan budaya berpikir positif kepada setiap tamu yang datang ke kantor sebagai wujud pelayanan prima.

Kemudian, evaluasi pelaksanaan pengukuran arah kiblat (Rashdul Qiblat), penguatan implementasi program Eco Theology melalui kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta persiapan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

Pegawai KUA Kalimanah, Prayitno dan Supriyanto di ruang Fron Office KUA Kalimanah, Senin (20/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Melalui evaluasi rutin tersebut, KUA Kalimanah terus berupaya membangun budaya kerja yang profesional, humanis, dan berintegritas. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kinerja administrasi, tetapi juga pembentukan karakter ASN yang berakhlak, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Minggu, 19 Juli 2026

Menginspirasi dengan Integritas, Pegawai KUA Kalimanah Raih Penghargaan Pelopor Akuntabilitas Kinerja

Pegawai KUA Kalimanah, Regina Maharanie Eka Omara Putera berhasil. (Foto: Humas Kemenag Purbalingga)

Purbalingga – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh aparatur Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah. Regina Maharanie Eka Omara Putera berhasil meraih Penghargaan Pelopor Akuntabilitas Kinerja dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga. 

Penghargaan tersebut diserahkan dalam Apel Penghormatan Bendera yang digelar di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Jumat (17/7/2026).

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan komitmen Regina dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, profesional, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. 

Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa semangat kerja yang dilandasi integritas dan tanggung jawab akan melahirkan kepercayaan serta kinerja yang berdampak positif bagi organisasi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, H. Zahid Khasani, mengatakan bahwa penghargaan yang diberikan merupakan bentuk penghormatan kepada aparatur sipil negara maupun satuan kerja yang telah menunjukkan dedikasi, integritas, inovasi, dan kinerja terbaik selama Triwulan II Tahun 2026.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, H. Zahid Khasani saat menyerahkan piagam penghargaan kepada Pegawai KUA Kalimanah, Regina Maharanie Eka Omara Putera pada Apel Penghormatan Bendera yang digelar di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Jumat (17/7/2026).. (Foto: Humas Kemenag Purbalingga)


Sementara itu, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan ini merupakan hasil dari kerja keras, kedisiplinan, dan konsistensi dalam menjalankan tugas serta menjadi penyemangat bagi seluruh pegawai untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi institusi.

"Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi seluruh pegawai untuk terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, serta memberikan pelayanan yang semakin berkualitas kepada masyarakat. Penghargaan bukanlah tujuan akhir, tetapi menjadi motivasi untuk terus berkarya dan memberikan manfaat yang lebih luas," ungkapnya.

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto

Indeks Kepuasan Masyarakat KUA Kalimanah Capai 99,92, Raih Predikat "A (Sangat Baik)"

Tangkapan layar facebook KUA Kalimanah


Purbalingga-Berdasarkan hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) Triwulan II Tahun 2026 Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, KUA Kalimanah berhasil meraih Nilai Kepuasan Pelayanan sebesar 99,92 dengan predikat "A (Sangat Baik)".

Capaian tersebut diperoleh dari penilaian 138 responden yang telah menerima layanan di KUA Kalimanah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 responden laki-laki dan 88 responden perempuan turut memberikan penilaian terhadap kualitas pelayanan yang diterima.

Berdasarkan tingkat pendidikan, responden terdiri atas 1 orang lulusan SD, 22 orang lulusan SMP, 91 orang lulusan SMA, 23 orang lulusan Strata 1 (S1), dan 1 orang lulusan Strata 2 (S2). Keberagaman latar belakang pendidikan responden menunjukkan bahwa pelayanan KUA Kalimanah dinilai positif oleh berbagai lapisan masyarakat.

LIHAT: https://www.facebook.com/share/p/19K4vrGSQZ/ 

Hasil Survei Kepuasan Masyarakat ini menjadi indikator bahwa layanan yang diberikan KUA Kalimanah telah memenuhi harapan masyarakat, baik dari aspek keramahan petugas, kecepatan pelayanan, kemudahan prosedur, maupun kenyamanan sarana dan prasarana.

Capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh aparatur KUA Kalimanah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik yang profesional, akuntabel, transparan, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Ke depan, insyaallah KUA Kalimanah tetap berkomitmen untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pelayanan melalui inovasi berkelanjutan, sehingga kehadiran KUA benar-benar dapat memberikan manfaat serta pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat.(*)

Pewaarta/editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 15 Juli 2026

#36 Meraih Ridha Allah: Hikmah Surga, Pengendalian Diri, dan Menjaga Lisan dalam Nashoihul 'Ibad

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat menyampaikan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-36 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah Pujianto, Rabu (15/7/2026). 

Berikut ringkasan Hasil Kajian

Kajian Maqolah 19–21 dalam Kitab Nashoihul 'Ibad mengajarkan bahwa tujuan tertinggi seorang mukmin bukan sekadar memperoleh kenikmatan surga, tetapi meraih ridha Allah SWT.

Pada Maqolah 19, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada empat kenikmatan di surga yang nilainya lebih agung daripada surga itu sendiri, yaitu kekal di dalamnya, pelayanan para malaikat, kedekatan dengan para nabi, dan puncaknya adalah ridha Allah.

Sebaliknya, di neraka terdapat empat penderitaan yang lebih berat daripada api neraka, yaitu kekal di dalamnya, celaan malaikat, bertetangga dengan setan, dan yang paling dahsyat adalah murka Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ridha dan murka Allah merupakan inti dari kebahagiaan maupun kesengsaraan manusia.

Pada Maqolah 20, seorang ahli hikmah menggambarkan prinsip hidup seorang mukmin yang ideal, yaitu selalu selaras dengan perintah Allah, menentang hawa nafsu, menebarkan nasihat kepada sesama, dan memanfaatkan dunia hanya sebatas kebutuhan. Pesan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara hubungan dengan Allah, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan sikap zuhud terhadap dunia.

Sementara itu, Maqolah 21 merangkum empat mutiara hikmah yang diambil dari kitab-kitab samawi: ridha terhadap rezeki Allah melahirkan ketenangan, mengendalikan syahwat membawa kemuliaan, tidak bergantung kepada manusia mendatangkan keselamatan, dan menjaga lisan menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa menjaga lisan termasuk amalan yang paling dicintai Allah, sementara banyak diam dan menjauhi percakapan yang tidak bermanfaat merupakan bagian penting dari keselamatan seorang mukmin.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

 BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 19

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: [أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) نَفْسِهَا (الْخُلُودُ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) أَيْ إطَالَةُ الْإِقَامَةِ فِي الْجَنَّةِ أَنْعَمُ لِأَهْلِهَا مِنْ وُجُودِ نَفْسِ الْجَنَّةِ (وَخِذْمَةُ الْمَلَائِكَةِ فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) فَخِدْمَةُ الْمَلَائِكَةِ تَدُلُّ عَلَى زِيَادَةِ ارْتِفَاعِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (وَجِوَارُ الْأَنْبِيَاءِ) بِكَسْرِ الْجِيمِ وَضَمِّهَا مِنْ قُرْبِهِمْ (فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَحَسُنَ أُوْلّئِكَ رَفِيْقًا﴾ [النِّسَاءُ: الْآيَةَ ٦٩]، (وَرِضَا اللَّهِ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ) عَنْ أَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) لِأَنَّ رِضْوَانَ اللَّهِ تَعَالَى أَكْبَرُ مِنْ جَمِيعِ النِّعَمِ.

Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Nabi sesungguhnya Nabi bersabda: Empat) Dari perkara (Di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Dzatnya Surga (Kekal di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Maksudnya lama tinggal di dalam surga itu lebih nikmat bagi penduduk surga daripada keberadaan surga itu sendiri (Dan berkhidmatnya para malaikat di dalam surga) Kepada penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Maka berkhidmahnya para malaikat itu menujukkan atas lebih tingginya derajat penduduk surga (Dan bertetangga dengan para Nabi) Ladadz جِوَارُ dengan mengkasrohkan huruf jim atau mendhommahkannya karena dekat dengan mereka (Di dalam surga) Bagi penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Dan sebaik-baiknya para nabi itu sebagai teman﴿ [An-Nisa: Ayat 69] (Dan ridho Allah Ta'ala di dalam surga) Pada penduduka surga (Itu lebih baik daripada surga) Karena sesungguhnya ridho allah Ta'ala itu lebih besar daripada seluruh jenis kenikmatan.

(وَأَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) نَفْسِهَا (اَلْخُلُودُ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) أَيْ طُولُ الْإِقَامَةِ فِيهَا أَشَدُّ عَلَى أَهْلِهَا مِنْ دُخُولِهَا (وَتَوْبِيْخُ الْمَلَائِكَةِ الْكُفَّارَ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالتَّوْبِيخُ التَّعْيِيرُ وَالتَّعْنِيفُ وَالتَّهْدِيدُ (وَجِوَارُ الشَّيْطَانِ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالشَّيْطَانُ قَرِينُ أَهْلِهَا فِي سِلْسِلَةٍ وَاحِدَةٍ (وَغَضَبُ اللَّهِ تَعَالَى فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ]) وَأَهْلُ اللَّهِ تَعَالَى لَا يُبَالُونَ مِنْ دُخُولِ النَّارِ إذَا حَصَلَ لَهُمُ الرِّضْوَانُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَالْحَيَّاتُ وَالْعَقَارِبُ فِي النَّارِ لَا تَتَأَلَّمُ بِهَا لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَضِيَ عَنْهَا فِي دُخُولِهَا النَّارَ.

(Dan empat) Dari perkara (Di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Dzatnya neraka (Kekal di dalam neraka) Maksudnya lama tinggal di dalam neraka itu lebih buruk atas penduduk neraka daripada masuk ke dalam neraka (Dan menegurnya para malaikat kepada orang kafir di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Taubikh adalah mengibaratkan dan menegur dan menggertak (Dan bertetangga dengan setan di neraka itu lebih buruk daripada neraka) Maka setan itu mendampingi ahli neraka dalam rantai yang satu (Dan murka Allah Ta'ala di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka]) Dan para wali Allah Ta'ala itu mereka tidak perduli masuk neraka ketika hasil kepada mereka ridho dari Allah Ta'ala. Maka ular-ular dan kalajengking-kalajengking di dalam neraka itu tidak merasa sakit sebab neraka karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah ridho kepada mereka dalam masuknya mereka ke dalam neraka.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 20

(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ حِينَ سُئِلَ كَيْفَ أَنْتَ) أَيْ عَلَى أَيِّ حَالٍ أَنْتَ (فَقَالَ: أَنَا مَعَ الْمَوْلَى) أَيْ الْمُتَوَلِّي لِأُمُورِنَا (عَلَى الْمُوَافَقَةِ) لِأَوَامِرِهِ (وَمَعَ النَّفْسِ عَلَى الْمُخَالَفَةِ) لِمُرَادَاتِهَا (وَمَعَ الْخَلْقِ عَلَى النَّصِيحَةِ) وَهِيَ الدُّعَاءُ إِلَى مَا فِيهِ الصَّلَاحُ وَالنَّهْيُ عَمَّا فِيهِ الْفَسَادُ (وَمَعَ الدُّنْيَا) أَيْ مَتَاعِهَا (عَلَى الضَّرُورَةِ) أَيْ الْحَاجَةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي لَا مَدْفَعَ لَهَا.

Maqolah yang ke dua puluh (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana ketika ditanya bagaimana kamu) Maksudnya dalam kondisi apa kamu (Kemudian ia menjawab: Aku bersama tuhan) Maksudnya dzat yang mengatur urusan kita (Dalam keserasian) pada perintah-perintah tuhan (Dan bersama nafsu dalam keadaan menyelisihi) pada yang di inginkan nafsu (Dan bersama makhluk dalam nasihat) Nasihat adalah mengajak kepada perkara yang didalamnya ada kemaslahatan dan mencegah dari perkara yang di dalamnya ada kerusakan (Dan bersama dunia) Maksudnya kesenangan dunia (Dalam kedaruratan) Maksudnya kebutuhan yang pasti yang tidak bisa ditolak pada kebutuhan itu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 21

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (اِخْتَارَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ (مِنْ أَرْبَعَةِ كُتُبٍ) سَمَاوِيَّةٍ (مِنَ التَّوْرَاةِ: مَنْ رَضِيَ بِمَا أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى) مِنَ الرِّزْقِ (اسْتَرَاحَ) أَيْ صَارَ تَعَبُهُ ذَاهِبًا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الْإِنْجِيلِ: مَنْ هَدَمَ الشَّهَوَاتِ) أَيْ مَنْ تَرَكَ مُشْتَاقَاتِ النَّفْسِ (عَزَّ) أَيْ صَارَ قَوِيًّا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الزَّبُورِ: مَنْ تَفَرَّدَ) بِنَفْسِهِ وَبِمَالِهِ (عَنِ النَّاسِ نَجَا) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْهَلَاكِ وَبَعُدَ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (وَمِنَ الْفُرْقَانِ: مَنْ حَفِظَ اللِّسَانِ) مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَمِمَّا لَا يُعْتَدُّ بِهِ (سَلِمَ) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْآفَاتِ (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ).

Maqolah yang ke dua puluh satu (Telah memilih sebagian orang-orang yang bijaksana pada empat kalimat) Maksudnya pada empat jumlah (Dari empat kitab-kitab) Samawi (Dari kitab Taurat: Barang siapa yang ridho atas perkara yang telah memberikan kepadanya Allah Ta'ala) Dari rizqi (Maka menjadi tenang) Maksudnya jadi rasa lelahnya orang itu menghilang (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab Injil: Barang siapa yang menghancurkan syahwat-syahwatnya) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan perkara yang diinginkan nafsu (Maka mulia) Maksudnya ia menjadi kuat (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab zabur: Barang siapa yang menyendiri) dengan dirinya dan dengan hartanya (Dari manusia maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan dan ia jauh dari kerusakan itu di dunia dan di akhirat (Dan dari Al-Furqon: Barang siapa yang menjaga pada lisan) Dari perkara yang tidak ada faedah di dalamnya dan dari perkara yang tidak di anggap dengannya (Maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan-kerusakan (Di dunia dan di akhirat).

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى حِفْظُ اللِّسَانِ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [الْعَافِيَةُ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ: تِسْعَةٌ فِي الصَّمْتِ وَالْعَاشِرَةُ فِي الْعُزْلَةِ عَنِ النَّاسِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah menjaga lidah] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Keselamatan itu ada 10 bagian yang kesembilan itu dalam diam dan kesepuluh itu dalam menyendiri dari manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailimi.


Nashoihul Ibad Bab 4
Source: https://lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto 

Eco Office: KUA Kalimanah Wujudkan Gerakan Menanam dan Merawat Tanaman

Mukhyono dan Imam Edi siswanto, saat melaksanakan piket dengan merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)

Purbalingga-Suasana hijau dan asri terus dihadirkan di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melalui kegiatan menyiram, merawat, dan menanam tanaman hias yang dilaksanakan pada Rabu (15/7/2026) pagi. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen KUA Kalimanah dalam mendukung program Eco Office dan Eco Teologi Kementerian Agama Republik Indonesia.

Tampak Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, saat membawa bibit tanaman bunga di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)

Sesuai jadwal piket, kegiatan perawatan lingkungan pada hari tersebut dilaksanakan oleh Mukhyono, Imam Edi Siswanto, dan Siti Sholihatun. Namun, semangat menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan oleh petugas piket. 

Seluruh pegawai dan mahasiswa dari UIN Saizu Purwokerto yang sedang PKL turut berpartisipasi, mulai dari membersihkan meja kerja, kursi, lemari, pintu, jendela, hingga berbagai fasilitas pelayanan agar tetap bersih, rapi, dan bebas dari debu.

Prayitno dan Supriyono yang selalu senyum ceria menyambut tamu di ruang fron office KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=tanaman 

Di saat yang sama, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., turut menanam tanaman perdu di pot-pot yang menghiasi halaman kantor.

Kholidin menyampaikan bahwa menjaga lingkungan kerja yang bersih, hijau, dan nyaman merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, lingkungan yang asri tidak hanya menciptakan suasana kerja yang sehat dan menyenangkan, tetapi juga menjadi wujud nyata implementasi nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kepedulian terhadap alam sebagai amanah dari Allah Swt.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/12/kua-kalimanah-publikasikan-video.html 

Prayitno dan Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto, bergtong royong merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Melalui kegiatan sederhana seperti menyiram, merawat, dan menanam tanaman, diharapkan dapat membangun budaya cinta lingkungan di lingkungan kerja. 

"Ini merupakan implementasi program Eco Office dan Eco Teologi yang dicanangkan Kementerian Agama, sekaligus menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah," ucapnya.

Program Eco Office mendorong terciptanya tata kelola perkantoran yang ramah lingkungan melalui berbagai langkah nyata, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, serta efisiensi penggunaan sumber daya. 

Mughofar saat membersihakan fasilitas kantor dari debu di KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sementara itu, Eco Teologi mengajak seluruh insan Kementerian Agama untuk menginternalisasikan nilai-nilai ajaran agama dalam menjaga kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.

Melalui kegiatan ini, KUA Kalimanah berharap semangat mencintai lingkungan dapat terus tumbuh di kalangan ASN dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam demi mewujudkan lingkungan yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Quality Control: KUA Kalimanah Perkuat Budaya Kerja Melalui Kebersihan Lingkungan dan Penguatan Pelayanan

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Setelah melaksanakan kegiatan perawatan tanaman, penyiraman, penataan pot bunga, serta membersihkan lingkungan kantor, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya kerja yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026) pagi.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin 

Dalam kegiatan quality control tersebut, Kholidin menegaskan tiga hal penting yang harus menjadi komitmen bersama seluruh ASN. 

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti doa bersama pada acara evaluasi dan penguatan budaya kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Pertama, menjaga kerapian dan kebersihan kantor beserta lingkungan kerja sebagai bagian dari budaya kerja yang harus melekat dalam setiap aktivitas pelayanan. 

Kedua, menerapkan prinsip eco office melalui kepedulian terhadap lingkungan, di antaranya dengan merawat tanaman serta menanam berbagai jenis bunga dan tanaman perdu agar tercipta suasana kantor yang asri dan nyaman. 


Ketiga, membangun suasana kerja yang harmonis serta komunikasi yang baik antarsesama pegawai guna mendukung terciptanya pelayanan prima dan meningkatkan kepuasan masyarakat yang datang ke KUA Kalimanah.

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad, Rabu (15/7/2026. (Foto: Azizah Dwi Purba)

Usai kegiatan evaluasi, seluruh ASN melanjutkan agenda dengan mengikuti kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad sebagai sarana memperkuat nilai-nilai spiritual dan etika dalam menjalankan tugas serta pengabdian kepada masyarakat.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

BRUN KUA Kalimanah Hadirkan Lima Narasumber Bekali Remaja Menuju Pernikahan

Foto bersama peserta program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) KUA Kalimanah usai acara di Aula Pengawas Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (PP...