Tampilkan postingan dengan label Kajian Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Kitab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Oktober 2026

#43 Menyalakan Cahaya Kehidupan dengan Syukur, Taubat, Takwa, dan Amal Saleh

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada Syukur, Taubat, Takwa, dan Amal Saleh.

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-43 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (14/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pujianto menjelaskan secara ringkas dan lugas, berikut hasil rangkuman Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3–4.

Maqolah 3 dan 4 saling melengkapi dalam membimbing kehidupan seorang Muslim. Maqolah 3 menekankan pentingnya membangun hubungan dengan Allah melalui syukur, doa, istigfar, taubat, dan sedekah.

Sementara itu, Maqolah 4 mengingatkan bahwa perjalanan hidup membutuhkan cahaya takwa, tauhid, amal saleh, dan keyakinan agar manusia tidak tersesat oleh godaan dunia.

Pesan yang relevan untuk masa kini adalah bahwa keberhasilan bukan sekadar memperoleh harta, jabatan, atau pengakuan, melainkan mampu meraih kehidupan yang berkah, menjaga akhlak, memperbaiki kesalahan, serta menyiapkan bekal untuk akhirat.

1. Maqolah 3 – Syukur, Doa, Istigfar, Taubat, dan Sedekah
Syukur menjadi jalan bertambahnya nikmat, doa menjadi sarana memohon pertolongan dan berharap dikabulkan, istigfar membuka jalan ampunan, taubat mengantarkan kepada penerimaan Allah, dan sedekah menjadi amal yang diharapkan memperoleh pahala serta keberkahan.


Pesan utamanya adalah agar seorang Muslim senantiasa menjaga hubungan dengan Allah melalui rasa syukur, doa, istigfar, taubat, dan kepedulian kepada sesama. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur; ketika menghadapi kesulitan, ia berdoa; ketika melakukan kesalahan, ia memohon ampun dan bertaubat; serta ketika memiliki kelebihan rezeki, ia berbagi melalui sedekah. 

Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, tekanan ekonomi, dan tuntutan sosial, manusia mudah merasa kurang, cemas, atau membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ajaran ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya kedudukan, tetapi juga oleh rasa syukur, ketenangan hati, dan kedekatan kepada Allah.

Dalam praktiknya, syukur dapat diwujudkan dengan menggunakan nikmat secara bertanggung jawab, doa disertai ikhtiar, istigfar dan taubat melalui kesungguhan memperbaiki kesalahan, serta sedekah melalui kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Harapan kepada Allah hendaknya mendorong seseorang untuk terus berbuat baik, bukan menjadi alasan untuk berhenti berusaha. 

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 43, Rabu (14/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

2. Maqolah 4 – Lima Kegelapan dan Cahaya Penuntunnya
Maqolah 4, yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dalam materi, menggambarkan lima keadaan yang diibaratkan sebagai kegelapan beserta cahaya yang meneranginya:

1. Cinta dunia diterangi dengan takwa. Kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menyeret seseorang kepada perkara yang meragukan, tidak baik, bahkan haram. Takwa menjadi pedoman untuk memilih yang benar dan meninggalkan yang dilarang Allah.

2. Dosa diterangi dengan taubat. Kesalahan yang terus diulangi tanpa penyesalan dapat mengeraskan hati. Taubat, istigfar, dan berhenti dari perbuatan dosa menjadi jalan untuk memperbaiki diri.

3. Alam kubur diterangi dengan tauhid dan amal kebaikan. Keimanan yang tulus kepada Allah harus tercermin dalam perilaku, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, menjauhi maksiat, taat beribadah, dan memperbanyak zikir.

4. Kehidupan akhirat diterangi dengan amal saleh. Persiapan menuju akhirat dilakukan melalui ketaatan, perbuatan baik, serta pelaksanaan kewajiban sesuai kemampuan dan tuntunan agama.

5. Jalan menuju keselamatan diterangi dengan keyakinan. Keyakinan yang kuat kepada Allah membantu seseorang tetap teguh menjalani kehidupan dan tidak mudah goyah oleh keraguan.

Maqolah ini menegaskan bahwa setiap persoalan membutuhkan petunjuk yang tepat. Takwa membimbing pilihan hidup, taubat membersihkan kesalahan, tauhid menguatkan keimanan, amal saleh menjadi bekal akhirat, dan keyakinan membantu seseorang tetap istiqamah. 

Hubungannya dengan kehidupan masa kini
Kehidupan modern menghadirkan banyak godaan, seperti mengejar kekayaan tanpa memperhatikan halal dan haram, menghalalkan segala cara demi jabatan, menyalahgunakan teknologi, serta mencari pengakuan melalui media sosial. Dalam situasi seperti ini, takwa berfungsi sebagai kompas moral agar seseorang tidak mengorbankan prinsip agama demi keuntungan sesaat.

Ketika melakukan kesalahan, seseorang tidak seharusnya larut dalam keputusasaan ataupun membenarkan kesalahannya. Ia perlu mengakui kekeliruan, bertaubat, memperbaiki dampak perbuatannya, dan berusaha tidak mengulanginya. Sementara itu, amal saleh tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran bekerja, tanggung jawab keluarga, kepedulian sosial, dan menjaga hak orang lain.

Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 3

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَا يُعْطِي اللَّهُ لِأَحَدٍ خَمْسًا) مِنَ الْهَيْئَاتِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ) أَيْ هَيَّأَ (لَهُ خَمْسًا أُخْرَى) مِنْ جَزَائِهَا (لَا يُعْطِيهِ) أَيْ اللَّهُ الشَّخْصَ (الشُّكْرَ) لِلنِّعْمَةِ (إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الزِّيَادَةَ) عَلَى تِلْكَ النِّعْمَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾ [إبْرَاهِيم: الْآيَة ٧] (وَلَا يُعْطِيهِ الدُّعَاءَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الِاسْتِجَابَةَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أُدْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ [غَافِر: الْآيَة ٦٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ اهْ. (وَلَا يُعْطِيهِ الْإِسْتِغْفَارَ إلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ الْغُفْرَانَ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴾ [نُوح: الْآيَةَ ١٠]. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَكُمُ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهِ

Maqolah yang ketiga (Telah bersabda Nabi alaihis sallam: Tidaklah Alllah memberi kepada seseorang pada lima hal) Dari keadaan-keadaan (Kecuali sunnguh Allah telah menyiapkan) Maksudnya menyediakan (Bagi seseorang itu lima hal lainnya) Sebagai balasan lima perkara itu (Allah tidak memberi kepada seseorang) Maksudnya Allah kepada seseorang (Rasa syukur) Atas nikmat (Kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu tambahan) Atas nikmat tersebut. Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian﴿ [Q.S Ibrahim: Ayat 7] (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang doa kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu Ijabah) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian﴿ [Q.S Ghafir: Ayat 60]. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang beriman dengan pertemuan-Mu, dan ridha dengan ketentuan-Mu, dan merasa cukup dengan pemberian-Mu.] Telah meriwayatkan Hadist ini Imam Thabarani (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang istighfar kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu ampunan) Allah Ta'ala berfirman: ﴾Mintalah kalian kepada Tuhan kalian ampunan, sesungguhnya tuhan kalian adalah dzat Maha Pengampun﴿ [Q.S Nuh: Ayat 10]. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Jika kalian berbuat kesalahan hingga mencapai kesalahan kalian pada langit, kemudian kalian bertaubat, pasti Allah akan menerima taubat untuk kalian semua.] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah.

(وَلَا يُعْطِيهِ التَّوْبَةَ إِلَّا وَقَدْ أُعَدَّ لَهُ الْقَبُولُ) أَيْ قَبُولَ التَّوْبَةِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَكْتُوبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ: وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ. (وَلَا يُعْطِيهِ الصَّدَقَةَ إِلَّا وَقَدْ أَعَدَّ لَهُ التَّقَبُّلَ) أَيْ حُصُولَ الْقَبُولِ.

(Dan Allah tidak memberi kepada seseorang taubat kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya penerimaan taubat. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tertulis di sekitar Arsy sebelum diciptakan dunia empat ribu tahun: Dan sesungguhnya aku adalah dzat maha pengampun bagi orang yang bertaubat dan beriman dan beramal sholeh kemudian mengikuti petunjuk] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailami. (Dan Allah tidak memberi kepada seseorang shodaqoh kecuali benar-benar Allah telah menyiapkan bagi seseorang itu penerimaan) Maksudnya hasilnya penerimaan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Setiap orang itu berada dalam bayang-bayang sedekahnya hingga diadili di antara manusia] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ عَبْدٍ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا قَالَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَبْدِيْ رَجَوْتَنِيْ فَلَنْ أَحْقِرَكَ، حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النَّارِ وَادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتَ] رَوَاهُ ابْنُ لَالٍ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Tidaklah seorang hamba yang bersedekah dengan sedekah yang dia berharap dengan sedekah itu pada ridho Allah, melainkan berfirman Allah pada hari kiamat: 'Hamba-Ku, engkau harapkan aku, maka Aku tidak akan merendahkanmu. Aku haramkan tubuhmu atas neraka dan masuklah kamu dari pintu-pintu manapun dari Surga yang kamu mau] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnul Al.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 4

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (عَنْ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ: الظُّلُمَاتُ خَمْسٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (وَالسُّرُجُ) بِضَمَّتَيْنِ جَمْعُ سِرَاجٍ (لَهَا خَمُسٌ) مِنَ الصِّفَاتِ (حُبُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ) لِأَنَّهُ يُوقِعُ فِى الشُّبُهَاتِ ثُمَّ فِى الْمَكْرُوهَاتِ ثُمَّ فِى الْمُحَرَّمَاتِ قَالَ ﷺ: [حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِىُّ عَنْ الْحَسَنُ الْبُصْرِىُّ قَالَ الْغَزَالِىُّ: وَكَمَا أَنَّ حُبَّهَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ فَبُغْضُهَا رَأْسُ كُلِّ حَسَنَةٍ (وَالسِّرَاجُ لَهَا التَّقْوَى) أَىْ الاِحْتِرَازُ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَنْ عُقُوبَتِهِ رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّكَ لَمْ تَدَعْ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعْطَاكَ خَيْرًا مِنْهُ] رَوَاهُ الِامَّامُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِىُّ.

Maqolah yang ke empat (Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu: Kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari perkara-perkara (Dan lampu-lampu) Lafadz السُّرُجُ dengan membaca dua dhommah jamak dari lafadz سِرَاجٌ (Untuk kegelapan-kegelapan itu ada lima) Dari sifat (Cinta dunia adalah kegelapan) Karena sesungguhnya cinta dunia itu dapat menjatuhkan ke dalam perkara-perkara syubhat kemudian ke dalam perkara-perkara yang dimakruhkan kemudian ke dalam perkara perkara yang diharamkan telah bersabda Nabi ﷺ: [Cinta dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi dari Hasan Al-Bishri. Telah berkata Imam Al-Ghozali: Dan sebagaimana sesungguhnya cinta terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kesalahan maka benci terhadap dunia adalah pangkal dari setiap kebaikan. (Dan lampu untuk dunia itu adalah takwa) Maksudnya menjaga dengan cara ta'at kepada Allah menjauhi siksaan-siksaan dari Allah. Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan suatu perkara karena takwa kepada Allah Azza Wajalla melainkan pasti Allah akan memberikan kepadamu pada yang lebih baik dari perkara itu] Telah meriwayatkan pada hatis ini Imam Ahmad dan Imam An-Nasa'i.

(وَالذَّنْبُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ التَّوْبَةُ) رُوِىَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صَفُلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ عَلَى قَلْبِهِ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾] رَوَاهُ الِامَامُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِىُّ وَابْنُ مَاجَهِ وَالنَّسَائِىُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.

(Dan dosa adalah kegelapan dan lampu untuk dosa adalah taubat) Telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Sesungguhnya seorang hamba ketika melakukan kesalahan maka diberi titik ke dalam hatinya satu titik yang hitam kemudian ketika ia mencabut dan beristigfar dan bertaubat maka jernih hatinya dan jika ia kembali maka bertambah titik hitam itu sehingga menguasai titik hitam itu atas hatinya, dan titik hitam itu adalah ron yang telah berfirman tentangnya Allah ta'ala ﴾Sekali-kali tidak bahkan telah memenuhi bintik hitam di atas hati mereka karena dosa dosa yang mereka lakukan﴿] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dan Imam An-Nasa'i dan Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim.

(وَالْقَبْرُ ظُلْمَةٌ وَالسِّرَاجُ لَهُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

(Dan kuburan itu gelap dan lampu untuk kuburan adalah membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengharamkan atas neraka kepada orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ mencari dengan mengucapkannya pada keridhoan Allah Ta'ala] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim.

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا إِخْلَاصُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَحْجُزَكُمْ عَنْ كُلِّ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ. قِيلَ: سَبْعَةُ أَشْيَاءَ تُنَوِّرُ الْقَبْرَ: أَوَّلُهَا الْإِخْلَاصُ فِي الْعِبَادَةِ. وَالثَّانِي: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. وَالثَّالِثُ: صِلَةُ الرَّحِمِ. وَالرَّابِعُ: أَنْ لَا يُضَيِّعَ عُمُرَهُ فِي الْمَعْصِيَةِ. وَالْخَامِسُ: أَنْ لَا يَتَبِعَ هَوَاهُ. وَالسَّادِسُ: أَنْ يَجْتَهِدَ فِي الطَّاعَةِ. وَالسَّابِعُ أَنْ يُكْثِرَ ذِكْرَ اللَّهِ.

Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan ikhlas maka ia pasti akan masuk ke dalam surga, para sahabat berkata: Wahai Rasulallah apa tanda-tanda ikhlasnya membaca لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ? Rasul bersabda: Bisa mencega لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ kepada kalian dari setiap perkara yang telah Allah haramkan kepada kalian] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Khotib. Dikatakan: Tujuh perkara yang menerangi alam qubur: Yang pertama dari tujuh perkara itu adalah ikhlas dalam beribadah dan yang ke dua adalah berbakti kepada kedua orang tua dan yang ke tiga adalah bersilatur rahmi dan yang ke empat adalah tidak menyia-nyiakan umurnya dalam kemaksiatan dan yang ke lima adalah tidak mengikuti kesenangan hawa nafsunya dan yang ke enam adalah bersungguh-sungguh dalam keta'atan dan yang ke tujuh adalah memperbanyak dzikir kepada Allah.

(وَالْآخِرَةُ ظُلْمَةٌ) أَيْ لِكَثْرَةِ الْأَهْوَالِ (وَالسِّرَاجُ لَهَا الْعَمَلُ الصَّالِحُ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِرُخَصِهِ كَمَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْخَذَ بِعَزَائِمِهِ، إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ دِينِ إبْرَاهِيمَ] رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَدُّوا الْعَزَائِمَ وَاقْبَلُوا الرُّخْصَةَ وَدَعُوا النَّاسَ فَقَدْ كُفِيْتُمُوهُمْ] رَوَاهُ الْخَطِيبُ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ لَمْ يَقْبَلْ رُخْصَةَ اللَّهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِنْمِ مِثْلُ جِبَالِ عَرَفَةَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ (وَالصِّرَاطُ ظُلْمَةٌ، وَالسِّرَاجُ لَهُ الْيَقِينُ) وَهُوَ تَحْقِيقُ التَّصْدِيقِ بِإِزَالَةِ كُلِّ رَيْبٍ.

(Dan akhirat itu gelap) Maksudnya karena banyaknya kengerian-kengerian (Dan lampu untuk akhirat adalah amal sholeh) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah senang jika diambil keringana-keringanannya sebagaimana Allah senang jika diambil kewajiban-kewajibannya. Sesungguhnya Allah mengutus kepadaku dengan agama yang cenderung yang toleran dari agama Nabi Ibrahim] Telah meriwayatkan pada hadits ini Ibnu Asakir. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tunaikanlah oleh kalian kewajiban-kewajiban dan terimalah oleh kalian kemurahan-kemurahan dan biarkan olehmu manusia maka sungguh akan mencukupkan kalian bahaya manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Khotib. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Barang siapa yang tidak menerima keringanan-keringanan dari Allah maka ada atasnya dari dosa seperti gunung arafah] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad (Dan sirot itu gelap dan lampu untuk sirot adalah keyakinan) Keyakinan adalah menyatakan meyakini dengan menghilangkan setiap keraguan.

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 07 Oktober 2026

#42 Menjaga Kehormatan dan Menata Kembali Orientasi Kehidupan

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 42, Rabu (7/10/2026). (Foto: Pujianto)

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada menghormati ulama, pemimpin, tetangga, kerabat, dan keluarga dan jangan sampai dunia mengalahkan orientasi akhirat

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-42 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan dijelaskan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di ruang kantor setempat, Rabu (7/10/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 1 – Menghormati Ulama, Pemimpin, Tetangga, Kerabat, dan Keluarga
Hasil kajian Maqolah 1 menunjukkan bahwa kehidupan yang baik dibangun melalui sikap menghormati dan menjaga hubungan dengan berbagai pihak. Merendahkan ulama dapat menyebabkan kerugian dalam urusan agama karena ulama menjadi salah satu sumber pemahaman terhadap syariat. 

Meremehkan pemimpin dapat menimbulkan kerugian dalam urusan dunia, sedangkan merendahkan tetangga dapat menghilangkan berbagai manfaat dan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Maqolah ini juga menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan kerabat dan keluarga. Meremehkan kerabat dapat merusak kasih sayang dan hubungan kekeluargaan, sedangkan merendahkan pasangan dapat menghilangkan keharmonisan dan kenikmatan dalam kehidupan rumah tangga.

Pesan tersebut diperkuat dengan ajaran Nabi ﷺ agar seseorang mencintai kebaikan bagi tetangganya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri. Bahkan, kesabaran menghadapi gangguan tetangga menjadi bagian dari akhlak mulia yang mendapatkan kecintaan Allah.

Dengan demikian, menghormati orang lain bukan sekadar etika sosial, tetapi merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman dan terjaganya kehidupan yang harmonis.

Suasan kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 42, Rabu (7/10/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Maqolah 2 – Jangan Sampai Dunia Mengalahkan Orientasi Akhirat
Maqolah 2 memberikan peringatan tentang perubahan orientasi kehidupan manusia. Nabi ﷺ menggambarkan suatu masa ketika manusia lebih mencintai dunia daripada akhirat, rumah daripada persiapan menghadapi kubur, harta daripada memikirkan hisab, keluarga dan kenikmatan dunia daripada kenikmatan akhirat, serta mengikuti keinginan diri daripada menaati Allah.

Kecintaan kepada dunia pada dasarnya bukan sesuatu yang dilarang. Yang menjadi masalah adalah ketika kecintaan tersebut membuat seseorang lalai dari kewajiban dan melupakan kehidupan akhirat. 

Demikian pula dengan harta. Harta yang halal tetap akan dipertanggungjawabkan melalui hisab, sedangkan harta yang diperoleh dengan cara haram dapat menjadi sebab datangnya azab.

Maqolah ini mengajarkan pentingnya menempatkan dunia secara proporsional. Rumah boleh diperindah, harta boleh dicari, keluarga harus dicintai, dan kebutuhan diri perlu diperhatikan. Namun semuanya harus tetap berada dalam batas ketaatan kepada Allah dan tidak mengalahkan persiapan menuju akhirat.

Kesimpulan Hasil Kajian
Maqolah 1 dan 2 memiliki keterkaitan yang kuat. Maqolah 1 mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan manusia, sedangkan Maqolah 2 mengajarkan bagaimana menata hubungan hati dengan dunia dan Allah. Seorang Muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus mampu menghormati ulama, pemimpin, tetangga, kerabat, dan keluarga. 

Pada saat yang sama, kecintaan kepada dunia harus dikendalikan agar tidak membuat manusia melupakan kematian, hisab, dan kehidupan akhirat. Dengan demikian, keseimbangan antara akhlak kepada sesama dan orientasi kepada Allah menjadi kunci kehidupan yang baik dan bernilai.

Berikut Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5

بَابُ الخُمَاسِيِّ
فِيهِ سَبْعٌ وَعِشْرُوْنَ مَوْعِظَةً سِتَّةٌ أَخْبَارٌ وَالْبَاقِى آثَارٌ

Dalam bab ini ada 27 Nasihat, 6 akhbar dan sisanya atsar.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 1

الْمَقَالَةُ الْأُولَى: (رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: مَنْ أَهَانَ) أَيْ أَذَلَّ (خَمْسَةً) مِنَ النَّاسِ (خَسِرَ خَمْسَةً) أَيْ أَهْلَكَ خَمْسَةَ أُمُورٍ (مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ) بِأَنْ تَرَكَ تَعْظِيمَهُمْ (خَسِرَ الدِّينَ) فَإِنَّهُمْ مَعْدِنُ الشَّرِيعَةِ (وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ) أَيْ الْمُلُوكِ (خَسِرَ الدُّنْيَا) لِأَنَّهُمْ الَّذِينَ يُرَتِّبُونَ أُمُورَ الدُّنْيَا وَزِمَامُهَا بِأَيْدِيهِمْ (وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْجِيرَانِ) أَيْ الْمُجَاوِرِينَ فِي الْمَسَاكِنِ مِنْ جَمِيعِ الْجِهَاتِ (خَسِرَ الْمَنَافِعَ) أَيْ الْخَيْرَاتِ الَّتِي يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى الْمَطْلُوبِ.

Maqolah yang pertama (Diriwayatkan dari Nabi ﷺ: Barang siapa yang menghinakan) Maksudnya ia menghinakan (Pada lima golongan) Dari Manusia (Maka ia rugi pada lima perkara) Maksudnya ia merusak pada lima perkara (Barangsiapa yang merendahkan ulama) Dengan cara ia meninggalkan sifat mengagungkan ulama (Maka ia rugi dalam urusan agama) Karena sesungguhnya ulama adalah sumbernya syariat (Dan barang siapa yang merendahkan kepada umara) Maksudnya kepada para raja (Maka ia rugi dalam urusan dunia) Karena sesungguhnya umara adalah orang-orang yang mengatur pada urusan-urusan dunia dan kendali dunia itu dengan tangan umara (Dan barang siapa merendahkan kepada tetangga) Maksudnya orang-orang yang bertetangga di tempat tinggal dari semua arah (Maka ia rugi dalam kemanfaatan) Maksudnya kebaikan-kebaikan yang bisa sampai sebab kebaikan-kebaikan itu pada hal yang dicari.

رُوِيَ أَنَّهُ ا قَالَ: [وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الرَّجُلَ لَهُ جَارُ سُوءٍ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ بِحَيَاةٍ أَوْ مَوْتٍ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda: [Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam kekuasaaannya, tidaklah beriman seorang hamba hingga dia mencintai untuk tetangganya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim. Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai seorang laki-laki yang baginya ada tetangga buruk yang menyakitinya, lalu dia bersabar atas gangguannya dan ia ikhlas atas gangguan itu hingga meberikan kecukupan kepadanya Allah dengan hidup atau mati] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Bukhari.

 (وَمَنْ اسْتَخَفَّ بِالْأَقْرِبَاءِ) مِنَ الْأَرْحَامِ (خَسِرَ الْمَوَدَّةَ) أَيْ أَهْلَكَ مَحَبَّتَهُمْ (وَمَنْ اسْتَخَفَّ بِأَهْلِهِ) أَيْ زَوْجَتِهِ (خَسِرَ طِيبَ الْمَعِيشَةِ) أَيْ لَذَّةَ الْمَكْسَبِ الَّذِي يَعِيشُ بِسَبَبِهِ .  

(Dan barang siapa yang merendahkan kepada kerabat-kerabat) Maksudnya dari mahrom (Maka ia rugi dalam kasih sayang) Maksudnya ia telah merusak cinta mereka (Dan barang siapa merendahkan kepada keluarganya) Maksudnya istrinya (Maka ia rugi dalam nikmatnya kehidupan) Maksudnya nikmatnya mencari nafkah yang ia bisa hidup dengan sebabnya.

 Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 2 

 (وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِيْ يُحِبُّونَ خَمْسًا) مِنَ الْخِصَالِ (وَيَنْسَوْنَ خَمْسًا) مِنْ مُقَابِلَتِهَا (يُحِبُّونَ الدُّنْيَا) فَيَشْتَغِلُونَ بِهَا (وَيَنْسَوْنَ الْعُقْبَى) أَيْ يَتْرُكُونَ الْعَمَلَ لِلْآخِرَةِ (وَيُحِبُّونَ الدُّوْرَ) فَيَشْتَغِلُونَ بِزِينَتِهَا (وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ) أَيْ يَتْرُكُونَ الْعَمَلَ لِتَنْوِيرِهَا (وَيُحِبُّونَ الْمَالَ) فَيَشْتَغِلُونَ بِجَمْعِهِ (وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ) أَيْ يَغْفُلُونَ عَنْ حِسَابِ اللَّهِ تَعَالَى إيَّاهُ بِهِ فَإِنَّ الْمَالَ حَلَالُهُ حِسَابٌ وَحَرَامُهُ عِقَابٌ (وَيُحِبُّونَ الْعِيَالَ) أَيْ أَهْلَ الْبَيْتِ (وَيَنْسَوْنَ الْحُورَ) فِي الْجِنَانِ (وَيُحِبُّونَ النَّفْسَ وَيَنْسَوْنَ اللَّهَ) بِأَنْ يَتَّبِعُوا مُرَادَ أَنْفُسِهِمْ وَيَتْرُكُونَ أَوَامِرَ اللَّهِ تَعَالَى (هُمْ مِنِّي بُرَآءُ) أَيْ بُعَدَاءُ (وَأَنَا مِنْهُمْ بَرِيءٌ) أَيْ بَعِيدٌ.

Maqolah yang kedua (Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: Akan datang suatu zaman kepada ummatku mereka akan mencintai pada lima) Dari perkara-perkara (Dan mereka akan melupakan lima perkara) Dari perkara yang bertentangan dengannya (Mereka mencintai dunia) Sehingga mereka sibuk dengannya (Dan mereka melupakan akhirat) Yaitu mereka meninggalkan amal untuk kehidupan akhirat (Dan mereka mencintai rumah-rumah) Sehingga mereka sibuk dengan menghiasi rumah-rumah (Dan mereka melupakan kubur) Yaitu mereka meninggalkan amal untuk memberikan cahaya padanya (Dan mereka mencintai harta) Sehingga mereka sibuk mengumpulkannya (Dan mereka melupakan hisab) Yaitu Mereka lalai terhadap perhitungan Allah Ta'ala padanya karena mengumpulkan harta karena sesungguhnya harta, halalnya harta itu merupakan hisab dan haramnya harta itu merupakan adzab (Dan mereka mencintai keluarga) Yaitu ahli rumah (Dan mereka melupakan bidadari) di surga (Dan mereka mencintai diri mereka sendiri dan mereka melupakan Allah) Dengan cara mereka mengikuti pada keinginan diri mereka sendiri dan mereka meninggalkan perintah-perintah Allah Ta'ala (Mereka itu dari diriku berlepas diri) Yaitu mereka menjauh (dan aku dari mereka berlepas diri) Yaitu jauh.

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-5/
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 30 September 2026

#41 Kajian Kitab Nashoihul Ibad: Bekal Hidup dengan Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-41 seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor ruang kantor setempat, Rabu (23/9/2026).

Berikut rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36 Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Bab ini termasuk Babur Rubā‘ī, yang berisi nasihat-nasihat dalam bentuk empat perkara.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab  

Berikut isi rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36
“Bekal Hidup: Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah”

1. Maqolah 32 — Besarnya Pahala Orang yang Menghadapi Musibah
Dalam maqolah ini dijelaskan bahwa pada hari kiamat, orang-orang yang memiliki amal seperti shalat dan puasa akan mendapatkan pahala dengan perhitungan amalnya.

Namun, bagi ahlul bala’, yaitu orang-orang yang mendapatkan ujian dan musibah kemudian menghadapinya dengan kesabaran dan keimanan, disebutkan bahwa mereka memperoleh pahala tanpa hisab. Begitu besarnya pahala tersebut hingga orang-orang yang hidup dalam keadaan sehat dan selamat berharap mendapatkan kedudukan seperti mereka.

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pesan penting:
Musibah tidak selalu berarti kemurkaan Allah. Bagi orang beriman, musibah dapat menjadi jalan memperoleh pahala, penghapus dosa, dan peningkatan derajat. Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Pelajaran: Jangan hanya melihat beratnya musibah, tetapi lihat pula besarnya pahala di balik kesabaran.

2. Maqolah 33 — Empat Hal yang Akan “Merampas” Manusia
Sebagian ulama hikmah mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi empat perampasan: Malaikat maut merampas ruhnya.

  • Ahli waris mengambil hartanya setelah ia meninggal.
  • Tanah dan cacing menghancurkan jasadnya di dalam kubur.
  • Orang-orang yang pernah dizaliminya mengambil amalnya, apabila ia memiliki amal kebaikan.

Apabila seseorang tidak mempunyai amal kebaikan yang cukup, dosa orang-orang yang pernah dizaliminya dapat dibebankan kepadanya.

Inti pesannya:
Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa mengumpulkan amal.

Jangan sampai kita menjaga harta agar tidak diambil orang, tetapi justru membiarkan pahala kita diambil oleh orang lain karena kezaliman kita.

Pertanyaan untuk muhasabah:
“Kalau hari ini saya meninggal, apakah orang lain akan membawa harta saya, ataukah saya membawa bekal amal saya?”

3. Maqolah 34 — Empat Kesibukan dan Bekalnya

Maqolah ini memberikan gambaran tentang konsekuensi dari empat macam kesibukan manusia:

Pertama, orang yang sibuk mengejar syahwat harus mampu menjaga pergaulan dan kehormatan diri.

Kedua, orang yang sibuk mengumpulkan harta harus sangat berhati-hati agar tidak terjerumus kepada yang haram.

Ketiga, orang yang sibuk memberikan manfaat kepada sesama Muslim membutuhkan mudārāh, yaitu sikap lembut, bijaksana, dan pandai menjaga hubungan dengan manusia.

Keempat, orang yang sibuk beribadah harus memiliki ilmu, karena ibadah tidak akan benar jika dilakukan tanpa mengetahui tata caranya.


Kalimat kuncinya:
“Beribadah membutuhkan ilmu, melayani manusia membutuhkan akhlak, dan mencari harta membutuhkan kehati-hatian.”

Jadi, jangan hanya bertanya: “Apa yang ingin saya lakukan?” Tetapi tanyakan juga:
“Apakah saya memiliki ilmu dan akhlak untuk melakukannya?”

4. Maqolah 35 — Empat Amal yang Sangat Sulit

Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu menyebut beberapa amal yang sangat berat dilakukan oleh manusia, yaitu: 

  • Memaafkan ketika sedang marah.
  • Bersikap dermawan ketika sedang mengalami kesulitan.
  • Menjaga diri dari perkara haram ketika sedang sendirian.
  • Mengatakan kebenaran kepada orang yang ditakuti atau kepada orang yang diharapkan pertolongannya.

Ini menunjukkan bahwa ukuran akhlak seseorang bukan ketika keadaan mudah, tetapi ketika dirinya sedang diuji.

· Mudah memaafkan ketika hati tenang.
Yang sulit adalah memaafkan ketika hati terluka.

· Mudah bersedekah ketika kaya.
Yang luar biasa adalah memberi ketika diri sendiri sedang membutuhkan.

· Mudah meninggalkan maksiat ketika dilihat orang.
Yang menunjukkan ketakwaan adalah meninggalkannya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Inilah hakikat kejujuran iman:
Tetap baik ketika tidak ada yang melihat dan tetap benar ketika ada risiko yang harus ditanggung.

5. Maqolah 36 — Empat Waktu Orang yang Bijaksana

Dalam kitab Zabur disebutkan nasihat Allah kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam bahwa orang yang berakal dan bijaksana hendaknya membagi waktunya dalam empat keadaan:

1. Waktu untuk bermunajat kepada Allah
Dengan dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, mengadu dan mendekatkan diri kepada Allah.

2. Waktu untuk bermuhasabah
Mengevaluasi diri: apa yang sudah dilakukan, apa kesalahan hari ini, kemudian bersyukur atas kebaikan dan memohon ampun atas kesalahan.

3. Waktu bersama orang-orang yang mengingatkan kekurangan kita
Bersahabat dengan orang-orang yang berani memberikan nasihat, bukan hanya orang yang selalu memuji.

4. Waktu menikmati perkara halal
Manusia juga membutuhkan waktu untuk menikmati sesuatu yang halal, beristirahat, dan menyegarkan diri, selama tidak berlebihan dan tidak melalaikan kewajiban.

Benang Merah Maqolah 32–36
Kalau kelima maqolah ini dirangkai menjadi satu pesan, sebenarnya Nashoihul Ibad sedang mengajarkan bagaimana seorang Muslim mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan:

Maqolah 32:
Ketika mendapat musibah, bersabarlah, karena pahala Allah sangat besar.

Maqolah 33:
Ingat kematian, karena ruh, harta, jasad, dan bahkan amal kita akan menghadapi konsekuensinya.

Maqolah 34:
Dalam menjalani kehidupan, kuasai diri, cari harta dengan halal, layani manusia dengan akhlak, dan beribadahlah dengan ilmu.

Maqolah 35:
Latih empat kekuatan: memaafkan, memberi, menjaga diri, dan berkata benar.

Maqolah 36:
Atur kehidupan dengan empat keseimbangan: hubungan dengan Allah, evaluasi diri, hubungan dengan orang saleh, dan menikmati yang halal.

Kesimpulan yang mudah disampaikan dalam pengajian
“Jangan takut menghadapi musibah, tetapi takutlah jika musibah membuat kita jauh dari Allah. Jangan hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi kumpulkan pula amal. Jangan hanya menjaga tubuh dari penyakit, tetapi jagalah hati dari dosa. Dan jangan hanya menghitung umur yang telah berlalu, tetapi hitunglah amal yang telah kita bawa.”

Dengan demikian, orang bijaksana bukanlah orang yang sekadar panjang umurnya, banyak hartanya, atau tinggi ilmunya. Orang bijaksana adalah orang yang tahu kepada siapa ia harus kembali, mempersiapkan bekal untuk kembali, dan setiap hari mau mengevaluasi dirinya.(*)

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto



Rabu, 23 September 2026

#40 Menata Kehidupan dengan Taubat, Qanaah, Pengendalian Diri, dan Amal Saleh (Bagian 2)

PAI KUA Kalimanah, Pujianto, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 40, Rabu (23/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-40seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto di Balai Nikah KUA Kalimanah, Rabu (23/9/2026).

Berikut rangkuman Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 26–31

Hasil kajian terhadap Maqolah 26–31 menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim membutuhkan keseimbangan antara taubat, pengendalian hawa nafsu, qanaah, kesungguhan beribadah, dan orientasi kepada akhirat. Keenam maqolah tersebut memberikan nasihat agar manusia tidak terlena oleh dunia, tetapi menjadikan kehidupan dunia sebagai sarana menuju keselamatan akhirat.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Suasana Kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 40, Rabu (23/9/2026). (Foto: Rizal Nur Ahmadi)

Maqolah 26 – Jangan Tertipu oleh Dunia

Maqolah ini mengingatkan bahwa dunia memiliki sifat sementara dan dapat menjadi sumber kelalaian apabila manusia terlalu mencintainya. Harta, kedudukan, kenikmatan, dan kesibukan duniawi hendaknya tidak mengalahkan perhatian terhadap akhirat. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa seorang Muslim perlu menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan utama kehidupan.

Maqolah 27 – Jangan Menunda Taubat

Ketika seorang hamba melakukan dosa, Allah masih memberikan berbagai bentuk kasih sayang: rezeki tetap diberikan, kesehatan tetap dijaga, aib masih ditutupi, dan hukuman tidak selalu diberikan secara langsung. Hal tersebut bukan berarti dosa boleh diremehkan, tetapi merupakan kesempatan agar manusia segera menyadari kesalahan dan kembali kepada Allah melalui taubat. Karena itu, rahmat Allah seharusnya mendorong manusia untuk bersyukur, memperbaiki diri, dan tidak menunda taubat.

Maqolah 28 – Jalan Menuju Surga Membutuhkan Pengendalian Diri

Maqolah ini menggambarkan bahwa seseorang yang menginginkan keselamatan akhirat harus mampu mengendalikan kenyamanan dan hawa nafsunya. Tidur perlu diimbangi dengan persiapan menghadapi kematian, kesombongan diganti dengan amal saleh, kenyamanan tidak membuat lalai dari kewajiban, dan keinginan harus dikendalikan demi memperoleh keridaan Allah. Pesan utamanya adalah bahwa surga membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan perjuangan melawan hawa nafsu.

Maqolah 29 – Kebahagiaan Tidak Selalu Berasal dari Kelimpahan

Maqolah ini mengajarkan bahwa manusia sering mencari kebahagiaan di tempat yang keliru. Kekayaan belum tentu menghadirkan ketenangan; ketenangan justru erat dengan qanaah. Kenikmatan tidak semata-mata berasal dari kemewahan, tetapi juga dari kesehatan. Demikian pula ilmu membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, kebahagiaan yang hakiki lebih banyak berkaitan dengan ketenangan hati dan pengelolaan diri daripada banyaknya kepemilikan.

Maqolah 30 – Menjaga Hati dan Perilaku

Maqolah ini mengarahkan manusia agar tidak hanya memperhatikan amal lahiriah, tetapi juga keadaan batinnya. Ibadah harus melahirkan akhlak, kerendahan hati, rasa takut kepada Allah, serta kepedulian kepada sesama. Kesalehan tidak cukup hanya terlihat dalam ritual, tetapi harus tercermin dalam cara berpikir, berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain.

Maqolah 31 – Ilmu Harus Melahirkan Amal

Maqolah ini menegaskan pentingnya ilmu yang memberikan manfaat bagi kehidupan. Ilmu tidak semestinya berhenti pada pengetahuan, hafalan, atau pembicaraan, tetapi harus diwujudkan dalam amal dan akhlak. Semakin seseorang mengetahui kebenaran, seharusnya semakin kuat pula dorongannya untuk mengamalkan dan memperbaiki diri. Dengan demikian, ukuran kebermanfaatan ilmu bukan hanya seberapa banyak yang diketahui, tetapi seberapa jauh ilmu tersebut membentuk perilaku yang baik.

Kesimpulan Hasil Kajian

Maqolah 26–31 memberikan satu rangkaian pesan penting: jangan tertipu oleh dunia, jangan menunda taubat, kendalikan hawa nafsu, tumbuhkan qanaah, jaga hati dan akhlak, serta wujudkan ilmu dalam amal. Kehidupan yang baik bukanlah kehidupan tanpa masalah atau tanpa kenikmatan dunia, melainkan kehidupan yang mampu menempatkan dunia secara proporsional dan menjadikan setiap kesempatan sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah. Dengan demikian, seorang Muslim diharapkan tidak hanya menjadi orang yang mengetahui kebaikan, tetapi juga mampu mengamalkannya secara istiqamah hingga menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 40, Rabu (23/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

selengkapnya:  

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 26

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَحْتَجُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَرْبَعَةِ أَنْفُسٍ) أَيْ أَشْخَاصٍ (عَلَى أَرْبَعَةِ أَجْنَاسٍ مِنَ النَّاسِ) فَيَحْتَجُّ اللَّهُ الْعَظِيمُ (عَلَى الْأَغْنِيَاءِ بِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ) عَلَيْهِمَا السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِالْأَمْوَالِ وَبِالْمَمْلَكَةِ قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: فَأَيُّ مَمْلَكَةٍ أَكْبَرُ مِنْ مَمْلَكَةِ سُلَيْمَانَ وَأَيُّ مَالٍ أَكْثَرُ مِنْ مَالِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

Maqolah yang ke dua puluh enam (Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Sesungguhnya Allah Ta'ala itu berhujjah pada hari kiamat dengan empat orang) Maksudnya individu (kepada empat kelompok dari manusia) Maka berhujjah Allah yang maha agung (Kepada orang-orang kaya dengan Nabi Sulaiman bin Daud) Alaihimas Salam seperti Allah berfirman kepada orang-orang kaya: kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: Kami disibukkan dengan harta-harta dan kerajaan maka Allah berfirman kepada mereka: kerajaan manakah yang lebih besar daripada kerajaan Sulaiman dan harta manakah yang lebih banyak daripada hartanya Sulaiman dan Sulaiman itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْعَبِيدِ بِيُوسُفَ) كَأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِخِدْمَةِ سَادَاتِنَا، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي يُوسُفُ تَحْتَ عَزِيزِ مِصْرَ وَامْرَأَتِهِ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada para hamba sahaya dengan Nabi Yusuf) Seperti Allah berfirman kepada para hamba sahaya: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan berkhidmah kepada tuan-tuan kami, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Yusuf itu ada di bawah kekuasaan raja mesir dan istrinya raja mesir dan Yusuf itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْمَرْضَى بِأَيُّوبَ) عَلَيْهِ السَّلَامُ كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَهُمْ: لِمَ تَرَكْتُمَ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَرْضَى، قَالَ اللَّهُ لَهُمْ: عَبْدِي أَيُّوبُ مَرِضَ مَرَضًاً شَدِيدًاً وَهُوَ لَمْ يَتْرُكْ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang sakit dengan Nabi Ayyub) Alaihis Salam Seperti Allah berfirman kepada orang-orang sakit: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami sakit, maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Ayyub itu sakit dengan penyakit yang sangat berat dan Ayyub itu tidak meninggalkan ibadah.

(وَ) يَحْتَجُّ اللَّهُ تَعَالَى (عَلَى الْفُقَرَاءِ بِعِيسَى]) كَأَنْ يَقُولَ اللَّهُ لَھُمْ: لِمَ تَرَکْتُمُ الْعِبَادَةَ، فَإِنْ قَالُوْا: نَحْنُ مَشْغُولُونَ بِمَشَقَّةِ الْفَقْرِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُمْ: عَبْدِي عِيسَى أَفْقَرُ مَنْ فِي الْأَرْضِ وَهُوَ لَمْ يَمْلِكْ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا فَلَيْسَ لَهُ بَيْتٌ وَلَا مَالٌ وَلَا زَوْجَةٌ وَهُوَ لَمْ يَتْرُكِ الْعِبَادَةَ.

(Dan) Berhujjah Allah Ta'ala (Kepada orang-orang fakir dengan Nabi Isa]) Seperti Allah berfirman kepada orang-orang fakir: Kenapa kalian meninggalkan ibadah. Jika mereka berkata: kami disibukkan dengan beratnya menanggung kemiskinan , maka Allah berfirman kepada mereka: Hambaku Isa adalah sefakir-fakirnya orang yang ada di atas bumi dan Isa itu tidak memiliki apapun dari dunia dan tidak ada baginya rumah dan tidak ada baginya harta dan tidak ada baginya istri dan Isa itu tidak meninggalkan ibadah.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 27

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ سَعْدِ بْنِ هِلَالٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ) أَيْ صَارَ ذَا ذَنْبٍ (مَنَّ اللَّهُ تَعَالَى) أَيْ أَنْعَمَ (عَلَيْهِ بِأَرْبَعِ خِصَالٍ: لَا يَحْجُبُ عَنْهُ الرِّزْقَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنَ الرِّزْقِ (وَلَا يَحْجُبُ عَنْهُ الصِّحَّةَ) أَيْ لَا يَمْنَعُهُ مِنْ صِحَّةِ الْبَدَنِ (وَلَا يُظْهِرُ عَلَيْهِ الذَّنْبَ) بَلْ يَسْتُرُهُ (وَلَا يُعَاقِبُهُ عَاجِلًا) أَيْ فِي السَّاعَةِ الْحَاضِرَةِ بَلْ يُمْهِلُهُ وَلَا يُهْمِلُهُ.

Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Dari Sa'd bin Hilal Rahimahullah: Sesungguhnya seorang hamba ketika berbuat dosa) Maksudnya jadi memiliki dosa (Maka memberikan anugrah Allah Ta'ala) Maksudnya memberikan nikmat (Kepada orang yang berbuat dosa dengan empat perkara: Allah tidak akan menutup darinya rezeki) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari rizki (Dan Allah tidak akan menutup darinya kesehatan) Maksudnya Allah tidak akan mencegah pada orang yang berbuat dosa dari kesehatan badan (Allah tidak akan menampakkan atasnya dosa) Bahkan Allah menutup dosa orang yang berbuat dosa (Dan Allah tidak akan menyiksanya di dunia) Maksudnya di waktu sekarang bahkan Allah memberikan kesempatan taubat kepada orang yang berdosa dan Allah tidak abai pada orang yang berdosa.

وَحُكِيَ أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَعْطَى أُمَّةَ مُحَمَّدٍ أَرْبَعَ كَرَامَاتٍ مَا أَعْطَانِيهَا: إِحْدَاهَا: قَبُولُ تَوْبَتِي كَانَ بِمَكَّةَ، وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَتُوبُونَ فِي كُلِّ مَكَانٍ فَيُقْبَلُ تَوْبَتُهُمْ. وَالثَّانِيَةُ: أَنِّي كُنْتُ لَابِسًا، فَلَمَّا عَصَيْتُ جَعَلَنِي عُرْيَانًا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ عُرَاةً فَيُلْبِسُهُمْ. وَالثَّالِثَةُ: لَمَّا عَصَيْتُ فَرَّقَ بَيْنِي وَبَيْنَ امْرَأَتِي وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ وَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَزْوَاجِهِمْ. وَالرَّابِعَةُ: أَنِّي عَصَيْتُ فِي الْجَنَّةِ فَأَخْرَجَنِي مِنْهَا وَأُمَّةُ مُحَمَّدٍ يَعْصُونَ اللَّهَ تَعَالَى خَارِجَ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلُهُمْ فِيهَا إِذَا تَابُوا.

Dihikayatkan sesungguhnya Nabi Adam Alaihis Salam bersabda: Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada umat Nabi Muhammad empat kemuliaan yang Allah tidak memberikan kepadaku kemuliaan itu: Salah satu dari empat kemuliaan itu: Adalah penerimaan taubatku itu berada di mekkah, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bertaubat di setiap tempat kemudian diterima taubatnya umat Nabi Muhammad. Yang kedua: Adalah sesungguhnya Aku itu berpakaian, ketika aku bermaksiat maka Allah membuatku telanjang, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat dalam keadaan telanjang, maka Allah memberi pakaian kepada mereka. Dan yang ketiga: Adalah ketika aku bermaksiat, Allah memisahkan antara aku dan antara istriku, sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah, dan Allah tidak memisahkan antara mereka dan antara istri-istri mereka. Dan yang keempat: Adalah sesungguhnya aku itu bermaksiat di surga, kemudian Allah mengeluarkanku dari surga, Sedangkan umat Nabi Muhammad itu mereka bermaksiat kepada Allah Ta'ala di luar Surga, kemudian Allah memasukkan mereka ke dalam surga jika mereka bertaubat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 28

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَرَفَ أَرْبَعًا إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ) أَيْ مَنْ تَرَكَ أَرْبَعًا وَتَوَجَّهَ إِلَى أَرْبَعٍ وَجَدَ الْجَنَّةَ (النَّوْمَ إِلَى الْقَبْرِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ النَّوْمِ وَتَوَجَّهَ إِلَى رَاحَتِهِ فِي الْقَبْرِ بِأَنْ عَمِلَ صَالِحًا لِأَجْلِهِ (وَالْفَخْرَ إِلَى الْمِيزَانِ) بِأَنْ تَرَكَ التَّطَاوُلَ عَلَى النَّاسِ بِتَعْدِيدِ الْمَنَاقِبِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلِ الْحَسَنَاتِ لِأَجْلِ زِيَادَتِهَا فِي الْمِيزَانِ (وَالرَّاحَةَ إلَى الصِّرَاطِ) بِأَنْ تَرَكَ رَاحَةَ الْبَدَنِ وَتَوَجَّهَ إلَى عَمَلٍ يُسْرِعُ الْمُرُورَ عَلَى الصِّرَاطِ وَذَلِكَ بِإِسْرَاعِ اجْتِنَابِ الْمَعَاصِي (وَالشَّهْوَةَ إلَى الْجَنَّةِ) بِأَنْ تَرَكَ الشَّهْوَةَ وَتَوَجَّهَ إلَى مَشَقَّاتِ الْعِبَادَاتِ فَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ.

Maqolah yang ke dua puluh delapan (Dari Hatim Al-Ashom Rahimahullah sesungguhnya Hatim Al-Ashom berkata: Barang siapa memalingkan empat menuju empat maka ia pasti akan menemukan surga) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan empat kemudian ia menghadap pada empat makak pasti ia akan menemukan surga (Memalingkan tidur menuju qubur) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan tidur kemudian ia menghadap pada kenikmatan tidur di dalam qubur dengan mengamalkan amalan sholeh karena arah-arah kenikmatan tidur di dalam qubur (Dan memalingkan kebanggaan menuju timbangan) Dengan cara ia meninggalkan bersombong-sombong kepada manusia dengan menghitung-hitung kebaikan kemudian ia menghadap menuju amal yang baik-baik karena arah-arah menambah amal kebaikan pada timbangan (Dan memalingkan kenikmatan menuju sirot) Dengan cara ia meninggalkan kenikmatan badan kemudian ia menghadap menuju amalan yang bisa mempercepat lewat di atas sirot dan amalan itu adalah dengan cepat menjauhi maksiat (Dan memalingkan syahwat menuju surga) Dengan cara ia meninggalkan syahwat kemudian ia menghadap menuju beratnya ibada karena sesungguhnya surga itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang di benci sebagaimana dalam hadits.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 29

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَامِدٍ اللَّفَّافِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأُمُورِ (طَلَبْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ) مِنَ الْمَسَالِكِ (فَأَخْطَأْنَا طُرُقَهَا) أَيْ تِلْكَ الْأُمُورِ الْأَرْبَعَةِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي أَرْبَعَةٍ أُخْرَى) مِنَ الْمَسَالِكِ (طَلَبْنَا الْغِنَى) أَيْ الْيَسَارَ (فِي الْمَالِ فَوَجَدْنَاهُ) أَيْ الْغِنَى (فِي الْقَنَاعَةِ) أَيْ فِي الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ وَفِي سُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ (وَطَلَبْنَا الرَّاحَةَ) أَيْ زَوَالَ الْمَشَقَّةِ (فِي الثَّرْوَةِ) أَيْ كَثْرَةِ الْمَالِ (فَوَجَدْنَاهَا فِي قِلَّةِ الْمَالِ، وَطَلَبْنَا اللَّذَّاتِ) بِحَلَاوَةِ الذَّوْقِ وَنُورِ الْبَصَرِ وَحُضُورِ الْمَرْجُوِّ (فِي النِّعْمَةِ) وَهِيَ مَا قُصِدَ بِهِ النَّفْعُ (فَوَجَدْنَاهَا) أَيْ اللَّذَّاتِ (فِي الْبَدَنِ الصَّحِيحِ. وَطَلَبْنَا الْعِلْمَ فِي بَطْنٍ شِبْعٍ فَوَجَدْنَاهُ فِي بَطْنٍ جَائِعٍ) وَفِي نُسْخَةٍ: وَطَلَبْنَا الرِّزْقَ فِي الْأَرْضِ فَوَجَدْنَاهُ فِي السَّمَاءِ، أَيْ مَقْسُومًا فِي السَّمَاءِ.

Maqolah yang ke dua puluh sembilan (Dari Hamid Al-Lafaf Rahimahullah sesungguhnya Hamid Al-Lafaf berkata: Empat) Dari perkara (Yang telah kami cari padanya dalam empat) Dari jalur (Kemudian kami salah pada jalannya) Maksudnya perkara itu yang empat (Ternyata kami menemukan pada perkara itu dalam empat yang lain) Dari jalur-jalur (Kami mencari kekayaan) Maksudnya kemudahan (Dalam harta ternyata kami menemukan kekayaan itu) Maksudnya kekayaan (Dalam keadaan qona'ah) Maksudnya dalam keadaan ridho atas bagian dari Allah dan dalam keadaan tenangnya hati dari tidak adanya yang dibutuhkan (Dan kami mencari ketenangan) Maksudnya hilangnya kesusahan (Dalam harta yang banyak) Maksudnya banyaknya harta (Ternyata kami menemukan ketenangan itu dalam keadaan sedikitnya harta, dan kami mencari kelezatan-kelezatan) Atas manisnya rasa dan terangnya penglihatan dan hadirnya yang diinginkan (Dalam kenikmatan) Nikamat adalah perkara yang dituju dengannya manfaat (Ternyata kami menemukan kelezatan-kelezatan itu) Maksudnya kelezatan-kelezatan (Dalam keadaan badan yang sehat. Dan kami mencari ilmu dalam keadaan perut yang kenyang ternyata kami menemukan ilmu itu dalam keadaan perut yang lapar) Dan dalam salinan matan: Dan kami mencari rizki di bumi ternyata kami menemukan rizki itu di langit maksudnya yang dibagi di langit.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 30

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّلَاثُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ قَلِيلُهَا كَثِيرٌ) فَيَتَأَذَّى النَّاسُ بِذَلِكَ الْقَلِيلِ (الْوَجَعُ) أَيْ الْأَلَمُ (وَالْفَقْرُ) أَيْ فَقْدُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ (وَالنَّارُ وَالْعَدَاوَةُ) أَيْ قَصْدُ الْإِضْرَارِ الْمُتَمَكِّنِ فِي الْقَلْبِ.

Maqolah yang ke tiga puluh (Dari Ali Radhiallahu Anhu sesungguhnya ia berkata: Empat perkara yang sedikitnya empat perkara itu adalah banyak) Sehingga merasa sakit manusia dengan yang sedikit itu (Sakit) Maksudnya sakit (Dan kemiskinan) Maksudnya tidak adanya perkara yang ia membutuhkan pada perkara itu (Dan api dan musuh-musuh) Maksudnya yang bertujuan mencelakai yang menetap di dalam hati.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: [رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الْإِيمَانِ بِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ]. وَقَالَ سَيِّدُنَا سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِابْنِهِ: لَا تَسْتَكْثِرْ أَنْ يَكُونَ لَكَ أَلْفُ صَدِّيقٍ فَالْأَلْفُ قَلِيلٌ وَلَا تَسْتَقِلَّ أَنْ يَكُونَ لَكَ عَدُوٌّ وَاحِدٌ فَالْوَاحِدُ كَثِيرٌ.

Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Pangkalnya akal sesudah iman kepada Allah adalah menunjukkan rasa kasih sayang kepada manusia] Dan telah bersabda Nabi Sulaiman Alaihis Salam kepada anaknya: Janganlah kamu menganggap banyak jika ada bagimu seribu teman karena seribu itu adalah sedikit dan janganlah kamu menganggap sedikit jika ada bagimu musuh yang hanya satu karena satu itu adalah banyak.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 31

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ) رَحِمَهُ اللَّهُ (أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأَجْنَاسِ، فَإِنَّ الشَّيْءَ إِنَّمَا يُعْرَفُ بِضِدِّهِ (الشَّبَابُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهُ إِلَّا الشُّيُوخُ) أَيْ أَهْلُ الْهَرَمِ (وَالْعَافِيَةُ) أَيْ دِفَاعُ الْمَكْرُوهِ (لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا أَهْلُ الْبَلَاءِ) قَالَ الْغَزَالِيُّ بَدَلَ هَذِهِ الْجُمْلَةِ: وَلَا يَعْرِفُ قَدْرَ الْغِنَى إِلَّا أَهْلُ الْفَقْرِ (وَالصِّحَّةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا الْمَرْضَى) جَمْعُ مَرِيضٍ أَيْ إِلَّا أَهْلُ السَّقَمِ (وَالْحَيَاةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلَّا الْمَوْتَى. قَالَ الشَّاعِرُ أَبُو نُوَاسٍ) بِضَمِّ النُّونِ وَبِالْوَاوِ اسْمُهُ الْحَسَنُ بْنُ هَانَىءَ. وَسَبَبُ تَلْقِيبِهِ بِأَبِي نُوَاسٍ أَنَّهُ كَانَ لَهُ ذُؤَابَتَانِ تَنُوْسَانِ أَيْ تَتَحَرَّكَانِ عَلَى عَاتِقِهِ اهْ. مِنْ بَحْرِ اَلطَّوِيلِ:

Maqolah yang ke tiga puluh satu (Dari Hatim Al-Ashom) Rahimahullah (Sesungguhnya Hatim Al-Ashom berkata: Empat perkara yang tidaklah mengetahui pada nilainya empat perkara itu kecuali empat) Dari kelompok, Karena sesungguhnya sesuatu itu hanya bisa diketahui dengan kebalikannya (Masa muda tidaklah mengetahui pada nilainya masa muda itu kecuali orang-orang yang sudah tua) Maksudnya orang-orang yang lanjut usia (Dan kesejahtraan) Maksudnya terhindar dari perkara yang dibenci (Tidaklah mengetahui pada nilai kesejahtraan kecuali orang-orang yang terkena musibah) Telah berkata Imam Al-Ghozali sebagai ganti dari kalimat ini: Tidaklah mengetahui nilai kekayaan kecuali orang fakir (Dan sehat tidaklah mengetahui pada nilainya sehat kecuali orang-orang yang sakit) Lafadz الْمَرْضَى adalah jamak dari lafadz مَرِيضٌ. Maksudnya kecuali orang-orang yang sakit (Dan kehidupan tidaklah mengetahui pada nilai kehidupan kecuali orang-orang yang mati. Telah berkata seorang penya'ir Abu Nuwas) Lafadz نُوَاسٍ dibaca dengan mendhommahkan huruf nun dan dengan wawu. Namanhya adalah Hasan bin Hani dan sebab dilaninya Hasan bin Hani dengan nama Abu Nuwas karena sesungguhnya ada padanya dua kuncir yang keduanya berubah-ubah Maksudnya kedua-duanya bergerak-gerak di atas pundaknya. Syair dari Bahar Thowil:

وَرَحْمَةُ رَبِّي مِنْ ذُنُوبِيَ أَوْسَعُ * (ذُنُوْبِيَ إِنْ فَكَّرْتُ فِيهَا كَثِيرَةٌ
وَلَكِنِّي فِي رَحْمَةِ اللَّهِ أَطْمَعُ * وَمَا طَمَعِي فِي صَالِحٍ إِنْ عَمِلْتُهُ
وَإِنِّي لَهُ عَبْدٌ أُقِرُّ وَأَخْضَعُ * هُوَ اللَّهُ مَوْلَايَ الَّذِي هُوَ خَالِقِي
وَإِنْ تَكُنِ الْأُخْرَى فَمَا أَنَا أَصْنَعُ) * فَإِنْ يَكُ غُفْرَانٌ فَذَلِكَ رَحْمَةٌ
(Dosa dosaku jika aku fikir tentangnya itu adalah banyak * Sedangkan rahmat Allah itu lebih luas daripada dosa-dosaku
Bukanlah harapanku dalam amal sholeh jika aku melaksanakan amal sholeh itu * Akan tetapi aku lebih berharap pada rahmatnya Allah
Dialah Allah pelindungku dzat yang menciptakan aku * Dan sungguh aku baginya adalah hamba dan aku mengakui hal itu dan aku tunduk kepadanya
Jika terjadi ampunan maka itulah kasih sayang Allah * Dan jika yang terjadi yang lain maka tidkalah aku melakukan hal itu)

عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ أَرَادَ أَنْ لَا يُوْقِفَهُ اللَّهُ عَلَى قَبِيْحِ أَعْمَالِهِ وَلَا يَنْشُرَ لَهُ دِيْوَانًا فَلْيَدْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ وَهُوَ: اللَّهُمَّ إِنَّ مَغْفِرَتَكَ أَرْجَى مِنْ عَمَلِيْ، وَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذَنْبِيْ، اللَّهُمَّ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَهْلًا أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ فَرَحْمَتُكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنِيْ لِأَنَّهَا وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ].

Dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Barang siapa yang ingin agar tidak memperlihatkan kepadanya oleh Allah atas amal-amalnya yang jelek dan agar Allah tidak membuka kepadanya catatan amalnya maka hendaklah ia berdoa dengan doa ini di akhir setiap sholat. Doa itu adalah: Ya Allah sesungguhnya ampunanmu itu lebih aku harapkan daripada amalku, dan sesungguhnya kasih sayangmu itu lebih luas daripada dosaku, Ya Allah jika aku bukan orang yang layak untuk mencapai rahmatmu sungguh rahmatmu itu layak untuk sampai kepadaku karena rahmatmu itu luas mencakup segala sesuatu wahai dzat yang maha pengasih di antara para pengasih].(*)

Sumber: https://lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

KUA Kalimanah: Sambut Hari Santri Nasional dan Perkuat Komitmen WBBM dengan Doa Bersama dan Khotmil Qur’an

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, bersama staf dan pegawai mengikuti kegiatan doa bersama dan kho...