Tampilkan postingan dengan label MA Zaenal Abidin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MA Zaenal Abidin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2026

Eco Office: KUA Kalimanah Wujudkan Gerakan Menanam dan Merawat Tanaman

Mukhyono dan Imam Edi siswanto, saat melaksanakan piket dengan merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)

Purbalingga-Suasana hijau dan asri terus dihadirkan di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melalui kegiatan menyiram, merawat, dan menanam tanaman hias yang dilaksanakan pada Rabu (15/7/2026) pagi. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen KUA Kalimanah dalam mendukung program Eco Office dan Eco Teologi Kementerian Agama Republik Indonesia.

Tampak Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, saat membawa bibit tanaman bunga di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)

Sesuai jadwal piket, kegiatan perawatan lingkungan pada hari tersebut dilaksanakan oleh Mukhyono, Imam Edi Siswanto, dan Siti Sholihatun. Namun, semangat menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan oleh petugas piket. 

Seluruh pegawai dan mahasiswa dari UIN Saizu Purwokerto yang sedang PKL turut berpartisipasi, mulai dari membersihkan meja kerja, kursi, lemari, pintu, jendela, hingga berbagai fasilitas pelayanan agar tetap bersih, rapi, dan bebas dari debu.

Prayitno dan Supriyono yang selalu senyum ceria menyambut tamu di ruang fron office KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=tanaman 

Di saat yang sama, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., turut menanam tanaman perdu di pot-pot yang menghiasi halaman kantor.

Kholidin menyampaikan bahwa menjaga lingkungan kerja yang bersih, hijau, dan nyaman merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, lingkungan yang asri tidak hanya menciptakan suasana kerja yang sehat dan menyenangkan, tetapi juga menjadi wujud nyata implementasi nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kepedulian terhadap alam sebagai amanah dari Allah Swt.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/12/kua-kalimanah-publikasikan-video.html 

Prayitno dan Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto, bergtong royong merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Melalui kegiatan sederhana seperti menyiram, merawat, dan menanam tanaman, diharapkan dapat membangun budaya cinta lingkungan di lingkungan kerja. 

"Ini merupakan implementasi program Eco Office dan Eco Teologi yang dicanangkan Kementerian Agama, sekaligus menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah," ucapnya.

Program Eco Office mendorong terciptanya tata kelola perkantoran yang ramah lingkungan melalui berbagai langkah nyata, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, serta efisiensi penggunaan sumber daya. 

Mughofar saat membersihakan fasilitas kantor dari debu di KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sementara itu, Eco Teologi mengajak seluruh insan Kementerian Agama untuk menginternalisasikan nilai-nilai ajaran agama dalam menjaga kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.

Melalui kegiatan ini, KUA Kalimanah berharap semangat mencintai lingkungan dapat terus tumbuh di kalangan ASN dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam demi mewujudkan lingkungan yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Quality Control: KUA Kalimanah Perkuat Budaya Kerja Melalui Kebersihan Lingkungan dan Penguatan Pelayanan

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Setelah melaksanakan kegiatan perawatan tanaman, penyiraman, penataan pot bunga, serta membersihkan lingkungan kantor, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya kerja yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026) pagi.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kholidin 

Dalam kegiatan quality control tersebut, Kholidin menegaskan tiga hal penting yang harus menjadi komitmen bersama seluruh ASN. 

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti doa bersama pada acara evaluasi dan penguatan budaya kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu (15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Pertama, menjaga kerapian dan kebersihan kantor beserta lingkungan kerja sebagai bagian dari budaya kerja yang harus melekat dalam setiap aktivitas pelayanan. 

Kedua, menerapkan prinsip eco office melalui kepedulian terhadap lingkungan, di antaranya dengan merawat tanaman serta menanam berbagai jenis bunga dan tanaman perdu agar tercipta suasana kantor yang asri dan nyaman. 


Ketiga, membangun suasana kerja yang harmonis serta komunikasi yang baik antarsesama pegawai guna mendukung terciptanya pelayanan prima dan meningkatkan kepuasan masyarakat yang datang ke KUA Kalimanah.

Aparatur Sipil Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad, Rabu (15/7/2026. (Foto: Azizah Dwi Purba)

Usai kegiatan evaluasi, seluruh ASN melanjutkan agenda dengan mengikuti kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad sebagai sarana memperkuat nilai-nilai spiritual dan etika dalam menjalankan tugas serta pengabdian kepada masyarakat.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 08 Juli 2026

#35 Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-35 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, PAI KUA Kalimanah, Pujianto  dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (8/7/2026). 

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17 dan 18:

Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Dalam Maqolah ke-18, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki empat permata (jauhar) yang menjadi perhiasan dalam hidup, yaitu:

  1. Akal – cahaya dalam hati yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
  2. Agama – petunjuk Allah yang diterima oleh orang-orang berakal melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
  3. Rasa malu (ḥayā') – sifat mulia yang mendorong seseorang menjauhi kemaksiatan.
  4. Amal saleh – segala amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Namun, empat permata tersebut dapat rusak oleh empat penyakit hati, yaitu:

  • Marah (Ghadab) menghilangkan akal. Saat marah, seseorang sulit berpikir jernih sehingga mudah berbuat salah. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjauhi sifat marah karena dapat merusak keimanan.
  • Hasad (Dengki) menghilangkan agama. Hasad adalah berharap nikmat orang lain hilang. Penyakit ini mengikis pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pembagian rezeki Allah.
  • Tamak (Thama') menghilangkan rasa malu. Keinginan yang berlebihan terhadap harta, jabatan, atau dunia membuat seseorang kehilangan kehormatan dan mudah melakukan hal yang tidak pantas.
  • Ghibah (Menggunjing) menghilangkan amal saleh. Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain di belakangnya meskipun benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka menjadi fitnah (buhtan), sedangkan jika diucapkan di hadapannya dengan maksud menyakiti termasuk mencaci maki.

Hikmah Kajian

Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan lahiriah. Akal, agama, rasa malu, dan amal saleh adalah modal utama seorang Muslim. Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan amarah, menjauhi hasad, menahan ketamakan, dan menjaga lisan dari ghibah agar keimanan tetap terpelihara dan amal ibadah tidak sia-sia.

Pesan utama: Jagalah empat permata dalam diri—akal, agama, malu, dan amal saleh—dengan menjauhi empat penyakit hati: marah, hasad, tamak, dan ghibah. Siapa yang mampu menjaga hatinya, ia akan menjaga agamanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: اَلْأُمَّهَاتُ) أَيْ الْأُصُولُ (أَرْبَعٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (أُمُّ الْأَدْوِيَةِ) جَمْعُ دَوَاءٍ وَهُوَ مَا يُتَدَاوَى بِهِ (وَأُمُّ الْآدَابِ) وَهِيَ مَعْرِفَةُ مَا يُحْتَرَزُ بِهِ عَنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْخَطَأِ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ) وَهِيَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيمًا لِرَبِّهِ (وَأُمُّ الْأَمَانِي) جَمْعُ أُمْنِيَّةٍ وَهُوَ تَقْدِيرُ حُصُولِ شَيْءٍ مُمْتَنِعٍ أَوْ مُمْكِنٍ (فَأُمُّ الْأَدْوِيَةِ قِلَّةُ الْأَكْلِ) فَإِنَّ الْاِحْتِمَاءَ مِنْ أَكْلِ مَا يَضُرُّ خَيْرٌ مِنَ الْأَدْوِيَةِ لِكُلِّ دَاءٍ (وَأُمُّ الْآدَابِ قِلَّةُ الْكَلَامِ) فَكَثْرَةُ الْكَلَامِ تُنْفِي الْأَدَبَ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ قِلَّةُ الذُّنُوبِ) فَالذُّنُوبُ تُنْفِي الْعِبَادَةَ الَّتِي هِيَ تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمُّ الْأَمَانِي الصَّبْرُ) وَهُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، فَالصَّبْرُ أَمَرُّ مِنَ الصِّبْرِ. وَيُقَالُ: بِالصَّبْرِ تَنَالُ مَا تُرِيدُ وَبِالتَّقْوَى يَلِيْنُ لَكَ الْحَدِيدُ.

Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُ adalah jamak dari lafadz دَوَاءٌ yaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab)

Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadz الْأَمَانِي adalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌ yaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan) 

Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama 

(Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar) Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak kepadamu besi.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 18

 الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَرْبَعَةُ جَوَاهِرَ) وَهِيَ لِبَاسُ الطَّبِيعَةِ (فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُهَاأَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ (أَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ) وَهُوَ جَوْهَرٌ رُوحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى مُتَعَلِّقًا بِبَدَنِ الْإِنْسَانِ (وَالدِّينُ) وَهُوَ مَا يَدْعُو أَصْحَابُ الْعُقُولِ إِلَى قَبُولِ مَا هُوَ مِنَ الرّسُولِ ﷺ (وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ) أَيْ الْخَالِصُ (فَالْغَضَبُ يُزِيلُ الْعَقْلَ) وَهُوَ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ.

Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal) 

Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مُعَاوِيَةُ إِيَّاكَ وَالْغَضَبَ فَإِنَّ الْغَضَبَ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni pada madu] telah meriwayatkan hadits ini  Imam Al-Baihaqi

(وَالْحَسَدُ) وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْغَيْرِ (يُزِيلُ الدِّينَ) أَيْ الشَّرِيعَةَ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ] رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. قَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْمُتَقَارِبِ]

(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]

أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ * أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ * أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ
وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ * فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي
Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud * Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab
Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah * Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan
Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku * Dan Allah menutup atasmu segala bentuk permintaan

(وَالطَّمَعُ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِي الشَّيْءِ (يُزِيلُ الْحَيَاءَ، وَالْغِيبَةُ تُزِيلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ) وَالْغِيبَةُ بِكَسْرِ الْغَيْنِ أَنْ يَذْكُرَ الشَّخْصُ مَسَاوِيَ الْإِنْسَانِ فِي غَيْبَتِهِ وَهِيَ فِيهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ فَهِيَ بُهْتَانٌ وَإِنْ وَاجَهَهُ بِهَا فَھوَ شَتْمٌ.

(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُ dengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 03 Juli 2026

Peaceful Muharam 1448 H: PAI KUA Kalimanah Merawat Rumah Allah, Menebar Kepedulian

Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)

PURBALINGGA – Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi.

Kegiatan dimulai pukul 07.20 hingga 08.45 WIB dengan fokus membersihkan lingkungan masjid, mulai dari mencabuti rumput liar di halaman, membersihkan selokan agar aliran air tetap lancar, hingga menyapu seluruh area pelataran masjid. Suasana penuh semangat dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan yang diikuti enam Penyuluh Agama Islam, yaitu Imam Edi Siswanto, Pujianto, Mughofar, Moh. Agus Zaenal Abidin, Azizah Dwi Puba, dan Zamroni Irham serta karyawan KUA Kalimanah, Jumari.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/sukseskan-geber-bbm-pai-kua-kalimanah.html 

Dengan mengenakan pakaian kerja lapangan (berkaos), para penyuluh bahu-membahu membersihkan setiap sudut lingkungan masjid. Aksi sederhana tersebut menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)

Program GEBER MASJID merupakan salah satu rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 H yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI sebagai upaya menumbuhkan semangat kepedulian terhadap rumah ibadah sekaligus mengajak masyarakat membangun budaya gotong royong. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan, serta penguatan nilai-nilai sosial dan kebersamaan.

Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah ingin menegaskan bahwa kebersihan masjid adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan masjid yang bersih, rapi, dan nyaman akan menghadirkan kekhusyukan dalam beribadah serta memberikan kesan positif bagi setiap jamaah yang datang.

Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, GEBER MASJID memiliki makna mendalam sebagai simbol membersihkan diri dalam menyambut Tahun Baru Islam. Sebagaimana halaman masjid dibersihkan dari rumput liar dan kotoran, demikian pula setiap Muslim diajak membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, memperbaiki akhlak, serta memperkuat keimanan sebagai bekal memasuki lembaran baru di bulan Muharam.


Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan rumah ibadah, mempererat ukhuwah Islamiyah melalui budaya gotong royong, menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid, serta mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang bersih, nyaman, dan memakmurkan umat.

Semangat yang ditunjukkan para Penyuluh Agama Islam diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan masjid secara berkelanjutan. Dengan semangat Peaceful Muharam 1448 H, gerakan kecil yang dilakukan bersama diyakini mampu menghadirkan perubahan besar, dimulai dari lingkungan masjid menuju masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan berakhlak mulia.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto 

Selasa, 28 April 2026

PAI KUA Kalimanah Luncurkan “PAGAR CERAI”, Gerakan Kreatif Cegah Perceraian bagi Calon Pengantin

Tangkapan layar flyer Lomba Menulis Komitmen Cegah Perceraian di beranda Facebook KUA Kalimanah https://www.facebook.com/kua.kalimanah

Purbalingga- Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar rapat koordinasi untuk membahas program inovasi pencegahan perceraian, Senin (27/4/2026) kemarin.

Program tersebut diberi nama “PAGAR CERAI” (Penyuluh Agama Bergerak Cegah Perceraian) sebagai upaya nyata memperkuat ketahanan keluarga sejak awal pernikahan.

Program ini dirancang dengan pendekatan edukatif dan kreatif, dengan makna simbolis sebagai “pagar” atau benteng yang melindungi keluarga agar tidak mudah runtuh akibat perceraian. 

Melalui inovasi ini, para penyuluh ingin menanamkan kesadaran sejak dini kepada calon pengantin (catin) tentang pentingnya komitmen dalam menjaga keutuhan rumah tangga.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/04/program-inovasi-pai-kua-kalimanah-dalam.html

Salah satu kegiatan utama dalam program PAGAR CERAI adalah lomba menulis komitmen pencegahan perceraian bagi para calon pengantin. Dalam teknis pelaksanaannya, setiap catin diminta menuliskan komitmen mereka di atas kertas, kemudian hasil tulisan tersebut difoto dan diunggah melalui akun Instagram resmi KUA Kalimanah https://www.instagram.com/kuakalimanah/ dengan menandai akun pribadi peserta.

Lomba ini menghadirkan dua kategori penilaian, yaitu tulisan terbaik dan jumlah “like” terbanyak. Para peserta juga didorong untuk membagikan postingan tersebut kepada teman, keluarga, dan kerabat sebagai bentuk kampanye positif dalam menjaga keutuhan keluarga.

Program ini akan menyasar peserta Bimbingan Perkawinan (Bimwin) selama bulan Mei 2026. Pelaksanaan lomba dijadwalkan berlangsung mulai 1 Mei hingga 30 Mei 2026, dengan pengumuman pemenang pada 1 Juni 2026.

Melalui program PAGAR CERAI ini, KUA Kalimanah berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pernikahan bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen jangka panjang yang harus dijaga dengan kesungguhan, tanggung jawab, dan nilai-nilai keagamaan.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 22 April 2026

#29 Amal Sederhana Surga Istimewa: Inspirasi Ibadah dari Nashoihul Ibad Bab 4

 Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat membacakan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 29, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-29 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (22/4/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 2–5). 

Rangkuman Inti .Bab ini berisi nasihat tentang nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia, serta cara menyempurnakan amal ibadah.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

  1. Maqolah 2 (Empat Kebaikan Utama)
    Ada empat sifat baik yang berpahala dunia dan akhirat, namun ada yang lebih utama:
    • Malu → baik bagi semua, lebih utama bagi perempuan
    • Adil → baik bagi semua, lebih utama bagi pemimpin
    • Taubat → baik bagi orang tua, lebih utama bagi pemuda
    • Dermawan → baik bagi orang kaya, lebih utama bagi orang miskin 
     
  2. Maqolah 3 (Empat Keburukan)
    Ada empat sifat buruk, dan yang lebih buruk lagi:
    • Dosa → buruk bagi pemuda, lebih buruk bagi orang tua
    • Cinta dunia berlebihan → buruk bagi orang awam, lebih buruk bagi orang berilmu
    • Malas beribadah → buruk bagi semua, lebih buruk bagi ulama/penuntut ilmu
    • Sombong → buruk bagi orang kaya, lebih buruk bagi orang miskin 
     
  3. Maqolah 4 (Peran Penjaga Kehidupan)
    Dijelaskan bahwa:
    • Bintang menjaga langit
    • Ahlul bait menjaga umat
    • Nabi menjaga para sahabat
    • Gunung menjaga bumi
      Jika penjaga itu hilang, maka akan muncul kerusakan, fitnah, dan kekacauan.
     
  4. Maqolah 5 (Penyempurna Amal)
    Empat hal yang menyempurnakan ibadah:
    • Shalat → dengan sujud sahwi
    • Puasa → dengan zakat fitrah
    • Haji → dengan fidyah (jika ada sebabnya)
    • Iman → dengan jihad (dakwah dan mengajak pada kebaikan)

    5. Maqolah 6 mengajarkan bahwa:

  • Ibadah tidak harus berat, tetapi konsisten dan rutin
  • Amalan sunnah menjadi penyempurna ibadah wajib
  • Sedikit amalan, jika istiqamah, dapat menghasilkan pahala yang sangat besar
 Kesimpulan Utama
  • Kebaikan memiliki tingkatan, dan yang paling berat justru paling utama.
  • Keburukan juga bertingkat, dan semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar dampak buruknya.
  • Kehidupan akan terjaga jika nilai-nilai agama dijaga.
  • Ibadah tidak cukup dilakukan, tetapi harus disempurnakan dengan amalan pelengkapnya.
 PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kanan) saat menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 29, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

 Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 2

 

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى (أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (حَسَنَةٌ) وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْمَدْحُ فِي الْعَاجِلِ وَالثَّوَابُ فِي الْآجِلِ (وَلَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا أَحْسَنُ: الْحَيَاءُ) وَهُوَ اِنْقِبَاضُ النَّفْسِ مِنْ شَيْءٍ حَذَرًا عَنِ اللَّوْمِ فِيهِ (مِنَ الرِّجَالِ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْمَرْأَةِ أَحْسَنُ، وَالْعَدْلُ) أَيْ التَّوَسُّطُ بَيْنَ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ (مِنْ كُلِّ أَحَدٍ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْأُمَرَاءِ) أَيْ ذَوِي الْوِلَايَةِ (أَحْسَنُ، وَالتَّوْبَةُ) أَيْ الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِحَلِّ عُقْدَةِ الْإِصْرَارِ عَنِ الْقَلْبِ ثُمَّ الْقِيَامِ بِكُلِّ حَقٍّ لِلَّهِ تَعَالَى (مِنَ الشَّيْخِ حَسَنَةٌ وَلَكِنَّهَا مِنْ الشَّابِّ أَحْسَنُ، وَالْجُودُ) أَيْ إفَادَةُ مَا يَنْبَغِي لَا لِعِوَضٍ (مِنَ الْأَغْنِيَاءِ حَسَنٌ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ أَحْسَنُ).

 

Maqolah yang ke dua (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Rahimahullah (Empat) dari perkara (Yang baik) Yaitu perkara yang berhubungan dengan perkara itu pujian di dunia dan pahala di akhirat (Akan tetapi empat dari kebaikan itu lebih baik: Malu) Malu adalah mengkerutnya diri dari suatu perkara karena menghindari dari celaan sebab perkara itu (Dari kaum laki-laki itu baik akan tetapi malu dari kaum perempuan itu lebih baik, dan adil) Maksudnya tengah-tengah antara berlebihan dan lalai (Dari setiap orang itu baik akan tetapi adil dari para pemimpin) Maksudnya yang mempunyai wilayah (Itu lebih baik, dan taubat) Maksudnya kembali kepada Allah Ta'ala dengan cara melepas ikatan desakan keinginan dari hati kemudian mendirikan atas setiap hak kepada Allah Ta'ala (Dari orang tua itu bagus akan tetapi taubat dari pemuda itu lebih baik, dan dermawan) Maksudnya memberikan faedah pada perkara yang penting bukan karena ingin balasan (Dari orang kaya itu baik akan tetapi dermawan dari orang faqir itu lebih baik).

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 3

 

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (أَرْبَعَةٌ قَبِيحَةٌ) وَهُوَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الذَّمُّ فِي الْعَاجِلِ وَالْعِقَابُ فِي الْآجِلِ (لَكِنْ أَرْبَعَةٌ مِنْهَا أَقْبَحُ: الذَّنْبُ) أَيْ الْإِثْمُ (مِنَ الشَّابِّ قَبِيحٌ وَمِنَ الشَّيْخِ أَقْبَحُ، وَالْاِشْتِغَالُ بِالدُّنْيَا) أَيْ بِأَمْتِعَتِهَا (مِنَ الْجَاهِلِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْعَالِمِ أَقْبَحُ) كَمَا رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ فِى الدُّنْيَا زُهْدًا لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى إِلَّا بُعْدًا] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

 

Maqolah yang ke tiga (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana) Radhiallahu Anhum (Empat perkara yang jelek) Yaitu perkara yang berhubungan dengannya celaan di dunia dan siksa di akhirat (Akan tetapi empat dari perkara itu lebih jelek: Dosa) Maksudnya dosa (Dari pemuda itu jelek dan dosa dari orang yang sudah tua itu lebih jelek, dan sibuk dengan dunia) Maksudnya dengan berbagai kesenangan dunia (Dari orang bodoh itu jelek dan sibuk dengan dunia dari orang yang alim itu lebih jelek) Sebagaimana telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda: [Barang siapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah di dunia zuhudnya maka tidak akan bertambah dari Allah kecuali semakin menjauh] Telah meriwayatkan Imam Ad-Dailami.

 

(وَالتَّكَاسُلُ فِي الطَّاعَةِ) أَيْ مُوَافَقَةِ أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى (مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ وَالطَّلَبَةِ) أَيْ الَّذِينَ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ (أَقْبَحُ، وَالتَّكَبُّرُ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْفُقَرَاءِ أَقْبَحُ).

(Dan malas dalam keta'atan) Maksudnya taat adalah bersesuaian dengan perintah Allah (Dari semua manusia itu jelek dan malas dalam keta'atan dari ulama dan santri) Maksudnya orang-orang yang mencari ilmu (Itu lebih jelek, dan sombong dari orang kaya itu jelek dan sombong dari orang faqir itu lebih jelek). 

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 4

 

(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [الْكَوَاكِبُ أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ فَإِذَا انْتَثَرَتْ) أَيْ تَفَرَّقَتْ الْكَوَاكِبُ (كَانَ الْقَضَاءُ) أَيْ الْحُكْمُ الْإِلَهِيُّ (عَلَى أَهْلِ السَّمَاءِ) مِنَ الِانْفِطَارِ وَالطَّيِّ وَمَوْتِ الْمَلَائِكَةِ فِيهَا (وَأَهْلُ بَيْتِي) أَيْ ذُرِّيَّتِي (أَمَانٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا زَالَ أَهْلُ بَيْتِي كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أُمَّتِي) مِنْ ظُهُورِ الْبِدَعِ وَغَلَبَةِ الْأَهْوَاءِ وَاخْتِلَافِ الْعَقَائِدِ وَظُهُورِ الرُّومِ وَغَيْرِهَا (وَأَنَا أَمَانٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ) أَيْ مِتُّ (كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى اَصْحَابِيْ) مِنَ الْفِتَنِ وَالْحُرُوبِ وَارْتِدَادِ مَنِ ارْتَدَّ وَاخْتِلَافِ الْقُلُوبِ (وَالْجِبَالُ أَمَانٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ فَإِذَا ذَهَبَتْ) أَيْ الْجِبَالُ (كَانَ الْقَضَاءُ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ]).

Maqolah yang ke empat (Telah bersabda Nabi ﷺ : [Bintang-bintang adalah pengaman untuk penduduk langit maka ketika menyebar) Maksudnya berpisah bintang-bintang (Maka pasti terjadi qodho) Maksudnya hukum ketuhanan (Kepada penduduk langit) Nyatanya terpecah dan tergulung dan matinya para malaikat di langit (Dan ahlul baitku) Maksudnya keturunanku (Adalah pengaman untuk umatku maka ketika hilang ahli baitku maka pasti terjadi qodho kepada umatku) Nyatanya munculnya bid'ah dan menangnya hawa nafsu berbeda bedanya aliran aqidah munculnya kaum romawi dan selainnya (Dan aku adalah pengaman untuk sahabat-sahabatku maka ketika aku pergi) Maksudnya aku mati (Maka pasti terjadi qodho kepada sahabat-sahabatku) Nyatanya berbagai fitnah dan peperangan dan murtadnya orang-orang murtad dan bercerai berainya hati (Dan gunung adalah pengaman untuk penduduk bumi maka ketika hilang) Maksudnya gunung-gunung (Maka pasti terjadi qodho kepada penduduk bumi]).

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 5

 

(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (تَمَامُهَا بِأَرْبَعَةٍ) مِنَ الْأُمُورِ (تَمَامُ الصَّلَاةِ بِسَجْدَتَيْ السَّهْوِ) حِينَ وُجُودِ سَبَبِ السُّجُودِ كَنَقْلِ الْقَوْلِيِّ عَنْ مَحَلِّهِ، وَذَلِكَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ الْمَنْقُولُ رُكْنًا أَوْ بَعْضًا أَوْ هَيْئَةً، فَالرُّكْنُ يَسْجُدُ لِنَقْلِهِ مُطْلَقًاً، وَالْبَعْضُ إِنْ كَانَ تَشَهُّدًا أَوَّلً كَذَلِكَ، أَمَّا الْقُنُوتُ فَإِنْ نَقَلَهُ بِقَصْدِهِ سَجَدَ أَوْ بِقَصْدِ الذِّكْرِ فَلَا، وَالْهَيْئَةُ لَا يَسْجُدُ لِنَقْلِهَا إِلَّا السُّورَةَ كَذَا أَفَادَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ.

 

Maqolah yang ke lima (Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Empat) Perkara (Yang akan sempurna empat perkara itu dengan empat) Perkara (Sempurnanya sholat dengan dua sujud sahwi) Ketika ada sebab sujud sahwi seperti berpindahnya rukun qouli dari tempatnya, dan itu ada kalanya bacaan yang dipindah berupa rukun atau berupa sunnah ab'ad atau berupa sunnah hai'ah. Maka memindah rukun itu orang yang memindah rukun harus sujud karena memindah rukun qouli secara mutlak. Dan sunnah Ab'ad jika terbukti berupa tasyahud awal maka demikian pula. Adapun qunut jika orang yang sholat memindahkan qunut dengan maksud qunut maka ia sujud sahwi atau dengan maksud dzikir maka ia tidak perlu sujud sahwi. Dan sunnah hai'at orang yang sholat tidak perlu sujud sahwi karena memindah sunnah hai'at kecuali bacaan surat demikian telah memberi faedah syaikhuna Ahmad An-Nahrawi.

 

(وَ) تَمَامُ (الصَّوْمِ) أَيْ صَوْمِ رَمَضَانَ (بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾ [الْبَقَرَةُ: الْآيَةَ ١٨٤] وَالضَّمِيرُ فِي يُطِيقُونَهُ رَاجِعٌ لِلْفِدْيَةِ لِأَنَّهُ مُتَقَدِّمٌ رُتْبَةً. وَالْمَعْنَى: وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَ الْفِدْيَةَ هُوَ طَعَامُ مِسْكِينٍ وَالْمُرَادُ مِنَ الطَّعَامِ صَدَقَةُ الْفِطْرِ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى ذَكَرَ هَذِهِ الْآيَةَ عَقِبَ الْأَمْرِ بِالصِّيَامِ كَمَا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِتَكْبِيرَاتِ الْعِيدِ عَقِبَ الْآيَةِ الثَّانِيَةِ كَمَا فِي فَتْحِ الْخَبِيرِ.

(Dan) sempurnanya (puasa) Maksudnya puasa Ramadhan (Itu dengan zakat Fitrah) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Dan wajib kepada orang orang yang berat menjalankan puasa Ramadhan membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin﴿ [Al-Baqoroh: Ayat 184]. Dhomir pada lafadz يُطِيقُونَهُ itu kembali kepada lafadz فِدْيَةٌ karena sesungguhnya dhomir itu didahulukan pada urutannya. Ma'nanya : Dan wajib atas orang orang yang mampu membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin. Yang dimaksud dari memberi makan adalah zakat fitrah karena sesungguhnya Allah Taala itu berfirman pada ayat ini sesudah perintah puasa Ramadhan sebagaimana Allah Ta'ala telah memerintah untuk membaca takbir di malam idul fitri sesudah ayat yang kedua sebagaimana dalam kitab Fathul Khobir.

 

(وَ) تَمَامُ (الْحَجِّ بِالْفِدْيَةِ) وَهِيَ إِمَّا ذَبْحُ النَّعَمِ أَوِ الْأَمْدَادِ إِذَا وُجِدَ سَبَبُهَا الَّذِي يُوجِبُهَا أَوْ يَسُنُّهَا أَوْ لَمْ يُوجَدْ بَلْ فَعَلَ الْفِدْيَةَ لِلِاحْتِيَاطِ (وَ) تَمَامُ (الْإِيمَانِ بِالْجِهَادِ) أَيْ بِالدُّعَاءِ إِلَى الدِّينِ الْحَقِّ كَمَا قَالَهُ السَّيِّدُ عَلِيُّ الْجُرْجَانِيُّ فِي التَّعْرِيفَاتِ.

 

(Dan) Sempurnanya (Haji itu dengan membayar fidyah) Fidyah itu adakalanya menyembelih binatang ternak atau membayar mud ketika ditemukan sebabnya fidyah yang mewajibkan membayar fidyah atau yang mensunnahkan fidyah atau tidak ditemukan akan tetapi ia melaksanakan fidyah karena kehati-hatian (Dan) Sempurnanya (Iman itu dengan jihad) Maksudnya dengan mengajak pada agama yang benar sebagaimana telah berkata atas keterangan itu Sayyid Ali Al-Jurzani dalam kitab At-Ta'rifat.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 6

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) حَفِيدِ الْقَاضِي نُوحٍ الْمِرْوَزِيِّ (مَنْ صَلَّى كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً) وَهِيَ رَكْعَتَانِ قَبْلَ صُبْحٍ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ ظُهْرٍ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَأَرْبَعُ رَکعَاتٍ قَبْلَ عَصْرٍ وَرَکعَتَانِ بَعْدَ مَغْرِبٍ (فَقَدْ أَدَّی حَقَّ الصَّلَاةِ) لِقَوْلِهِ ﷺ: [رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا] وَكَانَ ﷺ يُصَلِّي قَبْلَهَا أَرْبَعًا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيْمِ، وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْعَصْرِ حَرَّمَ اللَّهُ بَدَنَهُ عَلَى النَّارِ].

Maqolah yang ke enam (Dari Abdullah bin Mubarok) Cucu seorang Qodhi Nuh Al-Mirwazi (Barang siapa melaksanakan sholat setiap hari dua belas rokaat) Yaitu dua roka'at sebelum sholat Subuh dan dua rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan empat rokaat sebelum sholat Ashar dan dua rokaat sesudah sholat Magrib (Maka sungguh ia telah menunaikan haknya sholat) Karena sabda Nabi ﷺ: [Semoga Allah merahmati kepada orang yang melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat] Dan ada Nabi ﷺ melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat yang ia pisah antara empat rokaat dengan salam. Dan riwayat milik Imam Thabrani: [Barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sebelum sholat Ashar maka Allah mengharamkan pada badannya masuk neraka].

وَنَقَلَ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيدِيُّ مِنَ الدِّمْيَاطِيِّ فِي الْمَتْجَرِ الرَّابِحِ مِنْ خَبَرِ مُسْلِمٍ: [مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي لِلَّهِ تَعَالَى فِي كُلِّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ] زَادَ التِّرْمِذِيُّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ.

Dan telah menukil Syaikh Kholil Ar-Rasyidi dari Syaikh Dimyati di dalam kitab Matjari Robih dari hadits riwayat Imam Muslim [Tidaklah seorang hamba sholat karena Allah Ta'ala di setiap hari dua belas rokaat dengan suka rela selain sholat fardhu kecuali pasti Allah akan membangun untuknya rumah di surga] Telah menambah Imam Tirmidzi empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan dua rokaat sesudah sholat Magrib dan empat rokaat sesudah sholat Isya dan dua rokaat sebelum sholat Subuh.

وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ بِهِنَّ مِنْ لَيْلَتِهِ، وَمَنْ صَلَّاهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ].

Dan riwayat milik Imam Thobroni: [Barang siapa sholat sebelum sohlat Dzuhur empat rokaat maka seakan akan ia sholat Tahajjud dengan empat rokaat itu di waktu malamnya, dan barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sesudah sholat Isya Maka seperti seumpama shola empat rokaat di malam lailatul Qodar].

وَمِنْ ثَمَّ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: لَيْسَ شَيْءٌ يَعْدِلُ صَلَاةَ اللَّيْلِ مِنْ صَلَاةِ النَّهَارِ إِلَّا أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَفَضْلُهُنَّ عَلَى صَلَاةِ النَّهَارِ كَفَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْوَاحِدِ. وَكَانَ ﷺ يُصَلِّيهِنَّ وَيُطِيلُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَيَقُولُ: [إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ].

Dan dari sanalah berkata Ibnu Mas'ud: Tidak ada sesuatu yang bisa menandingi sholat malam dari sholat siang kecuali empat rokaat sebelum sholat Dzuhur. Keutamaan empat rokaat sebelum sholat Dzuhur di atas sholat siang itu seperti keutamaan sholat berjamaah di atas sholat sendirian. Dan ada Nabi ﷺ Sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan ia memanjangkan di dalam sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur itu rukuk dan sujud dan ia bersabda: [Sesungguhnya waktu sholat qobliah Dzuhur adalah waktu dibuka di dalamnya pintu-pintu langit maka aku suka supaya naik untuk ku pada waktu itu amal yang sholeh].

(وَمَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ) وَهِيَ الْأَيَّامُ الْبِيضُ وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَتَالِيَاهُ إِلَّا فِي الْحِجَّةِ يَصُومُ السَّادِسَ عَشَرَ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ بَدَلَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَحِكْمَةُ كَوْنِهَا ثَلَاثَةً أَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصَوْمُهَا كَصَوْمِ الشَّهْرِ كُلِّهِ وَلِذَلِكَ يَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ بِصَوْمِ ثَلَاثَةٍ مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ، كَذَا فِي التُّحْفَةِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصِّيَامِ، وَمَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ آيَةٍ فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الْقِرَاءَةِ) وَقِرَاءَةُ الْمُنْجِّيَاتِ السَّبْعَةِ أَوْلَى وَهِيَ: آلم تَنْزِيل، وَيس، وَفُصِّلَتْ، وَالدُّخَانُ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْحَشْرُ، وَالْمُلْكُ، وَأَنْ يَقْرَأَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى أَوَائِلَ الْحَدِيدِ وَخَوَاتِمَ الْحَشْرِ وَالْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ثَلَاثًاً ثَلَاثًاً (وَمَنْ تَصَدَّقَ فِي جُمْعَةٍ بِدِرْهَمٍ) أَوْ بِمَا يُسَاوِيهِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصَّدَقَةِ).

(Dan barang siapa yang berpuasa dari setiap bulan tiga hari) Yaitu hari hari yang terang yaitu tanggal tiga belas dan dua hari yang mengiringinya kecuali pada bulan Dzul Hijjah maka berpuasa di tanggal enam belas atau satu hari sesudah tanggal enam belas sebagai ganti tanggal tiga belas. Hikmah adanya puasa tiga hari adalah sesungguhnya satu kebaikan itu diganti sepuluh kali lipat yang serupa dengannya maka berpuasa tiga hari itu seperti puasa satu bulan seluruhnya dan karena itu hasil asal sunnah dengan puasa tiga hari dari hari-hari manapun dari satu bulan. Demikian dalam kitab Tuhfah (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya puasa, Dan barang siapa membaca setiap hari seratus ayat maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya bacaan quran) Membaca surat Al-Munjiat yang tujuh itu lebih utama yaitu: Surat As-Sajdah, dan surat yasin dan surat fusilat dan surat Ad-Dukhon dan surat Al-Waqi'ah dan surat Al-Hasyr dan Surat Al-Mulk. Dan membaca ketika waktu subuh dan ketika waktu sore awal-awal surat Al-Hadid dan akhir surat Al-Hasr dan surat Al-Ikhlas dan Surat Al-Falaq dan surat An-Nas tiga kali tiga kali (Dan barang siapa bersedekah dengan satu dirham) Atau dengan perkara yang setara dengan satu dirham (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya sedekah).

Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-4/

Editor: Imam Edi Siswanto 


KUA Kalimanah: Sambut Hari Santri Nasional dan Perkuat Komitmen WBBM dengan Doa Bersama dan Khotmil Qur’an

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, bersama staf dan pegawai mengikuti kegiatan doa bersama dan kho...