Mukhyono dan Imam Edi siswanto, saat melaksanakan piket dengan merawat tanaman di halaman KUA Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)
Purbalingga-Suasana hijau dan asri terus dihadirkan di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melalui kegiatan menyiram, merawat, dan menanam tanaman hias yang dilaksanakan pada Rabu (15/7/2026) pagi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen KUA Kalimanah dalam mendukung program Eco Office dan Eco Teologi Kementerian Agama Republik Indonesia.
Tampak Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, saat membawa bibit tanaman bunga di halaman KUA
Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: MA Zaenal Abidn)
Sesuai jadwal piket, kegiatan perawatan lingkungan pada hari tersebut dilaksanakan oleh Mukhyono, Imam Edi Siswanto, dan Siti Sholihatun. Namun, semangat menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan oleh petugas piket.
Seluruh pegawai dan mahasiswa dari UIN Saizu Purwokerto yang sedang PKL turut berpartisipasi, mulai dari membersihkan meja kerja, kursi, lemari, pintu, jendela, hingga berbagai fasilitas pelayanan agar tetap bersih, rapi, dan bebas dari debu.
Prayitno dan Supriyono yang selalu senyum ceria menyambut tamu di ruang fron office KUA
Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Di saat yang sama, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., turut menanam tanaman perdu di pot-pot yang menghiasi halaman kantor.
Kholidin menyampaikan bahwa menjaga lingkungan kerja yang bersih, hijau, dan nyaman merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, lingkungan yang asri tidak hanya menciptakan suasana kerja yang sehat dan menyenangkan, tetapi juga menjadi wujud nyata implementasi nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kepedulian terhadap alam sebagai amanah dari Allah Swt.
Prayitno dan Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto, bergtong royong merawat tanaman di halaman KUA
Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Melalui kegiatan sederhana seperti menyiram, merawat, dan menanam tanaman, diharapkan dapat membangun budaya cinta lingkungan di lingkungan kerja.
"Ini merupakan implementasi program Eco Office dan Eco Teologi yang dicanangkan Kementerian Agama, sekaligus menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah," ucapnya.
Program Eco Office mendorong terciptanya tata kelola perkantoran yang ramah lingkungan melalui berbagai langkah nyata, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, serta efisiensi penggunaan sumber daya.
Mughofar saat membersihakan fasilitas kantor dari debu di KUA
Kalimanah, Rabu (15/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Sementara itu, Eco Teologi mengajak seluruh insan Kementerian Agama untuk menginternalisasikan nilai-nilai ajaran agama dalam menjaga kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.
Melalui kegiatan ini, KUA Kalimanah berharap semangat mencintai lingkungan dapat terus tumbuh di kalangan ASN dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam demi mewujudkan lingkungan yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.(*)
Aparatur Sipil
Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya
kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu
(15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga-Setelah melaksanakan kegiatan perawatan tanaman, penyiraman, penataan
pot bunga, serta membersihkan lingkungan kantor, seluruh Aparatur Sipil
Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi evaluasi dan penguatan budaya
kerja yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu
(15/7/2026) pagi.
Dalam kegiatan quality control tersebut, Kholidin menegaskan tiga hal penting yang harus menjadi komitmen bersama seluruh ASN.
Aparatur Sipil
Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti doa bersama pada acara evaluasi dan penguatan budaya
kerja (Quality Control) yang dipimpin oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, Rabu
(15/7/2026. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Pertama,
menjaga kerapian dan kebersihan kantor beserta lingkungan kerja sebagai
bagian dari budaya kerja yang harus melekat dalam setiap aktivitas
pelayanan.
Kedua, menerapkan prinsip eco office melalui
kepedulian terhadap lingkungan, di antaranya dengan merawat tanaman
serta menanam berbagai jenis bunga dan tanaman perdu agar tercipta
suasana kantor yang asri dan nyaman.
Ketiga, membangun suasana
kerja yang harmonis serta komunikasi yang baik antarsesama pegawai guna
mendukung terciptanya pelayanan prima dan meningkatkan kepuasan
masyarakat yang datang ke KUA Kalimanah.
Aparatur Sipil
Negara (ASN) KUA Kalimanah mengikuti sesi kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad, Rabu
(15/7/2026. (Foto: Azizah Dwi Purba)
Usai kegiatan evaluasi, seluruh ASN melanjutkan agenda dengan mengikuti kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad sebagai sarana memperkuat nilai-nilai spiritual dan etika dalam menjalankan tugas serta pengabdian kepada masyarakat.(*)
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA
Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad
edisi ke-35 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali
dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, PAI KUA Kalimanah, Pujianto dan
dilanjutkan dengan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu
(8/7/2026).
Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17 dan 18:
Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya
Dalam Maqolah ke-18, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki empat permata (jauhar) yang menjadi perhiasan dalam hidup, yaitu:
Akal – cahaya dalam hati yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
Agama – petunjuk Allah yang diterima oleh orang-orang berakal melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
Rasa malu (ḥayā') – sifat mulia yang mendorong seseorang menjauhi kemaksiatan.
Amal saleh – segala amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
Namun, empat permata tersebut dapat rusak oleh empat penyakit hati, yaitu:
Marah (Ghadab) menghilangkan akal. Saat marah, seseorang sulit berpikir jernih sehingga mudah berbuat salah. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjauhi sifat marah karena dapat merusak keimanan.
Hasad (Dengki) menghilangkan agama. Hasad adalah berharap nikmat orang lain hilang. Penyakit ini mengikis pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pembagian rezeki Allah.
Tamak (Thama') menghilangkan rasa malu. Keinginan yang berlebihan terhadap harta, jabatan, atau dunia membuat seseorang kehilangan kehormatan dan mudah melakukan hal yang tidak pantas.
Ghibah (Menggunjing) menghilangkan amal saleh. Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain di belakangnya meskipun benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka menjadi fitnah (buhtan), sedangkan jika diucapkan di hadapannya dengan maksud menyakiti termasuk mencaci maki.
Hikmah Kajian
Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan lahiriah. Akal, agama, rasa malu, dan amal saleh adalah modal utama seorang Muslim. Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan amarah, menjauhi hasad, menahan ketamakan, dan menjaga lisan dari ghibah agar keimanan tetap terpelihara dan amal ibadah tidak sia-sia.
Pesan utama:Jagalah empat permata dalam diri—akal, agama, malu, dan amal saleh—dengan menjauhi empat penyakit hati: marah, hasad, tamak, dan ghibah. Siapa yang mampu menjaga hatinya, ia akan menjaga agamanya.
Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُadalah jamak dari lafadz دَوَاءٌyaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab)
Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadz الْأَمَانِيadalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌyaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan)
Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang
memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap
penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama
(Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar)
Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih
pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa
memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak
kepadamu besi.
Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA
Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal)
Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai
mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya
marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni
pada madu] telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi
(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah
kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan
kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]
أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ
*
أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ
*
أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ
وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ
*
فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي
Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud
*
Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab
Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah
*
Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan
Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku
(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُdengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada
keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan
itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan
itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu
adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut
dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.
Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)
PURBALINGGA – Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid) di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi.
Kegiatan dimulai pukul 07.20 hingga 08.45 WIB dengan fokus membersihkan lingkungan masjid, mulai dari mencabuti rumput liar di halaman, membersihkan selokan agar aliran air tetap lancar, hingga menyapu seluruh area pelataran masjid. Suasana penuh semangat dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan yang diikuti enam Penyuluh Agama Islam, yaitu Imam Edi Siswanto, Pujianto, Mughofar, Moh. Agus Zaenal Abidin, Azizah Dwi Puba, dan Zamroni Irham serta karyawan KUA Kalimanah, Jumari.
Dengan mengenakan pakaian kerja lapangan (berkaos), para penyuluh bahu-membahu membersihkan setiap sudut lingkungan masjid. Aksi sederhana tersebut menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Menyambut rangkaian Peaceful Muharam 1448 H, tampak Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar aksi sosial bertajuk GEBER MASJID (Gerakan Bersih Masjid)
di Masjid Al Huda, Kalimanah Wetan, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten
Purbalingga, Jumat (3/7/2026) pagi. (Foto: Imam Edi Siswanto)
Program GEBER MASJID merupakan salah satu rangkaian kegiatan Peaceful Muharam 1448 H yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI sebagai upaya menumbuhkan semangat kepedulian terhadap rumah ibadah sekaligus mengajak masyarakat membangun budaya gotong royong. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan, serta penguatan nilai-nilai sosial dan kebersamaan.
Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah ingin menegaskan bahwa kebersihan masjid adalah tanggung jawab bersama. Lingkungan masjid yang bersih, rapi, dan nyaman akan menghadirkan kekhusyukan dalam beribadah serta memberikan kesan positif bagi setiap jamaah yang datang.
Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, GEBER MASJID memiliki makna mendalam sebagai simbol membersihkan diri dalam menyambut Tahun Baru Islam. Sebagaimana halaman masjid dibersihkan dari rumput liar dan kotoran, demikian pula setiap Muslim diajak membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, memperbaiki akhlak, serta memperkuat keimanan sebagai bekal memasuki lembaran baru di bulan Muharam.
Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan rumah ibadah, mempererat ukhuwah Islamiyah melalui budaya gotong royong, menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid, serta mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang bersih, nyaman, dan memakmurkan umat.
Semangat yang ditunjukkan para Penyuluh Agama Islam diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan masjid secara berkelanjutan. Dengan semangat Peaceful Muharam 1448 H, gerakan kecil yang dilakukan bersama diyakini mampu menghadirkan perubahan besar, dimulai dari lingkungan masjid menuju masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan berakhlak mulia.(*)
Tangkapan layar flyer Lomba Menulis Komitmen Cegah Perceraian di beranda Facebook KUA Kalimanah https://www.facebook.com/kua.kalimanah
Purbalingga- Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah menggelar rapat koordinasi untuk membahas program inovasi pencegahan perceraian, Senin (27/4/2026) kemarin.
Program tersebut diberi nama “PAGAR CERAI” (Penyuluh Agama Bergerak Cegah Perceraian) sebagai upaya nyata memperkuat ketahanan keluarga sejak awal pernikahan.
Program ini dirancang dengan pendekatan edukatif dan kreatif, dengan makna simbolis sebagai “pagar” atau benteng yang melindungi keluarga agar tidak mudah runtuh akibat perceraian.
Melalui inovasi ini, para penyuluh ingin menanamkan kesadaran sejak dini kepada calon pengantin (catin) tentang pentingnya komitmen dalam menjaga keutuhan rumah tangga.
Salah satu kegiatan utama dalam program PAGAR CERAI adalah lomba menulis komitmen pencegahan perceraian bagi para calon pengantin. Dalam teknis pelaksanaannya, setiap catin diminta menuliskan komitmen mereka di atas kertas, kemudian hasil tulisan tersebut difoto dan diunggah melalui akun Instagram resmi KUA Kalimanah https://www.instagram.com/kuakalimanah/ dengan menandai akun pribadi peserta.
Lomba ini menghadirkan dua kategori penilaian, yaitu tulisan terbaik dan jumlah “like” terbanyak. Para peserta juga didorong untuk membagikan postingan tersebut kepada teman, keluarga, dan kerabat sebagai bentuk kampanye positif dalam menjaga keutuhan keluarga.
Program ini akan menyasar peserta Bimbingan Perkawinan (Bimwin) selama bulan Mei 2026. Pelaksanaan lomba dijadwalkan berlangsung mulai 1 Mei hingga 30 Mei 2026, dengan pengumuman pemenang pada 1 Juni 2026.
Melalui program PAGAR CERAI ini, KUA Kalimanah berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pernikahan bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen jangka panjang yang harus dijaga dengan kesungguhan, tanggung jawab, dan nilai-nilai keagamaan.(*)
Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat membacakan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 29, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Pubalingga–Kajian
rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-29 kembali digelar pada Rabu pagi
di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks
oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu
(22/4/2026).
Dari
kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah
kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 2–5).
Rangkuman Inti .Bab ini berisi nasihat tentang nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia, serta cara menyempurnakan amal ibadah.
Gunung menjaga bumi
Jika penjaga itu hilang, maka akan muncul kerusakan, fitnah, dan kekacauan.
Maqolah 5 (Penyempurna Amal)
Empat hal yang menyempurnakan ibadah:
Shalat → dengan sujud sahwi
Puasa → dengan zakat fitrah
Haji → dengan fidyah (jika ada sebabnya)
Iman → dengan jihad (dakwah dan mengajak pada kebaikan)
5. Maqolah 6 mengajarkan bahwa:
Ibadah tidak harus berat, tetapi konsisten dan rutin
Amalan sunnah menjadi penyempurna ibadah wajib
Sedikit amalan, jika istiqamah, dapat menghasilkan pahala yang sangat besar
Kesimpulan Utama
Kebaikan memiliki tingkatan, dan yang paling berat justru paling utama.
Keburukan juga bertingkat, dan semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar dampak buruknya.
Kehidupan akan terjaga jika nilai-nilai agama dijaga.
Ibadah tidak cukup dilakukan, tetapi harus disempurnakan dengan amalan pelengkapnya.
PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kanan) saat menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 29, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Maqolah
yang kedua(Dari sebagian orang-orang yang bijaksana)Rahimahullah(Empat)dariperkara(Yang baik)Yaituperkara
yang berhubungandenganperkaraitupujian
di dunia dan pahala
di akhirat(Akan tetapiempatdarikebaikanitulebihbaik: Malu) Malu
adalahmengkerutnyadiridarisuatuperkarakarenamenghindaridaricelaansebabperkaraitu(Dari kaumlaki-lakiitubaikakantetapimaludarikaumperempuanitulebihbaik, dan adil)Maksudnyatengah-tengahantaraberlebihan
dan lalai(Dari setiap orang itubaikakantetapiadildari para pemimpin)Maksudnya
yang mempunyai
wilayah (Itulebihbaik, dan taubat)Maksudnyakembalikepada
Allah Ta'aladengancaramelepasikatandesakankeinginandarihatikemudianmendirikanatassetiaphakkepada
Allah Ta'ala(Dari orang tuaitubagusakantetapitaubatdari
pemuda itulebihbaik,
dan dermawan)Maksudnyamemberikanfaedah
pada perkara
yang pentingbukankarenainginbalasan(Dari orang kaya itubaikakantetapidermawandari
orang faqir itulebihbaik).
Maqolah
yang ketiga(Dari sebagian orang-orang yang bijaksana)RadhiallahuAnhum(Empatperkara yang jelek)Yaituperkara
yang berhubungandengannyacelaan
di dunia dan siksa
di akhirat(Akan tetapiempatdariperkaraitulebihjelek: Dosa)Maksudnyadosa(Dari pemuda itujelek
dan dosadari
orang yang sudahtuaitulebihjelek,
dan sibukdengan
dunia)Maksudnyadenganberbagaikesenangan
dunia (Dari orang bodohitujelek
dan sibukdengan
dunia dari
orang yang alim itulebihjelek)Sebagaimanatelahdiriwayatkansesungguhnya
Nabi ﷺtelahbersabda:
[Barangsiapa
yang bertambahilmunya
dan tidakbertambah
di dunia zuhudnyamakatidakakanbertambahdari
Allah kecualisemakinmenjauh]
Telah meriwayatkan
Imam Ad-Dailami.
(Dan
malas dalamketa'atan)Maksudnyataatadalahbersesuaiandenganperintah
Allah (Dari semuamanusiaitujelek dan malas dalamketa'atandari ulama dan santri)Maksudnya
orang-orang yang mencariilmu(Itulebihjelek, dan sombongdari orang kaya itujelek
dan sombongdari
orang faqir itulebihjelek).
Maqolah
yang keempat(Telah bersabda
Nabi ﷺ : [Bintang-bintangadalahpengamanuntukpenduduklangitmakaketikamenyebar)Maksudnyaberpisahbintang-bintang(Makapastiterjadiqodho)Maksudnyahukumketuhanan(Kepadapenduduklangit)Nyatanyaterpecah
dan tergulung
dan matinya
para malaikat
di langit(Dan ahlulbaitku)Maksudnyaketurunanku(Adalahpengamanuntukumatkumakaketikahilangahlibaitkumakapastiterjadiqodhokepadaumatku)Nyatanyamunculnyabid'ah
dan menangnyahawanafsuberbedabedanyaaliranaqidahmunculnyakaumromawi
dan selainnya(Dan akuadalahpengamanuntuksahabat-sahabatkumakaketikaakupergi)Maksudnyaakumati(Makapastiterjadiqodhokepadasahabat-sahabatku)Nyatanyaberbagai
fitnah dan peperangan
dan murtadnya
orang-orang murtad dan berceraiberainyahati(Dan gunungadalahpengamanuntukpendudukbumimakaketikahilang)Maksudnyagunung-gunung(Makapastiterjadiqodhokepadapendudukbumi]).
Maqolah
yang ke
lima (Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq)RadhiallahuAnhu(Sesungguhnyaiaberkata: Empat)Perkara(Yang akansempurnaempatperkaraitudenganempat)Perkara(Sempurnanyasholatdengandua sujud sahwi)
Ketika adasebab
sujud sahwisepertiberpindahnyarukunqoulidaritempatnya,
dan ituadakalanyabacaan
yang dipindahberuparukunatauberupa
sunnah ab'adatauberupa
sunnah hai'ah.
Makamemindahrukunitu
orang yang memindahrukunharus
sujud karenamemindahrukunqoulisecaramutlak.
Dan sunnah Ab'adjikaterbuktiberupatasyahudawalmakademikian
pula. Adapun qunutjika
orang yang sholatmemindahkanqunutdenganmaksudqunutmakaia
sujud sahwiataudenganmaksuddzikirmakaiatidakperlu
sujud sahwi.
Dan sunnah hai'at
orang yang sholattidakperlu
sujud sahwikarenamemindah
sunnah hai'atkecualibacaansuratdemikiantelahmemberifaedahsyaikhuna
Ahmad An-Nahrawi.
(Dan)sempurnanya(puasa)Maksudnyapuasa
Ramadhan (Itudengan zakat Fitrah)
Telah berfirman
Allah Ta'ala:
﴾Dan
wajibkepada
orang orang
yang beratmenjalankanpuasa
Ramadhan membayarfidyahyaitumemberimakan
orang miskin﴿ [Al-Baqoroh:
Ayat 184]. Dhomir
pada lafadzيُطِيقُونَهُitukembalikepadalafadzفِدْيَةٌkarenasesungguhnyadhomiritudidahulukan
pada urutannya.
Ma'nanya
: Dan wajibatas
orang orang
yang mampumembayarfidyahyaitumemberimakan
orang miskin. Yang dimaksuddarimemberimakanadalah
zakat fitrah karenasesungguhnya
Allah Taalaituberfirman
pada ayatinisesudahperintahpuasa
Ramadhan sebagaimana
Allah Ta'alatelahmemerintahuntukmembaca
takbir di malamidulfitrisesudahayat
yang keduasebagaimanadalam
kitab FathulKhobir.
(Dan)Sempurnanya(Haji itudenganmembayarfidyah)Fidyahituadakalanyamenyembelihbinatangternakataumembayar
mud ketikaditemukansebabnyafidyah
yang mewajibkanmembayarfidyahatau
yang mensunnahkanfidyahatautidakditemukanakantetapiiamelaksanakanfidyahkarenakehati-hatian(Dan)Sempurnanya(Iman itudengan jihad)Maksudnyadenganmengajak
pada agama yang benarsebagaimanatelahberkataatasketeranganitu
Sayyid Ali Al-Jurzanidalam
kitab At-Ta'rifat.
Maqolah yang ke enam (Dari Abdullah bin Mubarok) Cucu seorang Qodhi Nuh Al-Mirwazi (Barang siapa melaksanakan sholat setiap hari dua belas rokaat)
Yaitu dua roka'at sebelum sholat Subuh dan dua rokaat sebelum sholat
Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan empat rokaat sebelum sholat Ashar
dan dua rokaat sesudah sholat Magrib (Maka sungguh ia telah menunaikan haknya sholat) Karena sabda Nabi ﷺ: [Semoga Allah merahmati kepada orang yang melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat]
Dan ada Nabi ﷺ melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat
yang ia pisah antara empat rokaat dengan salam. Dan riwayat milik Imam
Thabrani: [Barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sebelum sholat Ashar maka Allah mengharamkan pada badannya masuk neraka].
Dan telah menukil Syaikh Kholil Ar-Rasyidi dari Syaikh Dimyati di dalam kitab Matjari Robih dari hadits riwayat Imam Muslim [Tidaklah
seorang hamba sholat karena Allah Ta'ala di setiap hari dua belas
rokaat dengan suka rela selain sholat fardhu kecuali pasti Allah akan
membangun untuknya rumah di surga] Telah menambah Imam Tirmidzi
empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan dua
rokaat sesudah sholat Magrib dan empat rokaat sesudah sholat Isya dan
dua rokaat sebelum sholat Subuh.
Dan riwayat milik Imam Thobroni: [Barang siapa sholat sebelum sohlat Dzuhur empat rokaat maka seakan akan ia sholat Tahajjud dengan empat rokaat itu
di waktu malamnya, dan barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat
sesudah sholat Isya Maka seperti seumpama shola empat rokaat di malam
lailatul Qodar].
Dan
dari sanalah berkata Ibnu Mas'ud: Tidak ada sesuatu yang bisa
menandingi sholat malam dari sholat siang kecuali empat rokaat sebelum
sholat Dzuhur. Keutamaan empat rokaat sebelum sholat Dzuhur di atas
sholat siang itu seperti keutamaan sholat berjamaah di atas sholat
sendirian. Dan ada Nabi ﷺ Sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan
ia memanjangkan di dalam sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur itu
rukuk dan sujud dan ia bersabda: [Sesungguhnya waktu sholat qobliah
Dzuhur adalah waktu dibuka di dalamnya pintu-pintu langit maka aku suka
supaya naik untuk ku pada waktu itu amal yang sholeh].
(Dan barang siapa yang berpuasa dari setiap bulan tiga hari)
Yaitu hari hari yang terang yaitu tanggal tiga belas dan dua hari yang
mengiringinya kecuali pada bulan Dzul Hijjah maka berpuasa di tanggal
enam belas atau satu hari sesudah tanggal enam belas sebagai ganti
tanggal tiga belas. Hikmah adanya puasa tiga hari adalah sesungguhnya
satu kebaikan itu diganti sepuluh kali lipat yang serupa dengannya maka
berpuasa tiga hari itu seperti puasa satu bulan seluruhnya dan karena
itu hasil asal sunnah dengan puasa tiga hari dari hari-hari manapun dari
satu bulan. Demikian dalam kitab Tuhfah (Maka
sungguh ia telah menunaikan pada haknya puasa, Dan barang siapa membaca
setiap hari seratus ayat maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya
bacaan quran) Membaca surat Al-Munjiat yang tujuh itu lebih
utama yaitu: Surat As-Sajdah, dan surat yasin dan surat fusilat dan
surat Ad-Dukhon dan surat Al-Waqi'ah dan surat Al-Hasyr dan Surat
Al-Mulk. Dan membaca ketika waktu subuh dan ketika waktu sore awal-awal
surat Al-Hadid dan akhir surat Al-Hasr dan surat Al-Ikhlas dan Surat
Al-Falaq dan surat An-Nas tiga kali tiga kali (Dan barang siapa bersedekah dengan satu dirham) Atau dengan perkara yang setara dengan satu dirham (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya sedekah).