Rabu, 20 Mei 2026

#33 Hal yang dibutuhkan dalam mencetak karakter Muslim sejati

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 33, Rabu (20/5/2026). (Foto: Zamroni Irham)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-33 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (206/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 12-14). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 12 sampai 14, tersurat penekanan pada menjaga diri dengan sikap diam, menjaga hati, serta pembuktian dari suatu pengakuan.

Pertama, Maqolah 12 Dari sebuah pernyataan menguraikan bahwa meninggalkan perkara yang batil semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahala orang yang berpuasa. Selain itu orang yang mampu untuk menahan diri agar setiap anggota tubuhnya tidak melakukan hal yang diharamkan semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahalanya orang yang Shalat. sedangkan ornag yang memutuskan ketamakan terhadap orang lain (makhluk) semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala sama dengan pahala shadaqah, dan orang yang tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh muslim lain semata-mata karena Alloh akan diberikan pahalanya orang yang jihad.

Semua hal tersebut diatas harus dilandasi semata-mata karena Allah sehingga nantinya akan mendapatkan kebaikan sebagaimana yang sudah tertulis diatas.

Kedua, Maqolah 13 Menyoroti bebarapa aspek batin penyebab hati seseorang menjadi gelap yang meliputi perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang yang dzalim, melupakan dosa-dosa yang telah berlalu dan lamunan yang berlebihan. sedangkan empat perkara lain yang dapat menyebabkan hati menjadi bercahaya, yaitu: perut yang lapar karena berhati-hati, berteman dengan orang shaleh, selalu mengingat dan menyesali dosa-dosa yang telah berlalu dan tidak terlalu memanjangkan lamunan.

Dari empat perkara yang saling berlawanan diatas tiga hal dilakukan secara personal: menahan nafsu perut agar selalu memakan yang halal dengan takaran yang tepat serta tidak berlebihan, selalu mengingat dan menyesali dosa yang telah berlalu sehingga bisa menjadi kendali diri untuk tidak terperosok pada dosa yang sama dimasa mendatang, dan tidak memanjangkan lamunan terlebih pada impian yang mustahil untuk digapai. Sedangkan satu hal berhubungan dengan orang lain yaitu berteman dengan orang shaleh, yang akan berdampak pada kebaikan orang tersebut.

Ketiga, Maqolah 14 Dari Hatim Al-A'sham ra. bahwa empat pengakuan tanpa diikuti dengan pembuktian merupakan pengakuan yang bohong: mengaku cinta kepada Allah, tapi tidak mau meninggalkan segala larangan-Nya, mengaku cinta kepada Nabi tetapi ia tidak suka kepada orang fakir miskin, mengaku menginginkan surga tetapi tidak mau bersedekah, serta mengaku takut kepada neraka tetapi tidak mau meninggalkan perbuatan dosa, maka semua pengakuan itu adalah dusta belaka.

sebuah pengakuan tanpa pembuktian hanyalah kebohongan semata, oleh sebab itu setiap muslim hendaknya dapat membuktikan pengakuan mereka agar tidak menjadi sebuah kebohongan. 

Kesimpulan kajian, Ketiga maqolah tersebut saling berkaitan dalam mencetak karakter  muslim dan mukmin sejati: menahan diri dari perkara yang batil dan diharamkan serta tidak menyakiti orang lain, menjaga hati dengan menjaga perut, selalu ingat dosa, tidak terlalu dalam berkhayal dan bergaul dengan orang yang shaleh. Selain itu selalu menjaga diri agar meninggalkan segala laranganNYA, berempati dan menolong fakir miskin, mengupayakan untuk selalu bersedekah, dan berupaya sekuat tenaga untuk meninggalkan perbuatan dosa.


Kamis, 14 Mei 2026

#32 Berdiam diri dari hal yang sia-sia untuk menjadi manusia yang lebih produktif dan positif dalam Hikmah Maqolah 11


KUA Kalimanah, Amin Muakhor  saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 32, Rabu (13/5/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-32 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (13/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat disampaikan rangkuman isi kandungan kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 11). 

Baca: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 11, tersirat hikmah, keutamaan, dan anjuran untuk berdiam diri. Tentunya berdiam diri yang dimaksud bukan diam tanpa berkata atau melakukan aktifitas apapun, melainkan berdiam diri pada kondisi-kondisi tertentu. Hal tersebut didasarkan pada Hadits .Nabi Muhammad SAW. yang menyatakan bahwa Shalat itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri itu adalah lebih utama, sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu merupakan bentengnya neraka, sedang berdiam diri itu justru lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama.

Kesimpulan kajian, dari maqolah ini dapat disarikan bahwa: berdiam diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia merupakan sebuah keutamaan yang seharusnya dapat diraih oleh seluruh Muslim, karena dengan berdiam diri dari hal yang sia-sia akan membawa seseorang menjadi lebih produktif dan positif. Selain itu dengan berdiam diri dari hal yang sia-sia juga akan menghindarkan dan menyelamatkan seseorang dari terpeleset pada keburukan, kemaksiatan, dan dosa.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 8

وعن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قال: الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالجْهَادُ سَنَامُ

الدِّيْنِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ

“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: Shalat itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri itu adalah lebih utama, sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu merupakan bentengnya neraka, sedang berdiam diri itu justru lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama.”

 

الصَّمْتُ أَرْفَعُ الْعِنَادَة .

“Diam adalah ibadah tingkat yang paling tinggi.”

 

الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ .

“Diam itu adalah hiasan bagi orang yang alim dan penutup bagi orang yang bodoh.”

الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ .

“Diam adalah pimpinan akhlak.”

الصَّمْ تُ حِكَمٌ وَقَلِيْلٌ فَاعِلُه .

“Diam adalah hikmah, tapi sedikit sekali orang yang melakukannya.”

أَفْضَلُ الجِْهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نفَْسَكَ وَهُوَاكَ فِى ذَاتِ اللهِ

“Jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsumu, dalam Dzat Allah (semata-mata karena Allah).”

© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4

Source: https://www.alkhoirot.org/2023/01/empat-nasihat-nabi-kepada-abu-dzar-al.html#12

Pewarta: Zamroni Irham

Rabu, 06 Mei 2026

#31 Keseimbangan Amal, Keikhlasan Batin, dan Orientasi Akhirat dalam Hikmah Maqolah 8–10

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 31, Rabu (6/5/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
 

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-31 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (6/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 8-10). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 8 sampai 10, terdapat penekanan kuat pada pengendalian diri, orientasi akhirat, serta kesempurnaan amal lahir dan batin.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Pertama, Maqolah 8 dari Utsman bin Affan menguraikan bahwa manisnya ibadah dapat diraih melalui empat hal pokok: menunaikan kewajiban, menjauhi larangan Allah, aktif dalam amar ma’ruf, dan nahi munkar. 

Semua ini dilandasi dengan harapan pahala serta rasa takut akan murka Allah. Ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara ketaatan personal dan kepedulian sosial menjadi kunci kenikmatan ibadah.

Kedua, Maqolah 9 menyoroti perbedaan antara aspek lahir yang bernilai sunnah (fadhilah) dan aspek batin yang justru menjadi kewajiban. Bergaul dengan orang saleh, membaca Al-Qur’an, ziarah kubur, dan menjenguk orang sakit adalah amalan utama. 

Namun yang lebih penting adalah konsekuensi batinnya: meneladani orang saleh, mengamalkan Al-Qur’an, mempersiapkan diri untuk kematian, serta membuat wasiat. Hal ini menegaskan bahwa nilai sejati amal terletak pada implementasi, bukan sekadar simbol.

Ketiga, Maqolah 10 dari Ali bin Abi Thalib mengajarkan orientasi hidup seorang mukmin. Kerinduan terhadap surga mendorong seseorang bersegera dalam kebaikan, sementara rasa takut terhadap neraka menahan dari syahwat. 

Keyakinan akan kematian melemahkan keterikatan pada kenikmatan dunia, dan pemahaman hakikat dunia sebagai tempat ujian menjadikan musibah terasa ringan. Ini menjadi fondasi sikap zuhud dan keteguhan hati.

Kesimpulan kajian, ketiga maqolah ini saling melengkapi dalam membentuk karakter mukmin: mampu mengendalikan hawa nafsu, menikmati ibadah dengan ikhlas, mengutamakan amal substansial, serta memiliki orientasi akhirat yang kuat. 

Semua ini bermuara pada kesiapan menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya dengan bekal amal yang matang.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 8

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَجَدْتُ حَلَاوَةَ الْعِبَادَةِ فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: أَوَّلُهَا: فِي أَدَاءِ فَرَائِضِ اللَّهِ) يَسِيْرِهَا وَعَسِيْرِهَا (وَالثَّانِي: فِي اجْتِنَابِ مَحَارِمِ اللَّهِ) صَغِيرِهَا وَكَبِيرِهَا (وَالثَّالِثُ: فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ) وَهُوَ كُلُّ مَا يَحْسُنُ فِي الشَّرْعِ (وَابْتِغَاءِ ثَوَابِ اللَّهِ) وَهُوَ مِنْ عَطْفِ الْعِلَّةِ عَلَى مَعْلُولِهَا (وَالرَّابِعُ: فِي النَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ) وَهُوَ مَا لَيْسَ فِيهِ رِضَا اللَّهِ تَعَالَى مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ (وَالْاِتِّقَاءِ) أَيْ الِاحْتِرَاسِ (مِنْ غَضَبِ اللَّهِ) وَهُوَ مِنْ عَطْفِ السَّبَبِ عَلَى الْمُسَبَّبِ.
(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (قَالَ) أَيْ سَيِّدُنَا عُثْمَانَ (أَيْضًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (ظَاهِرُهُنَّ فَضِيلَةٌ) أَيْ خَيْرٌ كَثِيرٌ (وَبَاطِنُهُنَّ فَرِيضَةٌ) أَيْ وَاجِبَةٌ (مُخَالَطَةُ الصَّالِحِينَ) أَيْ الْقَائِمِينَ بِحُقُوقِ اللَّهِ تَعَالَى وَحُقُوقِ الْعِبَادِ (فَضِيلَةٌ، وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ) فِي أَفْعَالِهِمْ الصَّالِحَةِ (فَرِيضَةٌ، وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ فَضِيلَةٌ، وَالْعَمَلُ بِهِ) أَيْ بِمَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي (فَرِيضَةٌ، وَزِيَارَةُ الْقُبُورِ) أَيْ قُبُورِ الصَّالِحِينَ (فَضِيلَةٌ، وَالِاسْتِعْدَادُ لَهَا) أَيْ التَّهَيُّؤُ لِدُخُولِ الْقَبْرِ بِفِعْلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ (فَرِيضَةٌ) وَزِيَارَةُ الْقُبُورِ إمَّا لِمُجَرَّدِ تَذَكُّرِ الْمَوْتِ وَالْآخِرَةِ فَتَكُونُ بِرُؤْيَةِ الْقُبُورِ مِنْ غَيْرِ مَعْرِفَةِ أَصْحَابِهَا وَلَوْ قُبُورَ الْكَافِرِينَ أَوْ لِنَحْوِ دُعَاءٍ فَتُسَنُّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ لِلتَّبَرُّكِ فَتُسَنُّ لِأَهْلِ الْخَيْرِ أَوْ لِأَدَاءِ حَقٍّ كَصَدِيقٍ وَوَالِدٍ (وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ فَضِيلَةٌ، وَاِتِّخَاذُ الْوَصِيَّةِ فَرِيضَةٌ) قَالَ ﷺ: [الْمَحْرُومُ مَنْ حُرِمَ الْوَصِيَّةَ] أَيْ الْمَحْرُومُ مِنْ الثَّوَابِ وَالْخَيْرِ الْعَظِيمِ مَنْ مُنِعَ مِنَ الْوَصِيَّةِ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ عَنْ أَنَسٍ.
وَقَالَ ﷺ: [مَنْ مَاتَ عَلَى وَصِيَّةٍ مَاتَ عَلَى سَبِيلٍ وَسُنَّةٍ وَتُقًى وَشَهَادَةٍ وَمَاتَ مَغْفُورًا لَهُ].
(وَ) الْمَقَالَةُ الْعَاشِرَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (أَنَّهُ قَالَ: مَنْ اِشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَارَعَ إِلَى الْخَيْرَاتِ) أَيْ أَسْرَعَ الذَّهَابَ إِلَيْهَا (وَمَنْ أَشْفَقَ) أَيْ حَذَرَ (مِنَ النَّارِ انْتَهَى عَنِ الشَّهَوَاتِ) أَيْ اِمْتَنَعَ عَنِ اتِّبَاعِ حَرَكَاتِ النَّفْسِ (وَمَنْ تَيَقَّنَ بِالْمَوْتِ اِنْهَدَمَتْ عَلَيْهِ اللَّذَّاتُ) بِالدَّالِ الْمُهْمَلَةِ، أَيْ فَنِيَتْ، أَوْ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ أَيْ اِنْقَطَعَتْ (وَمَنْ عَرَفَ اَلدُّنْيَا) بِأَنَّهَا دَارُ اَلْمِحَنِ وَالْكُدُورَاتِ (هَانَتْ عَلَيْهِ اَلْمُصِيبَاتُ) أَيْ لَانَتْ عَلَيْهِ الشَّدَائِدُ النَّازِلَةُ.

Maqolah yang ke delapan (Dari Utsman Radhiallahu Anhu: Aku menemukan kenikmatan beribadah sebab empat perkara: Yang pertama dari empat perkara: Adalah sebab menunaikan kefardhuan kepada Allah) Mudahnya kefardhuan itu dan susahnya kefardhuan itu (Dan yang kedua: Adalah sebab menjauhi perkara yang diharamkan oleh Allah) Kecilnya yang diharamkan itu dan besarnya yang diharamkan itu (Dan yang ketiga: Adalah sebab memerintah kebaikan) Yaitu setiap perkara yang baik menurut syara (Karena mengharapkan pahala dari Allah) Lafadz وَابْتِغَاءِ mengathaf kepada lafadz الْأَمْرِ adalah dari mengathofkan illat kepada yang diilatinya (Dan yang ke empat: Adalah sebab melarang dari kemungkaran) Yaitu perkara yang tidak ada di dalamnya ridho Allah Ta'ala dari perkataan atau perbuatan (Karena menjaga) Maksudnya menjaga (Dari murkanya Allah) Lafadz وَالْاِتِّقَاءِ itu dari mengathofkan sebab kepada musabab.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 9

Maqolah yang ke sembilan (Telah berkata) Maksudnya Sayyiduna Utsman (Juga Radhiallahu Anhu: Empat) Dari perkara (Dzohirnya empat perkara itu adalah keutamaan) Maksudnya kebaikan yang banyak (Dan dalamnya empat perkara itu adalah kefardhuan) Maksudnya kewajiban (Bergaul bersama orang-orang sholeh) Maksudnya orang-orang yang mendirikan pada hak-haknya Allah Ta'ala dan hak-haknya para hamba (Adalah keutamaan, sedangkan mengikuti kepada mereka) Dalam perbuatan-perbuatan mereka yang sholeh (Adalah kefardhuan. Dan membaca Al-Quran adalah keutamaan sedangkan mengamalkan Al-Quran) Maksudnya pada perkara dalam Al-Quran dari perintah-perintah dan larangan-larangan (Adalah kefardhuan. Dan berziarah qubur) Maksudnya quburan orang-orang sholeh (Adalah keutamaan sedangkan bersiap untuknya) Maksudnya bersiap-siap untuk masuk alam qubur dengan mengerjakan amal-amal sholeh (Adalah kefardhuan) Dan ziarah qubur adakalanya untuk semata-mata mengigat kematian dan akhirat maka ada tujuan itu dengan melihat qubur tanpa harus mengetahui nama pemiliknya walaupun quburan orang-orang kafir atau untuk seumpama mendoakan maka disunnahkan kepada setiap orang muslim atau untuk tabarruk maka disunnahkan kepada ahli kebaikan atau untuk menunaikan hak seperti sahabat dan orang tua (Dan mengunjungi orang sakit adalah satu keutamaan sedangkan megambil wasiat adalah fardhu) Telah bersabda Nabi ﷺ: [Orang yang dihalang-halangi adalah orang yang dihalangi pada wasiat] Maksudnya orang yang dihalang-halangi dari pahala dan kebaikan yang agung adalah orang yang dihalangi dari wasiat, Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah Dari Anas

Dan telah bersabda Nabi ﷺ: [Barang siapa yang mati di atas wasiat maka ia mati di atas agama islam dan di atas sunah dan di atas ketakwaan dan di atas syahid dan ia mati sebagai yang diampuni untuknya].

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 10

Maqolah yang ke sepuluh (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarroma Wajhah (Sesungguhnya ia berkata: Barang siapa rindu pada surga maka ia akan bergegas menuju kebaikan-kebaikan) Maksudnya ia bergegas berangkat menuju kebaikan (Dan barang siapa yang takut) Maksudnya takut (Dari neraka maka ia akan mencegah diri dari syahwat) Maksudnya ia mencegah diri dari mengikuti gerakan nafsu (Dan barang siapa meyakini pada kematian maka pasti menjadi lebur kepadanya kenikmatan) Lafadz اِنْهَدَمَتْ dengan د yagn diringankan maksudnya rusak atau dengan ذ yang diberi titik maksudnya menjadi putus (Dan barang siapa yang mengenal dunia) Karena sesungguhnya dunia adalah tempatnya berbagai ujian dan tempatnya berbagai kotoran (Maka menjadi mudah kepadanya berbagai musibah) Maksudnya menjadi ringan kepadanya berbagai musibah berat yang menimpa.

© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Editor: Imam Edi Siswanto 

#34 Ciri orang celaka dan bahagia di akhirat , serta panji dari keimanan

  PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah seti...