Tampilkan postingan dengan label Rizal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rizal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2026

#36 Meraih Ridha Allah: Hikmah Surga, Pengendalian Diri, dan Menjaga Lisan dalam Nashoihul 'Ibad

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat menyampaikan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-36 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah Pujianto, Rabu (15/7/2026). 

Berikut ringkasan Hasil Kajian

Kajian Maqolah 19–21 dalam Kitab Nashoihul 'Ibad mengajarkan bahwa tujuan tertinggi seorang mukmin bukan sekadar memperoleh kenikmatan surga, tetapi meraih ridha Allah SWT.

Pada Maqolah 19, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada empat kenikmatan di surga yang nilainya lebih agung daripada surga itu sendiri, yaitu kekal di dalamnya, pelayanan para malaikat, kedekatan dengan para nabi, dan puncaknya adalah ridha Allah.

Sebaliknya, di neraka terdapat empat penderitaan yang lebih berat daripada api neraka, yaitu kekal di dalamnya, celaan malaikat, bertetangga dengan setan, dan yang paling dahsyat adalah murka Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ridha dan murka Allah merupakan inti dari kebahagiaan maupun kesengsaraan manusia.

Pada Maqolah 20, seorang ahli hikmah menggambarkan prinsip hidup seorang mukmin yang ideal, yaitu selalu selaras dengan perintah Allah, menentang hawa nafsu, menebarkan nasihat kepada sesama, dan memanfaatkan dunia hanya sebatas kebutuhan. Pesan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara hubungan dengan Allah, pengendalian diri, kepedulian sosial, dan sikap zuhud terhadap dunia.

Sementara itu, Maqolah 21 merangkum empat mutiara hikmah yang diambil dari kitab-kitab samawi: ridha terhadap rezeki Allah melahirkan ketenangan, mengendalikan syahwat membawa kemuliaan, tidak bergantung kepada manusia mendatangkan keselamatan, dan menjaga lisan menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa menjaga lisan termasuk amalan yang paling dicintai Allah, sementara banyak diam dan menjauhi percakapan yang tidak bermanfaat merupakan bagian penting dari keselamatan seorang mukmin.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

 BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 19

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: [أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) نَفْسِهَا (الْخُلُودُ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) أَيْ إطَالَةُ الْإِقَامَةِ فِي الْجَنَّةِ أَنْعَمُ لِأَهْلِهَا مِنْ وُجُودِ نَفْسِ الْجَنَّةِ (وَخِذْمَةُ الْمَلَائِكَةِ فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) فَخِدْمَةُ الْمَلَائِكَةِ تَدُلُّ عَلَى زِيَادَةِ ارْتِفَاعِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (وَجِوَارُ الْأَنْبِيَاءِ) بِكَسْرِ الْجِيمِ وَضَمِّهَا مِنْ قُرْبِهِمْ (فِي الْجَنَّةِ) لِأَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَحَسُنَ أُوْلّئِكَ رَفِيْقًا﴾ [النِّسَاءُ: الْآيَةَ ٦٩]، (وَرِضَا اللَّهِ تَعَالَى فِي الْجَنَّةِ) عَنْ أَهْلِهَا (خَيْرٌ مِنَ الْجَنَّةِ) لِأَنَّ رِضْوَانَ اللَّهِ تَعَالَى أَكْبَرُ مِنْ جَمِيعِ النِّعَمِ.

Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Nabi sesungguhnya Nabi bersabda: Empat) Dari perkara (Di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Dzatnya Surga (Kekal di dalam surga itu lebih baik daripada surga) Maksudnya lama tinggal di dalam surga itu lebih nikmat bagi penduduk surga daripada keberadaan surga itu sendiri (Dan berkhidmatnya para malaikat di dalam surga) Kepada penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Maka berkhidmahnya para malaikat itu menujukkan atas lebih tingginya derajat penduduk surga (Dan bertetangga dengan para Nabi) Ladadz جِوَارُ dengan mengkasrohkan huruf jim atau mendhommahkannya karena dekat dengan mereka (Di dalam surga) Bagi penduduk surga (Itu lebih baik daripada surga) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Dan sebaik-baiknya para nabi itu sebagai teman﴿ [An-Nisa: Ayat 69] (Dan ridho Allah Ta'ala di dalam surga) Pada penduduka surga (Itu lebih baik daripada surga) Karena sesungguhnya ridho allah Ta'ala itu lebih besar daripada seluruh jenis kenikmatan.

(وَأَرْبَعَةٌ) مِنَ الْخِصَالِ (فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) نَفْسِهَا (اَلْخُلُودُ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) أَيْ طُولُ الْإِقَامَةِ فِيهَا أَشَدُّ عَلَى أَهْلِهَا مِنْ دُخُولِهَا (وَتَوْبِيْخُ الْمَلَائِكَةِ الْكُفَّارَ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالتَّوْبِيخُ التَّعْيِيرُ وَالتَّعْنِيفُ وَالتَّهْدِيدُ (وَجِوَارُ الشَّيْطَانِ فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ) فَالشَّيْطَانُ قَرِينُ أَهْلِهَا فِي سِلْسِلَةٍ وَاحِدَةٍ (وَغَضَبُ اللَّهِ تَعَالَى فِي النَّارِ شَرٌّ مِنَ النَّارِ]) وَأَهْلُ اللَّهِ تَعَالَى لَا يُبَالُونَ مِنْ دُخُولِ النَّارِ إذَا حَصَلَ لَهُمُ الرِّضْوَانُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَالْحَيَّاتُ وَالْعَقَارِبُ فِي النَّارِ لَا تَتَأَلَّمُ بِهَا لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى رَضِيَ عَنْهَا فِي دُخُولِهَا النَّارَ.

(Dan empat) Dari perkara (Di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Dzatnya neraka (Kekal di dalam neraka) Maksudnya lama tinggal di dalam neraka itu lebih buruk atas penduduk neraka daripada masuk ke dalam neraka (Dan menegurnya para malaikat kepada orang kafir di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka) Taubikh adalah mengibaratkan dan menegur dan menggertak (Dan bertetangga dengan setan di neraka itu lebih buruk daripada neraka) Maka setan itu mendampingi ahli neraka dalam rantai yang satu (Dan murka Allah Ta'ala di dalam neraka itu lebih buruk daripada neraka]) Dan para wali Allah Ta'ala itu mereka tidak perduli masuk neraka ketika hasil kepada mereka ridho dari Allah Ta'ala. Maka ular-ular dan kalajengking-kalajengking di dalam neraka itu tidak merasa sakit sebab neraka karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah ridho kepada mereka dalam masuknya mereka ke dalam neraka.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 20

(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُونَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ حِينَ سُئِلَ كَيْفَ أَنْتَ) أَيْ عَلَى أَيِّ حَالٍ أَنْتَ (فَقَالَ: أَنَا مَعَ الْمَوْلَى) أَيْ الْمُتَوَلِّي لِأُمُورِنَا (عَلَى الْمُوَافَقَةِ) لِأَوَامِرِهِ (وَمَعَ النَّفْسِ عَلَى الْمُخَالَفَةِ) لِمُرَادَاتِهَا (وَمَعَ الْخَلْقِ عَلَى النَّصِيحَةِ) وَهِيَ الدُّعَاءُ إِلَى مَا فِيهِ الصَّلَاحُ وَالنَّهْيُ عَمَّا فِيهِ الْفَسَادُ (وَمَعَ الدُّنْيَا) أَيْ مَتَاعِهَا (عَلَى الضَّرُورَةِ) أَيْ الْحَاجَةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي لَا مَدْفَعَ لَهَا.

Maqolah yang ke dua puluh (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana ketika ditanya bagaimana kamu) Maksudnya dalam kondisi apa kamu (Kemudian ia menjawab: Aku bersama tuhan) Maksudnya dzat yang mengatur urusan kita (Dalam keserasian) pada perintah-perintah tuhan (Dan bersama nafsu dalam keadaan menyelisihi) pada yang di inginkan nafsu (Dan bersama makhluk dalam nasihat) Nasihat adalah mengajak kepada perkara yang didalamnya ada kemaslahatan dan mencegah dari perkara yang di dalamnya ada kerusakan (Dan bersama dunia) Maksudnya kesenangan dunia (Dalam kedaruratan) Maksudnya kebutuhan yang pasti yang tidak bisa ditolak pada kebutuhan itu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 21

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (اِخْتَارَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ (مِنْ أَرْبَعَةِ كُتُبٍ) سَمَاوِيَّةٍ (مِنَ التَّوْرَاةِ: مَنْ رَضِيَ بِمَا أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى) مِنَ الرِّزْقِ (اسْتَرَاحَ) أَيْ صَارَ تَعَبُهُ ذَاهِبًا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الْإِنْجِيلِ: مَنْ هَدَمَ الشَّهَوَاتِ) أَيْ مَنْ تَرَكَ مُشْتَاقَاتِ النَّفْسِ (عَزَّ) أَيْ صَارَ قَوِيًّا (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمِنَ الزَّبُورِ: مَنْ تَفَرَّدَ) بِنَفْسِهِ وَبِمَالِهِ (عَنِ النَّاسِ نَجَا) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْهَلَاكِ وَبَعُدَ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (وَمِنَ الْفُرْقَانِ: مَنْ حَفِظَ اللِّسَانِ) مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَمِمَّا لَا يُعْتَدُّ بِهِ (سَلِمَ) أَيْ خَلَصَ مِنَ الْآفَاتِ (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ).

Maqolah yang ke dua puluh satu (Telah memilih sebagian orang-orang yang bijaksana pada empat kalimat) Maksudnya pada empat jumlah (Dari empat kitab-kitab) Samawi (Dari kitab Taurat: Barang siapa yang ridho atas perkara yang telah memberikan kepadanya Allah Ta'ala) Dari rizqi (Maka menjadi tenang) Maksudnya jadi rasa lelahnya orang itu menghilang (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab Injil: Barang siapa yang menghancurkan syahwat-syahwatnya) Maksudnya barang siapa yang meninggalkan perkara yang diinginkan nafsu (Maka mulia) Maksudnya ia menjadi kuat (Di dunia dan di akhirat. Dan dari kitab zabur: Barang siapa yang menyendiri) dengan dirinya dan dengan hartanya (Dari manusia maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan dan ia jauh dari kerusakan itu di dunia dan di akhirat (Dan dari Al-Furqon: Barang siapa yang menjaga pada lisan) Dari perkara yang tidak ada faedah di dalamnya dan dari perkara yang tidak di anggap dengannya (Maka ia selamat) Maksudnya ia selamat dari kerusakan-kerusakan (Di dunia dan di akhirat).

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى حِفْظُ اللِّسَانِ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [الْعَافِيَةُ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ: تِسْعَةٌ فِي الصَّمْتِ وَالْعَاشِرَةُ فِي الْعُزْلَةِ عَنِ النَّاسِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah menjaga lidah] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Baihaqi. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Keselamatan itu ada 10 bagian yang kesembilan itu dalam diam dan kesepuluh itu dalam menyendiri dari manusia] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Ad-Dailimi.


Nashoihul Ibad Bab 4
Source: https://lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 08 Juli 2026

#35 Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Imam Edi siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-35 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, PAI KUA Kalimanah, Pujianto  dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (8/7/2026). 

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17 dan 18:

Empat Permata Kehidupan dan Empat Penyakit yang Merusaknya

Dalam Maqolah ke-18, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki empat permata (jauhar) yang menjadi perhiasan dalam hidup, yaitu:

  1. Akal – cahaya dalam hati yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
  2. Agama – petunjuk Allah yang diterima oleh orang-orang berakal melalui ajaran Rasulullah ﷺ.
  3. Rasa malu (ḥayā') – sifat mulia yang mendorong seseorang menjauhi kemaksiatan.
  4. Amal saleh – segala amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Namun, empat permata tersebut dapat rusak oleh empat penyakit hati, yaitu:

  • Marah (Ghadab) menghilangkan akal. Saat marah, seseorang sulit berpikir jernih sehingga mudah berbuat salah. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjauhi sifat marah karena dapat merusak keimanan.
  • Hasad (Dengki) menghilangkan agama. Hasad adalah berharap nikmat orang lain hilang. Penyakit ini mengikis pahala sebagaimana api melahap kayu bakar. Seorang mukmin hendaknya ridha terhadap pembagian rezeki Allah.
  • Tamak (Thama') menghilangkan rasa malu. Keinginan yang berlebihan terhadap harta, jabatan, atau dunia membuat seseorang kehilangan kehormatan dan mudah melakukan hal yang tidak pantas.
  • Ghibah (Menggunjing) menghilangkan amal saleh. Ghibah adalah menyebutkan keburukan orang lain di belakangnya meskipun benar adanya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka menjadi fitnah (buhtan), sedangkan jika diucapkan di hadapannya dengan maksud menyakiti termasuk mencaci maki.

Hikmah Kajian

Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa menjaga hati lebih penting daripada sekadar menjaga penampilan lahiriah. Akal, agama, rasa malu, dan amal saleh adalah modal utama seorang Muslim. Karena itu, setiap orang hendaknya berusaha mengendalikan amarah, menjauhi hasad, menahan ketamakan, dan menjaga lisan dari ghibah agar keimanan tetap terpelihara dan amal ibadah tidak sia-sia.

Pesan utama: Jagalah empat permata dalam diri—akal, agama, malu, dan amal saleh—dengan menjauhi empat penyakit hati: marah, hasad, tamak, dan ghibah. Siapa yang mampu menjaga hatinya, ia akan menjaga agamanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 17

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: اَلْأُمَّهَاتُ) أَيْ الْأُصُولُ (أَرْبَعٌ) مِنَ الْأَشْيَاءِ (أُمُّ الْأَدْوِيَةِ) جَمْعُ دَوَاءٍ وَهُوَ مَا يُتَدَاوَى بِهِ (وَأُمُّ الْآدَابِ) وَهِيَ مَعْرِفَةُ مَا يُحْتَرَزُ بِهِ عَنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْخَطَأِ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ) وَهِيَ فِعْلُ الْمُكَلَّفِ عَلَى خِلَافِ هَوَى نَفْسِهِ تَعْظِيمًا لِرَبِّهِ (وَأُمُّ الْأَمَانِي) جَمْعُ أُمْنِيَّةٍ وَهُوَ تَقْدِيرُ حُصُولِ شَيْءٍ مُمْتَنِعٍ أَوْ مُمْكِنٍ (فَأُمُّ الْأَدْوِيَةِ قِلَّةُ الْأَكْلِ) فَإِنَّ الْاِحْتِمَاءَ مِنْ أَكْلِ مَا يَضُرُّ خَيْرٌ مِنَ الْأَدْوِيَةِ لِكُلِّ دَاءٍ (وَأُمُّ الْآدَابِ قِلَّةُ الْكَلَامِ) فَكَثْرَةُ الْكَلَامِ تُنْفِي الْأَدَبَ (وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ قِلَّةُ الذُّنُوبِ) فَالذُّنُوبُ تُنْفِي الْعِبَادَةَ الَّتِي هِيَ تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى (وَأُمُّ الْأَمَانِي الصَّبْرُ) وَهُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، فَالصَّبْرُ أَمَرُّ مِنَ الصِّبْرِ. وَيُقَالُ: بِالصَّبْرِ تَنَالُ مَا تُرِيدُ وَبِالتَّقْوَى يَلِيْنُ لَكَ الْحَدِيدُ.

Maqolah yang ke tujuh belas (Dari Nabi ﷺ Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Induk-induk) Maksudnya pokok-pokok (Itu ada empat) Dari perkara-perkara (Induknya obat-obatan) Lafadz الْأَدْوِيَةُ adalah jamak dari lafadz دَوَاءٌ yaitu perkara yang menjadi obat dengannya (Dan induk adab)

Adab adalah mengetahui perkara yang bisa dihindari atas perkara itu dari semua macam-macam kesalahan (Dan induk ibadah) Ibadah adalah pekerjaan seorang mukallaf dalam menyelisihi hawa nafsunya sendiri karena mengagungkan kepada tuhannya (Dan induk angan-angan) Lafadz الْأَمَانِي adalah jamak dari lafadz أُمْنِيَّةٌ yaitu mengharapkan hasilnya suatu perkara yang mustahil atau yang mungkin (Maka induknya obat-obatan adalah sedikitnya makan) 

Karena sesungguhnya menjaga dari memakan suatu perkara yang memadharatkan itu lebih baik dibandingkan obat-obatan untuk setiap penyakit (Dan induknya adab adalah sedikitnya berbicara) Karena banyaknya berbicara itu dapat menghilangkan tata krama 

(Dan induknya ibadah adalah sedikitnya dosa-dosa) Karena dosa-dosa itu dapat menghilangkan ibadah yang sejatinya ibadah itu mengagungkan Allah Ta'ala (Dan induknya angan-angan adalah sabar) Sabar adalah menahan diri dari kegelisahan, karena sabar itu lebih pahit dibandingkan buah mahoni, dan dikatakan: Dengan sabar engkau bisa memperoleh perkara yang engkau mau dan dengan takwa akan menjadi lunak kepadamu besi.

Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 35, Rabu (8/7/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 18

 الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَرْبَعَةُ جَوَاهِرَ) وَهِيَ لِبَاسُ الطَّبِيعَةِ (فِي جِسْمِ بَنِي آدَمَ يُزِيلُهَاأَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ) مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ (أَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ) وَهُوَ جَوْهَرٌ رُوحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللَّهُ تَعَالَى مُتَعَلِّقًا بِبَدَنِ الْإِنْسَانِ (وَالدِّينُ) وَهُوَ مَا يَدْعُو أَصْحَابُ الْعُقُولِ إِلَى قَبُولِ مَا هُوَ مِنَ الرّسُولِ ﷺ (وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ) أَيْ الْخَالِصُ (فَالْغَضَبُ يُزِيلُ الْعَقْلَ) وَهُوَ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ.

Maqolah yang ke delapan belas (Telah bersabda Nabi Alaihis Salam: Empat perhiasan) Yaitu pakaian alami (Di dalam diri anak Adam yang bisa menghilangkan kepadanya empat perkara) Dari sifat-sifat yang tercela (Adapun perhiasan-perhiasan itu adalah akal) 

Akal adalah permata ruhani yang telah menciptakannya Allah Ta'ala berhubungan dengan badan manusia (Dan agama) Agama adalah perkara yang menyeru orang-orang yang memiliki akal untuk menerima perkara yang perkara itu berasal dari Rasul ﷺ (Dan malu dan amal sholeh) Maksudnya yang murni (Maka marah itu dapat menghilangkan akal) Akal adalah cahaya dalam hati yang bisa diketahui dengannya kebenaran dan kebatilan.

رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مُعَاوِيَةُ إِيَّاكَ وَالْغَضَبَ فَإِنَّ الْغَضَبَ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Wahai mu'awiyah waspadalah kamu terhadap sifat marah karena sesungguhnya marah itu dapat merusak keimanan sebagaimana dapat merusak buah mahoni pada madu] telah meriwayatkan hadits ini  Imam Al-Baihaqi

(وَالْحَسَدُ) وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْغَيْرِ (يُزِيلُ الدِّينَ) أَيْ الشَّرِيعَةَ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ] رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. قَالَ الشَّاعِرُ: [مِنْ بَحْرِ الْمُتَقَارِبِ]

(Dan sifat hasud) Hasud adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain (Itu dapat menghilangkan agama) Maksudnya syari'at. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian terhadap sifat hasud karena sesungguhnya hasud itu dapat memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana bisa memakan api pada kayu bakar] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Abu Daud. Telah berkata seorang penyair: [Dari Bahar Mutaqorrib]

أَتَدْرِي عَلَى مَنْ أَسَأْتَ الْأَدَبَ * أَلَا قُلْ لِمَنْ بَاتَ لِي حَاسِدًا
إِذَا أَنْتَ لَمْ تَرْضَ لِي مَا وَهَبَ * أَسَأْتَ عَلَى اللَّهِ فِي فِعْلِهِ
وَسَدَّ عَلَيْكَ وُجُوهَ الطَّلَبِ * فَجَازَاكَ رَبِّي بِأَنْ زَادَنِي
Ingat ucapkanlah kepada orang yang bersifat dirinya kepadaku hasud * Apakah kamu tahu kepada siapa kamu bersu'ul adab
Engkau telah berbuat buruk kepada Allah dalam keputusan Allah * Ketika kamu tidak ridho kepadaku atas perkara yang telah Allah berikan
Maka membalas kepadamu tuhanku dengan menambahkan kenikmatan kepadaku * Dan Allah menutup atasmu segala bentuk permintaan

(وَالطَّمَعُ) أَيْ الرَّغْبَةُ فِي الشَّيْءِ (يُزِيلُ الْحَيَاءَ، وَالْغِيبَةُ تُزِيلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ) وَالْغِيبَةُ بِكَسْرِ الْغَيْنِ أَنْ يَذْكُرَ الشَّخْصُ مَسَاوِيَ الْإِنْسَانِ فِي غَيْبَتِهِ وَهِيَ فِيهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِيْهِ فَهِيَ بُهْتَانٌ وَإِنْ وَاجَهَهُ بِهَا فَھوَ شَتْمٌ.

(Dan sifat thoma) Maksudnya ingin pada sesuatu (Itu dapat menghilangkan rasa malu, dan ghibah itu dapat menghilangkan amal sholeh) Lafadz الْغِيبَةُ dengan mengkasrohkan huruf ghin adalah menyebutkan oleh seseorang pada keburukan manusia disaat manusia tersebut tidak ada sedangkan keburukan itu memang ada pada diri manusia tersebut dan jika tidak ada keburukan itu dalam diri manusia tersebut maka menyebutkan keburukan manusia itu adalah fitnah dan jika berhadapan langsung dengan manusia tersebut dengan menyebut keburukannya maka itu adalah mencaci maki.

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto

Rabu, 01 Juli 2026

KUA Kalimanah Jadikan Peaceful Muharam Momentum Menguatkan Nilai Kemanusiaan

Iluatrasi: Gedung KUA Kalimanah Purbalingga tampak dari depan, Rabu (1/7/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Dalam rangka menyemarakkan momentum Peaceful Muharam 1448 Hijriah, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah akan menggelar kegiatan santunan pada 12 anak yatim jenjang RA, BA, dan MI se-Kecamatan Kalimanah. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026, bertempat di Ruang Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kecamatan Kalimanah.

BACA:  https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/07/peaceful-muharam-kua-kalimanah-hadir.html

Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi semangat bulan Muharam sebagai bulan yang penuh keberkahan dan kepedulian sosial. Melalui santunan tersebut, KUA Kalimanah ingin menghadirkan kebahagiaan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi kepada anak-anak yatim, yang dalam ajaran Islam mendapat perhatian dan kedudukan yang sangat mulia.

Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh panitia Peaceful Muharam 1448 H yang telah dibentuk. Puji Haryono dipercaya sebagai Ketua Panitia, didampingi Zamroni Irham sebagai Sekretaris dan Eksi Fajriati sebagai Bendahara. Sementara itu, Firman Yuwono, Joko Waluyo, dan Rizal Nur Ahmadi bertugas sebagai anggota yang akan mengawal seluruh rangkaian kegiatan agar berjalan tertib dan lancar.

Kepala KUA Kecamatan Kalimanah, Kholidin, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Peaceful Muharam bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, serta mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.

"Anak-anak yatim merupakan amanah yang harus kita perhatikan bersama. Kami berharap kegiatan santunan ini tidak hanya memberikan bantuan secara materi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, semangat, dan rasa kasih sayang bagi mereka. Inilah nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang ingin terus ditumbuhkan melalui program Peaceful Muharam," ucap Kholidin.

Ia menambahkan, KUA Kalimanah terus berkomitmen menghadirkan program-program yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan santunan ini diharapkan menjadi media untuk mengajak berbagai elemen masyarakat memperkuat budaya berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Sebagai informasi, program Peaceful Muharram 1448 H merupakan gerakan nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI untuk menyambut Tahun Baru Islam dengan serangkaian kegiatan bertema "Menebar Maslahat, Menguatkan Umat". Rangkaian kegiatan ini berfokus pada kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan dalam program ini antaralain:

  • Lebaran Yatim & Santunan Difabel: Penyaluran ribuan paket santunan, bantuan, dan kebahagiaan bagi anak-anak yatim serta penyandang disabilitas.
  • Gerakan Sosial: Aksi kemanusiaan seperti donor darah, termasuk yang dipusatkan di Masjid Istiqlal.
  • Gerakan Bersih-Bersih Masjid: Kegiatan kerja bakti dan membersihkan lingkungan masjid agar lebih nyaman untuk beribadah.
  • Peningkatan Kualitas Ibadah: Berbagai kegiatan keagamaan, seperti Khataman Al-Qur'an serentak dan standardisasi keakuratan titik kiblat.
  • Inklusi Sosial & Dakwah: Program layanan bahasa isyarat untuk kalangan difabel.

Melalui kegiatan Peaceful Muharam 1448 H, KUA Kalimanah berharap semangat berbagi di bulan Muharam dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin peduli kepada anak yatim dan kelompok yang membutuhkan. Dengan demikian, nilai-nilai Islam yang mengedepankan kasih sayang, kepedulian, dan solidaritas sosial dapat terus hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.(*)

Kontributor/Editor: Imam Edi Siswanto (PAI KUA Kalimanah) 

Jumat, 17 April 2026

Mughofar Paparkan Konsep Keluarga Sakinah dalam Bimwin Catin KUA Kalimanah

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Mughofar (Kiri) dan Rizal Nur Ahmadi (Kanan) dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin di Balai Nikah KUA Kalimanah, Kamis (16/4/2026), (Foto: Hasbiq Muzni)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Mughofar, dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin di Balai Nikah KUA Kalimanah, Kamis (16/4/2026), menyampaikan pentingnya memahami konsep keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sebagai tujuan utama dalam membangun rumah tangga.

Dalam pemaparannya, Mughofar menjelaskan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang diliputi ketenangan, ketenteraman, dan rasa aman, di mana setiap anggota keluarga merasa nyaman secara lahir maupun batin.

Sementara itu, mawaddah dimaknai sebagai cinta yang tumbuh dengan penuh kehangatan dan ketulusan, yang biasanya kuat di awal pernikahan. Adapun rahmah adalah kasih sayang yang lebih dalam, penuh empati, kesabaran, dan kepedulian, yang menjadi perekat hubungan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ketiga konsep tersebut harus berjalan beriringan. Mawaddah menjadi energi awal dalam membangun cinta, sedangkan rahmah menjaga keutuhan hubungan dalam jangka panjang, sehingga tercipta sakinah sebagai buah dari keduanya. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/04/pai-kua-kalimanah-bekali-catin-kunci.html

Dalam penerapannya, Mughofar menjelaskan bahwa membangun keluarga sakinah tidak cukup hanya dengan niat, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Di antaranya adalah membiasakan komunikasi yang baik antara suami dan istri, saling menghargai dan memahami perbedaan, serta menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan kepala dingin.

Selain itu, kehidupan beragama juga menjadi fondasi utama, seperti menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, serta saling mengingatkan dalam kebaikan. Sikap saling mendukung, berbagi peran dalam keluarga, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab juga menjadi kunci penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

Mughofar juga menekankan bahwa keluarga sakinah bukan berarti tanpa masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi masalah dengan bijak, penuh kesabaran, dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama. Dengan demikian, keluarga tidak hanya harmonis di dunia, tetapi juga diharapkan menjadi jalan menuju kebahagiaan di akhirat.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Senin, 06 April 2026

Belajar Ketahanan Keluarga Sejak Dini, Siswa MAN Purbalingga Serap Nilai Kehidupan di KUA Kalimanah

Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama Penghulu Muda Rizal Nur Ahmadi di ruang PPAI saat berdialog dengan Siswan Kelas XI MAN Purbalingga di ruang PPAI Kecamatan kalimanah, Senin (6/3/2026) (Foto: Rizal)

Purbalingga-Sebanyak 25 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purbalingga yang tergabung dalam kelompok kokurikuler melaksanakan kunjungan edukatif ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Kamis (2/4/2026). 

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual dengan tema “Analisis Statistika Ketahanan Keluarga dan Kesehatan Remaja di Kabupaten Purbalingga”.

Kunjungan tersebut dibagi dalam lima kelompok. Pada hari kedua, kelompok pertama yang terdiri dari empat siswa kelas XI diterima langsung oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, bersama Penghulu Muda Rizal Nur Ahmadi di ruang PPAI. 

Penghulu Muda, Rizal Nur Ahmadi (Kanan) dan Hasbiq Muzni foto bersama di halaman KUA Kalimanah, Senin (6/3/2026) (Foto: Azizah)

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/04/kua-kalimanah-jadi-kelas-nyata-pelajar.html 

Suasana dialog yang hangat, para siswa mendapatkan pemahaman langsung tentang konsep keluarga sakinah dan tantangan kehidupan berumah tangga di era modern.

Dalam arahannya, Kholidin menekankan bahwa aspek ekonomi memang penting dalam membangun rumah tangga, namun bukan menjadi satu-satunya penentu. 

Ia mengingatkan bahwa kesiapan mental, fisik, serta kematangan spiritual menjadi fondasi utama dalam membentuk keluarga yang harmonis. 

“Rezeki telah dijamin oleh Allah SWT, sehingga tidak seharusnya menjadi alasan utama dalam menentukan keputusan menikah,” ungkapnya. 

Penghulu Muda, Rizal Nur Ahmadi (Kiri) dan PAI KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba saat berdialog dengan Siswa MAN Purbalingga di Aula Balai Nikah KUA Kalimanah, Senin (6/3/2026) (Foto: Imam Edi Siswanto)

Lebih lanjut, Kholidin menegaskan bahwa keyakinan kepada Allah harus diiringi dengan ilmu dan wawasan yang luas dalam mempersiapkan masa depan. 

Ia juga mengingatkan para siswa untuk menjaga diri dari pergaulan bebas sebagai langkah penting dalam mencegah pernikahan dini. 

“Hindari pergaulan bebas agar tidak terjerumus pada keputusan menikah dini yang belum siap secara lahir dan batin,” pesannya.

Sementara itu, kelompok kedua hingga kelima mengikuti sesi diskusi serupa yang dipandu oleh Penyuluh Agama Islam, Azizah Dwi Purba dan Penghulu Muda Hasbiq Muzni. 

Penghulu Muda, Rizal Nur Ahmadi (Kanan) dan PAI KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba saat berdialog dengan Siswa MAN Purbalingga di Aula Balai Nikah KUA Kalimanah, Senin (6/3/2026) (Foto: Imam Edi Siswanto)

Dialog interaktif ini membahas berbagai aspek pernikahan ideal dan pentingnya kesiapan remaja dalam merencanakan masa depan.

Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan mampu memahami pentingnya ketahanan keluarga sejak dini, serta memiliki bekal pengetahuan dan sikap bijak dalam menghadapi tantangan kehidupan, khususnya terkait pernikahan dan masa depan generasi muda.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Kemenag Berdampak: KUA Kalimanah Salurkan 29 Dus Air Mineral untuk Warga Purbalingga

KUA Kecamatan Kalimanah berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan, dengan menyumbangkan 29 dus air mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan air...