Rabu, 30 September 2026

#41 Kajian Kitab Nashoihul Ibad: Bekal Hidup dengan Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-41 seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor ruang kantor setempat, Rabu (23/9/2026).

Berikut rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36 Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Bab ini termasuk Babur Rubā‘ī, yang berisi nasihat-nasihat dalam bentuk empat perkara.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab  

Berikut isi rangkuman Bab 4 Maqolah 32–36
“Bekal Hidup: Sabar, Menjaga Diri, dan Muhasabah”

1. Maqolah 32 — Besarnya Pahala Orang yang Menghadapi Musibah
Dalam maqolah ini dijelaskan bahwa pada hari kiamat, orang-orang yang memiliki amal seperti shalat dan puasa akan mendapatkan pahala dengan perhitungan amalnya.

Namun, bagi ahlul bala’, yaitu orang-orang yang mendapatkan ujian dan musibah kemudian menghadapinya dengan kesabaran dan keimanan, disebutkan bahwa mereka memperoleh pahala tanpa hisab. Begitu besarnya pahala tersebut hingga orang-orang yang hidup dalam keadaan sehat dan selamat berharap mendapatkan kedudukan seperti mereka.

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 41, Rabu (30/9/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pesan penting:
Musibah tidak selalu berarti kemurkaan Allah. Bagi orang beriman, musibah dapat menjadi jalan memperoleh pahala, penghapus dosa, dan peningkatan derajat. Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Pelajaran: Jangan hanya melihat beratnya musibah, tetapi lihat pula besarnya pahala di balik kesabaran.

2. Maqolah 33 — Empat Hal yang Akan “Merampas” Manusia
Sebagian ulama hikmah mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi empat perampasan: Malaikat maut merampas ruhnya.

  • Ahli waris mengambil hartanya setelah ia meninggal.
  • Tanah dan cacing menghancurkan jasadnya di dalam kubur.
  • Orang-orang yang pernah dizaliminya mengambil amalnya, apabila ia memiliki amal kebaikan.

Apabila seseorang tidak mempunyai amal kebaikan yang cukup, dosa orang-orang yang pernah dizaliminya dapat dibebankan kepadanya.

Inti pesannya:
Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa mengumpulkan amal.

Jangan sampai kita menjaga harta agar tidak diambil orang, tetapi justru membiarkan pahala kita diambil oleh orang lain karena kezaliman kita.

Pertanyaan untuk muhasabah:
“Kalau hari ini saya meninggal, apakah orang lain akan membawa harta saya, ataukah saya membawa bekal amal saya?”

3. Maqolah 34 — Empat Kesibukan dan Bekalnya

Maqolah ini memberikan gambaran tentang konsekuensi dari empat macam kesibukan manusia:

Pertama, orang yang sibuk mengejar syahwat harus mampu menjaga pergaulan dan kehormatan diri.

Kedua, orang yang sibuk mengumpulkan harta harus sangat berhati-hati agar tidak terjerumus kepada yang haram.

Ketiga, orang yang sibuk memberikan manfaat kepada sesama Muslim membutuhkan mudārāh, yaitu sikap lembut, bijaksana, dan pandai menjaga hubungan dengan manusia.

Keempat, orang yang sibuk beribadah harus memiliki ilmu, karena ibadah tidak akan benar jika dilakukan tanpa mengetahui tata caranya.


Kalimat kuncinya:
“Beribadah membutuhkan ilmu, melayani manusia membutuhkan akhlak, dan mencari harta membutuhkan kehati-hatian.”

Jadi, jangan hanya bertanya: “Apa yang ingin saya lakukan?” Tetapi tanyakan juga:
“Apakah saya memiliki ilmu dan akhlak untuk melakukannya?”

4. Maqolah 35 — Empat Amal yang Sangat Sulit

Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu menyebut beberapa amal yang sangat berat dilakukan oleh manusia, yaitu: 

  • Memaafkan ketika sedang marah.
  • Bersikap dermawan ketika sedang mengalami kesulitan.
  • Menjaga diri dari perkara haram ketika sedang sendirian.
  • Mengatakan kebenaran kepada orang yang ditakuti atau kepada orang yang diharapkan pertolongannya.

Ini menunjukkan bahwa ukuran akhlak seseorang bukan ketika keadaan mudah, tetapi ketika dirinya sedang diuji.

· Mudah memaafkan ketika hati tenang.
Yang sulit adalah memaafkan ketika hati terluka.

· Mudah bersedekah ketika kaya.
Yang luar biasa adalah memberi ketika diri sendiri sedang membutuhkan.

· Mudah meninggalkan maksiat ketika dilihat orang.
Yang menunjukkan ketakwaan adalah meninggalkannya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Inilah hakikat kejujuran iman:
Tetap baik ketika tidak ada yang melihat dan tetap benar ketika ada risiko yang harus ditanggung.

5. Maqolah 36 — Empat Waktu Orang yang Bijaksana

Dalam kitab Zabur disebutkan nasihat Allah kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam bahwa orang yang berakal dan bijaksana hendaknya membagi waktunya dalam empat keadaan:

1. Waktu untuk bermunajat kepada Allah
Dengan dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, mengadu dan mendekatkan diri kepada Allah.

2. Waktu untuk bermuhasabah
Mengevaluasi diri: apa yang sudah dilakukan, apa kesalahan hari ini, kemudian bersyukur atas kebaikan dan memohon ampun atas kesalahan.

3. Waktu bersama orang-orang yang mengingatkan kekurangan kita
Bersahabat dengan orang-orang yang berani memberikan nasihat, bukan hanya orang yang selalu memuji.

4. Waktu menikmati perkara halal
Manusia juga membutuhkan waktu untuk menikmati sesuatu yang halal, beristirahat, dan menyegarkan diri, selama tidak berlebihan dan tidak melalaikan kewajiban.

Benang Merah Maqolah 32–36
Kalau kelima maqolah ini dirangkai menjadi satu pesan, sebenarnya Nashoihul Ibad sedang mengajarkan bagaimana seorang Muslim mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan:

Maqolah 32:
Ketika mendapat musibah, bersabarlah, karena pahala Allah sangat besar.

Maqolah 33:
Ingat kematian, karena ruh, harta, jasad, dan bahkan amal kita akan menghadapi konsekuensinya.

Maqolah 34:
Dalam menjalani kehidupan, kuasai diri, cari harta dengan halal, layani manusia dengan akhlak, dan beribadahlah dengan ilmu.

Maqolah 35:
Latih empat kekuatan: memaafkan, memberi, menjaga diri, dan berkata benar.

Maqolah 36:
Atur kehidupan dengan empat keseimbangan: hubungan dengan Allah, evaluasi diri, hubungan dengan orang saleh, dan menikmati yang halal.

Kesimpulan yang mudah disampaikan dalam pengajian
“Jangan takut menghadapi musibah, tetapi takutlah jika musibah membuat kita jauh dari Allah. Jangan hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi kumpulkan pula amal. Jangan hanya menjaga tubuh dari penyakit, tetapi jagalah hati dari dosa. Dan jangan hanya menghitung umur yang telah berlalu, tetapi hitunglah amal yang telah kita bawa.”

Dengan demikian, orang bijaksana bukanlah orang yang sekadar panjang umurnya, banyak hartanya, atau tinggi ilmunya. Orang bijaksana adalah orang yang tahu kepada siapa ia harus kembali, mempersiapkan bekal untuk kembali, dan setiap hari mau mengevaluasi dirinya.(*)

Source: lilmuslimin.com
Pewarta: Imam Edi Siswanto



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ikrar Wakaf Tanah 108 Meter Persegi Disiapkan untuk TPQ dan Kemaslahatan Umat

PPAIW Kecamatan Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, (Berbaju putih) di acara prosesi ikrar wakf di  Masjid Baiturrahman, Kelurahan Karangmanya...