Purbalingga–Mengenal kebesaran Allah SWT dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Langit yang membentang luas, matahari yang menyinari bumi, tanaman yang tumbuh, hewan yang beraneka ragam, hingga mobil dan handphone yang digunakan manusia, semuanya dapat menjadi sarana untuk belajar tentang kebesaran Sang Pencipta dan memahami kedudukan manusia sebagai makhluk-Nya.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat memberikan materi Aqidah Akhlak pada program Madrasah Ibtidaiyah Terpadu kepada siswa kelas V MI Ma’arif NU Blater, Rabu (28/10/2026) kemarin.
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/PSM%20Peduli%20%20Pendidikan
Mengawali materinya, Imam secara interaktif dan komunikatif mengajak anak-anak mengamati berbagai hal yang ada di sekitar mereka. Ia mengenalkan alam semesta, gunung, lautan, air, matahari, bulan, bintang, tanaman, dan hewan sebagai contoh ciptaan Allah SWT yang menunjukkan kekuasaan-Nya.
Tanaman, misalnya, berawal dari biji kecil yang kemudian tumbuh, berkembang, dan menghasilkan buah. Berbagai jenis hewan juga memiliki bentuk, kemampuan, dan manfaat yang berbeda-beda. Demikian pula alam semesta dengan segala keteraturan dan keunikannya menjadi bahan renungan agar manusia semakin menyadari betapa besar kekuasaan Allah SWT.
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Madrasah%20Berasrama
“Coba perhatikan lingkungan di sekitar kalian. Siapa yang menciptakan matahari, bulan, bintang, tumbuhan, dan hewan?” Pertanyaan sederhana semacam ini menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka.
Untuk mempermudah pemahaman, anak-anak juga diajak membedakan ciptaan Allah SWT dengan hasil karya manusia. Mobil, sepeda motor, handphone, pakaian, rumah, meja, dan berbagai peralatan lainnya merupakan contoh benda yang dibuat manusia melalui ilmu pengetahuan, keterampilan, dan proses kerja.
Mobil dan sepeda motor dibuat dengan mengolah berbagai bahan, handphone dirancang melalui perkembangan teknologi, pakaian diproduksi melalui tahapan pengolahan bahan, sedangkan rumah dibangun menggunakan material yang tersedia di alam.
Dari contoh tersebut, para siswa diajak memahami bahwa manusia memang memiliki kemampuan untuk menciptakan atau membuat berbagai benda yang bermanfaat. Namun, kemampuan berpikir, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan bahan-bahan yang digunakan merupakan karunia Allah SWT.
Anak-anak diberi kesempatan menyebutkan sendiri benda-benda atau sesuatu yang mereka ketahui, kemudian mengelompokkannya sebagai ciptaan Allah atau hasil karya manusia. Melalui tanya jawab tersebut, siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar, berpikir, dan menyampaikan pendapat.
Surah Al-Ikhlas, Landasan Mengenal Keagungan Allah
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Imam mengaitkan materi dengan Surah Al-Ikhlas ayat 1–4. Surah ini mengandung ajaran mendasar tentang tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa, tempat seluruh makhluk bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Melalui Surah Al-Ikhlas, anak-anak diharapkan tidak sekadar menghafal ayat, tetapi juga memahami maknanya dan menjadikannya landasan dalam bersikap. Mengenal Allah berarti meyakini keesaan-Nya, menyadari ketergantungan manusia kepada-Nya, serta berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan agama.
Iman yang Tumbuh dalam Akhlak Sehari-hari
Imam Edi Siswanto menekankan bahwa pemahaman tentang kebesaran Allah hendaknya tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Keimanan yang baik semestinya mendorong seseorang menjadi pribadi yang rendah hati, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pertama, akhlak kepada Allah SWT diwujudkan dengan rajin beribadah, berdoa, bersyukur atas nikmat-Nya, menaati perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Kedua, akhlak kepada orang tua dan guru ditunjukkan dengan berbicara sopan, mendengarkan nasihat, menghormati orang tua yang telah merawat dan membesarkan kita, serta menghargai guru yang telah mendidik dan membimbing kita memperoleh ilmu.
Ketiga, akhlak kepada sesama manusia diwujudkan dengan tidak sombong, tidak mengejek teman, tidak merendahkan orang lain karena keadaan ekonomi atau penampilan, serta membiasakan diri untuk jujur, berbagi, dan membantu orang yang membutuhkan.
Keempat, akhlak kepada alam semesta diwujudkan dengan menjaga kebersihan, tidak merusak tanaman, menyayangi hewan, menghemat air, dan membuang sampah pada tempatnya. Alam merupakan karunia Allah yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Menjadi Generasi Beriman, Rendah Hati, dan Peduli
Pada akhirnya, mengenal kebesaran Allah bukan hanya tentang mengetahui luasnya alam semesta atau canggihnya teknologi manusia. Lebih dari itu, pengenalan tersebut mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, membutuhkan pertolongan Allah, dan mengemban tanggung jawab untuk beribadah serta berbuat baik.
Sebagai tindak lanjut, Imam memberikan tugas kepada para siswa untuk menyebutkan 10 macam ciptaan Allah SWT dan 10 macam hasil karya manusia. Hasil tugas tersebut akan dibahas bersama pada pertemuan berikutnya.
Tugas sederhana ini diharapkan mendorong anak-anak kelas V MI Ma’arif NU Blater untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar, mengembangkan rasa ingin tahu, serta semakin memahami perbedaan antara Allah sebagai Sang Pencipta dan manusia sebagai makhluk yang diberi kemampuan untuk berkarya.(*)
Pewarta: Imam Edi Siswanto



