Rabu, 04 November 2026

#46 Menghargai Waktu Sebelum Terlambat, Ini Pesan Pentingnya

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri depan), pada kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 46, Rabu (4/11/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto

Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada "Menghargai Waktu Sebelum Terlambat".

Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-46 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto dan dijelaskan oleh Staff KUA Kalimanah, Amin Muakhor di ruang kantor setempat, Rabu (4/11/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 10, 11, dan 12
Ketiga maqolah dalam Kitab Nashoihul Ibad ini mengandung pesan penting tentang pembentukan akhlak, pengendalian diri, kesadaran terhadap keterbatasan hidup, serta pentingnya memanfaatkan kesempatan sebelum semuanya berlalu.

1. Lima Nasihat Kehidupan untuk Membentuk Pribadi yang Mulia
(Maqolah 10 – Hasan Al-Bashri رحمه الله)
Hasan Al-Bashri menyampaikan lima nasihat yang disebutkan dalam Taurat, yaitu:

  1. Kekayaan terletak pada sifat qanaah. Orang yang merasa cukup dan menerima ketentuan Allah akan memiliki ketenangan hati, meskipun hartanya tidak berlimpah.
  2. Keselamatan lisan terletak pada kemampuan menjaga pergaulan. Mengurangi pergaulan yang tidak bermanfaat dapat membantu seseorang terhindar dari perkataan buruk, ghibah, fitnah, dan permusuhan.
  3. Kemuliaan terletak pada kemampuan meninggalkan hawa nafsu. Seseorang akan memiliki kehormatan apabila mampu mengendalikan keinginan yang bertentangan dengan ajaran agama.
  4. Kenikmatan sejati berada di akhirat. Kesenangan dunia bersifat sementara, sedangkan kenikmatan surga merupakan kebahagiaan yang abadi.
  5. Kesabaran di dunia menjadi jalan menuju kebahagiaan akhirat. Bersabar dalam menjalankan perintah Allah, menghadapi ujian, dan menjauhi larangan-Nya merupakan perjuangan yang harus dilakukan selama hidup.

Pesan akhlak: Jangan mengukur kekayaan dari banyaknya harta, tetapi dari lapangnya hati. Jangan mengejar kehormatan dengan kesenangan sesaat, tetapi bangunlah kemuliaan melalui pengendalian diri.

2. Lima Kesempatan yang Harus Dimanfaatkan Sebelum Terlambat
(Maqolah 11 – Hadis Rasulullah ﷺ)

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar manusia memanfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima keadaan:

  1. Masa muda sebelum masa tua: Gunakan tenaga dan semangat muda untuk belajar, beribadah, serta melakukan kebaikan.
  2. Sehat sebelum sakit: Manfaatkan kesehatan untuk beramal saleh sebelum penyakit membatasi aktivitas.
  3. Kaya sebelum miskin: Gunakan kelebihan harta untuk bersedekah dan membantu orang lain sebelum kehilangan kemampuan finansial.
  4. Hidup sebelum mati: Perbanyak amal kebaikan selama masih diberikan kesempatan hidup, karena kematian akan memutus kesempatan beramal.
  5. Waktu luang sebelum sibuk: Jangan menghabiskan waktu untuk perkara yang sia-sia. Gunakan kesempatan untuk beribadah, belajar, bekerja, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Pesan akhlak: Salah satu kesalahan manusia adalah menunda kebaikan karena merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal, masa muda, kesehatan, kekayaan, kehidupan, dan waktu luang tidak selamanya menjadi milik kita.

3. Mengendalikan Nafsu agar Hati Tidak Mengeras
(Maqolah 12 – Yahya bin Mu'adz Ar-Razi رحمه الله)

Maqolah ini menjelaskan hubungan antara kebiasaan berlebihan dalam makan, meningkatnya syahwat, dosa, dan kerasnya hati.

Rangkaian nasihatnya adalah:

  1. Terlalu sering kenyang dapat meningkatkan kecenderungan mengikuti hawa nafsu.
  2. Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang melakukan banyak dosa.
  3. Dosa yang terus dilakukan dapat menyebabkan hati menjadi keras.
  4. Hati yang keras sulit menerima nasihat dan peringatan.
  5. Hati yang keras akhirnya dapat menenggelamkan seseorang dalam kesengsaraan dan godaan perhiasan dunia.

Pesan akhlak: Islam mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam urusan makan dan memenuhi keinginan. Jangan sampai seseorang begitu mudah menuruti keinginan jasmani, tetapi mengabaikan kebutuhan rohaninya.

Ulasan: Tiga Hal Penting untuk Perbaikan Akhlak
Dari ketiga maqolah tersebut, terdapat tiga pelajaran besar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Mendidik Hati agar Tidak Diperbudak Dunia
Sifat qanaah mengajarkan kita untuk tidak selalu merasa kurang. Banyak orang memiliki harta berlimpah, tetapi hidupnya tidak tenang karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Sebaliknya, orang yang qanaah mampu menikmati rezeki dengan rasa syukur, tidak iri terhadap keberhasilan orang lain, dan tidak menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan.

Qanaah bukan berarti malas bekerja atau tidak boleh kaya, melainkan bekerja keras tanpa menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan.

2. Mendidik Diri agar Tidak Menunda Kebaikan
Pesan Ightanim Khamsan Qabla Khamsin mengajarkan bahwa kesempatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Sering kali manusia baru menyadari pentingnya kesehatan ketika sakit, pentingnya waktu ketika sudah sibuk, dan pentingnya masa muda ketika telah tua.

Karena itu, jangan menunggu menjadi orang baik setelah kaya, jangan menunggu rajin beribadah setelah tua, dan jangan menunggu memiliki waktu luang untuk berbuat kebaikan.

Kebaikan yang dapat dilakukan hari ini jangan ditunda sampai esok hari.

3. Mendidik Diri Mengendalikan Hawa Nafsu
Maqolah Yahya bin Mu'adz Ar-Razi memberikan peringatan bahwa kebiasaan menuruti keinginan secara berlebihan dapat berdampak pada kondisi hati dan perilaku.

Pengendalian diri bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, mengendalikan syahwat, menjaga pandangan, mengurangi kesenangan yang berlebihan, dan membiasakan diri menerima nasihat.

Orang yang berakhlak baik bukanlah orang yang selalu menuruti keinginannya, melainkan orang yang mampu mengendalikan keinginannya agar tidak melanggar batas agama.

Ketiga maqolah ini memberikan satu benang merah bahwa perbaikan akhlak harus dimulai dari kemampuan mengendalikan hati, hawa nafsu, dan waktu.

  • Qanaah mengajarkan kita agar tidak serakah.
  • Menjaga lisan mengajarkan kita agar tidak menyakiti orang lain.
  • Mengendalikan syahwat mengajarkan kita agar tidak diperbudak keinginan.
  • Menghargai waktu mengajarkan kita agar tidak menunda kebaikan.
  • Menjaga hati mengajarkan kita agar selalu terbuka terhadap nasihat.

Pada akhirnya, orang yang mulia bukanlah orang yang mampu mendapatkan semua yang diinginkan, melainkan orang yang mampu mengendalikan keinginannya demi mendapatkan rida Allah SWT.

Mari memperbaiki akhlak sebelum usia berakhir, mengendalikan hawa nafsu sebelum menjadi kebiasaan buruk, dan memperbanyak amal sebelum datang penyesalan. Semoga kita termasuk hamba yang bijaksana dalam menjalani kehidupan dan memperoleh husnul khatimah. آمِينَ.

Suasana khusuk kajian rutin kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani KUA Kalimanah edisi ke 46, Rabu (4/11/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 10

(وَ) الْمَقَالَةُ الْعَاشِرَةُ (عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: مَكْتُوبٌ فِي التَّوْرَاةِ خَمْسَةُ أَحْرُفٍ) أَيْ جُمَلٍ (إِنَّ الْغُنْيَةَ) أَيْ الْاِكْتِفَاءَ بِالنَّفَقَةِ (فِي الْقَنَاعَةِ) أَيْ الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ وَسُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ (وَإِنَّ السَّلَامَةَ) مِنْ آفَاتِ اللِّسَانِ (فِي الْعُزْلَةِ) أَيْ الْخُرُوجِ عَنْ مُخَالَطَةِ الْخَلْقِ بِالِانْقِطَاعِ (وَإِنَّ الْحُرْمَةَ) أَيْ الْعَظَمَةَ (فِي رَفْضِ الشَّهَوَاتِ) أَيْ فِي تَرْكِهَا (وَإِنَّ التَّمَتُّعَ) أَيْ كَمَالَ الِانْتِفَاعِ (فِي أَيَّامٍ طَوِيلَةٍ) أَيْ فِي الْآخِرَةِ فِي الْجَنَّةِ (وَإِنَّ الصَّبْرَ) عَلَى مَشَاقِّ أَدَاءِ الْأَوَامِرِ وَتَحَمُّلِ الْمَرَازِي وَعَنْ اجْتِنَابِ الْمَنَاهِي (فِي أَيَّامٍ قَلِيلَةٍ) أَيْ فِي الدُّنْيَا.

Maqolah yang ke sepuluh (Dari Hasan Al-Bashri Rahimahullah sesungguhnya ia berkata: ditulis di dalam kitab Taurat lima huruf) Maksudnya lima jumlah (Sesungguhnya kaya) Maksudnya cukup dengan nafakah (Itu dalam sifat qona'ah) Maksudnya ridho pada bagian dan tenangnya hati ketika tidak adanya perkara yang menjadi kebiasaannya (Dan sesungguhnya keselamatan) Dari kerusakan lisan (Itu dalam ujlah) Maksudnya keluar jauh dari berbaur dengan makhluk dengan menyendiri (Dan sesungguhnya kehormatan) Maksudnya keagungan (Itu dalam menolak syahwat) Maksudnya dalam meninggalkan syahwat (Dan sesungguhnya kenikmatan) Maksudnya sempurnanya menerima manfaat (Itu di hari-hari yang panjang) Maksudnya di akhirat di surga (Dan sesungguhnya sabar) di atas beratnya menunaikan perintah-perintah dan menanggung terhadap ujian-ujian dan dari menjauhi larangan-larangan (Itu di hari-hari yang sedikit) Maksudnya di dunia.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 11

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ:) أَيْ اِفْعَلْ خَمْسَةَ أَشْيَاءَ قَبْلَ حُصُولِ خَمْسِ حَالَاتٍ (شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ) بِفَتْحَتَيْنِ: أَيْ اِفْعَلِ الطَّاعَةَ حَالَ قُدْرَتِكَ قَبْلَ هُجُومِ الْكِبَرِ عَلَيْكَ.

Maqolah yang ke sebelas (Dari Nabi ﷺ: Manfaatkanlah olehmu lima perkara sebelum lima perkara:) Maksudnya kerjakanlah olehmu lima perkara sebelum sampai lima keadaan (Masa mudamu sebelum masa tuamu) Lafadz هَرَمِكَ dengan membaca fathah keduanya: Maksudnya kerjakanlah olehmu keta'atan dalam keadaan kamu mampu sebelum masa tua menyergap kepadamu

(وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ) أَيْ اِفْعَلِ الْعَمَلَ الصَّالِحَ حَالَ صِحَّتِكَ قَبْلَ حُصُولِ مَانِعٍ كَمَرَضٍ، وَيَجُوزُ قِرَاءَةُ سَقَمِكَ بِالْوَجْهَيْنِ بِفَتْحَتَيْنِ أَوْ بِضَمٍّ فَسُكُونٍ لِأَنَّ الرِّوَايَةَ لَمْ تُعْلَمْ وَالِاحْتِيَاطُ أَنْ يَقْرَأَ بِهِمَا عَلَى الْبَدَلِ لِيُصَادِفَ الرِّوَايَةَ.

(Dan sehatmu sebelum sakitmu) Maksudnya kerjakanlah amal sholih dalam keadaan sehatmu sebelum sampainya perkara yang menghalangi keta'atan seperti sakit. Dan boleh membaca lafadz سَقَمِكَ dengan dua cara dengan difathahkan keduanya سَقَمِكَ atau dengan cara mendhommahkan kemudian mensukunkan سُقْمِكَ karena sesungguhnya riwayat itu tidak diketahui dan lebih berhati-hati adalah dengan membaca pada keduanya dengan bergantian supaya bisa bertemu dengan riwayat.

(وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ) أَيْ اِفْعَلِ التَّصَدُّقَ بِمَا فَضَلَ عَنْ حَاجَةِ مَنْ تَلْزَمُكَ نَفَقَتُهُ قَبْلَ عُرُوضٍ جَائِحَةٍ تُتْلِفُ مَالَكَ فَتَصِيرُ فَقِيرًا فِي الدَّارَيْنِ.

(Dan kayamu sebelum fakirmu) Maksudnya kerjakanlah olehmu sedekah dengan perkara yang dapat memenuhi kebutuhan orang yang wajib atasmu menafkahinya sebelum baru terjadi musibah yang bisa menghancurkan hartamu sehingga engkau menjadi fakir di dunia dan di akhirat.

(وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ) أَيْ اِغْتَنِمْ مَا تَلْقَى نَفْعَهُ بَعْدَ مَوْتِكَ فَإِنَّ مَنْ مَاتَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ.

(Dan hidupmu sebelum matimu) Maksudnya manfaatkanlah olehmu perkara yang engkau akan menerima manfaatnya sesudah matimu karena sesungguhnya orang yang telah mati terputus amalnya.

(وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ) بِفَتْحِ الشِّينِ: أَيْ اغْتَنِمْ فَرَاغَك فِي هَذِهِ الدَّارِ قَبْلَ شُغْلِكَ بِأَهْوَالِ الْقِيَامَةِ الَّتِي أَوَّلُ مَنَازِلِهَا الْقَبْرُ، كَذَا نَقَلَهُ الْعَزِيزِيُّ عَنْ الْمُنَاوِيِّ.

(Dan waktu luangmu sebelum waktu sibukmu) Lafadz شَغْلِكَ dengan menfathahkan ش: Maksudnya manfaatkanlah olehmu waktu luangmu di dunia ini sebelum waktu sibukmu dengan menghadapi kengerian-kengerian kiamat yang awal tempatnya adalah alam qubur. Demikian telah menukil padanya Imam Azizi dari Imam Manawi.

فَهَذِهِ الْخَمْسَةُ لَا يُعْرَفُ قَدْرُهَا إلَّا بَعْدَ زَوَالِهَا. رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ، رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُو نُعَيْمٍ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ.

Lima perkara ini tidak diketahui nilainya kecuali sesudah hilangnya. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim dan Imam Baihaqi dari Ibnu Abbas dengan sanad yang Hasan, Telah meriwwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Abu Nu'aim dan Imam Baihaqi dari Amr bin Maimun.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 12 

(وَ) المَقالَةُ الثانِيَةَ عَشْرَةَ (عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعاذٍ الرازِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ: مَنْ كَثُرَ شِبَعُهُ كَثُرَ لَحْمُهُ)

Maqolah yang ke dua belas (Dari Yahya bin Mu'adz Ar-Razi Rahimahullah: Barang siapa yang sering kenyang maka pasti menjadi banyak dagingnya) 

بِخِلافِ مَنْ كَثُرَ أَكْلُهُ بِسَبَبِ حِدَّةِ الذِكْرِ فَلا يَضُرُّ لِأَنَّ بَعْضَ الأَوْلِياءِ طَرِيقَتُهُم كَثْرَةُ الأَكْلِ لِسُرْعَةِ اِنْهِضامِ الطَعامِ بِحَرارَةِ أَثَرِ الذِكْرِ فَإِنَّهُ كَالنارِ بِخِلافِ الصَلاةُ عَلَى النَبِيِّ ﷺ فَإِنَّ أَثَرَها بارِدٌ

Berbeda dengan orang yang makan banyak karena sebab tajamnya dzikir maka tidak mengapa karena sesungguhnya sebagian dari para wali toriqoh mereka adalah makan banyak karena cepatnya pencernaan makanan sebab panasnya efek dzikir karena sesungguhnya dzikir itu seperti api berbeda dengan membaca sholawat kepada nabi ﷺ karena sesungguhnya efek membaca sholawat itu dingin. 

 (وَمَنْ كَثُرَ لَحْمُهُ كَثُرَتْ شَهْوَتُهُ) فَالَّذِي يُطْفِئُ الشَهْوَةَ هُوَ الجُوعُ 

  (Dan orang yang banyak dagingnya maka pasti menjadi banyak syahwatnya) Karena yang dapat memadamkan syahwat yaitu lapar

(وَمَنْ كَثُرَتْ شَهْوَتُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ) وَهِيَ الَّتِي تَحْجُبُهُ عَنِ اللّٰهِ تَعالَى

(Dan orang yang banyak syahwatnya maka pasti akan banyak dosa-dosanya) banyaknya dosa adalah perkara yang dapat menghalanginya dari Allah

(وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ قَسَا قَلْبُهُ) فَلَمْ يَقْبَلِ المَواعِظَ

(Dan barang siapa yang banyak dosa-dosanya maka pasti menjadi keras hatinya) Sehingga tidak mau menerima nasihat-nasihat

(وَمَنْ قَسَا قَلْبُهُ غَرِقَ) بِكَسْرِ الرَّاءِ (فِي آفَاتِ الدُنْيَا وَزِيْنَتِهَا).

(Dan barangsiapa yang keras hatinya maka pasti akan tenggelam) Lafadz غَرِقَ dengan mengkasrohkan ر (Dalam kesengsaraan dunia dan perhiasannya).

Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto
 

#46 Menghargai Waktu Sebelum Terlambat, Ini Pesan Pentingnya

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kiri depan), pada  kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian r...