Purbalingga-Dalam Bab 5 Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani mengulas rangkaian nasihat yang berfokus pada mengenali penyakit hati dan meneladani kemuliaan rasulullah SAW .
Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-44 tersebut seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto dan dijelaskan oleh staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor di ruang kantor setempat, Rabu (21/10/2026).
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab
Ringkasan Kitab Nashoihul Ibad Bab 5: Tanda Takwa, Penyakit Hati, dan Kemuliaan Rasulullah ﷺ
1. Lima Tanda Orang Bertakwa (Maqolah 6 – dari Utsman r.a.)
Orang yang bertakwa memiliki lima ciri utama:
- Memilih teman yang saleh, yaitu orang yang membantu meningkatkan keimanan serta menjaga lisan dan kehormatan diri.
- Tidak terlena oleh dunia, karena kenikmatan dunia yang berlebihan dapat membawa akibat buruk bagi kehidupan akhirat.
- Menghargai amal agama sekecil apa pun, karena kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas merupakan keuntungan besar di sisi Allah SWT.
- Berhati-hati terhadap makanan dan harta, memastikan kehalalannya serta menghindari perkara yang haram.
- Tidak merasa paling baik, senantiasa mengoreksi diri dan khawatir terhadap dosa, tanpa merendahkan orang lain.
Inti pelajaran: Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan tercermin dalam pergaulan, pengendalian diri, cara mencari rezeki, dan sikap rendah hati.
2. Lima Sifat yang Menghalangi Kesalehan (Maqolah 7 – dari Ali r.a.)
Maqolah ini mengingatkan tentang sifat-sifat tercela yang dapat menghambat seseorang menjadi pribadi saleh, yaitu:
- Merasa cukup dengan kebodohan agama, sehingga tidak mau belajar dan memperbaiki diri.
- Terlalu mencintai dunia, hingga melupakan kehidupan akhirat.
- Kikir terhadap kelebihan harta, padahal sebagian rezeki dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama.
- Riya dalam beramal, yaitu melakukan kebaikan demi pujian manusia, bukan semata-mata karena Allah SWT.
- Membanggakan pendapat sendiri, merasa paling benar dan enggan menerima nasihat.
Inti pelajaran: Kesalehan membutuhkan ilmu, sikap zuhud yang seimbang, kemurahan hati, keikhlasan, dan kerendahan hati.
3. Lima Kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ (Maqolah 8 – dari jumhur ulama)
Menurut uraian dalam kitab tersebut, Allah SWT memberikan lima bentuk kemuliaan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu:
- Kemuliaan dalam panggilan: Nabi Muhammad ﷺ disebut dengan gelar Rasul dalam ayat yang dibahas.
- Kemuliaan fisik: Disebutkan sejumlah peristiwa yang menunjukkan pertolongan Allah kepada beliau.
- Kemuliaan pemberian: Allah memberikan karunia kepada beliau, di antaranya Al-Kautsar, sebagaimana QS. Al-Kautsar ayat 1.
- Kemuliaan dalam ampunan: QS. At-Taubah ayat 43 menyebutkan bahwa Allah telah memaafkan beliau.
- Kemuliaan berupa keridaan dan perhatian kepada umat: Uraian maqolah ini menyoroti kepedulian Nabi ﷺ terhadap umatnyaInti pelajaran: Umat Islam hendaknya semakin mencintai Rasulullah ﷺ, meneladani akhlaknya, dan mengikuti ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Ketiga maqolah dalam Nashoihul Ibad ini mengajarkan bahwa jalan menuju ketakwaan dimulai dari memperbaiki diri, menjauhi penyakit hati, dan meneladani Rasulullah ﷺ. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lalai belajar agama, enggan berbagi, beramal demi pujian, atau merasa lebih baik daripada orang lain.
Mari memperbanyak amal saleh dengan ikhlas, menjaga lisan, mencari rezeki yang halal, serta membiasakan diri melakukan introspeksi. Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi hamba yang bertakwa dan memperoleh husnul khatimah. آمِينَ.
![]() |
| Suasana kajian kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada kajian rutin Rabu Pagi edisi ke 44, Rabu (21/10/2026). (Foto: Pujianto) |
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 6
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: خَمْسٌ هُنَّ عَلَامَةُ الْمُتَّقِينَ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَنْ يَبْلُغَ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ الْبَأْسُ] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. (أَوَّلُهَا: أَنْ لَا يُجَالِسَ إِلَّا مَنْ يُصْلِحُ الدِّينَ مَعَهُ وَيَغْلِبُ الْفَرْجَ وَاللِّسَانَ) بِأَنْ يَمْنَعَهُمَا عَنْ فُضُولِ الْجِمَاعِ وَالْكَلَامِ. (وَ) ثَانِيهَا (إِذَا أَصَابَهُ شَيْءٌ عَظِيمٌ مِنَ الدُّنْيَا يَرَاهُ وَبَالًا) أَيْ شِدَّةً لِسُوءِ الْعَاقِبَةِ. (وَ) ثَالِثُهَا (إِذَا أَصَابَهُ شَيْءٌ قَلِيلٌ مِنَ الدِّينِ اِغْتَنَمَ ذَلِكَ) أَيْ اعْتَقَدَ أَنَّ ذَلِكَ رِبْحٌ عَظِيمٌ. (وَ) رَابِعُهَا (لَا يَمْلَأُ بَطْنَهُ مِنَ الْحَلَالِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يُخَالِطَهُ حَرَامٌ) كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ. (وَ) خَامِسُھَا (یَرَی النَّاسَ کُلَّهُمْ قَدْ نَجَوْا) أَيْ خَلَصُوا مِنَ الْهَلَاكِ لِحَسَنِ مُعَامَلَتِهِمْ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى (وَيَرَى نَفْسَهُ قَدْ هَلَكَتْ) أَيْ بِالذَّنْبِ لِسُوءِ مُعَامَلَتِهِ مَعَ اللَّهِ تَعَالَی.
Maqolah yang ke enam (Dari Utsman Radhiallahu Anhu: Lima perkara ini adalah tanda-tanda dari orang-orang yang bertakwa) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidak akan sampai seorang ada dari golongan orang-orang yang bertakwa sehingga ia meninggalkan perkara yang tidak ada larangan atasnya karena khawatir dari perkara yang padanya ada larangan] Telah meriwayatkan hadits ini Imam Tirmidzi dan Imam Hakim. (Yang pertama dari tanda-tanda orang yang bertakwa: Adalah ia tidak duduk kecuali dengan orang yang bisa memperbaiki agama bersamanya dan orang yang bisa mengendalikan kemaluan dan lisan) Dengan cara menahan kemaluan dan lisan dari berlebihan berjima dan berlebihan berbicara. Dan yang kedua dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah ketika menimpa kepadanya suatu perkara yang besar dari dunia maka ia memandang perkara besar itu sebagai musibah) Maksudnya sebagai ujian berat karena buruk akibatnya. Dan yang ketiga dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah ketika menimpa kepadanya suatu perkara yang sedikit dari agama, maka dia menganggap untung besar perkara itu) Maksudnya dia beritidak sesungguhnya perkara yang kecil dari agama itu adalah keuntungan yang besar. Dan yang keempat dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah dia tidak memenuhi perutnya dari perkara yang halal karena khawatir dari mencampurnya pada perkara itu perkara yang haram) sebagai mana dalam hadits yang sebelumnya. Dan yang kelima dari tanda-tanda orang yang bertakwa, (Adalah dia melihat manusia semuanya pasti selamat) Maksudnya mereka selamat dari kehancuran karena baiknya mu'amalah mereka dengan Allah Ta'ala, (Sementara dia memandang dirinya pasti celaka) Maksudnya dengan dosa karena buruknya mu'amalah dirinya dengan Allah Ta'ala.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 7
(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ) وَکرَّمَ وَجْهَهُ (لَوْلَا خَمْسُ خِصَالٍ) أَيْ صِفَاتٍ مَذْمُومَةٍ (لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِينَ) أَيْ خَالِصِينَ مِنْ كُلِّ فَسَادٍ (أَوَّلُهَا الْقَنَاعَةُ) أَيْ الرِّضَا (بِالْجَهْلِ) أَيْ بِعَدَمِ الْعِلْمِ بِالدِّينِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَللَّهُ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَةِ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ [ذَنْبُ الْعَالِمِ ذَنْبٌ وَاحِدٌ وَذَنْبٌ الْجَاهِلِ ذَنْبَانِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِىُّ (وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا) رُوِيَ أَنَّهُ لَا قَالَ: [الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ وَالرَّغْبَةُ فِيهَا تُتْعِبُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.
Maqolah yang ke tujuh (Dari Ali Radhiallahu Ta'ala Anhu) Wakarrama Wajhahu (Andai tidak ada lima perkara) Maksudnya sifat-sifat yang tercela (Maka pasti akan jadi manusia seluruhnya termasuk orang-orang sholeh) Maksudnya orang-orang yang selamat dari setiap kerusakan (Yang pertama dari sifat-sifat yang tercela adalah merasa cukup) Maksudnya ridho (Dengan kebodohan) Maksudnya dengan tidak adanya ilmu tentang agama. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Allah benci kepada setiap orang yang alim tentang dunia bodoh tentang akhirat] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Dosanya orang alim itu satu dosa dan dosa orang bodoh itu dua dosa] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami (Dan serakah atas dunia) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Zuhud di dalam dunia itu bisa menenangkan hati dan badan dan senang pada dunia itu melelahkan hati dan badan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [نِعْمَتِ الدَّارُ الدُّنْيَا لِمَنْ تَزَوَّدَ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ حَتَّى يُرْضِيَ رَبَّهُ، وَبِئْسَتِ الدَّارُ الدُّنْيَا لِمَنْ صَدَّتْهُ عَنْ آخِرَتِهِ وَقَصَّرَتْ بِهِ عَنْ رِضَا رَبِّهِ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Sebagus-bagusnya daerah dunia bagi orang yang menyediakan bekal dari dunia untuk akhiratnya, sehingga ia meraih keridhaan Rabbnya. Dan sejelek-jeleknya daerah dunia bagi orang yang menghalangi dunia itu kepadanya dari akhiratnya dan melalaikan dunia itu kepadanya dari keridhoan Rabbnya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim.
(وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ) أَيْ الْبُخْلُ بِمَا زَادَ عَنْ حَاجَتِهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ (وَالرِّيَاءُ فِي الْعَمَلِ) أَيْ تَرْكُ الْإِخْلَاصِ فِي الْعَمَلِ بِمُلَاحَظَةِ غَيْرِ اللَّهِ فِيهِ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ يُرِي النَّاسَ أَنَّ فِيهِ خَيْرًا وَلَا خَيْرَ فِيهِ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِي.
(Dan pelit dengan kelebihan harta) Maksudnya pelit dengan perkara yang melebihi dari kebutuhannya pada saat itu (Dan riya dalam beramal) Maksudnya meninggalkan ikhlas dalam beramal dengan memperhatikan selain Allah dalam beramal. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda [Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang menunjukkan kepada manusia bahwa di dalam dirinya terdapat kebaikan, padahal tidak ada kebaikan di dalam dirinya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَرَى النَّاسَ فَوْقَ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْخَشْيَةِ فَهُوَ مُنَافِقٌ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ الْجَنَّةَ عَلَى كُلِّ مُرَاءٍ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ، (وَالْإِعْجَابُ بِالرَّأْيِ) أَيْ الْاِسْتِحْسَانُ بِعَقْلِهِ وَتَدْبِيرِهِ وَالتَّرَفُّعِ بِذَلِكَ.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa memperlihatkan kepada manusia di atas amalan yang ada padanya karena takut maka dia adalah munafiq] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhori. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga kepada setiap orang yang riya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim (Dan sombong dengan akal) Maksudnya menganggap bagus pada akalnya dan urusan akal itu dan menganggap tinggi pada akalnya itu.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 5 Maqolah 8
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ) أَيْ أَكْثَرِهِمْ (رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَكْرَمَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا ﷺ بِخَمْسِ كَرَامَاتٍ: أَكْرَمَهُ بِالِاسْمِ وَالْجِسْمِ وَالْعَطَاءِ وَالْخَطَأِ وَالرِّضَا. أَمَّا الِاسْمُ فَنَادَاهُ بِالرِّسَالَةِ وَلَمْ يُنَادِهِ بِالِاسْمِ كَمَانَادَى جَمِيعَ الْأَنْبِيَاءِ) عَلَيْهِمُ السَّلَامُ (مِثْلَ آدَمَ وَنُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَغَيْرِهِمْ) قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: ﴿يَأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ﴾ [الْمَائِدَة: الْآيَة ٦٧] وَهَذَا فِي وَقْتِ إِنْزَالِ الْوَحْيِ. أَمَّا وَقْتُ الْمُكَافَحَةِ فَقَالَ تَعَالَى لِنَبِيِّنَا لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ: [يَا مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَهُ]. (وَأَمَّا الْجِسْمُ فَإِذَا دَعَا النَّبِيُّ ﷺ شَيْئًا فَأَجَابَ هُوَ بِنَفْسِهِ عَنْهُ وَلَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ لِسَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ) وَذَلِكَ أَنَّهُ ﷺ رَدَّ عَيْنَ قَتَادَةَ بَعْدَ أَنْ سَقَطَتْ إلَى خَدِّهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ (وَأَمَّا الْعَطَاءُ فَأَعْطَاهُ بِلَا سُؤَالٍ) قَالَ تَعَالَى: ﴿إنَّا أَعْطَيْنَكَ الْكَوْثَرَ﴾ [الْكَوْثَرُ: الْآيَةَ ١]، وَقَالَ: ﴿وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى﴾ [الضُّحَى: الْآيَةَ ٥]. (وَأَمَّا الْخَطَأُ فَذَكَرَ الْعَفْوَ قَبْلَ ذَنْبِهِ حَيْثُ قَالَ: ﴿عَفَا اللَّهُ عَنْكَ﴾ [الْقَوْبَةُ: الْآيَةَ ٤٣]) أَيْ مَا وَقَعَ مِنْكَ مِنْ تَرْكِ الْأَفْضَلِ وَالْأَوْلَى. (وَأَمَّا الرِّضَا فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ فِدْيَتَهُ وَلَا صَدَقَتَهُ وَلَا نَفَقَتَهُ كَمَا رَدَّهَا عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ) فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ ضَحَّى عَنْ أُمَّتِهِ وَكَفَّرَ عَنْ أُمَّتِهِ بِسَبَبِ الْجِمَاعِ فِي رَمَضَانَ.
Maqolah yang ke delapan (Dari jumhur ulama) Maksudnya dari kebanyakan para ulama (Semoga Allah merahmati mereka semuanya: Sesungguhnya Allah Ta'ala memuliakan kepada nabinya yaitu Muhammad ﷺ dengan lima kemuliaan: Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan nama dan dengan fisik dan dengan pemberian dan dengan salah dan dengan ridho. Adapun nama maka Allah memanggil Nabi Muhammad ﷺ dengan sebutan Rasul dan Allah tidak memanggil Nabi Muhammad ﷺ dengan nama sebagaimana Allah memanggil kepada semua nabi) Alaihimus Salam (Semisal Nabi Adam dan Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim dan selain mereka) Telah berfirman Allah Ta'ala di dalam kitab yang mulia: ﴾Wahai Rasul sampaikanlah perkara yang telah diturunkan kepadamu﴿ [Q.S Al-Maidah: Ayat 67] Dan ini pada waktu turunnya wahyu. Adapun waktu berhadapan maka berfirman Allah Ta'ala kepada Nabi kita pada malam ia mi'raj: [Wahai Muhammad mintalah maka pasti kamu akan diberi pada perkara yang engkau minta]. (Adapun fisik maka ketika berdoa Nabi ﷺ atas suatu perkara maka mengijabah yaitu Allah dengan dzatnya dari doa Nabi dan Allah tidak melakukan hal yang demikian kepada Nabi Nabi yang lain) Dan yang demikian sesungguhnya Nabi ﷺ itu membalikkan mata nya qotadah sesudah jatuhnya mata itu pada pipinya qotadah dan semisal perkara itu. (Adapun pemberian maka Allah memberi kepada Nabi Muhammad tanpa dipinta) Telah berfirman Allah Ta'ala: ﴾Sesungguhnya kami memberikan kepadamu telaga Kautsar﴿ [Q.S Al-Kautsar: Ayat 1] dan Allah berfirman: ﴾Dan benar benar akan memberikan kepadamu tuhanmu hingga kamu puas﴿ [Q.S Ad-Dhuha: Ayat 5] (Adapun kesalahan maka Allah menyebut maafnya sebelum Allah menyebut kesalahannya Nabi sekiranya Allah berfirman ﴾Allah telah memaafkanmu﴿ [Q.S At-Taubah: Ayat 43]) Maksudnya atas perkara yang terjadi padamu dari meninggalkan perbuatan yang lebih afdhol dan perbuatan yang lebih utama. (Adapun ridho maka Allah tidak pernah menolak atas Nabi fidyahnya dan tidak perna menolak shodaqohnya dan tidak pernah menolak nafakahnya sebagaimana Allah telah menolak itu semua atas Nabi-Nabi Yang lain) Karena sesungguhnya Nabi ﷺ menyembelih kurban kambing mewakili umatnya dan Nabi membayar kafarat mewakili umatnya karena sebab melakukan jimak di bulan Ramadhan.
Sumber: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto



Barokallah, semoga bermanfaat, aamiin
BalasHapusSemoga kita bisa mengamalkan.. Aamiin...
BalasHapus#qwiskomentarlohpak