Kamis, 18 Juni 2026

#34 Ciri orang celaka dan bahagia di akhirat , serta panji dari keimanan

 

PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 34, Rabu (17/6/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-34 seperti biasa dilaksanakan pada Rabu pagi di Kantor KUA Kalimanah. Sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan  Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan  dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (17/6/2026).

Dari kajian tersebut dapat disampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul 'Ibad Bab 4 (Maqolah 15-16). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 15 sampai 16, menekankan pada karakter manusia yang celaka dan bahagia serta panji-panji keimanan.

Pertama, Maqolah 15 Dari Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa 4 tanda dari orang yang celaka yaitu: melupakan dosa dan kesalahan yang telah dilakukan padahal semuanya tercatat oleh Allah SWT, selalu mengingat kebaikan yang telah dilakukan padahal belum tentu kebaikan tersebut diterima di sisiNYA, dalam urusan dunia memandang orang lain  yeng lebih tinggi , dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih rendah. Sedangkan 4 tanda orang yang bahagia yaitu: selalu mengingat dan menyesali terhadap dosa yang telah dilakukan walaupun telah berlalu, tidak mengungkit kebaikan yang telah dilakukan karena tidak akan terlepas dari penyakit atau hal yang merusak, dalam urusan dunia memandang orang lain  yeng lebih rendah, dalam urusan agama memandang orang lain yang lebih tinggi.  

Bagi orang yang menginginkan kebahagiaan kelak di akhirat hendaknya selalu mengingat kesalahan yang telah dilakukan dan memohon ampun atas kesalahan itu, dan terus menjaga hati untuk mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan karena sadar bahwa kebaikan yang telah dilakukan belum tentu diterima oleh Allah SWT. Selain itu hendaknya dalam urusan dunia ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih rendah sehingga akan timbul rasa syukur. Sebaliknya,  dalam urusan agama ketika akan membandingkan dengan orang lain maka akan memandang pada orang yang lebih tinggi sehingga akan terhindar dari sifat riya dan akan timbul keinginan untuk mengikutinya. 

Kedua, Maqolah 16 Dari sebagian Hukama menyatakan bahwa panji-panji keimanan yaitu: taqwa, rasa malu, syukur,  dan sabar

Orang yang beriman akan selalu taqwa yang diartikan taat dan ikhlas dalam menjalankan perintahNYA, memiliki rasa malu kepada Allah jika akan berbuat maksiat, bersyukur, dan sabar serta tidak mengeluh kepada selain Allah saat ditimpa musibah.

Kesimpulan kajian, Kedua maqolah tersebut memiliki kaitan dalam bagi seorang muslim agar dapat menjaga keimanan dengan taqwa, rasa malu kepada Allah, syukur dan sabar, serta menjaga diri agar berbahagia kelak diakhirat dengan selalu mengingat kesalahan di masa lampau dan bertaubat, mengabaikan kebaikan yang telah dilakukan, mengikuti orang yang lebih tinggi dalam urusan agama, bersyukur terhadap apa yang telah didapat dengan melihat orang lain yang lebih rendah dalam urusan dunia.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 15

وعن النبى عليه السلام أنه قال: عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ أَرْبعََةٌ نِسْيَانُ الذُّنوُْبِ الْمَاضِيَةِ وهى عِنْدَ اللهِ

تَعَالَى مَحْفُوْظَةٌ وَذِكْرُ الحَْسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يَدْرِى أَ قْبِلَتْ أَمْ رُدَّتْ، وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ فَوْقَهُ فِىْ

الدُّنْيَا وَنَظَرُهُ إِلَى مَ نْ دُوْنَهُ فِى الدِّيْنِ يقَُوْلُ اللهُ أَرَدْتُهُ وَلمَْ يُرِدْنِى فَتَرَكْتُهُ وَعَلَامَةُ السَّعَادَةِ أَرْبعََةٌ

ذِكْرُالذُّنوُْبِ الْمَاضِيَةِ وَنِسْيَانُ الحَْسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ دُ وْنَهُ فِى الدُّنْيَا.

“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw., tanda-tanda terjadinya kecelakaan itu ada empat, yaitu: Melupakan dosa-dosa yang telah berlalu, padahal semuanya itu tercatat di sisi Allah. Bernostalgia (bersenang-senang) dengan kebajikan-kebajikan yang telah berlalu, padahal ia tidak mengetahui, apakah kebajikannya itu diterima atau tidak (oleh Allah SWT.). Memandang orang lebih tinggi dalam urusan dunia dan memandang orang lebih rendah dalam masalah agama. Dalam hal ini Allah berfirman, “Aku hendak menolongnya, tapi ia tidak berkeinginan kepada-Ku lalu aku urungkan.” Sedang tanda-tanda terjadinya kebahagiaan itu juga ada empat, yaitu: Merenungi dosa-dosa yang telah berlalu, melupakan kebajikan-kebajikan yang telah dilakukan, memandang orang lebih tinggi kualitas agamanya, dan memandang orang yang lebih rendah dalam urusan dunianya.”

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 16

وعن بعض الحكماء أن شعائر الايمان أربعة التقوى والحياء والشكر والصبر

“Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian hukama, sesungguhnya panji-panji

keimanan itu ada empat, yaitu: taqwa (kepada Allah SWT.), rasa malu, syukur dan

sabar.”

ذِرْ وِةُ الْإِيْمَانِ أرْبَعُ خِلَالٍ: الصَّبْرُ لِلْحُكْمِ وَالرِّضَا بِالْقَدَرِ وَالْإِخْلَاصُ لِلتَّوَكُّلِ وَالْاِسْتِسْلَامُ لِلرَّبِّ

“Puncak iman itu ada empat perkara, yaitu: sabar dalam menerima keputusan

Allah, ridha menerima takdir, ikhlas bertawakkal dan menyerahkan diri sepenuhnya

kepada Allah SWT. (semata).”


© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Pewarta: Zamroni Irham

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#34 Ciri orang celaka dan bahagia di akhirat , serta panji dari keimanan

  PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan dan menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah seti...