Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad
edisi ke-32 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali
dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan
dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu
(13/5/2026).
Dari kajian tersebut
dapat disampaikan rangkuman isi kandungan kitab Nashoihul Ibad Bab 4
(Maqolah 11).
Baca: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab
Dalam kajian Bab 4 Maqolah 11, tersirat
hikmah, keutamaan, dan anjuran untuk berdiam diri. Tentunya berdiam diri yang
dimaksud bukan diam tanpa berkata atau melakukan aktifitas apapun, melainkan berdiam
diri pada kondisi-kondisi tertentu. Hal tersebut didasarkan pada Hadits .Nabi
Muhammad SAW. yang menyatakan bahwa Shalat
itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri itu adalah lebih utama, sedekah
itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa
itu merupakan bentengnya neraka, sedang berdiam diri itu justru lebih utama.
Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya agama, tetapi berdiam diri itu
lebih utama.
Kesimpulan kajian,
dari maqolah ini dapat disarikan bahwa: berdiam diri dari perkataan dan
perbuatan yang sia-sia merupakan sebuah keutamaan yang seharusnya dapat diraih
oleh seluruh Muslim, karena dengan berdiam diri dari hal yang sia-sia akan membawa
seseorang menjadi lebih produktif dan positif. Selain itu dengan berdiam
diri dari hal yang sia-sia juga akan menghindarkan dan menyelamatkan seseorang
dari terpeleset pada keburukan, kemaksiatan, dan dosa.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 8
وعن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قال:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ
وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّمْتُ
أَفْضَلُ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالجْهَادُ
سَنَامُ
الدِّيْنِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ
“Sebagaimana
sabda Nabi Muhammad Saw.: Shalat itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri
itu adalah lebih utama, sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi
berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu merupakan bentengnya neraka, sedang
berdiam diri itu justru lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya
agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama.”
الصَّمْتُ
أَرْفَعُ الْعِنَادَة .
“Diam
adalah ibadah tingkat yang paling tinggi.”
الصَّمْتُ
زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ .
“Diam
itu adalah hiasan bagi orang yang alim dan penutup bagi orang yang bodoh.”
الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ .
“Diam adalah pimpinan akhlak.”
الصَّمْ تُ حِكَمٌ وَقَلِيْلٌ فَاعِلُه .
“Diam adalah hikmah, tapi sedikit
sekali orang yang melakukannya.”
أَفْضَلُ الجِْهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ
نفَْسَكَ وَهُوَاكَ فِى ذَاتِ اللهِ
“Jihad
yang paling utama adalah memerangi hawa nafsumu, dalam Dzat Allah (semata-mata
karena Allah).”
© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Source: https://www.alkhoirot.org/2023/01/empat-nasihat-nabi-kepada-abu-dzar-al.html#12
Pewarta: Zamroni Irham
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar