Kamis, 14 Mei 2026

#32 Berdiam diri dari hal yang sia-sia untuk menjadi manusia yang lebih produktif dan positif dalam Hikmah Maqolah 11


KUA Kalimanah, Amin Muakhor  saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada Rabu Pagi edisi ke 32, Rabu (13/5/2026). (Foto: Azizah Dwi Purba)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-32 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Acara diawali dengan pembacaan teks Kitab oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (13/5/2026).

Dari kajian tersebut dapat disampaikan rangkuman isi kandungan kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 11). 

Baca: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 11, tersirat hikmah, keutamaan, dan anjuran untuk berdiam diri. Tentunya berdiam diri yang dimaksud bukan diam tanpa berkata atau melakukan aktifitas apapun, melainkan berdiam diri pada kondisi-kondisi tertentu. Hal tersebut didasarkan pada Hadits .Nabi Muhammad SAW. yang menyatakan bahwa Shalat itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri itu adalah lebih utama, sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu merupakan bentengnya neraka, sedang berdiam diri itu justru lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama.

Kesimpulan kajian, dari maqolah ini dapat disarikan bahwa: berdiam diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia merupakan sebuah keutamaan yang seharusnya dapat diraih oleh seluruh Muslim, karena dengan berdiam diri dari hal yang sia-sia akan membawa seseorang menjadi lebih produktif dan positif. Selain itu dengan berdiam diri dari hal yang sia-sia juga akan menghindarkan dan menyelamatkan seseorang dari terpeleset pada keburukan, kemaksiatan, dan dosa.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 8

وعن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قال: الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالجْهَادُ سَنَامُ

الدِّيْنِ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ

“Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: Shalat itu adalah tiangnya agama, tapi berdiam diri itu adalah lebih utama, sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu merupakan bentengnya neraka, sedang berdiam diri itu justru lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu adalah puncaknya agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama.”

 

الصَّمْتُ أَرْفَعُ الْعِنَادَة .

“Diam adalah ibadah tingkat yang paling tinggi.”

 

الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ .

“Diam itu adalah hiasan bagi orang yang alim dan penutup bagi orang yang bodoh.”

الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ .

“Diam adalah pimpinan akhlak.”

الصَّمْ تُ حِكَمٌ وَقَلِيْلٌ فَاعِلُه .

“Diam adalah hikmah, tapi sedikit sekali orang yang melakukannya.”

أَفْضَلُ الجِْهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نفَْسَكَ وَهُوَاكَ فِى ذَاتِ اللهِ

“Jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsumu, dalam Dzat Allah (semata-mata karena Allah).”

© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4

Source: https://www.alkhoirot.org/2023/01/empat-nasihat-nabi-kepada-abu-dzar-al.html#12

Pewarta: Zamroni Irham

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#32 Berdiam diri dari hal yang sia-sia untuk menjadi manusia yang lebih produktif dan positif dalam Hikmah Maqolah 11

KUA Kalimanah, Amin Muakhor  saat membacakan dan menjelskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah pada R...