Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-33 kembali dilaksanakan pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. sebagaimana biasa, acara diawali dengan pembacaan teks atau matan Kitab Nashoihul ‘Ibad oleh staf KUA KAlimanah Amin Muakhor, dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (206/5/2026).
Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 12-14).
Dalam kajian Bab 4 Maqolah 12 sampai 14, tersurat penekanan pada menjaga diri dengan sikap diam, menjaga hati, serta pembuktian dari suatu pengakuan.
Pertama, Maqolah 12 Dari sebuah pernyataan menguraikan bahwa meninggalkan perkara yang batil semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahala orang yang berpuasa. Selain itu orang yang mampu untuk menahan diri agar setiap anggota tubuhnya tidak melakukan hal yang diharamkan semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala setara dengan pahalanya orang yang Shalat. sedangkan ornag yang memutuskan ketamakan terhadap orang lain (makhluk) semata-mata karena Alloh akan diberikan pahala sama dengan pahala shadaqah, dan orang yang tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh muslim lain semata-mata karena Alloh akan diberikan pahalanya orang yang jihad.
Semua hal tersebut diatas harus dilandasi semata-mata karena Allah sehingga nantinya akan mendapatkan kebaikan sebagaimana yang sudah tertulis diatas.
Kedua, Maqolah 13 Menyoroti bebarapa aspek batin penyebab hati seseorang menjadi gelap yang meliputi perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang yang dzalim, melupakan dosa-dosa yang telah berlalu dan lamunan yang berlebihan. sedangkan empat perkara lain yang dapat menyebabkan hati menjadi bercahaya, yaitu: perut yang lapar karena berhati-hati, berteman dengan orang shaleh, selalu mengingat dan menyesali dosa-dosa yang telah berlalu dan tidak terlalu memanjangkan lamunan.
Dari empat perkara yang saling berlawanan diatas tiga hal dilakukan secara personal: menahan nafsu perut agar selalu memakan yang halal dengan takaran yang tepat serta tidak berlebihan, selalu mengingat dan menyesali dosa yang telah berlalu sehingga bisa menjadi kendali diri untuk tidak terperosok pada dosa yang sama dimasa mendatang, dan tidak memanjangkan lamunan terlebih pada impian yang mustahil untuk digapai. Sedangkan satu hal berhubungan dengan orang lain yaitu berteman dengan orang shaleh, yang akan berdampak pada kebaikan orang tersebut.
Ketiga, Maqolah 14 Dari Hatim Al-A'sham ra. bahwa empat pengakuan tanpa diikuti dengan pembuktian merupakan pengakuan yang bohong: mengaku cinta kepada Allah, tapi tidak mau meninggalkan segala larangan-Nya, mengaku cinta kepada Nabi tetapi ia tidak suka kepada orang fakir miskin, mengaku menginginkan surga tetapi tidak mau bersedekah, serta mengaku takut kepada neraka tetapi tidak mau meninggalkan perbuatan dosa, maka semua pengakuan itu adalah dusta belaka.
sebuah pengakuan tanpa pembuktian hanyalah kebohongan semata, oleh sebab itu setiap muslim hendaknya dapat membuktikan pengakuan mereka agar tidak menjadi sebuah kebohongan.
Kesimpulan kajian, Ketiga maqolah tersebut saling berkaitan dalam mencetak karakter muslim dan mukmin sejati: menahan diri dari perkara yang batil dan diharamkan serta tidak menyakiti orang lain, menjaga hati dengan menjaga perut, selalu ingat dosa, tidak terlalu dalam berkhayal dan bergaul dengan orang yang shaleh. Selain itu selalu menjaga diri agar meninggalkan segala laranganNYA, berempati dan menolong fakir miskin, mengupayakan untuk selalu bersedekah, dan berupaya sekuat tenaga untuk meninggalkan perbuatan dosa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar