Rabu, 29 April 2026

#30 Istiqamah dalam Ibadah dan Mengendalikan Nafsu: Kunci Keselamatan Menuju Akhirat (Hikmah Maqolah 6–7

 Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kanan) dan PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 30, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-30 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh staf KUA KAlimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh PAI KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (29/4/2026).

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 4 (Maqolah 6-7). 

Dalam kajian Bab 4 Maqolah 6 sampai 7, terdapat penekanan kuat pada pengendalian diri, orientasi akhirat, serta kesempurnaan amal lahir dan batin.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab 

Pertama, Maqolah 6 memberikan fondasi penting bahwa ibadah dalam Islam tidak selalu dituntut berat, tetapi yang utama adalah konsistensi dan kesinambungan. Abdullah bin Mubarak menjelaskan amalan-amalan rutin seperti shalat sunnah rawatib 12 rakaat, puasa tiga hari setiap bulan, membaca Al-Qur’an secara istiqamah, dan bersedekah secara berkala. Dari sini dapat dipahami bahwa: Ibadah tidak harus banyak dan berat, tetapi dilakukan secara rutin. 

Amalan sunnah berfungsi sebagai penyempurna ibadah wajib.
Amalan yang tampak sedikit, jika istiqamah, justru bernilai besar di sisi Allah, bahkan menjadi sebab dibangunkannya rumah di surga.

Ini menunjukkan bahwa kualitas ibadah terletak pada kesinambungan, bukan sekadar kuantitas

Kedua, pada Maqolah 7, dijelaskan oleh Umar bin Khattab bahwa kehidupan manusia diibaratkan dengan empat “lautan besar” yang harus diwaspadai. Hawa nafsu menjadi sumber utama dosa, sementara jiwa (nafsu amarah) adalah pusat syahwat dan akar akhlak tercela. 

Kematian disebut sebagai “lautan umur” karena menjadi penghimpun seluruh perjalanan hidup dan amal manusia. Adapun kubur digambarkan sebagai “lautan penyesalan”, tempat manusia menyadari akibat perbuatannya. Kajian ini menegaskan pentingnya muhasabah dan pengendalian diri sebelum datangnya kematian.

Kesimpulan Maqolah 6 dan 7 

Dari Maqolah 6 dan 7 dapat disimpulkan bahwa jalan menuju keselamatan akhirat dibangun dari dua pilar utama: istiqamah dalam ibadah dan pengendalian hawa nafsu.

Maqolah 6 menegaskan bahwa ibadah tidak harus berat atau banyak, tetapi yang terpenting adalah konsistensi. Amalan-amalan rutin seperti shalat sunnah, puasa berkala, membaca Al-Qur’an, dan sedekah menjadi penyempurna ibadah wajib. Nilai utama terletak pada kesinambungan (istiqamah), karena amalan yang sedikit namun terus-menerus justru bernilai besar di sisi Allah.

Maqolah 7 mengingatkan bahwa tantangan terbesar manusia adalah hawa nafsu dan kecenderungan jiwa kepada syahwat. Hawa nafsu menjadi sumber dosa, sementara kematian dan alam kubur akan menjadi tempat pertanggungjawaban yang penuh penyesalan bagi yang lalai. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran diri dan pengendalian nafsu sejak di dunia.

Intinya, istiqamah dalam amal (Maqolah 6) harus berjalan beriringan dengan pengendalian diri (Maqolah 7). Amal yang konsisten tanpa menjaga nafsu bisa rusak, sementara menahan nafsu tanpa amal tidak akan cukup sebagai bekal. Keduanya menjadi kunci utama dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.

 Staf KUA Kalimanah dan PAI KUA Kalimanah, saat kajian rutin kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 30, Rabu (22/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 6

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) حَفِيدِ الْقَاضِي نُوحٍ الْمِرْوَزِيِّ (مَنْ صَلَّى كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً) وَهِيَ رَكْعَتَانِ قَبْلَ صُبْحٍ وَرَكْعَتَانِ قَبْلَ ظُهْرٍ وَرَكْعَتَانِ بَعْدَهَا وَأَرْبَعُ رَکعَاتٍ قَبْلَ عَصْرٍ وَرَکعَتَانِ بَعْدَ مَغْرِبٍ (فَقَدْ أَدَّی حَقَّ الصَّلَاةِ) لِقَوْلِهِ ﷺ: [رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا] وَكَانَ ﷺ يُصَلِّي قَبْلَهَا أَرْبَعًا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيْمِ، وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْعَصْرِ حَرَّمَ اللَّهُ بَدَنَهُ عَلَى النَّارِ].

Maqolah yang ke enam (Dari Abdullah bin Mubarok) Cucu seorang Qodhi Nuh Al-Mirwazi (Barang siapa melaksanakan sholat setiap hari dua belas rokaat) Yaitu dua roka'at sebelum sholat Subuh dan dua rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan empat rokaat sebelum sholat Ashar dan dua rokaat sesudah sholat Magrib (Maka sungguh ia telah menunaikan haknya sholat) Karena sabda Nabi ﷺ: [Semoga Allah merahmati kepada orang yang melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat] Dan ada Nabi ﷺ melaksanakan sholat sebelum sholat Ashar empat rokaat yang ia pisah antara empat rokaat dengan salam. Dan riwayat milik Imam Thabrani: [Barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sebelum sholat Ashar maka Allah mengharamkan pada badannya masuk neraka].

وَنَقَلَ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيدِيُّ مِنَ الدِّمْيَاطِيِّ فِي الْمَتْجَرِ الرَّابِحِ مِنْ خَبَرِ مُسْلِمٍ: [مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي لِلَّهِ تَعَالَى فِي كُلِّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ] زَادَ التِّرْمِذِيُّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ.

Dan telah menukil Syaikh Kholil Ar-Rasyidi dari Syaikh Dimyati di dalam kitab Matjari Robih dari hadits riwayat Imam Muslim [Tidaklah seorang hamba sholat karena Allah Ta'ala di setiap hari dua belas rokaat dengan suka rela selain sholat fardhu kecuali pasti Allah akan membangun untuknya rumah di surga] Telah menambah Imam Tirmidzi empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan dua rokaat sesudahnya dan dua rokaat sesudah sholat Magrib dan empat rokaat sesudah sholat Isya dan dua rokaat sebelum sholat Subuh.

وَلِلطَّبَرَانِيِّ: [مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ بِهِنَّ مِنْ لَيْلَتِهِ، وَمَنْ صَلَّاهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ].

Dan riwayat milik Imam Thobroni: [Barang siapa sholat sebelum sohlat Dzuhur empat rokaat maka seakan akan ia sholat Tahajjud dengan empat rokaat itu di waktu malamnya, dan barang siapa melaksanakan sholat empat rokaat sesudah sholat Isya Maka seperti seumpama shola empat rokaat di malam lailatul Qodar].

وَمِنْ ثَمَّ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: لَيْسَ شَيْءٌ يَعْدِلُ صَلَاةَ اللَّيْلِ مِنْ صَلَاةِ النَّهَارِ إِلَّا أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَفَضْلُهُنَّ عَلَى صَلَاةِ النَّهَارِ كَفَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْوَاحِدِ. وَكَانَ ﷺ يُصَلِّيهِنَّ وَيُطِيلُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَيَقُولُ: [إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ].

Dan dari sanalah berkata Ibnu Mas'ud: Tidak ada sesuatu yang bisa menandingi sholat malam dari sholat siang kecuali empat rokaat sebelum sholat Dzuhur. Keutamaan empat rokaat sebelum sholat Dzuhur di atas sholat siang itu seperti keutamaan sholat berjamaah di atas sholat sendirian. Dan ada Nabi ﷺ Sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur dan ia memanjangkan di dalam sholat empat rokaat sebelum sholat Dzuhur itu rukuk dan sujud dan ia bersabda: [Sesungguhnya waktu sholat qobliah Dzuhur adalah waktu dibuka di dalamnya pintu-pintu langit maka aku suka supaya naik untuk ku pada waktu itu amal yang sholeh].

(وَمَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ) وَهِيَ الْأَيَّامُ الْبِيضُ وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَتَالِيَاهُ إِلَّا فِي الْحِجَّةِ يَصُومُ السَّادِسَ عَشَرَ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ بَدَلَ الثَّالِثَ عَشَرَ وَحِكْمَةُ كَوْنِهَا ثَلَاثَةً أَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَصَوْمُهَا كَصَوْمِ الشَّهْرِ كُلِّهِ وَلِذَلِكَ يَحْصُلُ أَصْلُ السُّنَّةِ بِصَوْمِ ثَلَاثَةٍ مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ، كَذَا فِي التُّحْفَةِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصِّيَامِ، وَمَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ آيَةٍ فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الْقِرَاءَةِ) وَقِرَاءَةُ الْمُنْجِّيَاتِ السَّبْعَةِ أَوْلَى وَهِيَ: آلم تَنْزِيل، وَيس، وَفُصِّلَتْ، وَالدُّخَانُ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْحَشْرُ، وَالْمُلْكُ، وَأَنْ يَقْرَأَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى أَوَائِلَ الْحَدِيدِ وَخَوَاتِمَ الْحَشْرِ وَالْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ثَلَاثًاً ثَلَاثًاً (وَمَنْ تَصَدَّقَ فِي جُمْعَةٍ بِدِرْهَمٍ) أَوْ بِمَا يُسَاوِيهِ (فَقَدْ أَدَّى حَقَّ الصَّدَقَةِ).

(Dan barang siapa yang berpuasa dari setiap bulan tiga hari) Yaitu hari hari yang terang yaitu tanggal tiga belas dan dua hari yang mengiringinya kecuali pada bulan Dzul Hijjah maka berpuasa di tanggal enam belas atau satu hari sesudah tanggal enam belas sebagai ganti tanggal tiga belas. Hikmah adanya puasa tiga hari adalah sesungguhnya satu kebaikan itu diganti sepuluh kali lipat yang serupa dengannya maka berpuasa tiga hari itu seperti puasa satu bulan seluruhnya dan karena itu hasil asal sunnah dengan puasa tiga hari dari hari-hari manapun dari satu bulan. Demikian dalam kitab Tuhfah (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya puasa, Dan barang siapa membaca setiap hari seratus ayat maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya bacaan quran) Membaca surat Al-Munjiat yang tujuh itu lebih utama yaitu: Surat As-Sajdah, dan surat yasin dan surat fusilat dan surat Ad-Dukhon dan surat Al-Waqi'ah dan surat Al-Hasyr dan Surat Al-Mulk. Dan membaca ketika waktu subuh dan ketika waktu sore awal-awal surat Al-Hadid dan akhir surat Al-Hasr dan surat Al-Ikhlas dan Surat Al-Falaq dan surat An-Nas tiga kali tiga kali (Dan barang siapa bersedekah dengan satu dirham) Atau dengan perkara yang setara dengan satu dirham (Maka sungguh ia telah menunaikan pada haknya sedekah).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4 Maqolah 7

(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ (قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الْبُحُورُ) أَيْ الْمُتَّسِعَةُ الْجَامِعَةُ (أَرْبَعَةٌ) مِنَ الْأَنْوَاعِ (الْهَوَى بَحْرُ الذُّنُوبِ) أَيْ مَيْلَانُ النَّفْسِ إِلَى شَهَوَاتِهَا مِنْ غَيْرِ طَلَبِ الشَّرْعِ جَامِعٌ لِلذُّنُوبِ (وَالنَّفْسُ بَحْرُ الشَّهَوَاتِ) أَيْ النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ وَهِيَ الَّتِي تَمِيلُ إلَى الطَّبِيعَةِ الْبَدَنِيَّةِ وَتَأْمُرُ بِاللَّذَّاتِ جَامِعَةٌ لِحَرَكَاتِ النَّفْسِ فَهِيَ مَأْوَى الشُّرُورِ وَمَنْبَعُ الْأَخْلَاقِ الذَّمِيمَةِ (وَالْمَوْتُ بَحْرُ الْأَعْمَارِ) بِالرَّاءِ أَيْ الْمَوْتِ جَامِعٌ لِلْأَعْمَارِ وَفِي نُسْخَةٍ بَحْرُ الْأَعْمَالِ بِاللَّامِ فَهِيَ كَقَوْلِ بَعْضِهِمْ الْمَوْتُ صُنْدُوقُ الْعَمَلِ (وَالْقَبْرُ بَحْرُ النَّدَمَاتِ) أَيْ الْبَرْزَخُ الْفَاصِلُ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ جَامِعٌ لِأَنْوَاعِ الْغُمُومِ الَّتِي يَتَمَنَّى صَاحِبُهَا أَنَّهَا لَا تَقَعُ.

Maqolah yang ke tujuh (Telah berkata Umar Radhiallahu Anhu: Lautan-lautan) Maksudnya yang luas dan mengumpulkan (Itu ada empat) Macam (Hawa nafsu adalah lautan dosa-dosa) Maksudnya condongnya diri pada keinginan-keinginan nafsu pada selain perintah syara itu adalah mengumpulkan dosa-dosa (Dan nafsu adalah lautan syahwat) Maksdnya nafsu amarah yaitu adalah nafsu yang condong kepada tabiat badaniah dan memerintah pada kenikmatan itu yang mengumpulkan pada gerakan gerakan nafsu dan gerakan nafsu adalah tempat kembalinya berbagai keburukan dan sumber akhlak-akhlak yang tercela (Dan mati adalah lautan umur) Dengan ro maksudnya mati adalah yang mengumpulkan berbagai umur dan dalam sebuah naskh lautan berbagai amal perbuatan dengan mambaca lam yaitu seperti perkataan sebagian ulama mati adalah petinya amal (Dan kubur adalah lautan berbagai penyesalan) Maksudnya alam Barzahk yang memisahkan antara dunia dan akhirat itu yang mengumpulkan berbagai warna kesusahan yang mana berharap orang yang memilikinya sesungguhnya kesusahan itu tidak terjadi. 
 
© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 4
Editor: Imam Edi Siswanto 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#30 Istiqamah dalam Ibadah dan Mengendalikan Nafsu: Kunci Keselamatan Menuju Akhirat (Hikmah Maqolah 6–7

  Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kanan) dan PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat membacakan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-...