Selasa, 07 April 2026

Pujianto: Menikah dengan yang Siap Menerima Apa Adanya

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kanan) dan Moh Agus Zaenal Abidin (Kiri) foto bersama di halaman kantor KUA Kalimanah usai menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan bertema Keluarga Sakinah kepada siswa kelas XI MAN Purbalingga, Selasa (7/4/2026). (Foto: Dok. KUA Kalimanah)

Purbalingga-Pernikahan tidak cukup hanya berlandaskan rasa cinta, tetapi harus dibangun di atas kesiapan menerima pasangan apa adanya. Pesan tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Pujianto, saat memberikan materi Bimbingan Perkawinan bertema Keluarga Sakinah kepada siswa kelas XI MAN Purbalingga, Selasa (7/4/2026).

Dalam penyampaiannya, Pujianto menegaskan bahwa banyak orang memandang pernikahan sebagai puncak dari cinta. Padahal, menurutnya, tidak semua yang dicintai benar-benar siap menjalani kehidupan rumah tangga bersama. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/The%20Most%20KUA%202026 

“Menikah itu bukan dengan yang kita cintai semata, tetapi dengan yang siap menerima kita apa adanya. Cinta itu bukan buta, tetapi harus berpijak pada realitas,” ungkapnya di hadapan para siswa.

Ia menjelaskan, pernikahan ideal tidak hanya dilandasi perasaan, tetapi juga kesiapan mental, spiritual, dan emosional. Niat beribadah menjadi fondasi utama dalam membangun rumah tangga, yang kemudian diperkuat dengan sikap saling memahami, keterbukaan, serta komitmen untuk saling menyayangi dalam berbagai kondisi kehidupan.

Senada dengan hal tersebut, PAI KUA Kalimanah lainnya, Zamroni Irham, mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam slogan hedonisme yang menempatkan cinta sebagai segalanya. 

“Menikah jangan sampai terbius dengan slogan love above all (cinta di atas segalanya) karena hawa nafsu` Karena cinta saja tidak cukup untuk menopang kehidupan rumah tangga. Tanpa kesiapan, tanggung jawab, dan nilai-nilai agama, cinta bisa rapuh di tengah ujian kehidupan,” tegasnya.

Secara keilmuan, pandangan ini selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat), sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. 

Tujuan pernikahan bukan sekadar memenuhi kebutuhan emosional, tetapi untuk mewujudkan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah), sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 21. 

Dalam perspektif psikologi keluarga, pernikahan yang sehat membutuhkan kematangan emosi, kemampuan komunikasi, manajemen konflik, serta kesiapan menghadapi realitas ekonomi dan sosial.

Sementara itu, menurut PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, bahwa ulasan ini menegaskan bahwa cinta memang penting sebagai pengikat awal, namun bukan satu-satunya fondasi dalam pernikahan. Tanpa kesiapan mental, spiritual, dan komitmen yang kuat, cinta dapat memudar ketika dihadapkan pada persoalan hidup. 

"Oleh karena itu, keseimbangan antara cinta, tanggung jawab, dan nilai-nilai keimanan menjadi kunci utama dalam membangun keluarga yang kokoh dan harmonis," ucapnya.

Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan memahami bahwa pernikahan adalah ibadah jangka panjang yang memerlukan kesiapan menyeluruh, bukan sekadar mengikuti perasaan. 

Dengan bekal tersebut, diharapkan lahir generasi yang mampu membangun keluarga sakinah yang kuat, harmonis, dan senantiasa berada dalam naungan rahmat Allah SWT.

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

1 komentar:

Pujianto: Menikah dengan yang Siap Menerima Apa Adanya

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (Kanan) dan Moh Agus Zaenal Abidin (Kiri) foto bersama di halaman kantor KUA Kalimanah usai menyampaikan materi ...