 |
| Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor saat menjelaskan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 27, Rabu (1/4/2026). (Foto: Rizal) |
Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-27 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah Staf KUA Kalimanah, Pujianto dan penjelasan oleh staf, Amin Muakhor, Rabu (1/4/2026).
Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 52 sampai 55 dari Kitab Nashoihul Ibad.
Rangkaian maqolah dalam Nashoihul ‘Ibad ini mengajarkan fondasi penting dalam membangun kualitas iman dan akhlak seorang hamba.
Pada maqolah 52, dijelaskan bahwa orang yang benar-benar mengenal Allah adalah mereka yang setia pada janji-Nya dengan menjalankan perintah-Nya. Ciri lainnya adalah hati yang cerdas dan peka serta amal yang ikhlas dan terus meningkat.
Maqolah 53 menegaskan bahwa sumber segala kebaikan di dunia dan akhirat adalah rasa takut kepada Allah. Rasa takut ini menjaga dari maksiat, sementara harapan kepada Allah mendorong amal saleh. Keseimbangan antara takut dan harap menjadi kunci ibadah yang sempurna, dengan penekanan bahwa cinta dan harap kepada Allah lebih utama. Selain itu, disampaikan bahwa kenikmatan dunia sering terbuka dengan kenyang, sedangkan keberkahan akhirat justru lahir dari kesederhanaan dan pengendalian diri (lapar).
Pada maqolah 54, ibadah diibaratkan sebagai sebuah “usaha” dengan kesendirian (khusyu’ dan kedekatan dengan Allah) sebagai tempatnya, takwa sebagai modal utama, dan surga sebagai keuntungan akhirnya. Ini menunjukkan bahwa ibadah membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan penjagaan diri dari dosa.
Maqolah 55 mengajarkan upaya penyucian diri dengan mengganti sifat buruk dengan sifat baik: kesombongan dilawan dengan tawadu, keserakahan dengan qana’ah, dan kedengkian dengan nasihat serta keinginan kebaikan bagi orang lain. Ditekankan pula bahwa iman tidak akan bersatu dengan sifat hasad dalam hati seseorang.
Secara keseluruhan, ajaran ini menekankan pentingnya menjaga hati, menumbuhkan keikhlasan, serta mengendalikan sifat-sifat buruk sebagai jalan menuju kesempurnaan iman dan kebahagiaan dunia-akhirat.
 |
| PAI KUA Kalimanah, Pujianto saat menlmbacakan isi kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 27, Rabu (1/4/2026). (Foto: Rizal) |
Berikut isi lengkapnya.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 52
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْخَمْسُونَ (قَالَ) أَيْ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ (اَلْعَارِفُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَفِيٌّ) أَيْ بِعَهْدِ اللَّهِ تَعَالَى بِأَنْ أَدَّى أَوَامِرَ اللَّهِ تَعَالَى (وَقَلْبُهُ ذَكِيٌّ) أَيْ سَرِيعٌ (وَعَمَلُهُ لِلَّهِ زَكِيٌّ) أَيْ صَالِحٌ زَائِدٌ فِي كُلِّ وَقْتٍ.
Maqolah yang ke lima puluh dua (Telah berkata) Maksudnya Dzun nun Al-Misri (Orang yang kenal kepada Allah itu menepati janji) Maksudnya atas janji kepada Allah Ta'ala dengan menunaikan perintah-perintah Allah Ta'ala (Dan hatinya itu cerdas) Maksudnya cepat tanggap (Dan amalnya kepada Allah itu murni) Maksudnya yang lurus dan bertambah di setiap waktu.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 53
(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْخَمْسُونَ (عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّرَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ: أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ) فَإِنَّ الْخَوْفَ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى مُحَوِّلُ الصَّحِيفَةِ فَيَجْعَلُهَا فِي الْيَمِينِ بَعْدَ أَنْ هَوَتْ إلَى الشِّمَالِ فَلِلْعَبْدِ فِي حَالِ سَلَامَتِهِ مِنَ الْمَرَضِ أَنْ يَكُونَ خَائِفًا رَاجِيًا لِيَزْجُرَهُ الْخَوْفُ مِنْ الْمَعَاصِي وَيَبْعَثَهُ الرَّجَاءُ عَلَى اكْتِسَابِ الْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَعِبَادَةُ الرَّاجِي أَفْضَلُ لِغَلَبَةِ مَحَبَّةِ اللَّهِ فِيهِ فَوْقَ الْخَائِفِ وَالْمَلِكُ يُفَرِّقُ بَيْنَ مَنْ يَخْدُمُهُ اتِّقَاءَ عِقَابِهِ وَمَنْ يَخْدُمُهُ رَجَاءَ كَرَمِهِ وَمَنْ يَخْدُمُهُ لَا لِشَيْءٍ (وَمِفْتَاحُ الدُّنْيَا الشَّبَعُ) فَتُفْتَحُ أُمُورُ الدُّنْيَا بِالشَّبَعِ (وَمِفْتَاحُ الْآخِرَةِ الْجُوعُ) فَتُفْتَحُ أُمُورُ الْآخِرَةِ بِالْجُوعِ.
Maqolah yang ke lima puluh tiga (Dari Abu Sulaiman Ad-Daroni ia berkata : Pangkal dari setiap kebaikan di dunia dan di akhirat adalah takut karena Allah) Karena sesungguhnya takut karena Allah Ta'ala itu bisa merubah lembaran amal maka rasa takut akan menjadikan lembaran amal di tangan kanan sesudah jatuhnya lembaran amal itu di tangan kiri maka untuk seorang hamba dalam keadaan selamatannya hamba itu dari penyakit supaya ada rasa takut lagi berharap supaya mencegah kepadanya oleh rasa takut dari melaksanakan maksiat dan supaya membangkitkan padanya oleh rasa berharap melakukan amalah sholeh. Ibadah orang yang berharap itu lebih utama karena lebih kuatnya cinta kepada Allah karena berharap diatas orang yang takut. Seorang raja itu bisa membedakan antara orang yang berkhidmah kepada raja karena takut dari siksaan raja dan orang yang berkhidmah kepada raja karena berharap dari kemurahannya dan orang yang berkhidmah kepada raja bukan karena apa-apa (Kunci dunia adalah kenyang) Maka terbuka urusan dunia dengan kenyang (Sedangkan kunci akhirat adalah lapar) Maka terbuka urusan-urusan akhirat dengan lapar.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 54
(وَ) الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْخَمْسُونَ (قِيلَ: الْعِبَادَةُ) لِلَّهِ تَعَالَى (حِرْفَةٌ) أَيْ مَكْسَبٌ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ (وَحَانُوتُهَا الْخَلْوَةُ) أَيْ دُكَّانُهَا مُحَادَثَةُ السِّرِّ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى حَيْثُ لَا أَحَدَ (وَرَأْسُ مَالِهَا التَّقْوَى) أَيْ أَصْلُ حَالِ الْعِبَادَةِ صِيَانَةُ النَّفْسِ عَمَّا تَسْتَحِقُّ بِهِ الْعُقُوبَةُ مِنْ فِعْلٍ أَوْ تَرْكٍ (وَرِبْحُهَا الْجَنَّةُ) أَيْ دَارُ الثَّوَابِ وَمَا فِيهَا.
Maqolah yang ke lima puluh empat (Dikatakan: Beribadah) Kepada Allah (Adalah pekerjaan) Maksudnya pekerjaan dari setiap arah (Dan warung ibadah adalah sepi) Maksudnya toko ibadah adalah membisikan hati bersama Allah Ta'ala sekiranya tak ada seorangpun (Dan modal utamanya adalah taqwa) Maksudnya modal utama beribadah adalah menjaga diri dari perkara yang berhak sebab perkara itu siksaan dari melakukan maksiat atau meninggalkan kewajiban (Dan untung dari ibadah adalah surga) Maksudnya tempat ganjaran dan berbagai kenikmatan di dalam surga.
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 55(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْخَمْسُونَ (قَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (اِحْبِسْ) أَيْ امْنَعْ (ثَلَاثًا) مِنَ الْخِصَالِ الْمَذْمُومَةِ (بِثَلَاثٍ) مِنَ الْخِصَالِ الْمَحْمُودَةِ (حَتَّى تَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ) أَيْ كَيْ تَتَّصِفَ بِحَقَائِقِ الْإِيمَانِ كَالْمُؤْمِنِينَ الصَّادِقِينَ فِي إيْمَانِهِمْ (اَلْكِبْرَ بِالتَّوَاضُعِ) وَالْكِبْرُ هُوَ رُؤْيَةُ النَّفْسِ بِعَيْنِ الْعِزِّ وَرُؤْيَةُ الْغَيْرِ بِعَيْنِ الْحَقَارَةِ عَكْسُ التَّوَاضُعِ وَالْكِبْرُ يَكُونُ بِالْمَنْزِلَةِ وَالْعُجْبُ يَكُونُ بِالْفَضِيلَةِ، فَالْمُتَكَبِّرُ يُجِلُّ نَفْسَهُ عَنْ رُتْبَةِ الْمُتَعَلِّمِينَ وَالْمُعْجِبُ مُسْتَكْثِرٌ فَضْلَهُ عَنْ اسْتِزَادَةِ الْمُتَأَدِّبِينَ (وَالْحِرْصَ بِالْقَنَاعَةِ) فَالْحِرْصُ هُوَ الِاجْتِهَادُ فِي شَيْءٍ يَطْلُبُهُ وَالْقَنَاعَةُ هِيَ الرِّضَا بِالْقِسْمَةِ (وَالْحَسَدَ) وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ نِعْمَةِ الْمَحْسُودِ إلَى الْحَاسِدِ (بِالنَّصِيحَةِ) وَهِيَ الدُّعَاءُ إلَى مَا فِيهِ الصَّلَاحُ وَالنَّهْيُ عَمَّا فِيهِ الْفَسَادُ. وَفِي الْحَدِيثِ: [لَا يَجْتَمِعُ فِي جَوْفِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ] اهْ أَيْ الْإِيمَانُ بِالْقَدَرِ.
Maqolah yang ke lima puluh lima (Telah berkata Malik bin Dinar) Radhiallahu Anhu (Cegahlah oleh mu) Maksudnya cegahlah olehmu (Tiga) Perkara yang tercela (Dengan tiga) perkara yang terpuji (Sehingga kamu ada dari golongan orang-orang beriman) Maksudnya supaya kamu bersifat dengan hakikat keimanan seperti orang-orang beriman yang benar dalam keimanannya (Kesombongan dengan tawadu) Sombong adalah memandang diri sendiri dengan pandangan mulya dan memandang orang lain dengan pandangan hina kebalikan dari tawadu. Sombong itu ada sebab martabat dan ujub itu ada sebab kelebihan. Maka orang yang sombong itu mengagung-agungkan dirinya dari pangkat orang-orang yang mengaji dan orang yang ujub itu menganggap lebih banyak nilai keutamaannya dari kelebihan orang yang disiplin (Dan sifat keserakahan dengan sifat qona'ah) Maka sifat rakus yaitu bersungguh sungguh dalam sesuatu yang ia cari dan qona'ah yaitu ridho atas bagian (Dan dengki) Yaitu mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki kepada orang yang dengki (Dengan nasihat) Yaitu mengajak pada perkara yang di dalamnya kemaslahatan dan melarang dari perkara yang di dalamnya kerusakan. Dalam sebuah hadits : [Tidak mungkin mengumpul dalam hati seorang hamba keimanan dan kedengkian]. Maksudnya Iman pada takdir.وَعَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُلُّ النَّاسِ أَقْدِرُ عَلَى رِضَاهُ إِلَّا حَاسِدَ نِعْمَتِي فَإِنَّهُ لَا يُرْضِيهِ إِلَّا زَوَالُهَا، كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ مِنْ بَحْرِ الطَّوِيلِ:
مُدَارَاتُهُ شَقَّتْ وَعَزَّ نَوَالُهَا * وَدَارَيْتُ كُلَّ النَّاسِ لَكِنَّ حَاسِدِي
إِذَا كَانَ لَا يُرْضِيهِ إِلَّا زَوَالُهَا * وَكَيْفَ يُدَارِي الْمَرْءُ حَاسِدَ نِعْمَةٍ
Dari Mu'awiyah Radhiallahu Anhu ia berkata: Setiap manusia aku mampu atas ridhonya kecuali pada orang yang dengki kepada nikmatku karena sesungguhnya tidak akan membuat puas orang yang dengki itu kecuali dengan hilangnya kenikmatan itu. Sebagaimana telah berkata sebagian ulama dari bahar towil:
Aku berusaha berbaur dengan semua manusia akan tetapi orang yang dengki kepadaku * Berbaur dengannya itu sulit dan menyakitkan untuk meraihnya
Dan bagaimana mungkin bisa berbaur seseorang kepada orang yang dengki akan kenikmatan
* Sementara tidak akan memuaskan kepada orang yang dengki kecuali dengan hilangnya kenikmatan itu.(*)
Source: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto