Kamis, 04 Desember 2025

#14 Kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad: Intisari Maqolah 8–9, Penyempurna Amal dan Adab terhadap Sesama

Pegawai KUA Kalimanah Purbalingga saat mengikuti kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 14 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (3/12/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-14 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, dilanjutkan dengan penjelasan makna serta kandungan kitab oleh Prayitno dan Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah, Pujianto, Rabu (3/12/2025).

Pada kesempatan ini, pembahasan memasuki Bab 3 Maqolah 8-9, berikut penjelasan singkatnya.

Maqolah 8 — Tentang Hakikat Amal dan Penyempurnanya
Isi pokok:
1. Amal tidak dihitung hanya dari bentuk lahirnya, tetapi dinilai dari keikhlasan, ketepatan niat, dan kesesuaian dengan syariat.
2. Ditekankan bahwa amal tanpa keikhlasan bagaikan tubuh tanpa ruh—ada rupa, tetapi tidak bernilai di sisi Allah.
3. Oleh karena itu, seorang hamba harus:

· memperbaiki niat sebelum beramal,
· menjaga keikhlasan ketika beramal,
· dan tidak mengharapkan pujian manusia setelah beramal.

4. Orang beramal dengan mengharapkan dunia akan kehilangan pahala akhirat, meskipun amalnya terlihat besar.

 Inti: Amal diterima bukan karena banyaknya, tetapi karena keikhlasan dan ketepatannya
 
 
Maqolah 9 — Tentang Adab dan Akhlak Terhadap Sesama 
Isi pokok:
1. Nabi SAW menekankan agar seorang muslim tidak menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
2. Akhlak yang baik merupakan ibadah dan menjadi penyempurna iman.
3. Disebutkan bahwa:
  • orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia,
  • menjaga lisan adalah salah satu bentuk kebaikan terbesar,
  • memperbaiki hubungan dan tidak membuat kerusakan di tengah masyarakat termasuk akhlak mulia.
4. Akhlak buruk seperti iri, dengki, dan suka membicarakan aib orang lain mendatangkan dosa besar dan merusak amal.
 
Inti: Akhlak baik adalah ibadah agung; menjaga lisan dan tidak menyakiti sesama adalah kunci keselamatan.
Pegawai KUA Kalimanah Purbalingga saat mengikuti kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 14 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (3/12/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 8

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَاسْمُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَخْرٍ (أَنَّهُ قَالَ) قَالَ النَّبِيُّ : ("ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ) أَيْ مُخَلِّصَاتٌ لِصَاحِبِهَا مِنَ الْعَذَابِ (وَثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ) أَيْ مُوقِعَاتٌ لِفَاعِلِهَا فِي الْهَلَاكِ (وَثَلَاثُ دَرَجَاتٍ) أَيْ مَنَازِلُ فِي الْآخِرَةِ (وَثَلَاثُ كَفَّارَاتٍ) لِذُنُوبِ عَامِلِهَا (أَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَخَشْيَةُ اللَّهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ) قُدِّمَ السِّرُّ لِأَنَّ تَقْوَى اللَّهِ فِيهِ أَعْلَى دَرَجَةً (وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى) أَيْ التَّوَسُّطُ فِي الْمَعِيشَةِ بِأَنْ لَمْ يُجَاوِزْ فِيهَا الْحَدَّ وَرَضِيَ بِذَلِكَ (وَالْعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ) بِأَنْ يَغْضَبَ لِلَّهِ وَيَرْضَى لِرِضَاهُ.

Maqolah yang ke delapan (Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu) Namanya Abu Huroiroh adalah Abdul Rahman bin Sokhr (Sesungguhnya Abu Huroiroh berkata) Telah bersabda Nabi ﷺ : ("Tiga perkara yang menyelamatkan) Maksudnya menyelamatkan bagi orang yang membawanya dari adzab (Dan tiga perkara yang membinasakan) Maksudnya terjadi bagi orang yang melakukannya dalam kebinasaan (Dan tiga derajat) Maksudnya tempat-tempat di akhirat (Dan tiga penghapus) Untuk menhapus dosa dosa dari orang yang melakukannya (Adapun perkara yang menyelamatkan adalah: Takut kepada Allah dalam kerahasiaan dan dalam keramaian) Didahulukan lafadz السِّرُّ karena sesungguhnya bertakwa kepada Allah dalam kerahasiaan itu adalah setinggi tingginya derajat (Dan bercita cita dalam keadaan faqir dan dalam keadaan kaya) Maksudnya pertengahan dalam masalah kehidupan dengan cara tidak melewati dalam masalah kehidupan pada batasan dan ia ridho terhadap kehidupan. (Dan adil dalam keridhoan dan dalam kemarahan) Dengan cara ia mara karena Allah dan ia ridho karena ridhonya Allah.

(وَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ فَشُحٌ شَدِيدٌ) أَيْ بُخْلٌ شَدِيدٌ فَلَا يُؤَدِّي مَا عَلَيْهِ مِنْ حَقِّ اللَّهِ وَحَقِّ الْخَلْقِ. وَفِي رِوَايَةٍ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ أَيْ بُخْلٌ يُطِيعُهُ الْإِنْسَانُ أَمَّا لَوْ كَانَ الْبُخْلُ مَوْجُودًا فِي النَّفْسِ غَيْرَ مُطَاعٍ فَلَا يَكُونُ مُهْلِكًا لِأَنَّهُ مِنَ الصِّفَاتِ اللَّازِمَةِ لِلنَّفْسِ (وَهَوًى مُتَّبَعٌ) بِأَنْ يَتْبَعَ مَا يَأْمُرُهُ بِهِ هَوَاهُ (وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ) أَيْ نَظْرُهُ إِلَيْهَا بِعَيْنِ الْكَمَالِ مَعَ نِسْيَانِ نِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعَ الْأَمْنِ مِنْ زَوَالِهَا .

(Adapun perkara yang membinasakan adalah pelit yang keterlaluan) Maksudnya pelit yang keterlaluan ia tidak menunaikan suatu perkara yang wajib atasnya dari hak Allah dan hak makhluk. Dalam suatu riwayat: Pelit yang diikuti maksudnya pelit yang mengikuti padanya para manusia. Adapaun jika terbukti sifat pelit yang ada dalam dirinya tidak diikuti maka sifat pelit itu tidak akan menjadi hal yang membinasakan karena sesungguhnya sifat pelit adalah sebagian dari sifat yang lazim bagi diri (Dan keinginan yang diikuti) Dengan cara ia mengikuti perkara yang memerintah kepada dirinya atas perkara itu keinginannya (Dan ujubnya seseorang pada dirinya sendiri) Maksudnya melihatnya ia pada dirinya sendiri dengan pandangan kesempurnaan sambil melupakan nikmat dari Allah dan sambil merasa aman dari hilangnya nikmat itu.

(وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ فَإِفْشَاءُ السَّلَامِ) أَيْ إِظْهَارُ السَّلَامِ بَيْنَ النَّاسِ بِأَنْ تُسَلِّمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَهُ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْهُ (وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ) لِلضَّيْفِ وَالْجَائِعِ (وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ) أَيْ التَّهَجُّدُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ حَالَ غَفْلَةِ النَّاسِ فِي لَذَّةِ النَّوْمِ.

(Adapun derajat adalah menyebarkan salam) Maksudnya menampakkan salam di antara manusia dengan cara mengucapkan salam kepada orang yang ia kenal dan kepada orang yang tidak ia kenal (Dan memberi makanan) Kepada tamu dan kepada orang yang lapar (Dan Sholat di waktu malam sedangkan manusia tertidur) Maksudnya sholat tahajud di tengah malam dalam keadaan lengahnya manusia sebab nikmatnya tidur.

(وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ) أَيْ الَّتِي عَادَتُهَا أَنْ تَمْحُوَ الْخَطِيئَةَ (فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ) بِفَتْحَتَيْنِ جَمْعُ سَبْرَةٍ بِفَتْحٍ فَسُكُونٍ أَيْ إِتْمَامُ الْوُضُوءِ فِي وَقْتِ شِدَّةِ الْبَرْدِ بِأَنْ يَأْتِيَ بِسُنَنِهِ (وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ) أَيْ إِلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ (وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ) لِيُصَلِّيَهَا فِى الْمَسْجِدِ وَمِثْلُهُ انْتِظَارُ كُلِّ خَيْرٍ.

(Adapun perkara yang menghapus dosa) Maksudnya yang kebiasaannya menghapus pada kesalahan (Menyempurnakan wudhu disaat dingin) Dengan memfathahkan keduanya Jamak dari lafadz سَبْرَةٍ dengan membaca fathah kemudian sukun. Maksudnya menyempurnakan wudhu di waktu yang sangat dingin dengan mendatangkan sunah-sunah wudhu (Dan melangkahkan kaki untuk berjamaah) Maksudnya untuk melaksanakan sholat sambil berjamaah (Dan menunggu sholat sesudah sholat) sehingga ia bisa melaksanakan sholat berjamaah di masjid dan yang seumpama dari menggu sholat sesudah sholat adalah menunggu setiap kebaikan.

Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 9

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (قَالَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ) لِأَنَّ آخِرَ الْحَيِّ مَيِّتٌ (وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّك مُفَارِقُهُ) أَيْ مُفَارِقُ مَنْ شِئْتَ بِالْمَوْتِ (وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّك مَجْزِيٌّ بِهِ) لِأَنَّ الْعِبَادَ مَجْزِيُّونَ بِأَعْمَالِهِمْ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ .

Maqolah yang ke sembilan (Telah berkata Malaikat Jibril Alaihis salam: Wahai Muhammad hiduplah semaumu karena sesungguhnya engkau akan mati) Karena sesungguhnya akhir dari kehidupan adalah mati (Dan cintailah orang yang engkau kehendaki karena sesungguhnya engkau akan berpisah darinya) Maksudnya berpisah dari orang yang engkau kehendaki sebab kematian (Dan beramallah kamu atas apa yang engkau kehendaki Karena sesungguhnya engkau akan dibalas sebab amal mu) Karena sesungguhnhya para hamba akan dibalas sebab amal-amal mereka jika amal mereka baik maka balasannya baik jika amal mereka jelek maka balasannya jelek.

Sumber: 
© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 | lilmuslimin
Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-3/
 
Editor:  Imam Edi Siswanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#19 Kaya Tanpa Harta, Kuat Tanpa Pasukan: Rahasia Hidup Mulia Menurut Ulama Salaf

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 19 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (14/1/2026). (Foto: Im...