Rabu, 14 Januari 2026

#19 Kaya Tanpa Harta, Kuat Tanpa Pasukan: Rahasia Hidup Mulia Menurut Ulama Salaf

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 19 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (14/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto).

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-19 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto, Rabu (14/1/2026).

Berikut ringkasan Maqolah 24–27Kitab Nashoihul ‘Ibad Bab 3 secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami, tanpa mengurangi makna pokoknya:

Ringkasan Bab 3 Maqolah 24–27
Kitab Nashoihul Ibad – Syekh Nawawi al-Bantani 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 24: Kemuliaan dalam Ketaatan
Barang siapa meninggalkan kemaksiatan yang menghinakan dan beralih kepada ketaatan yang memuliakan, maka Allah akan menganugerahinya tiga keutamaan: kekayaan tanpa harta berupa ketenangan hati, kekuatan tanpa pasukan melalui pertolongan Allah, dan kemuliaan tanpa kelompok dengan kemenangan dari Allah. Maqolah ini menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada materi dan kekuasaan, melainkan pada ketaatan kepada Allah SWT.

Maqolah 25: Tanda Keimanan yang Hakiki
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tanda iman yang benar adalah sabar dalam menghadapi ujian, syukur saat mendapat kelapangan, dan ridha terhadap ketetapan Allah. Orang yang mampu menjalani ketiganya disebut sebagai mukmin sejati. Dijelaskan pula tingkatan sabar: meninggalkan keluh kesah, ridha terhadap takdir, hingga mencintai ujian sebagai bentuk kedekatan dengan Allah.

Maqolah 26: Tiga Sikap Hati yang Menyelamatkan
Allah mewahyukan bahwa siapa yang wafat dalam keadaan mencintai Allah akan dimasukkan ke surga, siapa yang wafat dengan rasa takut kepada Allah akan dijauhkan dari neraka, dan siapa yang wafat dengan rasa malu kepada Allah akan dihapuskan catatan dosanya sebagai bentuk kasih sayang dan karunia-Nya. Maqolah ini menekankan pentingnya cinta, takut, dan rasa malu kepada Allah dalam kehidupan seorang mukmin.

Maqolah 27: Jalan Menuju Ibadah, Zuhud, dan Kekayaan Sejati
Abdullah bin Mas‘ud r.a. menasihatkan bahwa menunaikan kewajiban dengan sempurna menjadikan seseorang sebagai ahli ibadah, menjauhi larangan Allah menjadikannya orang paling zuhud, dan ridha terhadap rezeki yang dibagikan Allah menjadikannya manusia paling kaya. Kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, melainkan pada rasa cukup dan ridha.

Kesimpulan Umum Bab 3
Maqolah 24–27 mengajarkan bahwa kemuliaan hidup terletak pada ketaatan, keimanan sejati, kebersihan hati, dan keridhaan terhadap takdir Allah. Siapa yang hidup dengan iman, sabar, cinta, takut, dan ridha kepada Allah, maka ia akan memperoleh kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhir

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 24

 الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: مَنْ خَرَجَ مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلَى عِزِّ الطَّاعَةِ) وَهَذَا مِنْ إضَافَةِ الصِّفَةِ لِلْمَوْصُوفِ أَيْ مَنْ تَرَكَ الْمَعْصِيَةَ الَّتِي تُصَيِّرُهُ ذَلِيلًا وَعَمِلَ الطَّاعَةَ الَّتِي تُصَيِّرُهُ عَزِيزًا أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَلَاثَ صِفَاتٍ مَحْمُودَةٍ (أَغْنَاهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ غَيْرِ مَالٍ) يُنْفِقُهُ بَلْ بِسُكُونِ قَلْبِهِ (وَأَيَّدَهُ) أَيْ قَوَّاهُ (مِنْ غَيْرِ جُنْدٍ) أَيْ عَسَاكِرَ يُعِينُونَهُ بَلْ بِقُوَّةِ اللَّهِ تَعَالَى (وَأَعَزَّهُ) أَيْ غَلَبَهُ عَلَى عَدُوِّهِ (مِنْ غَيْرِ عَشِيرَةٍ) أَيْ جَمَاعَةٍ يُعَاشِرُونَهُ بَلْ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى.

Maqolah yang ke dua puluh empat (Dari Nabi ﷺ: Barang siapa yang keluar dari kemaksiatan yang hina menuju ketaatan yang mulia) Lafadz ini dari sebagian idhopatnya sifat kepada yang disifti. Maksudnya barang siapa meninggalkan kemaksiatan yang menjadikan ia hina dan ia melakukan keta'atan yang menjadikan ia mulia maka pasti Allah akan memberikan kepadanya tiga sifat yang terpuji (Akan menjadikan kaya kepadanya Allah Ta'ala tanpa harta) Yang ia membelanjakannya tetapi dengan ketenangan hatinya (Dan Allah akan memberikan ia kekuatan) Maksudnya meberikan ia kekuatan (Tanpa pasukan) Maksudnya tanpa tentara yang membantunya tetapi dengan kekuatan Allah Ta'ala (Dan Allah akan memuliakannya) Maksudnya Allah akan memberikan ia kemenangan atas musuhnya (Tanpa kelompok) Maksudnya kelompok yang bergabung dengannya tetapi dengan pertolongan Allah Ta'ala.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 25

 الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (رُوِيَ أَنَّهُ عَلَيْهِ) الصَّلَاةُ وَ(السَّلَامُ خَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ: كَيْفَ أَصْبَحْتُمْ) أَيْ دَخَلْتُمْ فِي وَقْتِ الصَّبَاحِ (فَقَالُوا: أَصْبَحْنَا) أَيْ صِرْنَا فِي الصَّبَاحِ (مُؤْمِنِينَ بِاللَّهِ) جَلَّ وَعَلَا (فَقَالَ) ﷺ (وَمَا عَلَامَةُ إيمَانِكُمْ؟ قَالُوا: نَصْبِرُ عَلَى الْبَلَاءِ) أَيْ الِامْتِحَانِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى (وَنَشْكُرُ عَلَى الرَّخَاءِ) أَيْ الِاتِّسَاعِ فِي الْمَعِيشَةِ (وَنَرْضَى بِالْقَضَاءِ) أَيْ الْحُكْمِ الْإِلَهِيِّ فِي أَعْيَانِ الْمَوْجُودَاتِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ مِنْ الْأَحْوَالِ فِي الْأَزَلِ إِلَى الْأَبَدِ (فَقَالَ عَلَيْهِ) الصَّلَاةُ وَ(السَّلَامُ: أَنْتُمْ الْمُؤْمِنُونَ حَقًا) أَيْ إِيمَانًا مُطَابِقًا لِلْوَاقِعِ (وَرَبِّ الْكَعْبَةِ) الْوَاوُ لِلْقَسَمِ .

Maqolah yang ke dua puluh lima (Diriwayatkan sesungguhnya Nabi Alaihis) Sholatu (Wassalam keluar pada suatu hari menuju sahabat-sahabatnya kemudian Nabi bersabda: Bagaimana keadaan kalian di waktu subuh) Maksudnya kalian masuk di waktu subuh (Kemudian mereka berkata: Kami masuk di waktu subuh) Maksudnya kami menjadi di waktu subuh (Sebagai orang-orang yang iman kepada Allah) Jalla Wa'ala (Kemudian bersabda Nabi) ﷺ (Apa tanda keimanan kalian ? Kemudain mereka menjawab: Kami bersabar atas balai) Maksudnya atas ujian dari Allah Ta'ala (Dan kami bersyukur atas kemakmuran) Maksudnya keluasan dalam ekonomi (Dan kami ridho atas Qodho) Maksudnya hukum Allah mengenai pengkhususan segala sesuatu yang diadakan atas perkara yang itu atas hukum Allah dari keadaan-keadaan di zaman azali sampai seterusnya (Kemudian bersabda Nabi Alaihis) Sholatuwwa (Salam: Kalian adalah orang-orang mu'min yang sebenarnya) Maksudnya Keimanan yang sesuai dengan fakta (Demi dzat yang menguasai Ka'bah) Huruf wau pada lafadz وَرَبِّ adalah wau qosam/sumpah.

قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: الصَّبْرُ ثَلَاثُ مَقَامَاتٍ: تَرْكُ الشَّكْوَى وَهِيَ دَرَجَةُ التَّابِعِينَ، وَالرِّضَا بِالْمَقْدُورِ وَهِيَ دَرَجَةُ الزَّاهِدِينَ، وَالْمَحَبَّةُ لِلِابْتِلَاءِ وَهِيَ دَرَجَةُ الصِّدِّيقِينَ، فَفِي الْحَدِيثِ: ((اُعْبُدِ اللَّهَ عَلَى الرِّضَا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَگرَہُ خَیْرٌ گَثِیْرٌ)).

Telah berkata sebagian dari orang-orang yang ma'rifat billah: Sabar itu ada tiga maqom: Meninggalkan keluh kesah itu adalah derajatnya tabiin, dan ridho atas perkara yang ditaqdirkan itu adalah derajat orang-orang zuhud, dan senang atas cobaan itu adalah derajatnya orang-orang yang benar. Dalam satu hadits ((Beribadahlah kamu kepada Allah dengan ridho jika kamu tidak mampu maka dalam keadaan sabar atas perkara yang engkau benci padanya ada kebaikan yang banyak)).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 26

 الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى بَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ) عَلَيْهِمْ السَّلَامُ (مَنْ لَقِيَنِي) بِالْمَوْتِ (وَهُوَ يُحِبُّنِي) أَيْ يَشْتَاقُ إِلَيَّ وَيَرْغَبُ فِيمَا عِنْدِي مِنَ الثَّوَابِ (أَدْخَلْتُهُ جَنَّتِي) مَعَ السَّابِقِينَ (وَمَنْ لَقِيَنِي) بِالْمَوْتِ (وَ) الْحَالُ (هُوَ يَخَافُنِي) أَيْ يَخَافُ عَذَابِي (أَجْنَبْتُهُ نَارِي، وَمَنْ لَقِيَنِي بِالْمَوْتِ وَهُوَ يَسْتَحْيِي مِنِّي) بِأَنْ تَنْقَبِضَ نَفْسُهُ مِنْ شَيْءٍ خَوْفًا مِنْ عِقَابِ اللَّهِ تَعَالَى لَهُ فِيْهِ (أُنْسَيتُ الْحَفَظَةَ) أَيْ الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ كَتَبُوا أَعْمَالَهُ (ذُنُوبَهُ) فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ.

Maqolah yang ke dua pulu enam (Telah mewahyukan Allah Ta'ala kepada para Nabi) Alaihimus Salam (Barang siapa bertemu denganku) Sebab mati (Dan ia mencintai aku) Maksudnya ia rindu padaku dan senang atas apa yang ada padaku dari pahala (Maka pasti aku akan memasukkannya ke dalam surgaku) Bersama orang-orang terdahulu (Dan Barang siapa bertemu denganku) Sebab mati (Dan) huruf wau pada kalimat ini adalah wau haliah (Ia takut padaku) Maksudnya takut atas adzabku (Maka pasti aku akan menjauhkan ia dari nerakaku, dan barang siapa bertemu denganku sebab mati dan ia malu padaku) Dengan cara ia menahan dirinya dari suatu perkara karna takut dari siksaan Allah Ta'ala padanya sebab perkara itu (Maka pasti aku akan menjadikan lupa malaikat hafadhoh) Maksudnya malaikat yang menulis amal-amalnya (Pada dosanya) Sebagai anugrah dari Allah Ta'ala padanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 27

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكَ) بِالتَّمَامِ (تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ عِبَادَةً (وَاجْتَنِبْ مَحَارِمَ اللَّهِ تَكُنْ أَزْهَدَ النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ بُغْضًا لِلدُّنْيَا وَإِعْرَاضًا عَنْهَا (وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ) مِنَ الرِّزْقِ (تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ مَالًا.٠

Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Dari Abdullah Bin Mas'ud) Radhiallahu Anhu (Tunaikanlah perkara yang telah memfardhukan Allah Ta'ala kepadamu) Dengan sempurna (Maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak beribadah (Dan jauhilah laranngan-larangan Allah maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling zuhud) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak membenci dunia dan berpaling dari dunia (Dan kamu harus ridho atas perkara yang telah Allah bagikan ke padamu) Dari rizqi (Maka pasti kamu akan menjadi manusia paling kaya) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak hartanya.(*)
 

Senin, 12 Januari 2026

Penyuluh Agama Islam Hadirkan Pop Religius sebagai Media Pesan Keagamaan dan Moral di Era Digital

Tangkapan layar konten Youtube IES Music Religion

Purbalingga-Musik tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media dakwah dan refleksi spiritual yang efektif. Hal ini tampak jelas dalam konten pop religius yang disajikan melalui kanal YouTube IES Religion Music (https://www.youtube.com/@IES_Music), yang memuat 12 lagu bernuansa keagamaan dan moral, menggabungkan kekuatan lirik religius dengan balutan musik pop yang mudah diterima oleh berbagai kalangan. 

Kolaborasi Dakwah dan Teknologi
Menariknya, lirik-lirik lagu dalam konten pop religius ini ditulis oleh Imam Edi Siswanto Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah Kabupaten Purbalingga, sementara aransemen dan musiknya dihasilkan melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

LIHAT VIDEO: https://www.youtube.com/watch?v=2L6bmZhIPms 

Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah Islam dapat berjalan seiring dengan perkembangan teknologi modern tanpa meninggalkan substansi nilai-nilai keagamaan. 

Pemanfaatan AI dalam penciptaan musik menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan secara positif dan produktif sebagai sarana menyampaikan pesan kebaikan. Dengan pendekatan ini, dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar dan majelis taklim, tetapi juga melalui media seni musik dan lagu yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini. 

Musik Pop Religius: Jembatan Iman dan Kehidupan Modern
Pop religius hadir sebagai bentuk adaptasi nilai-nilai ajaran agama ke dalam bahasa seni yang populer. Aransemen musik yang ringan, melodis, dan emosional membuat pesan dakwah terasa lebih lembut dan tidak menggurui.

Pendekatan ini memungkinkan pesan keagamaan menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga orang tua. Melalui musik, nilai-nilai keimanan dan moral dapat disampaikan secara menyentuh, membangkitkan kesadaran batin, serta mendorong pendengar untuk melakukan refleksi diri. 

Ragam Tema Keagamaan dan Moral dalam 12 Lagu
Dua belas lagu yang disajikan dalam konten ini mengangkat tema-tema pokok keagamaan dan moral, antara lain:

1. Ayah Bundaku (kecintaan dan penghormatan kepada kedua orang tua)
2. Belajarlah Anakku (pesan kepada anak-anak, remaja, dan pemuda agar terus belajar)
3. Jadilah Salehah (harapan seorang suami agar istrinya menjadi wanita salehah)
4. Jadilah Saleh Suamiku (harapan seorang istri agar suaminya menjadi pribadi yang saleh)
5. Bersyukur (hidup bermakna dan tenang dengan sikap syukur)
6. Membaca Al-Qur’an (Al-Qur’an sebagai kebutuhan hidup seorang Muslim)
7. Shalatku Pada-Mu (menegakkan kewajiban utama dalam agama)
8. Ampunilah Dosaku (Istighfar) (permohonan ampun demi kebahagiaan dunia dan akhirat)
9. Ikhlas di Setiap Langkah (menjadi pribadi tawadhu, istiqamah, dan pandai bersyukur)
10. Sabar Jadi Penolong (kesabaran sebagai penjaga dan penolong hidup)
11. Bahagia Itu Bersyukur (kebahagiaan yang sederhana melalui rasa syukur)
12. Rindu Haji (kerinduan dan doa umat Islam untuk menunaikan ibadah haji)

Lirik-liriknya disusun dengan bahasa sederhana namun menyentuh, sehingga mudah dipahami dan mampu menggugah perasaan pendengar. 

Dakwah yang Inklusif untuk Semua Kalangan
Melalui pendekatan seni musik pop religius, pesan dakwah dalam konten ini bersifat inklusif dan universal. Lagu-lagu tersebut dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa batas usia dan latar belakang, baik sebagai hiburan bernilai edukatif, media refleksi diri, maupun pengiring aktivitas ibadah dan keseharian.

Kehadiran konten ini juga menegaskan peran strategis Penyuluh Agama Islam dalam merespons tantangan zaman dengan menghadirkan dakwah yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Konten pop religius berisi 12 lagu tentang pesan keagamaan dan moral ini menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dapat dikemas secara kreatif melalui kolaborasi antara nilai keagamaan, seni musik, dan teknologi Artificial Intelligence. Inisiatif ini tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga menghadirkan wajah dakwah yang ramah, modern, dan membumi.

Melalui seni musik dan lagu, pesan keimanan dan moral diharapkan dapat lebih mudah diterima, direnungkan, dan diamalkan oleh masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari.(*) 

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 07 Januari 2026

#18 Kecerdasan Sejati: Mengendalikan Diri, Menata Dunia, dan Meraih Akhirat

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 18 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (7/1/2026). (Foto:Azizah Dwi Purba).

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-18 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto, Rabu (7/1/2026).

Berikut ringkasan Maqolah 21–23 Kitab Nashoihul ‘Ibad Bab 3 secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami, tanpa mengurangi makna pokoknya:

Maqolah 21: Tanda Orang Berakal 
Pada maqolah ini dijelaskan bahwa orang yang berakal (cerdas secara hakiki) bukanlah yang pandai berbicara atau banyak ilmu semata, melainkan orang yang: 

  • Mampu mengendalikan hawa nafsu
  • Lebih mengutamakan akhirat daripada dunia
  • Selalu mempertimbangkan akibat perbuatan sebelum bertindak

Orang berakal akan menjadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Ia berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan karena sadar akan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Inti pesan:
Akal sejati terlihat dari kemampuan mengendalikan diri dan memilih jalan yang diridhai Allah.

Maqolah 22: Bahaya Cinta Dunia 
Maqolah ini menegaskan bahwa cinta dunia yang berlebihan adalah sumber berbagai keburukan. Ketika hati terlalu terpaut pada dunia: 

  • Ibadah menjadi lalai
  • Akhlak menjadi rusak
  • Kebenaran mudah dikorbankan demi kepentingan pribadi

Dunia tidak dicela karena keberadaannya, tetapi karena sikap manusia yang berlebihan dalam mencintainya, hingga melupakan akhirat.

Inti pesan:
Dunia di tangan adalah nikmat, tetapi dunia di hati adalah bencana. 


Maqolah 23: Keutamaan Zuhud dan Qana’ah 
Pada maqolah ini ditekankan pentingnya zuhud (tidak bergantung pada dunia) dan qana’ah (merasa cukup dengan pemberian Allah). Orang yang zuhud: 

  • Hidupnya lebih tenang
  • Tidak mudah iri dan dengki
  • Hatinya lapang dalam menerima ketentuan Allah

Qana’ah menjadikan seseorang kaya secara batin, meskipun secara materi sederhana.

Inti pesan:
Kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada ketenangan hati dan rasa cukup.

Kesimpulan Bab (Maqolah 21–23)

Bab ini mengajarkan bahwa kecerdasan sejati adalah kecerdasan spiritual, yang tercermin dalam pengendalian diri, sikap terhadap dunia, dan orientasi hidup menuju akhirat. Dunia boleh dimiliki, tetapi tidak boleh menguasai hati. 

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 18 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (7/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto).
Berikut terjemahan lengkap dilansir dari lilmuslimin.com. 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 21

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (كُنْ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ) وَذَلِكَ كَمَا قَالَهُ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيُّ قُدَّسَ سِرَّهُ: إذَا لَقِيتَ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ رَأَيْتَ الْفَضْلَ لَهُ عَلَيْكَ وَتَقُولُ عَسَى أَنْ يَكُونَ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا مِنِّي وَأَرْفَعَ دَرَجَةً فَإِنْ كَانَ صَغِيرًا قُلْتَ: هَذَا لَمْ يَعْصِ اللَّهَ وَأَنَا قَدْ عَصَيْتُ فَلَا شَكَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنًى، وَإِنْ كَانَ كَبِيرًا قُلْتَ: هَذَا قَدْ عَبَدَ اللَّهَ قَبْلِیْ، وَإِنْ كَانَ عَالِمًا قُلْتَ: هَذَا أُعْطِيَ مَا لَمْ أَبْلُغْ وَنَالَ مَا لَمْ أَنَلْ وَعَلِمَ مَا جَهِلْتُ وَهُوَ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ، وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا قُلْتَ: هَذَا عَصَى اللَّهَ بِجَهْلٍ وَأَنَا عَصَيْتُهُ بِعِلْمٍ وَلَا أَدْرِي بِمَ يَخْتَمُ لِي أَوْ بِمَ يُخْتَمُ لَهُ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا قُلْتَ: لَا أَدْرِي عَسَى أَنْ يُسْلِمَ فَيُخْتَمَ لَهُ بِخَيْرِ الْعَمَلِ وَعَسَى أَنْ أَكْفُرَ فَيُخْتَمَ لِي بِسُوءِ الْعَمَلِ اهْ.

Maqolah yang ke dua puluh satu (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Jadilah kamu di hadapan Allah sebaik-baiknya manusia dan jadilah kamu di hadapan dirimu sejelek-jeleknya manusia) Dan hal itu sebagaimana telah berkata tentangnya tuanku syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani Qoddasa sirrohu : Ketika kamu berjumpa dengan salah seorang dari manusia kamu melihat keistimewaan padanya di atas dirimu kemudian kamu berkata bisa jadi ia terbukti di sisi Allah lebih baik dari pada aku dan lebih tinggi derajatnya. Jika terbukti orang itu masih keci kamu berkata anak ini tidak bermaksiat kepada Allah sedangkan aku sungguh telah bermaksiat maka tidak diragukan lagi dia lebih baik daripada aku. Jika terbukti orang itu lebih tua kamu berkata orang ini sungguh telah beribadah kepada Allah sebelum diriku. Jika terbukti orang itu berilmu kamu berkata orang ini telah diberikan ilmu yang tidak bisa aku capai dan ia memperoleh perkara yang tidak aku peroleh dan ia mengetahui perkara yang tidak aku ketahui dan ia beramal dengan ilmunya. Jika terbukti orang itu bodoh kamu berkata orang ini bermaksiat kepada Allah bersama kebodohannya sedangkan aku bermaksiat kepada Allah bersama ilmu dan aku tidak tau pada perkara yang mengakhiriku dan mengakhirinya. Jika terbukti orang itu kafir kamu berkata aku tidak tahu bisa jadi ia masuk islam kemudian mengakhiri padanya dengan kebaikan amal dan bisa jadi aku kafir kemudian mengakhiri padaku dengan keburukan amal. Sampai sini perkataan syikh Abdul Qodir Al-Jaelani berakhir.

(وَکُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلًا مِنَ النَّاسِ) فَإِنَّ اللَّهَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ مُتَمَيِّزًا عَنْ غَيْرِهِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ. وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي صَبُورًا وَاجْعَلْنِي شَكُورًا وَاجْعَلْنِيْ فِي عَيْنِيْ صَغِيرًا وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ كَبِيرًا.

Dan jadilah kamu di sisi manusia menjadi seseorang di antara manusia) Karena sesungguhnya Allah benci melihat seorang hamba berbeda dari yang lain sebagaimana keterangan dalam suatu hadits. Ada sebagian dari para ulama beroda dengan doa ini : Ya Allah semoga engkau menjadikan aku orang yang sabar dan semoga engkau menjadikan aku orang yang bersyukur dan semoga engkau menjadikan aku di mataku kecil dan di mata manusia besar.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 22

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ: أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى عُزَيْرٍ النَّبِيِّ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (فَقَالَ:) عَزَّ وَجَلَّ (يَا عُزَيْرُ إِذَا أَذْنَبْتَ ذَنْبًا صَغِيرًا فَلَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِهِ) أَيْ ذَلِكَ الذَّنْبِ (وَانْظُرْ إِلَى مَنْ أَذْنَبْتَ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَكَ خَيْرٌ يَسِيرٌ فَلَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِهِ) أَيْ ذَلِكَ الْخَيْرِ (وَانْظُرْ إِلَى مَنْ رَزَقَكَ) أَيْ مَنْ سَاقَ ذَلِكَ الْخَيْرَ إِلَيْكَ (وَإِذَا أَصَابَكَ بَلِيَّةٌ فَلَا تَشْكُنِي إِلَى خَلْقِي كَمَا لَا أَشْكُوكَ إِلَى مَلَائِكَتِي إِذَا صَعِدَتْ إِلَيَّ مَسَاوِيكَ) أَيْ عُيُوبُكَ.

Maqolah yang ke dua puluh dua (Dikatakan: Allah Ta'ala memberikan wahyu kepada Uzair yang menjadi seorang nabi) Alaihis Salam (Telah berfirman Allah) Azza wajalla (Wahai Uzair jika kamu melakukan dosa dengan dosa yang kecil maka janganlah kamu lihat pada kecilnya dosa itu) Maksudnya dosa itu (Dan lihatlah kepada dzat yang engkau telah berbuat dosa padanya, Dan ketika menimpa kepadamu kebaikan yang ringan maka kamu jangan melihat pada kecilnya kebaikan itu) Maksudnya kebaikan itu (Dan lihatlah pada dzat yang telah memberikan rizqi padamu) Maksudnya dzat yang telah menyampaikan kebaikan itu kepadamu (Dan ketika menimpa kepadamu suatu musibah maka janganlah kamu mengadukan ku pada makhluk ku sebagaimana aku tidak pernah mengadukanmu pada malaikatku ketika datang kepadaku aib-aib dirimu) Maksudnya aib-aib dirimu.

قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ عُيَيْنَةَ: مَنْ شَكَا لِلنَّاسِ وَقَلْبُهُ صَابِرٌ رَاضٍ بِالْقَضَاءِ لَمْ يَكُنْ جَزَعًا فَإِنَّ النَّبِيَّ قَالَ: ((أَجِدُنِي يَا جِبْرِيلُ مَغْمُومًا وَأَجِدُنِي مَكْرُوبًا)) جَوَابًا لِسُؤَالِ جِبْرِيلَ عَنْهُ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ "كَيْفَ تَجِدُكَ".

Telah berkata Imam Uyainah: Barang siapa mengadu pada manusia dan hatinya sabar, ridho atas qhodo maka tidak termasuk resah karena sesungguhnya nabi telah bersabda ((Aku menemukan diriku wahai Jibril bersedih dan aku menemukan diriku susah)) Sebagai jawaban dari pertanyaan Malaikat Jibril kepada nabi tentang penyakit yang menyebabkan ia mati. "bagaimana kamu mendapati dirimu?".

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 23

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَاتِمُ بْنُ عُلْوَانَ، وَيُقَالُ: حَاتِمُ بْنُ يُوسُفَ، وَهُوَ مِنْ أَكَابِرِ مَشَايِخِ خُرَاسَانَ وَكَانَ تِلْمِيذَ شَقِيقٍ.

Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dari Hatim Al-Asom) Radhiallahu Anhu Ia adalah Abu Abdul Rahman Hatim bin Ulwan dan Dikatakan : Hatim Bin Yusuf, Beliau adalah sebagian dari para pembesars syaik khurasan dan Ia adalah muridnya Syaqiq.

رُوِيَ أَنَّهُ جَاءَتْ امْرَأَةٌ فَسَأَلَتْ حَاتِمًا عَنْ مَسْأَلَةٍ فَاتَّفَقَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا فِي تِلْكَ الْحَالَةِ صَوْتٌ، فَخَجِلَتْ فَقَالَ حَاتِمٌ: اِرْفَعِي صَوْتَكِ، فَأَرَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ أَصَمُّ فَسَرَتِ الْمَرْأَةُ بِذَلِكَ وَقَالَتْ: إنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ الصَّوْتَ، فَغَلَبَ عَلَيْهِ اِسْمُ الْأَصَمِّ (مَا مِنْ صَبَاحٍ إلَّا وَيَقُولُ الشَّيْطَانُ لِي: مَا تَأْكُلُ، وَمَا تَلْبَسُ، وَأَيْنَ تَسْكُنُ، فَأَقُولُ لَهُ: آكُلُ الْمَوْتَ) أَيْ أَذُوقُ مَرَارَةَ الْمَوْتِ (وَأَلْبَسُ الْكَفَنَ، وَأَسْكُنُ الْقَبْرَ، فَيَهْرُبُ) أَيْ الشَّيْطَانُ بِضَمِّ الرَّاءِ (مِنِّي).

Diriwayatkan sesungguhnya telah datang seorang perempuan kemudian ia bertanya kepada Hatim tentang satu masalah kemudian secara tidak sengaja telah keluar dari wanita itu suara kentut, kemudian wanita itu merasa malu, maka Hatim berkata : Keraskan suaramu kemuadian Hatim Al-Asom memperlihatkan pada dirinya bahwa sesungguhnya ia tuli maka menjadi bahagia wanita itu atas ketulian Hatim Al-Asom dan wanita itu berkata sesungguhnya Hatim tidak mendengar suara kentut kemudian menjadi terkenal kepada Hatim Al-Asom gelar Asom/tuli (Tidaklah di waktu pagi kecuali setan berkata kepadaku: Apa yang akan engkau makan, dan apa yang akan engkau pakai, dimana engkau akan berdiam kemudian aku berkata kepadanya: Aku akan memakan kematian) Maksudnya aku akan mencicipi pahitnya kematian (Dan aku akan memakai kain kafan, dan aku akan mendiami quburan kemudian ia melarikan diri) Maksudnya setan, ladafz يَهْرُبُ dengan mendhommahkan huruf ra (Dariku).

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-3-maqolah-21-25/
Editor: Imam Edi Siswanto

Rabu, 31 Desember 2025

#17 Pelajaran Penting dari Maqolah 16–20 Kitab Nashoihul ‘Ibad

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 17 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (31/12/2025). (Foto: Riza Nur Ahmadi)

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-17 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks dan penjelasanya oleh Staf KUA Kalimanah, Prayitno atau Ibrahim dan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (31/12/2025).

Berikut ringkasan Maqolah 16–20 Kitab Nashoihul ‘Ibad Bab 3 secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami, tanpa mengurangi makna pokoknya:

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 16 – Cinta dan Harap kepada Allah

Seorang hamba hendaknya selalu menggantungkan harapannya kepada rahmat Allah. Meskipun memiliki dosa dan kekurangan, ia tetap berharap pada ampunan dan kemurahan Allah. Bahkan jika harus diuji dengan siksa, cinta kepada Allah tetap tidak berubah. Ini menunjukkan kedalaman cinta dan pengharapan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Maqolah 17 – Hakikat Kebahagiaan

Orang yang paling bahagia adalah:

  • Memiliki hati yang sadar akan kehadiran Allah,
  • Tubuh yang sabar dalam ketaatan dan ujian,
  • Hati yang qana’ah, ridha dengan ketentuan Allah.

Kebahagiaan sejati bukan pada harta atau kedudukan, melainkan pada ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah.

Maqolah 18 – Penyebab Kebinasaan Manusia

Kebinasaan umat terdahulu disebabkan oleh tiga hal:

  1. Banyak bicara yang tidak bermanfaat,
  2. Makan berlebihan,
  3. Tidur berlebihan.

Semua itu melemahkan ruhani dan menjauhkan dari ketaatan kepada Allah.

Maqolah 19 – Persiapan Menuju Akhirat

Orang yang beruntung adalah yang:

  • Meninggalkan cinta dunia sebelum dunia meninggalkannya,
  • Menggunakan hartanya untuk kebaikan,
  • Mempersiapkan bekal akhirat sebelum datang kematian,
  • Meraih ridha Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Maqolah 20 – Jalan Hidup Para Wali Allah

Ciri orang yang mengikuti jalan Allah dan para wali-Nya adalah:

  • Menjaga rahasia dan amanah,
  • Mampu bergaul dengan baik dan bijaksana,
  • Sabar terhadap gangguan manusia,
  • Memperbaiki hubungan dengan Allah agar hubungan dengan manusia ikut baik.

Siapa yang ikhlas memperbaiki batinnya, maka Allah akan memperindah lahiriahnya dan mencukupkan urusannya.

Kesimpulan Singkat

Maqolah 16–20 mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah lahir dari cinta, kesabaran, kesederhanaan, pengendalian diri, dan keikhlasan. Barang siapa menjaga hubungannya dengan Allah, maka Allah akan menjaga hidupnya di dunia dan akhirat.

Berikut terjemahan Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 16 - 20

 الْمَقَالَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ (عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ) عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَدَارَانِ قَرْيَةٌ مِنْ قُرَى دِمَشْقَ، مَاتَ سَنَةَ خَمْسَ عَشْرَةَ وَمِائَتَيْنِ (أَنَّهُ قَالَ فِي الْمُنَاجَاةِ:) مَعَ اللَّهِ تَعَالَى (إلَهِيْ لَئِنْ طَالَبْتَنِيْ بِذَنْبِيْ لَأَطْلُبَنَّكَ بِعَفْوِكَ) لِأَنَّ مَغْفِرَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوبِيْ (وَلَئِنْ طَالَبْتَنِيْ بِبُخْلِيْ) بِمَنْعِ الْوَاجِبِ أَوْ مَنْعِ السَّائِلِ مِمَّا فَضَلَ عِنْدِيْ (لَأَطْلُبَنَّكَ بِسَخَائِكَ) أَيْ بِكَرَمِكَ (وَلَئِنْ أَدْخَلْتَنِيْ النَّارَ لَأَخْبَرْتُ أَهْلَ النَّارِ بِأَنِّيْ أُحِبُّكَ).

Maqolah yang ke enam belas (Dari Abu Sulaiman Ad-Daroni) Abdur Rahman bin Atiyyah Radhiallahu Anhu, Istilah daroni adalah satu desa dari sebagian desa desa damasqus, beliau wafat pada tahun 215 H (Sesungguhnya ia telah berkata dalam munajatnya:) Bersama Allah Ta'ala (Wahai tuhanku jika engkau menuntut padaku atas dosaku pasti aku akan menuntut padamu atas ampunanmu) Karena sesunguhnya ampunanmu lebih luas dibandingkan dengan dosa-dosaku (Dan jika engkau menuntut padaku atas sifat pelitku) Dengan menahan kewajiban atau mencegah dari orang yang meminta-minta dari apa yang telah engkau anugrahkan kepadaku (Pasti aku akan menuntut padamu atas sifat kedermawananmu) Maksudnya atas sifat pemurahmu (Dan jika engkau memasukkanku ke dalam neraka pasti aku akan mengabarkan pada penduduk neraka bahwa sungguh aku cinta padamu).

Bab 3 Maqolah 17

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (قِيلَ: أَسْعَدُ النَّاسِ مَنْ لَهُ قَلْبٌ عَالِمٌ) بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَعَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ كَانَ (وَبَدَنٌ صَابِرٌ) عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْمَرَازِي (وَقَنَاعَةٌ) أَيْ رِضًا (بِمَا فِي الْيَدِ) مِنْ قِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ.

Maqolah yang ke tujuh belas (Dikatakan: Paling bahagianya manusia adalah orang yang memiliki hati yang alim) Karena sesungguhnya Allah Ta'ala bersamanya di tempat manapun ia berada (Dan badan yang sabar) Atas ketaatan dan kebaktian (Dan qona'ah) Maksudnya ridho (Atas perkara yang ada pada tangan) Yakni bagian dari Allah Ta'ala dan tenangnya hati ketika tidak ada orang yang dikenal.

Bab 3 Maqolah 18

 الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ هَلَكَ قَبْلَكُمْ) مِنَ الْأُمَمِ (بِثَلَاثِ خِصَالٍ: بِفُضُولِ الْكَلَامِ) وَهُوَ مَا لَا خَيْرَ فِيهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا (وَفُضُولِ الطَّعَامِ) وَهُوَ مَا لَا يُعِينُهُ عَلَى الدِّينِ (وَفُضُولِ الْمَنَامِ) وَهُوَ مَا لَا يَنْفَعُهُ فِي الدِّينِ.

Maqolah yang ke delapan belas (Dari Ibrohim An-Nakho'i) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya celaka pada orang yang celaka sebelum kalian) Dari umat-umat (Hanya sebab tiga perkara: Sebab berlebihan berbicara) Yaitu ucapan yang tidak ada kebaikan di dalamnya tentang agama dan dunia (Dan berlebihan makan) Yaitu makanan yang tidak menolongnya pada agama (Dan berlebihan tidur) Yaitu tidur yang tidak memberi manfaat untuk agama.

Bab 3 Maqolah 19

 الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ الرَّازِيّ) الْوَاعِظُ لَهُ لِسَانٌ فِي الرَّجَاءِ خُصُوصًا وَكَلَامٌ فِي الْمَعْرِفَةِ، خَرَجَ إِلَى بَلْخٍ وَأَقَامَ بِهَا مُدَّةً وَرَجَعَ إِلَى نَيْسَابُورَ وَمَاتَ بِهَا سَنَةَ ثَمَانٍ وَخَمْسِينَ وَمِائَتَيْنِ (طُوبَى لِمَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَهُ) أَيْ الْخَيْرُ الْكَثِيرُ لِمَنْ صَرَفَ أَمْوَالَهُ فِي أَنْوَاعِ الْبِرِّ قَبْلَ ذَهَابِهَا عَنْهُ (وَبَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهُ) بِأَنْ عَمِلَ مَا فِيهِ تَوْنِيْسٌ فِي الْقَبْرِ (وَأَرْضَى رَبَّهُ) بِامْتِثَالِ أَمْرِهِ وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِ (قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ) بِالْمَوْتِ.

Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Yahya bin Mu'ad Ar-Razi) Seorang pepatah yang memiliki bahasa pasih dalam masalah roja khususnya dan perkataan dalam masalah kema'rifatan. Beliau keluar menuju daerah Balkh dan bermukim di daerah Balkh pada satu masa dan kembali ke daerah Naisabur dan mati di daerah Naisabur pada tahun 258 H (Kebahagiaan bagi orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya) Maksudnya kebaikan yang banyak bagi orang yang mentasorufkan hartanya dalam warna kebaikan sebelum hilang harta itu darinya (Dan membangun kuburannya sebelum ia masuk ke dalam kubur) Dengan mengamalkan perkara yang didalamnya ada kesenangan di alam qubur (Dan ridho kepada Rabbnya) Dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya (Sebelum ia bertemu dengannya) Sebab mati.

Bab 3 Maqolah 20

الْمَقَالَةُ الْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (مَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ سُنَّةُ اللَّهِ) أَيْ عَادَتُهُ (وَسُنَّةُ رَسُولِهِ) أَيْ شَأْنُهُ (وَسُنَّةُ أَوْلِيَائِهِ) أَيْ أَمْرُهُمْ (فَلَيْسَ فِي يَدِهِ شَيْءٌ) أَيْ فَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يُعْتَدُّ بِهِ (قِيلَ لَهُ - أَيْ لِعَلِيٍّ - مَا سُنَّةُ اللَّهِ؟ قَالَ:) أَيْ عَلَيٌّ (كِتْمَانُ السِّرِّ) وَهُوَ مَا أَخْفَاهُ النَّاسُ مِنَ الْحَدِيثِ عِنْدَ شَخْصٍ فَكِتْمَانُ السِّرِّ وَاجِبٌ (وَقِيلَ: مَا سُنَّةُ الرَّسُولِ؟ قَالَ: الْمُدَارَاةُ بَيْنَ النَّاسِ) كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ:

Maqolah yang ke dua puluh (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarroma Wajhahu (Barang siapa yang tidak ada padanya sunnatullah) Maksudnya kebiasaan Allah (Dan sunnah Rasulnya) Maksudnya urusan rasulullah (Dan sunnah wali-wali Allah) Maksudnya urusan wali-wali Allah (Maka tidak ada pada tangannya apapun) Maksudnya tidak ada baginya sesuatu yang dianggap atasnya (Dikatakan padanya - Maksudnya pada Ali - Apa Sunnatullah ? Ia berkata) Maksudnya Ali (Menyimpan rahasia) Rahasia adalah perkara yang telah menyembunyikan padanya manusia dari perakara yang datang dari seseorang maka menyembunyikan rahasia adalah wajib (Dan dikatakan: Apa sunnah Rasul ? Ia berkata: Beradaptasi di antara manusisa) Sebagaimana telah berkata sebagian ulama:

وَأَرْضِهِمْ مَا دُمْتْ فِي أَرْضِهِمْ * وَدَارِهِمْ مَا دُمْتَ فِي دَارِهِمْ
Dan kamu harus beradaptasi dengan manusia selama kamu masih berada di kampung halaman mereka * Dan kamu harus ridho kepada manusia selama kamu masi berada di tanah mereka

(وَقِيلَ: مَا سُنَّةُ أَوْلِيَائِهِ؟ قَالَ: اِحْتِمَالُ الْأَذَى مِنَ النَّاسِ، وَكَانُوا مَنْ قَبْلَنَا) مِنَ الْأُمَمِ (يَتَوَاصَوْنَ) أَيْ يُوصِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا (بِثَلَاثِ خِصَالٍ وَيَتَكَاتَبُونَ بِهَا) أَيْ يُرْسِلُ بَعْضُهُمُ الْكِتَابَةَ بِتِلْكَ الثَّلَاثِ إِلَى بَعْضٍ، فَمَنْ بَدَلٌ مِنْ اِسْمِ كَانَ (مَنْ عَمِلَ) شَيْئًا مِنَ الْأَعْمَالِ (لِآخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ) أَيْ فَهُوَ فِي حِفْظِ اللَّهِ تَعَالَى فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ (وَمَنْ أَحْسَنَ سَرِيرَتَهُ) أَيْ ضَمِيرَ قَلْبِهِ (أَحْسَنَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ) فَالظَّاهِرُ يَدُلُّ عَلَى الْبَاطِنِ (وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ) بِأَنْ عَمِلَ عَمَلًا خَالِصًا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَالتَّسْمِيعِ (أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ) فَمَنْ أَحَبَّهُ اللَّهُ تَعَالَى أَحَبَّهُ الْخَلْقُ.

(Dan dikatakan: Apa sunnah wali-wali Allah ? Ia berkata: Menanggung rasa sakit dari manusia, Dan ada wali wali Allah itu yaitu orang sebelum kita semua) Dari berbagai umat (Mereka saling memberikan wasiat) Maksudnya memberikan wasiat sebagian dari mereka kepada sebagian yang lainnya (Dengan tiga perkara dan mereka saling berkirim surat dengan tiga perkara itu) Maksudnya mengirim sebagian dari mereka sebuah tulisan dengan tiga perkara kepada sebagian yang lain. Lafadz مَنْ قَبْلَنَا adalah badal dari isim كَانَ (Barang siapa beramal) suatu perkara dari berbagai amal (Untuk akhiratnya maka Allah akan mencukupi urusan agama dan urusan dunianya) Maksudnya ia dalam penjeagaan Allah di dalam semua keadaan (Dan barang siapa yang membaguskan rahasianya) Maksudnya hati nuraninya (Maka pasti Allah akan membaguskan lahiriyahnya) Dzohir itu menunjukkan pada hal yang batin (Dan barang siapa yang memperbaiki perkara antara dirinya dan antara Allah) Dengan cara mengamalkan amalan yang murni dari sifat riya dan ujub dan sum'ah (Maka pasti Allah akan memperbaiki perkara antara dirinya dan manusia) Barang siapa yang cinta padanya Allah maka akan cinta kepadanya makhluk.

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-3-maqolah-16-20/
Editor: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 24 Desember 2025

Silaturahmi ke Kades, PAI KUA Kalimanah Tegaskan Peran Penyuluh Agama

Papan Nama Kantor Kepala Desa Selabaya, Kecamatan Kalimanah, Rabu (24/12/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Imam Edi Siswanto, melakukan silaturahmi dan koordinasi dengan Kepala Desa Klapasawit, Catur Sutanto, serta Kepala Desa Selabaya, Sukarman, Rabu (24/12/2025).

Kegiatan tersebut berlangsung di balai desa masing-masing sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi antara KUA, Penyuluh Agama Islam dan Pemerintah Desa (Pemdes) dalam pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search?q=program

Dalam pertemuan tersebut, Imam Edi Siswanto menyampaikan secara komprehensif tugas pokok, fungsi, serta program-program Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah. Langkah ini dilakukan agar para pemangku kebijakan di tingkat desa memiliki pemahaman yang utuh mengenai peran strategis penyuluh agama sebagai ujung tombak Kementerian Agama di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa PAI memiliki tugas utama melaksanakan bimbingan dan penyuluhan agama Islam serta pembangunan masyarakat melalui pendekatan bahasa agama yang sejuk, moderat, dan solutif. Peran ini dijalankan tidak hanya dalam ruang ibadah, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan sosial kemasyarakatan.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/IMAM%20EDI%20SISWANTO

Dalam kesempatan tersebut, Imam juga memaparkan empat fungsi utama Penyuluh Agama Islam.

Pertama, fungsi informatif, yakni menyampaikan informasi kebijakan dan program pemerintah di bidang keagamaan, moderasi beragama, serta isu-isu religiusitas aktual kepada masyarakat.

Kedua, fungsi edukatif, yaitu mendidik dan membimbing umat agar memahami ajaran Islam yang benar sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus menanamkan nilai moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, fungsi advokatif, di mana penyuluh berperan sebagai penengah, pelindung, dan pembela umat dari berbagai persoalan yang berpotensi mengganggu akidah, ibadah, dan akhlak, serta menjaga keharmonisan antarumat beragama.

Keempat, fungsi konsultatif, yakni menjadi rujukan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan keagamaan, keluarga, dan sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Papan Nama Kantor Kepala Desa Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, Rabu (24/12/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Selain itu, Imam juga menyampaikan berbagai program konkret yang selama ini dijalankan PAI KUA Kalimanah, antara lain pembinaan majelis taklim, pelatihan pemulasaran jenazah, tahsin Al-Qur’an, khutbah Jumat, pendataan lembaga keagamaan seperti ormas Islam, TPQ, madrasah diniyah, dan pondok pesantren.

Program lainnya meliputi pendataan tempat ibadah, wakaf, zakat, infak, dan sedekah, pembinaan lansia, pembinaan remaja termasuk pencegahan pernikahan dini, serta silaturahmi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Selain menyampaikan tugas dan fungsi Penyuluh Agama Islam, Imam juga menegaskan kepada para kepala desa bahwa seluruh layanan di KUA Kalimanah adalah gratis atau nol rupiah.

Ia menjelaskan bahwa satu-satunya layanan yang dikenai biaya adalah nikah di luar kantor KUA, dengan tarif resmi sebesar Rp. 600.000 yang dibayarkan langsung melalui bank, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penegasan ini disampaikan untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada Pemerintah Desa dan masyarakat, sekaligus mencegah terjadinya kesalahpahaman terkait layanan KUA.

Silaturahmi ini disambut baik oleh Kepala Desa Klapasawit dan Kepala Desa Selabaya. Keduanya menyampaikan apresiasi atas peran aktif Penyuluh Agama Islam dalam mendampingi masyarakat dan berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan demi terciptanya kehidupan beragama yang rukun, moderat, dan berdaya.

Melalui kegiatan ini, PAI KUA Kalimanah menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai mitra strategis pemerintah desa, sekaligus penggerak pembangunan berbasis nilai-nilai keagamaan, sejalan dengan visi Kementerian Agama Republik Indonesia dalam memperkuat moderasi beragama dan ketahanan sosial umat.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto

#16 Mengapa Ilmu Tidak Selalu Membawa Kedekatan kepada Allah?

Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor (Kanan) saat mengantarkan kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 16 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (24/12/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-16 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks dan penjelasanya oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (24/12/2025).

Pada kesempatan ini, pembahasan memasuki Bab 3 Maqolah 13-15, berikut penjelasan singkatnya.Berikut ringkasan / sari dari Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 13–15: 


Berikut ringkasan isi Maqolah 13, 14, dan 15 Kitab Nashoihul ‘Ibad Bab 3 dengan bahasa singkat, runtut, dan mudah dipahami:

Ringkasan Maqolah 13
Hasan Al-Bashri rahimahullah menegaskan bahwa akhlak (adab), kesabaran, dan wara’ adalah pilar utama agama. 

  • Orang yang tidak beradab kepada Allah dan sesama manusia, maka ilmunya tidak bernilai.
  • Orang yang tidak sabar menghadapi musibah, gangguan manusia, serta beratnya menjauhi maksiat dan menjalankan kewajiban, maka agamanya tidak kokoh.
  • Orang yang tidak memiliki sikap wara’ (menjauhi yang haram dan syubhat), maka ia tidak memiliki kedudukan dan kedekatan di sisi Allah.

Intinya: Ilmu dan agama hanya bermakna jika dibarengi adab, kesabaran, dan kehati-hatian dalam hidup.

Ringkasan Maqolah 14
Seorang Nabi dari Bani Israil menasihati seorang pemuda pencari ilmu dengan tiga perkara inti yang mencakup ilmu dunia dan akhirat: 

  • Takut kepada Allah baik saat sendiri maupun di hadapan manusia.
  • Menjaga lisan, tidak membicarakan orang lain kecuali dengan kebaikan.
  • Memastikan kehalalan makanan, hanya memakan yang halal dan meninggalkan yang syubhat atau haram.

Nasihat ini begitu mendalam hingga pemuda tersebut merasa cukup dengan ilmu itu dan tidak melanjutkan perjalanan mencari ilmu.

Intinya: Hakikat ilmu terletak pada ketakwaan, akhlak lisan, dan kehalalan rezeki.

Ringkasan Maqolah 15
Dikisahkan seorang lelaki Bani Israil yang mengumpulkan 80 peti ilmu, namun tidak mendapatkan manfaat darinya. Allah menegaskan bahwa ilmu hanya bermanfaat jika diamalkan dengan tiga prinsip utama: Tidak mencintai dunia, karena dunia bukan tempat balasan bagi orang beriman.

Tidak mengikuti setan, karena setan bukan sahabat orang beriman.
Tidak menyakiti sesama, karena menyakiti bukan sifat orang beriman.

Intinya: Banyaknya ilmu tidak menjamin manfaat tanpa amal, zuhud, dan akhlak mulia.

Kesimpulan Umum
Ketiga maqolah ini menegaskan bahwa nilai ilmu dan agama bukan pada banyaknya pengetahuan, tetapi pada: 

  • Adab dan akhlak
  • Kesabaran dan ketakwaan
  • Kehalalan, wara’, dan pengamalan ilmu

Ilmu yang tidak membentuk akhlak dan amal hanya akan menjadi beban, bukan cahaya.

Suasana kajian rutin KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 16 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (24/12/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 13

 الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ (عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَهُوَ مِنْ أَكَابِرِ التَّابِعِينَ (مَنْ لَا أَدَبَ لَهُ) مَعَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعَ الْخَلْقِ (لَا عِلْمَ لَهُ) يُعْتَدُّ بِهِ (وَمَنْ لَا صَبْرَ لَهُ) عَلَى تَحَمُّلِ الْبَلَايَا وَأَذَى الْخَلْقِ وَعَلَى مَشَقَّةِ اجْتِنَابِ الْمَعَاصِي وَعَلَى أَدَاءِ الْفَرَائِضِ (لَا دِينَ لَهُ) يُعْتَدُّ بِهِ (وَمَنْ لَا وَرَعَ لَهُ) عَنِ الْمَحَارِمِ وَالشُّبُهَاتِ (لَا زُلْفَى لَهُ) أَيْ لَا مَرْتَبَةَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا قُرْبَةَ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى.

Maqolah yang ke tiga belas (Dari Hasan Al-Basri Radhiallahu Anhu) Beliau termasuk dari sebagian para pembesar tabiin (Barang siapa yang tidak ada adab pada dirinya) Bersama Allah dan bersama makhluk (Maka tidak ada ilmu baginya) Yang dianggap padanya (Dan barang siapa tidak ada kesabaran pada dirinya) Atas tanggungan berbagai musibah dan atas gangguan dari sesama makhluk dan atas beratnya menjauhi kemaksiatan dan atas beratnya melaksanakan kewajiban (Maka tidak ada agama baginya) Yang dianggap padanya (Dan barang siapa tidak ada kehati-hatian pada dirinya) Dari perkara haram dan syubhat (Maka tidak ada kedekatan pada allah baginya) Maksudnya tidak ada pangkat baginya di sisi Allah dan tidak ada kedekatan baginya dari Allah Ta'ala. 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 14

 الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ (رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ خَرَجَ إِلَى طَلَبِ الْعِلْمِ فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّهُمْ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (فَبَعَثَ إِلَيْهِ فَأَتَاهُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (فَقَالَ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (لَهُ) أَيْ لِذَلِكَ الرَّجُلِ (يَا فَتَى إنِّي أَعِظُكَ بِثَلَاثِ خِصَالٍ فِيهَا عِلْمُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ) أَيْ يَكْفِيكَ ذَلِكَ (خَفِ اللَّهَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ) أَيْ فِي حَالِ الْخَفَاءِ عَنِ النَّاسِ وَفِي حَالِ الظُّهُورِ عِنْدَهُمْ (وَأَمْسِكْ لِسَانَكَ عَنِ الْخَلْقِ لَا تَذْكُرْهُمْ إلَّا بِخَيْرٍ) كَمَا قَالُوا: مَنْ غَرْبَلَ النَّاسَ نَخْلُوهُ (وَانْظُرْ خُبْزَكَ الَّذِي تَأْكُلُهُ حَتَّى يَكُونَ) أَيْ ذَلِكَ الْخُبْزُ (مِنَ الْحَلَالِ) فَحِينَئِذٍ تَأْكُلُهُ وَإِلَّا فَلَا تَأْكُلْهُ (فَامْتَنَعَ الْفَتَى عَنِ الْخُرُوجِ) إِلَى بَلَدٍ آخَرَ لِطَلَبِ الْعِلْمِ.

Maqolah yang ke empat belas (Diriwayatkan sesungguhnya ada seorang lelaki dari Bani Israil yang keluar untuk mencari ilmu kemudian sampailah cerita itu kepada Nabi Bani Israil) Alaihimus Salam (Kemudian nabi mengutus kepadanya kemudian pemuda itu mendatangi Nabi) Alaihis Salam (Kemudian berkata) Alaihis Salam (Kepadanya) Maksudnya kepada pemuda itu (Wahai pemuda sesungguhnya aku akan memberikan pepatah kepadamu dengan tiga perkara yang didalamnya ada ilmu awal dan akhir) Maksudnya cukup untukmu ilmu itu (Takutlah kamu kepada Allah dalam keadaan rahasia maupun dalam keadaan ramai) Maksudnya dalam keadaan sepi dari manusia dan dalam keadaan nampak di sisi orang lain (Tahan lisanmu dari para manusai jangan menyebut-nyebut manusia kecuali dengan perkataan yang baik) Sebagaimana telah para ulama telah berkata : Barang siapa mencari-cari kesalahan manusia maka manusia akan mencari kesalahannya (Dan perhatikanlah tentang rotimu yang akan kamu makan sehingga terbukti) roti (Dari yang halal) ketika itu halal silahkan kamu memakannya dan jika tidak maka jangan kamu makan roti itu (Kemudian pemuda itu tercegah dari keluar) Menuju Negara lain untuk mencari ilmu. 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 15

 الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ (رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ جَمَعَ ثَمَانِينَ تَابُوتًا مِنَ الْعِلْمِ وَ) الْحَالُ أَنَّهُ (لَمْ يَنْتَفِعْ بِعِلْمِهِ، فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إلَى نَبِيِّهِمْ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (أَنْ) تَفْسِيرِيَّةٌ (قُلْ لِهَذَا الْجَامِعِ) لِتِلْكَ الْكُتُبِ (لَوْ جَمَعْتَ كَثِيرًا مِنَ الْعِلْمِ لَمْ يَنْفَعْكَ إلَّا أَنْ تَعْمَلَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: لَا تُحِبَّ الدُّنْيَا) أَيْ مَتَاعَهَا وَزُخْرُفَهَا (فَلَيْسَتْ بِدَارِ الْمُؤْمِنِينَ) الْفَاءُ لِلتَّعْلِيلِ، أَيْ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ دَارَ جَزَاءٍ لِلْمُؤْمِنِينَ فَإِنَّ دَارَ ثَوَابِهِمْ الْجَنَّةُ (وَلَا تُصَاحِبِ الشَّيْطَانَ) بِأَنْ تُطِيعَ أَمْرَهُ بِمُخَالَفَةِ أَمْرِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ (فَلَيْسَ بِرَفِيقِ الْمُؤْمِنِينَ) أَيْ لِأَنَّ الشَّيْطَانَ لَيْسَ رَفِيقًا لَهُمْ (وَلَا تُؤْذِ أَحَدًا) مِنْ عِبَادِ اللَّهِ (فَلَيْسَ بِحِرْفَةِ الْمُؤْمِنِينَ) أَيْ لِأَنَّ الْإِيذَاءَ لَيْسَ صَنْعَتَهُمْ.

Maqolah yang ke lima belas (Diriwayatkan sesungguhnya ada seorang lelaki dari Bani Israil yang mengumpulkan 80 peti dari ilmu dan) keadaan lelaki itu sesungguhnya ia (Tidak menerima manfaat dengan ilmunya, kemudian Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Bani Israil) Alaihis Salam (Yakni) lafadz أَنْ pada kalimat ini bermakna tafsiriyah / penjelasan (Katakanlah kepada orang yang mengumpulkan ilmu ini) tentang buku-buku itu (Walaupun kamu mengumpulkan begitu banyak sebagian dari ilmu tidak akan bermanfaat ilmu itu kecuali kamu megamalkan tiga perkara: Kamu tidak mencintai dunia) Maksudnya pada kesenangan dunia dan hiasan dunia (Karena sesungguhnya dunia bukanlah tempat tinggal orang-orang mu'min) Huruf ف pada kalimat فَلَيْسَتْ itu bermakna litta'lil, Maksudnya karena sesungguhnya dunia bukanlah tempat balasan untuk orang orang mu'min karena sesungguhnya balasan orang-orang mu'min adalah Surga (Dan janganlah kamu bersahabat dengan Syaiton) Dengan mengikuti perintah Syaiton dan menyelisihi perintah dari Allah dan dari Rasulullah (Karena Syaitan itu bukanlah sahabat orang-orang mu'min) Maksudnya karena sesungguhnya Syaiton bukanlah sahabat bagi orang-orang mu'min (Dan janganlah kamu menyakiti satu orangpun) Dari hamba-hamba Allah (Karena menyakiti bukanlah pekerjaan orang-orang mu'min) Maksudnya karena sesungguhnya menyakiti bukanlah pekerjaan orang-orang mu'min.

Sumber: lilmuslimin
Editor: Imam Edi Siswanto

Selasa, 23 Desember 2025

Rakor KUA Kalimanah Tekankan Sinergi, Profesionalisme, dan Pelayanan Humanis

Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, saat memimpin rakor rutin di ruang Balai Nikah KUA Kalimanah, Selasa (23/12/2025). (Foto; Imam Edi Siswanto)
 
Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) yang dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, MSI, pada Selasa, 23 Desember 2025. Rakor ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Dalam arahannya, Kepala KUA menegaskan pentingnya saling koordinasi, keterbukaan informasi, dan kerja sama antarpegawai. Menurutnya, sinergi yang baik akan menciptakan suasana kerja yang harmonis dan berdampak langsung pada kualitas layanan publik.

Rakor juga membahas kesiapan menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru, terutama terkait penguatan pelayanan dan kewaspadaan dalam mendukung kondusivitas di tengah masyarakat. Seluruh jajaran diharapkan tetap siaga dan responsif sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
 
Suasana rakor rutin di ruang Balai Nikah KUA Kalimanah, Selasa (23/12/2025). (Foto; Rizal)
 
Aspek peningkatan kinerja pelayanan publik menjadi perhatian utama. Pelayanan di KUA harus dilakukan secara efektif, efisien, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Untuk itu, pelayanan real-time diminta tetap dijaga agar kebutuhan masyarakat dapat terlayani dengan cepat dan tepat.

Selain itu, Kepala KUA menekankan pentingnya kemampuan berbahasa dan berkomunikasi dengan publik, baik saat memberikan pelayanan di kantor maupun ketika berinteraksi di masyarakat.

Komunikasi yang baik akan menciptakan kepercayaan dan citra positif lembaga.
Ia juga mengingatkan bahwa KUA merupakan wajah atau etalase Kementerian Agama, sehingga seluruh pegawai harus menjaga keteladanan, integritas, serta disiplin dalam pelayanan publik. Sikap ramah, wajah yang bahagia, dan senyum tulus saat melayani masyarakat dinilai sebagai bagian penting dari pelayanan prima.

Terkait tugas kepenyuluhan, jadwal kepenyuluhan wajib dipastikan terpasang dan dilaksanakan sesuai rencana. Laporan bulanan Penyuluh Agama Islam (PAI) juga akan terus dipantau sebagai bentuk monitoring dan evaluasi kinerja.

Dalam bidang layanan nikah, kembali ditegaskan sosialisasi biaya nikah, yakni nikah di luar kantor sebesar Rp. 600.000 yang dibayarkan melalui bank, sedangkan nikah di kantor KUA gratis atau Rp. 0. Informasi ini harus disampaikan secara jelas kepada masyarakat untuk mencegah kesalahpahaman.

Rakor turut menyampaikan informasi rotasi Kepala KUA dan pegawai yang telah bertugas di atas tiga tahun, serta penguatan monitoring pegawai guna menjaga profesionalitas dan kinerja.

Menjelang Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama, KUA Kalimanah juga akan mendukung program Launching Desa Sadar Wakaf sebagai bagian dari penguatan peran Kemenag di bidang pemberdayaan umat.

Terakhir, dibahas pula laporan hasil pendataan kelembagaan, meliputi organisasi kemasyarakatan (ormas), Madrasah Diniyah (Madin), TPQ, masjid, dan musala. Data ini menjadi penting sebagai dasar perencanaan program dan kebijakan ke depan.

Melalui Rakor ini, diharapkan seluruh jajaran KUA Kalimanah semakin solid, profesional, dan mampu menghadirkan pelayanan yang berkualitas, humanis, serta berintegritas bagi masyarakat.(*)
 
Pewarta: Imam Edi Siswanto 

#19 Kaya Tanpa Harta, Kuat Tanpa Pasukan: Rahasia Hidup Mulia Menurut Ulama Salaf

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 19 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (14/1/2026). (Foto: Im...