Kamis, 05 Maret 2026

Menyiapkan Keluarga Sakinah Sejak Awal: KUA Kalimanah Bimbing 5 Pasangan Calon Pengantin

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (berdiri) dan Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI (kanan depan) pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri kepada  para Calon Pengantin (Catin) di aruang Balai Nikah KUA Kalimanah, kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah melaksanakan kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi Calon Pengantin (Catin) yang diikuti oleh lima pasangan calon pengantin di ruang Balai Nikah KUA Kalimanah, Kamis (5/3/2026).

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/02/bekali-calon-pengantin-menuju-keluarga.html

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto, saat menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri kepada  para Calon Pengantin (Catin) di aruang Balai Nikah KUA Kalimanah, kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Acara dibuka oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin. Dalam sambutan sekaligus menyampaikan Bimwinnya, ia menyampaikan bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua insan, melainkan komitmen besar untuk membangun keluarga sakinah yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Ia juga mengingatkan para calon pengantin agar mempersiapkan pernikahan dengan ilmu, kesabaran, dan tanggung jawab.

Kemudian, materi pertama hingga ketiga disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto. Ia menjelaskan tentang fikih munakahat, yang membahas dasar-dasar hukum pernikahan dalam Islam, mulai dari rukun, syarat, hingga hak dan kewajiban suami istri. 

PAI KUA Kalimanah, Zamroni Irham, saat menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri kepada  para Calon Pengantin (Catin) di aruang Balai Nikah KUA Kalimanah, kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Selain itu, ia juga menyampaikan materi tentang membangun landasan keluarga sakinah, yaitu keluarga yang diliputi ketenangan, cinta, dan kasih sayang (sakinah, mawaddah, wa rahmah), serta pentingnya komunikasi dan akhlak mulia dalam kehidupan rumah tangga.

Dalam sesi berikutnya, peserta juga mendapatkan materi tentang perencanaan perkawinan yang kokoh menuju keluarga sakinah. Pada bagian ini dijelaskan bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan mental, spiritual, sosial, dan ekonomi. 

Calon pasangan dianjurkan memiliki visi bersama dalam membangun keluarga yang harmonis, mampu menyelesaikan konflik dengan bijak, serta menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan keluarga. 

Para Catin Foto bersama dengan Kepala KUA, Penghulu Muda dan PAI usai acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri bagi Calon Pengantin (Catin) di halaman KUA Kalimanah, Kamis (5/3/2026). (Foto: Rizal)

Selanjutnya pada sesi kedia, materi mengenai keuangan keluarga disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah, Zamroni Irham. Ia menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak dalam rumah tangga, mulai dari perencanaan kebutuhan, pengaturan pengeluaran, hingga menabung untuk masa depan.

Menurutnya, keterbukaan dan kerja sama antara suami dan istri dalam mengatur keuangan menjadi salah satu kunci menjaga keharmonisan keluarga.

Kegiatan bimbingan tersebut dipandu oleh Pujianto yang memandu jalannya acara dengan suasana interaktif dan penuh keakraban. Melalui kegiatan ini, diharapkan para calon pengantin memiliki bekal pengetahuan dan kesiapan yang lebih matang dalam membangun rumah tangga yang kokoh, harmonis, dan penuh keberkahan.(*)

Pewarta: Imam Edi siswanto 

Rabu, 04 Maret 2026

#26 Ciri-Ciri Orang yang Mengenal Allah dan Kunci Kebaikan Dunia–Akhirat

Kegiatan rutin kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 26, Rabu (4/3/2026). (Foto: Supriyono)

Pubalingga–Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-26 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Prayitno yang akrab disapa Ibrahim dan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (4/3/2026). 

Dari kajian tersebut dapat kami sampaikan ringkasan isi kandungan terjemah kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 51 sampai 53 dari Kitab Nashoihul Ibad.

Rangkuman Maqolah 51–53 dari Nashoihul ‘Ibad:
1. Ciri Orang yang Mengenal Allah (Maqolah 51–52)
Menurut Dzun Nun Al-Misri, orang yang benar-benar mengenal Allah (arif billah) memiliki beberapa tanda utama:
  • Terikat oleh cinta kepada Allah, sehingga seluruh hidupnya tertawan dalam kecintaan dan ketaatan kepada-Nya.
  • Hatinya selalu merasa diawasi (muraqabah) dan lahiriahnya dihiasi dengan evaluasi diri (muhasabah).
  • Banyak beramal untuk Allah, amalnya terus bertambah dan dilakukan dengan ikhlas.
  • Menepati janji kepada Allah, yakni melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan setia.
  • Berhati cerdas dan cepat tanggap, peka terhadap kebenaran.
  • Amalnya suci dan berkembang, selalu diperbaiki dan ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Intinya, orang yang mengenal Allah bukan hanya kuat secara spiritual dalam hati, tetapi juga nyata dalam amal dan komitmennya.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab?m=0

2. Pangkal Segala Kebaikan (Maqolah 53)
Menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, pokok seluruh kebaikan di dunia dan akhirat adalah rasa takut kepada Allah.

  • Rasa takut kepada Allah mampu mengubah nasib amal seseorang dari keburukan menjadi kebaikan.Seorang hamba sebaiknya memiliki rasa takut dan harap sekaligus:
  • Takut mencegah dari maksiat.
  • Harap mendorong untuk beramal saleh.

Ibadah yang didasari harapan kepada rahmat dan cinta Allah lebih utama dibanding ibadah yang hanya didasari rasa takut, sebagaimana seorang raja dapat membedakan antara pelayan yang taat karena takut hukuman dan yang taat karena berharap kemurahan.

Beliau juga menjelaskan:
Kunci dunia adalah kenyang, karena kenyang memudahkan urusan dunia.

Kunci akhirat adalah lapar, karena lapar (hidup sederhana dan menahan diri) melembutkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan

Maqolah 51–53 menegaskan bahwa orang yang mengenal Allah akan dipenuhi cinta, kesetiaan, keikhlasan, serta kesungguhan dalam beramal. Sementara itu, rasa takut dan harap kepada Allah menjadi fondasi utama segala kebaikan, dengan sikap zuhud dan pengendalian diri sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat.

Kegiatan rutin kajian Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani di KUA Kalimanah setiap Rabu Pagi edisi ke 26, Rabu (4/3/2026). (Foto: Rizal)

Berikut terjemahan lengkapnya:

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 51

 الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْخَمْسُونَ (قَالَ) أَيْ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (اَلْعَارِفُ بِاللَّهِ تَعَالَى أَسِيرٌ) أَيْ مَرْبُوطٌ بِحُبِّهِ (وَقَلْبُهُ بَصِيرٌ) أَيْ مُزَيِّنٌ لِبَاطِنِهِ بِالْمُرَاقَبَةِ وَلِظَاهِرِهِ بِالْمُحَاسَبَةِ (وَعَمَلُهُ لِلَّهِ كَثِيرٌ).

Maqolah yang ke lima puluh satu (Telah berkata) Maksudnya Dzun nun Al-Misri Radhiallahu Anhu (Orang yang kenal kepada Allah Ta'ala itu tertawan) Maksudnya terikat dengan cintanya kepada Allah (Dan hatinya itu melihat) Maksudnya menghiasai untuk hatinya dengan sifat merasa terus diawasi Allah dan pada jasmaninya dengan berevaluasi diri (Dan amalnya kepada Allah itu banyak).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 52


 الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْخَمْسُونَ (قَالَ) أَيْ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ (اَلْعَارِفُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَفِيٌّ) أَيْ بِعَهْدِ اللَّهِ تَعَالَى بِأَنْ أَدَّى أَوَامِرَ اللَّهِ تَعَالَى (وَقَلْبُهُ ذَكِيٌّ) أَيْ سَرِيعٌ (وَعَمَلُهُ لِلَّهِ زَكِيٌّ) أَيْ صَالِحٌ زَائِدٌ فِي كُلِّ وَقْتٍ.

Maqolah yang ke lima puluh dua (Telah berkata) Maksudnya Dzun nun Al-Misri (Orang yang kenal kepada Allah itu menepati janji) Maksudnya atas janji kepada Allah Ta'ala dengan menunaikan perintah-perintah Allah Ta'ala (Dan hatinya itu cerdas) Maksudnya cepat tanggap (Dan amalnya kepada Allah itu murni) Maksudnya yang lurus dan bertambah di setiap waktu.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 53

 الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْخَمْسُونَ (عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّرَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ: أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ) فَإِنَّ الْخَوْفَ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى مُحَوِّلُ الصَّحِيفَةِ فَيَجْعَلُهَا فِي الْيَمِينِ بَعْدَ أَنْ هَوَتْ إلَى الشِّمَالِ فَلِلْعَبْدِ فِي حَالِ سَلَامَتِهِ مِنَ الْمَرَضِ أَنْ يَكُونَ خَائِفًا رَاجِيًا لِيَزْجُرَهُ الْخَوْفُ مِنْ الْمَعَاصِي وَيَبْعَثَهُ الرَّجَاءُ عَلَى اكْتِسَابِ الْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَعِبَادَةُ الرَّاجِي أَفْضَلُ لِغَلَبَةِ مَحَبَّةِ اللَّهِ فِيهِ فَوْقَ الْخَائِفِ وَالْمَلِكُ يُفَرِّقُ بَيْنَ مَنْ يَخْدُمُهُ اتِّقَاءَ عِقَابِهِ وَمَنْ يَخْدُمُهُ رَجَاءَ كَرَمِهِ وَمَنْ يَخْدُمُهُ لَا لِشَيْءٍ (وَمِفْتَاحُ الدُّنْيَا الشَّبَعُ) فَتُفْتَحُ أُمُورُ الدُّنْيَا بِالشَّبَعِ (وَمِفْتَاحُ الْآخِرَةِ الْجُوعُ) فَتُفْتَحُ أُمُورُ الْآخِرَةِ بِالْجُوعِ.

Maqolah yang ke lima puluh tiga (Dari Abu Sulaiman Ad-Daroni ia berkata : Pangkal dari setiap kebaikan di dunia dan di akhirat adalah takut karena Allah) Karena sesungguhnya takut karena Allah Ta'ala itu bisa merubah lembaran amal maka rasa takut akan menjadikan lembaran amal di tangan kanan sesudah jatuhnya lembaran amal itu di tangan kiri maka untuk seorang hamba dalam keadaan selamatannya hamba itu dari penyakit supaya ada rasa takut lagi berharap supaya mencegah kepadanya oleh rasa takut dari melaksanakan maksiat dan supaya membangkitkan padanya oleh rasa berharap melakukan amalah sholeh. Ibadah orang yang berharap itu lebih utama karena lebih kuatnya cinta kepada Allah karena berharap diatas orang yang takut. Seorang raja itu bisa membedakan antara orang yang berkhidmah kepada raja karena takut dari siksaan raja dan orang yang berkhidmah kepada raja karena berharap dari kemurahannya dan orang yang berkhidmah kepada raja bukan karena apa-apa (Kunci dunia adalah kenyang) Maka terbuka urusan dunia dengan kenyang (Sedangkan kunci akhirat adalah lapar) Maka terbuka urusan-urusan akhirat dengan lapar.

Source: lilmuslimin.com
Editor: Imam Edi Siswanto

Selasa, 03 Maret 2026

KUA Kalimanah Perkuat Integritas dan Pelayanan, Wujudkan Layanan Unggul Menuju WBBM 2027

Rapat koordinasi (rakor) rutin dan pembinaan di ruang Balai Nikah KUA setempat, Selasa (3/3/2026). (Foto: Rizal)

Purbalingga – KUA Kalimanah menggelar rapat koordinasi (rakor) rutin dan pembinaan di ruang Balai Nikah KUA setempat, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan integritas, peningkatan kualitas pelayanan, serta komitmen bersama menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) tahun 2027.

Wujudkan KUA Unggul dan Berdampak
Dalam sesi pembinaan, Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menegaskan komitmen mewujudkan KUA yang unggul dan berdampak bagi masyarakat.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Pelayanan?m=0

Ia menekankan bahwa praktik gratifikasi tidak dibenarkan di lingkungan KUA, kecuali yang telah diatur secara resmi dalam peraturan pemerintah.

“Dalam pelayanan, jangan sampai mencederai kepercayaan publik dengan meminta imbalan dalam bentuk apa pun,” tegasnya.

Kholidin juga menyampaikan bahwa kualitas pelayanan KUA Kalimanah menunjukkan hasil membanggakan. Berdasarkan survei kepuasan masyarakat sejak 2025 hingga Januari 2026, nilai yang diperoleh masuk kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan pelayanan publik telah memenuhi standar yang ditetapkan.
Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.S.I., menegaskan komitmen mewujudkan KUA yang unggul dan berdampak bagi masyarakat, pada Rakor rutin KUA Kalimanah diruang Balai Nikah, Selasa (3/3/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Menurutnya, peran KUA tidak hanya terbatas pada urusan pernikahan, tetapi juga harus menyentuh sektor-sektor lain yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. ASN Kemenag, lanjutnya, harus menjadi teladan di lingkungan masing-masing dan mewujudkan rasa syukur melalui kinerja dan pengabdian sehari-hari.

Perkuat Budaya Kerja dan Dokumentasi Tugas
Dalam upaya mempertahankan predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), pimpinan KUA diminta terus melakukan pembinaan guna menjaga lima nilai budaya kerja, yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan.

“Semua pegawai harus paham dan melaksanakannya dengan sepenuh hati,” tegasnya.

Ia juga menguraikan secara rinci makna lima nilai tersebut, sekaligus menanamkan filosofi kepemimpinan Jawa, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, sebagai spirit dalam membangun tim kerja yang solid.

Selain itu, sistem penugasan kini harus mengikuti format terbaru, yakni setiap tugas wajib didokumentasikan dan dilaporkan secara resmi dengan surat tugas sebagai bukti administrasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menuju WBBM 2027.

Dorong Inovasi dan Optimalisasi Media Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Kholidin juga menyampaikan pesan dari Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga. Pesan tersebut menekankan pentingnya mempertahankan WBK sekaligus terus bergerak menuju WBBM, mendorong inovasi pelayanan, serta meningkatkan kualitas dan eksistensi media sosial Kemenag Purbalingga dan KUA.

ASN Kemenag Purbalingga juga diimbau untuk lebih peduli dan aktif dalam pengelolaan media sosial sebagai sarana transparansi dan edukasi publik.

Program “The Most KUA” turut dibahas dalam rakor tersebut. Dalam konteks ini, penanaman nilai-nilai keluarga sakinah ditekankan sejak masa usia pra nikah, saat pernikahan, hingga pasca nikah sebagai bentuk pembinaan berkelanjutan kepada masyarakat.

Sementara itu disampaikan juga pesan dari Analis Kepegawaian Kemenag Purbalingga mengingatkan pentingnya menjaga dan meningkatkan disiplin kerja. PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

"Dan hasil survei pelayanan yang telah diraih harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan melalui evaluasi dan analisis berkala," pesannya tegas.

Melalui rakor dan pembinaan ini, KUA Kalimanah meneguhkan komitmen untuk terus berbenah, memperkuat integritas, dan menghadirkan pelayanan publik yang profesional, bersih, serta berdampak nyata bagi masyarakat.
PAI KUA Kalimanah, Zamroni Irham (dua dari kanan) saat menyampaikan kultum Ramadhan pada Rakor rutin KUA Kalimanah diruang Balai Nikah, Selasa (3/3/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sebelumnya, Rakor dimulai kegiatan diawali dengan kuliah tujuh menit (kultum) Ramadan yang disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Zamroni Irham. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya memandang kehidupan secara lebih mendalam, tidak hanya sebatas lahiriah.

“Sebagai ilustrasi, saat berpuasa dan melihat makanan terasa sangat menggoda untuk dimakan. Namun ketika waktu berbuka tiba, hanya dengan seteguk air putih, semua gambaran dan keinginan saat berpuasa seakan hilang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dunia tidak cukup dipandang dengan kasat mata semata. Kehidupan sejati, katanya, adalah kehidupan yang abadi di akhirat. Karena itu, setiap insan perlu membekali diri dengan amal kebajikan dan amal jariyah yang diridai Allah SWT.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto


Menyiapkan Keluarga Sakinah Sejak Awal: KUA Kalimanah Bimbing 5 Pasangan Calon Pengantin

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (berdiri) dan Kepala KUA Kalimanah, Drs. H. Kholidin, M.SI (kanan depan) pada acara Bimbingan Perkawinan (Bimwin...