Rabu, 29 Oktober 2025

#10 Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 23 - 30: Hakikat Ketaatan dan Bahaya Cinta Dunia dalam Upaya Mendekatkan Diri kepada Allah

Kepala KUA Kalimanah, H. Kholidin (nomor 3 kanan) beserta pegawai KUA Kalimanah Purbalingga saat mengikuti kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 10  dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (29/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Bab 2 Maqolah 23–30 dalam Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani membahas tentang tanda-tanda ketaatan sejati yang lahir dari hati yang mengenal Allah (ma’rifah), bahaya cinta dunia dan kelalaian terhadap zakat, pentingnya kesadaran diri akan kelemahan dan kekurangan agar terhindar dari kesombongan, serta larangan mengingkari nikmat dan bergaul dengan orang bodoh. 
 
 
Selain itu, bab ini mengingatkan agar manusia tidak terlena dengan dunia yang fana karena kematian bisa datang kapan saja, mendorong untuk memperbanyak munajat dan permohonan ampunan, menanamkan keridhaan kepada Allah di atas kesenangan diri sendiri, dan menegaskan bahwa kenikmatan sejati adalah ketika hati dekat dengan Allah, sedangkan penderitaan terbesar adalah saat seseorang terputus dari-Nya.
 
Kajian rutin edisi ke 10 Rabu pagi KUA Kalimanah yang singkat namun cukup mendalam ini dihantarkan sekaligus penjelasan makna dan kandungan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan Prayitno serta PAI KUA Kalimanah Pujianto, Rabu (29/10/2025). 
 
Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan Prayitno (memegang kitab) beserta pegawai KUA Kalimanah Purbalingga saat memnyampaikan materi pada kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 10  dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (29/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Berikut kesimpulan hikmah dan pesan dari Bab 2, Maqolah 23 sampai 30 dari Nashoihul Ibad:
  1. Ketaatan lahir dari pengenalan yang benar kepada Allah, semakin banyak seseorang beribadah dan taat, maka semakin tampak kema’rifatannya kepada Allah, karena perbuatan lahir mencerminkan kondisi batin. (Maqolah 23)
  2. Hambanya yang lalai terhadap nikmat Allah atau yang bersahabat dengan orang bodoh akan menunjukkan kebobrokan jiwa dan kerendahan akhlak. (Maqolah 26)
  3. Dunia dengan segala tipu dayanya serta kematian yang datang secara tiba-tiba mengingatkan kita agar senantiasa siap, tidak terlena dalam kesibukan dunia tanpa bekal akhirat. (Maqolah 27)
  4. Munajat dan rasa takut kepada Allah serta kerinduan untuk taat menunjukkan kekuatan spiritual seorang hamba—lisan yang berbisik dalam ketundukan lebih utama daripada lisan yang bersuara keras namun kosong dari rasa malu kepadaNya. (Maqolah 28 & 29)
  5. Pahitnya terputus dari Allah dan manisnya dekat kepadaNya, jika kita telah merasakan indahnya kedekatan dengan Allah, maka kita akan menyesali setiap saat yang terbuang jauh dari-Nya; dan sebaliknya, jauh dari-Nya adalah adzab besar bagi orang-baik. (Maqolah 30).
Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 10  dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (29/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Bab 2 Maqolah 23 : Dua Aktivitas Inti

 الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ: حَرَكَةُ الطَّاعَةِ دَلِيلُ الْمَعْرِفَةِ، كَمَا أَنَّ حَرَكَةَ الْجِسْمِ دَلِيلُ الْحَيَاةِ) وَالْمَعْنَى أَنَّ إتْيَانَ الْعَبْدِ الطَّاعَةَ لِلَّهِ تَعَالَى عَلَامَةٌ عَلَى مَعْرِفَتِهِ للَّهِ، فَإِذَا كَثُرَتْ الطَّاعَةُ كَثُرَتْ الْمَعْرِفَةُ، وَإِذَا قَلَّتْ قَلَّتْ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِرْآةُ الْبَاطِنِ.

Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dikatakan : Gerakan ketaatan adalah tanda adanya kemarifatan, sebagaimana bahwa sesungguhnya gerakan badan adalah tanda adanya kehidupan) Ma'nanya sesungguhnya mendatangkannya seorang hamba pada ketaatan karna Allah Ta'ala adalah tanda atas kemarifatannya kepada Allah, ketika banyak ketaatan maka pasti akan banyak kema'rifatan dan ketika sedikit ketaatan maka pasti akan sedikit kema'rifatan karena sesungguhnya prilaku dzhohir adalah cermin bagi batin.

Bab 2 Maqolah 24 : Dua Sumber Dosa dan Fitnah

الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَصْلُ جَمِيعِ الْخَطَايَا حُبُّ الدُّنْيَا) وَهِيَ مَا زَادَ عَنِ الْحَاجَةِ (وَأَصْلُ جَمِيعِ الْفِتَنِ مَنْعُ الْعُشْرِ وَالزَّكَاةِ) وَهَذَا مِنْ عَطْفِ الْعَامِّ عَلَى الْخَاصِّ، لِأَنَّ الْعُشْرَ خَاصٌّ بِالزُّرُوعِ وَالثِّمَارِ وَالزَّكَاةُ شَامِلَةٌ لِذَلِكَ, وَلِزَكَاةِ النَّقْدِ وَالْأَنْعَامِ وَلِزَكَاةِ الْبَدَنِ.

Maqolah yang ke dua puluh empat (Telah bersabda Nabi Muhammad ﷺ : "Pangkal seluruh dosa adalah cinta dunia) Yaitu perkara yang melebihi dari kebutuhan pokok (Dan pangkal seluruh fitnah adalah menahan dari membayar sepersepuluh dan menahan zakat) Athof lafadz ini adalah dari menathofkan lafadz umum pada lafadz yang lebih khusus, Karena sesungguhnya zakat persepuluh itu khusus bagi hasil tani dan buah buahan. Sedangkan lafadz zakat itu mencakup pada zakat hasil pertanian dan buah-buahan, dan mencapuk zakat emas dan ternak dan zakat fitrah.

Bab 2 Maqolah 25 : Dua Pengakuan Kelemahan Diri

الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ : الْمُقِرُّ بِالتَّقْصِيرِ) أَيْ بِالْعَجْزِ عَنِ الطَّاعَةِ (أَبَدًا مَحْمُودٌ، وَالْإِقْرَارُ بِالتَّقْصِيرِ عَلَامَةُ الْقَبُولِ) لِأَنَّهُ إِشَارَةٌ إِلَى عَدَمِ الْعُجْبِ وَالْكِبْرِ.

Maqolah yang ke dua puluh lima (Dikatakan : Orang yang mengakui kelalaian dirinya) Maksudnya ketidak mampuan dari ketaatan (Selamanya terpuji dan mengakui kelalaian diri adalah tanda diterimanya amal) Karena sesungguhnya mengakui kelalaian diri adalah isyarat tidak adanya sifat ujub dan takabur.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 26 : Dua Perbuatan Tercela

الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (قِيْلَ: كُفْرَانُ النِّعْمَةِ لُؤْمٌ) أَيْ عَدَمُ شُكْرِ لِلنِّعْمَةِ دَلِيلٌ عَلَى دَنَاءَةِ النَّفْسِ (وَصُحْبَةُ الْأَحْمَقِ) وَهُوَ وَاضِعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ مَعَ الْعِلْمِ بِقُبْحِهِ (شُؤمٌ) أَيْ غَيْرُ مُبَارَكٍ، كَمَا رَوَى الطَّبَرَانِيُّ عَنْ بَشِيْرٍ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "اِصْرِمِ الْأَحْمَقَ" بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَالرَّاءِ أَيْ اِقْطَعْ وُدَّهُ، وَالْمَعْنَى لَا تُصَاحِبْهُ لِقُبْحِ حَالَتِهِ وَلِأَنَّ الطِّبَاعَ سَرَّاقَةٌ وَقَدْ يَسْرِقُ طَبْعُكَ مِنْهُ.

Maqolah yang ke dua puluh enam (Dikatakan : Mengkufuri nikmat adalah kehinaan) Maksudnya tidak adanya rasa mensyukuri nikmat menjadi tanda atas kehinaan diri (Dan menemani orang bodoh) Ahmak adalah orang yang menempatkan satu perkara pada selain tempatnya bersamaan dengan pengetahuan tentang jeleknya perkara itu (Adalah kesialan) Maksudnya tidak diberkahi, Sebagai mana telah meriwayatkan Imam At-Thobroni dari Basyir Sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : "Putuskanlah hubunganmu dengan orang yang bodoh" Lafadz اِصْرِمْ dengan mengkasroh hamzah dan ro Maksudnya putuskanlah rasa suka padanya. Ma'nanya adalah kamu jangan menemaninya sebab jelek tingkah lakunya dan karena sesungguhnya karakter itu gampang mencuri dan terkadang mencuri tabiatmu darinya.

وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "خَصْلَتَانِ مَنْ كَانَتَا فِيْهِ كَتَبَهُ اللّٰهُ شَاكِرًا صَابِرًا، وَمَنْ لَمْ تَكُوْنَا فِيْهِ لَمْ يَكْتُبْهُ اللّٰهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا: مَنْ نَظَرَ فِى دِيْنِهِ إلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَاقْتَدَى بِهِ وَنَظَرَ فِى دُنْيَاهُ إلَى مَنْ هُوَ دُوْنَهُ فَحَمِدَ اللّٰهَ عَلَى مَا فَضَّلَهُ بِهِ عَلَيْهِ كَتَبَهُ اللّٰهُ شَاكِرًا صَابِرًا، وَمَنْ نَظَرَ فِى دِيْنِهِ إلَى مَنْ هُوَ دُوْنَهُ وَنَظَرَ فِى دُنْيَاهُ إلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَأَسِفَ عَلَى مَا فَاتَهُ لَمْ يَكْتُبْهُ اللّٰهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا" اهْ. هَذَا الْحَدِيْثُ جَامِعٌ لِجَمِيْعِ أَنْوَاعِ الْخَيْرِ.

Telah meriwayatkan Imam Tirmidzi dari Ibnu Umar bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : "Dua perkara barang siapa yang ada dua perkara itu dalam dirinya maka pasti Allah akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan orang yang sabar. Barang siapa yang tidak ada dua perkara itu dalam dirinya maka Allah tidak akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan tidak pula sebagai orang yang sabar : Barang siapa yang melihat dalam agamanya kepada orang yang lebih tinggi darinya maka ia mengikutinya dan ia melihat dalam masalah dunianya kepada orang yang lebih rendah darinya kemudian ia memuji kepada Allah atas perkara yang Allah telah melebihkan kepadanya dengan dunia di atas orang itu maka pasti Allah akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan sebagai orang yang sabar. Barang siapa melihat dalam urusan agamanya kepada orang yang lebih rendah darinya dan melihat dalam urusan dunia kepada orang yang di atasnya kemudian ia menyesal atas perkara yang telah luput darinya maka Allah tidak akan menuliskannya sebagai orang yang bersyukur dan tidak juga sebagai orang yang bersabar". Hadist ini merangkum pada seluruh macam kebaikan.

Bab 2 Maqolah 27 : Dua Kerugian

الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (قَالَ الشَّاعِرُ:) مِنْ بَحْرِ الْكَامِلِ الْمَجْزُوِّ :

قَدْ غَرَّهُ طُوْلُ الْأَمَلِ * (يَا مَنْ بِدُنْيَاهُ اشْتَغَلْ
حَتّى دَنَا مِنْهُ الْأَجَلُ * أَوْ لَمْ يَزَلْ فِى غَفْلَةٍ
وَالْقَبْرُ صُنْدُوْقُ الْعَمَلِ * الْمَوْتُ يَأْتِي بَغْتَةً
لَا مَوْتَ إِلَّا بِالْأَجَلِ) * إِصْبِرْ عَلَى أَهْوَالِهَا

Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Telah berkata seorang penyair :) Dari bahar kamil yang dikurangi satu wazan.

(Wahai orang yang sibuk dengan urusuan dunia * Telah menipu kepadanya panjang angan angan
Atau orang yang tidak henti hentinya lalai * Sampai dekat kepadanya ajal
Maut akan datang secara serentak * Dan qubur adalah petinya amal
Engkau harus bersabar atas kengerian mati * Tidak ada kematian kecuali sebab adanya ajal

وَرَوَى الدَّيْلَمِيُّ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "تَرْكُ الدُّنْيَا أَمَرُّ مِنَ الصَّبْرِ وَأَشَدُّ مِنْ حَطْمِ السُّيُوْفِ فِى سَبِيْلِ اللّٰهِ، وَلَا يَتْرُكُهَا أَحَدٌ إلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ مِثْلَ مَا يُعْطِي الشُّهَدَاءَ، وَتَرْكُهَا قِلَّةُ الْأَكْلِ وَالشَّبْعِ وَبُغْضُ الثَّنَاءِ مِنْ النَّاسِ، فَإِنَّهُ مَنْ أَحَبُّ الثَّنَاءَ مِنَ النَّاسِ أَحَبَّ الدُّنْيَا وَنَعِيْمَهَا وَمَنْ سَرَّهُ النَّعِيْمُ كُلَّ النَّعِيْمِ فَلْيَدَعِ الدُّنْيَا وَالثَّنَاءَ مِنَ النَّاسِ".

Telah meriwayatkan Imam Ad-dailimi sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda :"Meninggalkan dunia itu lebih pahit dibandingkan dengan sabar dan lebih berat dibandingkan dengan goresan pedang dalam berperang di jalan Allah, Tidak ada yang meninggalkan dunia seorangpun kecuali Allah akan memberi kepadanya pada semisal perkara yang telah diberikan kepada orang-orang yang mati syahid. Meninggalkan dunia adalah sedikit makan dan kenyang dan membenci pujian dari manusia. Sesungguhnya orang yang mencintai pujian dari manusia adalah orang yang mencintai dunia dan kenikmatannya dan orang yang telah menyenangkannya sebuah kenikmatan atas segala kenikmatan maka ia harus meninggalkan dunia dan pujian dari manusia".

وَرَوَى ابْنُ مَاجَهْ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الْآخِرَةَ جَمَعَ اللَّهُ شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا رَاغِمَةً، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا فَرَّقَ اللّٰهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ".

Telah meriwayatkan Ibnu Majah Sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : "Barang siapa yang ada niatnya pada akhirat maka pasti Allah akan mengumpulkan urusannya dan Allah akan menjadikan rasa cukup dalam hatinya dan datang kepadanya dengan hina, dan barang siapa yang ada niatnya pada dunia maka pasti Allah akan memecah kepadanya segala urusannya dan pasti Allah akan menjadikan kefakirannya berada di antara dua matanya dan tidak akan datang kepadanya dari dunia kecuali perkara yang telah ditetapkan untuknya".

Bab 2 Maqolah 28 : Dua Kidung Penawar Qolbu

الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (عَنْ أَبِي بَكْرٍ) دَلْفِ بْنِ جَحْدَرٍ (الشِّبْلِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى) بَغْدَادِيِّ الْمَوْلِدِ وَالْمَنْشَأِ, صَحِبَ الْجُنَيْدَ وَمَنْ فِي عَصْرِهِ مَالِكِيِّ الْمَذْهَبِ عَاشَ سَبْعًا وَثَمَانِيْنَ سَنَةً وَمَاتَ سَنَةَ أَرْبَعٍ وَثَلَاثِينَ وَثَلَاثِمِائَةٍ وَقَبْرُهُ بِبَغْدَادٍ (وَهُوَ مِنْ عُظَمَاءِ الْعَارِفِيْنَ) بِاللّٰهِ تَعَالَى (قَالَ) فِى مُنَاجَاتِهِ (إلَهِيْ إنِّي أُحِبُّ أَنْ أَهَبَ لَكَ جَمِيْعَ حَسَنَاتِيْ مَعَ فَقْرِيْ) أَيْ احْتِيَاجِيْ لِلْحَسَنَاتِ (وَضُعْفِيْ) أَيْ عَجْزِيْ عَنْ إِكْثَارِ الْعِبَادَاتِ (فَكَيْفَ لَا تُحِبُّ سَيِّدِيْ) بِحَذْفِ حَرْفِ النِّدَاءِ (أَنْ تَهَبَ لِيْ) أَيْ تَسْمَحَ لِيْ (جَمِيْعَ سَيِّئَاتِيْ مَعَ غِنَاكَ مَوْلَايَ عَنِّيْ) أَيْ عَذَابِيْ فَإِنَّ سَيِّئَاتِيْ لَا تَضُرُّكَ وَحَسَنَاتِيْ لَا تَنْفَعُكَ،

Maqolah yang ke dua puluh delapan (Dari Abu bakar) dalf bin jahdar (As-Syibli rahimahullahu Ta'ala) Bagdad kelahirannya dan tempat ia dibesarkan, Imam Syibli bersahabat dengan Imam junaid dan ulama di zamannya, maliki madhabnya. Imam Syibli hidup selama 87 tahun dan beliau mati di tahun 334 H dan kuburannya ada di bagdad (Dia adalah pembesar dari kalangan orang orang yang ma'rifat) kepada Allah Ta'ala (Telah berkata Abu Bakar As-Syibli) Dalam munajatnya (Wahai tuhanku Sesungguhnya aku ingin menghadiahkan kepadamu semua kebaikan-kebaikan saya meskipun saya fakir) Maksunya meskipun saya butuh pada kebaikan-kebaikan (Meskipun saya lemah) Maksudnya lemahnya saya dari memperbanyak ibadah (Maka bagaimana kau tidak suka wahai tuanku) Lafadz سَيِّدِيْ dengan membuang huruf nida (Menghibahkan kepadaku) Maksudnya engkau memaafkan kepadaku (Pada semua dosa-dosaku meskipun engkau tidak butuh wahai tuanku kepadaku) Maksudnya tidak butuh mengadabku, Karena sesungguhnya dosa-dosaku tidak akan membahayakanmu dan kebaikan-kebaikanku tidak bermanfaat padamu.

وَقَدْ أَجَازَنِيْ بَعْضُ الْفُضَلَاءِ أَنْ أَقْرَأَ بَعْدَ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ سَبْعَ مَرَّاتٍ هَذِهِ الْأَبْيَاتِ الثَّلَاثَةَ [مِنْ بَحْرِ الْوَافِرِ] :

وَلَا أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ * إِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلًا
فَإِنّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيمِ * ْفَهَبْ لِي زَلَّتِيْ وَاغْفِرْ ذُنُوبِي
وَثَبِّتْنِيْ عَلَى النَّهْجِ الْقَوِيْمِ * وَعَامِلْنِي مُعَامَلَةَ الْكَرِيْمِ

Telah mengijazahkan kepadaku sebagian dari para ulama supaya saya membaca sesudah sholat jum'at tujuh kali tiga bait ini [dari bahar wafir]

Wahai tuhanku tidaklah aku untuk surga firdaus sebagai orang yang layak * Dan aku tidak kuat pada neraka jahim
Semoga engkau membebaskan untukku kesalahanku dan semoga engkau mengampuni dosa-dosaku * Maka sesungguhnya engkau adalah dzat yang mengampuni dosa yang besar.
Semoga engkau memperlakukan aku dengan amalan-amalan yang mulia * Dan semoga engkau menetapkanku pada manhaj yang lurus

(حِكَايَةٌ) قَدِمَ الشِّبْلِيُّ عَلَى ابْنِ مُجَاهِدٍ فَعَانَقَهُ ابْنُ مُجَاهِدٍ وَقَبَّلَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ فَسُئِلَ عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى النَّوْمِ وَقَدْ أَقْبَلَ الشِّبْلِيُّ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَيْهِ وَقَبَّلَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ أَتَفْعَلُ هَذَا بِالشِّبْلِيِّ؟ قَالَ نَعَمْ إنَّهُ لَمْ يُصَلِّ فَرِيْضَةً إلَّا وَهُوَ يَقْرَأُ خَلْفَهَا {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ} إِلَى آخِرِ الْآيَتَيْنِ, وَيَقُوْلُ: صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ، فَسَأَلْتُ الشِّبْلِيَّ عَمَّا يَقُوْلُهُ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَكَرَ مِثْلَهُ.

(Kisah) Telah menghadap Imam Syibli kepada Ibnu Mujahid kemudian Ibnu mujahid merangkul Imam syibli kemudian ia mengecup di antara dua matanya Imam Syibli kemudian Ibnu Mujahid ditanya tentang perbuatannya maka Ibnu mujahid menjawab : Aku melihat Nabi dalam mimpi. Sungguh telah menghadap Imam Syibli kemudian berdiri Nabi di hadapan Imam Syibli kemudian Nabi mengecup di antara dua mata Imam Syibli, kemudian saya berkata : Wahai Rasulullah kenapa engkau melakukan ini kepada Imam Syibli ? maka Nabi bersabda ya sesungguhnya Abu bakar As-Syibli tidaklah ia menunaikan sholat yang fardhu kecuali ia membaca sesudah sholat {لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ} sampai akhir dua ayat,kemudian ia membaca : صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ. Kemudian aku bertanya kepada Imam Syibli tentang perkara yang selalu ia baca sesudah sholat maka bercerita Imam Syibli tentang hal semisal itu.

Bab 2 Maqolah 29 : Dua Nasihat Asy-Syilbi (Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah)

الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (قَالَ) أَيْ الشِّبْلِيُّ (إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَأْنِسَ بِاللّٰهِ) أَيْ يَسْكُنَ قَلْبُكَ مَعَ اللّٰهِ وَلَا يَنْفِرَ مِنْهُ (فَاسْتَوْحِشْ مِنْ نَفْسِكَ) أَيْ فَاقْطَعْ مَوَدَّاتِ نَفْسِكَ.

Maqolah yang ke dua puluh sembilan (Telah berkata) Maksudnya Imam Syibli (Ketika kamu ingin menjadi tenang bersama Allah) Maksudnya menjadi tenang hatimu bersama Allah dan tidak kabur hatimu dari Allah (Maka bercerailah kamu dari nafsumu) Maksudnya kamu harus memutuskan yang menjadi kesenangan nafsumu.

سُئِلَ الشِّبْلِيُّ بَعْدَ مَوْتِهِ عَنْ حَالِهِ فِى الْمَنَامِ، فَقَالَ: قَالَ اللّٰهُ لِيْ:يَا أَبَا بَكْرٍ أَتَدْرِى بِمَ غَفَرْتُ لَكَ؟، قُلْتُ بِصَالِحِ عَمَلِيْ، قَالَ: لَا. قُلْتُ: بِإِخْلَاصِ عُبُودِيَّتِيْ، قَالَ: لَا. قُلْتُ بِحَجِّيْ وَصَوْمِيْ وَصَلَاتِيْ، قَالَ: لَا. قُلْتُ بِهِجْرَتِيْ لِلصَّالِحِيْنَ وَلِطَلَبِ الْعِلْمِ قَالَ : لَا . قُلْتُ: إلَهِي فَبِمَ؟، فَقَالَ تَعَالَى: أَتَذْكُرُ حِيْنَ كُنْتَ تَمْشِى فِي دَرْبِ بَغْدَادَ فَوَجَدْتَ هِرَّةً صَغِيرَةً قَدْ أَضْعَفَهَا الْبَرْدُ وَهِيَ تَنْزَوِيْ مِنْ شِدَّتِهِ فَأَخَذْتَهَا رَحْمَةً لَهَا وَأَدْخَلْتَهَا فِى فَرْوٍ كَانَ عَلَيْكَ وِقَايَةً لَهَا، فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقَالَ تَعَالَى بِرَحْمَتِك لِتِلْكَ الْهِرَّةِ رَحِمْتُكَ.

Ditanya Imam Syibli sesudah beliau meninggal tentang keadaannya dalam mimpi, Kemudian Imam Syibli berkata : Telah berfirman Allah kepadaku :"Wahai Abu bakar apakah kamu tau sebab apa aku mengampunimu ?" Aku menjawab : "Sebab kesholehan amalku", Allah menjawab : "Bukan". Aku berkata : "Sebab ikhlasnya ibadahku", Allah menjawab : "Bukan". Aku berkata : "Sebab Ibadah hajiku ibadah puasaku dan sholatku", Allah menjawab : "Bukan". Aku berkata : "Karna hijrahnya aku untuk mengunjungi orang-orang sholeh dan untuk mencari ilmu", Allah menjawab : "Bukan". Aku berkata : "Wahai tuhanku sebab apa ?" Maka berfirman Allah Ta'ala : "Apakah kamu tidak ingat pada saat kamu berjalan di jalan kota baghdad kemudian kamu menemukan seekor kucing yang masih kecil benar-benar telah melemahkannya rasa dingin dan kucing itu menggigil sebab sangat kedinginan maka engkau mengambilnya karena kasihan padanya dan kamu memasukkannya ke dalam kain woll yang ada padamu karena menjaganya dari kedinginan". Kemudian aku menjawab : "Iya", kemudian berfirman Allah Ta'ala : "Sebab rasa sayangmu pada kucing maka aku menyayangimu".

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 30 : Dua Kenikmatan

الْمَقَالَةُ الثَّلَاثُوْنَ (قَالَ) أَيْ الشِّبْلِيُّ (لَوْ ذُقْتُمْ حَلَاوَةَ الْوُصْلَةِ) أَيْ الْقُرْبِ مَعَ اللّٰهِ تَعَالَى (لَعَرَفْتُمْ مَرَارَةَ الْقَطِيْعَةِ) أَيْ الْبُعْدِ عَنْهُ تَعَالَى، فَإِنَّهُ عَذَابٌ عَظِيْمٌ عِنْدَ أَهْلِ اللّٰهِ تَعَالَى. وَكَانَ مِنْ دُعَائِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اللّٰهُمَّ اُرْزُقْنِيْ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَالشَّوْقِ إِلَى لِقَائِكَ".

Maqolah yang ke tiga puluh (Telah berkata) Maksudnya Imam As-Syibli (Jika kalian mencicipi manisnya wushul) Maksudnya dekat dengan Allah (Pasti kalian akan mengetahui pahitnya terputus) Maksudnya jauh dari Allah Ta'ala, Karena sesungguhnya terputus dari Allah adalah adab yang sangat besar menurut wali-wali Allah Ta'ala. Ada dari sebagian doa-doa Nabi ﷺ : "Ya Allah semoga Engkau memberikan rizqi kepadaku nikmatnya memandang pada dzatmu yang mulia dan nikmatnya rindu untuk bertemu kepadamu".(*)

Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-2/?page=10
Editor: Imam Edi Siswanto


Selasa, 28 Oktober 2025

Dalam Kebersamaan Ada Berkah: KUA Kalimanah Sambut Keluarga Baru dengan Penuh Cinta dan Doa

Kepala KUA Kalimana, H. Kholidin (kiri) dan Siti Solicha saat acara sambut pegawai baru di KUA Kalimanah, Selasa (28/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga- Suasana hangat tampak menyelimuti Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah pada Selasa pagi itu. Seluruh pegawai berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan untuk menyambut kehadiran rekan baru, Siti Solicha, yang resmi bergabung sebagai Operator Layanan Operasional, Selasa (28/10/2025).

Kepala KUA Kalimanah, H. Kholidin, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan ucapan selamat datang kepada pegawai baru tersebut. Beliau menegaskan bahwa hadirnya Siti Solicha semakin melengkapi formasi kerja KUA Kalimanah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kegiatan

“Jaga kekompakan, guyub rukun, agar suasana kantor senantiasa kondusif dan kita bisa bekerja dengan nyaman bersama-sama. Kita semua di sini adalah keluarga,” pesan H. Kholidin dalam arahannya yang disambut anggukan hangat dari para pegawai. 

Suasana perkenalan pegawai baru KUA Kalimana yag penuh kekeluargaan, Selasa (28/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Acara perkenalan berlangsung santai namun penuh makna. Di tengah suasana akrab, Siti Solikha memperkenalkan diri dan menyampaikan harapan serta komitmennya untuk turut berkontribusi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

“Saya mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat keluarga besar KUA Kalimanah. Mohon kerja samanya, semoga kehadiran saya dapat membawa semangat baru dan kemajuan bagi KUA Kalimanah,” ungkap ibu lima anak asal Wonosobo yang kini berdomisili di Bukateja ini. 

Suasana perkenalan pegawai baru KUA Kalimana yag penuh kekeluargaan, Selasa (28/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah lembaga bukan hanya terletak pada sistem dan struktur, tetapi pada kebersamaan, keikhlasan, dan semangat saling mendukung di antara orang-orang yang ada di dalamnya.

Dengan semangat baru dan suasana penuh kehangatan, KUA Kalimanah menatap masa depan dengan optimisme, siap melayani masyarakat dengan profesional, ramah, dan penuh dedikasi.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto


Rabu, 22 Oktober 2025

#9 Kajian Kitab Nashoihul Ibad Bab 2 Maqolah 18 - 22: Meninggalkan Dua Perkara - Dua kiat untuk menyempurnakan akal

KUA Kalimanah Purbalingga dengan kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 9  dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (22/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kajian dari maqolah 18–22 ini mengandung inti pesan tentang manusia akan mencapai kejernihan hati dan kecerdasan akal bila mampu meninggalkan dosa serta menjaga diri dari hal-hal yang haram. Ilmu dan ketaatan kepada Allah menjadi kunci kemuliaan, bahkan meski seseorang jauh dari kampung halamannya.

Sebaliknya, kebodohan dan maksiat menjatuhkan derajat manusia di mana pun ia berada. Orang yang dekat dengan Allah melalui ketaatan akan merasa asing di tengah manusia, namun justru itulah ciri kedekatannya dengan kebenaran. Maka, sempurnakanlah akal dan jiwa dengan ilmu, amal, kesederhanaan, dan kesetiaan kepada perintah Allah.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Kelima maqolah ini menekankan pentingnya tiga hal: (a) kualitas batin melalui menjauhi maksiat dan menghalalkan rezeki; (b) penghormatan terhadap ilmu, amal, dan akal sehat; (c) keberanian untuk berbeda ketika ketaatan kepada Allah menempatkan kita di luar arus kebiasaan. Dengan demikian, akhlak seorang hamba yang baik dibangun dari hubungan dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan masyarakat.

KUA Kalimanah Purbalingga dengan kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 9  dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (22/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Seperti biasa, kajian rutin edisi ke 9 Rabu pagi KUA Kalimanah yang singkat namun cukup mendalam ini dihantarkan sekaligus penjelasan makna dan kandungan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan Prayitno, Rabu (22/9/2025).

Berikut ringkasan dari isi Nashoihul Ibad Bab 2, Maqolah 18 sampai 22.

1. Maqolah 18 – “Meninggalkan dua perkara”
Barang siapa yang meninggalkan dosa‑dosa maka hatinya menjadi lembut dan menerima nasihat. Dan siapa yang menjaga diri dari perkara haram—dalam makanan, pakaian, dan lainnya—serta mengonsumsi yang halal, maka pikirannya menjadi jernih. Hal ini karena ciptaan‑ciptaan Allah mengajak untuk merenungkan keesaan, kekuasaan, dan ilmu-Nya.
Pelajaran: Kebersihan lahir‑batin tercapai melalui menjauhi maksiat dan menghalalkan rezeki.

2. Maqolah 19 – “Dua wahyu Allah kepada Nabi‑Nya”
(termasuk dalam rentang, meskipun tidak diminta secara spesifik) Dikatakan bahwa Allah mewahyukan kepada beberapa nabi: “Taatilah Aku dalam perkara yang Aku perintahkan, dan jangan kamu mendurhakaiku dalam perkara yang Aku nasihatkan.” Maksudnya: ikutilah perintah yang mengandung kebaikan, dan jangan berpaling dari larangan yang mengandung kerusakan.
Pelajaran: Ketaatan bukan hanya aktif, tetapi juga menghindari perkara yang dilarang.

3. Maqolah 20 – “Dua kesempurnaan akal”
Sempurnanya akal adalah mengikuti ridha Allah dan menjauhi murka-Nya. Menyelisihi seluruh itu disebut “gila”.
Pelajaran: Akal yang sehat mengarahkan seseorang ke taat dan mencegah dari murka Allah.

4. Maqolah 21 – “Dua perbedaan”
“Tidak ada keterasingan bagi orang yang unggul, dan tidak ada tanah air bagi orang bodoh.“ Maksudnya: orang yang memiliki ilmu dan amal baik dihormati dan diterima di manapun ia berada; dengan demikian setiap negeri menjadi “tanah air”-nya meskipun ia orang asing. Sebaliknya, orang yang bodoh tidak memiliki tempat yang benar untuk disebut rumah.
Pelajaran: Martabat seseorang bergantung pada ilmu dan amal, bukan asal-usul atau status sosial.

5. Maqolah 22 – “Dua kiat untuk menyempurnakan akal”
“Barang siapa yang dengan ketaatannya di sisi Allah dekat, maka ia di tengah‑tengah manusia menjadi terasing.” Maksudnya: orang yang senang menyibukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah akan merasakan seperti “asing” di tengah manusia karena perhatian utamanya bukan pada keramaian duniawi.

Bab 2 Maqolah 18 : Meninggalkan Dua Perkara

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (قِيلَ: "مَنْ تَرَكَ الذُّنُوبَ رَقَّ قَلْبُهُ) فَيَقْبَلُ النَّصِيحَةَ وَيَخْشَعُ لَهَا (وَمَنْ تَرَكَ الْحَرَامَ) فِي الْمَطْعُومِ وَالْمَلْبُوسِ وَغَيْرِهِمَا (وَأَكَلَ الْحَلَالَ صَفَّتْ فِكْرَتُهُ") عَلَى مَصْنُوعَاتِ اللَّهِ تَعَالَى الدَّالَّةِ عَلَى إحْيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى الْخَلْقَ بَعْدَ الْمَوْتِ وَعَلَى وَحْدَتِهِ تَعَالَى وَقُدْرَتِهِ وَعِلْمِهِ،

Maqolah yang ke delapan belas (Dikatakan: Barang siapa yang meninggalkan dosa-dosa maka pasti akan menjadi halus hatinya) Maka hatinya menerima pada nasihat dan hatinya tunduk pada nasihat (Barang siapa yang meninggalkan perkara-perkara haram) Pada masalah makanan dan pakaian dan dari selain keduanya (Kemudian dia memakan makanan halal maka pasti akan menjadi bening fikirannya) atas ciptaan ciptaan Allah Ta'ala yang menunjukkan atas kuasa Allah menghidupkan makhluk sesudah mati dan berfikir atas keesaan Allah Ta'ala dan atas kekuasaan Allah dan atas Ilmu Allah.

وَذَلِكَ بِأَنْ تَأَمَّلَ بِفِكْرِهِ وَتَدَبَّرَ بِعَقْلِهِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَهُ مِنْ نُطْفَةٍ فِي الرَّحِمِ فَجَعَلَهَا عَلَقَةً ثُمَّ مُضْغَةً ثُمَّ خَلَقَ مِنْهَا لَحْمًا وَعَظْمًا وَعُرُوقًا وَأَعْصَابًا وَشَقَّ لَهَا سَمْعًا وَبَصَرًا وَأَعْضَاءً, ثُمَّ سَهَّلَ الْخُرُوجَ لِلْجَنِينِ مِنْ بَطْنِ أُمِّهِ وَأَلْهَمَهُ ارْتِضَاعَ الثَّدِيِ وَجَعَلَهُ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ بِلَا أَسْنَانٍ ثُمَّ أَنْبَتَ لَهُ الْأَسْنَانَ ثُمَّ أَسْقَطَهَا وَأَزَالَهَا عِنْدَ سَبْعِ سِنِينَ ثُمَّ أَعَادَهَا مَرَّةً أُخْرَى وَجَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى أَحْوَالَ الْعَبْدِ مُتَغَيِّرَةً مِنْ صِغَرٍ إِلَى كِبَرٍ وَمِنْ شَبَابٍ إِلَى هَرَمٍ وَمِنْ صِحَّةٍ إِلَى سَقَمٍ وَجَعَلَ الْعَبْدَ كُلَّ يَوْمٍ يَنَامُ وَيَسْتَيْقِظُ, وَكَذَلِكَ شُعُورُهُ وَأَظْفَارُهُ كُلَّمَا سَقَطَ مِنْهَا رَجَعَ إِلَى مَا كَانَ، وَكَذَلِكَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ يَتَنَاوَبَانِ كُلَّمَا ذَهَبَ أَحَدُهُمَا جَاءَ الْآخَرُ، وَكَذَلِكَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالسَّحَابُ وَالْمَطَرُ كُلُّهَا تَجِىءُ وَتَذْهَبُ وَكَذَلِكَ الْقَمَرُ يَنْمَحِقُ كُلَّ شَهْرٍ ثُمَّ يَتَكَامَلُ ثُمَّ يَنْمَحِقُ، وَكَذَلِكَ الْكُسُوفُ لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ حَيْثُ يَذْهَبُ الضَّوْءُ مِنْهَا ثُمَّ يَعُودُ، وَكَذَلِكَ الْأَرْضُ تَكُونُ يَابِسَةً ثُمَّ يُنْبِتُ اللَّهُ فِيهَا النَّبَاتَ ثُمَّ يَذْهَبُ مِنْهَا فَتَعُودُ يَابِسَةً ثُمَّ تُنْبِتُ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى، فَاَلَّذِى قَدَرَ عَلَى ذَلِكَ كُلِّهِ قَادِرٌ عَلَى إِحْيَاءِ الْمَوْتَى بَعْدَ فَنَائِهِمْ فِى الْأَرْضِ، فَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يُكْثِرَ الْفِكْرَ فِى ذَلِكَ حَتَّى يَقْوَى إيمَانُهُ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَيَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ وَيُجَازِيهِ بِأَعْمَالِهِ، فَعَلَى قَدْرِ قُوَّةِ إيمَانِهِ بِذَلِكَ يَجْتَهِدُ فِي الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابِ الْمُخَالَفَاتِ لِلشَّرْعِ.

Dan semua itu dengan meneliti menggunakan fikirannya dan merenung dengan akal sehatnya bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan ia dari setetes air mani di dalam rahim ibu kemudian Allah menjadikan setetes mani itu alaqoh kemudian menjadi segumpal daging kemudian Allah menciptakan dari segumpal daging itu daging dan tulang dan otot-otot dan saraf saraf dan Allah membagi dua untuknya pendengaran dan penglihatan dan anggota badan, kemudian Allah memudahkan keluarnya janin dari perut ibunya dan Allah mengilhami janin itu menyusu pada ibunya kemudian Allah menjadikan janin itu pada awal kelahiran tanpa gigi kemudian Allah menumbuhkan untuk janin itu gigi kemudian Allah memutus gigi itu kemudian Allah menghilangkan gigi itu pada umur tujuh tahun kemudian Allah mengembalikan gigi itu sekali lagi, kemudian Allah menjadikan tingkah laku seorang hamba berubah-ubah dari awal masa kecil hingga dewasa dan dari muda sampai pikun dan dari sehat sampai sakit dan Allah telah menjadikan seorang hamba setiap hari tidur dan bangun. 

Begitu juga dengan rambut-rambutnya dan kuku-kukunya setiap kali ia memotong kukunya maka kembali kuku itu pada kondisi semula. Begitu juga malam dan siang saling berganti setiap kali hilang salah satu dari keduanya maka datang yang lain. begitu juga matahari dan rembulan dan bintang-bintang dan mendung dan hujan setiap salah satu dari semuanya datang dan pergi. Begitu juga bulan menjadi kecil dari setiap bulan kemudian menjadi sempurna kemudian menjadi kecil. 

Dan begitu juga gerhana matahari dan gerhana bulan sekiranya menjadi hilang cahaya dari keduanya kemudian kembali. Begitu juga bumi ada yang kering kemudian Allah menumbuhkan di dalam bumi itu tumbuh-tumbuhan kemudian tumbuhan itu menghilang dari bumi kemudian Allah mengembalikan tanah itu menjadi kering kemudian bumi itu tumbuh sekali lagi setelah satu waktu, 

Maka dzat Allah yang kuasa atas itu semua adalah dzat yang kuasa menghidupkan yang mati sesudah rusaknya di bumi, Maka wajib atas seorang hamba memperbanyak berfikir tentang ciptaan Allah itu sehingga menjadi kuat imannya sampai dibangkitkan lagi sesudah mati dan sampai dia tahu bahwa Allah telah membangkitkan ia dan Allah akan membalas padanya atas amal-amalnya. Maka atas ukuran kekuatan imannya tentang perkara itu ia bersungguh sungguh dalam ketaatan dan ia menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan hukum syariat.

Bab 2 Maqolah 19 : Dua Wahyu Allah kepada Nabinya

 الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (أُوحِيَ إِلَى بَعْضِ الأَنْبِيَاءِ: "أَطِعْنِي فِيْمَا أَمَرْتُكَ وَلاَ تَعْصِنِيْ فِيْمَا نَصَحْتُكَ") أَيْ فِيْمَا دَعَوْتُكَ إِلَى مَا فِيْهِ الصَّلَاحُ وَنَهَيْتُكَ عَمَّا فِيْهِ الْفَسَادُ.

Maqolah yang ke sembilan belas (Telah diwahyukeun kepada sebagian dari para nabi : "Taatilah aku dalam hal yang telah aku perintahkan ke padamu dan janganlah kamu bermaksiat ke padaku dalam hal yang telah aku nasehatkan ke padamu) Maksudnya dalam hal yang telah aku perintahkan kepadamu pada perkara yang di dalamnya ada kebaikan dan dalam hal yang telah aku larang kepadamu dari perkara yang di dalamnya ada kerusakan.

Bab 2 Maqolah 20 : Dua Kesempurnaan Akal

 الْمَقَالَةُ الْعِشْرُوْنَ (قِيْلَ: "إِكْمَالُ العَقْلِ اتَّبَاعُ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابُ سُخَطِهِ" ) أَيْ فَخِلَافُ ذَلِكَ جُنُوْنٌ.

Maqolah yang ke dua puluh (Dikatakan : Sempurnanya akal adalah mengikuti ridho Allah Ta'ala dan menjauhi murka Allah) Maksudnya menyelisihi semua itu adalah gila.

Bab 2 Maqolah 21: Dua Perbedaan

 الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ: "لَا غُرْبَةَ لِلْفَاضِلِ وَلَا وَطَنَ لِلْجَاهِلِ") أَيْ الْمُتَّصِفِ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ كَانَ مُكَرَّمًا مُعَظَّمًا عِنْدَ النَّاسِ فِي أَيِّ بَلَدٍ كَانَ، فَكَانَ كُلُّ بَلَدٍ عِنْدَهُ وَطَنًا وَلَوْكَانَ غَرِيبًا وَالْجَاهِلُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.

Maqolah yang ke dua puluh satu (Dikatakan : "Tidak ada keterasingan bagi orang yang unggul dan tidak ada tempat tinggal bagi orang yang bodoh") Maksudnya orang yang disifati dengan ilmu dan amal jadilah ia dimulyakan dan diagungkan oleh manusia di daerah manapun ia berada, maka jadila setiap negara baginya adalah tanah air walaupun keberadaannya adalah sebagai orang asing, sedangkan orang bodoh bertentangan dengan itu semua.

Bab 2 Maqolah 22 : Dua Ciri yang Taat Kepada Allah

الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ : مَنْ كَانَ بِالطَّاعَةِ عِنْدَ اللَّهِ قَرِيبًا كَانَ بَيْنَ النَّاسِ غَرِيبًا) أَيْ مَنْ اسْتَأْنَسَ بِاشْتِغَالِ طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى صَارَ مُسْتَوْحِشًا عَنْ النَّاسِ.

Maqolah yang ke dua puluh dua (Dikatakan : Barang siapa yang melakukan ketaatan kepada Allah dengan merasa dekat maka jadilah ia di antara manusia terasing) Maksudnya barang siapa yang menemukan kesenangan dengan sibuk taat kepada Allah maka ia pasti akan menjadi terasing dari para manusia.

Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-2/#google_vignette
Editor: Imam Edi Siswanto

Sabtu, 18 Oktober 2025

80 Ribu Gerai KDMP Mulai Dibangun, PAI KUA Kalimanah Ikut Ambil Bagian

PAI KUA Kalimanah, Azizah Dwi Purba (kanan) dan Zamroni Irham saat menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan 80.000 gerai pergudangan dan kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Lapangan Desa Kalimanah Wetan, Jumat (17/10/2025)  (Foto: Istimewa)

Purbalingga-Mewakili Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah. H. Kholidin, Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Zamroni Irham dan Azizah Dwi Purba hadir dalam acara peletakan batu pertama pembangunan 80.000 gerai pergudangan dan kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang berlangsung di Kecamatan Kalimanah, Purbalingga, pada Jumat (17/10/2025) Kemarin.

Acara yang dimulai dengan mengikuti zoom secara nasional, dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung KDMP oleh Danramil Kalimanah, Kapten Infanteri Walyadi, lalu dilanjutkan oleh Kapolsek Kalimanah, AKP Mubarok. Lokasi kegiatan di Lapangan Desa Kalimanah Wetan menjadi saksi bahwa pembangunan fisik KDMP mulai merambah ke tingkat kecamatan.

Acara peletakan batu pertama pembangunan 80.000 gerai pergudangan dan kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Lapangan Desa Kalimanah Wetan, Jumat (17/10/2025)  (Foto: Istimewa)

Secara nasional, KDMP adalah program strategis pemerintah yang menargetkan pembentukan 80.000 koperasi Merah Putih di seluruh Indonesia.

Dalam situs menpan.go.id disebutkan KDMP adalah program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa melalui pendekatan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada prinsip gotong royong, kekeluargaan, dan saling membantu.

Per hari ini, telah terbentuk lebih dari 81.000 koperasi dari target 80.000 sebagaimana amanat Instruksi Presiden No. 9/2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. KDMP merupakan koperasi berbadan hukum yang dimiliki dan dijalankan oleh warga setempat.

Dengan status tersebut, KDMP bukan bagian dari struktur organisasi pemerintah, melainkan entitas ekonomi berbasis komunitas yang perlu dikelola secara profesional dan mandiri, tetapi tetap dalam ekosistem tata kelola yang tertata.

Melansir dari merahputih.kop.id, bahwa Undang-Undang 1945 Pasal 33 menegaskan bahwa perekonomian Indonesia disusun atas usaha bersama yang didasarkan pada asas kekeluargaan. Presiden Republik Indonesia sangat mendukung segala upaya untuk menggerakkan koperasi di seluruh Indonesia, mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.

Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa melalui pendekatan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada prinsip gotong royong, kekeluargaan, dan saling membantu.

Dalam retreat kepala daerah di Akmil Magelang pada 21-28 Februari 2025, Presiden Prabowo menekankan pentingnya pembentukan Koperasi Desa sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Pada Rapat Terbatas di Istana Negara pada 3 Maret 2025, Presiden RI mengumumkan peluncuran 80.000 koperasi desa dengan nama Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan akan dilakukan launching Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih bertepatan pada Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2025. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui koperasi.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto

Jumat, 17 Oktober 2025

Program Urab Mendoan Kemenag Purbalingga Menunjukan Dampak Positif, Petani Dapat Harapan Baru

Kepala KUA Kalimanah, H. Kholidin (kiri) bersama Ustadz Nuratman saat melakukan monitoring dan evaluasi (monev) tanaman cabai di lokasi penerima manfaat program di Desa Klapasawit, Rabu (16/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Program inovatif Urab Mendoan dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Purbalingga terus menunjukkan dampak positifnya.

Pada Rabu (16/10/2025) siang kemarin, sekitar pukul 10.00 hingga 11.30 WIB, Kepala KUA Kalimanah, H. Kholidin, bersama staf H. Mukhyono dan Penyuluh Agama Islam (PAI) Imam Edi Siswanto melakukan monitoring dan evaluasi (monev) langsung ke lokasi penerima manfaat program di Desa Klapasawit.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2025/05/plt-kasi-bimas-islam-moh-nur-hidayat.html

Mereka disambut hangat oleh Ustadz Nuratman, seorang pengasuh TPQ sekaligus petani cabai yang menjadi penerima bantuan bibit dari Program Urab Mendoan. Pertemuan berlangsung santai di sebuah gubuk sederhana di pinggir sawah, tempat Ustadz Nuratman biasa beristirahat sekaligus memantau tanamannya.

Ustadz Nuratman (bertopi) saat berbincang dengan Kepala KUA Kalimanah, H. Kholidin, tentang tanaman cabai di lokasi penerima manfaat program di Desa Klapasawit, Rabu (16/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Kepala KUA Kalimanah tampak antusias dan gembira melihat kondisi tanaman cabai yang tumbuh subur dan siap panen. Bahkan, ia sempat mendokumentasikan kunjungan tersebut dalam bentuk video blog (vlog) sebagai bentuk apresiasi dan inspirasi bagi masyarakat luas.

Ustadz Nuratman menceritakan bahwa sejak menerima bantuan 300 bibit cabai pada Juni 2025 lalu, ia langsung menanamnya di lahannya. Hasilnya cukup menggembirakan, sejak pertengahan September hingga Oktober ini, ia sudah memanen sebanyak lima kali.

“Alhamdulillah, sudah lima kali panen. Sekali panen bisa dapat antara 1 kilogram sampai 1,5 kilogram. Cabai merah dijual seharga Rp. 25 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Staf KUA Kalimanah, H. Mukhyono saat memetik cabai di lokasi penerima manfaat program di Desa Klapasawit, Rabu (16/10/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Saat ditanya tentang prospek ke depan, Nuratman menyampaikan optimisme bahwa tanaman cabai tersebut bisa dipanen hingga 20 kali dalam satu tahun masa tanam.

Ia juga menyampaikan rasa syukurnya kepada Kemenag Purbalingga dan KUA Kalimanah atas dukungan nyata yang diberikan kepada para petani, khususnya para ustadz pengelola TPQ dan Madin di Kecamatan Kalimanah.

“Semoga program Urab Mendoan ini terus berlanjut, dan bantuannya juga bisa dalam bentuk bibit tanaman lain,” harapnya.(*)

Pewarta/Editor: Imam Edi Siswanto

#19 Kaya Tanpa Harta, Kuat Tanpa Pasukan: Rahasia Hidup Mulia Menurut Ulama Salaf

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 19 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (14/1/2026). (Foto: Im...