![]() |
| Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 17 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (31/12/2025). (Foto: Riza Nur Ahmadi) |
Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-17 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks dan penjelasanya oleh Staf KUA Kalimanah, Prayitno atau Ibrahim dan penjelasan oleh Amin Muakhor, Rabu (31/12/2025).
Berikut ringkasan Maqolah 16–20 Kitab Nashoihul ‘Ibad Bab 3 secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami, tanpa mengurangi makna pokoknya:
BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab
Maqolah 16 – Cinta dan Harap kepada Allah
Seorang hamba hendaknya selalu menggantungkan harapannya kepada rahmat Allah. Meskipun memiliki dosa dan kekurangan, ia tetap berharap pada ampunan dan kemurahan Allah. Bahkan jika harus diuji dengan siksa, cinta kepada Allah tetap tidak berubah. Ini menunjukkan kedalaman cinta dan pengharapan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Maqolah 17 – Hakikat Kebahagiaan
Orang yang paling bahagia adalah:
- Memiliki hati yang sadar akan kehadiran Allah,
- Tubuh yang sabar dalam ketaatan dan ujian,
- Hati yang qana’ah, ridha dengan ketentuan Allah.
Kebahagiaan sejati bukan pada harta atau kedudukan, melainkan pada ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah.
Maqolah 18 – Penyebab Kebinasaan Manusia
Kebinasaan umat terdahulu disebabkan oleh tiga hal:
- Banyak bicara yang tidak bermanfaat,
- Makan berlebihan,
- Tidur berlebihan.
Semua itu melemahkan ruhani dan menjauhkan dari ketaatan kepada Allah.
Maqolah 19 – Persiapan Menuju Akhirat
Orang yang beruntung adalah yang:
- Meninggalkan cinta dunia sebelum dunia meninggalkannya,
- Menggunakan hartanya untuk kebaikan,
- Mempersiapkan bekal akhirat sebelum datang kematian,
- Meraih ridha Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Maqolah 20 – Jalan Hidup Para Wali Allah
Ciri orang yang mengikuti jalan Allah dan para wali-Nya adalah:
- Menjaga rahasia dan amanah,
- Mampu bergaul dengan baik dan bijaksana,
- Sabar terhadap gangguan manusia,
- Memperbaiki hubungan dengan Allah agar hubungan dengan manusia ikut baik.
Siapa yang ikhlas memperbaiki batinnya, maka Allah akan memperindah lahiriahnya dan mencukupkan urusannya.
Kesimpulan Singkat
Maqolah 16–20 mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah lahir dari cinta, kesabaran, kesederhanaan, pengendalian diri, dan keikhlasan. Barang siapa menjaga hubungannya dengan Allah, maka Allah akan menjaga hidupnya di dunia dan akhirat.
Berikut terjemahan Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 16 - 20
الْمَقَالَةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ (عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ) عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَدَارَانِ قَرْيَةٌ مِنْ قُرَى دِمَشْقَ، مَاتَ سَنَةَ خَمْسَ عَشْرَةَ وَمِائَتَيْنِ (أَنَّهُ قَالَ فِي الْمُنَاجَاةِ:) مَعَ اللَّهِ تَعَالَى (إلَهِيْ لَئِنْ طَالَبْتَنِيْ بِذَنْبِيْ لَأَطْلُبَنَّكَ بِعَفْوِكَ) لِأَنَّ مَغْفِرَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوبِيْ (وَلَئِنْ طَالَبْتَنِيْ بِبُخْلِيْ) بِمَنْعِ الْوَاجِبِ أَوْ مَنْعِ السَّائِلِ مِمَّا فَضَلَ عِنْدِيْ (لَأَطْلُبَنَّكَ بِسَخَائِكَ) أَيْ بِكَرَمِكَ (وَلَئِنْ أَدْخَلْتَنِيْ النَّارَ لَأَخْبَرْتُ أَهْلَ النَّارِ بِأَنِّيْ أُحِبُّكَ).
Maqolah yang ke enam belas (Dari Abu Sulaiman Ad-Daroni) Abdur Rahman bin Atiyyah Radhiallahu Anhu, Istilah daroni adalah satu desa dari sebagian desa desa damasqus, beliau wafat pada tahun 215 H (Sesungguhnya ia telah berkata dalam munajatnya:) Bersama Allah Ta'ala (Wahai tuhanku jika engkau menuntut padaku atas dosaku pasti aku akan menuntut padamu atas ampunanmu) Karena sesunguhnya ampunanmu lebih luas dibandingkan dengan dosa-dosaku (Dan jika engkau menuntut padaku atas sifat pelitku) Dengan menahan kewajiban atau mencegah dari orang yang meminta-minta dari apa yang telah engkau anugrahkan kepadaku (Pasti aku akan menuntut padamu atas sifat kedermawananmu) Maksudnya atas sifat pemurahmu (Dan jika engkau memasukkanku ke dalam neraka pasti aku akan mengabarkan pada penduduk neraka bahwa sungguh aku cinta padamu).
Bab 3 Maqolah 17
الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (قِيلَ: أَسْعَدُ النَّاسِ مَنْ لَهُ قَلْبٌ عَالِمٌ) بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَعَهُ فِي أَيِّ مَوْضِعٍ كَانَ (وَبَدَنٌ صَابِرٌ) عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْمَرَازِي (وَقَنَاعَةٌ) أَيْ رِضًا (بِمَا فِي الْيَدِ) مِنْ قِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُكُونِ الْقَلْبِ عِنْدَ عَدَمِ الْمَأْلُوفَاتِ.
Maqolah yang ke tujuh belas (Dikatakan: Paling bahagianya manusia adalah orang yang memiliki hati yang alim) Karena sesungguhnya Allah Ta'ala bersamanya di tempat manapun ia berada (Dan badan yang sabar) Atas ketaatan dan kebaktian (Dan qona'ah) Maksudnya ridho (Atas perkara yang ada pada tangan) Yakni bagian dari Allah Ta'ala dan tenangnya hati ketika tidak ada orang yang dikenal.
Bab 3 Maqolah 18
الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ (عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ هَلَكَ قَبْلَكُمْ) مِنَ الْأُمَمِ (بِثَلَاثِ خِصَالٍ: بِفُضُولِ الْكَلَامِ) وَهُوَ مَا لَا خَيْرَ فِيهِ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا (وَفُضُولِ الطَّعَامِ) وَهُوَ مَا لَا يُعِينُهُ عَلَى الدِّينِ (وَفُضُولِ الْمَنَامِ) وَهُوَ مَا لَا يَنْفَعُهُ فِي الدِّينِ.
Maqolah yang ke delapan belas (Dari Ibrohim An-Nakho'i) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya celaka pada orang yang celaka sebelum kalian) Dari umat-umat (Hanya sebab tiga perkara: Sebab berlebihan berbicara) Yaitu ucapan yang tidak ada kebaikan di dalamnya tentang agama dan dunia (Dan berlebihan makan) Yaitu makanan yang tidak menolongnya pada agama (Dan berlebihan tidur) Yaitu tidur yang tidak memberi manfaat untuk agama.
Bab 3 Maqolah 19
الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ الرَّازِيّ) الْوَاعِظُ لَهُ لِسَانٌ فِي الرَّجَاءِ خُصُوصًا وَكَلَامٌ فِي الْمَعْرِفَةِ، خَرَجَ إِلَى بَلْخٍ وَأَقَامَ بِهَا مُدَّةً وَرَجَعَ إِلَى نَيْسَابُورَ وَمَاتَ بِهَا سَنَةَ ثَمَانٍ وَخَمْسِينَ وَمِائَتَيْنِ (طُوبَى لِمَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَهُ) أَيْ الْخَيْرُ الْكَثِيرُ لِمَنْ صَرَفَ أَمْوَالَهُ فِي أَنْوَاعِ الْبِرِّ قَبْلَ ذَهَابِهَا عَنْهُ (وَبَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهُ) بِأَنْ عَمِلَ مَا فِيهِ تَوْنِيْسٌ فِي الْقَبْرِ (وَأَرْضَى رَبَّهُ) بِامْتِثَالِ أَمْرِهِ وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِ (قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ) بِالْمَوْتِ.
Maqolah yang ke sembilan belas (Dari Yahya bin Mu'ad Ar-Razi) Seorang pepatah yang memiliki bahasa pasih dalam masalah roja khususnya dan perkataan dalam masalah kema'rifatan. Beliau keluar menuju daerah Balkh dan bermukim di daerah Balkh pada satu masa dan kembali ke daerah Naisabur dan mati di daerah Naisabur pada tahun 258 H (Kebahagiaan bagi orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya) Maksudnya kebaikan yang banyak bagi orang yang mentasorufkan hartanya dalam warna kebaikan sebelum hilang harta itu darinya (Dan membangun kuburannya sebelum ia masuk ke dalam kubur) Dengan mengamalkan perkara yang didalamnya ada kesenangan di alam qubur (Dan ridho kepada Rabbnya) Dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya (Sebelum ia bertemu dengannya) Sebab mati.
Bab 3 Maqolah 20
الْمَقَالَةُ الْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (مَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ سُنَّةُ اللَّهِ) أَيْ عَادَتُهُ (وَسُنَّةُ رَسُولِهِ) أَيْ شَأْنُهُ (وَسُنَّةُ أَوْلِيَائِهِ) أَيْ أَمْرُهُمْ (فَلَيْسَ فِي يَدِهِ شَيْءٌ) أَيْ فَلَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يُعْتَدُّ بِهِ (قِيلَ لَهُ - أَيْ لِعَلِيٍّ - مَا سُنَّةُ اللَّهِ؟ قَالَ:) أَيْ عَلَيٌّ (كِتْمَانُ السِّرِّ) وَهُوَ مَا أَخْفَاهُ النَّاسُ مِنَ الْحَدِيثِ عِنْدَ شَخْصٍ فَكِتْمَانُ السِّرِّ وَاجِبٌ (وَقِيلَ: مَا سُنَّةُ الرَّسُولِ؟ قَالَ: الْمُدَارَاةُ بَيْنَ النَّاسِ) كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ:
Maqolah yang ke dua puluh (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarroma Wajhahu (Barang siapa yang tidak ada padanya sunnatullah) Maksudnya kebiasaan Allah (Dan sunnah Rasulnya) Maksudnya urusan rasulullah (Dan sunnah wali-wali Allah) Maksudnya urusan wali-wali Allah (Maka tidak ada pada tangannya apapun) Maksudnya tidak ada baginya sesuatu yang dianggap atasnya (Dikatakan padanya - Maksudnya pada Ali - Apa Sunnatullah ? Ia berkata) Maksudnya Ali (Menyimpan rahasia) Rahasia adalah perkara yang telah menyembunyikan padanya manusia dari perakara yang datang dari seseorang maka menyembunyikan rahasia adalah wajib (Dan dikatakan: Apa sunnah Rasul ? Ia berkata: Beradaptasi di antara manusisa) Sebagaimana telah berkata sebagian ulama:
| وَأَرْضِهِمْ مَا دُمْتْ فِي أَرْضِهِمْ | * | وَدَارِهِمْ مَا دُمْتَ فِي دَارِهِمْ |
| Dan kamu harus beradaptasi dengan manusia selama kamu masih berada di kampung halaman mereka | * | Dan kamu harus ridho kepada manusia selama kamu masi berada di tanah mereka |
(وَقِيلَ: مَا سُنَّةُ أَوْلِيَائِهِ؟ قَالَ: اِحْتِمَالُ الْأَذَى مِنَ النَّاسِ، وَكَانُوا مَنْ قَبْلَنَا) مِنَ الْأُمَمِ (يَتَوَاصَوْنَ) أَيْ يُوصِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا (بِثَلَاثِ خِصَالٍ وَيَتَكَاتَبُونَ بِهَا) أَيْ يُرْسِلُ بَعْضُهُمُ الْكِتَابَةَ بِتِلْكَ الثَّلَاثِ إِلَى بَعْضٍ، فَمَنْ بَدَلٌ مِنْ اِسْمِ كَانَ (مَنْ عَمِلَ) شَيْئًا مِنَ الْأَعْمَالِ (لِآخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دِينِهِ وَدُنْيَاهُ) أَيْ فَهُوَ فِي حِفْظِ اللَّهِ تَعَالَى فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ (وَمَنْ أَحْسَنَ سَرِيرَتَهُ) أَيْ ضَمِيرَ قَلْبِهِ (أَحْسَنَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ) فَالظَّاهِرُ يَدُلُّ عَلَى الْبَاطِنِ (وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ) بِأَنْ عَمِلَ عَمَلًا خَالِصًا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَالتَّسْمِيعِ (أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ) فَمَنْ أَحَبَّهُ اللَّهُ تَعَالَى أَحَبَّهُ الْخَلْقُ.
(Dan dikatakan: Apa sunnah wali-wali Allah ? Ia berkata: Menanggung rasa sakit dari manusia, Dan ada wali wali Allah itu yaitu orang sebelum kita semua) Dari berbagai umat (Mereka saling memberikan wasiat) Maksudnya memberikan wasiat sebagian dari mereka kepada sebagian yang lainnya (Dengan tiga perkara dan mereka saling berkirim surat dengan tiga perkara itu) Maksudnya mengirim sebagian dari mereka sebuah tulisan dengan tiga perkara kepada sebagian yang lain. Lafadz مَنْ قَبْلَنَا adalah badal dari isim كَانَ (Barang siapa beramal) suatu perkara dari berbagai amal (Untuk akhiratnya maka Allah akan mencukupi urusan agama dan urusan dunianya) Maksudnya ia dalam penjeagaan Allah di dalam semua keadaan (Dan barang siapa yang membaguskan rahasianya) Maksudnya hati nuraninya (Maka pasti Allah akan membaguskan lahiriyahnya) Dzohir itu menunjukkan pada hal yang batin (Dan barang siapa yang memperbaiki perkara antara dirinya dan antara Allah) Dengan cara mengamalkan amalan yang murni dari sifat riya dan ujub dan sum'ah (Maka pasti Allah akan memperbaiki perkara antara dirinya dan manusia) Barang siapa yang cinta padanya Allah maka akan cinta kepadanya makhluk.
Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-3-maqolah-16-20/






