Rabu, 10 Desember 2025

#15 Keutamaan Amal Tersembunyi, Keteladanan Nabi Ibrahim as, dan Hikmah Penyembuh Hati dalam Nashoihul ‘Ibad

PAI KUA Kalimanah, Pujianto (kiri) saat mengantarkan kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 15 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (10/12/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-15 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kalimanah, Pujianto dan dilanjutkan dengan penjelasan makna serta kandungan kitab oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (10/12/2025).

Pada kesempatan ini, pembahasan memasuki Bab 3 Maqolah 10-12, berikut penjelasan singkatnya.Berikut ringkasan / sari dari Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 10–12: 
Maqolah 10 – Tiga Golongan yang Mendapat Naungan Allah
Nabi ﷺ menyebutkan bahwa ada tiga golongan yang akan mendapatkan naungan Arsy Allah pada hari kiamat, yaitu:

1. Orang yang berwudhu di waktu-waktu sulit, seperti saat cuaca sangat dingin.
2. Orang yang berjalan ke masjid di waktu gelap untuk melaksanakan shalat berjamaah.
3. Orang yang memberi makan orang yang lapar.

Maqolah 11 – Tiga Sebab Nabi Ibrahim A.S. Menjadi Khalilullah
Ketika ditanya mengapa Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai kekasih-Nya (Khalilullah), beliau menjawab:

1. Selalu memilih perintah Allah di atas perintah selain Allah.
2. Tidak memikirkan apa yang sudah Allah jamin, termasuk urusan rezeki.
3. Tidak pernah makan pagi atau malam kecuali bersama tamu, bahkan beliau berjalan jauh untuk mencari orang yang bisa diajak makan bersama. 

Kepala, PAI, dan Staf KUA Kalimanah Purbalingga saat mengikuti kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 15 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (10/12/2025). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Maqolah 12 – Tiga Hal yang Menghilangkan Kesempitan Hati
Sebagian ahli hikmah menyebutkan tiga perkara yang dapat melapangkan kesedihan dan kesumpekan, yaitu:

1. Berdzikir kepada Allah, dengan lafaz apa pun, termasuk doa dan munajat untuk memohon pertolongan-Nya.
2. Bertemu para wali Allah, yaitu ulama dan orang saleh.
3. Mendengar atau mengambil nasihat dari orang bijak, yaitu ucapan yang memberi manfaat dunia dan akhirat.
Inti Umum

Ketiga maqolah ini menekankan amal kecil namun ikhlas, ketaatan penuh kepada Allah, kepedulian sosial, serta pengobatan hati melalui dzikir, pertemanan yang baik, dan nasihat hikmah. 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 10

 الْمَقَالَةُ الْعَاشِرَةُ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: ثَلَاثَةُ نَفَرٍ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ) أَيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (اَلْمُتَوَضِّئُ فِي الْمَكَارِهِ) جَمْعُ مُكْرَهٍ بِفَتْحِ الْمِيمِ وَالرَّاءِ أَيْ فِي أَوْقَاتِ الْمَشَقَّةِ وَهِيَ أَوْقَاتُ الْبَرْدِ الشَّدِيدِ (وَالْمَاشِي إِلَى الْمَسَاجِدِ فِي الظُّلَمِ) لِأَجْلِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ (وَمُظْعِمُ الْجَائِعِ).

Maqolah yang ke sepuluh (Telah bersabda Nabi ﷺ: Tiga golongan yang akan menaungi merekak Allah Subhanahu Wata'ala di bawah naungan arsyinya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah) Maksudnya di hari kiamat (Orang yang berwudhu di waktu waktu yang dibenci) lafadz الْمَكَارِهُ adalah jamak dari lafadz مُكْرَهٌ dengan memfathahkan mim dan ro. Maksudnya di waktu-waktu sulit yaitu waktu-waktu dingin yang sangat (Dan orang yang berjalan menuju masjid di waktu gelap) Untuk melaksanakan sholat berjamaah (Dan orang yang memberi makan kepada orang yang lapar).
Kepala, PAI, dan Staf KUA Kalimanah Purbalingga saat mengikuti kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 15 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (10/12/2025). (Foto: Rizal)

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 11

 الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ (قِيلَ لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لِأَيِّ شَيْءٍ اتَّخَذَكَ اللَّهُ خَلِيلًاً؟ قَالَ: بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: اِخْتَرْتُ أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى أَمْرِ غَيْرِهِ) وَفِي نُسْخَةٍ: مَا اخْتَرْتُ أَمْرَ الْغَيْرِ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى (وَمَا اهْتَمَمْتُ بِمَا تَكَفَّلَ اللَّهُ لِي) أَيْ مَا قُمْتُ بِأَمْرِ مَا تَحَمَّلَ اللَّهُ لِي مِنَ الرِّزْقِ (وَمَا تَعَشَّيْتُ) أَيْ مَا أَكَلْتُ وَقْتَ الْمَسَاءِ (وَمَا تَغَدَّيْتُ) أَيْ مَا أَكَلْتُ وَقْتَ الْغَدَاةِ (إلَّا مَعَ الضَّيْفِ) رُوِيَ أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَمْشِي مِيلًاً أَوْ مِيلَيْنِ لِطَلَبِ مَنْ يَأْكُلُ مَعَهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ.

Maqolah yang ke sebelas (Dikatakan pada Nabi Ibrohim Alaihis Salam: Karena sebab apa Allah Subhanahu Wataalah menjadikan kamu sebagai kekasih? Nabi Ibrahim bersabda: Sebab tiga perkara: Aku lebih memilih perintah Allah di atas perintah selain Allah) Dan dalam satu tulisan: Aku tidak mengutamakan perintah orang lain di atas perintah Allah Ta'ala (Dan aku tidak pernah meresahkan perkara yang telah Allah jamin untukku) Maksudnya aku tidak berdiri atas perkara yang Allah telah menjamin untukku daru urusan rizqi (Aku tidak makan malam) Maksudnya Aku tidak makan di waktu sore (Dan aku tidak makan siang) Maksudnya aku tidak makan di waktu siang (Kecuali bersama tamu) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi Ibrohim Alaihissalam berjalan satu mil atau dua mil untuk mencari orang yang akan makan bersama Nabi Ibrohim Alaihissalam.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 12

 الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ) أَيْ أَطِبَّاءِ الْقُلُوبِ (ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ تُفَرِّجُ الْغُصَصَ) بِضَمِّ الْغَيْنِ أَيْ تَكْشِفُ الْغُمُومَ (ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى) بِأَيِّ صِيغَةٍ كَانَتْ كَأَنْ يَقُولَ كَثِيرًا: "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللَّهِ"، أَوْ بِالْمُنَاجَاةِ كَأَنْ يَقُولَ: "يَا مُغِيثَ كُلِّ مَلْهُوفٍ" نَادَاهُ "وَيَا مُجِيبَ كُلِّ مُضْطَرٍّ" دَعَاهُ، وَ"يَا حَلِيمًا عَلَى كُلِّ ذِي هَفْوَةٍ" عَصَاهُ، وَ"يَا قَائِمًا بِالْكِفَايَةِ" لِمَنْ آثَرَهُ عَلَى دُنْيَاهُ "أَسْأَلُكَ الْوُصُولَ إلَى مَا لَا أَصِلُ إلَيْهِ إلَّا بِمَعُونَتِكَ وَدَفْعَ مَا لَا أُطِيقُ دَفْعَهُ إلَّا بِقُوَّتِكَ وَأَسْأَلُكَ خَيْرَةً فِيهَا عَافِيَةٌ وَعَافِيَةً فِيهَا خَيْرَةٌ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ".

Maqolah yang ke dua belas (Dari sebagian ahli hikmah) Maksudnya dokter hati (Tiga perkara yang akan membuka lebar-lebar kesempitan) Lafadz الْغُصَصَ dengan mendhommahkan huruf gin. Maksudnya akan menghilangkan kesumpekan (Dzikir kepada Allah Ta'ala) Dengan redaksi manapun yang ada seperti seseorang berkata sebanyak-banyaknya: "Tiada tuhan selain Allah tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan pertolongan Allah", atau dengan bermunajat seperti seseorang berkata: "Wahai dzat yang selalu menolong setiap orang yang dilanda kesedihan" ia memanggil kepada Allah dan "Wahai dzat yang selalu mengijabah setiap orang yang terdesak" ia berdoa kepada Allah dan "Wahai dzat yang selalu lemah lembut kepada setiap orang yang memiliki kesalahan" yang ia bermaksiat kepada Allah dan "Wahai dzat yang mendirikan kecukupan" untuk orang yang lebih mengutamakan kepada Allah di atas keduniaannya "Aku memohon kepadamu untuk mencapai apa yang tidak bisa aku raih kecuali dengan pertolonganmu dan aku memohon kepadamu untuk mencegah perkara yang aku tidak kuasa untuk mencegahnya kecuali dengan kekuatanmu dan aku memohon kepadamu kebaikan yang di dalamnya ada keselamatan dan keselamatan yang di dalamnya ada kebaikan dengan rahmatmu wahai dzat yang maha penyayang dari yang penyayang".

(وَلِقَاءُ أَوْلِيَائِهِ) مِنْ الْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ (وَكَلَامُ الْحُكَمَاءِ) أَيْ الَّذِي يَدُلُّ عَلَى خَيْرَيْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

(Dan bertemu kekasih Allah) Dari golongan para ulama yang sholeh (Dan kalam ahli hikmah) Maksudnya orang yang menunjukkan pada dua kebaikan dunia dan akhirat.

SUMBER:  
© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 maqolah 11-15 | lilmuslimin
Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-3-maqolah-11-15/

Editor: Imam Edi Siswanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#19 Kaya Tanpa Harta, Kuat Tanpa Pasukan: Rahasia Hidup Mulia Menurut Ulama Salaf

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 19 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (14/1/2026). (Foto: Im...