Selasa, 20 Oktober 2026

PAI KUA Kalimanah: Tips Membangun Keluarga Sakinah di Tengah Tantangan Zaman

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Zamroni Irham, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin dalam upaya membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman di kantor setempat, Senin (19/10/2026) . (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga – Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Zamroni Irham, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) kepada calon pengantin dalam upaya membangun keluarga sakinah di tengah tantangan zaman, Senin (19/10/2026) kemarin. 

Bimwin tersebut membahas pentingnya meluruskan niat perkawinan, menyelesaikan konflik secara bijak, mengelola keuangan keluarga, serta menyiapkan generasi anak yang saleh.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Bimwin

Dalam penyampaiannya, Zamroni menegaskan bahwa perkawinan bukan sekadar menyatukan dua orang dalam ikatan yang sah, melainkan juga menyatukan dua pribadi dengan latar belakang, kebiasaan, karakter, dan harapan yang mungkin berbeda.

Karena itu, calon pengantin perlu memahami bahwa rumah tangga membutuhkan proses belajar, kesabaran, dan komitmen bersama untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Meluruskan Niat, Menguatkan Komitmen
Materi pertama menekankan pentingnya meluruskan niat perkawinan. Pernikahan hendaknya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar membangun kehidupan bersama yang penuh tanggung jawab. 

Cinta dan ketertarikan menjadi bagian penting dalam hubungan, tetapi keduanya perlu diperkuat dengan iman, akhlak, dan kesediaan untuk saling menjaga.

Di tengah kehidupan modern yang sering menampilkan gambaran rumah tangga serba ideal di media sosial, pasangan perlu memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan, penampilan, atau pengakuan orang lain.

Setiap keluarga memiliki perjalanan dan tantangannya sendiri. Oleh sebab itu, calon pengantin diajak untuk membangun harapan yang realistis, tidak mudah membandingkan rumah tangganya dengan kehidupan orang lain, serta berfokus pada upaya memperbaiki hubungan bersama.

Menyelesaikan Konflik dengan Komunikasi dan Musyawarah
Zamroni juga menjelaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. 

Persoalan dapat muncul karena perbedaan karakter, pembagian tugas, hubungan dengan keluarga besar, kebutuhan ekonomi, maupun penggunaan teknologi dan media sosial. Persoalan tersebut tidak harus berujung pada pertengkaran berkepanjangan apabila pasangan mampu mengelolanya dengan baik.

Calon pengantin dibimbing untuk membiasakan komunikasi terbuka, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, serta menyampaikan keberatan dengan bahasa yang santun. Ketika emosi meningkat, pasangan sebaiknya memberi waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan. 

Hindari kata-kata yang merendahkan, mengungkit kesalahan masa lalu, mengancam perpisahan saat marah, atau mengumbar masalah rumah tangga di media sosial.

Penyelesaian konflik perlu diarahkan pada pencarian solusi, bukan menentukan siapa yang paling benar. Apabila masalah sulit diselesaikan sendiri, pasangan dapat meminta bantuan pihak tepercaya atau tenaga profesional yang kompeten. Jika terjadi kekerasan atau ancaman keselamatan, perlindungan diri dan pencarian bantuan harus menjadi prioritas.

Mengelola Keuangan demi Ketahanan Keluarga
Dalam aspek ekonomi, Zamroni mengingatkan bahwa persoalan keuangan dapat menjadi sumber ketegangan apabila tidak dibicarakan secara terbuka. 

Karena itu, suami dan istri perlu menyusun perencanaan keuangan bersama, memahami pemasukan dan pengeluaran, menentukan kebutuhan prioritas, menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan, serta berhati-hati terhadap utang konsumtif dan gaya hidup di luar kemampuan.

Pengelolaan keuangan keluarga bukan semata-mata tentang besarnya penghasilan, melainkan juga tentang keterbukaan, kedisiplinan, dan kesepakatan dalam menggunakan rezeki. 

Pasangan perlu membicarakan pembagian tanggung jawab finansial secara adil dan sesuai kondisi masing-masing. Kebutuhan pokok, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan anak, dan tabungan perlu dipertimbangkan secara proporsional.

Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan kemudahan belanja digital, sikap sederhana, rasa syukur, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi bekal penting. Keluarga yang sehat secara finansial bukan berarti keluarga tanpa kekurangan, tetapi keluarga yang mampu merencanakan kebutuhan dan menghadapi kesulitan secara bersama-sama.

Mendidik Anak Saleh Dimulai dari Keteladanan Orang Tua
Pembahasan berikutnya adalah ikhtiar membangun generasi anak yang saleh. Zamroni mengajak calon pengantin memahami bahwa pendidikan anak tidak dimulai ketika anak masuk sekolah, tetapi sejak orang tua mempersiapkan kehidupan untuk berkeluarga dan membangun kebiasaan baik di rumah.

Anak membutuhkan keteladanan, kasih sayang, perhatian, dan pendampingan yang konsisten. Orang tua perlu membiasakan ibadah, menanamkan kejujuran dan tanggung jawab, membangun komunikasi yang hangat, serta mengajarkan penghormatan kepada sesama. 

Di era digital, pendampingan juga diperlukan agar anak mampu menggunakan gawai dan media sosial secara bijak, memilah informasi, menjaga privasi, serta tidak mudah terpengaruh perilaku negatif di lingkungan digital.

Upaya membentuk anak saleh tidak cukup hanya dengan nasihat. Anak belajar dari apa yang dilihatnya setiap hari. Ketika orang tua membiasakan salat, berkata jujur, saling menghormati, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, nilai-nilai tersebut menjadi pelajaran nyata bagi anak. Karena itu, keharmonisan hubungan suami istri dan suasana rumah yang aman menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Melalui Bimbingan Perkawinan ini, KUA Kecamatan Kalimanah berharap calon pengantin semakin siap memasuki kehidupan rumah tangga dengan bekal pemahaman agama, keterampilan berkomunikasi, kecakapan mengelola keuangan, serta kesadaran akan tanggung jawab mendidik generasi penerus.

Keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang berusaha menghadapi setiap persoalan dengan iman, kasih sayang, musyawarah, dan tanggung jawab. 

Dengan komitmen yang terus dirawat, rumah tangga diharapkan menjadi tempat tumbuhnya ketenteraman, saling menguatkan, dan lahirnya generasi yang saleh serta berakhlak mulia.(*) 

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PAI KUA Kalimanah: Tips Membangun Keluarga Sakinah di Tengah Tantangan Zaman

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalimanah, Zamroni Irham, menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan (Binwin) k...