Rabu, 14 Januari 2026

#19 Kaya Tanpa Harta, Kuat Tanpa Pasukan: Rahasia Hidup Mulia Menurut Ulama Salaf

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 19 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (14/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto).

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-19 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto, Rabu (14/1/2026).

Berikut ringkasan Maqolah 24–27Kitab Nashoihul ‘Ibad Bab 3 secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami, tanpa mengurangi makna pokoknya:

Ringkasan Bab 3 Maqolah 24–27
Kitab Nashoihul Ibad – Syekh Nawawi al-Bantani 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Maqolah 24: Kemuliaan dalam Ketaatan
Barang siapa meninggalkan kemaksiatan yang menghinakan dan beralih kepada ketaatan yang memuliakan, maka Allah akan menganugerahinya tiga keutamaan: kekayaan tanpa harta berupa ketenangan hati, kekuatan tanpa pasukan melalui pertolongan Allah, dan kemuliaan tanpa kelompok dengan kemenangan dari Allah. Maqolah ini menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada materi dan kekuasaan, melainkan pada ketaatan kepada Allah SWT.

Maqolah 25: Tanda Keimanan yang Hakiki
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tanda iman yang benar adalah sabar dalam menghadapi ujian, syukur saat mendapat kelapangan, dan ridha terhadap ketetapan Allah. Orang yang mampu menjalani ketiganya disebut sebagai mukmin sejati. Dijelaskan pula tingkatan sabar: meninggalkan keluh kesah, ridha terhadap takdir, hingga mencintai ujian sebagai bentuk kedekatan dengan Allah.

Maqolah 26: Tiga Sikap Hati yang Menyelamatkan
Allah mewahyukan bahwa siapa yang wafat dalam keadaan mencintai Allah akan dimasukkan ke surga, siapa yang wafat dengan rasa takut kepada Allah akan dijauhkan dari neraka, dan siapa yang wafat dengan rasa malu kepada Allah akan dihapuskan catatan dosanya sebagai bentuk kasih sayang dan karunia-Nya. Maqolah ini menekankan pentingnya cinta, takut, dan rasa malu kepada Allah dalam kehidupan seorang mukmin.

Maqolah 27: Jalan Menuju Ibadah, Zuhud, dan Kekayaan Sejati
Abdullah bin Mas‘ud r.a. menasihatkan bahwa menunaikan kewajiban dengan sempurna menjadikan seseorang sebagai ahli ibadah, menjauhi larangan Allah menjadikannya orang paling zuhud, dan ridha terhadap rezeki yang dibagikan Allah menjadikannya manusia paling kaya. Kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, melainkan pada rasa cukup dan ridha.

Kesimpulan Umum Bab 3
Maqolah 24–27 mengajarkan bahwa kemuliaan hidup terletak pada ketaatan, keimanan sejati, kebersihan hati, dan keridhaan terhadap takdir Allah. Siapa yang hidup dengan iman, sabar, cinta, takut, dan ridha kepada Allah, maka ia akan memperoleh kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhir

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 24

 الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: مَنْ خَرَجَ مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلَى عِزِّ الطَّاعَةِ) وَهَذَا مِنْ إضَافَةِ الصِّفَةِ لِلْمَوْصُوفِ أَيْ مَنْ تَرَكَ الْمَعْصِيَةَ الَّتِي تُصَيِّرُهُ ذَلِيلًا وَعَمِلَ الطَّاعَةَ الَّتِي تُصَيِّرُهُ عَزِيزًا أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَلَاثَ صِفَاتٍ مَحْمُودَةٍ (أَغْنَاهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ غَيْرِ مَالٍ) يُنْفِقُهُ بَلْ بِسُكُونِ قَلْبِهِ (وَأَيَّدَهُ) أَيْ قَوَّاهُ (مِنْ غَيْرِ جُنْدٍ) أَيْ عَسَاكِرَ يُعِينُونَهُ بَلْ بِقُوَّةِ اللَّهِ تَعَالَى (وَأَعَزَّهُ) أَيْ غَلَبَهُ عَلَى عَدُوِّهِ (مِنْ غَيْرِ عَشِيرَةٍ) أَيْ جَمَاعَةٍ يُعَاشِرُونَهُ بَلْ بِنَصْرِ اللَّهِ تَعَالَى.

Maqolah yang ke dua puluh empat (Dari Nabi ﷺ: Barang siapa yang keluar dari kemaksiatan yang hina menuju ketaatan yang mulia) Lafadz ini dari sebagian idhopatnya sifat kepada yang disifti. Maksudnya barang siapa meninggalkan kemaksiatan yang menjadikan ia hina dan ia melakukan keta'atan yang menjadikan ia mulia maka pasti Allah akan memberikan kepadanya tiga sifat yang terpuji (Akan menjadikan kaya kepadanya Allah Ta'ala tanpa harta) Yang ia membelanjakannya tetapi dengan ketenangan hatinya (Dan Allah akan memberikan ia kekuatan) Maksudnya meberikan ia kekuatan (Tanpa pasukan) Maksudnya tanpa tentara yang membantunya tetapi dengan kekuatan Allah Ta'ala (Dan Allah akan memuliakannya) Maksudnya Allah akan memberikan ia kemenangan atas musuhnya (Tanpa kelompok) Maksudnya kelompok yang bergabung dengannya tetapi dengan pertolongan Allah Ta'ala.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 25

 الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (رُوِيَ أَنَّهُ عَلَيْهِ) الصَّلَاةُ وَ(السَّلَامُ خَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ: كَيْفَ أَصْبَحْتُمْ) أَيْ دَخَلْتُمْ فِي وَقْتِ الصَّبَاحِ (فَقَالُوا: أَصْبَحْنَا) أَيْ صِرْنَا فِي الصَّبَاحِ (مُؤْمِنِينَ بِاللَّهِ) جَلَّ وَعَلَا (فَقَالَ) ﷺ (وَمَا عَلَامَةُ إيمَانِكُمْ؟ قَالُوا: نَصْبِرُ عَلَى الْبَلَاءِ) أَيْ الِامْتِحَانِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى (وَنَشْكُرُ عَلَى الرَّخَاءِ) أَيْ الِاتِّسَاعِ فِي الْمَعِيشَةِ (وَنَرْضَى بِالْقَضَاءِ) أَيْ الْحُكْمِ الْإِلَهِيِّ فِي أَعْيَانِ الْمَوْجُودَاتِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ مِنْ الْأَحْوَالِ فِي الْأَزَلِ إِلَى الْأَبَدِ (فَقَالَ عَلَيْهِ) الصَّلَاةُ وَ(السَّلَامُ: أَنْتُمْ الْمُؤْمِنُونَ حَقًا) أَيْ إِيمَانًا مُطَابِقًا لِلْوَاقِعِ (وَرَبِّ الْكَعْبَةِ) الْوَاوُ لِلْقَسَمِ .

Maqolah yang ke dua puluh lima (Diriwayatkan sesungguhnya Nabi Alaihis) Sholatu (Wassalam keluar pada suatu hari menuju sahabat-sahabatnya kemudian Nabi bersabda: Bagaimana keadaan kalian di waktu subuh) Maksudnya kalian masuk di waktu subuh (Kemudian mereka berkata: Kami masuk di waktu subuh) Maksudnya kami menjadi di waktu subuh (Sebagai orang-orang yang iman kepada Allah) Jalla Wa'ala (Kemudian bersabda Nabi) ﷺ (Apa tanda keimanan kalian ? Kemudain mereka menjawab: Kami bersabar atas balai) Maksudnya atas ujian dari Allah Ta'ala (Dan kami bersyukur atas kemakmuran) Maksudnya keluasan dalam ekonomi (Dan kami ridho atas Qodho) Maksudnya hukum Allah mengenai pengkhususan segala sesuatu yang diadakan atas perkara yang itu atas hukum Allah dari keadaan-keadaan di zaman azali sampai seterusnya (Kemudian bersabda Nabi Alaihis) Sholatuwwa (Salam: Kalian adalah orang-orang mu'min yang sebenarnya) Maksudnya Keimanan yang sesuai dengan fakta (Demi dzat yang menguasai Ka'bah) Huruf wau pada lafadz وَرَبِّ adalah wau qosam/sumpah.

قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: الصَّبْرُ ثَلَاثُ مَقَامَاتٍ: تَرْكُ الشَّكْوَى وَهِيَ دَرَجَةُ التَّابِعِينَ، وَالرِّضَا بِالْمَقْدُورِ وَهِيَ دَرَجَةُ الزَّاهِدِينَ، وَالْمَحَبَّةُ لِلِابْتِلَاءِ وَهِيَ دَرَجَةُ الصِّدِّيقِينَ، فَفِي الْحَدِيثِ: ((اُعْبُدِ اللَّهَ عَلَى الرِّضَا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَفِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَگرَہُ خَیْرٌ گَثِیْرٌ)).

Telah berkata sebagian dari orang-orang yang ma'rifat billah: Sabar itu ada tiga maqom: Meninggalkan keluh kesah itu adalah derajatnya tabiin, dan ridho atas perkara yang ditaqdirkan itu adalah derajat orang-orang zuhud, dan senang atas cobaan itu adalah derajatnya orang-orang yang benar. Dalam satu hadits ((Beribadahlah kamu kepada Allah dengan ridho jika kamu tidak mampu maka dalam keadaan sabar atas perkara yang engkau benci padanya ada kebaikan yang banyak)).

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 26

 الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ وَالْعِشْرُونَ (أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى بَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ) عَلَيْهِمْ السَّلَامُ (مَنْ لَقِيَنِي) بِالْمَوْتِ (وَهُوَ يُحِبُّنِي) أَيْ يَشْتَاقُ إِلَيَّ وَيَرْغَبُ فِيمَا عِنْدِي مِنَ الثَّوَابِ (أَدْخَلْتُهُ جَنَّتِي) مَعَ السَّابِقِينَ (وَمَنْ لَقِيَنِي) بِالْمَوْتِ (وَ) الْحَالُ (هُوَ يَخَافُنِي) أَيْ يَخَافُ عَذَابِي (أَجْنَبْتُهُ نَارِي، وَمَنْ لَقِيَنِي بِالْمَوْتِ وَهُوَ يَسْتَحْيِي مِنِّي) بِأَنْ تَنْقَبِضَ نَفْسُهُ مِنْ شَيْءٍ خَوْفًا مِنْ عِقَابِ اللَّهِ تَعَالَى لَهُ فِيْهِ (أُنْسَيتُ الْحَفَظَةَ) أَيْ الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ كَتَبُوا أَعْمَالَهُ (ذُنُوبَهُ) فَضْلًا مِنَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ.

Maqolah yang ke dua pulu enam (Telah mewahyukan Allah Ta'ala kepada para Nabi) Alaihimus Salam (Barang siapa bertemu denganku) Sebab mati (Dan ia mencintai aku) Maksudnya ia rindu padaku dan senang atas apa yang ada padaku dari pahala (Maka pasti aku akan memasukkannya ke dalam surgaku) Bersama orang-orang terdahulu (Dan Barang siapa bertemu denganku) Sebab mati (Dan) huruf wau pada kalimat ini adalah wau haliah (Ia takut padaku) Maksudnya takut atas adzabku (Maka pasti aku akan menjauhkan ia dari nerakaku, dan barang siapa bertemu denganku sebab mati dan ia malu padaku) Dengan cara ia menahan dirinya dari suatu perkara karna takut dari siksaan Allah Ta'ala padanya sebab perkara itu (Maka pasti aku akan menjadikan lupa malaikat hafadhoh) Maksudnya malaikat yang menulis amal-amalnya (Pada dosanya) Sebagai anugrah dari Allah Ta'ala padanya.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 27

 الْمَقَالَةُ السَّابِعَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكَ) بِالتَّمَامِ (تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ عِبَادَةً (وَاجْتَنِبْ مَحَارِمَ اللَّهِ تَكُنْ أَزْهَدَ النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ بُغْضًا لِلدُّنْيَا وَإِعْرَاضًا عَنْهَا (وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ) مِنَ الرِّزْقِ (تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ) أَيْ تَصِرْ أَكْثَرَ النَّاسِ مَالًا.٠

Maqolah yang ke dua puluh tujuh (Dari Abdullah Bin Mas'ud) Radhiallahu Anhu (Tunaikanlah perkara yang telah memfardhukan Allah Ta'ala kepadamu) Dengan sempurna (Maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak beribadah (Dan jauhilah laranngan-larangan Allah maka pasti kamu akan menjadi manusia yang paling zuhud) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak membenci dunia dan berpaling dari dunia (Dan kamu harus ridho atas perkara yang telah Allah bagikan ke padamu) Dari rizqi (Maka pasti kamu akan menjadi manusia paling kaya) Maksudnya kamu akan menjadi manusia yang paling banyak hartanya.(*)
 

Senin, 12 Januari 2026

Penyuluh Agama Islam Hadirkan Pop Religius sebagai Media Pesan Keagamaan dan Moral di Era Digital

Tangkapan layar konten Youtube IES Music Religion

Purbalingga-Musik tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media dakwah dan refleksi spiritual yang efektif. Hal ini tampak jelas dalam konten pop religius yang disajikan melalui kanal YouTube IES Religion Music (https://www.youtube.com/@IES_Music), yang memuat 12 lagu bernuansa keagamaan dan moral, menggabungkan kekuatan lirik religius dengan balutan musik pop yang mudah diterima oleh berbagai kalangan. 

Kolaborasi Dakwah dan Teknologi
Menariknya, lirik-lirik lagu dalam konten pop religius ini ditulis oleh Imam Edi Siswanto Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah Kabupaten Purbalingga, sementara aransemen dan musiknya dihasilkan melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

LIHAT VIDEO: https://www.youtube.com/watch?v=2L6bmZhIPms 

Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah Islam dapat berjalan seiring dengan perkembangan teknologi modern tanpa meninggalkan substansi nilai-nilai keagamaan. 

Pemanfaatan AI dalam penciptaan musik menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan secara positif dan produktif sebagai sarana menyampaikan pesan kebaikan. Dengan pendekatan ini, dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar dan majelis taklim, tetapi juga melalui media seni musik dan lagu yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini. 

Musik Pop Religius: Jembatan Iman dan Kehidupan Modern
Pop religius hadir sebagai bentuk adaptasi nilai-nilai ajaran agama ke dalam bahasa seni yang populer. Aransemen musik yang ringan, melodis, dan emosional membuat pesan dakwah terasa lebih lembut dan tidak menggurui.

Pendekatan ini memungkinkan pesan keagamaan menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga orang tua. Melalui musik, nilai-nilai keimanan dan moral dapat disampaikan secara menyentuh, membangkitkan kesadaran batin, serta mendorong pendengar untuk melakukan refleksi diri. 

Ragam Tema Keagamaan dan Moral dalam 12 Lagu
Dua belas lagu yang disajikan dalam konten ini mengangkat tema-tema pokok keagamaan dan moral, antara lain:

1. Ayah Bundaku (kecintaan dan penghormatan kepada kedua orang tua)
2. Belajarlah Anakku (pesan kepada anak-anak, remaja, dan pemuda agar terus belajar)
3. Jadilah Salehah (harapan seorang suami agar istrinya menjadi wanita salehah)
4. Jadilah Saleh Suamiku (harapan seorang istri agar suaminya menjadi pribadi yang saleh)
5. Bersyukur (hidup bermakna dan tenang dengan sikap syukur)
6. Membaca Al-Qur’an (Al-Qur’an sebagai kebutuhan hidup seorang Muslim)
7. Shalatku Pada-Mu (menegakkan kewajiban utama dalam agama)
8. Ampunilah Dosaku (Istighfar) (permohonan ampun demi kebahagiaan dunia dan akhirat)
9. Ikhlas di Setiap Langkah (menjadi pribadi tawadhu, istiqamah, dan pandai bersyukur)
10. Sabar Jadi Penolong (kesabaran sebagai penjaga dan penolong hidup)
11. Bahagia Itu Bersyukur (kebahagiaan yang sederhana melalui rasa syukur)
12. Rindu Haji (kerinduan dan doa umat Islam untuk menunaikan ibadah haji)

Lirik-liriknya disusun dengan bahasa sederhana namun menyentuh, sehingga mudah dipahami dan mampu menggugah perasaan pendengar. 

Dakwah yang Inklusif untuk Semua Kalangan
Melalui pendekatan seni musik pop religius, pesan dakwah dalam konten ini bersifat inklusif dan universal. Lagu-lagu tersebut dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa batas usia dan latar belakang, baik sebagai hiburan bernilai edukatif, media refleksi diri, maupun pengiring aktivitas ibadah dan keseharian.

Kehadiran konten ini juga menegaskan peran strategis Penyuluh Agama Islam dalam merespons tantangan zaman dengan menghadirkan dakwah yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Konten pop religius berisi 12 lagu tentang pesan keagamaan dan moral ini menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dapat dikemas secara kreatif melalui kolaborasi antara nilai keagamaan, seni musik, dan teknologi Artificial Intelligence. Inisiatif ini tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga menghadirkan wajah dakwah yang ramah, modern, dan membumi.

Melalui seni musik dan lagu, pesan keimanan dan moral diharapkan dapat lebih mudah diterima, direnungkan, dan diamalkan oleh masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari.(*) 

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Rabu, 07 Januari 2026

#18 Kecerdasan Sejati: Mengendalikan Diri, Menata Dunia, dan Meraih Akhirat

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 18 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (7/1/2026). (Foto:Azizah Dwi Purba).

Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-18 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor dan penjelasan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto, Rabu (7/1/2026).

Berikut ringkasan Maqolah 21–23 Kitab Nashoihul ‘Ibad Bab 3 secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami, tanpa mengurangi makna pokoknya:

Maqolah 21: Tanda Orang Berakal 
Pada maqolah ini dijelaskan bahwa orang yang berakal (cerdas secara hakiki) bukanlah yang pandai berbicara atau banyak ilmu semata, melainkan orang yang: 

  • Mampu mengendalikan hawa nafsu
  • Lebih mengutamakan akhirat daripada dunia
  • Selalu mempertimbangkan akibat perbuatan sebelum bertindak

Orang berakal akan menjadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Ia berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan karena sadar akan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Kajian%20Kitab

Inti pesan:
Akal sejati terlihat dari kemampuan mengendalikan diri dan memilih jalan yang diridhai Allah.

Maqolah 22: Bahaya Cinta Dunia 
Maqolah ini menegaskan bahwa cinta dunia yang berlebihan adalah sumber berbagai keburukan. Ketika hati terlalu terpaut pada dunia: 

  • Ibadah menjadi lalai
  • Akhlak menjadi rusak
  • Kebenaran mudah dikorbankan demi kepentingan pribadi

Dunia tidak dicela karena keberadaannya, tetapi karena sikap manusia yang berlebihan dalam mencintainya, hingga melupakan akhirat.

Inti pesan:
Dunia di tangan adalah nikmat, tetapi dunia di hati adalah bencana. 


Maqolah 23: Keutamaan Zuhud dan Qana’ah 
Pada maqolah ini ditekankan pentingnya zuhud (tidak bergantung pada dunia) dan qana’ah (merasa cukup dengan pemberian Allah). Orang yang zuhud: 

  • Hidupnya lebih tenang
  • Tidak mudah iri dan dengki
  • Hatinya lapang dalam menerima ketentuan Allah

Qana’ah menjadikan seseorang kaya secara batin, meskipun secara materi sederhana.

Inti pesan:
Kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada ketenangan hati dan rasa cukup.

Kesimpulan Bab (Maqolah 21–23)

Bab ini mengajarkan bahwa kecerdasan sejati adalah kecerdasan spiritual, yang tercermin dalam pengendalian diri, sikap terhadap dunia, dan orientasi hidup menuju akhirat. Dunia boleh dimiliki, tetapi tidak boleh menguasai hati. 

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 18 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (7/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto).
Berikut terjemahan lengkap dilansir dari lilmuslimin.com. 

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 21

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (كُنْ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ) وَذَلِكَ كَمَا قَالَهُ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيُّ قُدَّسَ سِرَّهُ: إذَا لَقِيتَ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ رَأَيْتَ الْفَضْلَ لَهُ عَلَيْكَ وَتَقُولُ عَسَى أَنْ يَكُونَ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرًا مِنِّي وَأَرْفَعَ دَرَجَةً فَإِنْ كَانَ صَغِيرًا قُلْتَ: هَذَا لَمْ يَعْصِ اللَّهَ وَأَنَا قَدْ عَصَيْتُ فَلَا شَكَّ أَنَّهُ خَيْرٌ مِنًى، وَإِنْ كَانَ كَبِيرًا قُلْتَ: هَذَا قَدْ عَبَدَ اللَّهَ قَبْلِیْ، وَإِنْ كَانَ عَالِمًا قُلْتَ: هَذَا أُعْطِيَ مَا لَمْ أَبْلُغْ وَنَالَ مَا لَمْ أَنَلْ وَعَلِمَ مَا جَهِلْتُ وَهُوَ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ، وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا قُلْتَ: هَذَا عَصَى اللَّهَ بِجَهْلٍ وَأَنَا عَصَيْتُهُ بِعِلْمٍ وَلَا أَدْرِي بِمَ يَخْتَمُ لِي أَوْ بِمَ يُخْتَمُ لَهُ، وَإِنْ كَانَ كَافِرًا قُلْتَ: لَا أَدْرِي عَسَى أَنْ يُسْلِمَ فَيُخْتَمَ لَهُ بِخَيْرِ الْعَمَلِ وَعَسَى أَنْ أَكْفُرَ فَيُخْتَمَ لِي بِسُوءِ الْعَمَلِ اهْ.

Maqolah yang ke dua puluh satu (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Jadilah kamu di hadapan Allah sebaik-baiknya manusia dan jadilah kamu di hadapan dirimu sejelek-jeleknya manusia) Dan hal itu sebagaimana telah berkata tentangnya tuanku syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani Qoddasa sirrohu : Ketika kamu berjumpa dengan salah seorang dari manusia kamu melihat keistimewaan padanya di atas dirimu kemudian kamu berkata bisa jadi ia terbukti di sisi Allah lebih baik dari pada aku dan lebih tinggi derajatnya. Jika terbukti orang itu masih keci kamu berkata anak ini tidak bermaksiat kepada Allah sedangkan aku sungguh telah bermaksiat maka tidak diragukan lagi dia lebih baik daripada aku. Jika terbukti orang itu lebih tua kamu berkata orang ini sungguh telah beribadah kepada Allah sebelum diriku. Jika terbukti orang itu berilmu kamu berkata orang ini telah diberikan ilmu yang tidak bisa aku capai dan ia memperoleh perkara yang tidak aku peroleh dan ia mengetahui perkara yang tidak aku ketahui dan ia beramal dengan ilmunya. Jika terbukti orang itu bodoh kamu berkata orang ini bermaksiat kepada Allah bersama kebodohannya sedangkan aku bermaksiat kepada Allah bersama ilmu dan aku tidak tau pada perkara yang mengakhiriku dan mengakhirinya. Jika terbukti orang itu kafir kamu berkata aku tidak tahu bisa jadi ia masuk islam kemudian mengakhiri padanya dengan kebaikan amal dan bisa jadi aku kafir kemudian mengakhiri padaku dengan keburukan amal. Sampai sini perkataan syikh Abdul Qodir Al-Jaelani berakhir.

(وَکُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلًا مِنَ النَّاسِ) فَإِنَّ اللَّهَ يَكْرَهُ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ مُتَمَيِّزًا عَنْ غَيْرِهِ كَمَا فِي الْحَدِيثِ. وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ: اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي صَبُورًا وَاجْعَلْنِي شَكُورًا وَاجْعَلْنِيْ فِي عَيْنِيْ صَغِيرًا وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ كَبِيرًا.

Dan jadilah kamu di sisi manusia menjadi seseorang di antara manusia) Karena sesungguhnya Allah benci melihat seorang hamba berbeda dari yang lain sebagaimana keterangan dalam suatu hadits. Ada sebagian dari para ulama beroda dengan doa ini : Ya Allah semoga engkau menjadikan aku orang yang sabar dan semoga engkau menjadikan aku orang yang bersyukur dan semoga engkau menjadikan aku di mataku kecil dan di mata manusia besar.

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 22

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ (قِيلَ: أَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَى عُزَيْرٍ النَّبِيِّ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (فَقَالَ:) عَزَّ وَجَلَّ (يَا عُزَيْرُ إِذَا أَذْنَبْتَ ذَنْبًا صَغِيرًا فَلَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِهِ) أَيْ ذَلِكَ الذَّنْبِ (وَانْظُرْ إِلَى مَنْ أَذْنَبْتَ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَكَ خَيْرٌ يَسِيرٌ فَلَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِهِ) أَيْ ذَلِكَ الْخَيْرِ (وَانْظُرْ إِلَى مَنْ رَزَقَكَ) أَيْ مَنْ سَاقَ ذَلِكَ الْخَيْرَ إِلَيْكَ (وَإِذَا أَصَابَكَ بَلِيَّةٌ فَلَا تَشْكُنِي إِلَى خَلْقِي كَمَا لَا أَشْكُوكَ إِلَى مَلَائِكَتِي إِذَا صَعِدَتْ إِلَيَّ مَسَاوِيكَ) أَيْ عُيُوبُكَ.

Maqolah yang ke dua puluh dua (Dikatakan: Allah Ta'ala memberikan wahyu kepada Uzair yang menjadi seorang nabi) Alaihis Salam (Telah berfirman Allah) Azza wajalla (Wahai Uzair jika kamu melakukan dosa dengan dosa yang kecil maka janganlah kamu lihat pada kecilnya dosa itu) Maksudnya dosa itu (Dan lihatlah kepada dzat yang engkau telah berbuat dosa padanya, Dan ketika menimpa kepadamu kebaikan yang ringan maka kamu jangan melihat pada kecilnya kebaikan itu) Maksudnya kebaikan itu (Dan lihatlah pada dzat yang telah memberikan rizqi padamu) Maksudnya dzat yang telah menyampaikan kebaikan itu kepadamu (Dan ketika menimpa kepadamu suatu musibah maka janganlah kamu mengadukan ku pada makhluk ku sebagaimana aku tidak pernah mengadukanmu pada malaikatku ketika datang kepadaku aib-aib dirimu) Maksudnya aib-aib dirimu.

قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ عُيَيْنَةَ: مَنْ شَكَا لِلنَّاسِ وَقَلْبُهُ صَابِرٌ رَاضٍ بِالْقَضَاءِ لَمْ يَكُنْ جَزَعًا فَإِنَّ النَّبِيَّ قَالَ: ((أَجِدُنِي يَا جِبْرِيلُ مَغْمُومًا وَأَجِدُنِي مَكْرُوبًا)) جَوَابًا لِسُؤَالِ جِبْرِيلَ عَنْهُ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ "كَيْفَ تَجِدُكَ".

Telah berkata Imam Uyainah: Barang siapa mengadu pada manusia dan hatinya sabar, ridho atas qhodo maka tidak termasuk resah karena sesungguhnya nabi telah bersabda ((Aku menemukan diriku wahai Jibril bersedih dan aku menemukan diriku susah)) Sebagai jawaban dari pertanyaan Malaikat Jibril kepada nabi tentang penyakit yang menyebabkan ia mati. "bagaimana kamu mendapati dirimu?".

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 23

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ حَاتِمٍ الْأَصَمِّ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَاتِمُ بْنُ عُلْوَانَ، وَيُقَالُ: حَاتِمُ بْنُ يُوسُفَ، وَهُوَ مِنْ أَكَابِرِ مَشَايِخِ خُرَاسَانَ وَكَانَ تِلْمِيذَ شَقِيقٍ.

Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dari Hatim Al-Asom) Radhiallahu Anhu Ia adalah Abu Abdul Rahman Hatim bin Ulwan dan Dikatakan : Hatim Bin Yusuf, Beliau adalah sebagian dari para pembesars syaik khurasan dan Ia adalah muridnya Syaqiq.

رُوِيَ أَنَّهُ جَاءَتْ امْرَأَةٌ فَسَأَلَتْ حَاتِمًا عَنْ مَسْأَلَةٍ فَاتَّفَقَ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا فِي تِلْكَ الْحَالَةِ صَوْتٌ، فَخَجِلَتْ فَقَالَ حَاتِمٌ: اِرْفَعِي صَوْتَكِ، فَأَرَى مِنْ نَفْسِهِ أَنَّهُ أَصَمُّ فَسَرَتِ الْمَرْأَةُ بِذَلِكَ وَقَالَتْ: إنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ الصَّوْتَ، فَغَلَبَ عَلَيْهِ اِسْمُ الْأَصَمِّ (مَا مِنْ صَبَاحٍ إلَّا وَيَقُولُ الشَّيْطَانُ لِي: مَا تَأْكُلُ، وَمَا تَلْبَسُ، وَأَيْنَ تَسْكُنُ، فَأَقُولُ لَهُ: آكُلُ الْمَوْتَ) أَيْ أَذُوقُ مَرَارَةَ الْمَوْتِ (وَأَلْبَسُ الْكَفَنَ، وَأَسْكُنُ الْقَبْرَ، فَيَهْرُبُ) أَيْ الشَّيْطَانُ بِضَمِّ الرَّاءِ (مِنِّي).

Diriwayatkan sesungguhnya telah datang seorang perempuan kemudian ia bertanya kepada Hatim tentang satu masalah kemudian secara tidak sengaja telah keluar dari wanita itu suara kentut, kemudian wanita itu merasa malu, maka Hatim berkata : Keraskan suaramu kemuadian Hatim Al-Asom memperlihatkan pada dirinya bahwa sesungguhnya ia tuli maka menjadi bahagia wanita itu atas ketulian Hatim Al-Asom dan wanita itu berkata sesungguhnya Hatim tidak mendengar suara kentut kemudian menjadi terkenal kepada Hatim Al-Asom gelar Asom/tuli (Tidaklah di waktu pagi kecuali setan berkata kepadaku: Apa yang akan engkau makan, dan apa yang akan engkau pakai, dimana engkau akan berdiam kemudian aku berkata kepadanya: Aku akan memakan kematian) Maksudnya aku akan mencicipi pahitnya kematian (Dan aku akan memakai kain kafan, dan aku akan mendiami quburan kemudian ia melarikan diri) Maksudnya setan, ladafz يَهْرُبُ dengan mendhommahkan huruf ra (Dariku).

Sumber: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-3-maqolah-21-25/
Editor: Imam Edi Siswanto