Rabu, 28 Januari 2026

#21 Ketika Dunia Ditinggalkan Demi Akhirat: Teladan Zuhud Ibrahim bin Adham

Kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 21 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (28/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)
Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-21 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Penyuluh Agama Islam (PAI), Pujianto dan penjelasan oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, Rabu (28/1/2026). 

Berikut hasil kajianya:

Ringkasan Isi Kandungan Maqolah 31 Bab 3 Kitab Nashoihul Ibad

Maqolah ke-31 mengisahkan teladan Ibrahim bin Adham rahimahullah tentang makna sejati zuhud, yaitu meninggalkan kesenangan dunia demi mengharap kebahagiaan akhirat. Ibrahim bin Adham diceritakan berasal dari kalangan bangsawan bahkan seorang sultan, namun ia rela meninggalkan kekuasaan dan kemewahan dunia untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, khususnya di Mekkah dan wilayah lainnya. 

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/2026/01/20-hakikat-ibadah-kefanaan-dunia-dan.html

Perubahan hidup Ibrahim bin Adham bermula dari peristiwa spiritual saat berburu. Ia mendengar seruan yang menyadarkannya bahwa manusia tidak diciptakan untuk mengejar kesenangan dunia, melainkan untuk beribadah kepada Allah. Seruan ini menggugah hatinya hingga ia melepaskan harta, kendaraan, dan kedudukannya, lalu memilih hidup sederhana bersama orang-orang saleh, bekerja dengan tangannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Suasana kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 21 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (28/1/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Ibrahim bin Adham kemudian menjelaskan bahwa zuhud ia peroleh karena tiga kesadaran utama. Pertama, ia menyadari bahwa kubur adalah tempat yang sepi, yang memutuskan manusia dari segala yang dicintai di dunia, sementara tidak ada penolong yang menemani. Kedua, ia melihat bahwa perjalanan menuju akhirat sangat panjang, namun manusia sering tidak memiliki bekal amal yang cukup. Ketiga, ia menyadari bahwa kelak manusia akan menghadap Allah sebagai Hakim Yang Maha Perkasa, sementara dirinya merasa belum memiliki hujjah atau pembelaan yang kuat di hadapan-Nya.

Melalui maqolah ini, Kitab Nashoihul Ibad mengajarkan bahwa zuhud bukan sekadar meninggalkan harta, tetapi lahir dari kesadaran mendalam akan kematian, akhirat, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah, sehingga mendorong seorang hamba untuk memperbaiki ibadah, memperbanyak amal saleh, dan tidak terikat pada gemerlap dunia.Berikut isi kitabnya:

Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 Maqolah 31

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةُ وَالثَّلَاثُونَ (عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: بِمَ وَجَدْتَ الزُّهْدَ) أَيْ بِأَيِّ شَيْءٍ أَحْبَبْتَ تَرْكَ رَاحَةِ الدُّنْيَا طَلَبًا لِرَاحَةِ الْآخِرَةِ ؟. رُوِيَ أَنَّهُ كَانَ سُلْطَانًا فِي بَلَدِهِ فَتَرَكَ السَّلْطَنَةَ وَاجْتَهَدَ فِي الْعِبَادَةِ فِي مَكَّةَ وَغَيْرِهَا.

Maqolah yang ke tiga puluh satu (Dari Ibrahim Bin Adham Rahimahullah sesungguhnya dikatakan kepadanya: Sebab apa kamu menemukan sifat zuhud) Maksudnya sebab hal apa kamu suka meninggalkan kesenangan dunia karena mencari kesenangan akhirat ?. Diriwayatkan sesungguhnya Ibrahim bin Adham menjadi sultan di negaranya kemudian ia meninggalkan kekuasaan kemudian dia bersungguh-sungguh dalam peribadahan di kota Mekkah dan selain kota Mekkah.

وَفِي الرِّسَالَةِ الْقُشَيْرِيَّةِ هُوَ أَبُو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَنْصُورٍ مِنْ كَورَةِ بَلْخٍ كَانَ مِنْ أَبْنَاءِ الْمُلُوكِ فَخَرَجَ يَوْمًا مُتَصَيِّدًا فَأَثَارَ ثَعْلَبًا أَوْ أَرْنَبًا وَهُوَ فِي طَلَبِهِ فَهَتَفَ بِهِ هَاتِفٌ: يَا إبْرَاهِيمُ أَلِهَذَا خُلِقْتَ أَمْ بِهَذَا أُمِرْتَ؟ ثُمَّ هَتَفَ بِهِ أَيْضًا مِنْ قَرْبُوسِ سَرْجِهِ: وَاللَّهِ مَا لِهَذَا خُلِقْتَ وَلَا بِهَذَا أُمِرْتَ، فَنَزَلَ عَنْ دَابَّتِهِ وَصَادَفَ رَاعِيًا لِأَبِيهِ فَأَخَذَ جُبَّةً لِلرَّاعِي مِنْ صُوفٍ وَلَبِسَهَا وَأَعْطَاهُ فَرَسَهُ وَمَا مَعَهُ ثُمَّ إنَّهُ دَخَلَ الْبَادِيَةَ ثُمَّ دَخَلَ مَكَّةَ وَصَحِبَ بِهَا سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالْفُضَيْلَ بْنُ عِيَاضٍ وَدَخَلَ الشَّامَ وَمَاتَ بِهَا وَكَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ مِثْلَ الْحَصَادِ وَحِفْظِ الْبَسَاتِينِ وَغَيْرِ ذَلِكَ اهْ.

Dalam kitab Risalah Qusyairiyah Ibrahim bin Adham adalah Abu Ishaq Ibrahim Bin Mansur dari kauroh Balkh ia adalah anak dari raja. Ia keluar pada suatu hari sambil berburu kemudian ia menyerbu musang atau kelinci. Saat dia dalam penyerbuan kemudian berteriak kepadanya orang yang berteriak : Wahai Ibrahim apakah untuk ini engkau diciptakan ? atau apakah dengan ini engkau diperintah ? kemudian berteriak kepadanya juga dari arah bagian pelananya : Demi Allah bukan untuk ini engkau diciptakan dan bukan dengan ini engkau diperintah. Kemudian Ibrahim bin Adham turun dari kendaraanya kemudian secara tidak sengaja ia bertemu dengan seorang pengembala milik ayahnya kemudian ia mengambil sebuah jubah milik si pengembala yang terbuat dari woll kemudian ia mengenakan jubah itu kemudian Ibrahim bin Adham memberikan kepadanya kudanya dan apa yang ada padanya kemudian sesungguhnya ia masuk ke suatu lembah kemudian ia masuk ke Mekkah dan Ibrahim Bin Adham menemani Supyan Ats-tsauri dan Fudhoil bin Iyadh di Mekkah kemudian ia masuk ke negri Syam dan meninggal di negri Syam. Ia adalah orang yang makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri seperti panen dan menjaga kebun-kebun dan selain hal itu.

(قَالَ) أَيْ سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيمُ (بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: رَأَيْتُ الْقَبْرَ مُوحِشًا) أَيْ قَاطِعًا لِلْقُلُوبِ عَنْ مَحْبُوبَاتِهِ (وَلَيْسَ مَعِيْ مُؤْنِسٌ) أَيْ مَنْ يُسْكِنُ قَلْبِيْ (وَرَأَيْتُ طَرِيقًا طَوِيلًا) أَيْ مَسَافَةً بَعِيدَةً فِي اَلْآخِرَةِ (وَلَيْسَ مَعِيْ زَادٌ) يُعِينُنِي عَلَى تِلْكَ الْمَسَافَةِ (وَرَأَيْتُ الْجَبَّارَ) أَيْ الَّذِي يَقْهَرُ الْعِبَادَ عَلَى كُلِّ مَا أَرَادَ (قَاضِيًا وَلَيْسَ لِيْ حُجَّةٌ) أَيْ مَا يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ دَعْوَايَ.

(Telah berkata) Maksudnya Tuanku Ibrahim (Aku menemukan sifat zuhud dengan tiga perkara: Aku melihat quburan sepi) Yang memutuskan hati dari yang dicintainya (Dan tidak ada bersamaku orang yang menghibur) Maksudnhya orang yang menenangkan hatiku (Dan aku melihat jalan yang panjang) Maksudnya jarak yang jauh di akhirat (Dan tidak ada bersamaku perbekalan) Yang akan menolongku atas jarak itu (Dan aku melihat Allah yang maha perkasa) Maksudnya dzat yang bisa memaksa kepada para hamba atas setiap perkata yang ia kehendaki (Sebagai hakim dan tidak ada bagiku hujjah) Maksudnya hal yang menunjukkan atas kebenaran pengakuan ku.(*)

Source: lilmuslimin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar