![]() |
| Tangkapan layar konten Youtube IES Music Religion |
Purbalingga-Musik tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media dakwah dan refleksi spiritual yang efektif. Hal ini tampak jelas dalam konten pop religius yang disajikan melalui kanal YouTube IES Religion Music (https://www.youtube.com/@IES_Music), yang memuat 12 lagu bernuansa keagamaan dan moral, menggabungkan kekuatan lirik religius dengan balutan musik pop yang mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Kolaborasi Dakwah dan Teknologi
Menariknya, lirik-lirik lagu dalam konten pop religius ini ditulis oleh Imam Edi Siswanto Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah Kabupaten Purbalingga, sementara aransemen dan musiknya dihasilkan melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).
LIHAT VIDEO: https://www.youtube.com/watch?v=2L6bmZhIPms
Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah Islam dapat berjalan seiring dengan perkembangan teknologi modern tanpa meninggalkan substansi nilai-nilai keagamaan.
Pemanfaatan AI dalam penciptaan musik menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan secara positif dan produktif sebagai sarana menyampaikan pesan kebaikan. Dengan pendekatan ini, dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar dan majelis taklim, tetapi juga melalui media seni musik dan lagu yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Musik Pop Religius: Jembatan Iman dan Kehidupan Modern
Pop religius hadir sebagai bentuk adaptasi nilai-nilai ajaran agama ke dalam bahasa seni yang populer. Aransemen musik yang ringan, melodis, dan emosional membuat pesan dakwah terasa lebih lembut dan tidak menggurui.
Pendekatan ini memungkinkan pesan keagamaan menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga orang tua. Melalui musik, nilai-nilai keimanan dan moral dapat disampaikan secara menyentuh, membangkitkan kesadaran batin, serta mendorong pendengar untuk melakukan refleksi diri.
Ragam Tema Keagamaan dan Moral dalam 12 Lagu
Dua belas lagu yang disajikan dalam konten ini mengangkat tema-tema pokok keagamaan dan moral, antara lain:
1. Ayah Bundaku (kecintaan dan penghormatan kepada kedua orang tua)
2. Belajarlah Anakku (pesan kepada anak-anak, remaja, dan pemuda agar terus belajar)
3. Jadilah Salehah (harapan seorang suami agar istrinya menjadi wanita salehah)
4. Jadilah Saleh Suamiku (harapan seorang istri agar suaminya menjadi pribadi yang saleh)
5. Bersyukur (hidup bermakna dan tenang dengan sikap syukur)
6. Membaca Al-Qur’an (Al-Qur’an sebagai kebutuhan hidup seorang Muslim)
7. Shalatku Pada-Mu (menegakkan kewajiban utama dalam agama)
8. Ampunilah Dosaku (Istighfar) (permohonan ampun demi kebahagiaan dunia dan akhirat)
9. Ikhlas di Setiap Langkah (menjadi pribadi tawadhu, istiqamah, dan pandai bersyukur)
10. Sabar Jadi Penolong (kesabaran sebagai penjaga dan penolong hidup)
11. Bahagia Itu Bersyukur (kebahagiaan yang sederhana melalui rasa syukur)
12. Rindu Haji (kerinduan dan doa umat Islam untuk menunaikan ibadah haji)
Lirik-liriknya disusun dengan bahasa sederhana namun menyentuh, sehingga mudah dipahami dan mampu menggugah perasaan pendengar.
Dakwah yang Inklusif untuk Semua Kalangan
Melalui pendekatan seni musik pop religius, pesan dakwah dalam konten ini bersifat inklusif dan universal. Lagu-lagu tersebut dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa batas usia dan latar belakang, baik sebagai hiburan bernilai edukatif, media refleksi diri, maupun pengiring aktivitas ibadah dan keseharian.
Kehadiran konten ini juga menegaskan peran strategis Penyuluh Agama Islam dalam merespons tantangan zaman dengan menghadirkan dakwah yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.
Konten pop religius berisi 12 lagu tentang pesan keagamaan dan moral ini menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dapat dikemas secara kreatif melalui kolaborasi antara nilai keagamaan, seni musik, dan teknologi Artificial Intelligence. Inisiatif ini tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga menghadirkan wajah dakwah yang ramah, modern, dan membumi.
Melalui seni musik dan lagu, pesan keimanan dan moral diharapkan dapat lebih mudah diterima, direnungkan, dan diamalkan oleh masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari.(*)
Pewarta: Imam Edi Siswanto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar