![]() |
| Pegawai KUA Kalimanah Purbalingga saat mengikuti kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi ke 13 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu (26/11/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba) |
Purbalingga – Kajian rutin Kitab Nashoihul ‘Ibad edisi ke-13 kembali digelar pada Rabu pagi di KUA Kalimanah. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan teks oleh Staf KUA Kalimanah, Amin Muakhor, dilanjutkan dengan penjelasan makna serta kandungan kitab oleh Prayitno dan Penyuluh Agama Islam KUA Kalimanah, Pujianto (26/11/2025).
Pada kesempatan ini, pembahasan memasuki Bab 3 Maqolah 4–7 yang memuat empat pesan pokok bagi pembinaan akhlak seorang mukmin.
Pertama, pentingnya bergaul dengan orang-orang saleh karena pergaulan yang baik membawa keberkahan dan membentuk karakter, sementara pergaulan buruk menjadi sumber kerusakan moral.
Kedua, pemahaman tentang hakikat dunia sebagai sarana, bukan tujuan hidup, sehingga seorang mukmin tidak tenggelam dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Ketiga, anjuran untuk memerangi nafsu yang menjadi musuh terbesar manusia dan hanya dapat ditundukkan melalui mujahadah serta memperbanyak ibadah. Keempat, penegasan bahwa ilmu harus diamalkan karena ilmu tanpa amal tidak memberi manfaat bahkan dapat menjerumuskan pelakunya.
Keempat maqolah ini menegaskan bahwa keselamatan seorang mukmin terletak pada kualitas pergaulannya, kezuhudan terhadap dunia, kemampuan mengendalikan nafsu, serta perpaduan antara ilmu dan amal saleh.
Inti pesan atau hikmah yang dapat kita ambil dari kajian Bab 3 Maqolah 4–7 Nashoihul ‘Ibad adalah bahwa keempat hal ini menjadi bekal penting untuk membangun pribadi yang selamat, berakhlak mulia, dan dekat dengan Allah.

Pegawai KUA
Kalimanah Purbalingga saat mengikuti kajian rutin setiap Rabu Pagi edisi
ke 13 dengan Kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Rabu
(26/11/2025). (Foto: Azizah Dwi Purba)
Berikut narasi lengkapnya.
Bab 3 Maqolah 4
الْمَقَالَةُ الرَّابِعَةُ (عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "مَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا) بِأَنَّ أَقَلَّ الشِّبَعَ وَالْأَكْلَ وَأَبْغَضَ الثَّنَاءَ مِنَ النَّاسِ (أَحَبَّهُ اللَّهُ تَعَالَى) لِأَنَّهُ تَرَكَ الرِّيَاءَ وَالتَّفَاخُرَ (وَمَنْ تَرَكَ الذُّنُوبَ أَحَبَّهُ الْمَلَائِكَةُ) لِأَنَّهُ لَا يُتْعِبُ الْكَتَبَةَ الَّذِينَ يَكْتُبُونَ السَّيِّئَاتِ (وَمَنْ حَسَمَ الطَّمَعَ عَنِ الْمُسْلِمِينَ) أَيْ قَطَعَهُ عَنْهُمْ (أَحَبَّهُ الْمُسْلِمُونَ") لِأَنَّهُ لَا يُكَدِّرُ قُلُوبَهُمْ.
Maqolah yang ke empat (Dari Utsman Radhiallahu Anhu: "Barang siapa meninggalkan dunia) Dengan cara menyedikitkan rasa kenyang dan makan dan membenci pujian dari manusia (Maka akan mencintainya Allah Subhanahu Wata'ala) Karena sesungguhnya ia telah meninggalkan riya dan membangga-banggakan amal (Dan barang siapa meninggalkan dosa maka akan mencintainya para malaikat) Karena sesungguhnya ia tidak melelahkan malaikat katabah yang menulis amal-amal keburukan (Dan barang siapa meningglakna sifat rakus dari orang orang muslim) Maksudnya memutuskan sifat rakus dari orang orang muslim (Maka akan mencintainya orang orang muslim") Karena sesungguhnya ia tidak mengotori hati orang orang muslim.
Bab 3 Maqolah 5
الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (إِنَّ مِنْ نَعِيمِ الدُّنْيَا يَكْفِيكَ الْإِسْلَامُ نِعْمَةً) فَإِنَّ أَعْظَمَ نِعَمِ اللَّهِ لِلْعَبْدِ إخْرَاجُهُ مِنَ الْعَدَمِ إلَى الْوُجُودِ، وَإِخْرَاجُهُ مِنْ ظُلُمَاتِ الْكُفْرِ إلَى نُورِ الْإِسْلَامِ (وَإِنَّ مِنَ الشُّغْلِ يَكْفِيْكَ الطَّاعَةُ شُغْلًا) فَطَاعَةُ اللَّهِ تَعَالَى أَعْظَمُ الْأَشْغَالِ (وَإِنَّ مِنَ الْعِبْرَةِ) أَيْ الْعِظَةِ (يَكْفِيْكَ الْمَوْتُ عِبْرَةً) فَإِنَّ الْمَوْتَ أَكْبَرُ الْمَوَاعِظِ لِلنَّاسِ.
Maqolah yang ke lima (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Dan Karroma wajhahu (Sesungguhnya sebagian dari kenikmatan dunia cukup bagimu islam sebagai kenikmatan) Karena sesungguhnya yang terbesar dari nikmat Allah untuk seorang hamba adalah keluarnya seorang hamba dari tidak ada menjadi ada, dan ia keluar dari kegelapan kafir menuju cahaya Islam (Dan sesungguhnya sebagian dari kesibukkan cukup bagimu ta'at sebagai kesibukan) Karena Taat kepada Allah Subhanahu Wata'ala adalah paling agungnya kesibukan (Dan sesungguhnya sebagian dari pelajaran) Maksudnya nasihat (Cukup bagimu mati sebagai pelajaran) Karena sesungguhnya mati adalah yang terbesar dari sebagian nasihat untuk manusia.
Bab 3 Maqolah 6
الْمَقَالَةُ السَّادِسَةُ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَمْ مِنْ مُسْتَدْرَجٍ) أَيْ مَأْخُوذٍ قَلِيلًا قَلِيلًا (بِالنِّعْمَةِ) بِإِكْثَارِهَا (عَلَيْهِ، وَكَمْ مِنْ مَفْتُونٍ) أَيْ مُمْتَحَنٍ بِالْبَلَاءِ (بِالثَّنَاءِ) أَيْ بِكَثْرَةِ ثَنَاءِ النَّاسِ (عَلَيْهِ، وَكَمْ مِنْ مَغْرُورٍ) أَيْ مُطْمَئِنٍّ قَلْبُهُ فِي الدُّنْيَا وَغَافِلٌ عَنْ الْآخِرَةِ (بِالسَّتْرِ) أَيْ بِسَتْرِ اللَّهِ عُيُوبَهُ (عَلَيْهِ).
Maqolah yang ke enam (Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu Anhu: Begitu banyak dari orang yang ditipu) Maksudnya orang yang diadzab sedikit demi sedikit (dengan kenikmatan) dengan memperbanyak nikmat (Kepadanya, Dan begitu banyak dari orang yang diberi ujian) Maksudnya orang yang diuji dengan musibah (Dengan pujian) Maksudnya dengan banyaknya pujian dari manusia (Kepadanya, Dan begitu banyak dari orang yang tertipu) Maksudnya ditenangkan hatinya di dunia dan lalai dari akhirat (Dengan ditutupnya aib) Maksudnya dengan cara Allah menutup aibnya (Kepadanya).
Bab 3 Maqolah 7
الْمَقَالَهُ السَّابِعَهُ (عَنْ دَاوُدَ النَّبِيِّ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (قَالَ: اُوْحِي فِي الزَّبُورِ) وَهُوَ كِتَابٌ اُنْزِلَ عَلَيْهِ (حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ) ايْ وَاجِبٌ عَلَيْهِ (أَنْ لَا يَشْتَغِلَ إِلَّا بِثَلَاثٍ) مِنْ الْخِصَالِ (تَزَوَّدٌ لِمَعَادٍ) ايْ لِآخِرَتِهِ بِأَدَاءِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ (وَمُؤْنَةٌ لِمَعَاشٍ) ايْ قِيَامٌ بِأَمْرِ كِفَايَتِهِ وَصَوْنِهِ, وَفِي عِبَارَةٍ: وَمَرَمَّةٌ لِمَعَاشٍ بِفَتْحِ الْمِيمِ وَالرَّاءِ وَتَشْدِيدِ الْمِيمِ أَيْ إِصْلَاحِهِ (وَطَلَبُ لَذَّةٍ بِحَلَالٍ) فَإِنَّ كَسْبَ الْحَلَالِ وَاجِبٌ.
Maqolah yang ke tujuh (Dari Daud seorang Nabi) Alaihis Salam (Ia bersabda: Telah diwahyukan dalam kitab Zabur) Kitab Zabur adalah kitab yang diwahyukan kepadanya (Hak atas orang yang berakal sehat) Maksudnya wajib atasnya (Tidak menyibukkan diri kecuali atas tiga) Perkara (Berbekal untuk tempat kembali) Maksudnya untuk Akhirat dengan cara menunaikan amal-amal sholeh (Dan usaha untuk kehidupan) Maksudnya mendirikan pekerjaan yang mencukupinya dan menjaganya, dan Dalam suatu ibarat: مَرَمَّةٌ لِمَعَاشٍ dengan memfathahkan huruf mim dan ra dan mentasydid mim maksudnya memperbaiki urusan untuk kehidupannya (Dan mencari kenikmatan dengan yang halal) Karena sesungguhnya pekerjaan halal adalah wajib.
© Terjemah Kitab Nashoihul Ibad Bab 3 | lilmuslimin
Source: https://lilmuslimin.com/terjemah-kitab-nashoihul-ibad-bab-3/
Editor: Imam Edi Siswanto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar